NASKAH DRAMA PARA PENGEJAR MIMPI
Nama : Faisal Akbar Firmansyah
NIM : 170211604611
OFF : AA
PARA PENGEJAR MIMPI
Faisal Akbar
Firmansyah
BAGIAN
I
Teng- teng…….
Bel tanda masuk berbunyi. Siswa pun mulai berlarian menuju kelas
masing-masing. Fani, Tinan, Raisah, Dilla, Aji, dan Sindy metapakkan kakinya ke
kelas seni. Mereka adalah sahabat yang sama-sama mengambil kelas seni. Mereka
mempunyai bakat dan sifat yang berbeda-beda. Sehingga membuat suasana kelas
seni gaduh sekali, mentari belum sepenuhnya terbit.
Sindy :”
Tunggu” ( Menoleh ke papan tulis )
Aji :”Lakukan yang terbaik buat
saya ya anak-anak, Lakukan sesuai bakat dan minat kalian, boleh di
dokumentasikan, atau .. terserah kalian,
saya nggak sabar menanti minggu depan untuk melihatnya“ (membaca tulisan
di papan tulis)
Dian :”Tugas?”
Titan
:Ih Bu Lintang, kenapa ada tugas
sih!”
Raisah :”Nama
nya juga sekolah, ya pasti ada tugas.”
Rima :”Iya nih Jian, gimana sih?”
Fani :”Lagi ngomongin apa sih? Serius banget.”
Sindy :”Lihat papan tulis di depan!”
Fani :”Ha? Tugas?”
BAGIAN
II
Tak lama setelah merasa kaget ketika mereka tahu akan
mendapat tugas, mereka kembali duduk dan memikirkan apa yang akan dijadikan
sebuah karya seni.
Titan
:” Eh... eh... minggir! Aku mau
duduk di sini!”
Raisah
:”Eh, ada Miss Lebay. Mau duduk di
sini ya?”
Tinan
:”Iya, emang kenapa?Udah cepet minggir!”
Raisah
:”Enak aja, yang duduk duluan kan
aku!”
Fani
:”Stop! Bisa nggak sih kalian
berdua nggak berantem?”
Titan dan Riisa :”Enggak!”
Fani :”Hhh!” ( Duduk ditempat yang direbutkan
Jian dan Risa )
Dilla :”Ada apaan sih, berisik banget?”
Sindy
:”Iya nih, jadi nggak konsen nih
aku!”
Aji :“Jangan bilang kalau Risa dan Jian
berantem lagi!”
Fani
:”Nggak Usah tanya.”
BAGIAN
III
Kelas Seni terlihat sibuk pagi itu, tapi tak seperti
biasanya , seorang siswi hanya mengetuk-ngetuk mejanya dengan sebuah polpen
warna hijau. Menatap ke segala ruangan , memperhatikan kegiatan teman-temannya.
Tak sadar dia telah menyelami pikirannya yang kosong.
Dilla :”Fan! Fani ! “
Fani :”Eh iya ? ( Terlonjak Kaget) “
Dilla :”Ngelamunin apa sih ? “
Fani :” Nggak ada, nggak ada yang aku lamunin”
Titan :”Bohong ! Helooooooooo ^ Kapan sih Fani
bakalan jujur ke kita?”
Raisah :”Eh Tan, nggak usah nyolot dong..!!!!!”
Titan :”Kenapa?masalah buat lo!”
Fani :”Stop!! Kalian ini kenapa sih, nggak pagi
nggak siang! Kerjaannya berantem terus!!” (memukul meja Dan beranjak pergi dari
kelas seni)
Semua murid terhenti dengan kegiatannya, dan menatap
dengan tanda tanya besar di jidadnya.
Dilla :”Lihat,
gara-gara kalian Fani marah!”
Raisah :”Gara-gara
kamu nih Tan!”
Titan
:”Gara-gara kamu!”
BAGIAN
IV
Waktu terasa berlalu sangat cepat. Kelas seni selesai
dengan sendirinya, entah apa yang terjadi pada Vina. Tapi yang jelas itu hal
buruk!
Keesokan harinya ketika di kelas seni
Dilla
:”Kertas oke, pensil oke,
pewarna oke”
Titan
:”Udah selesai kan puisinya Ris
?”
Raisah
:”Belooom , hehe”
Dilla
:”Raisahhhhhhhhh”
Sindy
:”Kamu buat puisi Sa?”
Raisah
:”Iya, kamu?”
Sindy
:”Main gitar, dong”
Raisah
:”Bukannya harus ada yang nyanyi
ya? Kalo’ cuman main gitar kan Garing Sin”
Sindy
:”Iya sih, tapi aku nggak
terlalu yakin aku bisa nyanyi, kalo mainnya mah udah jago”
Raisah dan Sindy terhenti sejenak dan serentak menatap
Fani dengan senyuman mencurigakan
Titan :”Udah Raisah! Kerjain, tuh puisi”
Raisah
:”Iya , bawel”
Aji menghampiri bangku Dilla yang terlihat sibuk
sendiri
Aji :”Liat dong”
Dilla :”Apaan sih?. KEPO”
Aji :”Sombong, emangnya lagi gambar apa ? “
Dilla
:”Tuh kan KEPO”
Aji :”Hhhh”
Di bangku lain Raisah sedang menanyai Fani tentang
sesuatu
Raisah
:”Kamu buat apa Fan?”
Fani
:”Nggak tahu”
Raisah
:”Gimana kalo’ nyanyi aja ? Bareng Sindy, ntar Sindy yang ngiringi
sambil main gitar”
Fani :”Enggak!! “
Raisah
:”Lah kenapa? Kan kamu suka nyanyi
“
Fani
:”Enggak untuk sekarang”
Raisah
:”Gimana kalo’ puisi?”
Fani
:”Enggak”
Titan
:”Lebay banget sih, gitu aja kok
repot? Malu ya? Nggak bisa apa-apa? (Cekikian)
Raisah
:”Eh, ada yang punya lakban nggak?”
Aji :”Buat?”
Raisah
:” Nih , ngelakban mulutnya Titan ! Eh Titan! Kamu itu baru bulan
kemaren masuk kelas seni, kalo’ nggak tahu apa-apa itu jangan sok ikut-ikutan
deh! Kamu itu yaa... ( Mengepalkan tangan)
Dilla
:”Gimana kalo’ ngelukis?” (
Menyela perdebatan )
Fani
:”mmm ( Geleng-geleng kepala )“
Aji :”Gambar animasi?”
Fani
:”Apalagi itu!”
Sindy
:”Nyanyi aja !”
Fani
:”Nggak!” ( Beranjak pergi dari
kelas seni)
Dilla
:”Pasti ada apa-apa sama Fani,
nggak mungkin dia jadi kayak gitu kalo’ nggak ada alesannya, gimanapun caranya.
Kita harus bisa bangkitin semangat musiknya lagi ! Apapun caranya, apapun
resikonya!, Setuju?”
Semua kecuali Jian: “ Setuju” ( Menumpukkan telapak
tangan masing-masing dan bersiap untuk mengangkatnya sembari teriak)
Sindy
:”Kamu nggak ikut Tan ? “
Titan
:”Enggak, sori aja yaa.. What
Ever .. aku nggak peduli”
Raisah
:”Hu uuhh! “
Dilla
:”Udah-udah jangan mulai lagi !
“ (Memegangi Risa yang sudah seperti ingin meledak)
BAGIAN
V
Hari-hari berjalan dengan seperti biasanya, hingga suatu hari misi rahasiapun dilaksanakan.
Setelah mengerti tugas masing-masing, mereka melakukannya dengan penuh percaya
diri, entah apa itu.. Tapi yang jelas untuk kebaikan teman mereka, Vina.
Dilla
: ( Mendekati Fani yang menulis
dan mencoret-coret buku diarynya) “Kamu bisa jujur sama aku Fan, aku tahu kamu
pasti lagi ada masalah , iya kan? “
Fani
:” Nggak ada kok , beneran. Aku
baik-baik aja”
Dilla
:”Jangan bohong, aku kenal kamu
selama 9 tahun, kamu nggak bisa ngebohongi aku Fan, cerita aja ,, nggak bakalan
aku sebarin ke siapa-siapa. Aku hanya ingin bantu kamu kok, nggak ada niat
lain”
Fani :”mmm “ (Berpikir sejenak)
Raisah :”Mmm?” (Menatap penuh arti)
Fani
:”Gimana perasaanmu, ketika
kamu dilarang melakukan hal yang kamu suka? Apa yang bakal kamu lakuin setelah
kamu sadar, nggak ada yang pernah ngedukung kamu? Nggak ada yang pernah
mensupport kamu dalam menggapai mimpimu?, Gimana kalo’ mimpimu hampir musnah
gitu aja? Apa yang bakal kamu lakuin dengan semua hal itu? Itu jawabanku”
Raisah
:”Faan, “
Fani
:” Aku dilarang orang tuaku
bernyanyi, mereka nggak pernah suka ngeliat aku main musik, kata mereka itu
semua sia-sia. Mereka nggak pernah ngedukung aku dalam hal Seni, ,aku nggak
berani ngelawan mereka, dan lebih parahnya lagi aku nggak berani, bahkan buat
ngebayangin aja aku nggak berani, aku nggak bisa dan nggak berani bernyanyi.
Aku takut , aku semakin trauma dengan musik. Bahkan ketika aku mencobanya , Aku
takut mimpiku untuk bernyanyi hanyalah sebuah angan-angan yang mudah terhempas
angin”
Raisah :”Emang apa mimpimu?”
Fani
:”Bernyanyi untuk semua orang,
membahagiakan semua orang. Bernyanyi lewat hati, bukan hanya sekedar suara yang
merdu, bernyanyi untuk mendapatkan senyuman dari pendengar, dan penenang hati
ketika jiwa sedang terpuruk, itu mimpiku “
Raisah
:”Kita bakalan bantu kamu, buat
bangkit lagi, buat ngebagun lagi kepercayaanmu terhadap mimpi muliamu”
Fani
:”Kita?”
BAGIAN
VI
Tak sadar siswa lainya mengintip dibalik pintu kelas
seni. Sedari tadi mereka memperhatikan dan mendengarkan pembicaraan Fani dan
Raisah.
Aji :”Nggak masalah kok ! Kita bakal bantu
kamu!”
Dilla
:”Yup! Kita pasti bisa kalo
kita bersama mencobanya”
Sindy :”Pasti kalian butuh seorang gitaris yang
Jago kan? , aku kasih diskon deh buat kalian”
Semua :”Sindyyyy! “
Fani
:” Aku nggak tahu harus bilang
apa , aku aakuu a...k..uu”
Aji :”Kamu nggak perlu ngomong apa-apa”
Raisah
:” Kamu hanya tinggal bernyanyi”
Sesaat , terasa mendung telah berganti dengan cerahnya
kapas putih, rasa keterpurukan kini berkurang sedikit demi sedikit.. Dan mulai
bangkit lagi semangat musik yang entah sempat pergi ke mana kemarin
Raisah :”Apa yang harus kita lakuin?”
Tiba-tiba Jian datang dan seperti meledakkan mereka
semua dengan kata-katanya
Titan :”Aku punya Ide”
Semua :
( Saling menatap penuh ragu )
Keesokan harinya, ketika kelas seni dimulai..
Dilla :”Fan, ntar jangan pulang dulu yaa”
Fani
:”Emang kenapa?”
Dilla
: ( Tersenyum meyakinkan )
Raisah menarik tangan Fani dan menggiringnya ke aula
kelas seni yang ukurannya lumayan besar
Raisah
:”Sekarang, hanya ada Sindy, Dilla
, Aji , Aku dan Titan .. cobalah bernyanyi di depan kami”
Fani
:”Enggak mau, “ Berlari pergi
keluar aula
Semua :” Rencana GAGAL! “ ( Sambil menggaru-garuk kepala
masing-masing , yang kelihatannya tidak gatal)
Titan :”
Okey, Rencana B! “
Semua :”Laksanakan!
“
Suatu sore di mana kelas seni berakhir, ..
Raisah
:”Ikut aku !” ( Menarik tangan Fani )
Fani :”Jangan dipaksa nyanyi lagi”
Raisah
:”Em em, RAHASIA”
BAGIAN
VII
Teman-teman mengajak Fani ke jalan pinggiran kota,
yang dipenuhi dengan orang yang berlalu lalang berjalan kaki. Disiapkan 2 kursi
, Dian membawa gitar ditangannya yang sudah duduk manis sambil mencoba-coba
memainkan gitarnya.
Raisah :”
Duduk di sana, bernyanyi untuk semua orang disini. Buat mereka hanya melihat
padamu, buat mereka terpesona dengan suaramu. Kita di sini untuk mengamen, dan
uangnya juga bakalan kita kasih ke Anak jalanan. Jadi buatlah banyak orang
melihatmu dan memberi kita uang. Semata-mata kamu bernyanyi untuk anak jalanan
itu. Bernyanyi dengan hatimu. Bukan sekedar suaramu”
Aji :”Sejak kapan kamu jadi puitis gitu Rais? “
Raisah :”
Sejak tadi , hehe”
Mereka menjauh dari Fani dan Sindy, tepatnya menatap
Fani penuh arti, hingga mereka terkejut .. Tiba-tiba saja terdengar alunan
musik dan suara yang mempesona
( Bernyanyi+ Main Gitar)
Tepuk tangan (prok prok prok)
BAGIAN
VIII
Sedikit demi sedikit, orang memberi mereka uang dan
meletakkannya pada sebuah tempat kecil yang memang disediakan oleh teman-teman
Fani. Setelah merampungkan acaranya, mereka semua kembali kerumah masing-masing
dengan pelangi dihati mereka masing-masing BERHASIL!!
Keesokan harinya di kelas seni tercinta..
Titan :”Aku
bilang apa ? aku ini amazing kan?”
Raisah :”Iya deh, percaya Miss Lebay! “
Fani :” Jadi, kemaren itu rencananya Jian?”
Dilla :”Iya, biasalah Miss Lebay kan banyak Ide”
Aji :”Wah, besok udah hari terakhir loh,
kalian semua udah siap kan? “
Semua :”Siap!”
Fani
:”Aku punya ide”
Semua :”Apa?”
Vina
:”Tunggu, besok yaa”
Semua :
“Hhhhhh” -_-
BAGIAN
IX
Ketika semua masalah mulai teratasi, mereka semua
mulai mempersiapkan diri untuk dokumentasi penilaian karya seni mereka
masing-masing. Orang Tua Fani yang tiba-tiba saja mendukungnya untuk bermusik
membuat Fani sempat ingin jatuh pingsan. Tanpa disangka-sangka orang tua Fani
melihat ketika Fani mengamen di pinggir kota.Itu membuat orang tuanya terenyuh
dan mendukung anak sematawayangnya itu untuk bemusik. Dan melanjutkan mimpinya
Dan hari yang
di nanti-nanti itupun datang, mereka semua terlihat bahagia dengan mentari
mereka masing-masing. Daan..
(Fani dan Sindy bernyanyi , dengan lagu ciptaan mereka
sendiri )
Teman-teman yang lain menunjukkan karya seni mereka
dengan bangga
Satupersatu mereka maju dengan memperagakan karya
mereka.
Raisah :Menulis
Puisi
Dilla
:Melukis
Aji :Menggambar
Titan
:Membaca puisi
Sindy :Bermain gitar
Fani
:Bernyanyi
Tak terasa, dokumentasi mereka terasa lama dan
pertunjukkan terakhirnya Fani , Raisah, Dilla, Aji, Sindy, Titan didudukkan di
6 kursi yang berjejer rapi sambil berkata
Sindy :”
Mimpi, sulit untuk membayangkannya.. Tapi bersama, aku bisa melakukan dan membayangkannya,
bahkan bayanganku lebih indah dari tujuan awal mimpiku”
Raisah
:” Tak sadar, aku bersama kalian..
Bersama kalian aku percaya, mimpiku bukan hanya sekedar mimpi.. Tapi sebuah
jalan yang bernama dan sebuah tujuan hidupku yang menjadikannya lebih indah”
Aji :” Bahkan ketika aku akan jatuh dalam
lubang gelapku, kehilangan mimpiku. Kehilangan semangatku , aku bisa kembali
bangun, bangkit dari keterpurukkanku sendiri”
Dilla :” Karena aku bersama kalian, yang selalu
ada untukku, mewarnai hidup dan mimpiku, mengulurkan tali untuk mengangkatku
keluar dari lubang gelapku, “
Titan
:”Untuk bangkit kembali ,
menatap mimpiku, karena bersama kalian aku percaya , mimpi bukan hanya untuk
orang-orang yang berbakat, tapi mimpi adalah milikku , dan milik semua pemimpi”
Fani :” Dan Ketika kamu ingin bermimpi
, hendaklah kamu menutup mata terlebih dahulu. Karena dengan begitu, kamu tak
akan memperdulikan apa kata orang lain tentangmu, dan tentang mimipimu. Tapi
kamu benar-benar menghadapi dirimu sendiri. Dan setelah kamu membuka mata,
kamupun akan berkata “TIAP ORANG BISA
PUNYA MIMPI, TAPI TAK SEMUA BISA BANGKITKAN SEMANGAT TINGGI.
Bernyanyi bersama lagu Laskar Pelangi-bersama-sama.
TAMAN
BIOGRAFI PENULIS
Faisal Akbar Firmansyah dilahirkan di kota Jember pada
tanggal 18 Maret 1999, merupakan anak terakhir dari pasangan Bapak Nurhadi dan
Ibu Emi Ratnawati. Pendidikan yang ditempuh dimulai dari TK ABA Dewi Masito
lulus pada tahun 2005. Pendidikan dasar ditempuh di SD Negeri Kraton 2 Jember
dan tamat pada tahun 2011. Penulis melanjutkan sekolah di SMP Negeri 1 Kencong.
Lulus dari SMP pada tahun 2014, penulis menempuh pendidikan menengah atas di
MAN 1 Jember.
Setelah
lulus dari MAN 1 Jember pada tahun 2017, penulis melanjutkan pendidikan S1 di
Universitas Negeri Malang, mengambil Jurusan Sastra Indonesia, Prodi Studi
Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah. Selama menjadi mahasiswa, aktif
mengikuti organisasi intra kampus yaitu UKM Ikatan Pecinta Retorika Indonesia
dan HMJ Sastra Indonesia.

Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi