RAMADHAN KECIL

RAMADHAN KECIL

Apa yg paling kalian ingat saat  ramadhan tiba? Pasti jawabanya "ramadhan masa kecil di kampung halaman". Saat itulah kita benar~benar bahagia menyambut datangnya bulan ramadhan.
Sesuai anjuran Islam dalam hadist nabi ”Siapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka”  dan Alhamdulillah kita termasuk anak kecil yang paling gembira saat itu.

Ramadhan miliknya anak~anak (memang). Betapa bahagianya aku dan kamu saat masih anak~anak dulu. Begitu indah jika mengenang masa kecil di bulan ramadhan. Semua kita jalani dengan suka cita, tak ada beban, khas anak anak (pokoknya).

DIMULAI SAHUR
Masih ingat bagaimana menghabiskan hari~hari kita saat berpuasa?

Sejak mulai sahur kita lah yang pertama kali semangat bangun dan siap menjalankan puasa. Padahal baru pukul satu malam, tapi semangat 45 tak bisa kita bendung. Aku dan teman~teman sudah siap dengan alat pukul dan kentongan. Kami begitu antisias patrol berkeliling kampung, rutin setiap malam. Sambil jalan kaki, menyusuri tiap~tiap gang, aku membangunkan ibu~ibu yang belum masak buat sahuran. Begitu semangatnya kita tak henti hentinya memainkan alat musik bambu dan teriak nyanyi lagu yang sudah kita buat khusus sahuran. Sesekali kita giliran lari ke mushola, tak lupa nyalakan speaker Toa memberi pengumuman sahur menggunakan bahasa Jawa "sauur... saur... bapak ibu, sakmeniko sampun jam setengah kaleh. Monggo enggal enggal masak utawi saur. Sauur... sauur".
Tidak jarang para ibu~ibu senang dengan aktivitasku dan teman~teman, tetapi terkadang (justru) menggangu tidur mereka, karena baru jam setengah dua, aku dan teman~teman sudah begitu semangat membangunkannya.

Ya begitulah kita (yang masih anak~anak), yang jelas tidak pernah kapok dengan ulah kita sendiri, walaupun kadang kita juga suka dibuat jengkel kalau ada yang marah sewaktu dibangunkan. Selain patrol menjelang sahur, tradisiku biasanya mengakhiri sahur tepat menjelang adzan shubuh. Walaupun bangun sahur paling awal tapi aku juga paling akhir menyelesaikan aktivitas sahur. "eman bangetlah kalo ga dimanfaatin dengan baik". Sesuai anjuran hadits bahwasanya kita harus nenyegerakan berbuka dan mengakhiri sahur sampai imsyak tiba.

SHOLAT SHUBUH
Waktu shubuhan tiba, aku dan teman~teman semangat berebut mic "siapa cepat dia dapat" saling berebut siapa yang paling dahulu mengumandangkan adzan shubuh dan melantunkan sholawat puji pujian (kalau pujian biasanya kita bersama sama), begitu seringnya siapa yang adzan, (sampai~sampai) beberapa warga hafal (banget) siapa saja yang adzannya paling bagus diantara aku dan teman temanku. Tentunya suaraku juga lumayan lah, tidak kalah sama teman lainnya. Tradisi yang biasa terjadi di musholaku,  barangsiapa yang adzan duluan maka dia juga yang akan ikhomat sebagai penanda dimulainya sholat. Nah disitulah sensasi sang muadzin mendapat kepuasan "begitu juga aku". Seolah jadi kita ini yang paling keren, karena seluruh jamaah menunggu sang muadzin (biasanya aku akan menoleh ke sekeliling ruangan mushola untuk memastikan tidak ada lagi yang sholat sunnah) baru berdiri dan mengucapkan ikhomat sebagai tanda dimulainya sholat. Terkadang memang sederhana kepuasaan yang berusaha kami dapatkan, maklum masih anak anak.

JALAN PAGI & MAIN PETASAN
Setelah selesai melaksanakan sholat shubuh, aku, bersama teman~temanku juga warga lainya (biasanya) bergegas jalan~jalan pagi, ada yang bareng satu keluarga, ada yang rame~rame bareng temannya, ada juga yang (justru) pacaran. Nah mungkin tradisi ini yang kurang baik. Mereka yang pacaran malah kadang terlihat sok sengaja dipertontonkan (maklumlah, kan iri juga kalau melihat mereka), padahal puasa lho ya "disitu kadang saya yang masih anak~anak tidak bisa menjangkau pola pikir mereka". Halah... halah! Tradisi lain yang tidak kalah menarik disaat jalan pagi berlangsung, kami rame~rame menyalakan petasan. Saling berlomba membunyikan petasan, beradu suara milik siapa yang keras. Walaupun tidak ada hadiah bagi yang punya petasan paling keras, tapi semua cukup puas dengan petasannya masing~masing. Maaf kecuali aku. Terus terang sebenarnya aku takut banget mendengar bunyi petasan "licik" apalagi memegang. Petasan yang kecil saja tak berani, apalagi petasan yang gedhenya sebotol minuman. Ngeri bro! Tapi teman~temanku bilangnya jadi keren kalau punya petasan yang gedhe dan keras. Apalgi petasannya sampai dianggap paling bising dan menggelegar.

Berbagai jenis petasan pun sudah siap dinyalakan. Mulai mercon karbit, mercon bumbung, petasan pabrik juga petasan  amatiran. Disitulah bahagianya ramadhan mendekati puncaknya. Eh! Sebentar, jangan salah. Kalau mercon bumbung aku berani yo "opo maneh nggawe karbit, wani banget".

MANDI DI SUMUR & SHOLAT DHUHUR SAMPAI TIDUR DI MUSHOLA
Siang hari, aku bersama teman~teman berbondong bondong pergi ke sumur dekat sawah yang ada di bawah pohon bambu (biasa orang kampung menyebutnya barongan), tak lupa aku bawa bekal baju ganti dan sabun mandi batangan.  Sesampai di tempat, Aku pun langsung copot baju, dan semua telanjang. Sambil kontal kantul kia pun langsung nimba air dan grujugan di dekatnya sumur bawah barongan.  Bergantian kita menimba air dan saling bantu mengucurkannya ke seluruh badan "nyess, enake talaah. Ojo banter banter rek, kalem ae lah". Tentu rambut tak ketinggalan ikut diguyur pelan~pelan, supaya bisa sedikit menghilangkan dahaga di kerongkongan.
Hihi! Air yang sudah ditimba pun sengaja kami main~mainkan supaya sebagian air ada yang masuk ke mulut teman~teman.  Lalu kami pun saling tuduh siapa yang sudah batal puasa duluan. Walau begitu, kita selalu kekeh bilang tidak batal, supaya bisa tetap melanjutkan puasa sampai adzan maghrib datang.

Ya Allah, begitu bahagianya saat itu. Kita pun pulang ambil sarung lalu pergi ke mushola untuk menunaikan sholat dhuhur. Disinilah moment dilematis terjadi. Aku dan teman~teman biasanya  saling menunjukkan siapa diantara kami yang masih kuat menahan lapar, dilemanya kalau terlalu terlihat sumringah kita dikirannya tidak puasa, tapi kalau kelihatan lemas dikira kita tidak kuat puasa. Jadi kita pun sering akting mengeringkan bibir supaya orang lain tetap mengetahui jika kita masih dalam keadaan puasa (biasa, anak anak butuh eksistensi). Menjelang dimulainya sholat duhur, segera ambil wudhu dan baris berada di shof depan. Walaupun makmumnya sedikit (tak seperti sholat tarawih) Aku dan teman~temanku tetap semangat mengikuti jamaah bersama~sama. Setelah itu kita tiduran di mushola sambil tengkurep, merebahkan perut yang sudah melilit kelaparan (maklum walau masih kecil aku dan teman~teman pantang puasa hanya sampai siang),  baju kita copot lalu bersama~sama menempelkan perut ke lantai tegel. Kalian tau mengapa begitu? Supaya dinginnya lantai bisa meresap sampai ke seluruh badan, Alhamdulillah (lumayan bisa menghilangkan sedikit rasa haus).

SHOLAT ASHAR & NGAJI
Akhirnya aku dan teman teman tertidur juga sampai adzan ashar tiba. Biar kata tubuhku lemas, sholat ashar berjamaah tetap ku laksanakan, dan seperti biasa setiap ramadhan tiba, di mushola sudah terjadwal ngaji kitab kuning yang bisa diikuti oleh siapa saja.  Sesudah ngaji kami bergegas pergi ke lapangan untuk bermain sepakbola sambil nunggu adzan magrib tiba. Biasanya kami tak sempat ganti baju, karena selain pakai sarung aku selalu pakai celana pendek supaya sarung mudah dicopot sewaktu~waktu. Meskipun ini bulan puasa, di lapangan justru semakin ramai yang ikut sepak bola. Karena ini bukan pertandingan kompetisi antar kampung, tapi hanya sebuah permainan· Satu lapangan bisa kita bagi untuk beberapa grup yang akan bermain sepak bola. Mulai dari kelompok anak kecil sampai orang dewasa. Semarak bermain sepakbola di bulan puasa sungguh terasa.
"Sepertinya tidak ada rasa capek dan lapar, padahal sudah sangat sore teman~teman baru mau mulai bermain bola. Justru semangat bergembira karena sebentar lagi waktunya berbuka".

SIAP BERBUKA
Pukul lima biasanya teman~teman sudah memberi teguran, sudah mendekati maghrib, waktunya selesai dan harus segera pulang "kate maghrib boi, buyar buyar". Aku pun bergegas mandi, tak jarang mandi sore justru kilat, tidak sama seperti waktu mandi siang hari. Inginku mandi segera selesai, lalu mendekati meja makan, dan di meja  sudah siap menu hidangan berbagai rupa untuk berbuka. Akupun sudah tidak sabar menunggu untuk menyantap semua makanan. Kata Emakku "ojo disawangi ae panganane, engko batal lho ya puasane". Hihi! Aroma yang menggoda membuatku ingin memegang dan menciumi satu persatu berbagai menu masakan yang sudah tertata apik di meja. Bayangkan "ada es dawet, semangka, kolak, gorengan, dan nasi beserta menu lauknya yang menarik rupa.

BERBUKA
Taraa! Adzan maghrib tiba oi. Tak segan~segan ku lahap semua. Mulai dari  es dawet, semangka, gorengan, terakhir baru nasi beserta perangkatnya. Kalau perut belum buncit, aku pun tak kan beranjak dari meja. Aku jadi malu sama bapakku. Setiap hari beliau bekerja keras membanting tulang sejak pagi sampai siang hari. Belum lagi panas terik sampai wajahnya pucat pasi, bolak~balik memikul hasil panen dari sawah dibawa ke rumah dan cukup jauh jaraknya. Mungkin hampir 1,5km. Maklum rumah saya asli Lamongan, panasnya sudah terbayangkan. Kalian juga bisa bayangkan bagaimana panasnya di sana? Saat itu aku benar~benar kagum dengan orangtuaku. Beliau tak pernah menggugurkan puasanya. Suatu ketika pernah diberi wejangan sebelum berbuka puasa. Semua posisinya sudah berkumpul di depan meja. Sambil menunggu adzan magrib tiba, bapakku bilang kepadaku "jangan sampai bolong puasanya, kan hanya di rumah saja tidak bekerja memikul seperti bapak. Bapak kuat masak kamu ga kuat". Sampai hari ini aku tidak bisa melupakan kejadian itu. Aku harus terus puasa, tidak boleh kalah sama bapak.

Pernah juga aku nekat, ingin banget sesekali membatalkan puasa, padahal pintu kamar sudah aku kunci, juga tidak segan aku sembunyi di kolong tempat tidurku. Sedangkan di tanganku sudah ada roti satu bungkus (kebetulan saat itu roti bulat kecil yang ada gulanya warna warni). Sudah terbayangkan enak banget siang hari makan roti, dan tinggal makan saja sodara. Saat itu dadaku benar benar berdegub kencang, menoleh kesana kemari, seperti ada yang sedang mengawasiku. Halaah gagal yong. Aku benar~benar tidak berani melakukannya saat itu. Bukan karena aku takut dosa atau takut Allah (aku masih kecil), tapi yang ku ingat betul dengan sosok bapakku. Beliau sudah membuat aku tidak berani membatalkan puasaku. Dan hal seperti itu justru sampai sekarang tidak bisa hilang dari ingatanku.

Di bulan puasa, kadang beberapa kali aku juga kebagian adzan maghrib. Bukan kebagian sih. Tapi justru aku ingin banget yang mengumandangkan adzan maghrib. Aku seperti merasa bangga mengumandangkan adzan maghrib, karena akulah memberi tanda warga kalau sudah waktunya berbuka. Biasanya setelah adzan aku segera sholat maghrib, kadang juga sholat sendiri, karena kalau nunggu jamaah pasti lama takut tidak kebagian menu buka yang lengkap. Terkadang juga  setelah adzan aku sempatkan pulang sebentar berbuka dahulu, setelah itu baru kembali ke mushola untuk sholat maghrib.

SHOLAT MAGHRIB
Waktu sholat maghrib, badan terasa berat dan sulit digerakkan, perut membuncit begitu sesak penuh makanan. Disitulah kadang agak menyesal tapi kepuasan justru aku dapatkan, "namanya juga anak anak". Akhirnya ya aku sholat magrib terpaksa  tidak bisa khusuk, justru malah sulit menggerakkan badan. Mau menyesal juga buat apa, besok juga kemungkinan seperti itu lagi. Tapi pernah aku membuat janji dengan diriku sendiri supaya bisa mengatur caranya berbuka.  Bagaimana caranya berbuka tidak sampai kekenyangan. Sehingga egek buruk sulit menggerakkan badan sewaktu sholat maghrib ataupun pas tarawih tidak lagi terjadi.

TARAWIH
Tarawih tiba, kita pun semangat mengunjungi mushola~mushola. Dari sekian banyak mushola yang ada di desaku, teman temanku siap menyurvei mushola mana saja yang imam bacaan suratnya paling cepat alias kilat. Tapi bukan aku, kecuali aku. Mengapa aku tidak ikut teman~temaku, padahal sebenarnya aku juga punya keinginan yang sama dengan mereka? Ya pernah sih aku ikut tapi tak seperti teman temanku. Aku harus lebih sering terlihat sholat tarawih di mushola dekat rumah. Ya lagi lagi aku selalu harus terpantau bapakku. Karena di mushola biasanya aku sholat, bapakku juga melaksanakan sholat tarawih disitu.  Sedangkan kebiasaan bapakku jikalau sholat selalu berada di shof depan sendiri. Tragisnya setiap selesai salam terakhir, bapakku selalu melanjutkan gerakan salamnya dengan menengok ke belakang. sambil kepalanya diputar, matanya diarahkan ke seluruh ruangan. Kalau sudah begitu, itu tandanya bapakku mengawasiku. Beliau selalu khawatir kalau aku tak sedang di mushola dan mengikuti jamaah sholat tarawih.

Huft sudah seperti dihantui saja aku. Sedangkan aku tak bisa membayangkan bagaimana kegembiraan teman~temanku yang sholat di mushola lain dan imamnya jauh lebih cepat dari musholaku. Pasti aku akan diejek oleh mereka karena dianggap sok gaya, pura pura khusyuk dengan terus mengikuti imam yang bacaan suratnya paling lama. Imajinasiku sudah berfantasi kemana~mana.

Hmm... Alah~alah... herannya, justru di musholaku imam sholatnya tak bernah berganti~ganti, padahal mushola lain ada jadwal imam bergilir. "Nasib nasib".
Begitulah monotonnya kegiatan sholat tarawih di musholaku. Padahal setiap malam teman~temanku semangat bergiliran mengunjungi masjid atau mushola. Ya sekedar mau menjadi makmum yang imamnya paling cepat memimpin sholat. Bayangkan saja  dengan melaksanakan tarawih 23 rakaat, tapi cukup ditempuh dengan waktu lima belas bahkan sepuluh menit saja "kulhu ae lek". Nah yang seperti ini dipastikan pengikutnya membludak. Bagi imam yang melaksanakan sholat tarawihnya  berlama lama, yang seperti ini dipastikan minus penduduknya. Begitu juga aku dan teman~teman yang seringkali menghindarinya. Namanya juga anak anak. Tapi jangan salah, walau begitu aku tetap semangat dan justru "kita sangat bahagia".
Ada satu lagi yang unik dalam tradisi sholat tarawih di desaku. Mungkin juga sama berlakunya di daerah lain. Yaitu seusai sholat tarawih biasanya juga dilaksanakan kultum atau certum (ceramah tujuh menit). Kadang teman temanku juga seringkali menghindari imam yang hobinya memberikan certum atau dijadwalkan ceramah. Biasanya yang bisa ku banggakan antara aku dan teman teman itu kalau di musholaku tidak ada ceramahnya. Tapi justru di mushola lain yang sudah mereka pilih malah ada ceramahnya. Kalau sudah begitu tentu aku yang menang alias selesai duluan. Akupun bisa mengejek mereka yang sudah jauh~jauh memilih mushola di tempat lain. Tapi parahnya justru kalau sebaliknya. Di tempatku menggunakan ceramah, padahal tidak memakai ceramah saja sudah paling lama, apalagi ada ceramahnya "mbuki, alias suwi lek". Disitu kadang teman temanku tertawa diatas penderitaanku.

TADARUS QURAN
Sesudah melaksanakan sholat tarawih, kami pun siap meramaikan "semarak bulan ramadhan" dengan bertadarus ria yang penuh suka cita. Bukan karena aku pandai atau fasih membaca al quran, tapi memang sudah menjadi tradisi tadarus di bulan ramadhan. Idealnya memang semua anak diwajibkan mengikuti dan membaca beberapa ayat secara bergantian. Yang tidak sedang giliran membaca dipastikan harus bisa nyemak bacaan tersebut, supaya jika dalam membaca ada yang salah bisa segera dibetulkan. Tapi, namanya juga anak anak, selalu punya kesenangan sendiri disetiap momentnya. Setiap kali  kegiatan tadarus berlangsung bisa dipastikan ada makanan dari warga yang diberikan secara cuma~cuma. Alhamdulillah ya Allah, ada saja makanan yang datang. Makanan lagi, lagi lagi makanan. Kalau tidak bulan puasa mana ada kayak gini. Sampai~sampai aku hafal betul menu apa saja yang diberikan tiap warga. "Ouw, kalau bu Tujinem berarti weci dan es santan, bu Sanipah itu buah dan roti, hmmm bu Jumirah itu teh dan gorengan.... hmmm makasih ya Allah". Sungguh tradisi yang patut dilestarikan dan jangan sampai punah. Tradisi warga bergiliran memberikan makan dengan ikhlas dan cuma~cuma.
Nah! itulah saudara sekalian, gambaran kegiatan tadarus di desaku, sehingga membuat kegitan tadarusku sangat khusyuk.

Oke. Begitulah ramadhanku semasa kecil di kampung halaman. Semoga apa yang sudah ku jalani waktu kecil dulu, spiritnya bisa ku bawa di kehidupan sekarang dan ku jadikan pelajaran yang mudah ku ingat. Apalgi sekarang ini begitu banyak godaan, sehingga ibadah kita justru jauh dari harapan. Beda dengan ramadhan masa kecil yang justru sangat bahagia. Semoga kegembiraan dalam menyambut puasa ini dapat ku hadirkan kembali seperti waktu kecil dulu. Tanpa tendensi, tanpa pengaruh siapapun, juga tidak adanya segala bentuk kontaminasi yang menjadikan ibadah tidak lagi menjadi rahasia antara aku dengan Tuhanku. Barokallah...

Comments

Popular posts from this blog

NASKAH DRAMA ANAK YANG DURHAKA

ADIT & SOPO JARWO

Drama ANAK-ANAK TK