PASAR MONOLOG HARI KARTINI
PASAR MONOLOG HARI KARTINI: MENJADI PEREMPUAN ITU BERAT, BIAR KAMI SAJA Oleh Fitrahayunitisna Ada yang tak biasa dari pasar monolog peringatan Kartini kali ini? Bukan saja tak biasa, tapi sungguh luar biasa. Bagaimana tidak? Peringatan yang biasanya sekedar dimaknai oleh simbol-simbol sanggul dan kebaya dari pada ketajaman pikiran Kartini, kali ini dirayakan dalam pesta ekspresi berkesenian, yakni teater dan musik sebagai busana yang menyuguhkan pemikiran Kartini. Yang lebih luar biasa lagi, hampir semua partisipan dalam acara ini adalah laki-laki. Mulai dari pengagas acara, penampil, MC, dan teman diskusi adalah laki-laki, kecuali saya sebagai perempuan yang berbahagia berada di antara mereka yang sedang mengapresiasi sosok perempuan Indonesia. Surat-surat Kartini mencerminkan bagaimana beratnya jadi perempuan di masanya. Kartini sebagai perempuan Indonesia dan Jawa (bangsawan pula), memiliki pengalaman hidup yang tidak mudah. Bukan berarti Kartini sebagai puteri...