NASKAH DRAMA ANAK YANG DURHAKA
“Anak Durhaka”
Ellya
Fatmawati
Tokoh dan Penokohan :
1.
Raisa : sebagai anak yang durhaka
2.
Ayah : sabar dan selalu berusaha
3.
Ibu : sabar dan penyayang
4.
Dinda : Baik hati dan tidak sombong
5.
Ahnaf : teman dinda dan raisa yang suka mengejek
6.
Nadia : teman dinda dan raisa yang baik sama dinda
Di sebuah desa terdapat satu keluarga yang miskin
harta. Mereka terdiri dari ayah dan ibu beserta satu anak perempuan yang
bernama Raisa. Ayah Raisa bekerja sebagai tukang becak, usianya pun sudah tua
(71 tahun). Ibu Raisa bekerja sebagai penjual sayur keliling. Kadang sehari
hanya mendapatkan uang Rp. 35. 000-50.000. Hanya cukup untuk beli beras untuk
makan sehari. Sedangkan kebutuhan pokok lainnya, seperti alat alat sekolah dan
uang jajan Raisa, memakai hasil kerja ayahnya.
Raisa sendiri merupakan seorang siswi yang masih duduk di bangku sekolah tingkat SMP. Sejak pindah ke sekolah favorit dan terbaik di kotanya, wataknya menjadi berubah. Yang dahulunya dekat sama orangtuanya. Kini Raisa sangat gengsi bahkan sebal jika dijemput ayahnya.
Karena di sekolahan tersebut isinya orang kaya. Sedangkan Raisa bisa masuk ke sekolah itu karena mendapat beasiswa. Memang Raisa adalah anak yang pintar dan cerdas namun, sayang sekali akhlaknya sangat buruk.
Berbanding terbalik dengan Dinda, kedua orang tuanya adalah seorang pengusaha sukses dan kaya. Namun, ia anak yang baik hati dan tidak sombong. Ia selalu membantu teman-temannya yang sedang kesulitan dan ia tidak pernah memamerkan hartanya.
Raisa sendiri merupakan seorang siswi yang masih duduk di bangku sekolah tingkat SMP. Sejak pindah ke sekolah favorit dan terbaik di kotanya, wataknya menjadi berubah. Yang dahulunya dekat sama orangtuanya. Kini Raisa sangat gengsi bahkan sebal jika dijemput ayahnya.
Karena di sekolahan tersebut isinya orang kaya. Sedangkan Raisa bisa masuk ke sekolah itu karena mendapat beasiswa. Memang Raisa adalah anak yang pintar dan cerdas namun, sayang sekali akhlaknya sangat buruk.
Berbanding terbalik dengan Dinda, kedua orang tuanya adalah seorang pengusaha sukses dan kaya. Namun, ia anak yang baik hati dan tidak sombong. Ia selalu membantu teman-temannya yang sedang kesulitan dan ia tidak pernah memamerkan hartanya.
Raisa dan Dinda merupakan siswa yang sama-sama
pintar, namun kehidupan keluarga mereka saja yang tidak sama.
Pada saat pulang sekolah...
Raisa : Ayyaaah, jangan dekat dekat....!!!! (teriak Raisa saat dijemput Ayahnya)
Ayah : Ada apa Nak, ayah ke sini kan mau jemput anakku yang pinter.
Raisa : Taulah...! Aku kan sudah bilang beberapa kali ke ayah. Kalau mau jemput, jangan di
depan gerbang sekolah. Aku malu. Ayah kan hanya
tukang becak, bajunya kusut.
Sedangkan teman-temanku dijemput pakai mobil.
Pokoknya aku nggak mau kalau
nanti teman-temanku melihat Ayahku seorang tukang
becak. (Raisa marah marah,
dengan wajah yang kesal).
Ayah : Astagfirullah naaak..(ayah sangat terpukul dengan ucapan anaknya, sambil sedikit
Ayah : Astagfirullah naaak..(ayah sangat terpukul dengan ucapan anaknya, sambil sedikit
menetes air mata)..
Raisa : Ya sudah ayo pulang. Pokoknya besok Ayah harus jemput Raisa di luar lingkungan
Raisa : Ya sudah ayo pulang. Pokoknya besok Ayah harus jemput Raisa di luar lingkungan
sekolah jauh dari teman-temanku.
Ayah : Iya..Nak.
Ayah : Iya..Nak.
Saat itu, dinda mengetahui sifat Raisa yang tidak
mau didekati oleh ayahnya karena malu, dinda sangat heran mengetahui akan hal
itu. Ia pun sedih melihat raisa yang memperlakukan ayahnya sendiri seperti
itu..
Dinda pun menghampiri Raisa..
Dinda : Hai saa… mau pulang
yaa?
Raisa : (terlihat gugup karena
takut ketahuan) oh iya nih.
Dinda : ini ayah kamu kah sa?
(sambil mencium tangan ayah raisa)
Raisa : eh engga din, ini bukan
ayah aku, masa ayah aku tukang becak gini sih..
Dinda : Lah terus emang kenapa sih
sa kalua tukang becak? Kan tukang becak pekerjaan
yang
halal juga..
Raisa : (diam dan mulai kesal)
Dinda : eh sa, kapan-kapan main ya
kerumah aku..
Raisa : Iya din nanti yaa pasti aku
main kerumahmu..
Dinda : yaudah sa, aku pulang
duluan yaa.. sampai nanti.
Raisa : Oh iya din, hati-hati
dijalan yaa…
Dinda : Iyaa saa..(sambil
melambaikan tangannya dan tersenyum)
Sementara itu, Raisa
terus memarahi ayahnya. Karena ia menjemput raisa memakai baju jelek dan kusut,
ia malu sama teman-temannya di sekolah.
Raisa : Tuh kan yah, aku itu malu
punya ayah seperti ayah. Aku juga pengen seperti teman-
teman
yang lain pulang dijemput pakai mobil dan sopir.
Ayah : Raisaa… gaboleh ngomong
seperti itu lagi..
Ayah : yasudah ayo kita pulang
biar kamu bisa istirahat di rumah yaa..
Raisa : iya (jawabnya cuek
sambil menggerutu)
Setelah pulang sekolah, Raisa dan keluarganya berkumpul bersama di dalam rumah kecil layaknya seperti gubuk reot. Di tengah hangatnya perkumpulan, tiba-tiba Raisa mengeluhkan nasib orang tuanya.
Raisa : Ibu bisa tidak sih, kerja yang lebih pantas. Jualan sayur, makannya cuma tempa tahu,
tempe
tahu terus. Raisa kan pengin kayak anak anak lainnya. Makan enak..
Ibu : Iya, Insyaallah kalau Allah kasih rezeki, kita makan enak Nak..
Raisa : Ayah juga. Cuma tukang becak. Bikin malu saja..
Ayah : (hanya menggeleng-nggelengkan kepala)
Ibu : Iya, Insyaallah kalau Allah kasih rezeki, kita makan enak Nak..
Raisa : Ayah juga. Cuma tukang becak. Bikin malu saja..
Ayah : (hanya menggeleng-nggelengkan kepala)
Raisa : Oh iya Buk. Aku mau kayak
teman-temanku. Mereka punya tas bagus, sepatu bagus,
uang saku
yang banyak dan hp baru. Beliin ya..
Ibu : Masyaallah Nak, tas kamu kan masih bagus. Lagipula kalau beli tas yang mahal, ibu
Ibu : Masyaallah Nak, tas kamu kan masih bagus. Lagipula kalau beli tas yang mahal, ibu
juga
tidak punya uang cukup.. terus, buat apa harus ikut teman temanmu, ibu belum
bisa beli
HP buat kamu. Lagian kamu masih terlalu dini pegang HP (ibu mencoba
menenangkan
pada anaknya dengan lembut)
Raisa : Dasar Ibu Ya..! Mental miskin, terserah bagaimana pun caranya ibu dan ayah harus
Raisa : Dasar Ibu Ya..! Mental miskin, terserah bagaimana pun caranya ibu dan ayah harus
nuruti
kemauanku. Kalau tidak, saya tidak mau sekolah.
Karena sang ayah dan ibu Raisa sangat menyayangi anaknya agar terus sekolah, akhirnya mereka berdua meng-iya-kan kemauan Raisa. Meskipun ibu dan ayah sendiri masih bingung dari mana uangnya.
Esok harinya, ayah dan ibu Raisa pergi ke toko emas untuk menjual barang simpanan dari pernikahannya dahulu. Yaitu 2 gram Emas. Setelah dijual, kedua orangtua Raisa membeli barang-barang yang diinginkannya. Namun, ternyata masih ada 1 keinginan lagi yang belum bisa terbeli oleh orangtuanya.
Ayah dan ibu Raisa sangat bingung karena belum bisa membeli HP yang bagus untuk anaknya. HP yang memiliki kamera depan dan belakang yang jernih sehingga bisa dipakai untuk foto selfy bersama teman-temannya.
Karena sang ayah dan ibu Raisa sangat menyayangi anaknya agar terus sekolah, akhirnya mereka berdua meng-iya-kan kemauan Raisa. Meskipun ibu dan ayah sendiri masih bingung dari mana uangnya.
Esok harinya, ayah dan ibu Raisa pergi ke toko emas untuk menjual barang simpanan dari pernikahannya dahulu. Yaitu 2 gram Emas. Setelah dijual, kedua orangtua Raisa membeli barang-barang yang diinginkannya. Namun, ternyata masih ada 1 keinginan lagi yang belum bisa terbeli oleh orangtuanya.
Ayah dan ibu Raisa sangat bingung karena belum bisa membeli HP yang bagus untuk anaknya. HP yang memiliki kamera depan dan belakang yang jernih sehingga bisa dipakai untuk foto selfy bersama teman-temannya.
Ibu : Duh, uang dari penjualan emas kita habis ayah. Gimana ya?
Ayah : Udah, ibu istirahat saja. Berikan barang-barang ini pada Raisa dahulu. Masalah
kekurangan uang, biar ayah jual becak sama jual
kipas di rumah.
Ibu : Jangan mas. Nanti kerja pake apa kalau becaknya dijual?
Ayah : Tenang, aku juga sudah tua. Tenaga mulai lemah, jadi biar saya nanti nyari sampah-
Ibu : Jangan mas. Nanti kerja pake apa kalau becaknya dijual?
Ayah : Tenang, aku juga sudah tua. Tenaga mulai lemah, jadi biar saya nanti nyari sampah-
sampah atau bantu ibu jualan sayuran.
Ibu :.(spontan sang ibu menangis, masih tidak yakin dengan sikap anaknya. Padahal dulu
Ibu :.(spontan sang ibu menangis, masih tidak yakin dengan sikap anaknya. Padahal dulu
anaknya
sangat disayang sekali sama orangtuanya dan hidup dengan gembira)
Pada
waktu yang bersamaan, Raisa dan kawan-kawannya asik ngobrol di kantin saat
istirahat. Mereka membicarakan hal-hal yang berbau materialis, entah itu
membicarakan produk-produk yang lagi trending atau barang-barang yang lagi
banyak dipakai oleh orang-orang di seluruh dunia.
Raisa : Eh, kawan kawan. Jangan kaget ya, besok gua mau bawa HP baru. Pokoknya keren,
Raisa : Eh, kawan kawan. Jangan kaget ya, besok gua mau bawa HP baru. Pokoknya keren,
gak kalah
sama punya kalian. Haha (Raisa tertawa dan bangga, tanpa memikirkan
nasib
orang tuanya)
Ahnaf : Ah, masa. Bukannya ayah kamu tukang becak ya? Hahah Kemarin gua liat ayah
Ahnaf : Ah, masa. Bukannya ayah kamu tukang becak ya? Hahah Kemarin gua liat ayah
kamu
jemput di depan gerbang. Hahha (Ahnaf ketawa dan diikuti oleh tema teman
lainnya)
Teman-teman Raisa : Hah, tukang becak? Hahhaha (mereka terus tertawa)
Raisa : Enak aja, itu bukan ayahku! Tua bangka itu lagi minta sumbangan sama aku. (Raisa
Teman-teman Raisa : Hah, tukang becak? Hahhaha (mereka terus tertawa)
Raisa : Enak aja, itu bukan ayahku! Tua bangka itu lagi minta sumbangan sama aku. (Raisa
berbohong)
Nadia : Owh, kirain benar Rais..kalau benar gak papa kok. (Nadia adalah orang baik, dia
Nadia : Owh, kirain benar Rais..kalau benar gak papa kok. (Nadia adalah orang baik, dia
menerima
apa adanya tanpa melihat harta dan jabatan orangtuanya)
Raisa : Bukan Nadia.. Amit amit dah. Intinya lihat aja besok. Saya akan tunjukkan pada
Raisa : Bukan Nadia.. Amit amit dah. Intinya lihat aja besok. Saya akan tunjukkan pada
kalian
tas bagus, HP baru dan sepatu bagus.
Saat itu Dindaa datang menghampiri Raisa dan
teman-temannya, ia ikut gabung bersama teman-teman yang lainnya di kantin
karena melihat mereka sedang asyik mengobrol dan tertawa-tawa, dinda pun ingin
tahu.
Dinda : Hai teman-teman..
Nadia : Oh hai dinda.. sini-sini
duduk di sebelah aku.
Dinda : oh iya nad, makasih yaa
Nadia : iya dinda, sama-sama..
Dinda : eh ini ada apa? Aku lihat
kok kalian seperti lagi membahas sesuatu yang sangat
menyenangkan..
Ahnaf : ini loh din, katanya si
Raisa mau beli HP baru..
Dinda : Oh iya? Bagus dong (wajah
yang senang)
Nadia : iya.. tapi kata ahnaf
ayahnya kan tukang becak masa iya dia bisa beli HP baru dan
mahal..
Dinda : kamu kata siapa naf?
Ahnaf : denger-denger aja din dari
anak-anak..
Dinda : eh kalian gaboleh gitu ya
gais, tukang becak kan pekerjaan yang mulia yang halal
juga,
masih perlu bisa bersyukur. Hebat loh kalua ayah Raisa seorang tukang becak
karena ia
bisa menyekolahkan Raisa disini, iya kan? Jarang-jarang ada anak yang
berprestasi
di sekolah kita.
Raisa : (wajah mulai kesal dengan
dinda dan merasa malu)
Raisa : maksudnya apa kamu
biacara seperti itu din? (tersinggung)
Dinda : aku gak ada maksud apa-apa
kok din, aku cuma kasih gambaran aja sama mereka
biar
tidak meremehkan kamu..
Raisa : ngeremehin gimana maksut
kamu? Mentang-mentang kamu kaya kamu bisa
seenaknya..
Nadia : Eh sa kamu kok jadi nyolot
gitu sih.(nadia tidak terima dengan tuduhan raisa)
Raisa : emang bener kan,
mentang-mentang kalian kaya terus kalian seenaknya gitu?
Dinda : bukan gitu Raisaa… maksud
aku bukan….
Raisa : halah sudahlah..
Dinda : Saa maafin omongan aku
tadi ya kalo kamu tersinggung seperti itu..
Raisa : (meninggalkan
teman-temannya dan pergi dari kantin)
Dinda : eh sa Raisaa….
Ahnaf : udahlah din biarin aja..
Dinda : (terdiam dan merasa bersalah)
Sementara itu, Raisa pergi ke taman ia kesal sama
teman-teman yang mengejeknya tadi, tiba-tiba Dinda datang menghampiri Raisa
ketaman..
Dinda : Saa…
Raisa : (Cuma melihat dinda saja)
Dinda : Saa.. maafin aku tadi
yaa.. aku gaada niatan apa-apa kok sa ngomong seperti itu, aku
cuma
pengen belain kamu saja biar kamu ga dihina sama mereka.
Raisa : hmm
Dinda : aku tahu sa, kamu malu kan
punya ayah seperti ayah kamu yang tukang becak
mangkanya
kamu sembunyiin dari anak-anak. Tapi kamu gabisa sembunyiin dari
aku
masalah seperti itu..
Raisa : (Cuma emandang wajah
dinda dan raut sedih)
Dinda : sudah sa, aku bisa nerima
kamu kok meskipun ayah kamu seorang tukang becak
tidak ada
masalah bagi aku, tapi kamu gab oleh seperti it uterus-terusan kasihan
kedua
orang tuamu..
Raisa : iya din makasih ya
Dinda : iya sama-sama din
(tersenyum Bahagia)
Saat pulang sekolah, Raisa sedang melihat ibunya menunggu di halaman sekolah jauh dari teman-temannya supaya Raisa tidak marah. Sang ibu duduk di pinggir jalan sambil bersandar pada pohon tua. Hanya beralas sandal yang sudah usang sambil membawa kresek hitam yang isinya barang-barang keinginan Raisa.
Raisa : Buk, mana barang barang yang aku inginkan?
Ibu : Ini Nak..
Raisa : Ya sudah, yuk pulang. Keburu teman teman tau kalau aku dijemput sama ibu tukang
sayur.
Ibu : Astagfirullah.. Nak. Jangan gitu, aku ini ibumu.
Raisa : (cuek dengan nasihat ibunya, dia hanya sibuk melihat lihat barang keinginannya dan
Ibu : Astagfirullah.. Nak. Jangan gitu, aku ini ibumu.
Raisa : (cuek dengan nasihat ibunya, dia hanya sibuk melihat lihat barang keinginannya dan
naik
angkot.)
Tiba-tiba, sesampainya di rumah Raisa marah marah.
Raisa : Buuuuk.. Bukkk.. Mana HP Raisa???
Ibu : Lagi dibeliin ayah saa.. Sabar lah.
Raisa : Dasar..jadi ayah kok gak bisa nyenengin hati anaknya.
Tiba-tiba, sesampainya di rumah Raisa marah marah.
Raisa : Buuuuk.. Bukkk.. Mana HP Raisa???
Ibu : Lagi dibeliin ayah saa.. Sabar lah.
Raisa : Dasar..jadi ayah kok gak bisa nyenengin hati anaknya.
Raisa
yang selalu marah-marah meminta barang-barang mewah seperti teman-temannya, ia
tak mau kalah dengan teman disekolahnya. Ia ingin memamerkan barang-barang
mewah yang ia miliki.
Sore harinya pun tiba. Ayah Raisa baru menjual becak dan kipasnya. Di tengah perjalanan, nasib buruk menimpa ayah Raisa. Tiba-tiba saja begal datang menghampiri ayah Raisa dan meminta seluruh uangnya agar diberikan kepada para begal.
Sore harinya pun tiba. Ayah Raisa baru menjual becak dan kipasnya. Di tengah perjalanan, nasib buruk menimpa ayah Raisa. Tiba-tiba saja begal datang menghampiri ayah Raisa dan meminta seluruh uangnya agar diberikan kepada para begal.
Dengan
rasa sedih, Ayah Raisa pun pulang dengan tangan kosong. Ia merasa kecewa tidak
bisa membelikan apa yang Raisa inginkan karena uangnya telah habis dirampas
oleh para begal.
Sesampai di
dirumah..
Raisa :
Yahh, mana HP barunya?
Ayah :
(hanya terdiam dan menundukkan kepala)
Raisa :
Ayah.. mana HP barunya? Katanya ayah belikan.
Ibu :
Raisa.. sabar biarkan ayahmu duduk dan istirahat dulu, kasihan ayahmu pasti
Lelah.
Raisa :
Gak peduli aku buk, pokoknya akum au HP nya mana sekarang?
Ayah :
maafin ayah ya sa, tadi di jalan ayah di begal uang ayah di rampok semua.
Raisa :
(Kaget) Apa? Kok bisa sih yah..
Ibu : Ya
Allah ayah, tapi ayah tidak apa-apa kan? Ayah tidak ada yang terluka?
Ayah :
Alhamdulillah ayah tidak apa-apa bu, raisa maafin ayah yah..
Raisa :
Aku gamau tau pokoknya aku harus punya hp baru, aku sudah bilang ke teman-teman
raisa
kalo aku akan beli hp baru.
Ayah
dan Ibu Raisa semakin sedih melihat raisa yang seperti itu, yang tak pernah
melihat kondisi kedua orang tuanya yang lagi kesusahan. Ayah dan Ibu hanya bisa
berdoa dan berusaha untuk anaknya tercinta.
Pagi
harinya, Raisa malas untuk berangkat sekolah karena ia tidak mau dipermalukan
lagi sama teman-temannya karena ia tak jadi punya HP baru dan mahal. Namun, ia
di paksa oleh ayah dan ibunya untuk berangkat sekolah dan pasti dibelikan HP
baru yang mahal.
Dikelas..
Ahnaf : Eh Raisaa, selamat pagi.. (sambil senyum
mengejek)
Raisa : (wajah kesal)
Ahnaf : gimana sa? Mana HP baru kamu yang mahal?
Pengen tau nih aku penasaran..
Raisa : Apasih kamu naf, kepo banget sih..
Ahnaf : lah katanya kamu beli HP baru dan mahal..
Raisa : iya udah beli HP baru aku emang, ada di
rumah msih belum aku pakai lah ngapain
aku pakai sekarang..
Ahnaf : alah.. ngomong aja kamu belum beli kan
soalnya orang tua kamu ga punya uang…
(sambil tertawa)
Raisa : eh jaga ya mulut kamu, kata siapa orang tua
aku ga punya uang? Orang tua aku itu
kaya ya banyak duit (raut kesal dan marah)
Ahnaf : ah masaaa???
Raisa : tau lah terserah deh.. (duduk di bangkunya
sambil kesal)
Perdebatan
mereka pun selesai karena guru sudah datang dan memulai pelajaran. Bel berbunyi
tanda kegiatan belajar sudah selesai dan waktunya untuk pulang..
Setiba
didepan gerbang sekolah..
Dinda dan nadia
: eh raisa pulang bareng kita yuk kita antar ke rumah kamu, biar kamu
engga
nunggu jemputan terus..
Raisa : (raut wajah yang khawatir) eh iya makasih
ya, tapi ga usah deh aku ngerepotin
kalian..
Dinda : enggak kok sa, santai aja.. sambil kita sekali-kali
main ke rumah kamuy aa..
Nadia : eh iyaa sa, kita kan ga pernah main ke rumah
kamu..
Raisa : iya nanti aku ajak main kalian ke rumah aku
ya, sekarang kalian duluan aja gapapa.
Nadia : sudah lah sa, yuk sini masuk mobil kita udah
ayo.. (memaksa raisa masuk mobil)
Raisa : (wajah kekhawatiran dan ketakutan)
Di dalam mobil sewaku perjalanan
mengantar Raisa pulang.
Nadia : kamu kenapa sa kok sepertinya ketakutan
gitu?
Raisa : ketakutan? Ketakutan kenapa coba, enggak lah
aku biasa aja nih. Aku kuatir nanti
kalo sopir aku ke sekolah sedangkan aku sudah gaada
di sekolah pasti nanti nyariin..
Nadia : oh gitu? Yaudah bilang telepon saja sopir
kamu sa bilang aja udah pulang sama kita
-kita.. iya kan din?
Dinda : iyaa (sambil tersenyum kasihan kepada raisa)
Ahnaf : eh udah mau sampai nih sa, dimana rumah kamu?
Raisa : itu ya masih lurus sedikit naf, nanti kalo
ada rumah gede pagar warna cokelat itu
rumah aku..
Ahnaf : oh iyaa sa okee deh..
Tidak lama kemudian sudah sampai di
tempat yang Raisa tunjukkan..
Ahnaf : eh sa, itu di depan kan rumah kamu?
Raisa : oh iyaa itu naf pagar cokelat itu yaa..
Ahnaf : nah ini sudah sampai sa, gede juga ya rumah
kamu sa rumah aku aja kalah..
Raisa : ya iya dong kata siapa bapak aku tukang
ojek? Rumah aku aja segede ini daripada
rumah kalian (sifat sombong)
Ahnaf : iya iya sa maafin aku deh..
Nadia : yaudah sa kita boleh kan main ke rumah kamu
sekarang?
Raisa : eh eh nanti aja ya (gugup)
Ahnaf : kenapa? Kan kita pengen main ke rumah kamu
yang gede ini..
Raisa :
iyaa nanti aja soalnya ada mama sama papa aku takutnya nanti di marahin.. nanti
aja
yaa
Dinda : ya sudah tidak apa-apa teman-teman lain kali
aja kita main ke rumah raisa, iya kan
sa?
Raisa : eh iyaa..
Teman-teman
: yaudah kalo gitu kita balik dulu ya sa…
Raisa : iyaa teman-teman makasih banyak yaaa,
hati-hati di jalan aku masuk dulu yaa…
Ternyata raisa hanya berpura-pura
mengakui bahwa itu rumahnya, sesampai di rumahnya sendiri raisa marah-marah
kembali, ia mencari ayahnya untuk menagih janjinya membelikan HP baru yang
bagus. Namun ternyata ayahnya belum pulang sampai malam itu juga, ibu nya
sangat khawatir sekali kepada ayah..
Suasana
dirumah yang penuh dengan khawatir…
Raisa : Ibu.. ayah mana sih kok belum pulang juga,
katanya ibu ayah lagi pergi beli HP buat
aku..
Ibu : Iya saa, tadi ayahmu pergi izin sama
ibu buat beliin HP baru buat kamu, tapi ibu uga
tidak tau ini kenapa sampai jam segini ayahmu masih
belum pulang dan tidak ada
kabar, ibu jadi khawatir sa sama ayah kamu (raut
wajah sedin dan khawatir)
Raisa : halah paling itu alasan ayah aja bu, ayah
itu emang ga saying sama raisa. Bilangnya
janji janji terus tapi ga pernah di tepatin deh aku
benci sama ayah..
Ibu : hussstt kamu ga boleh bilang seperti itu
nak, ayah dan ibu itu saying sekali sama
kamu..
Raisa : tau lah bu terserah ibu aja, capek aku..
Ibu : yaudah kamu istirahat aja dulu, biar ibu
yang nungguin ayah kamu..
Raisa pun masuk ke dalam kamar dan
tidur.. jam menunjukkan pukul 10 malam, tidak lama kemudian datanglah polisi ke
rumah mereka untuk memberi kabar bahwa ayah mereka sekarang sedang kritis di
rumah sakit karena habis tertabrak mobil di Jalan hendak keluar dari toko
Handphone.
Polisi : “tok tok tok.. selamat malam, permisi..
(mengetuk pintu)”
Ibu : iya siapa ya? Sebentar.. (menuju membuka
pintu)
Polisi : selamat malam ibu, apakah ini benar dengan
rumah bapak wahyu?
Ibu : iya benar pak, saya istrinya. Ada apa ya
pak malam-malam begini? Suami saya tidak
apa-apa
kan pak?
Polisi : mohon maaf sebelumnya bu, kami ingin
memberitahu bahwa bapak wahyu sekarang
kondisinya
sedang kritis setelah tadi terjadi kecelakaan tabrak lari yang di alami
bapak wahyu..
Ibu : ayah..??? ya Allah.. nak nak raisaaa
bangun nakk (berteriak memanggil raisa)
Polisi : ibu yang sabar ya, silahkan sekarang ibu ke
rumah sakit untuk mengisi data-data di
sana, kami dari pihak polisi ingin pamit dulu ya bu
selamat malam..
Ibu : iya pak selamat malam terima kasih pak..
Ibu pun bergegas ke kamar Raisa
untuk membangunkannya..
Ibu : nak bangun nak, ayah kamu..
Raisa : kenapa sih bu? Ayah udah pulang? Udah bawa
HP baru aku?
Ibu : ayah kamu nak.. ayah kamu sekarang
sedang kritis di rumah sakit, ayah kamu
tertabrak mobil setelah beliin kamu HP nak, ayo
sekarang kita ke rumah sakit
(sambil menangis terseduh-seduh)
Raisa : ayaahh? Ayah bu? (tidak menyangka dan ia
pun sedih)
Mereka lalu bergegas menuju rumah
sakit, sesampai di rumah sakit kondisi ayahnya
semakin
memburuk..
Raisa : ayah, ayah bangun yah ini raisa… maafin
raisa yah gara-gara raisa ayah seperti ini
(menangis tersengguk-sengguk)
Seketika ayahnya terbangun..
Ayah : raisaa.. anak kesayangan ayah, kamu jangan
menangis nak, itu sudah ayah belikan
HP baru buat kamu yang bagus kamu pasti senang..
(sambil tersenyum lemah)
Raisa : raisa udah gamau HP lagi yah, raisa ingin
ayah sembuh. Raisa sayang sama ayah,
maafin raisa yah (menangis terisak-isak)
Ayah : maafin ayah yah nak, ayah juga sayang sama
kamu..
Tidak lama kemudian suara denyut
jantung ayahnya pun berhenti… raisa bingung dan memanggil dokter. Setelah di
periksa oleh dokter ternyata ayah raisa sudah meninggal. Suasana pun semakin
sedih berduka, raisa sungguh sangat menyesal atas perbuatannya selama ini kepada ayahnya, ia sangat terpukul
kehilangan ayahnya.. semenjak itulah raisa sudah berubah, ia menjadi anak yang
sederhana dan tidak malu lagi atas kondisi keluarganya. Ia fokus kepada sekolah
dan cita-cita ayahnya, dan ia pun menjadi orang yang sukses sesuai dengan
keinginan ayahnya dulu.
-SEKIAN-
BIOGRAFI PENULIS
Ellya fatmawati lahir di kabupaten Lamongan pada tanggal 16 Mei 1999,
sekarang lagi menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri Universitas Negeri
Malang yang mengambil Progam studi S1 Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan
Derah.
Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi