NASKAH DRAMA SALAH PAHAM









SALAH PAHAM
OLEH : MEETA SANELA


















RESUME

Ghina, Shinta dan Lita terlibat masalah salah paham pada dalam pertemanannya. Hanya sebuah nasihat membuat mereka saling merasa tersinggung sehingga menimbulkan sebuah masalah dalam pertemanan mereka. Ghina yang berwatak sangat keras kepala mersa sangat tersinggung dengan nasihat yang diberikan oleh Lita dan Shinta. Bukan masalah besar tapi Ghina bisa saja  marah tak karuan. Lita dan Shinta hanya saja tak ingin Ghina berubah hanya karena mengenal dengan orang yang salah dan takut jika Ghina menjadi anak yang tidak baik lagi. Sebenarnya ada seseorang yang dijadikan alasan oleh mereka berdua menasehati Ghina namun salah paham sudah terlanjur diterima oleh mereka dan muncul masalah dalam pertemanannya.
           




















PENOKOHAN
1.      Lita      : keras kepala, tapi sangat peduli
2.      Shinta  : sabar, penyayang, sangat menyayangi sahabatnya
3.      Ghina  : baik, pendiam
4.      Roy     : laki-laki pembohong dan sangat bandel di sekolah

























Bel istirahat pertama berbunyi waktu menunjukkan pukul 10.00. Shinta menghampiri Lita dibangkunya dan mengajaknya keluar kelas dan pergi ke kantin sekolah. Berjalan dihalaman sekolah Shinta mulai menanyakan masalah Ghina kepada Lita.
Shinta  : “Lit, bagaimana Ghina gak mau menyapa kita sama sekali”
               “Pasti dia marah”
Lita      : “Ya bagaimana lagi!”
               “Dia memang sangat keras kepala”
Shinta  : “Tapi kemarin sempat sedikit tersenyum padaku. Tapi mukanya masih terlihat muram”
Lita      : “Biarkan saja!”
               “Kita menasehatinya demi kebaikan dia ”
Shinta  : “Aku yakin pasti dia benar-benar marah dengan ucapan kita kemarin”
Lita      : “Tidak… dia memang terlalu terbawa perasaan.”
   “Hanya sedikit tersinggung tapi biarkan. Biar dia juga sadar sendiri”
Shinta  : “Aku merasa dia sangat tersinggung”
Lita      : “Sudahlah biarkan saja!”
Di kantin sekolah
Sesampai dikantin mereka memesan semangkok bakso dan mulai mencari meja kosong untuk ditempati. Namun Shinta celingukan melihat sekeliling kantin tak menemukan meja yang kosong. Tak sengaja dia melihat Ghina sedang makan sendiri. Seketika Shinta menjawil Lita dan menunjuk di meja Ghina seketika ditolak oleh Lita dan ternyata ada meja kosong di depan meja yang ditempati Ghina.
Shinta  : “Eh itu ada meja kosong, kesana saja ya” (sambil menunjuk meja didepan Ghina)
Lita      : “Memangnya tidak ada tempat lain yang kosong?”
Shinta  : “Tidak! Sudah ayo kita kesana saja toh kita kesini kan mau makan saja”
Dengan terpaksa Lita pun mau dan duduk disana, meski dengan keadaan jengkel yang membuat mulutnya manyun saat berjalan. Ghina sedikit menoleh mereka dan memandang sejenak, namun tak sedikitpun menyapa atau menegur.
Lita      : (Sedikit melirik dan dengan sebal menarik kursi) “Huh!”
Shinta  : (Menyikut tangan Lita) “Husstt, jangan begitu..”
Lita      : “Sudah muak sekali aku melihat dia yang terlalu labil dengan perasaan”
Shinta  : “Jangan begitu, dia teman kita hanya saja dia terlalu terbawa oleh perasaan hingga masih sedikit tersinggung kemarin”
Lita      : “Dia yang bermasalah sehingga omongan kita saja dimasukkan ke hati”
Shinta  : “Sudahlah cepat makan saja baksomu”
Sama sekali mereka tak bertegur sama, padahal dulu mereka bertiga selalu bersama namun kesalahan omongan yang membuat mereka sedikit retak dan saling menjauh. Mungkin saja Ghina yang terlalu terbawa perasaan sehingga tidak bisa menerima sebuah teguran yang sering di lontarkan Lita.
Ghina  : (selesai makan, akan pergi dan sedikit membanting kursinya. Mengkin sedikit mendengar percakapan Lita dan Shinta)
Berjalan keluar dari kantin dan mungkin akan berjalan menuju kelas
Lita      : (matanya terus memandang Ghina yang berjalan pergi) “Dia sudah selesai makan dan mulai pergi”
Shinta  : “Mungkin dia akan kembali ke kelas”
Lita      : “Ya mungkin”
Setelah selesai makan Lita dan Shinta membayar bakso dan akan kembali ke kelas. Bel masuk berbunyi, para siswa di SMA Bunga Bangsa berlarian kembali memasuki kelas. Lita dan Shinta berjalan cepat menyusuri halaman yang sangat panas. Terlihat Ghina berjalan dari arah yang sama dengan mereka. Masih saja mereka tetap enggan untuk bertegur sapa. Biasanya Ghina pasti akan berlari dan memanggil mereka agar menunggu dia berjalan.
Halaman sekolah
Shinta  : (menoleh belakang, lalu berbisik pada Lita) “Loh kok Ghina masih mau masuk?”
               “Bukannya dia sudah kembali dari kantin dari tadi”
Lita      : “Entahlah, mungkin tadi dia mampir ke kelas lain”
Shinta  : “Kita masih tidak ingin menegurnya sedikit saja?”
Lita      : “Coba tegur saja, apa dia mau menanggapinya atau tidak”
Shinta  : “Ghin, kok masih mau masuk? Darimana saja?”
Ghina  : (hanya sedikit tersenyum dan tetap jalan) “hmm iya”
Shinta  : “Ayo masuk barengan dengan kita”
Ghina  : (hanya tersenyum dan sedikit mengangguk)
Lita      : (masih saja memasang muka yang sedikit muram)
Mereka bertiga jalan bersamaan namun tetap saja tidak bisa seakrab biasanya. Biasanya saling cerita dan tertawa keras bersamaan. Mungkin masih sedikit canggung dengan kesalahpaham dalam omongan yang terjadi kemarin. Namun tetap saja Shinta masih berusaha agar mereka ada obrolan kembali
Shinta  : “Darimana saja kau Ghin?”
Ghina  : “Dari kelas Roy”
Sudah sampai di kelas Ghina berjalan menuju bangkunya disebelah Lesti. Shinta dan Lita menuju bangku mereka.
Lita      : “Ngapain? Jangan mudah dibodohi Roy terus-terusan!”
Shinta  : “Huss, Lita jangan begitu!”
Ghina  : (hanya melirik dan terlihat sedikit kaget, matanya sayu)
Lita      : (berbisik ke Shinta) “Benar apa yang ku duga”
Shinta  : “Memangnya kau menduga apa?”
Lita      : “Aku menduga dia pasti berkunjung ke kelas Roy. Mau sampai kapan dia akan mempercayai kebohongan Roy”
Shinta  : “Mungkin dia butuh teman bicara”
Lita      : “Apa tidak ada teman dikelas ini sampai harus ke kelas lain. Sebenarnya aku hanya tidak ingin Ghina terus dibohongi oleh Roy”
Shinta  : “Aku juga merasa begitu”
Lita      : “Dia banyak berubah semenjak kenal dan mendekat dengan Roy”
Shinta  : “Iya, dia selalu termenung dan diam”
Lita      : “Terpengaruh apa dia dengan Roy, sampai seperti itu”
Shinta  : “Aku sangat mengkhawatirkan Ghina kalau begini terus”
Di kelas
Guru masuk dan obrolan mereka terputus begitu saja. Mereka berencana ingin mengajak Ghina berbicara dan meminta maaf jika ucapan yang kemarin sangat menyakitinya dan membuat Ghina tersinggung. Mereka ingin membangkitkan ke ceriaan yang ada dalam diri Ghina.
Jam sudah menunjukkan siang tapi pelajaran belum juga berakhir. Bel pulang terdengar
Shinta dan Lita : (segera merapikan buku dan memasukkan ke dalam tas)
Ghina  : (merapikan buku dan mengobrol dengan Lesti)
Shinta  : (samperin Ghina dibangkunya) “Ghin kita pulang bareng ya, ada yang ingin aku omongin sama Lita”
Ghina  : (sedikit kaget dan bingung akan menjawab apa ingin beralasan pulang dengan Lesti tapi Lesti sudah pamit pulang duluan, dengan senyum kecut) “Iya ayo”
Lita      : (menunggu didepan pintu kelas dan sedikit senyum manis yang terpaksa) “Ayo kita pulang sekarang”
Shinta dan Ghina : (berjalan mengikuti Lita) “Ayo”
Dijalan mereka mulai sedikit memulai obrolan basa-basi agar tidak merasa canggung lagi
Shinta  : “Sampai rumah kau mau ngapain Ghin?”
Ghina  : “Tidak ngapa-ngapain mungkin tidur atau membaca buku”
Lita      : “Apa kalian ingin mampir sebentar untuk membeli jus dan ngobrol sebentar?”
Shinta : “Ya”
Ghina  : (hanya tersenyum dan mengangguk cepat)
Mereka segera memesan jus dan mengambil tempat kosong untuk duduk
Lita      : (menarik kursi) “Kita duduk disini saja”
Ghina  : (melihat sekeliling) “Jangan disini terlalu panas”
Shinta  : (sedikit terkejut mendengar Ghina bicara) “Yaudah kau ingin duduk dimana?”
Ghina menunjuk tempat yang dekat dengan kipas angin yang membuat sejuk ruang yang panas ini. Penjual mengantar jus mereka dan segera saja mereka meminum jus karena saking hausnya
Lita      : “Ghin, aku minta maaf ya omonganku kemarin membuat kamu sangat marah dan tersinggung”
Ghina  : “Halah! Tidak apa-apa kenapa sih, tidak perlu minta maaf hanya saja aku kemarin terbawa emosi dan perasaan sehingga aku sangat murung”
Shinta  : “Kita tidak ingin ada permusuhan antara kita bertiga Ghin. Aku sangat takut kau marah pada kita”
Ghina  : “Tidak! Aku hanya saja terbawa perasaan sampai aku sangat merasa tersinggung dengan omongan kalian”
Lita      : “Kita sebenarnya hanya ingin menasihatimu sedikit Lit, tetapi omongan kita terlalu mengena”
Shinta  : “Iya Ghin, aku juga tidak ingin kehilangan keceriaan dari dirimu, akhir-akhir ini kita melihat kau berbeda tidak seceria dulu”
            “Apa yang terjadi? Ceritakan saja pada kita”
Ghina  : “Tidak! Aku hanya terkadang merasa sedikit gelisah entah apa yang menyebabkan”
Lita      : (mendongakkan mukanya ke depan muka Ghina) “Apa ini ada masalahnya dengan Roy?”
Shinta  : “Cerita saja Ghin. Kau tak perlu sungkan cerita dengan kita mungkin kita akan memberikan solusinya”
Ghina  : “Aku mencintai Roy!”
Lita      : “Apa kau belum puas juga Roy selalu membohongi dan mengekangmu yang tidak-tidak?”
                “Padahal jelas kau sudah bukan siapa-siapa Roy lagi”
Shinta  : “Benar Ghin, kau berhak untuk bisa senang-senang tanpa Roy, tanpa kekangan dia”
Ghina  : “Tapi begitu sulit Lit, Shin!”
Lita      : “Apa yang membuatmu sangat sulit tanpa Roy, kau jangan memperbodoh dirimu sendiri!”
Ghina  : “Aku sangat mencitai Roy, meskipun aku tau Roy sangat tidak baik”
Shinta  : “Dia tidak akan sekalipun membohongi dan mengekangmu jika dia mencintaimu Ghin”
Ghina  : “Aku tau, tapi aku belum mampu menjauhinya”
Lita      : “Mampu tak mampu kau harus melakukannya!”
Shinta  : “Kita tidak memaksamu, tapi kau harus melakukannya ini demi dirimu Ghin”
Lita      : “Kita hanya ingin melihat dirimu ceria kembali”
Ghina  : (sambil menangis) “Aku juga merasa begitu”
Shinta dan Lita : (mendekati Ghina sambil memeluk dan menenangkan) “Sudahlah Ghin kita selalu ada untukmu dan mendengar cerita dan keluh kesahmu”
Mereka bertiga pun saling memeluk dan saling memberi semangat, keadaan yang sudah membaik membuat mereka saling terbuka dengan masalah apapun dan saling memberi semangat dan menguatkan satu sama lain, mampu tersenyum dan tertawa bersama lagi
Ghina  : “Hey, apa kalian sudah mengerjakan tugas Matematika dari Bu Prita?”
Lita      : “Aku gak bisa mau ngerjakan”
Shinta  : “Belum nih, yuk mengerjakan bareng-bareng”
Lita      : “Setujuu!!!”
Ghina  : “Mengerjakan dirumahku saja”
Lita      : “Nah, lebih bagus tuh lama juga tidak ke rumahmu”
Shinta  : “Ya sudah nanti sore saja ke rumah Ghina”
Ghina  : “Oke deh, ayo kita pulang sekarang aku sudah lapar dan ingin tidur siang dulu”
Shinta berjalan menghampiri Pak Seno penjual jus dekat sekolah dan membayar jus pesanan mereka dan berpamitan untuk pulang. Mereka bertiga berjalan bersama menuju ke arah rumah masing-masing
Ghina  : “Jangan lupa ke rumahku lho ya, mengerjakan tugas bersama”
Shinta  : “Okee jam 4 aku ke rumah ya”
Lita      : “Iyaa.. jam 4 aku kesana Ghin”
Ghina  : “Okey, aku tunggu.. bye bye”
Shinta dan Lita : (melambaikan tangan)
Arah rumah Shinta dan Lita searah dan berdekatan sehingga mereka berjalan bersama hingga sampai rumah
Shinta  : “Aku senang banget kita sudah baikan lagi dengan Ghina”
Lita      : “Iya, Ghina sudah tidak marah lagi”
               “Aku sudah menduga jika dia keras kepala dan hanya butuh waktu saja”
Shinta  : “Iya Ghina sudah tidak marah lagi”
Lita      : “Ya sudah aku masuk rumah dulu. Jangan lupa nanti hampiri aku ya berangkat bersama”
Shinta  : “Jangan molor harus tepat waktu!”
Jam 4 Shinta udah selesai bersiap-siap dan hendak menghampiri Lita dirumahnya. Sepanjang jalan menuju rumah Lita dia sangat bahagia karena temannya sudah baikan tidak saling bermusuhan lagi. Tetapi ada hal yang masih membuatnya ragu
Sesampainya di rumah Lita
Shinta  : “Assalamualaikum, Litaa”
Lita      : “Waalaikumsalam, tunggu sebentar Shin. Aku masih mau siap-siap”
Shinta  : “Kebiasaan, jangan lama-lama”
Lita      : “Tidak..hanya sebentar saja”
Diperjalanan ke rumah Ghina
Shinta  : “Kenapa sih Ghina belum bisa melupakan Roy?”
Lita      : “Gak tau. Sudah jelas-jelas Roy adalah pembual dan pembohong”
Shinta : “Aku hanya takut Ghina terpengaruhi oleh Roy yang pembohong itu”
Lita      : “Sudahlah aku berharap Ghina baik-baik saja dan dapat menjaga diri dari Roy yang brengsek itu!”
Shinta  : “Kita harus bisa membuat Ghina tidak terus dipengaruhi oleh Roy”
Lita      : “Iya benar”
Sesampai dirumah Ghina
Shinta & Lita : “Assalamualaikum, Ghina”
Ghina  : “Waalaikumsalam, wahh kalian sudah datang”
Shinta  : “Maaf ya kita terlambat”
Ghina  : “Tidak apa-apa, ayo masuk”
Shinta dan Lita masuk ke dalam rumah mengikuti Ghina berjalan menuju kamarnya. Mereka mengerjakan tugas di kamar Ghina
Lita      : “Ghin, boleh aku bertanya sesuatu?”
Ghina  : “Tanya saja Lit, apa?”
Lita      : “Apa kamu masih saja berharap dan mempercayai Roy?”
Ghina  : “Ya, aku masih saja belum bisa pergi darinya”
Shinta  : “Bukannya dia sudah jelas-jelas membohongimu?”
Lita      : “Dia bukan cowok baik-baik Ghin, kita takut dia mempengaruhimu dan menyakitimu”
Ghina  : “Ku rasa Roy tidak seperti itu”
Lita      : “Dia membohongi banyak cewek dan sering membuat masalah di sekolah”
Ghina  : “Tapi Roy memiliki hati yang begitu baik padaku”
Shinta  : “Apa kau tidak ingat ketika dia terkena masalah karena menarget uang pada Laura dan hampir saja berantem dengan Viko?”
Lita      : “Bahkan dia sering mengumbar jani-janji pada semua cewek cantik disekolah”
Shinta  : “Apa ketika kau menjadi pacarnya tidak merasa marah melihat itu?”
Ghina  : “Tidak.. aku tidak tau tentang itu dan Roy sangat memperlakukan aku dengan baik”
Lita      : “Roy pernah menargetmu atau meminta sesuatu padamu?”
Ghina  : “Ya.. dia sempat meminta uang bukan meminta tapi meminjam untuk membetulkan hp nya yang rusak”
Shinta  : “Dan kamu mempercayainya? Kamu beri?”
Ghina  : “Aku hanya sempat berjanji saja dan aku melihat hpnya baik-baik saja”
Lita      : “Iya kan, dia hanya membohongimu saja agar kau memberikan dia uang”
Shinta  : “Sudahlah Lit, mulai sekarang lupakan dan jauhi Roy”
Lita      : “Iya Lit, temenmu banyak dan ada kita yang menemanimu tanpa Roy!”
Ghina  : “Kalau begitu aku akan berlahan menjauhi dari sekarang”
Shinta  : “Ku rasa lebih baik seperti itu”
Lita      : “Jauhi saja dia jangan termakan dengan omongan manisnya lagi!”
Shita    : “Iya jangan luluh dengan rayuan gombal dari mulutnya”
Lita      : “Dasar memang laki-laki kurang ajar!”
Ghina  : “Sudah sudah cukup! Jangan menghardik seseorang seperti itu”
Shinta  : “Dia pernah menyakitimu”
Ghina  : “Sudah ku maafkan”
Lita      : “Tak punya malu memang, sudah menyakiti masih saja mendekatimu!”
Shinta  : “Aku yakin dia hanya memanfaatkanmu saja”
Lita      : “Memang jelas itu”
Ghina  : “Ku rasa tidak seperti itu”
Lita      : “Kamu memang tidak merasa Ghin”
Shinta  : “Terlalu percaya dengan omongannya”
Ghina  : “Aku memang tak terlalu memikirkan sisi buruk Roy”
Lita      : “Dia menyimpan sisi buruknya darimu. Dia tak ingin terbongkar olehmu”
Ghina  : “Ku rasa juga begitu karena dia sangat mencintaiku dulu”
Shinta  : “Dia memang menyembunyikan semua keburukannya darimu Ghin”
Lita      : Iya kau tak pernah sadar”
Ibunya Ghina datang membawakan makanan dan minum kepada mereka dan mendengar sedikit perdebatan yang mereka bicarakan
Ibu Ghina : “Ada apa ini kok bicaranya seru sekali”
Shinta  : “Tidak bu, hanya berdebat membahas pelajaran sekolah”
Ghina  : “Tidak bu”
Ibu Ghina : “Kenapa kalian jarang main kesini lagi”
Lita      : “Iya bu, sedikit kami mengerjakan tugas dirumah”
Ibu Ghina : “Yasudah, lanjutkan saja”
Mereka : “Iya bu, terimakasih minum dan makanannya”
Lita      : “Apa ibumu mengenal dan tau Roy?”
Ghina  : “Tau, aku pernah bercerita tentang Roy tapi sudah dulu”
Shinta  : “Roy pernah main kesini?”
Ghina  : “Ya pernah”
Lita      : “Roy pernah kesini?? Dia memang benar-benar sangat hebat mengambil hatimu”
Ghina  : “Dia kesini ketika ingin meminjam uang untuk memperbaiki hpnya”
Shinta  : “Demi uang dia datang kesini, keterlaluan!”
Lita      : “Dia memanfaatkanmu tapi kamu sangat tidak sadar Ghin”
Ghina  : “Ku pikir dia memang butuh uang saat itu”
Lita      : “Ya untuk kepentingan tidak berguna”
Ghina  : “Dia berasalan dompetnya ketinggalan”
Shinta  : “Sudah aku sangat yakin dia berbohong”
Lita      : “Sudah jelas!”
Ghina  : “Yasudahlah aku akan menjauhi Roy demi aku sendiri dan aku tidak ingin kita sala paham lagi karena masalah dia”
Mereka melanjutkan belajar bersama, tiba-tiba saja handphone Ghina berbunyi dan tertulis nama panggilan “Roy” seketika Lita dan Shinta kaget dan hanya saling memandang melihat ini
Ghina  : “Dia menelpon ku”
Shinta  : “Coba angkat dulu”
Ghina me-lost speaker telpon dari Roy, terdengar suara Roy yang begitu lembut diseberang telepon
Lita      : “Mau ngapain dia”
Ghina  : “Halo Roy? Ada apa?”
Roy     : “Ghina, kau sedang dimana?”
Ghina  : “Aku dirumah, kenapa”
Roy     : “Aku perlu uang untuk membayar sekolah”
Ghina  : “Bagaimana bisa kau belum membayar sekolah, yang ku tahu ibumu selalu memberi uang untu membayar sekolahmu”
Roy     : “Tapi ibuku sedang tidak punya uang”
Ghina  : “Aku tau keluargamu Roy, tidak mungkin kau sampai belum membayar sekolah. Kau hanya membohongiku”
Roy     : “Apa maksudmu?”
Ghina  : “Kau membutuhkan uang untuk hal yang tidak-tidak dank au hanya membohongi aku. Kau datang ketika hanya membutuhkan sesuatu saja”
Lita      : (dengan nada tinggi dan sedikit emosi) “Kau tidak perlu berpura-pura bodoh dengan kebohonganmu Roy!”
Di ujung telepon Roy sangat terkejut dengan suara orang lain selain Ghina dan tak terdengar Roy
Roy     : “Apa maksudmu?”
Lita      : “Kau datang kepada Ghina hanya utuk membohonginya saja, hanya meminta uang saja kita semua sudah tau kebohongan-kebohongan dan niat jahatmu”
Shinta  : “Roy kau jangan berpura-pura bodoh”
Ghina hanya diam saja dan merasa benar-benar dibohongi dan dimanfaatkan oleh Roy saja selama ini, dia terlalu mempercayai Roy daripada teman-temannya.
Roy     : (langsung saja mematikan telpon)
Lita dan Shinta : “Pasti dia sangat malu dan jengkel”
Ghina  : “Terimakasih ya kalian memang baik sekali sudah benar-benar menyadarkan aku dari kebohongan Roy”
Lita      : “Kita sahabatmu Ghin, kita tidak ingin kamu dibohongi oleh Roy seperti itu”
Shinta  : “Roy memang bukan anak yang baik Ghin”
Ghina  : “Seharusnya aku mendengarkan kalian dulu” (sambil meneteskan air mata)
Lita      : “Sudahlah, sekarang jauhi saja Roy”
Shinta  : “Iya, kita tidak ingin Roy membawamu kea rah yang tidak baik”
Lita      : “Pergaulan Roy di luar sekolah sangat buruk Ghin”
Ghina  : “Aku harusnya menyadari dari dulu”
Shinta  : “Sudah, yang terpenting sekarang tidak usah lagi dekat dengan Roy sudah jelas dia hanya membohongi dan memanfaatkan kamu saja”
Ghina  : “Iya terimakasih Shinta dan Lita. Kita bersahabat selamanya ya dan sudah membawa aku kembali dalam kebaikan”
Mereka bertiga saling memeluk dan berjanji akan selalu mengingatkan untuk kebaikan bersama demi menjaga pertemanan mereka tanpa ada salah paham lagi yang terjadi

TAMAT
BIOGRAFI
Meeta Sanela atau biasa dipanggil Meeta. Lahir di Blitar pada tanggal 01 Mei 1998. Ia merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Sebelum menjalani di Universitas Negeri Malang ia menjalani pendidikan di TK Trisula 1 Blitar, SDN Kepanjen Lor 2 Blitar, SMPN 5 Blitar dan SMAN 4 Blitar. Kemudian, ia kuliah di Universitas Negeri Malang, Fakultas Sastra, Jurusan Sastra Indonesia Prodi S1 Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah.






Comments

Popular posts from this blog

NASKAH DRAMA ANAK YANG DURHAKA

ULANG TAHUN

Drama ANAK-ANAK TK