ULANG TAHUN
BUKAN ISIS (hanya pengantar kue tar saja)
Saya hendak menceritakan pengalaman tentang misi mengantarkan kue tar untuk ulang tahun putra pertamaku. Dan Alhamdulillah kue sudah sampai tujuan dengan sukses dan lumayan selamat.
Cerita ini mungkin tidak penting, tapi sebagian kejadian perlu saya sampaikan, terutama pada bagian pembopongan kue tar dari kota Malang sampai ke Ponorogo yang menurut saya peristiwanya cukup dramatik.
Cerita ini mungkin tidak penting, tapi sebagian kejadian perlu saya sampaikan, terutama pada bagian pembopongan kue tar dari kota Malang sampai ke Ponorogo yang menurut saya peristiwanya cukup dramatik.
Kondisi pembopongan ini sendiri saya posisikan sedemikian rupa tepatnya, agar kue tetap aman dan tidak mengubah posisi kue sedikitpun. Apalagi sampai "menclek" atau "cuwil" sebelah karena dimakan penumpang lain atau jangan~jangan pembopongnya sendiri kelaparan. Intinya kue harus dipastikan aman dalam kondisi mulus sampai tiba di rumah. Saya sendiri pun dibuat tidak bisa ngapa~ngapain, "lha wong bernafas saja akunya tipis~tipis banget kok" karena takut kuenya rusak. Nah! Apalagi mau macam~macam atau buka handphone segala, jelas tidak mungkin. Belum lagi banyak kejadian di tepi jalan menyita kosentrasi dan menguji kegigihan saya dalam membawa kue tar ini.
Gangguan tak terhindarkan dalam perjalanan ini ketika melewati kota Trenggalek. Kota kecil yang tidak begitu terkenal tapi masih memiliki jajanan khas yaitu alen~alen, juga potensi pantainya pasir putih. Kota yang belum banyak bisa dieksploitasi kekayaan~ alamnya namun sekarang ini justru sedang dilirik artis pada posisi bupati atau kepala daerah.
Di sepanjang jalan banyak "banget" terpampang foto Dr. Emil Dardak ~ Arumi Basin (basine ga karu~karuan). Konon dia ini lagi kampanye menuju pemilihan bupati Trenggalek tahun 2015 s.d 2019 (ga masuk akal). Pertanyaannya siapa dia sebenarnya?
Di sepanjang jalan banyak "banget" terpampang foto Dr. Emil Dardak ~ Arumi Basin (basine ga karu~karuan). Konon dia ini lagi kampanye menuju pemilihan bupati Trenggalek tahun 2015 s.d 2019 (ga masuk akal). Pertanyaannya siapa dia sebenarnya?
Kali ini benar~benar diuji keseriusan saya dengan berbagai hal yang kurang masuk akal. Namun sebelum sampai pada peristiwa ini, saya akan coba runut kembali dari awal dan berusaha detail supaya diketahui khalayak umum sebagaimana jika nanti ada yang (entah kapan) akan memiliki pengalaman sama seperti saya.
Sebuah misi penuh tantangan dan dibutuhkan keseriusan, begitu juga rintangannya justru tak kenal batas (jika hanya sekedar mengatarkan kue bukan jihat atau perang melawan ISIS).
Perjalanan yang saya tempuh pun punya jarak lumayan jauh, yaitu Malang ~ Ponorogo.
Perjalanan yang saya tempuh pun punya jarak lumayan jauh, yaitu Malang ~ Ponorogo.
Demi buah hati pertama yang sedang ulang tahun pertama kalinya (masih seneng~senenge). Ku pesankan kue tar dengan desain fitur foto diatasnya. Saya berada di Malang sedang buah hati sedang ulang tahun, berada di daerah reog Ponorogo. Saya berharap dengan kesibukan apapun tetap punya waktu berkualitas sekedar untuk membahagiakan buah hati (sak jane seng seneng bukan anaknya, lha wong dianya belum ngerti apa apa). Tapi apapun itu, tetap penting memprioritaskan kebutuhan anak, karena pada dasarnya anak harus bahagia jika sudah berkeluarga.
Perjalanan dari Malang ke kota Reog jika ditempuh menggunakan mobil kurang lebih membutuhkan waktu 5 jam, berbeda lagi jika perjalanan ditempuh menggunakan motor atau jalan sehat, bisa dikira~kira sendiri berapa waktu yang dibutuhkan. Memang jasa travel pun lebih sering saya manfaatkan seperti pengalaman pulang kali ini dan sebelumnya. Dan saat ini saya kurang tertarik mengetahui siapa saja yang berada di dalam travel ini, sekalipun di samping saya juga duduk dua mahasiswi, saya pun tak sempat melirik sekedar memastikan apakah dia cantik atau manis. Dan saya kira dia juga sudah ilfil duluan melihat saya. Mungkin dalam benaknya sudah bertanya~tanya ketika melihat saya beserta kresek besar yang saya bopong tepat di atas paha selama perjalanan. Bisa jadi terlihat freak di mata mereka berdua.
Sekedar tau saja, saya tadi amatlah terburu~buru sewaktu travel tiba menjemput di rumah, padahal saat itu saya masih berada di kampus mengikuti coaching (baca: kucing) yang sedang berlangsung, dan setengah jam lagi kemungkinan baru selesai, terkait masih adanya penjelasan tentang kejahatan para jokie pada perhelatan SBMPTN. Biarpun acara belum selesai saya memberanikan diri lari dari ruangan dengan berpura~pura mengangkat telepon padahal saya harus segera mengejar travel. Dalam pengejaran ini justru saya menemui kendala dan termasuk kategori berat. Saya harus rela jalan kaki ketika motor saya berada jauh dari kantor tempat beraktivitas, karena hari ini tepat event car free day setiap hari Jumat. Jalan pun saya tembuh sekitar 700 meter dengan kecepatan tidak biasa dan cukup terengah~engah.
Yup posisi sudah di dalam mobil, tempat duduk dibelakang sopir, sedangkan posisi roti tepat di atas paha. Pemuda pembawa kue tar dengan pakaian rapi, batik, bercelana jeans hitam dan sepatu pantopel. Walaupun sudah begitu, saya sendiri kurang yakin apa bisa membawa kue sejauh ini tidak ada yang rusak. Kue ini lumayan besar, ukurannya 20cm persegi, dengan kotak pembungkus lebih besar 10 cm dari ukuran rotinya, jadi kemungkinan roti loncat kesana kemari dengan sisa space 10 cm sangat bisa terjadi begitu saja "konser nang njero yo iso".
Sekedar informasi juga, kue tar kondisinya sudah kurang presisi sewaktu saya intip di daerah Tulungagung masuk Trenggalek.
Sekedar informasi juga, kue tar kondisinya sudah kurang presisi sewaktu saya intip di daerah Tulungagung masuk Trenggalek.
Sengaja saya pesan kue di Malang. Lha memangnya di ponorogo tidak adakah?
Bisa jadi belum ada yang menggunakan print tinta makanan dengan gambar foto full color, atau kalaupun ada pasti lebih mahal harganya. Hehe mungkin saya ngawur atau gagal paham. Sedangkan bagaimana risikonya membawa kue tar dari Malang ke Ponorogo, belum lagi medan naik turun, jalanan terjal dan perbatasan Trenggalek Ponorogo kondisi jalan sangatlah rusah parah. Trayek atau medan mulai dari Malang Blitar Tulungagung Tranggalek sampai Ponorogo memiliki tingkat kesulitan yang berbeda beda. Naik turun gunung, jalan berkelok penuh tanjakan, berlubang, rusak dan banyak jebakan aspal menjadi santapan para driver nekat. Kondisi seperti ini membuat saya jadi tidak bisa melakukan aktivitas lain lain, bahkan sms saja kesulitan. Belum lagi banyaknya fenomena perbaikan jalan dengan berbagai atribut tulisan "galian kabel, galian singset dan galian lainnya". Anda bisa bayangkan, disaat saya sedang ingin melepaskan tangan dari genggaman kue tar perlunya hanya menggaruk hidung, padahal sudah guatel banget, tiba tiba dengan kecepatan tinggi sopir lantas ngerem mendadak karena ada lubang besar ditengah jalan, dan itu hampir sering pak sopir lakukan. Haduuh! Kadang disitu saya merasa gagal. Parahnya lagi, bahwa jalanan yang banyak mengalami kerusakan justru daerah Ponorogo. Padahal jarak dari tujuan sudah sangat dekat, bagaimana coba menurut anda jika kue rusak sudah hampir mau sampai rumah? Padahal anda tau sendiri bagaimana perjuangan mempertahankan supaya kue tetap utuh seperti semula.
Bisa jadi belum ada yang menggunakan print tinta makanan dengan gambar foto full color, atau kalaupun ada pasti lebih mahal harganya. Hehe mungkin saya ngawur atau gagal paham. Sedangkan bagaimana risikonya membawa kue tar dari Malang ke Ponorogo, belum lagi medan naik turun, jalanan terjal dan perbatasan Trenggalek Ponorogo kondisi jalan sangatlah rusah parah. Trayek atau medan mulai dari Malang Blitar Tulungagung Tranggalek sampai Ponorogo memiliki tingkat kesulitan yang berbeda beda. Naik turun gunung, jalan berkelok penuh tanjakan, berlubang, rusak dan banyak jebakan aspal menjadi santapan para driver nekat. Kondisi seperti ini membuat saya jadi tidak bisa melakukan aktivitas lain lain, bahkan sms saja kesulitan. Belum lagi banyaknya fenomena perbaikan jalan dengan berbagai atribut tulisan "galian kabel, galian singset dan galian lainnya". Anda bisa bayangkan, disaat saya sedang ingin melepaskan tangan dari genggaman kue tar perlunya hanya menggaruk hidung, padahal sudah guatel banget, tiba tiba dengan kecepatan tinggi sopir lantas ngerem mendadak karena ada lubang besar ditengah jalan, dan itu hampir sering pak sopir lakukan. Haduuh! Kadang disitu saya merasa gagal. Parahnya lagi, bahwa jalanan yang banyak mengalami kerusakan justru daerah Ponorogo. Padahal jarak dari tujuan sudah sangat dekat, bagaimana coba menurut anda jika kue rusak sudah hampir mau sampai rumah? Padahal anda tau sendiri bagaimana perjuangan mempertahankan supaya kue tetap utuh seperti semula.
Jalan yang panjangnya berpuluh kilo tak kunjung usai diperbaiki, seperti nasib Indonesia saja. Justru tambah rusak iya (pengaruh emosi penulis) biarpun tiga kali puasa saya kira juga belum tentu kelar.
Haduuh... kesulitan ini sudah melampaui batas wajar, sehingga sastrawan saja kalah sulit dalam merangkai sajaknya. Namun, justru saya kepikiran memberikan puisi kepada anak saya, daripada memberikan kue tar dengan mempertimbangkan keuntungan dan resiko yang lebih bisa diminimalisir. Tapi bagaimanapun juga kue lebih kongkrit dan manfaat bagi anak saya. Sekalipun begitu saya tetap ngotot juga buat puisi untuk anak saya, biar kata juga tidak begitu bagus karena kurangnya waktu tersita oleh perjuangan memegang kue tar Malang ~ Ponorogo dengan membabi buta.
Haduuh... kesulitan ini sudah melampaui batas wajar, sehingga sastrawan saja kalah sulit dalam merangkai sajaknya. Namun, justru saya kepikiran memberikan puisi kepada anak saya, daripada memberikan kue tar dengan mempertimbangkan keuntungan dan resiko yang lebih bisa diminimalisir. Tapi bagaimanapun juga kue lebih kongkrit dan manfaat bagi anak saya. Sekalipun begitu saya tetap ngotot juga buat puisi untuk anak saya, biar kata juga tidak begitu bagus karena kurangnya waktu tersita oleh perjuangan memegang kue tar Malang ~ Ponorogo dengan membabi buta.
"Ken Aray
kamu anakku tapi bukan milikku,
buah hati (papa mamamu) tapi tidak untukku
Ken Aray adalah kamu sendiri
bebas seperti busur panah kemana pergi
Kau adalah benih,
Biji yang menjadi
buah kehidupan siap di panen siapa saja...
Buah ranum, segar, dan menggembirakan.
kamu anakku tapi bukan milikku,
buah hati (papa mamamu) tapi tidak untukku
Ken Aray adalah kamu sendiri
bebas seperti busur panah kemana pergi
Kau adalah benih,
Biji yang menjadi
buah kehidupan siap di panen siapa saja...
Buah ranum, segar, dan menggembirakan.
Selamat ulang tahun Ken
Tumbuhlah kembang, jadilah idaman: sehat, ceria, cerdas, dan menyejukkan
Ayah ibumu hanya mampu mengantarkan
kebaikan seperti dianjurkan Tuhan.
Tumbuhlah kembang, jadilah idaman: sehat, ceria, cerdas, dan menyejukkan
Ayah ibumu hanya mampu mengantarkan
kebaikan seperti dianjurkan Tuhan.

Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi