AKTOR DAN PANGGUNG DALAM PENTAS MUSIM HUJAN
AKTOR DAN PANGGUNG
Menghidupi dan menghidupkan panggung menjadi suatu pekerjaan
khusus bagi seorang seniman atau dramawan. Maka memiliki pertimbangan secara
matang baik dari segi konsep maupun persiapannya menjadi kebutuhan yang harus
diperhatikan. Berkaitan dengan panggung pertunjukan itu sendiri, seorang
konseptor harus memiliki kemampuan menghadirkan panggung secara utuh. Menurut
Subagiyo bahwa tata pentas dalam pengertian teknik terbatas yaitu benda yang
membentuk suatu latar belakang fisik dan memberi batas lingkungan gerak laku.
Baik aktor dan semua perangkat yang terlibat akan secara penuh sadar akan
kebutuhan apa yang akan dilakukan di atas panggung yang terbatas tersebut. Jadi
panggung yang baik akan menjadi sebuah arena secara total, panggung tidak
terlihat sebagai sebuah panggung itu sendiri. Namun menjadi latar permainan
yang benar-benar seperti sebuah keadaan atau tempat dimana seorang aktor atau
pemeran mengalami peristiwa tersebut. Karena pada dasarnya akting adalah
pengalaman. Maksudnya akting tidak sekedar menjadi tapi lebih pada mengalami
sebuah peristiwa secara nyata.
Pada dasarnya panggung adalah sebuah arena permainan bagi
seorang aktor. Dalam melakukan permainan itu sendiri, aktyor akan memperhatikan
betul, apa saja kebutuhan dan yang dibutuhkan seorang aktor. Karena intinya
kator dan panggung jarus menjadi satu kesatuan.
Stanilavsky menyatakan pelakon musti tahu perlakuan
wataknya, pelakon perlu memahami watak itu sendiri agar bisa dihidupkan dengan
psikologinya (alam bawah sadar). Aktor hidup, meratap, tertawa di atas
panggung, tapi ketika meratap dan tertawa itu, ia mengamati airmata dan
kegembiraannya sendiri, karena itulah aktor membelah dirinya ketika berakting.
Kehidupan ganda inilah, keseimbangan antara kehidupan dan permainan peran
inilah, yang memunculkan seni.
PENTAS MUSIM HUJAN
Tema pentas pertunjukan yang digelar oleh kelompok teater
Pelangi Malang, yaitu sebuah panggung yang menyajikan dua pementasan berbeda,
baik tema maupun konsep pertunjukannya sendiri. Menilik konsep pertunjukan yang
banyak macamnya, bisa dikatakan dalam panggung “Musim Hujan” kali ini
masing-masing mempunyai garapan yang berbeda, baik secara konsep panggung maupun
pertunjukan itu sendiri. Bagi saya pribadi, panggung akan terlihat utuh dan
benar-benar hidup jika arena permainan tersebut tampak kongkrit dan nyata.
Tidak ada batas dan jarak antara panggung dengan kehidupan nyata. Apa yang
dilakukan atau dipanggungkan aktor sebenarnya harus nyata bisa diwujudkan
dimana pun tempat dan medianya. Hal ini bukan berarti saya membiaskan bagaimana
kedudukan panggung dengan kehidupan nyata.
Kembali kepada konsep panggung yang di usung pada perhelatan
“Pentas Musim Hujan”.
Panggung secara umum berbentuk prosenium. Artinya panggung prosenium
dibuat untuk membatasi daerah permainan dengan penonton itu sendiri. Arah dari
panggung ini hanya satu jurusan yaitu kearah penonton saja, agar pandangan
penonton lebih terpusat kearah pertunjukan. Dengan begitu aktor lebih mudah dan
lebih jelas ketika akan memusatkan perhatian kepada penonton.
Berdasarkan konsep panggung di atas, kedua penyaji dalam
pentas kali ini dipastikan akan bermain di atas panggung berjenis prosenium. Dan
saya akan mencoba memulai dengan pementasan pertama yang diusung oleh kelompok
Bermain Kangkung Berseri atau KBKB Malang.
“POLIS” KBKB
Sebenarnya kelompok KBKB lebih fleksibel dalam menentukan
area permainannya, KBKB lebih bisa menjalankan konsep panggung secara kongkrit.
Lebih pada permainan aktor yang secara umum tidak banyak terbebani oleh ruang
atau panggung yang tersedia. Memang jika dilihat dari model panggung yang
diusung sejak awal adalah panggung yang disiapkan untuk pementasan yang kedua,
yaitu pertunjukan “Bunga Dolly”. Dan untuk KBKB sendiri dalam pementasannya
yang berjudul “POLISI” ini tidak banyak menghadapi masalah jika harus
menggunakan setting panggung yang diset dalam pertunjukan “Bunga Dolly”. Pada
dasarnya kedua pementasan ini memiliki konsep pertunjukan yang hampir sama,
yaitu non realism. Maka secara struktur fisik panggung, kedua pementasan ini
tidak terbebani untuk menghadirkan setting panggung yang mempunyai latar
setting yang realis. Setting banyak mengusung keperluan yang lebih pada nilai
propertis.
“Polisi” karya Slawomir Mrozek” yang diapadtasi sekaligus
digarap oleh Agus Fauzi memiliki karakteristik pementasan yang berbeda dari
naskah aslinya. Agus sudah mengadaptasi naskah menjadi sebuah treatment atau
bentuk lakuan-lakuan yang lebih praktis. Begitu juga dengan permainan yang
dilakoni aktor itu sendiri juga cenderung bebas dalam bermain-main. Jika
kembali menengok kelompok KBKB, memang kelompok ini selalu mengusung
pertunjukan yang sifatnya dekat dengan unsur permainan, play grund dan fans.
Polisi hadir pada dimensi yang tidak dibatasi oleh ruang dan
waktu. KBKB dan Polisi lebih menonjolkan bermain-main dengan ide bagaimana
menghadirkan persoalan menjadi sebuah peristiwa yang diangkat diatas panggung. Starategi KBKB
dalam menyuguhkan cerita atau adegan tidak lepas dari eksplorasi geraknya,
gerak yang lebih tepat dengan istilah gerak-gerik. Karena pada dasarnya KBKB
adalah aktor yang memiliki basic permainan drama realis, yang tidak bisa serta
merta meninggalkan unsur verbal dalam pertunjukannya. Maka berdasar dari kemampuan
tidak dimilikinya olah tubuh yang
mumpuni, begitu juga dengan usaha yang tidak mau terjebak dengan pertunjukan
yang sekedar bermain-main verbal saja, maka jadilah eksplorasi olahan verbal
yang dikemas dengan gerak yang penuh gerik, serta ditunjang dengan atribut dan
properti yang unik.
Dengan konsep play
ground dalam menghadirkan olahan berbal yang dibalut gerik tersebut, maka
konsep panggung kelompok KBKB menjadi lebih simple,
kongkrit, dan bebas.
“BUNGA DOLLY” TEATER PELANGI
Panggung yang ditawarkan pada pementasan bunga dolly adalah
prosenium. Dalam permainannya mencoba lebih banyak bermain gerak dan visual, tanpa
meninggalkan unsur verbal yang masih dianggap perlu dan penting untuk tidak
dihilangkan secara serta-merta.
“Bunga Dolly” memiliki strategi visual yang cukup
eksploratif, baik segi images, permainan shadow play, ataupun koreo stilistiknya.
Maka untuk mewujudkan semua kebutuhan tersebut upaya mempersiapkan panggung
oleh tim artistik menjadi lebih diperhatikan. Strategi yang secara kongkrit sengaja
dihadirkan dan tidak bisa serta-merta dillkukan pembiaran. Model pertunjukan
yang membutuhkan konsep panggung seperti “Bunga Dolly” harus mampu menjadi
perhatian sepenuhnya bagi semua yang terlibat. Penggunaan media dan teknologi
berkaitan dengan audio visual membutuhkan konsep dan strategi yang matang.
Karena bagaimanapun juga, upaya maksimal dalam rangka menghadirkan area
permainan yang significant menjadi
sebuah keharusan untuk mengejar permainan yang total dan matang. Panggung
dirancang sedemikian rupa, dan setiing ditata se maksimal mungkin.
Presentasi visual-reflektif yang bercerita tentang seorang
pekerja seks komersil (PSK) dan dalam penyajian tetap konsisten berupaya
menggunakan verbal, namun kali ini dikemas dan dipilah menjadi 2 yaitu ritme
puitik dan ritme dramatik yang bertujuan memberikan persuasi moral untuk melakukan
pertobatan pada sebuah peristiwa pergolakan batin seorang perempuan pekerja
seks komersil. Konsep Garapan yang mencoba memanfaatkan multi-media, narasi
visual, shadow Play ini banyak menghadirkan gerak Konflik internal PSK, visual
Pemanggungan Shadow act, Symbolic stage, koreografi, Poetical lines.
LATAR BELAKANG
BUNGA DOLLY
AKTOR DAN PANGGUNG
Menghidupi dan menghidupkan panggung menjadi suatu pekerjaan
khusus bagi seorang seniman atau dramawan. Maka memiliki pertimbangan secara
matang baik dari segi konsep maupun persiapannya menjadi kebutuhan yang harus
diperhatikan. Berkaitan dengan panggung pertunjukan itu sendiri, seorang
konseptor harus memiliki kemampuan menghadirkan panggung secara utuh. Menurut
Subagiyo bahwa tata pentas dalam pengertian teknik terbatas yaitu benda yang
membentuk suatu latar belakang fisik dan memberi batas lingkungan gerak laku.
Baik aktor dan semua perangkat yang terlibat akan secara penuh sadar akan
kebutuhan apa yang akan dilakukan di atas panggung yang terbatas tersebut. Jadi
panggung yang baik akan menjadi sebuah arena secara total, panggung tidak
terlihat sebagai sebuah panggung itu sendiri. Namun menjadi latar permainan
yang benar-benar seperti sebuah keadaan atau tempat dimana seorang aktor atau
pemeran mengalami peristiwa tersebut. Karena pada dasarnya akting adalah
pengalaman. Maksudnya akting tidak sekedar menjadi tapi lebih pada mengalami
sebuah peristiwa secara nyata.
Pada dasarnya panggung adalah sebuah arena permainan bagi
seorang aktor. Dalam melakukan permainan itu sendiri, aktyor akan memperhatikan
betul, apa saja kebutuhan dan yang dibutuhkan seorang aktor. Karena intinya
kator dan panggung jarus menjadi satu kesatuan.
Stanilavsky menyatakan pelakon musti tahu perlakuan
wataknya, pelakon perlu memahami watak itu sendiri agar bisa dihidupkan dengan
psikologinya (alam bawah sadar). Aktor hidup, meratap, tertawa di atas
panggung, tapi ketika meratap dan tertawa itu, ia mengamati airmata dan
kegembiraannya sendiri, karena itulah aktor membelah dirinya ketika berakting.
Kehidupan ganda inilah, keseimbangan antara kehidupan dan permainan peran
inilah, yang memunculkan seni.
PENTAS MUSIM HUJAN
Tema pentas pertunjukan yang digelar oleh kelompok teater
Pelangi Malang, yaitu sebuah panggung yang menyajikan dua pementasan berbeda,
baik tema maupun konsep pertunjukannya sendiri. Menilik konsep pertunjukan yang
banyak macamnya, bisa dikatakan dalam panggung “Musim Hujan” kali ini
masing-masing mempunyai garapan yang berbeda, baik secara konsep panggung maupun
pertunjukan itu sendiri. Bagi saya pribadi, panggung akan terlihat utuh dan
benar-benar hidup jika arena permainan tersebut tampak kongkrit dan nyata.
Tidak ada batas dan jarak antara panggung dengan kehidupan nyata. Apa yang
dilakukan atau dipanggungkan aktor sebenarnya harus nyata bisa diwujudkan
dimana pun tempat dan medianya. Hal ini bukan berarti saya membiaskan bagaimana
kedudukan panggung dengan kehidupan nyata.
Kembali kepada konsep panggung yang di usung pada perhelatan
“Pentas Musim Hujan”.
Panggung secara umum berbentuk prosenium. Artinya panggung prosenium
dibuat untuk membatasi daerah permainan dengan penonton itu sendiri. Arah dari
panggung ini hanya satu jurusan yaitu kearah penonton saja, agar pandangan
penonton lebih terpusat kearah pertunjukan. Dengan begitu aktor lebih mudah dan
lebih jelas ketika akan memusatkan perhatian kepada penonton.
Berdasarkan konsep panggung di atas, kedua penyaji dalam
pentas kali ini dipastikan akan bermain di atas panggung berjenis prosenium. Dan
saya akan mencoba memulai dengan pementasan pertama yang diusung oleh kelompok
Bermain Kangkung Berseri atau KBKB Malang.
“POLIS” KBKB
Sebenarnya kelompok KBKB lebih fleksibel dalam menentukan
area permainannya, KBKB lebih bisa menjalankan konsep panggung secara kongkrit.
Lebih pada permainan aktor yang secara umum tidak banyak terbebani oleh ruang
atau panggung yang tersedia. Memang jika dilihat dari model panggung yang
diusung sejak awal adalah panggung yang disiapkan untuk pementasan yang kedua,
yaitu pertunjukan “Bunga Dolly”. Dan untuk KBKB sendiri dalam pementasannya
yang berjudul “POLISI” ini tidak banyak menghadapi masalah jika harus
menggunakan setting panggung yang diset dalam pertunjukan “Bunga Dolly”. Pada
dasarnya kedua pementasan ini memiliki konsep pertunjukan yang hampir sama,
yaitu non realism. Maka secara struktur fisik panggung, kedua pementasan ini
tidak terbebani untuk menghadirkan setting panggung yang mempunyai latar
setting yang realis. Setting banyak mengusung keperluan yang lebih pada nilai
propertis.
“Polisi” karya Slawomir Mrozek” yang diapadtasi sekaligus
digarap oleh Agus Fauzi memiliki karakteristik pementasan yang berbeda dari
naskah aslinya. Agus sudah mengadaptasi naskah menjadi sebuah treatment atau
bentuk lakuan-lakuan yang lebih praktis. Begitu juga dengan permainan yang
dilakoni aktor itu sendiri juga cenderung bebas dalam bermain-main. Jika
kembali menengok kelompok KBKB, memang kelompok ini selalu mengusung
pertunjukan yang sifatnya dekat dengan unsur permainan, play grund dan fans.
Polisi hadir pada dimensi yang tidak dibatasi oleh ruang dan
waktu. KBKB dan Polisi lebih menonjolkan bermain-main dengan ide bagaimana
menghadirkan persoalan menjadi sebuah peristiwa yang diangkat diatas panggung. Starategi KBKB
dalam menyuguhkan cerita atau adegan tidak lepas dari eksplorasi geraknya,
gerak yang lebih tepat dengan istilah gerak-gerik. Karena pada dasarnya KBKB
adalah aktor yang memiliki basic permainan drama realis, yang tidak bisa serta
merta meninggalkan unsur verbal dalam pertunjukannya. Maka berdasar dari kemampuan
tidak dimilikinya olah tubuh yang
mumpuni, begitu juga dengan usaha yang tidak mau terjebak dengan pertunjukan
yang sekedar bermain-main verbal saja, maka jadilah eksplorasi olahan verbal
yang dikemas dengan gerak yang penuh gerik, serta ditunjang dengan atribut dan
properti yang unik.
Dengan konsep play
ground dalam menghadirkan olahan berbal yang dibalut gerik tersebut, maka
konsep panggung kelompok KBKB menjadi lebih simple,
kongkrit, dan bebas.
“BUNGA DOLLY” TEATER PELANGI
Panggung yang ditawarkan pada pementasan bunga dolly adalah
prosenium. Dalam permainannya mencoba lebih banyak bermain gerak dan visual, tanpa
meninggalkan unsur verbal yang masih dianggap perlu dan penting untuk tidak
dihilangkan secara serta-merta.
“Bunga Dolly” memiliki strategi visual yang cukup
eksploratif, baik segi images, permainan shadow play, ataupun koreo stilistiknya.
Maka untuk mewujudkan semua kebutuhan tersebut upaya mempersiapkan panggung
oleh tim artistik menjadi lebih diperhatikan. Strategi yang secara kongkrit sengaja
dihadirkan dan tidak bisa serta-merta dillkukan pembiaran. Model pertunjukan
yang membutuhkan konsep panggung seperti “Bunga Dolly” harus mampu menjadi
perhatian sepenuhnya bagi semua yang terlibat. Penggunaan media dan teknologi
berkaitan dengan audio visual membutuhkan konsep dan strategi yang matang.
Karena bagaimanapun juga, upaya maksimal dalam rangka menghadirkan area
permainan yang significant menjadi
sebuah keharusan untuk mengejar permainan yang total dan matang. Panggung
dirancang sedemikian rupa, dan setiing ditata se maksimal mungkin.
Presentasi visual-reflektif yang bercerita tentang seorang
pekerja seks komersil (PSK) dan dalam penyajian tetap konsisten berupaya
menggunakan verbal, namun kali ini dikemas dan dipilah menjadi 2 yaitu ritme
puitik dan ritme dramatik yang bertujuan memberikan persuasi moral untuk melakukan
pertobatan pada sebuah peristiwa pergolakan batin seorang perempuan pekerja
seks komersil. Konsep Garapan yang mencoba memanfaatkan multi-media, narasi
visual, shadow Play ini banyak menghadirkan gerak Konflik internal PSK, visual
Pemanggungan Shadow act, Symbolic stage, koreografi, Poetical lines.
BUNGA DOLLY
Karya drama merupakan karya humaniora. Karya drama merupakan objek manusia, faktor kemanusiaan atau fakta kultural, sebab merupakan hasil ciptaan manusia. Fakta drama merupakan fakta budaya. Pengalaman pribadi di dalam drama dapat dikatakan benar sebagai dasar sastra yang nyata. Begitu pula ketika cerita yang ditulis harus ditampilkan fenomena sosial masyarakat melalui tokoh-tokoh yang muncul dalam cerita.Masalah sosial bukan hanya menjadi bagian dari kepedulian para ahli ilmu sosial, akan tetapi para dramawan juga seniman pun melalui karyanya juga mempunyai tempat menyuarakan pandangannya mengenai kehidupan sosial. Mereka dengan kemampuan dan daya kreasi yang tinggi dapat memberikan alternatif pemikiran mengenai masalah sosial masyarakat ini. Maka melalui naskah garapan kali ini, penulis mencoba mengangkat sisi kemanusiaan. Mengingatkan kembali bagaimana definisi manusia dilahirkan, dan bagaimana manusia tersebut lahir serta tujuan dari kelahirannya itu sendiri. Sehingga manusia diharapkan mampu menyelami peristiwa secara baik dan ending-nya bisa kembali menjadi manusia sesuai dengan tujuan kelahirannya (fitrah). “Pertunjukan yang baik tentu bukan menyoal estetika saja, namun mampu memberi tawaran serta nilai dan pesan yang mampu memberi dampak baik kepada khalayak secara langsung maupun dalam bentuk perenungan.”
Sejalan dengan pendapat
(saya) di atas, maka naskah pertunjukan kali ini sengaja mengangkat tema
sosial-masyarakat yang segar dibahas (belakangan) negeri ini. Bunga Dolly saya pilih sekaligus saya
jadikan judul naskah beserta pertunjukannya, memang memiliki beberapa alasan
serta terkait dengan kebaharuan dalam sebuah pertunjukan. Istilah Bunga Dolly sendiri
diambil dari nama Bunga (bukan nama sebenarnya) yang sering dipakai sebagai
nama samaran para pekerja seks komersil dan Dolly sendiri merupakan komplek PSK
terbesar di Indonesia (Asia Tenggara) yang terletak di daerah Jarak, kota
Surabaya ibu kota propinsi Jawa Timur.
Dolly kembali menjadi fenomenal dan ramai diperbincangkan ketika era kepemimpinan walikota Surabaya ibu Tri Rismaharini yang akrab dipanggil bu Risma, sebagai walikota saat ini beliau menginstruksikan penutupan kompleks Dolly pada tanggal 12 september 2014.Menurut saya pribadi, yang menarik diangkat sebagai pertunjukan sebenarnya bukan Dolly ataupun pekerja seks komersil itu sendiri. Tetapi dampak dari prilaku seks bebas terhadap lingkungan, masyarakat, dan anak-anak itu sendiri. Masyarakat umum mungkin sudah banyak yang memahami bagaimana seorang PSK menekuni pekerjaannya, apalagi jika kita menengok kompleks Dolly yang dekat dengan perkampungan, yang di dalamnya terdapat banyak anggota keluarga yang terdiri dari anak-anak, orang tua juga orang dewasa. Disisi lain, kehidupan di lingkungan secara umum atau wajarnya tentu memiliki berbagai aktivitas dan kegiatan di luar kebutuhan kompleks tersebut. Mulai dari sekolah, tempat mengaji, dan berbagai kegiatan warga lainnya. Bagaimana semua itu bisa berjalan dengan baik?Tentu tidak bisa, ataupun kalau jawabannya bijaksana, ya mungkin bisa namun tidak akan sama dengan perkampungan yang daerahnya tidak dihuni oleh pekerja seks komersil. Dan terbukti dari berbagai survey atau penelitian semua kompleks memiliki dampak yang buruk (yang akhirnya mengharuskan kompleks tersebut harus ditutup).
Sebut saja Bunga (bukan nama sebenarnya) seorang gadis berumur 8 tahun yang mengalami pertumbuhan tidak wajar. Anak gadis yang patutnya masih polos namun Bunga sudah berdandan gaya orang dewasa, dengan memakai rok mini, paras cantik dan rambut terurai. Belum lagi, Bunga sudah memiliki seorang pacar, tidak cukup satu, Bunga mempunyai lima pria yang dipacari sekaligus, dan rata-rata sudah dewasa semua. Gaya pacaran Bunga pun tidak seperti layaknya anak remaja, Bunga sudah melakukan hubungan intim pada setiap kesempatan berduaan dengan pacarnya (ke-lima pria tersebut semua pernah berhubungan intim dengan Bunga), Bunga juga pernah berhubungan dengan seorang penarik becak dengan imbalan uang 20 ribu.Dari uraian ilustrasi di atas, penulis menganggap tepat dijadikan ide garapan yang dituangkan dalam naskah drama dan pertunjukannya. Juga sebagai media dalam menyampaikan pesan atau nilai yang akan ditawarkan dalam naskah ini, yaitu manusia, kelahiran, dan tujuannya sendiri (fitrah).
Sinopsis
Sebut saja Bunga (bukan nama sebenarnya) adalah perempuan yang berprofesi sebagai pekerja seks. Bunga adalah seorang gadis yang tumbuh tidak wajar, dia hidup di lingkungan yang tidak mendukung. Sejak berumur 8 tahun mengalami pertumbuhan tidak wajar. Anak gadis yang patutnya masih polos namun Bunga sudah berdandan gaya orang dewasa, dengan memakai rok mini, paras cantik dan rambut terurai. Belum lagi, Bunga sudah memiliki seorang pacar, tidak cukup satu, Bunga mempunyai lima pria yang dipacari sekaligus, dan rata-rata sudah dewasa semua. Gaya pacaran Bunga pun tidak seperti layaknya anak remaja, Bunga sudah melakukan hubungan intim pada setiap kesempatan berduaan dengan pacarnya (ke-lima pria tersebut semua pernah berhubungan intim dengan Bunga), Bunga juga pernah berhubungan dengan seorang penarik becak dengan imbalan uang 20 ribu.
Bunga adalah representasi dari perempuan pekerja seks komersil. Perempuan yang terpaksa harus melakukan pekerjaan yang justru bagi semua orang dianggap buruk dan hina. Pergolakan batin menjadi masalah yang harus dihadapi oleh Bunga. Ketika tuntutan hidup menjadi manusia seutuhnya, dengan menjunjung tujuan hidup dan selamat dunia dan akhirat kelak. Manusia yang dekat dengan tuhannya.
Hakikat manusia ialah jiwanya ,yang mempunyai daya mengetahui,bergerakdan penyempurna.tujuan hidup ialah tercapainya bahagia,dan dekat dengan sang pencipta...Hakikat manusia itu jiwanya,maka jiwa yang mendapatkan kesenangan dan penderitaan.Hakikat manusia ialah tubuh dan jiwaHidup itu diibaratkan cahaya dan ruh itu lampunyapenggerak hati ke seluruh badan.
Bunga
mengalami pergolakan batin yang luar biasa, Bunga dihadapkan dengan pilihan
hidup yang menjadi semakin rumit dan menghimpit. Sedangkan hidup terus
berjalan, tua bukan pilihan namun kepastian. Apakah bunga ingin mengakhiri
hidup dengan selamat dan bahagia atau justru terbelenggu dengan kehidupan
duniawin yang fana. “tujuan hidup ialah tercapainya bahagia, dan dekat
dengan sang pencipta...


Pesan pada Poetical Texs
Hakikat manusia ialah jiwanya ,
yang mempunyai daya
mengetahui,
bergerak
dan penyempurna.
tujuan
hidup ialah tercapainya bahagia,
dan dekat dengan sang
pencipta...
Hakikat manusia itu
jiwanya,
maka jiwa yang
mendapatkan kesenangan dan penderitaan.
Hakikat manusia ialah
tubuh dan jiwa
Hidup itu diibaratkan
cahaya dan ruh itu lampunya
penggerak hati ke
seluruh badan.
Hakikat manusia itu mengenal Tuhan.
Dialah
yang mendekati Sang
Pencipta,
yang
bekerja karena Sang Pencipta,
yang
berjalan menuju Sang Pencipta,
dan
menyingkap yang ada
pada Sang Pencipta.
Dialah yang berbahagia
dekat dengan Sang Pencipta...
Dia akan memperoleh
kemenangan apabila ia mensucikannya,
dan memperoleh
kekecewaan dan kesengsaraan
apabila ia mengotori dan
merusaknya.
Jiwa tidak mati, tetapi
hanya meninggalkan badan
dan menunggu kembali kepadaNya.
Badan hanyalah alatnya,
sedangkan jiwa mampu
dan mempunyai tujuan.
Badan tanpa jiwa tak
berarti apa-apa.
Badan tidak mempunyai
tujuan,
jiwalah yang mempunyai
tujuan,.
Maka, badan tidak
mempunyai tujuan pada dirinya,..
Oleh karena itu, jiwalah
yang merasakan bahagia dan sengsara yang kekal.
Tujuan hidup manusia
adalah tercapainya kebahagiaan.
Dekat dengan Sang
Pencipta.
Fitrah manusia adalah
percaya kepada Sang Pencipta
dan mengenalnya.
kebahagiaan dunia
terletak pada kemuliaan,
kehormatan,
kedudukan,
kekuasaan,
terhindar dari duka dan
kesusahan serta memperoleh kesenangan selamnya.
Kebahagiaan akhirat kebahagiaan surga,
yang menjadi tujuan akhir
hidup manusiakekal tanpa akhir,
gembira tanpa duka cita,
pengetahuan tanpa kebodohan,
kaya tanpa kemiskinan,
sempurna tanpa kekurangan,
dan kemulyaan tanpa hina.
Hakikat manusia itu mengenal Tuhan.
Dialah
yang mendekati Sang
Pencipta,
yang
bekerja karena Sang Pencipta,
yang
berjalan menuju Sang Pencipta,
dan
menyingkap yang ada
pada Sang Pencipta.
Dialah yang berbahagia
dekat dengan Sang Pencipta...
Ditulis oleh Leo Zainy
ReplyDeleteNaskah dan Pementasan merupakan karya Leo Zainy (Malang)
Diproduksi tahun 2015
Naskah menjadi pemenang diajang sayembara naskah jawatimur dan 15 pada perhelatan festamasio.