PASAR MONOLOG HARI KARTINI
PASAR MONOLOG
HARI KARTINI:
MENJADI PEREMPUAN ITU BERAT, BIAR KAMI SAJA
Oleh Fitrahayunitisna
Ada yang tak biasa dari pasar monolog peringatan Kartini
kali ini? Bukan saja tak biasa, tapi sungguh luar biasa. Bagaimana tidak?
Peringatan yang biasanya sekedar dimaknai oleh simbol-simbol sanggul dan kebaya
dari pada ketajaman pikiran Kartini, kali ini dirayakan dalam pesta ekspresi
berkesenian, yakni teater dan musik sebagai busana yang menyuguhkan pemikiran
Kartini. Yang lebih luar biasa lagi, hampir semua partisipan dalam acara ini adalah
laki-laki. Mulai dari pengagas acara, penampil, MC, dan teman diskusi adalah
laki-laki, kecuali saya sebagai perempuan yang berbahagia berada di antara
mereka yang sedang mengapresiasi sosok perempuan Indonesia.
Surat-surat Kartini mencerminkan bagaimana beratnya jadi
perempuan di masanya. Kartini sebagai perempuan Indonesia dan Jawa (bangsawan
pula), memiliki pengalaman hidup yang tidak mudah. Bukan berarti Kartini
sebagai puteri bangsawan sangat representatif mewakili beratnya menjadi
perempuan di Indonesia di masa itu, namun perempuan-perempuan lain dari
berbagai budaya dan suku pasti memiliki pengalaman yang berbeda meski sama-sama
tidak mudah. Bukan juga karena hari Kartini selalu diperingati, lantas tidak
ada perempuan lain yang sehebat dirinya. Perempuan Indonesia adalah perempuan
hebat, meskipun berat menjadi perempuan. Hal itu terepresentasi dari kekaguman para
peneliti—Cora Vreede-de Stueres (1960), Anne Rasmunssen (2010), Susan
Blackburn (2014), dan Risa Permanadeli (2015)—pada perempuan
Indonesia.
Dilahirkan
sebagai perempuan adalah pemberian, namun untuk menjadi seorang perempuan
adalah pilihan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Milatuzzakiah (2016) tentang
prototipe prempuan ideal di mata masyarakat Indonesia adalah perempuan yang
keibuan, dan menjadi ibu ideal adalah ibu yang mampu mengasuh anak di rumah dan
merawat keluarganya. Sebagaimana ideologi ibuisme, perempuan keibuan adalah
yang mampu menjalankan fungsinya sebagai seorang ibu. Ibu
merupakan simbol moralitas, kebijakan, pengorbanan diri, kesabaran, dan
tanggung jawab, sehingga perempuan
sebagai ibu memikul beban idealis yang harus dihormati (Handayani dan Novianto,
2008). Bagaimana tidak berat? Pilihan menjadi perempuan ideal
tidak hanya muda, cantik, menarik, dan pintar saja. Embel-embel keibuan bukan
sekedar sampingan, tapi sungguh yang utama bagi perempuan. Perempuan bisa saja
sukses berkarir, namun belum bisa disebut sebagi perempuan sukses bila rumah
tangga dan keluarganya berantakan.
Lantas,
bagaiamana lelaki mengapresiasi tentang beratnya menjadi perempuan? Ini
terlihat dari monolog Botol Susu karya Leo Zaini (2018). Dalam monolog itu, Zaini mengekspresikan bagaimana seorang Papa dalam memahami sosok Mama. Bayangan sosok Mama menjadi bayangan yang gelap ketika dikaitkan dengan tugas membuat susu. Ini adalah bentuk
pengakuannya terhadap kuasa perempuan dalam rumah tangga. Dalam monolog Botol Susu,
sosok Papa hanya bisa nggrundel atau protes
dalam hati ketika tak kuasa menghadapi protes sang istri. Zaini juga berpendapat bahwa menjadi perempuan
itu rumit, serumit mencuci botol susu. Meskipun, dia mengakui bahwa apa yang
dilakukan oleh perempuan sebagai sebuah kerumitan semata-mata hanya untuk
memberi hal terbaik untuk anak-anak, suami, dan keluarganya. Dalam kerumitannya,
Mama selalu menyuguhkan hal terbaik untuk mereka.
Di sisi lain, Zaini mengakui bahwa laki-laki tak akan
sanggup menjadi seperti perempuan. Dia menyoal wilayah publik dan domestik yang
selama ini dibelah sebagai konstruksi sosial untuk perempuan. Perempuan hanya
ada di wilayah domestik, yakni mengurus rumah tangga. Hal itu dianggap remeh
oleh kebanyakan laki-laki karena menurut mereka persoalan rumah tangga tidak
membutuhkan pendidikan tinggi, intelektualitas tinggi, dan tidak memiliki nilai
ekonomis, apalagi keahlian itu tidak mengahasilkan banyak uang. Namun, hal itu
ternyata tidak benar. Buat sosok Papa, itu sangat berat ketika harus berperan sebagai
Mama mengasuh anak-anak barang semalam saja. Menjadi perempuan dalam rumah
tangga ternyata adalah kunci di balik kesuksesan keluarga. Sebagaimana kutipan
dalam naskah monolog berikut (Zaini, 2018):
Kini, aku mengakui kehebatan
istriku. Aku seorang laki-laki yang memang tidak menguasai urusan rumah tangga.
Konsep paternal yang secara formal hadir dalam pembagian peran, istri adalah konco
wingking. Tanpa dia, aku tidak akan
memiliki partner terbaik untuk melanggengkan kehidupan ini. Istriku orang Jawa tulen, asli
Ponorogo, sampai sekarang unggah ungguh krama inggilnya masih terjaga
dengan baik. Saudara-saudara tadi mendengar sendiri kan? Bagaimana anakku
meminta susu kepadaku. Dia katakan astak, itu berarti ‘membuat’. Belakang aku baru tau artinya, padahal aku
juga orang Jawa.
(TERTAWA)
Ya! Seorang istri
adalah manager rumah tangga. Sebagai satuan sosial ekonomi, seorang perempuan
tanpa suami tetap bisa
mengontrol rumah tangga, namun tidak sebaliknya. Seorang laki-laki tanpa istri, jelas tidak bisa mengontrol
sosial ekonomi rumah tangga. Merdekalah para perempuan.
Perempuan
yang baik, menurut pandangan orang Jawa itu, dapat
memahami makna ma telu yang berarti masak (memasak), macak (berhias), manak. Pandangan inilah yang melegitimasi bahwa perempuan bergerak dalam bidang dapur, nglulur (bersolek) dan tempat tidur. Dan nyatanya,
ketika peran laki-laki dan perempan dibagi menjadi wilayah domestik dan wilayah
publik, seorang laki-laki tak cukup luwes menjalankannya.
Perkara
perempuan yang hanya dimakanai sebagai koco
wingking ini tidak hanya digugat oleh Zaini. Dalam kosep Jawa yang
sebenarnya dari koco wingking justru
merupakan peran perempuan dalam mengatur keluarga. Perempuan berada di balik
kebijakan yang dibuat oleh laki-laki di ruang publik. Bukan berarti perempuan
yang mengatur laki-laki dalam rumah tangga, namun ada kompromi dalam membuat
kebijakan yang didasari oleh perimbangan istri. Perempuan sebagai konco wingking adalah partner dan
penyokong kesuksesan laki-laki. Konsep koco
wingking yang dinilai rendah bagi kebanyakan orang awam hanyalah mitos
untuk melegitimasi kekuasaaanya pada perempuan. Hal ini dibantah oleh Handayani
dan Novianto (2008) “ketika dihadapkan dengan kenyataan praktis, dominasi
laki-laki ini menjadi mitos, sebaliknya dominasi perempuan adalah dominasi
nyata dan praktis yang lebih memperlihatkan kuasa yang hidup.”
Mitos
lain yang diciptakan adalah kodrat perempuan yang hanya tiga M, yakni masak (memasak), macak (berhias), dan manak
(melahirkan). Ketiga hal ini juga digugat oleh Zaini. Mitos ini hanya diciptakan
untuk merumahkan perempuan. Seolah-olah perempuan tidak diberi ruang untuk
bermanfaat bagi kaumnya (manusia lain selain di rumah dengan urusan dapur,
ranjang, dan sumur). Seolah-olah perempuan tidak akan cakap di ruang publik.
Hal semata juga dibantah oleh Permanadeli (2015) dalam penelitiannya, bahwa
perempuan Jawa memiliki kecakapan di ruang domestik dan publik sekaligus.
Perempuan seringkali berperan sebagai pencarian nafkah tambahan; peran politik—biasanya dalam
bidang lobbying, dan peran juga sosial—biasanya dalam menjaga kerukunan, dalam hal ini
disebut oleh Carey
dan Houben (2016) sebagai pemelihara pertalian wangsa.
Permanadeli (2015) juga menjelaskan bahwa perempuan Jawa tidak menanggapi
perannya di wilayah publik dan domestik sebagai beban dan ketidakadilan gender. Akan tetapi,
perempuan Jawa menganggap sebagai sebuah tanggung jawab. Bagi mereka,
peran-peran itu adalah sebuah kompromi antara suami dan istri. Pembagian wilayah kerja dalam
masyarakat Jawa modern merupakan kompromi
sehingga pembagian wilayah domestik-publik tidaklah begitu kaku.
Laki-laki sebagai suami seringkali membantu pekerjaan perempuan di wilayah domestik,
seperti menjaga dan merawat anak, atau pekerjaan rumah tangga yang lain bila dibutuhkan.
Begitu juga sebaliknya, perempuan seringkali membantu pekerjaan suami di
wilayah publik,
seperti mencari nafkah dan kegiatan
dalam hubungan sosial.
Pada akhirnya, kita semua perlu
mengakui bahwa menjadi perempuan ideal itu sungguh berat. Harus kita akui juga
bahwa perempuan dengan profesi apa pun (entah perempuan berkarir atau ibu rumah
tangga) adalah perempuan yang hebat. Selalu ada perempuan luar biasa di balik
kesuksesan laki-laki dan selalu ada laki-laki hebat dibalik kesuksesan perempuan.
Bagi saya, emansipasi perempuan tidak akan pernah berjalan dalam damai tanpa
dukungan para laki-laki hebat.
Daftar Pustaka
Blackburn,
Susan. 2004. Women and the State in Modern Indonesia. New York: Cambridge
University Press.
Carey, Peter dan houben, Vencent.
2016. Perempuan-perempuan Perkasa di Jawa
Abad XVIII-XIX. Jakarta: KPG
Handayani,
S. Christina dan Adian Novianto. 2008. Kuasa
Wanita Jawa. Yogyakarta: LKIS.
Permanadeli, Risa. 2015. Dadi Wong Wadon: representasi Sosial
Perempuan Jawa di Era Modern. Yogyakarta: Pustaka Ifada.
Rasmussen, Anne
K. 2010.Women, the Recited Qur'an, and
Islamic Music in Indonesia. California: University of
California Press
Stuers,
Cora Vreede-de.1960. Sejarah Perempuan
Indonesia: Gerakan dan Pencapaian (The Indonesian Women: Struggles and
Achievement). Terjemahan Elvira
Rosa, dkk. 2008. Depok: Komunitas Bambu.
Zaini, Leo. 2018. Monolog Botol Susu. Naskah Monolog Dimainkan dalam Pasar Monolog
di Perpustakan Universitas Negeri Malang 23 April 2018.
Zakiyah, Millatuz.
2018. Prototipe Ibu Ideal: Kajian Linguistik Kognitif. Jurnal Buana Gender. Vol 3. No. 1




Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi