CACATAN DARI BANDUNG

Tentang FESTAMASIO (Festival Teater Mahasiswa Nasional) Bandung dan Rokok Gudang Garam Surya 12
Di kota Bandung tidak ada penjual rokok Gudang Garam Surya 12. Para penjual di toko kelontong selalu kebingungan jika ditanya perihal rokok tsb. Jatuhnya yg disodorkan rokok merk Surya 16 (btw beda merk beda rasa lho ya), namun ketika saya kembali menanyakan pada penjualnya, justru saya disodori rokok garpit, belakangan saya tau, walaupun saya sempat bingung ketika penjualnya mengiyakan "ouw garpit", garpit, garpit... saya bertanya tanya. Ouw itu rokok Gudang Garam International alias sekelas/seperusahaan dengan merk Surya 12. Edan! Info terakhir di mini market juga tidak mengenal rokok merk tersebut. "ya beda dong mas... mas..." kata saya "kok bisa masnya mengatakan rokok Internasional 12 itu dengan sebutan garpit? Ga masuk akal". Merk lain itu mas.
Penulis adalah salah satu diantara ratusan mahasiswa yang datang ke Bandung dengan latar belakang daerah yang banyak penikmat rokok surya 12nya, sekaligus daerah yang dekat dengan pabrik pembuatannya, Kediri Jawa Timur.
Saya meyakini juga bahwa yang datang di sini rata~rata para mahasiswa, seniman, sastrawan, sutradara dan dramawan yang tidak bisa lepas dari rokok begitu saja, justru belakangan kita ketahui bahwa para seniman atau dramawan yang tidak bisa lepas begitu saja dengan rokok dalam setiap pengkaryaannya. Lantas bagaimana nasib para dramawan dan surradara yang tidak menemukan rokok surya 12 di Festamasio kota Bandung?
Sebenarnya kisah ini bukan cerita tentang siapa~siapa. Tapi penulis sendiri, pria perokok merk Surya 12 yang saat ini menjadi peserta Festamasio dan kebetulan juga kreator dari pertunjukan "Bunga Dolly" bersama kelompok teater Pelangi UM.
Dalam gelaran ini penulis bersama teman Pelangi memiliki waktu selama 10 hari di kota kembang ini. Di hari ke lima Bunga Dolly akan digelar, artinya sejak saya menginjakkan kaki di kota Bandung tepatnya di Univ. Pendidikan Indonesia, saya mempunyai waktu memperbaiki repertoar saya sampai tgl 6 dan Bunga Dolly naik panggung.
"Surya 12 dan Bunga Dolly"
Betapa tidak adanya korelasi antara dua istilah tersebut namun hubungan emosional itu jadi dapat dikorelasikan manakala ide itu muncul jika sela jari sang kreator menjapit rokok surya 12.
Bandung adalah kota pertama yg selalu jadi primadona bagi kota lain untuk menimba ilmu seni pertunjukan, kota yang sekaligus kota pertama yang selalu kejatuhan budaya dan pergerakan seni dari barat/modern. Seni di Bandung menjadi barometer seni budaya negeri ini.
Ketika seniman atau kreator datang di kota Bandung, mereka tidak datang serta merta hanya membawa tubuhnya saja, namun dibarengi segudang ide, konsep dan bentuk garapan yang matang tanpa terkecuali siapapun itu, baik penyuka rokok surya 12 atau mereka yg sudah beralih ke selera garpit.
Pelangi kota Malang dan "Bunga Dolly" hadir di kota Bandung dengan segala keterbatasan sekaligus ke~PD~annya mengatasnamakan ide, konsep, dan bentuk garapan yg diyakini baru yang sanggup memberikan nilai tawar.
"Bunga Dolly" menyadari atas ekspansi dirinya dari kota pahlawan ke kota kembang.
Walaupun sebenarnya Pelangi lahir dari kota bunga, pariwisata, pendidikan dan sekarang kota ruko, kota Malang. Uniknya justru sang kreator lahir dari kota soto Lamongan. Sungguh ramuan yg luar biadab.
Dari latar belakang kemunculan sebuah ide dan asal daerah sang kreator mungkin akan menimbulkan efek kegamangan atas keberhasilan pertunjukan itu sendiri. Namun semua itu tidak menjadi soal ketika keinginan penciptaan dan pencapaian pada titik kulminasi. Mana bukan soal ide yang tidak dilahirkan dari kota Surabaya asli. Namun pada ide dasarnya yang sederhana saja, sang kreator hanya merespon kebijakan wali kota Surabaya Risma, sang perempuan satu~satunya justru lebih bisa membaca nurani kemanusiaan yang terlahir pada setiap insan manusia tidak terkecuali pekerja seks terkhusus menghuni Dolly yang memang sudah menjadi icon prostitusi terbesar di asia tenggara.
Kembali saya fokuskan pada rokok Surya 12 dan Festamasio dengan sudut pandang kreator Bunga Dolly serta kota Bandung itu sendiri.
Bagi saya, betapa berat membawa ide dan konsep ke kota Bandung, kota dengan sejuta seniman dan sastrawan, banyak perupa besar yang lahir di kota ini. Kota yg punya sekolah tinggi ilmu seni dan daerah yg kuat dengan seni tradisi budaya Sundannya. Wow... amazing. Sekarang coba kita lirik para jurinya, Godi Suwarna, seniman asli Sunda kawak dengan karyanya yg melegenda di tanah sangkuriang sampai ke negeri jiran. Naomi srikandi, aktris perempuan yg sekarang sedang menggawangi kelompok teater Garasi, sebuah kelompok teater mapan dan terdepan dalam inovasi penggarapan. Perempuan yang bolak balik mendapatkan reward seni dan wara wiri bertandang ke luar negeri. Heri Udo, seniman dan dosen yang memiliki disiplin ilmu pertunjukan paket lengkap. Benny Johanes, punya nama panggung Ben Jos, dosen seni STSI Bandung, dosen filsafat Sanatadarma, sekaligus dosen desain di Petra Surabaya sampai sekarang. Karyanya mengalir dari naskah drama, buku teori sampai pertunjukan yg membawanya menjadi aktor dan sutradara terbaik di jagad Bandung, Indonesia, dan Mancanegara.
Sudahlah tidak usah membahas profil dan perjalanan mereka, mungkin mereka semua dipilih menjadi juri lantaran mereka hebat. Jadi barangkali tidak perlu diperpanjang, namun cukup dengan diam~diam mencuri ilmunya saja. Saya berimajinasi, jika ada kesempatan lampu padam saya akan memasang aksi seperti begal yang siap memangsa siapapun yang lewat.
"Peserta Kurasi dan Selera Rokok yang Berbeda~beda"
Saya jadi berfikir apakah perokok aktif itu seharusnya tidak fanatik terhadap merk rokok tertentu. Karena saya berfikir bahwasanya perokok fanatik tidak ubahnya seperti seniman yg mengagumi satu bentuk aliran pertunjukan tertentu. Justru malah terjebak ke dalam romantisme dan kemapanan bentuk. Bagaimana seharusnya perokok bisa menikmati merk rokok apapun dengan berbagai sensasi dan nilai tawar dari perusahaan tersebut.
Ya saya meyakini bahwa belajar berteater itu tentang dinamika, estetika, dan etika sehingga mampu membentuk moral dan keseimbangan dalam menyikapi apapun, ojo gumun, ojo dumeh, lan ojo gampang nelongso jare wong jowo. Jika kita korelasikan maka hubungan timbal baliknya bisa jadi orang seperti saya harus menyukai rokok apapun, surya, kretek, filter, putihan ataupun klobot sekalipun yg menawarkan sensasi tembakau asli tanpa campuran. Dari baunya saja sudah menohok menusuk jantung dan kerongkongan, membayangkan paru2 bisa rompal seketika.
Klobot adalah kretek khas jawa, diracik sendiri tanpa cais dan bungkus tembakau menggunakan daun jadi. Tidak banyak perusahaan menyediakan rokok jenis ini karena memang secara selera hanya diminati para perokok senior alias tua. Saya punya cerita mengenai klobot lintongan sendiri, ini tentang kakek saya yang meninggal di usianya yg sudah tua, hampir menginjak umur 90 beliau meninggal. Kesukaannya dengan rokok klobot menjadikan kakek saya menjadi peracik dan penghasil rokok untuk dirinya sendiri. Dimulai dengan menanam (tepatnya cukulan, terikan atau tumbuh sendiri di depan rumah) 3 pohon tembakau depan rumah. Tembakau siap petik diambilnya dan dirajang sen sendiri dijemur dilinting sendiri setelah itu siap untuk dinikmati sendiri pula.
Alasan lain mengapa kakek haris melinting sendiri, karena tidak berikannya jatah uang untuk membeli rokok oleh anaknya dikarenakan sudah lama kakek mengalami batuk akut yg tidak bisa berhenti. Namun kakek justru gigih memperjuangkan supaya tetap bisa menikmati rokok sampai tutup usia. Maka terciptalah rokok buatan sendiri. Saya jadi menaruh kecurigaan beliau sehat di usia hampir 90 dan hanya mengalami batuk walaupun sudah akut itu lantaran kakek saya tetap menghisap rokok klobotnya.
Itulah sekilas cerita pengalihan ide utama dengan harapan pembaca tidak menemukan banyak kejemuan dalam tulisan saya. Oke masih tentang rokok surya 12 dan para delegasi kontingen teater pelangi sekaligus sebagai teater saya sendiri. Nah sebagai kabar buruk sekaligus baiknya ternyata aktor dan kru saya hanya saya saja yang menggilai rokok surya 12. Tentu ini sebuah bencana kecil yg melanda diri saya yg tidak memiliki teman senasib sekaligus tidak ada penopang yg bisa saya mintai tolong sewaktu2 jika saya kehabisan stok rokok. Sungguh malang nasib ini. Namun kabar baiknya justru aktor dan kru menjadi lebih fokus dengan tugas masing masing, karena tidak terganggu dan terkontaminasi dengan selera rokoknya. Mereka justru tidak mempersoalkan kota bandung yg minus rokok surya 12.
Sebenarnya ada keuntungan tersendiri manakala problem yang dihadapi ini muncul ketika beban sutradara sudah berkurang cenderung justru ringan beralih pada aktor dan masing2 divisi yg harus siap tampil maksimal. Saya jadi membaysngkan mereka para kru dan aktor bisa leluasa berkreasi, berekspresi dan berkarya dengan menjapit sebatang rokok kesukaannya di masing2 sela jarinya.
Cut!
Sebenarnya tulisan ini saya buat sejak tanggal 4 kemarin, setelah dua hari saya berada di kota Bandung. Entah mengapa tidak segera saya upload catatan ini. Padahal semenjak saya ingin menulis tentang kegelisihan ini, saya "pingin aja" langsung upload, tp sepertinya belum tuntas saja, sehingga tertunda keinginan ini. Namun menariknya hari ini hari keenam justru saya tidak melanjutkan menulis tentang pengalaman apa saja yang hendak saya tulis ketika berada di Bandung, justru seharian saya sibuk memikirkan bagaimana caranya saya harus pergi ke pusat oleh~oleh untuk bekal saya pulang supaya dapat sambutan yang menggembirakan dari istri saya.
Maka, bangun tidur saya langsung kepikiran saja untuk bergegas menuju pusat perbelanjaan kota Bandung. Karena tidak ada transport alias kendaraan sendiri, maka saya putuskan naik angkot. Tempat saya menginap memang berada di daerah dekat kampus UPI yaitu daerah Geger Kalong biasa disingkat "gerlong". Dari Gerlong" menuju pasar baru tidak memiliki akses yang bisa ditempuh sekali jalan. Tapi harus dua sampai empat kali. Seharusnya sih dua kali sudah sampai tujuan, namun karena saya orang manca alias luar kota yang tidak paham daerah Bandung, saya semakin dirumitkan dengan ulah sopir angkot dan teman saya yang salah tanya, masak orang gila ditanya tempat di mana pusat perpelanjaan, ya 100% ngawurlah njawabnya.
Seputar bagaimana cara saya bisa sampai di pasar baru ini masih belum selesai. Sedangkan kabar dari teman yang ikut rombongan dengan saya mengatakan jika rombongan kedua setelah saya itu sudah sampai di pasar baru. Hmm... jadi lebih menggerutu dan agak sial saya hari ini. Mungkin pengaruh weton dan tanggal lahir, tapi tidak juga. Terlalu menstrim.
Intinya saya seharian jalan kaki lebih lama dari hari sebelumnya, padahal hari pertama saya sudah direpotkan dengan weekand yang konon hotel di seluruh kota Bandung tidak ada yang kosong alias full semua. Dasar¡ Memang sudah seyogyanya kota besar itu mampu menawarkan sejuta daya tarik dengan ke elokan kota dan gadis cabenya. Setelah hampir 30 menit jalan kaki, perburuan oleh~oleh saya di hari ke enam ini saya putuskan belok arah ke Chiampelas Walking, yang lebih realistis dan mudah terjangkau. Di tempat tersebut saya tidak menemukan apa yang saya inginkan, padahal selain berburu oleh~oleh sebenarnya saya sudah punya cita~cita sejak sebelum berangkat ke Bandung. Saya sengaja tidak membawa sepatu, dan saya berkeinginan membelinya di sana untuk saya pakai selama festival sekaligus oleh~oleh saya sendiri. Yah alih~alih oleh~oleh sepatu, buat istri dan buah hati saya saja tidak saya temukan di tempat itu. Semua barang terlihat lawas dan modenya jadul. Hmm... okelah kalau begitu.
Saya jadi berfikir, apakah saya harus kembali kepada niat saya yang pertama, yaitu tetap mengunjungi pasar baru? Setelah mondar~mandir ke sana ke mari tidak jelas saya putuskan istrahat sebentar dan saya cari tempat berteduh sekaligus bisa dipakai buat tempat duduk.
Hari ini Bandung agak panas. Seperti Malang yang kadang dingin, sejuk juga bisa panas. Tidak sengaja tempat saya beristirahat sejenak di sebelah saya ada penjual akik yang lagi sibuk menggosong dan memasang embannya. Maklum akik lagi ngetrend dan fenomenal (sampai saat ini saya belum menemukan atas alasan apa batu akik tersebut bisa naik daun). Saya pun tidak sengaja berlahan merespon barang dagangan si tukang akik tersebut, mulai saya pandangi satu~satu. Ada yang kecil mungil, ada yang besar, dan ada yang jumbo, mirip biji kolang kaling namun justru ukurannya dua kali lebih besar akiknya. Dari segi warnanya pun memikat, kata si penjual kalau di Sunda mah batu panca warna yang banyak. Saya berusaha memahami maksud dari panca warna, panca itu diartikan lima dalam bahasa sangsekerta. Pancawarna berarti bisa diartikan batu akik yang memiliki lima jenis warna dalam setiap satu mata batu akiknya. Batu akik terkenal memiliki jenis yang beragam, mulai dari bacan yang lagi ngetrend sampai ada juga bulu macan, virus, fosil, ah lupa aku. Tentunya banyak sekali variasi dan jenisnya. Maklum saya bukan penyuka dan penggila batu akik, yang belakangan ini saya banyak temukan di pinggir jalan atau trotoar. Kalau saya meyakini dari fisiknya sih itu batu kali yang biasa dengan mudah kita temukan. Tapi entahlah apa yang membuat mereka menjadi gelap mata dan menggilai akik sehingga batu kali harganya lebih mahal untuk jadi mata akiknya, padahal dulu sebelum akik merajalela, batu kali berharga tidak lebih jika kita hendak membangun rumah dan sebagai alat pelempar anak muda sedang tawuran.
Jadi nglantur ke batu akik to saya. Tidak mengapa, memang batu akik lagi naik daun, jadi wajar jika selalu dipakai bahan setiap obrolan, sekaligus tulisan. Disaat saya sedang melihat lihat akik, penjual mulai melancarkan misinya, aksi spik dan persuasi pada calon pembeli langsung saja diluncurkan dan dilancarkan. "Silahkan A` boleh dicoba siapa tau ada yang cocok" seketika saya menjawab "oh tidak kang, saya bukan penyuka batu akik" namun si penjual tidak mau menyerah begitu saja. "lihat aja dulu A` mumpung di sini, buat kenang kenangan, siapa tau ada yang cocok, mumpung musim dan ini mah murah". Saya tidak bergeming, namun saya coba menimpali si penjual "emang berapa kang?" Akangnya jawab "yang mana dulu A`? Tergantung jenis batu dan ukurannya" tidak sadar saya mulai diarahkan lebih dalam. Intinya saya tetap ngotot tidak suka batu akik. Dan pembicaraan saya arahkan soal naik angkot.
Sebentar~sebentar.
Kok saya mulai muak menceritakan semua ini.... ga ada rokok surya kali ya. Tapi bagaimanapun juga tulisan ini harus saya tuntaskan, sebagai bentuk pertanggungjawaban atas apa yang sudah coba saya catat.
Bandung memang kota yang luar biasa menggiurkan. Mulai dari pusat kota sampai orang hebat yang ada di dalamnya.
OKSIGEN JAWA "Hanafi Muhammad"
Hari ke 7 saya putuskan untuk mengikuti workshop performance Art di ITB, kampus yang paling kece se dunia menurut saya. Kampus yang luar biadab bagusnya. Banyak dihuni orang~orang keren dan mumpuni diberbagai disiplin ilmu. Barometerlah bahasa sederhananya. Kali ini workshop diadakan oleh seniman lukis besar, repertoar bapak Hanafi dengan judul "Oksigen Jawa", materi diisi oleh seniman performane art Indonesia lulusan lúar negeri dan sekarang menetap di Jerman, namun masih punya sanggar di kota kelahirannya Solo. Ia adalah mbak Melati Suryodarmo, perempuan yang lahir dari seniman Solo dan sekolah seni di Jerman dan Amerika, sekarang memiliki sanggar di pesungan kota Solo.
Ya Ampun ingin rasanya saya selingkuhi kota Malang dan berpindah ke kota Bandung. Saya menemukan habitat yang belum pernah saya temui dan ini menjadi dambaan saya. Semua peserta workshop secara fisik sudah terlihat seperti seniman, namun bukan itu yang membuat saya merasa wah dan kikuk merasakan kota ini, tapi mereka semua benar benar keren dan menggembirakan, karena saya berada di tengah tengah mereka yang aktivitas sehari harinya di dunia seni dari STSI, UI, UnPad dan ITB sendiri. Rata rata memang mereka dosen seni dan seniman praktisi. Ah sudahlah. Yang perlu saya catat sebenarnya ilmunya, bukan terjebak dalam suasana romantis orang orangnya.
Workshop dengan emat "Teks dan Tindakan" dimulai dengan pemanasan selama satu jam, dilanjutkan materi mengingat dan mencatat aktivitas apa saja yang pesrta lakukan mulai dari bangun pagi sampai datang ke tempat workshop. Cara mencatat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu kata kerja, kata benda, dan kata sifat (perasaan). Masing masing bentuk kata saya menemukan 20 item kata dari bangun tidur sampai datang ke ITB, dari semua kata diambil acak untuk dijadikan kalimat selanjutnya dibacakan didepan peserta lain. Dari sini mungkin saya belum menemukan keunikan dari workshop ini, tapi ketika pertanyaan performance art dibuka saya berlahan tertarik, terutama tentang kegelisahan membedakan istilah antara batas performance dan teater itu sendiri. Sebenarnya persoalan ini juga tidak penting dan tidak perlu dipersoalkan. Namun saya juga harus jujur, bahwa pertanyaan ini yang mengatarkan saya untuk berangkat mengikuti workshop. Dan dalam performance art pun juga dituntut untuk jujur. Dari pertanyaan tersebut berkembang menjadi pembahasan secara teoritis dan lebih menajamkan lagi perihal bagaimana seorang performer harus bisa bekerja atas tubuhnya.
Tubuh adalah wilayah eksplorasi, terlepas dari bentuk apa yang akan diwujudkan. Sebenarnya ada kalimat yang menggelitik buat saya, ketika mbak Melati mengatakan "akan lebih asik jika audiens yang lebih aktif" maksud mbak Melati adalah tidak ada yang salah dengan cara apa penonton memaknai performance, biarkan bebas berfikir atas apa yang dilakukan oleh seorang performance. Disini saya mulai menemukan batas wilayah antara performance dan teater. Bagi saya, disiplin ilmu teater tidak bisa membebaskan wilayah audiens begitu saya, seniman teater mempunyai keterikatan yang kuat antara pencipta, wilayah, dan atas siapa sesuatu itu diciptakan.
Hasil akhir dari workshop performance art di ITB ini diakhiri dengan presentasi tiap orang yang dikumpulkan menjadi beberapa kelompok. Materi presentasi diambil dari data aktivitas masing masing anggota dengan memilah beberapa aktivitas yang berpotensi untuk diolah menjadi ide dan konsep yang bisa divisualkan lewat performance art. Dan saya pribadi menyimpulkan sekaligus hasil dari performance yang saya peroleh yaitu bagaimana membuat konsep performance dari ide yang sudah muncul dan digarap menjadi tampilan yang menarik hasil dari olahan tubuh yang diikuti dengan riset dan data dari sang kreator secara kuat. Workshop selesai dan sebelum pulang saya bertemu dan menyapa artis legendaris penyanyi balada Leo Kristi.
Sepulang workshop saya langsung menuju kampus UPI untuk melihat penampil terakhir peserta Festamasio VII delegasi dari Bengkel Sastra UNMakasar. Karena malam ini puncak dari para penampil masing masing delegasi maka malam pertunjukan ditutup dengan evaluasi para juri Festamasio. Pertama dimulai dengan peryataan juri senior. Benny Johannes yang biasa dipanggil BenJon, beliau mengatakan bahwa kreativitas dimaknai sebagai bagian dari tugas kebudayaan. 
1. Teater mahasiswa harus menyadari posisinya sebagai penggerak dinamika dan progres.
     Kemandirian organisasi juga menunjukkan kemandirian pada wilayah estetik. Selanjutnya        
2. Adegan yang sengaja menggunakan tubuh dan memunculkan efek yang didistorsi.
3. Berkaitan dengan tema, yang kali ini mengambil tema: "kami ceritakan tanah kami" yang dihububungkan dengan prespektive penampil menjadi sangat berbeda~beda. Tanah dimaknai secara konotasi dan denotasi. Realitas secars kosmologis.
4. Tradisi menjadi bagian yang mampu digali. Sehingga menjadikan makna tanah sebagai: harga diri. Indentitas.
5. Benjon mengistilahkan pada sang penampil dengan istilah Poligami artistik. Suami Istri kebudayaan yg berbeda~beda. Dengan maksud mengambil dan menshare.
kecenderungan kuat dikriet dengan cara lebih aktraktive. Strategi drammatik yg aktraktive. Aksi menjadi point yg memiliki wilayah eksplorasi teater. juga tubuh dll. Realisme juga menawarkan permainan yg tidak mudah, sehingga peserta menganggap hal ini juga bagian dari yang penting untuk ditawarkan.
Selanjutnya evaluasi disampaikan oleh juri Iswadi:
1. Pertunjukan banyak menggunakan istilah daily teknik. Teknik menggunakan kenyataan sehari~hari. Atraktive.
A. Atraktive: sutradara dan tim artistik harus mampu mengekang diri supaya yang muncul hanya yang kuat. Menghindari pertunjukan yang banyak lemak. Apapun yang tampak bagus, jika berlebihan jadi tidak menarik. Periksa lagi, bentuk yang sudah tidak mewadahi atau kita yang belum benar2 menekuni.
Dari evaluasi Iswadi yang menarik untuk saya kutip adalah "Aktor terlatih atau mendadak dilatih"
Selanjutnya beberapa evaluasi disampaikan oleh Naomi:
Penggunaan tubuh, cahaya, suara, dan seluruh element."tubuh tidak bisa dilepaskan dari suara. Teknik vokal itu teknik tubuh"
Interaksi... (maaf kalimat yang disampaikan Naomi jadi semakin buram ditelinga saya, maklum ngantuk efek seharian jalan jalan). Dan sayapun tepar tidak bisa melanjutkan mendengar evaluasi dari juri terakhir Godi Suwarna. Tapi konon Godi tidak banyak mengevaluasi, malahan beliau sujud meminta maaf kepada teman teater Pelangi atas insiden yang menimpanya di hari pertama. Ada persoalan kecil yang melibatkan dosen setempat, dan sepertinya tidak manusiawi saya cerutakan di sini, karena bagi saya tujuan teater tentu memanusiakan manusia dan mewujudkan manusia seutuhnya.
Selesainya evaluasi malam itu saya dan rombongan langsung pulang, karena sudah kelelahan seharian belanja dan jalan~jalan.
Karena penampil sudah menyajikan semua kreativitasnya, hari selanjutnya di isi dengan workshop teater antara lain materi yang disuguhkan ada penciptaan, penyutradaraan, keaktoran, make up kostum, artistik lighting, dan musik. Saya tidak turut serta dalam wirkshop tersebut. Bersamaan dengan agenda workshop panitia memfasilitasi peserta dengan jalan jalan budaya, tujuannya menuju jalan Asia Afrika dan museum geologi.
Bagi sebagian mahasiswa, acara jalan budaya tersebut kurang menarik karena tidak menyajikan tempat yang memiliki fasilitas belanja, singkatnya lebih menarik jalan ke pasar dari pada ke tempat bersejarah atau museum.
Dan teryata benar, sebagian peserta banyak membelot dan menuju tempat yang strategis untuk belanja. Karena saya yakin para peserta yang datang dari luar kota juga punya tanggung jawab membeli oleh oleh sebagai bukti kalau mereka sudah datang di kota Bandung.
Bandung lebih sering hujan dari pada menyuguhkan langit cerahnya. Sore hari saya pun diguyur hujan sewaktu perjalanan pulang. Dingin menusuk tulang, saya pun memutuskan untuk tidur lebih awal. Dan hari ini hari terakhir peserta Festamasio berada di Bandung, agenda hari ini adalah rembug Festamasio dan malam penganugrahan.
Sekarang ini saya sedang mengikuti rembug, tapi juga saya nyambi untuk mencatat apa saja yang saya peroleh selama di Bandung. Penting nggak penting sih. Tapi penting untuk dicatat sebagai bentuk latihan menulis sekaligus mengingat apa saja yang sudah saya lalui dan lakukan.
Berbicara forum rembug ini, ada beberapa hal yang disampaikan. Pertama evaluasi dan kedua rembug Festamasio VIII terkait tempat penyelanggara Festamasio tahun depan. Di forum evsluasi ini forum yang paling tragis menurut saya. Mengapa demikian? Rembug ini salah satu ajang evaluasi atas kinerja panitia selama Festamasio VII berlangsung. Acara yang diadakan dari mahasiswa, oleh, dan untuk mahasiswa. Ketika ada perihal terkait ketidaklancaran acara dan mengganggu kelancaran mahasiswa dalam berkreativitas, maka panitia harus bertanggungjawab dengan segala tindakannya. Kesimpulan rembug evaluasi kali ini menganggap bahwa mahasiswa UPI Bandung tidak mampu menyelenggarakan festival dengan baik. Terkait penginapan yang tidak layak, transportasi tidak tersedia, dan tidak adanya fasilitas penjunglainnya.
Tulisan ini harus segera saya sudahi, karena acara sudah usai. Puncaknya acara ini adalah malam penganugrahan. Semua nominasi dibacakan dan yang mendapatkan penampil terbaik ialah teman teman dari Universitas Lampung yang justru menampilkan pertunjukan konvensional namun memiliki aktor dan tema yang kuat, tidak ada yang perlu dirisaukan, puncaknya adalah yang penting selalu dan terus berkarya. Selamat kepada yang beruntung. Malam itu juga kami para kontingen harus bergegas dan kembali ke kota masing masing, banyak sudah ilmu dan pelajaran yang diambil dari kota kembang. Untuk meyakinkan kami para anggota kontingen kota Malang kami pun harus menutup malam itu dengan evaluasi dan mendorong kembali semangat berkarya. Apa yang kita peroleh di Bandung harus mampu diserap dan diaplikasikan di kota Malang sebagai wujud sumbangsih pergerakan kemajuan seni pertunjukan kota Malang dan Jawa Timur.
Perjalanan usai. Tulisan ini saya akhiri tepat ketika kereta menuju kota Malang dan berhenti di stasiun Kota Baru.
Terima kasih semua. Terima kasih segala ilmu dan pengalamannya. Semoga saya bersama Teater Pelangi dapat membawa perubahan yang lebih baik ke depannya. Salam sapa dan sungkem saya pada semua para seniman Bandung dan teman teman seperjuangan. Benny Johanes, Iswadi, Naomi Srikandi, Godi Suwarna, Agus Juri, Adi Wicaksono, Adinda Novianti, Melati Suryodarmo, Hanafi, Semi Ikra Anggara, Sahlan Bahuy, Hegar Krisna Cambara, Peni Puspita, Mbah Thohir, Iman Slamet, Sanggar CCL, teater Lakon Bandung, teater Yupa Kalimantan, teater Lampung, teater Syahid Jakarta, teater Bestra Makasar, teater Titik Dua UNM, teater Kafe Ide Banten, teater Institut Unesa, teater Gajah Mada Jogja, teater Unhas, teater Kampus Makasar, teater Sirat Solo, teater UIN Gunung Jati, teater Sisi Medan, teater Palu, teater Awal, teater Eska Uin Jogja. Kalian semua sudah memberikan warna kepada kami teater Pelangi Malang. Bismillah, penciptaan dan pengkaryaan ini akan segera kami mulai. Tapi saya harus rehat dulu, sepertinya badan ini sakit semua, butuh istirahat untuk memulihkan tenaga. Sekian.
Suasana Kota Bandung
Bandung

Performance Art
Wokshop Permormance Art

Pemanasan
pemanasan

Latihan Pemanasan
Pemanasan

Koordinasi
Latihan membuat KOnsep

Tampilan
Performance
















Pementasan Bunga Dolly
Bunga Dolly





















Comments

Popular posts from this blog

NASKAH DRAMA ANAK YANG DURHAKA

ADIT & SOPO JARWO

Drama ANAK-ANAK TK