SENGKETA ASMARA SEKARTAJI CANDRA KIRANA
Karya Leo Zainy
DRAMA INI DIBUKA DENGAN SULUK DALANG YANG
MENCERITAKAN KISAH ASMARA SERIBU RAJA-RAJA. DAN MENCERITAKAN PULA KISAH DEWI
ANGGRAENI DAN PUTRI SEKARTAJI.
DILANJUTKAN ADEGAN YANG MENGGAMBARKAN PESONA DEWI
SEKARTAJI. BERSAMA SORAK SORAI KEMEGAHAN ISTANA KERAJAAN.
DAYANG-DAYANG DAN PENARI IKUT LARUT DALAM
SUASANA DI ISTANA. NAMUN KEADAAN MENJADI BERUBAH KETIKA DEWI SEKARTAJI MULAI
GUNDAH DAN BINGUNG DENGAN HATI DAN PERASAANNYA DENGAN PANJI ASMARA BANGUN.
SEKARTAJI:
Panji… Panji Asmoro Bangun…
Jiwaku melayang-layang di udara
Aku rindu peristiwa itu Panji,
Suguhan indah membuatku terperanjat
sempat menyita sepertiga hidup dan langkah-langkahku menjadi gila
Aku rindu padamu tak terlupakan,
Ada tanda manis di gambar itu
Dan kini kau telah masuk dalam pencarianku Panji…
Aku rindu diharapkan,
Berharap terulang, tapi kini kau tak datang,
Mungkin, segera datang!
Aku rindu peristiwa itu Panji,
Suguhan indah membuatku terperanjat
sempat menyita sepertiga hidup dan langkah-langkahku menjadi gila
Aku rindu padamu tak terlupakan,
Ada tanda manis di gambar itu
Dan kini kau telah masuk dalam pencarianku Panji…
Aku rindu diharapkan,
Berharap terulang, tapi kini kau tak datang,
Mungkin, segera datang!
Panji… Panii Amsoro bangun
DAYANG
1: Kadang
ada yang suka berandai-andai…
Mengupamakan, menerka, sampai memuja-muja
(laksana bulan tak pernah redup, cahaya deras mengaliri lingkaran putihnya,
Bagai perisai tajam, membelah kesusahan, dengan sigap membendung awan hitam kelam…
Upama duri, kau telah menancap pada harumnya mawar dan tegar seperti merah tak sempat memudar,
Mengupamakan, menerka, sampai memuja-muja
(laksana bulan tak pernah redup, cahaya deras mengaliri lingkaran putihnya,
Bagai perisai tajam, membelah kesusahan, dengan sigap membendung awan hitam kelam…
Upama duri, kau telah menancap pada harumnya mawar dan tegar seperti merah tak sempat memudar,
Kini kau adalah peri mata
bening,
selalu
pancarkan pesona khas duniamu.
Begitu indah, sedalam
kehangatan, kadang membawa mimpi untuk membelaimu sampai tak jelas batas
melihatnya)
DEWI
SEKARTAJI: Naluriku berkata, kaulah pemilik itu
mimpiku mengisyaratkan
pada malam-malam terakhir, kau penuhi ladangku
sesak sempit, kau selimuti rusukku
jalan sempit, mimpimu terjejal...
beri ruang, tanda satu terpendam
aku didepanmu...
merajahi malam bagai purnama, seolah terang tapi kelam dan senyap, dan
aku tetap terbaik diantara berjuta mimpi sempat hadir dan berteman denganmu
ku panggil kasih ya...
karena mimpi itu, hidup telah mewakili indahnya malam,
hadir telah berani kau tanam,
biar mimpi segera jadi kenyataan...
aku siap diiringi tangis atau seru berdendang!
mimpiku mengisyaratkan
pada malam-malam terakhir, kau penuhi ladangku
sesak sempit, kau selimuti rusukku
jalan sempit, mimpimu terjejal...
beri ruang, tanda satu terpendam
aku didepanmu...
merajahi malam bagai purnama, seolah terang tapi kelam dan senyap, dan
aku tetap terbaik diantara berjuta mimpi sempat hadir dan berteman denganmu
ku panggil kasih ya...
karena mimpi itu, hidup telah mewakili indahnya malam,
hadir telah berani kau tanam,
biar mimpi segera jadi kenyataan...
aku siap diiringi tangis atau seru berdendang!
Panji… Panji…
DAYANG :
aduh!
Mana peri putih lentik riang
Cawan ini menunggu...
Jangan hanyut, sampai menghilang
Dukaku menggebu
Sedu deru deram!
aduh!
Mana peri putih lentik riang
Cawan ini menunggu...
Jangan hanyut, sampai menghilang
Dukaku menggebu
Sedu deru deram!
#BABAK 2
PADA SEBUAH TAMAN, TERLIHAT DEWI ANGGRAENI
DUDUK MERENUNG. MERATAPI NASIB YANG TIDAK BERPIHAK PADANYA.
PANJI
AS: Ku abaikan duri menancap untuk
jalan-arah
ku tanam biji anggur hingga kau mabuk dan bersandar dipelipis
ku basuh muka ini, hingga bersinar, kilau cahayanya mendekat wajahmu,
ku hapus mendung dilangit hingga awan-pun dapat indahkan dunia
bila dingin salju tubuhmu beku, hanya mendekat, semua pudar dan hangat semat...
air mata beri isyarat tentang cinta!
ku tanam biji anggur hingga kau mabuk dan bersandar dipelipis
ku basuh muka ini, hingga bersinar, kilau cahayanya mendekat wajahmu,
ku hapus mendung dilangit hingga awan-pun dapat indahkan dunia
bila dingin salju tubuhmu beku, hanya mendekat, semua pudar dan hangat semat...
air mata beri isyarat tentang cinta!
DEWI
ANGGRAENI TETAP MEMBISU
PANJI
AS: Meresapi serta menjiwai segala apa
yang ada pada dirimu,
sungguh sesuatu yang dahsyat dan sulit terbendung...
ada peristiwa menghujam serta terbelalak mata ini...
teramat mempesona pada ruang-ruang yang menghampirimu
aku kandas ditengah hutan, arah yang kujalani tandus serta menjadi tak bertuan
kemana aku harus kembali,
aku butuh jalan, aku butuh teman
aku mau penghangat, dan aku ingin mendekap untuk menyusuri hutan ini...
aku mau kamu temani hingga sampai batas perjalanan.
pada ujung, ada kamu dan aku..
sungguh sesuatu yang dahsyat dan sulit terbendung...
ada peristiwa menghujam serta terbelalak mata ini...
teramat mempesona pada ruang-ruang yang menghampirimu
aku kandas ditengah hutan, arah yang kujalani tandus serta menjadi tak bertuan
kemana aku harus kembali,
aku butuh jalan, aku butuh teman
aku mau penghangat, dan aku ingin mendekap untuk menyusuri hutan ini...
aku mau kamu temani hingga sampai batas perjalanan.
pada ujung, ada kamu dan aku..
DEWI
ANG: pada awalnya, kau yang menarik
hati...
lalu mendekat untuk berbagi,
sekedar rasa nyaman yang menggembirakan
kau menawan, bagai permata dibungkus kain tebal, namun sinar itu menjelma bagai peri biru
aku sampai sekarang peduli dan hangat denganmu
aku yang masih pasrah dipersimpangan
lewati yang terjal dan mau
kini aku masih ingin dan slalu mengingatmu...
peri biru menjelma
dan aku sekarang tak pernah tau,
lalu mendekat untuk berbagi,
sekedar rasa nyaman yang menggembirakan
kau menawan, bagai permata dibungkus kain tebal, namun sinar itu menjelma bagai peri biru
aku sampai sekarang peduli dan hangat denganmu
aku yang masih pasrah dipersimpangan
lewati yang terjal dan mau
kini aku masih ingin dan slalu mengingatmu...
peri biru menjelma
dan aku sekarang tak pernah tau,
harus kemana membawa rona
asmara yang tak pernah mengerti pada siapa berhenti diujungnya.
PANJI
AS : Kedalaman syair tak mampu membingkai air-matamu
jumlah kesedihan-pun melebihi batas sewajarnya
hey! cantik
bukan rupawan yang indah menawan,
atau mewangi dan sarinya kemana-mana...
lebih dari itu ku pilih darimu yang sederhana
dimulai dari hati dan berujung ke dasar hati
hidup itu indah,
selebihnya engkau yang meronai pada nuansanya
karena yang hidup selalu menghidupi dan tidak pernah berhenti
hey! cantik, ada duka
bila berjuta mata tak jatuh dan rengkuh dipelukanmu....
namun suka, bila mata menaruh hati dan bersimpuh padamu...
kejar yang terbaik, pada tinggi diatasnya tinggi,
pada paras selebihnya hatimu yang luas,
dan jiwa-mu tak pernah lagi...
tersirat luka!
jumlah kesedihan-pun melebihi batas sewajarnya
hey! cantik
bukan rupawan yang indah menawan,
atau mewangi dan sarinya kemana-mana...
lebih dari itu ku pilih darimu yang sederhana
dimulai dari hati dan berujung ke dasar hati
hidup itu indah,
selebihnya engkau yang meronai pada nuansanya
karena yang hidup selalu menghidupi dan tidak pernah berhenti
hey! cantik, ada duka
bila berjuta mata tak jatuh dan rengkuh dipelukanmu....
namun suka, bila mata menaruh hati dan bersimpuh padamu...
kejar yang terbaik, pada tinggi diatasnya tinggi,
pada paras selebihnya hatimu yang luas,
dan jiwa-mu tak pernah lagi...
tersirat luka!
Dewi,
kekasihku… Lihatlah aku. Aku panji kekasihmu. Mengapa tak sedikitpun kau mau
meoleh kepadaku. Jangan palingkan wajahmu dewi.. Dewi, sampai hari ini aku
masih mencintaimu dewi, aku masih milikmu…
DEWI
ANG: Tidak panji. kau bukn milikku
PANJI
AS: Apa yang kamu bicarakan Dewi. Aku kekasihmu. PAnji Asmara Bangun yang dulu
itu. Ingatkah kita, ingatkah janji kita. ingatkah…
DEWI
ANG: Iya aku ingat panji. Aku ingat betul janji-janjimu kepadaku. Tapia pa
sekarang yang telah kamu lakukan.
PANJI
AS: Aku melakukan apa Dewi? aku…
DEWI
AS: Mengapa kau masih datang kemari. mengapa kau berani datang kemari. Setelah
melamar Dewi Sekartaji. Apa yang engkau harapkan dariku. Sudah cukup sakit
rasanya PAnji. Aku sudah tidak kuat. Lebih baik kau segera pergi. atau aku yang
akan pergi?
PANJI
AS: Tunggu dewi. Dengarkan penjelasanku. Itu semua bukan kehendakku. Itu semua
kehendak Ayahku. Raja Jenggala…
DEWI
ANG: Iya? dan sekarang kamu bisa berbuat apa? bisakah kamu menolak keinginan
Raja Jenggala itu. Bisakah kamu bertahan dengan cintamu?
PANJI
AS: Beri aku waktu dewi> Aku akan jelaskan ini semua kepada Raja. Akan aku
sampaikan apa yang menjadi keinginanku Dewi. Aku akan tetap bertahan denganmu
dewi. Aku percaya dewi, cinta akan bisa membawa kita hidup bersama. Aku akan
tetap memilih dewi dengan tidak bersandang gelar putra raja. Aku siap hidup
menjai rakyat biasa dengan dirimu dewi. Terimalah aku kembali dewi. Terimalah
AKu dewi. Bicaralah dewi, bicaralah, sebagai tanda bahwa kamu masih cinta dan
percaya kepadaku dewi…
TIBA-TIBA DEWI ANGGRAENI PERGI DAN MENANGIS
MENINGGALKAN PANJI ASMARA BANGUN
#BABAK3
KEMBALI
DI RUANG ISTANA, RAJA MENENANGKAN HATI DEWI SEKARTAJI
RAJA: Bahasa tubuh sulit dikenali
Bahasa hati sulit diilhami
Selalu Kacau…
Menerka lalu menebak pusaran otak
Kadang dangkal, buntu, serta Alopesia
Sulit mempertajam, ceratai, dan kemauan
Mengupayakan, mengumpamakan, memberi padan dari keinginan untuk bisa berbagi
Kita punya Tuhan, antara kau dan aku Tuhanlah yang tahu. Kemana hati membawa pergi, bersama Tuhan selalu berbagi.
Tuhanlah arketipenya...
Manusiawi bukanlah bebal memberi petunjuk dan pengertian, umpama Tuhan marah, tinggal pula jatuhkan benda kecil serupa masalah besar dihadapan kita...
Dan deram...
Bahasa hati sulit diilhami
Selalu Kacau…
Menerka lalu menebak pusaran otak
Kadang dangkal, buntu, serta Alopesia
Sulit mempertajam, ceratai, dan kemauan
Mengupayakan, mengumpamakan, memberi padan dari keinginan untuk bisa berbagi
Kita punya Tuhan, antara kau dan aku Tuhanlah yang tahu. Kemana hati membawa pergi, bersama Tuhan selalu berbagi.
Tuhanlah arketipenya...
Manusiawi bukanlah bebal memberi petunjuk dan pengertian, umpama Tuhan marah, tinggal pula jatuhkan benda kecil serupa masalah besar dihadapan kita...
Dan deram...
DEWI
SEKARTAJI: Kau reguk seluruh isi
Kau rengkuh sampai dalam
Kembali kau membuka
Kau ulurkan tangan itu, kembali kau membabi-buta
Aku lusuh,
walau tak berharap hadirmu
Aku semata tak berdaya
Ahgg…!!!
sisa-sisa ini milikmu
Aku surgamu yang tampak balutan api itu
Aku milikmu
tak sekuku tangan-pun kau milikku
kau kuasai
Pasrah serah kau kuasai
Jiwa serupa paha
Umpama itu yang hangat
hanya inginmu semata…
Kau rengkuh sampai dalam
Kembali kau membuka
Kau ulurkan tangan itu, kembali kau membabi-buta
Aku lusuh,
walau tak berharap hadirmu
Aku semata tak berdaya
Ahgg…!!!
sisa-sisa ini milikmu
Aku surgamu yang tampak balutan api itu
Aku milikmu
tak sekuku tangan-pun kau milikku
kau kuasai
Pasrah serah kau kuasai
Jiwa serupa paha
Umpama itu yang hangat
hanya inginmu semata…
RAJA: Tuhan Maha Melihat
Tuhan Maha Mendengar
Segala Puji seru sekalian alam...
Hinggaplah pada hati yang rendah
Pada sederhana menatap kesulitan
Pada ujung kembali ke sumber
Dititik bawah kita berpijak
Ada harapan diantara kita....
Tuhan Maha Mendengar
Segala Puji seru sekalian alam...
Hinggaplah pada hati yang rendah
Pada sederhana menatap kesulitan
Pada ujung kembali ke sumber
Dititik bawah kita berpijak
Ada harapan diantara kita....
SEKARTAJI: Mana Panjiku,
mana? kini aku mulai jatuh dipelukan Panji itu, tapi sekarang mana? mengapa
panji menjadi memilih wanita biasa itu. mengapa panji tidak memilih putri raja
yang cantik seperti aku. Panji tidak mencintai aku raja. Panji telah mencintai
dewi anggraeni.
RAJA: Sabar putriku yang
cantik dan yang pintar. Sebentar lagi panji akan datang menemui kamu sayangku…
Panji akan datang untuk menikahi kamu. Panjilah jodoh kamu anakku. Panji putra
raja jenggala akan berada disampingmu…
SEKARTAJI: Benar? Panji
akan segera menikahiku raja? tapi mengapa setelah dia melamarku, tiba-tiba
sekarang menghilang begitu saja? tidakkah panji merindukanku? padahal aku tidak
sabar melihat Panji datang ke mari.
RAJA: Panji adalah putra
raja Jenggala. dan kamu adalah putri Raja Kediri. Kalian berdua akan menikah
anakku. Kalian berdua sudah diberkahi Dewa, untuk menjadi pasangan yang akan
menghasilkan keturunan terbaik demi kejayaan dan masadepan kerajaan. Jodohmu
adalah putra terbaik kerajaan putriku…
SEKARTAJI: Tapi mana
buktinya?
RAJA: jalan ini begitu
terjal anakku, tapi kamu sudah sampai
jalan surga itu terbuka, sambil berjalan kita akan terus membuka
Rajamu ini telah menanam kesanggupan
untuk tepati waktu, menghampiri ujung itu.... Tunggu Putriku
jalan surga itu terbuka, sambil berjalan kita akan terus membuka
Rajamu ini telah menanam kesanggupan
untuk tepati waktu, menghampiri ujung itu.... Tunggu Putriku
SEKARTAJI: ini kisah
asmara, bukan gurauan sebentar lalu bergi menghilang tanpa bekas meretas,
ini kisah kasih antara panji dan putri sekartaji. apa yang bisa ayahanda lakukan sekarang? apa? mana panji, mana?
ini kisah kasih antara panji dan putri sekartaji. apa yang bisa ayahanda lakukan sekarang? apa? mana panji, mana?
KLANA: Akulah panji.
akulah panji klana swandana. Putra Raja dari wengker. Aku sudah mendengar semua
penderitaan yang dialami oleh putrid sekartaji. Akulah penolongmu putrid.
akulah yang akan menjadi pendampingmu kelak. aku putra raja, sama seperti Panji
asmoro bangun.
RAJA: Siapa yang
mengundang saudara untuk datang kemari? saya tidak merasa menyuruh siapa-siapa?
KLANA: aku tidak perlu
menunggu untuk diundang. aku sudah mengetahui semua. biarkan aku yang akan
menjadi pengganti panji asmorobangun untuk bersanding dengan putrid sekartaji.
aku putra raja, aku juga kaya, aku juga tanpak. Kurang apa? tidak ada alasan
untuk menolak pinangan seorang klana swandana.
SEKARTAJI: Kamu bukan
panji, kamu tidak setampan dan sebaik panji. aku tidak mengenalmu?
KLANA: Aku akan mencuri hatimu dari belakang,
Namun kamu tidak tahu dan
Tiba-tiba kamu sudah jatuh dipelukanku…
Hahaha!
kini aku bukan lagi jahat seperti kata orang,
Tetapi aku cerdik untuk
Menjadi pemilikmu…
Oh malapetaka dunia,
Hibur aku, singgahi pertapaanku,
Aku dikebiri dalam riwayat sang pujangga
Menoreh tinta demi hati kecil,
Yang gundah tak kunjung hilang susah…
dan
Tunggu, pencurianku dalam malam-mu…
Namun kamu tidak tahu dan
Tiba-tiba kamu sudah jatuh dipelukanku…
Hahaha!
kini aku bukan lagi jahat seperti kata orang,
Tetapi aku cerdik untuk
Menjadi pemilikmu…
Oh malapetaka dunia,
Hibur aku, singgahi pertapaanku,
Aku dikebiri dalam riwayat sang pujangga
Menoreh tinta demi hati kecil,
Yang gundah tak kunjung hilang susah…
dan
Tunggu, pencurianku dalam malam-mu…
SEKARTAJI : Cintaku tak
kan jatuh ditangan orang asing sepertimu
aku tidak pernah
gila dan lupa. semangat membara
tumbuh
mencintai Panji asmara bangun
KLANA : Ah! mungkin sekarang engkau belum mengenalku
dewi sekartaji. Tapi aku akan sabar menunggu saat-saat yang menggembirakan
itu.. aku siap menunggumu dewi
SEKARTAJI: aku tidak mau,
aku tidak ingin panji diganti oleh siapapun. kamu tidak seperti panji. Panji
telah mencintaiku, dia rela berkorban untuk, semua telah panji berikan, demi
masa depan aku dan panji
RAJA: Klana, maaf. kamu
mendengar sendiri, apa yang telah disampaikan oleh putriku. harap klana
memaklumi. saudara klana tidak bisa mengambil hati putriku. saudar tidak punya
cara
KLANA: aku rela berkorban
apapun demi mendapatkan putrid raja yang cantik memesona. Putri boleh katakana
apa permintaan putrid, atau bahkan raja sekalipun. aku akan memnuhi semua
permintaan kalian, demi mendapatkan kesenanganku yaitu bisa bersanding dengan
putrid Sekartaji.
RAJA: Benarkah kamu
sanggup memnuhi apapun permintaak kami, permintaanku dan putriku?
PENUTUP ADEGAN 3, DALANG
MEYAMPAIKAN PERSOALAN SAMBARA RAJA KEPADA KLANA. (DILANJUTKAN DENGAN SUASANA
DAN SITUASI SAMBARA)
#BABAK4
PATIH: Wanita adalah
ideology. Salah memilih, maka hancur dan musnahlah kejayaan kerajaan.
KILISUCI: apa yang kan
kamu sampaikan patih?
PATIH: Masadepan kerajaan
Jenggala dan kerajaan Kediri Pandita
KILISUCI: Dewi anggraeni
maksudmu?
PATIH: benar!
KILISUCI: Kita tak pernah
tau, cara lain apa yang bisa kita lakukan, untuk mendapatkan sebuah keturunan yang akan mewarisi tahta kerajaan…
PATIH: Tidak ada cara
lain. yang ada adalah satu-satunya cara, yaitu siapa saja yang telah menghampat
raja atau putra raja dalam memilih keturunan untuk kejayaan kerajaan nanti,
pasti harus dimusnahkan.
KILISUCI: Tentu ada cara
lain patih. Kita tidak bisa menghilangkan nyawa seseorang begitu saja. untuk keselamatan kita semua. Bukankah lebih
baik kekasih Anjasmara itu kita asingkan saja.
PATIH: Tidak pandita.
Tanggungjawab Panji ada ditangan kita. Kita sebagai punggawa kerajaan jenggala
juga wajib menyelamatkan kelangsungan keturunan raja jenggala. siapapun yang
menghalangi dan menghambat kelangsungan tersebut, maka wajib kita basmi.
KILISUCI: Walaupun
Anggraeni itu juga rakyat jenggala?
PATIH: Tidak terkecuali Pandita.
Kita! mau tidak mau, harus rela mengorbankan salahsatu rakyat kita, demi
kemajuan dan kejayaan kerajaan jenggala
KILISUCI: aku tidak tahu
cara apa yang bisa menggantikan cara yang menyimpang ini. Aku pasrah, apa kata
Patih tentang putrid Dewi anggraeni. Kalau memang itu cara yang dianggap paling
menarik, mari segera kita selesaikan…
PENUTUPAN ADEGAN INI,
DALANG MENGGAMBARKAN SEBUAH PEMBUNUHAN DEWI ANGGRAENI OLEH KILISUCI DAN NILA
PRABANGSA
BABAK #5
PANJI DAN SEKARTAJI
MENGGILA, HIDUP TANPA PEGANGAN, HIDUPNYA TAK KARUAN. HILANG ARAH, HILANG
INGATAN…
PANJI &SEKARTAJI: Saban hari menangis,
saban hari tertawa,
Aku melulu jadi pilu, merusak tak karuan, badan linu serasa ditimpa alam,
Dunia ini luas, dunia menjadi sempit
Sebab ulah pikiran
Aku melulu jadi pilu, merusak tak karuan, badan linu serasa ditimpa alam,
Dunia ini luas, dunia menjadi sempit
Sebab ulah pikiran
dibalut rapi sekali
oleh nafsu kemaluan...
Hidup itu susah lantaran kita tak menemukan kesenangan,
Jadi senang lalu sedih suka senang sering sedih
Hidup itu susah lantaran kita tak menemukan kesenangan,
Jadi senang lalu sedih suka senang sering sedih
DAYANG: Saban hari menangis, saban hari tertawa,
Jemu menggoda, ngilu menggila,
Sorakku teriak, sorakku terlena,
Saban hari gila, saban hari lupa,
Seringkali amnesia...
Hidup mudah jadi gila
Jemu menggoda, ngilu menggila,
Sorakku teriak, sorakku terlena,
Saban hari gila, saban hari lupa,
Seringkali amnesia...
Hidup mudah jadi gila
putrid jadi gila, panji jadi gilaa
Saban hari Gila!
Saban hari Gila!
#BABAK 6
KLANA:
semua hartaku sudah habis terkuras, hanya karna ingin mendapatkan putri
sekartaji. Selama ini pengorbanan terbesarku adalah menyerahkan semua hartaku untuk
putrid sekartaji. Tapia apa balasan yang engkau berikan kepadaku, Raja
Airlangga. Keluarlah, hadapilah aku…
PATIH:
Raja tidak ada, raja sedang semedi. tidak bisa diganggu.
KLANA:
Bawa kemari dewi sekartaji. aku ingin membawa putri sekartaji.
PATIH: Tidak bisa! raja
tidak menghendali putri sekartaji bersama anda. Saya mohon tinggalkan putrid
dan kerajaan ini
KELUARLAH PUTRI SAMBIL
MEMANGGIL PANJI> TAPI YANG DATANG ADALAH KLANA
KLANA: Aku galau, putri!
Galau ini begitu
menggejala, fenomena buatan yang tak jelas dari siapa datangnya
tapi benar, kali ini
aku galau karnamu putri...
Aku telah galau sejak
dini hari bukan karena trend
Galau ini menjerat
nadi, tusukannya menjadi-jadi
Seolah gejala daun
muda tak pernah patah justru semangat tegangan tinggi
“Please jangan
tinggalin akulah,..
SEKARTAJI: Aku menginginkan panji
KLANA: Disinilah awal mula galau ini terpatri
Membuncah, merusak
selera makan, menindih tubuh yang tergelepar, merangsek nafsu makan gorengan,
memberi inspirasi tidur-tiduran bagai babi siap diguling dan menjadi sajian…
Tapi galau ini hanya
pura-pura saja, biar asyik, dan selera seusia muda selalu aku punya
Mungkin sebentar lagi
galau menjadi basi, dan aku bisa berubah menjadi
Kece atau memble, jika
itu trend anak muda
Gila!
PATIH: Klana, tinggalkan tempat ini. Jangan sampai ada
cara-cara kekerasan dan pertumpahan darah, Klana.
KLANA: Aku tidak peduli, pertumpahan darahpun akan aku
ajalani. Siapapun yang menghalangi keinginanku mendapatkan putrid sekartaji.
Aku akan melawannya..
KLANA BERUSAHA MEMBAWA SEKARTAJI, NAMUN DIHADANG OLEH PATIH
KERAJAAN KEDIRI. TERJADILAH PERTARUNGAN HEBAT DEMI MEMPEREBUTKAN SEKARTAJI. PERTARUNGAN
BERLANJUT DENGAN DATANGNYA RAJA KEDIRI DENGAN DIPEROLEHNYA ILMU TINGGI, RAJA
MAMPU BERUBAH MENJADI SINGA BERKEPALA MERAK HASIL DaRI PERTAPAAN DAN SEHINGGA
MEMPEROLEH WAHYU DARI PERTAPAANNYA.
Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi