AYO BERANI BICARA
Saya
kira, persoalan ini sudah menyangkut mental bangsa ini. Di negeri ini aspirasi
cenderung dikebiri. Bagaimana tidak, berkata saja sulit. Bertanya saja
dimarahi. Ingat kita di sekolah, mulai SD sampai kuliah. Mana ada yang
berani bertanya. Mana ada yang berani mengangkat tangan lalu menyampaikan
pendapatnya. Orangtua dulu selalu mengajarkan kita “ojo takon ae to.. hadeeh, Iki
sembarang-mbarang ditakokne ae” dan sekarang kita sudah dewasa, sudah berpendidikan
tinggi, namun berbicara saja sulit, apalagi bertanya dan berpendapat.
“Sial, kita sudah terjebak dengan kebenaran
yang diajarkan oleh nenek moyang kita”.
Padahal
dari bertanya itulah sumber ilmu kita peroleh “malu bertanya sesat di trotoar”.
Lantas bagaimana bisa kita berani bicara, mengungkapkan sesuatu, menawarkan
segala sesuatu terkait dengan pendapat dan keingin kita. Saya kira ada perbedaan
yang signifikan antara pendidikan di luar dengan yang berada di negeri . Terkait
bagaimana mendidik anak sedini mungkin
untuk belajar mengungkapkan sesuatu, mampu mengungkapkan pendapatnya. Pentingnya
kesadaran sejak kecil bahwa berbicara itu wajib, berani berpendapat itu
penting, dan berbicara di depan umum itu harus.
Nah! Inilah
probematika yang kita hadapi saat ini. Bagaimana bisa berani berpendapat,
kepercayaan diri saja tidak kita miliki. Ironis sekali jika kita melihat
mahasiswa tapi tidak tau harus berbicara apa. Dalam sebuah forum diskusi yang
diadakan sendiri oleh kelompok mahasiswa, juga secara sadar akan kebutuhan dan
tindakannya saja mereka tidak berani berbicara, dan jelas-jelas mereka tidak sedang berhadapan
dengan dosennya atau dengan pembimbing skripsi. Mereka sedang berada satu lingkaran dengan
temannya sendiri. Tapi mengapa tidak berani bicara? Buseeet...
Soal
bicara, saya selalu mengibaratkan seperti orang yang sedang berak. Mana bisa
kita berak sehari dua kali kalau makan saja kita dua hari sekali. Kalau kita
paksa berak lantas apa yang kita keluarkan, dipaksa juga akan sakit. Sebaliknya
jika kita sehari makan empat kali, bisa dipastikan kita akan bolak balik ke
kamar mandi. Itulah saya kira, jika kita ingin berpendapat atau berbicara tentu
harus punya amunisi atau bahan yang akan kita pakai untuk berbicara.
Kita tidak
sedang berada diawang-awang. Dalam bahasa Jawa kita kenal istilah ‘dleming’. Nah
dalam forum diskusi itu bukan forum ‘ndleming’. Setidaknya dasar forum ini
adalah forum ilmiah. Walaupun secara teknisnya kita duduknya santai, sambil
ngobrol minum kopi. Namun yang kita bicarakan bukan teman kita atau tetangga
kita. Lebih dari itu kita sedang memperkaya pengetahuan, memupuk keilmuan,
menambah khasanah perbendaharaan pengetahuan kita. Maka dari itu, bagaimanapun juga
hal tersebut membutuhkan referensi, butuh pijakan ataupun statement dari pakar
yang mapan. Wong mau belajar kok ga modal. Modalnya sederhana bro! Sadar bahwa
belajar itu butuh orang lain, buku, dan butuh motivasi lebih dari pada segalanya
di luar diri kita.
Kapan Lagi? Saatnya beranikan diri bicara
Kapan anda
akan benar-benar berbicara? Mau nunggu perintah langsung dari malaikat atau
Tuhan. “Siapa namamu? Apa agamamu?... ‘ wah yo modyar dulu aja’ Hehe”. Sedangkan anda sekarang bukan anak SD lagi. Ini
sudah pada tataran maha. Maha berarti tinggi, anda punya kemampuan yang tinggi
dari pada lainnya. Dari pada anak SMA atau ataupun anak diploma. Maka berbicaralah,
tunjukankah. Eksistensi jangan hanya dicapai lewat selfie, sehari dua hari bisa
jadi menghibur diri, selanjutnya basi justru jadi meme di sana-sini. Sangat
sayang sekali!
Sampaikanlah Walau Satu Ayat.
Saya kira
kalau anda muslim, tentu punya pijakan yang kuat bagaimana kita mendudukkan
ilmu atau juga terkait istilah belajar dalam diri kita masing-masing. Belajar bisa
di mana saja, kapan saja, dan pada siapa
saja. Dengan tukang becak kita belajar strategi sabar dalam menunggu penumpang,
dengan tukang parkir kita belajar memanagement
keinginan dan kemauan anatara yang datang dan yang pergi. Maka...
Iqra’.
Bacalah. “Ngerti ora nek iqro iku maksudte bacalah”. Bacalah semua yang ada di
sekitarmu. Baca buku, baca tokoh, baca keadaan, situasi, kondisi, masa depan,
dan sebagainya.
Nabi bersabda:
“sampaikanlah walau satu ayat”. Jelas kan? Saya kira kamu bukan anak TK yang
sedang belajar berbicara. Tapi sebaliknya kamu sedang berada di depan yang
membicarakan anak TK. Lalu?
Oke. Terkadang
kepercayaan diri seseorang tidak bisa didapat begitu saja. Butuh keberanian
untuk mengungkapkan sesuatu. Padahal bisa jadi seseorang sudah siap untuk
menyampaikan segala pikirannya, namun masih belum berani.
Jangan-jangan
hanya kamu dan Tuhan saja yang tahu apa yang kamu maksud. Karena tidak adanya keinginan
untuk menyampaikan. Kalaupun disampaikan pun keutuhan gagasan dan kelengkapan
kerangka berfikir kurang sistematis dan utuh.
Tapi, Jangan Takut Salah
Memang
kalau segala sesuatu sudah kita mulai dengan perasaan TAKUT. Maka segalanya
akan dalam bayang-bayang ketakutan. Pertanyaanya mengapa harus takut? Bukankah takut hanya kepada Allah, kalau
selainnya maka musrik dong kita. Haha. Maka ada bercandaan juga ketika seorang
siswa yang sedang mengumpulkan tugas kepada gurunya, lalu sang guru bertanya “Budi
mengapa jawabanmu tidak ada yang benar?” budi menjawab “Bukankah kebenaran
milik Allah semata Bu” Nah mungkin bisa jadi semua siswa harusnya seperti Budi
yang berani mengungkapkan pendapatnya, walaupun sebenarnya Budi juga belum
mengerti apakah itu salah atau benar. Tapi prestasinya Budi justru dia sudah
berani mengungkapkan pemikirannya pada gurunya. Tapi sayang itu hanya ada pada
anekdot dan imajinasi saja, tidak kenyataan.
Menurut
Ivy Naistadt dalam bukunya Speak Without Fear: A Total System for Becoming A
Natural, Confident Communicator, seseorang cenderung memiliki ketakutan dalam
berbicara di depan umum, antara lain:
a. Takut
dikritik atau dinilai (secara negatif)
b. Takut
dipermalukan atau dihina
c. Takut
secara emosional
Sebelum berbuat pantang menyerah. Semua berawal
dari salah, kalau hanya takut salah, kenapa tidak pindah jadi nabi, atau Tuhan
seperti Lia Eden saja. Haha..
Yes! Biarlah saya marah. Ini adalah kemarahan saya
dengan diri saya sendiri. Segala bentuk sapaan, atau munculnya orang kedua dan
ketika itu semua adalah saya sendiri oleh rekasaya dan rekayasa sendiri. Karena
itu merupakan wujud kemarahan saya sendiri dan keadaan saya sendiri, karena
saya yang tidak pernah mau belajar dan tidak pernah menjalankan Iqra dengan
baik dan benar. Karena kita sedang menjadi manusia bukan binatang yang hanya
memiliki insting saja tapi tidak dibekali otak dan pikiran yang sempurna.
Beranilah memulai
Maka dari
itu mari kita sebagai orang yang berani memulai segala sesuatunya dari
kemampuan diri kita sendiri. Jangan pernah menjadi orang lain, namun kita wajib
dan dituntut belajar dari orang lain. Melihat dan membaca kemampuan orang
lain. Oleh sebab itu untuk memulai
segala sesuatu haruslah dengan kesadaran penuh bahwa kita bisa, kita mampu biar
kata kemampuan kita tidak lebh tapi kita sudah berani menyampaikannya, dan
sudah diapresiasi, dari situ tentu proses belajar akan terus berjalan dan
bergulir dengan baik.
Ungkapkan pendapat
Mulai
dari mengungkapkan pendapat. Mempunyai daya tawar dalam forum apapun. Mempunyai
nilai untuk berani disampaikan dan menjadi bahan diskusi untuk lebih dimapankan
secara pekikiran dan pemahaman.
Mari kita mualai ajari anak kita dengan cara yang benar...

Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi