KEAKTORAN: BELAJAR KONGKRIT


Istilah kongkrit adalah suatu kata yang mempunyai pengertian konkret apabila ia menunjuk kepada suatu benda, orang atau apa saja yang mempunyai eksistensi tertentu seperti : Mobil, Motor, TV, Meja, Kursi, Orang batak itu, Orang Jawa itu, Rumah dan lain-lain. 

Sebuah tahapan penting bagi seorang aktor ialah tahapan kongkrit. Tahapan ini adalah tahapan akhir dimana sebelum benar-benar bermain mereka mengenal beberapa langkah yang dianggap penting untuk dilakukan. Maksud dari istilah kongkrit mengacu pada model latihan yang mengedepankan perihal nyata serta situasi yang akan dihadapi pada nantinya. Kongkrit memberikan pemahaman kepada aktor bagaiaman seorang aktor mampu melakukan pekerjaannya terkait dengan tugas seorang aktor yang akan memerankan tokoh dalam sebuah cerita dan dimana cerita tersebut akan dihadirkan. Jadi dapat saya kelompokkan menjadi tiga bagian bagaimana wujud kongkrit yang harus dijalani oleh seorang aktor. Diantaranya adalah: aktor dan perannya, aktor dan sutradara, aktor, cerita dan daerah permainan.

1.     Aktor dan Peran

Bagi seorang aktor mengenal peran secara kongkrit menjadi tahapan yang harus dilalui sebelum aktor tersebut naik dan melakonkan perannya. Aktor harus nyata memiliki peran dan tanggung jawab yang sama besarnya dengan seorang sutradara. Apa saja yang menjadi dasar berfikir serta konsep yang ditawarkan oleh sutradara harus mampu ditangkap  maksud dan kemauan sang sutradara. Sehingga hasil akhirnya justru bukan lagi seorang sutradara yang memberikan penawaran kepada aktornya, namun aktor itu sendiri. Seorang aktor harusnya mempunyai tawaran baru untuk diberikan kepada sang sutradara.
Apa saja yang dilakukan aktor, sudah tidak lagi bersumber dari sang sutradara, namun aktor sudah mampu melakoninya sendiri. Aktor benar-benar memahami bagaimana mereka berbuat tanpa disadari (semua) telah muncul dari keinginan sang aktor sendiri. Sehingga pada akhirnya aktor dapat memberikan tawaran kepada sang sutradara berupa temuan-temuan, baik menyangkut peran, setting, peristiwa, cerita, lakuan dan apa saja yang mampu mendukung pertunjukan dengan lebih baik dan maksimal.

Meyerhold mengatakan “apakah kami sebagai aktor harus pasrah untuk berakting? Pastinya kami harus berpikir dengan baik. Kami harus tahu kenapa kami bermain, apa yang kami mainkan, dan siapa yang kami serang dalam permainan kami. Dan untuk itu kami harus tahu sisi psikologis permainan kami secara signifikan. Untuk memastikan apakah karakter itu positif atau negatif. Untuk memahami masayarakat, atau bagian mana dari masyarakat yang ingin di lawan oleh penulis naskah kami.”

2.     Aktor dan Sutradara

Terkait Sutradara dan aktor, dalam sebuah cerita atau alur pertunjukan, seyogyanya bisa berkembang dan lebih mampu dieksplorasi menjadi lebih baik dan padat. Aktor secara kongkrit  harus mampu memberikan sentuhan padat dengan menjejalkan beberapa peristiwa yang masih relevan dan mampu mendukung permainan dan terkait lakon secara umum, terlepas dari sutradara pada akhirnya.

Dalam generalisasi teater Sutradara dianggap sebagai seorang yang memegang kendali paling tinggi. Ia adalah pencetus sekaligus pengeksekusi sebuah pementasan. Begitupun dalam teater keaktoran. Aktor-Sutradara adalah gabungan magis yang akan menciptakan bagaimana sebuah permainan. Siapa yang lebih tahu bagaimana sebuah naskah akan di panggungkan selain sutradara? Siapa yang lebih tahu bagaimana mengolah rasa dalam diri untuk menciptakan sebuah karakter yang jujur selain aktor?
Setiap aktor harus mampu menjadi sutradara bagi dirinya sendiri. Bagaimana ia mengatur dan menakar permainannya, nbagaimana ia melakukan perannya sesuai dengan takarang yang diinginkan oleh sutradara sekaligus bagaimana ia memberikan penawaran terbaiknya terkait dengan peran dan permainannya.
Dalam tatarannya sebagai sutradara aktor harus mampu berfikir kreatif dalam menciptakan sebuah ritme pertunjukan yang apik dan menarik. Produk kreatif ini antara lain memiliki sifat :
a. Novelty (Baru)
b. Berbeda
c. Better (lebih baik)
d. Berguna
Dalam proses kreatif seorang aktor kadang memerlukan apa yang kita sebut dengan elaborasi, tidak murni mencipta namun membangun kembali dan memperbaiki apa yang sudah ada. Seperti mengutip dalam permainan pertunjukan di jepang telah mengenal istilah; memelajari, meniru, dan menambah. Hal inilah yang menjadikan seorang aktor-sutradara menjadi sebuah pribadi yang kreatif dan dapat menghadirkan sebuah pementasan yang berkesan. Akan tetapi tentu saja hal tersebut tidak akan baik hasilnya jika si Aktor/Sutradara tidak memiliki referensi yang baik. Karena untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik kita harus melihat yang baik! Referensi dan pengalaman memang sangat penting dalam hal ini.
Dalam porsi sebagai sutradara, seorang aktor harus mengetahui dan menyadari apa yang dia lakukan. Apakah act yang dia lakukan sudah tepat porsinya dan dinilai sebagiWelldone? atau underdone? atau malah Overact? kepekaan inilah yang sangat sulit untuk dilatih, namun dalam proses latihan cara paling mudah adalah dengan menggunakan metode roundjugdement dimana sang aktor memberikan review tentang penampilan yang lain dari sudut pandang profesional, awam dan pribadi. Kemudian hal yang sama dilakukan oleh aktor lain dan saling mengisi sehingga timbulah sebuah reviews yang representatif untuk menilai sebuah pementasan dan laku yang dilakukan aktor di atas panggung.

3.     Aktor dan daerah permainan

Prinsip-prinsip akting adalah sesautu yang harus dimiliki seorang aktor yaitu:

1. Order (tertib
2. Harmoni dan balance
3. Unity
4. Selektif dan control

Perihal ini lebih pada konteks di mana aktor tersebut akan bermain? Apakah di panggung ataukah di tempat umum, atau di tempat yang tidak terbiasa dengan pertunjukan teater?
Beberapa pertimbangan di atas menjadi pijakan kuat seorang aktor terkait bagaimana ia memerankan karakternya hubunganya dengan daerah permainan baru. Mampukah aktor merespon kejadian disekitar panggung, mampukah aktor merespon masyarakat di sekitar panggung, mampukah aktor bermain kongkrit di daerah permainan yang sebelumnya tidak terbayang akan situasi atau panggung yang berbeda dengan latihan sebelumnya. Maka latihan kali ini sangat erat kaitannya dengan lokasi pementasan itu digelar. Jika pementasan itu digelar di luar kota, maka aktor harus melakukan latihan dengan mendatangi kota tersebut. Tidak bisa aktor tiba-tiba bermain tetapi sebelumnya tidak mengenal daerah permainannya. Dan bagaimana dengan masyarakat disekitarnya? Bagaimana latar belakang kehidupan mereka? Bagaimana mereka menilai dan merespon sebuah pertunjukan teater? Ini patut menjadi pertimbangan yang sangat penting.

UM



malang

Comments

Popular posts from this blog

NASKAH DRAMA ANAK YANG DURHAKA

ADIT & SOPO JARWO

Drama ANAK-ANAK TK