CINTA DAN NIKAH
Cintailah
pasanganmu dan nikahilah…
Bunga-bunga di
musim bersemi, ada cinta menggetarkan jiwa
jatuh cinta di
musim bersemi, ada rasa di dalam dada
aku slalu ingin
bersamanya. Dalam tidur pun dibangun jua
semua rasa
tercurah padanya, cinta ini indah rasanya
Namun cinta tidak
selamanya terasa indah dibuat olehnya.
Namun cinta banyak
masalahnya dari biasa sampai istimewa…
Inilah penggalan syair
yang saya tulis, ketika pertama kali saya mengenal bagaimana cara mencintai dan
memaknai sesungguhnya. Mencintai itu berarti berfikir bagaimana seseorang yang dicintai
ini akan menjadi pasangan hidup kita kelak, yang dibalut oleh sebuah ikatan
pernikahan. Bukan sebaliknya, mencitai tetapi penuh tendensi atau pemanfaatan, atau
sekedar pengisi hati yang kosong.
Ehm! Dahulu, sering
sekali ada pertanyaan yang terlontar pada saya. “kamu pacaran ini serius buat
menikah atau main-main?”. Terus terang pertanyaan ini terasa aneh dan janggal buat
saya. Mengapa begitu? mencintai itu berarti kita sudah berbicara pada persoalan
batin dan jiwa, lebih tepatnya lagi kita tidak bisa berbohong dengan apa yang
kita alami saat itu, juga apa yang telah kita rasakan. Maka, ketika kita
mengalami dan merasakan, sesungguhnya tidak ada istilah main-maian. Artinya
kita sudah melakukan sesuatu hal yang ukuranya pada tingkat keseriusan dan
kesungguhan hati yang paling dalam.
Menurut hemat saya,
persoalan cinta adalah tidak membicarakan hal yang bahagia saja. Bahagia itu
sifatnya dinanti semua orang. Artinya
ketika bahagia itu datang, hal tersebut sudah menjadi keotomatisan. Maksundnya,
tatkala kita mempersiapkan dan menata sedemikian rupa, terhadap apa yang kita
lakukan (dengan pasangan kita secara maksimal) Maka kita punya harapan besar
tentang bahagia itu sendiri. Lalu? bagaimana jika kita tidak bahagia? Nah! itu
masalahnya.
Sederhananya begini
saudaraku,
masalah akan timbul jika
pencapaian tak sesuai harapan. Dari sini tentu jelas, bahwa ketika kita
menjalin cinta, sesungguhnya capaian kita adalah bahagia itu sendiri. maka,
ketika bahagia itu tidak datang, tentu akan timbul persoalan. Dan persoalan itu
tentu sifatnya berbalik dengan istilah bahagia, yaitu sedih, susah, merana atau
senggsara.
Jadi, ketika anda menjalin
sebuah hubungan, yang akan anda fikirkan seharusnya bukanlah bahagianya, tetapi
lebih pada sedih dan susahnya atau bagaimana cara menanggulangi kesedihan dan
kesusahan itu sendiri. Karena apa? jelas kita akan menghadapi persoalan atau masalah.
Dan persoalannya itu sendiri tentu sangat jelas dan tampak didepan kita. Maka
jika anda menjalin cinta atau menikah, siaplah anda dengan perbagai masalah,
bukan berbagai bahagia. Kelak jika masalah bisa anda atasi, maka kebahagiaan
akan datang bertubi-tubi.
Selanjutnya! Bahwa, siapa saja yang telah sepakat menjalin suatu
hubungan, sesungguhnya mereka telah sepakat untuk memadukan semuanya. Bukan
hanya sekedar memadu kasih, tetapi juga memadukan idealis, ego, prinsip, dan
karakter masing-masing.
Di dalam setiap
persoalan apapun, jika menuntut sebuah perpaduan, tentu akan mengalami beberapa
pengondisian dan penyesuaian.
Diantaranya diperlukan adaptasi, pengenalan, saling menandai, saling
menghargai, saling mengerti. Dan sampai saat ini saya berpendapat, bahwa setiap
orang mempunyai karakter dan watak yang berbeda. Maka karakter itu tidak akan
bisa disamakan atau diubah secara total. Dan jika sudah seperti itu, maka sikap
toleran dan saling memahami itu menjadi pokok utama.
Kembali kepada
persoalan mencintai atau menikahi.
Kalau menurut saya
(paling tidak niat awalnya harus seperti itu). Dalam setiap tindakan mencintai
seseorang, tidak ada istilah main-main. Jika main-main itu memasuki wilayah
atau persoalan cinta itu sendiri, semua akan menjadi rancu dan mengarah kepada
bentuk lain, seperti kearah nafsu dan hanya menginginkan kebahagiaan sesaat
tanpa ingin mengerti dan memahami persoalan yang telah dihadapi.
Jadi
(menurut hemat saya) Mencintai adalah melakukan segala sesuatu dengan sepenuh
hati, didasari atas ketulusan jiwa, hati, perasaan dan sikap menjaga (dari
berbagai hal yang mendorong terjadinya ketidaknyamanan terhadap pasangannya). Sehingga dapat membawa masing-masing pasangan selamat
menuju suatu ikatan pernikahan.
Seorang Ustadz pernah mengatakan bahwa:
Menikah itu lebih banyak masalahnya, jangan
dipikirkan enaknya saja!
“Sama
sekali tidak adan yang berharap perhikahan yang suci harus tergores oleh
konflik-konflik, apalagi sampai menyebabkan pertengkaran yang menakutkan! Tapi,
angin tak selalu bertiup ke arah yang kita tuju. Laut yang tenang kadang juga
berombak keras, sehingga kapal terhempas dan perahu bisa terbalik. Kalau bukan
pelaut yang tangguh, perahu akan terbalik dan tak bisa ke tempatnya berlabuh.”
Saya pun sepakat dengan Ustadz tersebut di atas. Maka, tahun lalu
pernah saya menulis sebuah sajak yang judulnya: “Hati-hati!
Menemanimu sampai kapanpun,
rasanya bahagia.
Karena yang dilihat hanya bahagia.
Namun sedih butuh ditemani, manakala hidup itu berpasang-pasangan…
Jangan kecewakan mereka yang menyayangi,
Sulit atau mudah, sayang itu terdalam...
Mari disiplin mentaati hati.
rasanya bahagia.
Karena yang dilihat hanya bahagia.
Namun sedih butuh ditemani, manakala hidup itu berpasang-pasangan…
Jangan kecewakan mereka yang menyayangi,
Sulit atau mudah, sayang itu terdalam...
Mari disiplin mentaati hati.
Dalam prinsip agama
saya telah dikatakan, bahwa menikah itu ibadah dan wajib hukumnya. Yaitu jika
dilaksanakan mendapatkan pahala, dan jika dilarang akan mendapatkan dosa. Sekarang mari kita instropeksi diri kita
masing-masing. Bagaimana sikap kita dalam melaksanakan setiap kewajiban? Apakah kita merasa senang
atau justru malah berat dan seolah tidak bahagia? Haruskah ada paksaan dengan
dalih kita akan mendapatkan ketenangan, namun sesungguhnya banyak sekali cobaan
yang harus kita alami?
Perlu anda semua
ketahui, bahwa yang enak itu tidak diwajibkan. Namun sebaliknya, justru
dilarang atau diharamkan. yang enak
tidak disuruh atau diwajibkan, kita semua sudah akan berangkat. Contoh saja
“Leo! kamu suka bakso? jawabnya “suka” maka tidak ada kalimat selanjutnya
berupa “Leo! kamu wajib makan bakso, kalau tidak kamu akan dihukum’. Ya tentu
tanpa disuruh saya akan bergegas makan bakso. Karena enak dan saya menyukainya
(terkadang juga lupa daratan, sampai kekeyangan). Bukan begitu? Jadi menikah
itu hukumnya wajib. Jadi kewajiban adalah sesuatu yang harus kita lakukan. Dan
senang atau tidak? yang pasti itu kewajiban. Mungkin itulah salah satu
perumpamaan dari wujud pernikahan. Siapkan diri kita semua, untuk melaksanakan
kewajiban kita sebagai umat yang taat beragama. Menikah adalah ibadah, Tentu
akan penuh tantangan dan resiko, dan
tidak selalu menemukan kebahagiaan, justru sebaliknya. Namun kita semua tahu
bahwa itu adalah kewajiban, upaya mendekatkan diri pada sang pencipta, upaya
pengendalian diri, upaya peningkatan kualitas diri. Upaya pemenuhan dan
kebutuhan batin kita. Dan upaya penting dalam rangka mencetak generasi cerdas
yang akan siap melanjutkan perjuangan kita demi agama dan bangsa.
Mari menikah, semoga
barokah, hidup manfaat dan amanah.

saya pacaran hanya untuk bersenang-senang. ya, memang dulu saya seperti itu. karena pikiran sya masih kanak2. stlah sya menginjak dewasa dan bertemu dgn dia, lalu menjalin sbuah hubungan, sya mulai merasakan pacran ni bkan hal yg main2, dan sdah mlai memikirkan bgaimana kita mnjalin hubungan ni smpai kita nikah nanti. meski dia meragukan sya yg dikiranya mash kcil dan main2, sya akn ttap mnunggunya smpai dia mengrti sya.
ReplyDeletesemoga sya bsa sprti mas Leo.. :)
selamat menempuh hidup baru mas.. :)