Warung Sari IKIP Malang (ngopi jadi pinter)

Warung Sari atau lebih akrab dengan sebutan WS. Warung berarti tempat nongkrong, Sari berarti Indah . Nah! Warung sari itu tempat nongkrong yang cukup indah (maksud'e ora digawe indah-indahan lo rek, nek Ayu' pancen indah) dan banyak kalangan yang ngopi disitu, mulai dari dosen, seniman, guru, budayawan, karyawan, tukang cilok, makelar, tukang parkir, tukang kebon, musisi sampai mahasiswa (tapi bedo rek, mahasiswa saiki karo biyen. Mahasiswa saiki ga koyok tentara jaman mbiyen gampang aturane) lengkap sudah untuk mengawali nongkrong dan sekedar ngrumpi masalah disekitar dan seputar fenomena yang terjadi.
Warung yang berdiri sejak nenek moyang IKIP tercinta ini lahir (kiro-kiro taun 1930 lah) hingga sekarang (tapi bukan untuk hari ini dan seterusnya, soale wes dibongkar. Seng mbongkar mahluk halus jarene) tidak mengalami banyak perubahan dari segi fisiknya, ada yang bilang warung nostalgia, warung bersejarah atau warung berbudaya. Kalau mau lihat dokumen foto-foto jaman dahulu, pasti lucu (putumu lucu) ada kolak kacang ijo harganya Rp 25, pecel Rp 30, dll.
Saat ini warung sari bukan lagi sekedar warung tempat ngopi dan ngobrol biasa, WS adalah sebuah komunitas yang punya jiwa social dan jalinan yang kuat. (jarene wong tuwek2, sulit dipisahkan) dan sudah mengakar dan membudaya.
Banyak sekali yang dihasilkan dari sekedar tempat lawas tapi kharismanya tak bisa dibandingkan. Ada banyak yang kita dapatkan ketika kita berada di WS, kalau bicara ilmu, mending mahasiswa kuliahnya di WS saja, akan lebih banyak ilmu yang didapatkan, lha terang saja yang ngopi disitu juga dosen yang ngajar dikelasnya, secara dosen kalau ngajar dikelas khan pakai ja’im segala, tapi kalau lagi ngopi beda lagi, mau buka yang sebelah mana juga dikasih saja. Belum lagi kalau ngopinya tukang kebon kebarengan dengan dosen yang sudah S3, wah wah… bias jadi tukang kebon yang handal jepit, ijazah ga punya, tapi pintar setara S3 jeh! (aku tak crito sek yo, dilute ae) Saya masih ingat dulu, ketika saya jalan-jalan ke jogja, bertemulah saya dengan seorang seniman dari jogja, kebetulan saat itu saya masih berstatus mahasiswa Sastra UM (kebetulan gedung kuliah saya berada di samping WS) nah! Yang aneh dan muncul pertanyaan dari saya adalah, mengapa dia tidak tau Sastra UM, tapi dia mengerti WS. What up Bro!. “klo ke WS saya pernah mas, dan tau orang-orangnya, tapi klo Sastra atau UM, saya ga ngerti) dalam batin saya “ndasmu kroak, iku kampusku mas! Duh sampean iki, cek becik’e”. wes talah pokok’e WS iku paling Ngetop! Dibanding IKIP/UM lho yo…
Kembali ke pokok permasalahan WS (sek-sek, aku wes nggawe lagu digawe WS, iki semacam mars, tak weruhi cuplikan syaire yo, nyanyine bebas kok; “Warung Sari tercinta, Anaknya baik-baik” ngunu rek) . Sekarang pertanyaannya adalah….. tet…tet
Nah! Intinya adalah Mulai tanggal 30 Mei 2010 (dino opo iku, lali aku) , Warung Sari akan bubar barisan, tapi tidak tau jalan kemana. Dan yang patut disesalkan, “mau dibawa kemana hubungan kita?” (yo, masio, seng duwur2 ga tau ng WS utowo jarang, yo ojo jeles talah rek, moro ngajak bubar wae. Ayo to, nek pengen ngopi trus dikancani, ngomongo, nek ngomong khan yo penak, kene yo ngerti, ga popo ga usah isin2, mesti dikancani kok, tapi yo ojo ngrusak. ojo yo, ga sido ae lo penak, engko dijak ngopi bareng arek2)
Akan banyak yang bunuh diri, jika hilang begitu saja (mbokyo seng apik’an ngunu lo rek, dike’I panggen dua meter persegi yo rapopo kok, lha ketimbang diusir gag a jelas, koen ngerti a, aku nulis ngene iki karo mberebes mili, hahahaha)
Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi