NASKAH DRAMA SALAH PAHAM
SALAH
PAHAM
OLEH : MEETA SANELA
RESUME
Ghina, Shinta dan Lita terlibat
masalah salah paham pada dalam pertemanannya. Hanya sebuah nasihat membuat
mereka saling merasa tersinggung sehingga menimbulkan sebuah masalah dalam
pertemanan mereka. Ghina yang berwatak sangat keras kepala mersa sangat
tersinggung dengan nasihat yang diberikan oleh Lita dan Shinta. Bukan masalah
besar tapi Ghina bisa saja marah tak
karuan. Lita dan Shinta hanya saja tak ingin Ghina berubah hanya karena
mengenal dengan orang yang salah dan takut jika Ghina menjadi anak yang tidak
baik lagi. Sebenarnya ada seseorang yang dijadikan alasan oleh mereka berdua
menasehati Ghina namun salah paham sudah terlanjur diterima oleh mereka dan
muncul masalah dalam pertemanannya.
PENOKOHAN
1. Lita : keras kepala, tapi sangat peduli
2. Shinta : sabar, penyayang, sangat menyayangi
sahabatnya
3. Ghina : baik, pendiam
4. Roy : laki-laki pembohong dan sangat bandel di
sekolah
Bel istirahat pertama berbunyi waktu
menunjukkan pukul 10.00. Shinta menghampiri Lita dibangkunya dan mengajaknya
keluar kelas dan pergi ke kantin sekolah. Berjalan dihalaman sekolah Shinta
mulai menanyakan masalah Ghina kepada Lita.
Shinta :
“Lit, bagaimana Ghina gak mau menyapa kita sama sekali”
“Pasti
dia marah”
Lita :
“Ya bagaimana lagi!”
“Dia
memang sangat keras kepala”
Shinta :
“Tapi kemarin sempat sedikit tersenyum padaku. Tapi mukanya masih terlihat
muram”
Lita :
“Biarkan saja!”
“Kita
menasehatinya demi kebaikan dia ”
Shinta :
“Aku yakin pasti dia benar-benar marah dengan ucapan kita kemarin”
Lita :
“Tidak… dia memang terlalu terbawa perasaan.”
“Hanya
sedikit tersinggung tapi biarkan. Biar dia juga sadar sendiri”
Shinta :
“Aku merasa dia sangat tersinggung”
Lita :
“Sudahlah biarkan saja!”
Di
kantin sekolah
Sesampai dikantin mereka memesan
semangkok bakso dan mulai mencari meja kosong untuk ditempati. Namun Shinta
celingukan melihat sekeliling kantin tak menemukan meja yang kosong. Tak
sengaja dia melihat Ghina sedang makan sendiri. Seketika Shinta menjawil Lita
dan menunjuk di meja Ghina seketika ditolak oleh Lita dan ternyata ada meja
kosong di depan meja yang ditempati Ghina.
Shinta :
“Eh itu ada meja kosong, kesana saja ya” (sambil menunjuk meja didepan Ghina)
Lita :
“Memangnya tidak ada tempat lain yang kosong?”
Shinta :
“Tidak! Sudah ayo kita kesana saja toh kita kesini kan mau makan saja”
Dengan terpaksa Lita pun mau dan duduk
disana, meski dengan keadaan jengkel yang membuat mulutnya manyun saat berjalan.
Ghina sedikit menoleh mereka dan memandang sejenak, namun tak sedikitpun
menyapa atau menegur.
Lita :
(Sedikit melirik dan dengan sebal menarik kursi) “Huh!”
Shinta :
(Menyikut tangan Lita) “Husstt, jangan begitu..”
Lita :
“Sudah muak sekali aku melihat dia yang terlalu labil dengan perasaan”
Shinta : “Jangan
begitu, dia teman kita hanya saja dia terlalu terbawa oleh perasaan hingga
masih sedikit tersinggung kemarin”
Lita : “Dia
yang bermasalah sehingga omongan kita saja dimasukkan ke hati”
Shinta : “Sudahlah
cepat makan saja baksomu”
Sama sekali mereka tak bertegur sama,
padahal dulu mereka bertiga selalu bersama namun kesalahan omongan yang membuat
mereka sedikit retak dan saling menjauh. Mungkin saja Ghina yang terlalu
terbawa perasaan sehingga tidak bisa menerima sebuah teguran yang sering di
lontarkan Lita.
Ghina :
(selesai makan, akan pergi dan sedikit membanting kursinya. Mengkin sedikit
mendengar percakapan Lita dan Shinta)
Berjalan keluar dari kantin dan mungkin akan
berjalan menuju kelas
Lita :
(matanya terus memandang Ghina yang berjalan pergi) “Dia sudah selesai makan
dan mulai pergi”
Shinta : “Mungkin
dia akan kembali ke kelas”
Lita : “Ya
mungkin”
Setelah selesai makan Lita dan Shinta
membayar bakso dan akan kembali ke kelas. Bel masuk berbunyi, para siswa di SMA
Bunga Bangsa berlarian kembali memasuki kelas. Lita dan Shinta berjalan cepat
menyusuri halaman yang sangat panas. Terlihat Ghina berjalan dari arah yang
sama dengan mereka. Masih saja mereka tetap enggan untuk bertegur sapa.
Biasanya Ghina pasti akan berlari dan memanggil mereka agar menunggu dia
berjalan.
Halaman
sekolah
Shinta :
(menoleh belakang, lalu berbisik pada Lita) “Loh kok Ghina masih mau masuk?”
“Bukannya dia sudah kembali dari kantin dari
tadi”
Lita : “Entahlah,
mungkin tadi dia mampir ke kelas lain”
Shinta : “Kita
masih tidak ingin menegurnya sedikit saja?”
Lita : “Coba
tegur saja, apa dia mau menanggapinya atau tidak”
Shinta : “Ghin,
kok masih mau masuk? Darimana saja?”
Ghina : (hanya
sedikit tersenyum dan tetap jalan) “hmm iya”
Shinta : “Ayo
masuk barengan dengan kita”
Ghina : (hanya
tersenyum dan sedikit mengangguk)
Lita :
(masih saja memasang muka yang sedikit muram)
Mereka bertiga jalan bersamaan namun
tetap saja tidak bisa seakrab biasanya. Biasanya saling cerita dan tertawa
keras bersamaan. Mungkin masih sedikit canggung dengan kesalahpaham dalam
omongan yang terjadi kemarin. Namun tetap saja Shinta masih berusaha agar
mereka ada obrolan kembali
Shinta :
“Darimana saja kau Ghin?”
Ghina :
“Dari kelas Roy”
Sudah sampai di kelas Ghina berjalan
menuju bangkunya disebelah Lesti. Shinta dan Lita menuju bangku mereka.
Lita :
“Ngapain? Jangan mudah dibodohi Roy terus-terusan!”
Shinta :
“Huss, Lita jangan begitu!”
Ghina :
(hanya melirik dan terlihat sedikit kaget, matanya sayu)
Lita :
(berbisik ke Shinta) “Benar apa yang ku duga”
Shinta :
“Memangnya kau menduga apa?”
Lita : “Aku
menduga dia pasti berkunjung ke kelas Roy. Mau sampai kapan dia akan
mempercayai kebohongan Roy”
Shinta : “Mungkin
dia butuh teman bicara”
Lita : “Apa
tidak ada teman dikelas ini sampai harus ke kelas lain. Sebenarnya aku hanya tidak
ingin Ghina terus dibohongi oleh Roy”
Shinta : “Aku
juga merasa begitu”
Lita : “Dia
banyak berubah semenjak kenal dan mendekat dengan Roy”
Shinta : “Iya,
dia selalu termenung dan diam”
Lita : “Terpengaruh
apa dia dengan Roy, sampai seperti itu”
Shinta : “Aku
sangat mengkhawatirkan Ghina kalau begini terus”
Di
kelas
Guru masuk dan obrolan mereka terputus
begitu saja. Mereka berencana ingin mengajak Ghina berbicara dan meminta maaf
jika ucapan yang kemarin sangat menyakitinya dan membuat Ghina tersinggung.
Mereka ingin membangkitkan ke ceriaan yang ada dalam diri Ghina.
Jam sudah menunjukkan siang tapi
pelajaran belum juga berakhir. Bel pulang terdengar
Shinta dan Lita : (segera merapikan buku
dan memasukkan ke dalam tas)
Ghina :
(merapikan buku dan mengobrol dengan Lesti)
Shinta :
(samperin Ghina dibangkunya) “Ghin kita pulang bareng ya, ada yang ingin aku
omongin sama Lita”
Ghina :
(sedikit kaget dan bingung akan menjawab apa ingin beralasan pulang dengan
Lesti tapi Lesti sudah pamit pulang duluan, dengan senyum kecut) “Iya ayo”
Lita :
(menunggu didepan pintu kelas dan sedikit senyum manis yang terpaksa) “Ayo kita
pulang sekarang”
Shinta dan Ghina : (berjalan mengikuti Lita) “Ayo”
Dijalan mereka mulai sedikit memulai obrolan
basa-basi agar tidak merasa canggung lagi
Shinta : “Sampai
rumah kau mau ngapain Ghin?”
Ghina : “Tidak
ngapa-ngapain mungkin tidur atau membaca buku”
Lita : “Apa
kalian ingin mampir sebentar untuk membeli jus dan ngobrol sebentar?”
Shinta : “Ya”
Ghina :
(hanya tersenyum dan mengangguk cepat)
Mereka segera memesan jus dan mengambil
tempat kosong untuk duduk
Lita :
(menarik kursi) “Kita duduk disini saja”
Ghina :
(melihat sekeliling) “Jangan disini terlalu panas”
Shinta :
(sedikit terkejut mendengar Ghina bicara) “Yaudah kau ingin duduk dimana?”
Ghina menunjuk tempat yang dekat dengan
kipas angin yang membuat sejuk ruang yang panas ini. Penjual mengantar jus
mereka dan segera saja mereka meminum jus karena saking hausnya
Lita : “Ghin,
aku minta maaf ya omonganku kemarin membuat kamu sangat marah dan tersinggung”
Ghina : “Halah!
Tidak apa-apa kenapa sih, tidak perlu minta maaf hanya saja aku kemarin terbawa
emosi dan perasaan sehingga aku sangat murung”
Shinta : “Kita
tidak ingin ada permusuhan antara kita bertiga Ghin. Aku sangat takut kau marah
pada kita”
Ghina : “Tidak!
Aku hanya saja terbawa perasaan sampai aku sangat merasa tersinggung dengan
omongan kalian”
Lita : “Kita
sebenarnya hanya ingin menasihatimu sedikit Lit, tetapi omongan kita terlalu
mengena”
Shinta : “Iya
Ghin, aku juga tidak ingin kehilangan keceriaan dari dirimu, akhir-akhir ini
kita melihat kau berbeda tidak seceria dulu”
“Apa
yang terjadi? Ceritakan saja pada kita”
Ghina : “Tidak!
Aku hanya terkadang merasa sedikit gelisah entah apa yang menyebabkan”
Lita :
(mendongakkan mukanya ke depan muka Ghina) “Apa ini ada masalahnya dengan Roy?”
Shinta : “Cerita
saja Ghin. Kau tak perlu sungkan cerita dengan kita mungkin kita akan memberikan
solusinya”
Ghina : “Aku
mencintai Roy!”
Lita : “Apa
kau belum puas juga Roy selalu membohongi dan mengekangmu yang tidak-tidak?”
“Padahal jelas kau sudah bukan siapa-siapa
Roy lagi”
Shinta : “Benar
Ghin, kau berhak untuk bisa senang-senang tanpa Roy, tanpa kekangan dia”
Ghina : “Tapi begitu
sulit Lit, Shin!”
Lita : “Apa
yang membuatmu sangat sulit tanpa Roy, kau jangan memperbodoh dirimu sendiri!”
Ghina : “Aku
sangat mencitai Roy, meskipun aku tau Roy sangat tidak baik”
Shinta : “Dia
tidak akan sekalipun membohongi dan mengekangmu jika dia mencintaimu Ghin”
Ghina : “Aku
tau, tapi aku belum mampu menjauhinya”
Lita : “Mampu
tak mampu kau harus melakukannya!”
Shinta : “Kita
tidak memaksamu, tapi kau harus melakukannya ini demi dirimu Ghin”
Lita : “Kita
hanya ingin melihat dirimu ceria kembali”
Ghina :
(sambil menangis) “Aku juga merasa begitu”
Shinta dan Lita : (mendekati Ghina sambil memeluk
dan menenangkan) “Sudahlah Ghin kita selalu ada untukmu dan mendengar cerita
dan keluh kesahmu”
Mereka bertiga pun saling memeluk dan
saling memberi semangat, keadaan yang sudah membaik membuat mereka saling
terbuka dengan masalah apapun dan saling memberi semangat dan menguatkan satu
sama lain, mampu tersenyum dan tertawa bersama lagi
Ghina :
“Hey, apa kalian sudah mengerjakan tugas Matematika dari Bu Prita?”
Lita :
“Aku gak bisa mau ngerjakan”
Shinta :
“Belum nih, yuk mengerjakan bareng-bareng”
Lita :
“Setujuu!!!”
Ghina :
“Mengerjakan dirumahku saja”
Lita :
“Nah, lebih bagus tuh lama juga tidak ke rumahmu”
Shinta :
“Ya sudah nanti sore saja ke rumah Ghina”
Ghina :
“Oke deh, ayo kita pulang sekarang aku sudah lapar dan ingin tidur siang dulu”
Shinta berjalan menghampiri Pak Seno
penjual jus dekat sekolah dan membayar jus pesanan mereka dan berpamitan untuk
pulang. Mereka bertiga berjalan bersama menuju ke arah rumah masing-masing
Ghina :
“Jangan lupa ke rumahku lho ya, mengerjakan tugas bersama”
Shinta :
“Okee jam 4 aku ke rumah ya”
Lita :
“Iyaa.. jam 4 aku kesana Ghin”
Ghina :
“Okey, aku tunggu.. bye bye”
Shinta dan Lita : (melambaikan tangan)
Arah rumah Shinta dan Lita searah dan
berdekatan sehingga mereka berjalan bersama hingga sampai rumah
Shinta :
“Aku senang banget kita sudah baikan lagi dengan Ghina”
Lita :
“Iya, Ghina sudah tidak marah lagi”
“Aku
sudah menduga jika dia keras kepala dan hanya butuh waktu saja”
Shinta :
“Iya Ghina sudah tidak marah lagi”
Lita :
“Ya sudah aku masuk rumah dulu. Jangan lupa nanti hampiri aku ya berangkat
bersama”
Shinta :
“Jangan molor harus tepat waktu!”
Jam 4 Shinta udah selesai bersiap-siap
dan hendak menghampiri Lita dirumahnya. Sepanjang jalan menuju rumah Lita dia
sangat bahagia karena temannya sudah baikan tidak saling bermusuhan lagi.
Tetapi ada hal yang masih membuatnya ragu
Sesampainya
di rumah Lita
Shinta :
“Assalamualaikum, Litaa”
Lita :
“Waalaikumsalam, tunggu sebentar Shin. Aku masih mau siap-siap”
Shinta :
“Kebiasaan, jangan lama-lama”
Lita :
“Tidak..hanya sebentar saja”
Diperjalanan
ke rumah Ghina
Shinta :
“Kenapa sih Ghina belum bisa melupakan Roy?”
Lita :
“Gak tau. Sudah jelas-jelas Roy adalah pembual dan pembohong”
Shinta :
“Aku hanya takut Ghina terpengaruhi oleh Roy yang pembohong itu”
Lita :
“Sudahlah aku berharap Ghina baik-baik saja dan dapat menjaga diri dari Roy
yang brengsek itu!”
Shinta : “Kita
harus bisa membuat Ghina tidak terus dipengaruhi oleh Roy”
Lita :
“Iya benar”
Sesampai
dirumah Ghina
Shinta & Lita : “Assalamualaikum, Ghina”
Ghina :
“Waalaikumsalam, wahh kalian sudah datang”
Shinta : “Maaf
ya kita terlambat”
Ghina : “Tidak
apa-apa, ayo masuk”
Shinta dan Lita masuk ke dalam rumah
mengikuti Ghina berjalan menuju kamarnya. Mereka mengerjakan tugas di kamar
Ghina
Lita :
“Ghin, boleh aku bertanya sesuatu?”
Ghina :
“Tanya saja Lit, apa?”
Lita :
“Apa kamu masih saja berharap dan mempercayai Roy?”
Ghina :
“Ya, aku masih saja belum bisa pergi darinya”
Shinta :
“Bukannya dia sudah jelas-jelas membohongimu?”
Lita :
“Dia bukan cowok baik-baik Ghin, kita takut dia mempengaruhimu dan menyakitimu”
Ghina :
“Ku rasa Roy tidak seperti itu”
Lita :
“Dia membohongi banyak cewek dan sering membuat masalah di sekolah”
Ghina :
“Tapi Roy memiliki hati yang begitu baik padaku”
Shinta : “Apa
kau tidak ingat ketika dia terkena masalah karena menarget uang pada Laura dan
hampir saja berantem dengan Viko?”
Lita : “Bahkan
dia sering mengumbar jani-janji pada semua cewek cantik disekolah”
Shinta : “Apa
ketika kau menjadi pacarnya tidak merasa marah melihat itu?”
Ghina :
“Tidak.. aku tidak tau tentang itu dan Roy sangat memperlakukan aku dengan
baik”
Lita :
“Roy pernah menargetmu atau meminta sesuatu padamu?”
Ghina : “Ya..
dia sempat meminta uang bukan meminta tapi meminjam untuk membetulkan hp nya
yang rusak”
Shinta : “Dan
kamu mempercayainya? Kamu beri?”
Ghina : “Aku
hanya sempat berjanji saja dan aku melihat hpnya baik-baik saja”
Lita :
“Iya kan, dia hanya membohongimu saja agar kau memberikan dia uang”
Shinta :
“Sudahlah Lit, mulai sekarang lupakan dan jauhi Roy”
Lita :
“Iya Lit, temenmu banyak dan ada kita yang menemanimu tanpa Roy!”
Ghina : “Kalau
begitu aku akan berlahan menjauhi dari sekarang”
Shinta : “Ku
rasa lebih baik seperti itu”
Lita :
“Jauhi saja dia jangan termakan dengan omongan manisnya lagi!”
Shita : “Iya
jangan luluh dengan rayuan gombal dari mulutnya”
Lita :
“Dasar memang laki-laki kurang ajar!”
Ghina : “Sudah
sudah cukup! Jangan menghardik seseorang seperti itu”
Shinta : “Dia
pernah menyakitimu”
Ghina : “Sudah
ku maafkan”
Lita :
“Tak punya malu memang, sudah menyakiti masih saja mendekatimu!”
Shinta : “Aku
yakin dia hanya memanfaatkanmu saja”
Lita : “Memang
jelas itu”
Ghina : “Ku
rasa tidak seperti itu”
Lita :
“Kamu memang tidak merasa Ghin”
Shinta : “Terlalu
percaya dengan omongannya”
Ghina : “Aku
memang tak terlalu memikirkan sisi buruk Roy”
Lita :
“Dia menyimpan sisi buruknya darimu. Dia tak ingin terbongkar olehmu”
Ghina : “Ku
rasa juga begitu karena dia sangat mencintaiku dulu”
Shinta : “Dia
memang menyembunyikan semua keburukannya darimu Ghin”
Lita : Iya
kau tak pernah sadar”
Ibunya Ghina datang membawakan makanan
dan minum kepada mereka dan mendengar sedikit perdebatan yang mereka bicarakan
Ibu Ghina : “Ada apa ini kok bicaranya
seru sekali”
Shinta :
“Tidak bu, hanya berdebat membahas pelajaran sekolah”
Ghina :
“Tidak bu”
Ibu Ghina : “Kenapa kalian jarang main
kesini lagi”
Lita :
“Iya bu, sedikit kami mengerjakan tugas dirumah”
Ibu Ghina : “Yasudah, lanjutkan saja”
Mereka : “Iya bu, terimakasih minum dan
makanannya”
Lita :
“Apa ibumu mengenal dan tau Roy?”
Ghina :
“Tau, aku pernah bercerita tentang Roy tapi sudah dulu”
Shinta :
“Roy pernah main kesini?”
Ghina :
“Ya pernah”
Lita :
“Roy pernah kesini?? Dia memang benar-benar sangat hebat mengambil hatimu”
Ghina :
“Dia kesini ketika ingin meminjam uang untuk memperbaiki hpnya”
Shinta :
“Demi uang dia datang kesini, keterlaluan!”
Lita :
“Dia memanfaatkanmu tapi kamu sangat tidak sadar Ghin”
Ghina :
“Ku pikir dia memang butuh uang saat itu”
Lita :
“Ya untuk kepentingan tidak berguna”
Ghina :
“Dia berasalan dompetnya ketinggalan”
Shinta :
“Sudah aku sangat yakin dia berbohong”
Lita :
“Sudah jelas!”
Ghina :
“Yasudahlah aku akan menjauhi Roy demi aku sendiri dan aku tidak ingin kita
sala paham lagi karena masalah dia”
Mereka melanjutkan belajar bersama,
tiba-tiba saja handphone Ghina berbunyi dan tertulis nama panggilan “Roy”
seketika Lita dan Shinta kaget dan hanya saling memandang melihat ini
Ghina :
“Dia menelpon ku”
Shinta :
“Coba angkat dulu”
Ghina me-lost speaker telpon dari Roy,
terdengar suara Roy yang begitu lembut diseberang telepon
Lita :
“Mau ngapain dia”
Ghina :
“Halo Roy? Ada apa?”
Roy :
“Ghina, kau sedang dimana?”
Ghina :
“Aku dirumah, kenapa”
Roy :
“Aku perlu uang untuk membayar sekolah”
Ghina :
“Bagaimana bisa kau belum membayar sekolah, yang ku tahu ibumu selalu memberi
uang untu membayar sekolahmu”
Roy : “Tapi
ibuku sedang tidak punya uang”
Ghina : “Aku
tau keluargamu Roy, tidak mungkin kau sampai belum membayar sekolah. Kau hanya
membohongiku”
Roy : “Apa
maksudmu?”
Ghina : “Kau
membutuhkan uang untuk hal yang tidak-tidak dank au hanya membohongi aku. Kau
datang ketika hanya membutuhkan sesuatu saja”
Lita :
(dengan nada tinggi dan sedikit emosi) “Kau tidak perlu berpura-pura bodoh
dengan kebohonganmu Roy!”
Di ujung telepon Roy sangat terkejut
dengan suara orang lain selain Ghina dan tak terdengar Roy
Roy :
“Apa maksudmu?”
Lita : “Kau
datang kepada Ghina hanya utuk membohonginya saja, hanya meminta uang saja kita
semua sudah tau kebohongan-kebohongan dan niat jahatmu”
Shinta : “Roy
kau jangan berpura-pura bodoh”
Ghina hanya diam saja dan merasa
benar-benar dibohongi dan dimanfaatkan oleh Roy saja selama ini, dia terlalu
mempercayai Roy daripada teman-temannya.
Roy :
(langsung saja mematikan telpon)
Lita dan Shinta : “Pasti dia sangat malu
dan jengkel”
Ghina :
“Terimakasih ya kalian memang baik sekali sudah benar-benar menyadarkan aku
dari kebohongan Roy”
Lita :
“Kita sahabatmu Ghin, kita tidak ingin kamu dibohongi oleh Roy seperti itu”
Shinta : “Roy
memang bukan anak yang baik Ghin”
Ghina :
“Seharusnya aku mendengarkan kalian dulu” (sambil meneteskan air mata)
Lita :
“Sudahlah, sekarang jauhi saja Roy”
Shinta : “Iya,
kita tidak ingin Roy membawamu kea rah yang tidak baik”
Lita :
“Pergaulan Roy di luar sekolah sangat buruk Ghin”
Ghina : “Aku
harusnya menyadari dari dulu”
Shinta :
“Sudah, yang terpenting sekarang tidak usah lagi dekat dengan Roy sudah jelas
dia hanya membohongi dan memanfaatkan kamu saja”
Ghina : “Iya
terimakasih Shinta dan Lita. Kita bersahabat selamanya ya dan sudah membawa aku
kembali dalam kebaikan”
Mereka bertiga saling memeluk dan
berjanji akan selalu mengingatkan untuk kebaikan bersama demi menjaga
pertemanan mereka tanpa ada salah paham lagi yang terjadi
TAMAT
BIOGRAFI
Meeta
Sanela atau biasa dipanggil Meeta. Lahir di Blitar pada tanggal 01 Mei 1998. Ia
merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Sebelum menjalani di Universitas
Negeri Malang ia menjalani pendidikan di TK Trisula 1 Blitar, SDN Kepanjen Lor
2 Blitar, SMPN 5 Blitar dan SMAN 4 Blitar. Kemudian, ia kuliah di Universitas
Negeri Malang, Fakultas Sastra, Jurusan Sastra Indonesia Prodi S1 Pendidikan Bahasa
Sastra Indonesia dan Daerah.
Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi