AKTOR DAN PANGGUNG DALAM PENTAS MUSIM HUJAN

AKTOR DAN PANGGUNG

Menghidupi dan menghidupkan panggung menjadi suatu pekerjaan khusus bagi seorang seniman atau dramawan. Maka memiliki pertimbangan secara matang baik dari segi konsep maupun persiapannya menjadi kebutuhan yang harus diperhatikan. Berkaitan dengan panggung pertunjukan itu sendiri, seorang konseptor harus memiliki kemampuan menghadirkan panggung secara utuh. Menurut Subagiyo bahwa tata pentas dalam pengertian teknik terbatas yaitu benda yang membentuk suatu latar belakang fisik dan memberi batas lingkungan gerak laku. Baik aktor dan semua perangkat yang terlibat akan secara penuh sadar akan kebutuhan apa yang akan dilakukan di atas panggung yang terbatas tersebut. Jadi panggung yang baik akan menjadi sebuah arena secara total, panggung tidak terlihat sebagai sebuah panggung itu sendiri. Namun menjadi latar permainan yang benar-benar seperti sebuah keadaan atau tempat dimana seorang aktor atau pemeran mengalami peristiwa tersebut. Karena pada dasarnya akting adalah pengalaman. Maksudnya akting tidak sekedar menjadi tapi lebih pada mengalami sebuah peristiwa secara nyata.
Pada dasarnya panggung adalah sebuah arena permainan bagi seorang aktor. Dalam melakukan permainan itu sendiri, aktyor akan memperhatikan betul, apa saja kebutuhan dan yang dibutuhkan seorang aktor. Karena intinya kator dan panggung jarus menjadi satu kesatuan.
Stanilavsky menyatakan pelakon musti tahu perlakuan wataknya, pelakon perlu memahami watak itu sendiri agar bisa dihidupkan dengan psikologinya (alam bawah sadar). Aktor hidup, meratap, tertawa di atas panggung, tapi ketika meratap dan tertawa itu, ia mengamati airmata dan kegembiraannya sendiri, karena itulah aktor membelah dirinya ketika berakting. Kehidupan ganda inilah, keseimbangan antara kehidupan dan permainan peran inilah, yang memunculkan seni.

PENTAS MUSIM HUJAN

Tema pentas pertunjukan yang digelar oleh kelompok teater Pelangi Malang, yaitu sebuah panggung yang menyajikan dua pementasan berbeda, baik tema maupun konsep pertunjukannya sendiri. Menilik konsep pertunjukan yang banyak macamnya, bisa dikatakan dalam panggung “Musim Hujan” kali ini masing-masing mempunyai garapan yang berbeda, baik secara konsep panggung maupun pertunjukan itu sendiri. Bagi saya pribadi, panggung akan terlihat utuh dan benar-benar hidup jika arena permainan tersebut tampak kongkrit dan nyata. Tidak ada batas dan jarak antara panggung dengan kehidupan nyata. Apa yang dilakukan atau dipanggungkan aktor sebenarnya harus nyata bisa diwujudkan dimana pun tempat dan medianya. Hal ini bukan berarti saya membiaskan bagaimana kedudukan panggung dengan kehidupan nyata.
Kembali kepada konsep panggung yang di usung pada perhelatan “Pentas Musim Hujan”.
Panggung secara umum berbentuk prosenium. Artinya panggung prosenium dibuat untuk membatasi daerah permainan dengan penonton itu sendiri. Arah dari panggung ini hanya satu jurusan yaitu kearah penonton saja, agar pandangan penonton lebih terpusat kearah pertunjukan. Dengan begitu aktor lebih mudah dan lebih jelas ketika akan memusatkan perhatian kepada penonton.
Berdasarkan konsep panggung di atas, kedua penyaji dalam pentas kali ini dipastikan akan bermain di atas panggung berjenis prosenium. Dan saya akan mencoba memulai dengan pementasan pertama yang diusung oleh kelompok Bermain Kangkung Berseri atau KBKB Malang.

“POLIS” KBKB

Sebenarnya kelompok KBKB lebih fleksibel dalam menentukan area permainannya, KBKB lebih bisa menjalankan konsep panggung secara kongkrit. Lebih pada permainan aktor yang secara umum tidak banyak terbebani oleh ruang atau panggung yang tersedia. Memang jika dilihat dari model panggung yang diusung sejak awal adalah panggung yang disiapkan untuk pementasan yang kedua, yaitu pertunjukan “Bunga Dolly”. Dan untuk KBKB sendiri dalam pementasannya yang berjudul “POLISI” ini tidak banyak menghadapi masalah jika harus menggunakan setting panggung yang diset dalam pertunjukan “Bunga Dolly”. Pada dasarnya kedua pementasan ini memiliki konsep pertunjukan yang hampir sama, yaitu non realism. Maka secara struktur fisik panggung, kedua pementasan ini tidak terbebani untuk menghadirkan setting panggung yang mempunyai latar setting yang realis. Setting banyak mengusung keperluan yang lebih pada nilai propertis.

“Polisi” karya Slawomir Mrozek” yang diapadtasi sekaligus digarap oleh Agus Fauzi memiliki karakteristik pementasan yang berbeda dari naskah aslinya. Agus sudah mengadaptasi naskah menjadi sebuah treatment atau bentuk lakuan-lakuan yang lebih praktis. Begitu juga dengan permainan yang dilakoni aktor itu sendiri juga cenderung bebas dalam bermain-main. Jika kembali menengok kelompok KBKB, memang kelompok ini selalu mengusung pertunjukan yang sifatnya dekat dengan unsur permainan, play grund dan fans.

Polisi hadir pada dimensi yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. KBKB dan Polisi lebih menonjolkan bermain-main dengan ide bagaimana menghadirkan persoalan menjadi sebuah peristiwa  yang diangkat diatas panggung. Starategi KBKB dalam menyuguhkan cerita atau adegan tidak lepas dari eksplorasi geraknya, gerak yang lebih tepat dengan istilah gerak-gerik. Karena pada dasarnya KBKB adalah aktor yang memiliki basic permainan drama realis, yang tidak bisa serta merta meninggalkan unsur verbal dalam pertunjukannya. Maka berdasar dari kemampuan tidak  dimilikinya olah tubuh yang mumpuni, begitu juga dengan usaha yang tidak mau terjebak dengan pertunjukan yang sekedar bermain-main verbal saja, maka jadilah eksplorasi olahan verbal yang dikemas dengan gerak yang penuh gerik, serta ditunjang dengan atribut dan properti yang unik.

Dengan konsep play ground dalam menghadirkan olahan berbal yang dibalut gerik tersebut, maka konsep panggung kelompok KBKB menjadi lebih simple, kongkrit, dan bebas.






“BUNGA DOLLY” TEATER PELANGI

Panggung yang ditawarkan pada pementasan bunga dolly adalah prosenium. Dalam permainannya mencoba lebih banyak bermain gerak dan visual, tanpa meninggalkan unsur verbal yang masih dianggap perlu dan penting untuk tidak dihilangkan secara serta-merta.
“Bunga Dolly” memiliki strategi visual yang cukup eksploratif, baik segi images, permainan shadow play, ataupun koreo stilistiknya. Maka untuk mewujudkan semua kebutuhan tersebut upaya mempersiapkan panggung oleh tim artistik menjadi lebih diperhatikan. Strategi yang secara kongkrit sengaja dihadirkan dan tidak bisa serta-merta dillkukan pembiaran. Model pertunjukan yang membutuhkan konsep panggung seperti “Bunga Dolly” harus mampu menjadi perhatian sepenuhnya bagi semua yang terlibat. Penggunaan media dan teknologi berkaitan dengan audio visual membutuhkan konsep dan strategi yang matang. Karena bagaimanapun juga, upaya maksimal dalam rangka menghadirkan area permainan yang significant menjadi sebuah keharusan untuk mengejar permainan yang total dan matang. Panggung dirancang sedemikian rupa, dan setiing ditata se maksimal mungkin.


Presentasi visual-reflektif yang bercerita tentang seorang pekerja seks komersil (PSK) dan dalam penyajian tetap konsisten berupaya menggunakan verbal, namun kali ini dikemas dan dipilah menjadi 2 yaitu ritme puitik dan ritme dramatik yang bertujuan memberikan persuasi moral untuk melakukan pertobatan pada sebuah peristiwa pergolakan batin seorang perempuan pekerja seks komersil. Konsep Garapan yang mencoba memanfaatkan multi-media, narasi visual, shadow Play ini banyak menghadirkan gerak Konflik internal PSK, visual Pemanggungan  Shadow act, Symbolic stage, koreografi, Poetical lines. 




LATAR BELAKANG 
BUNGA DOLLY

Karya drama merupakan karya humaniora. Karya drama merupakan objek manusia, faktor kemanusiaan atau fakta kultural, sebab merupakan hasil ciptaan manusia. Fakta drama merupakan fakta budaya. Pengalaman pribadi di dalam drama dapat dikatakan benar sebagai dasar sastra yang nyata. Begitu pula ketika cerita yang ditulis harus ditampilkan fenomena sosial masyarakat melalui tokoh-tokoh yang muncul dalam cerita.Masalah sosial bukan hanya menjadi bagian dari kepedulian para ahli ilmu sosial, akan tetapi para dramawan juga seniman pun melalui karyanya juga mempunyai tempat menyuarakan pandangannya mengenai kehidupan sosial. Mereka dengan kemampuan dan daya kreasi yang tinggi dapat memberikan alternatif pemikiran mengenai masalah sosial masyarakat ini. Maka melalui naskah garapan kali ini, penulis mencoba mengangkat sisi kemanusiaan. Mengingatkan kembali bagaimana definisi manusia dilahirkan, dan bagaimana manusia tersebut lahir serta tujuan dari kelahirannya itu sendiri. Sehingga manusia diharapkan mampu menyelami peristiwa secara baik dan ending-nya bisa kembali menjadi manusia sesuai dengan tujuan kelahirannya (fitrah). “Pertunjukan yang baik tentu bukan menyoal estetika saja, namun mampu memberi tawaran serta nilai dan pesan yang mampu memberi dampak baik kepada khalayak secara langsung maupun dalam bentuk perenungan.”


         Sejalan dengan pendapat (saya) di atas, maka naskah pertunjukan kali ini sengaja mengangkat tema sosial-masyarakat yang segar dibahas (belakangan) negeri ini. Bunga Dolly saya pilih sekaligus saya jadikan judul naskah beserta pertunjukannya, memang memiliki beberapa alasan serta terkait dengan kebaharuan dalam sebuah pertunjukan. Istilah Bunga Dolly sendiri diambil dari nama Bunga (bukan nama sebenarnya) yang sering dipakai sebagai nama samaran para pekerja seks komersil dan Dolly sendiri merupakan komplek PSK terbesar di Indonesia (Asia Tenggara) yang terletak di daerah Jarak, kota Surabaya ibu kota propinsi Jawa Timur.

Dolly kembali menjadi fenomenal dan  ramai diperbincangkan ketika era kepemimpinan walikota Surabaya ibu Tri Rismaharini yang akrab dipanggil bu Risma, sebagai walikota saat ini beliau menginstruksikan penutupan kompleks Dolly pada tanggal 12 september 2014.Menurut saya pribadi, yang menarik diangkat sebagai pertunjukan sebenarnya bukan Dolly ataupun pekerja seks komersil itu sendiri. Tetapi dampak dari prilaku seks bebas terhadap lingkungan, masyarakat, dan anak-anak itu sendiri. Masyarakat umum mungkin sudah banyak yang memahami bagaimana seorang PSK menekuni pekerjaannya, apalagi jika kita menengok kompleks Dolly yang dekat dengan perkampungan, yang di dalamnya terdapat banyak anggota keluarga yang terdiri dari anak-anak, orang tua juga orang dewasa. Disisi lain, kehidupan di lingkungan secara umum atau wajarnya tentu memiliki berbagai aktivitas dan kegiatan di luar kebutuhan kompleks tersebut. Mulai dari sekolah, tempat mengaji, dan berbagai kegiatan warga lainnya. Bagaimana semua itu bisa berjalan dengan baik?Tentu tidak bisa, ataupun kalau jawabannya bijaksana, ya mungkin bisa namun tidak akan sama dengan perkampungan yang daerahnya tidak dihuni oleh pekerja seks komersil. Dan terbukti dari berbagai survey atau penelitian semua kompleks memiliki dampak yang buruk (yang akhirnya mengharuskan kompleks tersebut harus ditutup).

Sebut saja Bunga (bukan nama sebenarnya) seorang gadis berumur 8 tahun yang mengalami pertumbuhan tidak wajar. Anak gadis yang patutnya masih polos namun Bunga sudah berdandan gaya orang dewasa, dengan memakai rok mini, paras cantik dan rambut terurai. Belum lagi, Bunga sudah memiliki seorang pacar, tidak cukup satu, Bunga mempunyai lima pria yang dipacari sekaligus, dan rata-rata sudah dewasa semua. Gaya pacaran Bunga pun tidak seperti layaknya anak remaja, Bunga sudah melakukan hubungan intim pada setiap kesempatan berduaan dengan pacarnya (ke-lima pria tersebut semua pernah berhubungan intim dengan Bunga), Bunga juga pernah berhubungan dengan seorang penarik becak dengan imbalan uang 20 ribu.Dari uraian ilustrasi di atas, penulis menganggap tepat dijadikan ide garapan yang dituangkan dalam naskah drama dan pertunjukannya. Juga sebagai media dalam menyampaikan pesan atau nilai yang akan ditawarkan dalam naskah ini, yaitu manusia, kelahiran, dan tujuannya sendiri (fitrah).  

Sinopsis

Sebut saja Bunga (bukan nama sebenarnya) adalah perempuan yang berprofesi sebagai pekerja seks. Bunga  adalah  seorang gadis yang tumbuh tidak wajar, dia hidup di lingkungan yang tidak mendukung. Sejak berumur 8 tahun mengalami pertumbuhan tidak wajar. Anak gadis yang patutnya masih polos namun Bunga sudah berdandan gaya orang dewasa, dengan memakai rok mini, paras cantik dan rambut terurai. Belum lagi, Bunga sudah memiliki seorang pacar, tidak cukup satu, Bunga mempunyai lima pria yang dipacari sekaligus, dan rata-rata sudah dewasa semua. Gaya pacaran Bunga pun tidak seperti layaknya anak remaja, Bunga sudah melakukan hubungan intim pada setiap kesempatan berduaan dengan pacarnya (ke-lima pria tersebut semua pernah berhubungan intim dengan Bunga), Bunga juga pernah berhubungan dengan seorang penarik becak dengan imbalan uang 20 ribu.

Bunga adalah representasi dari perempuan pekerja seks komersil. Perempuan yang terpaksa harus melakukan pekerjaan yang justru bagi semua orang dianggap buruk dan hina. Pergolakan batin menjadi masalah yang harus dihadapi oleh Bunga. Ketika tuntutan hidup menjadi manusia seutuhnya, dengan menjunjung tujuan hidup dan selamat dunia dan akhirat kelak. Manusia yang dekat dengan tuhannya. 

Hakikat manusia  ialah jiwanya ,yang mempunyai daya mengetahui,bergerakdan penyempurna.tujuan  hidup ialah  tercapainya bahagia,dan dekat dengan sang pencipta...Hakikat manusia itu jiwanya,maka jiwa yang mendapatkan kesenangan dan penderitaan.Hakikat manusia ialah tubuh dan jiwaHidup itu diibaratkan cahaya dan ruh itu lampunyapenggerak hati ke seluruh badan. 

Bunga mengalami pergolakan batin yang luar biasa, Bunga dihadapkan dengan pilihan hidup yang menjadi semakin rumit dan menghimpit. Sedangkan hidup terus berjalan, tua bukan pilihan namun kepastian. Apakah bunga ingin mengakhiri hidup dengan selamat dan bahagia atau justru terbelenggu dengan kehidupan duniawin yang fana. “tujuan  hidup ialah tercapainya bahagia, dan dekat dengan sang pencipta...
    



 

Pesan pada Poetical Texs

Hakikat manusia  ialah jiwanya ,

yang mempunyai daya mengetahui,
bergerak
dan penyempurna.

 tujuan  hidup ialah  tercapainya bahagia,
dan dekat dengan sang pencipta...

Hakikat manusia itu jiwanya,
maka jiwa yang mendapatkan kesenangan dan penderitaan.

Hakikat manusia ialah tubuh dan jiwa
Hidup itu diibaratkan cahaya dan ruh itu lampunya
penggerak hati ke seluruh badan.

Hakikat manusia itu mengenal Tuhan.
Dialah  yang  mendekati  Sang  Pencipta, 
yang  bekerja karena Sang Pencipta,
yang  berjalan  menuju Sang Pencipta,
dan  menyingkap  yang  ada  pada Sang  Pencipta. 
Dialah yang berbahagia dekat dengan Sang Pencipta...
Dia akan memperoleh kemenangan apabila ia mensucikannya,
dan memperoleh kekecewaan dan kesengsaraan
apabila ia mengotori dan merusaknya.

Jiwa tidak mati, tetapi hanya meninggalkan badan
 dan menunggu kembali kepadaNya.
Badan hanyalah alatnya,
sedangkan  jiwa mampu  dan  mempunyai  tujuan.
Badan tanpa jiwa tak berarti apa-apa.
Badan tidak mempunyai tujuan,
jiwalah yang mempunyai tujuan,.
Maka, badan tidak mempunyai tujuan pada dirinya,..
Oleh karena itu, jiwalah yang merasakan bahagia dan sengsara yang kekal.

Tujuan hidup manusia adalah tercapainya kebahagiaan.
Dekat dengan Sang Pencipta.

Fitrah manusia adalah percaya kepada  Sang  Pencipta  dan  mengenalnya.
kebahagiaan dunia terletak pada kemuliaan,
kehormatan,
kedudukan,
kekuasaan,
terhindar dari duka dan kesusahan serta memperoleh kesenangan selamnya.

Kebahagiaan akhirat kebahagiaan surga,
yang menjadi tujuan  akhir  hidup manusiakekal tanpa akhir,
gembira tanpa duka cita,
pengetahuan tanpa kebodohan,
kaya tanpa kemiskinan,
sempurna tanpa kekurangan,
dan kemulyaan tanpa hina.


Comments

  1. Ditulis oleh Leo Zainy
    Naskah dan Pementasan merupakan karya Leo Zainy (Malang)
    Diproduksi tahun 2015
    Naskah menjadi pemenang diajang sayembara naskah jawatimur dan 15 pada perhelatan festamasio.

    ReplyDelete

Post a Comment

mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi

Popular posts from this blog

NASKAH DRAMA ANAK YANG DURHAKA

ADIT & SOPO JARWO

Drama ANAK-ANAK TK