ADIT & SOPO JARWO
"Adit & Sopo Jarwo" Kartun Indonesiaah Gitu Loh.
Bagaimanapun juga untuk saat ini film animasi Indonesia patutlah kita apresiasi setinggi~tingginya. Dulu (masih ingat betul) masa kanak~kanak seringkali menunggu produk kartun dalam negeri yang bisa dinikmati di layar tivi. Tak jarang setiap melihat film kartun, saya selalu menunggu sampai selesai, hanya untuk baca subtittlenya dengan harapan ada tulisan produksi Indonesia, namun penantian itu seringnya sia~sia.
Kemudian saya berfikir, apa salah cannel ya, harusnya TVRI yang saya tonton, kemungkinan besar apa yang saya harapkan bisa kesampaian. Benar sekali, harapan saya tidak sia~sia. "Hore... Ada kartun buatan Indonesia"
Namun kegembiraan tidak bertahan lama, sesaat berubah kekecewaan, saya mangkel dan jengkel sendiri. Harapan tidak sesuai kenyataan "film kartun opo iki, gambare kikak kikuk thok, ga gesit blas".
Namun kegembiraan tidak bertahan lama, sesaat berubah kekecewaan, saya mangkel dan jengkel sendiri. Harapan tidak sesuai kenyataan "film kartun opo iki, gambare kikak kikuk thok, ga gesit blas".
Hmm... Walaupun saya mendapatkan film kartun dalam negeri namun kualitasnya sungguh tragis. Ya memang, Selalu saya bandingkan saat saya nonton film kartun di televisi, ya sejujurnya sih tidak bisa dibandingkan antara yang sudah profesional puluhan tahun dengan anak negeri yang baru saja belajar menggerakkan gambar. Sedangkan anak kecil di Indonesia sudah begitu dekat dengan kartun Doremon, Sponge Bob, Ninja Hatori ataupun lainnya. Saat itu saya jadi jengkel sendiri dengan kartun indonesia yang geraknya lambat, dubbingnya tidak sesuai dengan karakter tokohnya dan kualitas animasinya yang buruk.
Sekarang saatnya kita berbicara film animasi Indonesia masakini. Ya walaupun masih kalah dengan tetangga sebelah, baik pesan edukasi maupun teknologi animasinya, sebut saja Ipin~Upin, sampai yang menurut saya keren banget, yaitu kartun "Pada Zaman Dahulu". Tapi apapun pencapaiannya, anak~anak Indonesia sekarang sudah bisa menikmati film kartun produk lokal sendiri. Sebut saja "Kuku Rock You", "Keluarga Somad" dan favorit saya saat ini adalah "Adit dan Sopo Jarwo".
Seperti yang saya baca "Animasi ini dilatarbelakangi oleh persahabatan antara Adit, Dennis, Mitha, dan Devi serta si mungil Adelya yang kehidupannya diwarnai petualangan tak terduga. Adit berperan sebagai penggerak, motivator, juga inspirator bagi para sahabatnya untuk melewati hari–hari dalam menggapai mimpi di masa mendatang. Namun, perjalanan nggak mulus kayak jalan tol. Mereka harus berhadapan dengan duo yang selalu mencari celah untuk mendapat keuntungan tanpa usaha, siapa lagi kalau bukan Bang Sopo dan Bang Jarwo. Perbedaan paham atau cara pandang merupakan bumbu utama yang memicu “perseteruan” abadi antara Adit Cs dan Sopo Jarwo" ini versi MD Entertainment selaku pabriknya. Tapi saya juga punya pendapat berbeda selaku penonton setia.
SOSOK "JARWO"
Menurut saya, film kartun yang dirilis tanggal 27 Januari 2014 "Adit dan Sopo Jarwo" ini menarik sekali dari segi karakter tokoh, setting, budaya, dan ceritanya. Tokoh Jarwo adalah sosok khas asli Indonesia. Lokal jeniusnya Indonesialah saya menyebutnya. Sederhananya, dalam kehidupan kita sehari~hari sosok mblebesnya jarwo ini bisa kita temukan dimana~mana. "Hayoo ngacung, sopo seng ga tau ngerti wong model jarwo?" Haha, Sungguh dekat dengan kehidupan kita sehari~hari sebagai orang Indonesiah. Mungkin bisa dibilang produk khas Indonesia yang tidak ada di negara lain itu ya Jarwo ini.
Menurut saya, film kartun yang dirilis tanggal 27 Januari 2014 "Adit dan Sopo Jarwo" ini menarik sekali dari segi karakter tokoh, setting, budaya, dan ceritanya. Tokoh Jarwo adalah sosok khas asli Indonesia. Lokal jeniusnya Indonesialah saya menyebutnya. Sederhananya, dalam kehidupan kita sehari~hari sosok mblebesnya jarwo ini bisa kita temukan dimana~mana. "Hayoo ngacung, sopo seng ga tau ngerti wong model jarwo?" Haha, Sungguh dekat dengan kehidupan kita sehari~hari sebagai orang Indonesiah. Mungkin bisa dibilang produk khas Indonesia yang tidak ada di negara lain itu ya Jarwo ini.
Sosok pengangguran yang sibuknya ngalahkan camat, wira~wirinya saja nyaingi sopir angkot. Semua~muanya dimakelari dan dibuatnya bisnis. Perkara sukses apa nggak itu urusan PT. SEMOYO JOYO. Alias banyak janji, alasan, makelar everything supaya orang tetap percaya dan dibuat yakin dengan jasanya. Jarwo memang ngegemesin banget.
Dari menonton film kartun ini, saya jadi agak heran dan mencurigai sesuatu. Mengapa banyak sekali muncul produk masyarakat model seperti Jarwo ini ya? Sosok yang memiliki kesan menyusahkan temannya, tidak memiliki kemandirian tapi terkadang juga dibuat susah menolak tawaran jasanya. Herannya lagi, kepandaian dan keuletan Jarwo dalam bersilat lidah itu yang selalu bikin orang jadi kikuk dan keki. Apa memang model Jarwo ini dulunya juga seringkali mengalami PHP dari lingkungan sekitarnya, sehingga Jarwopun sekarang jadi pandai PHPin oranglain.
Misal saja dalam sebuah adegan di film ini, Jarwo sungguh pandai memanfaatkan peluang, bahkan menciptakan peluang sekalipun. Terkadang Jarwo pun sampai kewalahan menanggapi peluang, apapun peluangnya ia terima saja, tanpa berfikir bagaimana semua peluang bisa teratasi dengan baik. Wes~wes, Jarwo "nggak karu~karuan". Parahnya dalam setiap kesempatan Jarwo juga selalu megedepankan gaya dan parlentenya (pamer hasil sebelum kerja dilaksanakan) Seolah~olah menurut Jarwo setiap apa yang ia kerjakan selalu mendapatkan hasil yang sepadan. Jadi semua pekerjaan yang membutuhkan jasa ia terima semuanya. Mulai cuci mangkok, betulin atap, jaga bayi, benahin selokan sampai antar jemput barang. Dan hampir tidak satupun perjaan tersebut ada yg benar~benar tuntas. Jarwo Indonesiaaaah broo...
SOSOK "SOPO"
Belum lagi dengan tokoh unik satunya lagi, partner dari Jarwo yaitu Sopo.
Bagi saya kreator film ini cukup jeli dalam menangkap fenomena sosial masyarakat di negeri ini. Sosok sopo memang terkesan paling mudah dimanfaatkan orang setipe Jarwo. Maka kecenderungan sosok sopo ini kesannya jadi orang yang paling bisa memenuhi hasrat dan kemauan Jarwo. Sopo jadi bulan~bulanan orang model Jarwo ini.
Maksud saya, sosok yang mau mendengar keluh kesah dan mau memahami semua kebutuhan Jarwo.
Belum lagi dengan tokoh unik satunya lagi, partner dari Jarwo yaitu Sopo.
Bagi saya kreator film ini cukup jeli dalam menangkap fenomena sosial masyarakat di negeri ini. Sosok sopo memang terkesan paling mudah dimanfaatkan orang setipe Jarwo. Maka kecenderungan sosok sopo ini kesannya jadi orang yang paling bisa memenuhi hasrat dan kemauan Jarwo. Sopo jadi bulan~bulanan orang model Jarwo ini.
Maksud saya, sosok yang mau mendengar keluh kesah dan mau memahami semua kebutuhan Jarwo.
Sosok Jarwo dan Sopo ini dalam realialitas kehidupan masyarakat kita, seolah olah memiliki kesan kurang dihargai dan menjadi masyarakat kelas terakhir atau kurang diperhitungkan. Menjadi terabaikan dan kurang mendapatkan perhatian dan tempat di masyarakat. Justru sosok Jarwo dan Sopo ini lebih dekat dengan anak~anak, sebut saja Adit dan Denis. Padahal setiap orang pada dasarny memiliki kelebihan dan kekurangan. Adit tokoh yang berperan sebagai anak pandai lebih bisa bergaul dengan sosok Jarwo. Adit bisa menyelami bang Jarwo lebih dekat. Adit mengerti kelebihan dan kekurangan Jarwo.
Menurut saya, sosok Jarwo ini cukup religius. Setiap kesulitan yang ia hadapi tak pernah terlontar umpatan dari mulutnya, justru sebaliknya Jarwo selalu istigfar dan menyebut nama Tuhannya "ya Allah, iki opo ae to yo... astaghfirullooh".
Jarwo memiliki kekurang dan kelebihan, sama seperti manusia lainnya. Namun masyarakat lebih menyoroti kekurangannya sehingga segala kelebihannya tidak tampak, justru yang ada Jarwo tenggelam dengan segala kekurangannya.
Jarwo memiliki kekurang dan kelebihan, sama seperti manusia lainnya. Namun masyarakat lebih menyoroti kekurangannya sehingga segala kelebihannya tidak tampak, justru yang ada Jarwo tenggelam dengan segala kekurangannya.
Kasian, orang seperti jarwo ini. Bayangkan jika jumlahnya lebih dari satu dalam satu lingkungan di sekitar kita. Sosok yang sering diremehkan daripada dihargai dan akhirnya tidak punya tempat di masyarakat. Padahal potensi yang dimiliki Jarwo sungguh luarbiasa, keuletan dan kepiawaiannya masih belum tersentuh. Jadinya semua pekerjaan terkesan "mlendes" dan "eplekenyes". Padahal hanya dibutuhkan sentuhan orang yang lebih berpengalaman, hanya kurang management dan kepercayaan dalam mengatur segala kemampuannya. Diperlukannya sentuhan dan pendekatan masyarakat sekitar yang lebih berpengalaman. "Jarwo... Jarwo..."
Jarwo butuh teladan. Coba kita perhatikan katakter tokoh lain di film ini. Pak RW yang mirip sosok Dedi Mizwar (kalo nggak salah) namanya pak Udin adalah tokoh masyarakat yang sosoknya selalu dijadikan teladan. Pak udin selalu muncul bak seperti lakon dalam film laga, diakhir atau ending cerita dan lebih tepat menjadi aktor protagonis yang selalu menutup cerita dengan indah.
Dalam kehidupan kita sehari~hari tampaknya juga banyak tokoh seperti pak Udin ini. Yang selalu kemunculannya hampir tepat waktu. Seolah~olah tidak pernah tampil buruk dan muncul di waktu yang tidak tepat. Di sini mulai terlihat kurang dramatik dan terkesan monoton film kartun ini. Yang tampil baik tidak pernah sekali kali terlihat buruk atau tersudutkan. Ya mungkin bisa jadi gambaran masyarakat kita seperti sosok Jarwo dan pak Udin ini.
Dalam kehidupan kita sehari~hari tampaknya juga banyak tokoh seperti pak Udin ini. Yang selalu kemunculannya hampir tepat waktu. Seolah~olah tidak pernah tampil buruk dan muncul di waktu yang tidak tepat. Di sini mulai terlihat kurang dramatik dan terkesan monoton film kartun ini. Yang tampil baik tidak pernah sekali kali terlihat buruk atau tersudutkan. Ya mungkin bisa jadi gambaran masyarakat kita seperti sosok Jarwo dan pak Udin ini.
Selalu ada jarak dan kesenjangan antara yang baik dan buruk. Yang baik inginnya selalu terlihat sempurna sehingga tidak mau menjamah persoalan yang image~nya tampak buruk. Terlalu berjarak. Sehingga yang buruk terus dan terus buruk, diperparah dengan adannya batas dan jarak antara baik dan buruk. Bagaimana yang buruk akan menjadi baik, jika tidak ada upaya untuk mendekati dan memperbaiki. Jarwo yang "mblebes" selalu akan tampak menjadi sosok yang "emlekenyes" jika masyarakat disekitar selalu melakukan pembiaran dan membuat batas dan jarak dengannya. Itulah cerminan masyarakat kita. The real man. Jarwo adalah sosok yang hidup ditengah tengah masyarakat kita. Salute dan jayalah animasi Indonesia.


Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi