NASKAH DRAMA "BAKTI"
BAKTI
oleh : Prayoga Adi Purna
Tokoh
dan Penokohan :
·
Bakti : Anak
yang agak lugu, masih mudah terbawa arus pertemanan, dan hidup sederhana
walaupun aslinya berkecukupan.
·
Darto : Sahabat
dari Bakti, setia pada teman, penolong, dan sudah berfikiran agak dewasa.
·
Doni : Anak yang
nakal, pandai merayu teman, suka memanfaatkan, dan suka kebebasan.
·
Dina : Teman
dari Bakti dan Darto, baik, dan suka mengingatkan teman.
·
Wina : Teman dari
Doni, baik, tidak mudah terbawa teman, dan dewasa.
·
Sindy : Teman
dekat dari Doni, agak songong, dan suka kebebasan.
·
Pak Dwi : Ayah
dari Bakti, berusaha memenuhi kebutuhan dari Bakti.
·
Bu Dwi : Ibu
dari Bakti, Penyabar.
Babak 1
Pada saat pengumuman perkuliahan, Bakti, Darto, dan Dina berkumpul di sekolahan tepatnya di labotorium komputer karena pihak sekolah memfasilitasi laboratorium komputer untuk melihat pengumuman. Ketiga anak tersebut merasa cemas menunggu pengumuman. Mereka bertiga mendaftar pada universitas yang sama namun berbeda jurusan.
Dina : “Ti, jam berapa sih pengumumannya?”
Bakti
: “Jam 10 nanti Din, sabar aja. Sebentar
lagi sudah jam 10 kok.”
Darto : “Sambil menunggu berdoa dan sabar aja, biar kita nanti diterima
semua dan tetap
kuliah di
tempat yang sama.”
Dina : “Iya To, tapi udah penasaran nih nunggu pengumuman. Sudah
hampir 2 bulan kita
nunggu hari pengumuman.”
Darto : “Iya Dina, sabar aja. Sebentar lagi tahu
hasilnya kok.”
Beberapa
menit kemudian.
Bakti : “Din..To..udah jam 10 nih.”
Dina : “Iya, udah ga sabar nih.”
Darto : “Tenang, jangan panik gitu.”
Bakti : “Kok enggak bisa ya websitenya dibuka?” (sambil dengan wajah
kebingungan dan
tangan mengutak atik mouse komputer)
Darto : “Servernya lagi penuh Ti, ini kan dibuka se-Indonesia jadi
maklum kalau server-nya
down.”
Dina : “Coba lewat website lainnya Ti, kan ada 9
website yang dapat diakses.”
Bakti : “Tetap gabisa Din, enggak bisa diakses
semua.”
Darto : “Eh..buka WA sekarang, ada pengumuman nih
di grup angkatan.”
Dina : “Pengumuman apa? Hpku masih di charge
soalnya.”
Bakti : “Pengumumannya diundur jadi jam 12 nanti
karena servernya sedang ada masalah.”
Dina : “Siapa Ti yang kirim pengumumannya?”
Bakti : “Pak Joko tadi yang mengirim.”
Dina : “Bukan hoax kan ini pengumumannya.”
Darto : “Enggak kok, ini diberita dari pihak panitia seleksi nasional
juga udah
memberitahukan kok.”
Dina : “Udah nunggu dari pagi, eh...ternyata diundur. Tahu gini lihat
di rumah. Pulang aja
yu?”
Darto : “Enggak deh, orang internet disini lemot. Cuma internet di
sekolah yang
kecepatanyya lumayan. Untung juga sekolah mau
memfasilitasi kita buat lihat pengumuman.”
Bakti : “Kalau gitu gimana kita kalau ke kantin?”
Dina : “Iya deh, perut juga udah lapar nih.”
Darto : “Ayo, mau beli es degan. Haus dari tadi
soalnya.”
Mereka
bertiga akhirnya pergi dari laboratorium komputer dan menuju di kantin untuk
membeli makanan dan minuman sambil menunggu pengumuman. Setelah menunggu, waktu
menunjukkan pukul 12 tepat.
Dina : “Udah jam 12 nih, ayo ke laboratorium
komputer.”
Bakti : “Agak nanti aja, paling servernya juga
masih down kayak tadi.”
Darto : “Iya, betul Ti. Mending agak nanti aja biar
lancar internetnya.”
Dina : “Terus kita sekarang tetap nunggu di
kantin.”
Darto : “Ke Masjid aja sekarang.”
Bakti : “Iya betul, udah masuk waktunya sholat
dhuhur nih.”
Setelah
itu mereka pergi ke Masjid untuk sholat. Lalu selesai sholat, mereka bergegas
ke laboratorium komputer untuk melihat pengumuman.
Darto : “To..Din..lancar nih internetnya.”
Dina : “Lewat website yang mana nih?”
Darto : “Website utama bisa nih aku.”
Bakti : “Iya, udah bisa aku dan masih loading.”
Darto : “Din..Ti..aku diterima.”
Bakti : “Alhamdulillah aku juga diterima.”
Darto : “Kamu gimana Din?”
Dina : “Masih loading nih punyaku.”
Bakti : “Kamu diterima dimana To?
Darto : “Aku diterima pilihan pertama jurusan
Teknik Sipil di Universitas Hayam Wuruk.”
Bakti : “Sama To, aku juga di Universitas Hayam
Wuruk tapi jurusannya Manajemen.”
Dina : “Alhamdulillah aku juga nyusul kalian
berdua.”
Bakti : “Kamu diterima juga di Universitas Hayam
Wuruk.”
Dina : “Iya, aku diterima di jurusan Farmasi.”
Darto : “Alhamdulillah kita kuliah di tempat yang
sama.”
Dina : “Kita bersama lagi deh.”
Bakti : “Masuk bareng dan lulus bareng ya kita
nanti.”
Babak 2
Setelah melihat pengumuman penerimaan universitas, Bakti pulang dan menemui orang tuanya untuk memberitahukan pengumuman tersebut.
Bakti : “Assalamuaikum.” (salim ke bapaknya)
Pak Dwi : “Waalaikumsalam,
gimana nak pengumumannya?”
Bakti : “Alhamdulillah pak, Bakti diterima di
jurusan Manajemen.”
Ibu Dwi : “Gimana pak,
Bakti diterima apa enggak?” (masuk ke ruang tamu)
Pak Dwi : “Diterima
buk.”
Ibu Dwi : “Diterima di
mana nak?”
Bakti : “Bakti diterima di Universitas Hayam
Wuruk.”
Ibu Dwi : “Di jurusan
apa?”
Bakti : “Manajemen Bu.”
Pak Dwi : “Untuk
pembayarannya kuliah apa sudah ada pengumuman nak?”
Bakti : “Belum pak, nanti kalau sudah ada pengumuman
pembayaran Bakti akan beri tahu
bapak.”
Pak Dwi : “Iya nak.”
Bakti : “Pak.. Buk..
Bakti ke kamar dulu, mau ganti baju dulu.”
Ibu Dwi : “Untuk biaya
kuliahnya Bakti gimana pak?”
Pak Dwi : “Tenang bu, itu urusan Bapak. Kalau untuk
masalah pendidikan, bapak akan
usahakan
bu.”
Ibu Dwi : “Tapi pak, manajemenkan selama ini
terkenal mahal. Belum biaya hidup sehari-
hari
Bakti. Belum lagi Citra juga mau masuk ke SMP. Itu juga perlu biaya untuk
pembayaran seragam dan keperluan lainnya”
Pak Dwi : “Sudah bu,
itu nanti urusan bapak. Ibu berdoa aja supaya semuanya lancar.”
Ibu Dwi : “Iya bu.”
Babak 3
Mereka akhirnya masuk kuliah dan mengikuti masa orientasi. Bakti dan Darto tinggal di tempat kos yang sama. Sedangkan Dina tinggal di tempat kost putri yang letaknya bersebelahan dengan tempat kos Darto dan Bakti. Saat hari pertama kuliah mereka berangkat bersama-sama.
Dina : “Lama amat nih si Bakti sama Darto. Katanya kemarin mau berangkat pagi.”
(Sambil bermain HP)
Selang
beberapa waktu Darto dan Bakti datang.
Bakti : “Dina, udah lama nunggunya.”
Dina : “Iya nih, aku udah nunggu dari tadi.”
Darto : “Bakti tuh mandinya lama.”
Bakti : “Siapa yang mandinya lama, kamu aja yang
lama milih baju.”
Dina : “Udah gausah saling menyalahkan, ayo berangkat. Nanti telat
lho, apalagi ini hari
pertama.
Bakti : “Ayo, udah pukul 6.45 nih.” (Sambil
berjalan menuju kampus)
Mereka
akhirnya berjalan menuju kampus.
Bakti : “Din..To.. aku sampai disini ya, udah
sampai jurusanku nih.”
Dina : “Iya Ti, semangat kuliahnya.”
Bakti : “Makasih Din.”
Darto : “Aku sama Dina lanjut jalan ya Ti.”
Bakti : Iya Din..To, semangat kuliah juga.”
Setelah
itu Darto dan Dina melanjutkan perjalanan mereka dan masuk ke jurusan
masing-masing.
Babak 4
Di kelas Bakti berkenalan dengan temannya.
Bakti : “Kursinya kosong mas?”
Doni : “Iya kosong kok, duduk aja gapapa.”
Bakti : “Kenalkan mas nama saya Bakti.”
Doni : “Kalau saya Doni.”
Bakti : “Asli mana mas?
Doni : “Saya asli sini kok, masnya ngerantau.”
Bakti : “Iya mas, saya ngerantau disini.”
Lalu teman dari Doni datang.
Wina : “Don, udah daritadi datangnya?” (sambil bersalaman dengan Doni)
Doni : “Iya, lama amat datang lo?”
Wina : “Biasa macet di jalan.”
Doni : “Bangun lo aja yang kesiangan.”
Wina : “Engga ya. Siapa yang disebelah lo?”
Doni : “Oh..namanya Bakti.”
Bakti : “nama saya Bakti mbak.” (sambil mengelurkan
tangan ke Wina)
Wina : “Saya Wina, salam kenal.” (membalas uluran
tangan dari Bakti)
Bakti : “Kok udah kenal dengan Doni mbak?”
Wina : “Doni itu teman SMA, jadi udah akrab lah
istilahnya.”
Doni : “Gua dan Wina udah kenal dari lama, jadi
udah akrablah.”
Tak berselang lama dosen masuk kelas dan pembelajaran dimulai. Setelah kelas selesai mereka pun memutuskan untuk mencari makan.
Wina : “Lapar nih.”
Doni : “Iya juga ya, dari pagi belum makan.”
Bakti : “Mau makan apa Win..Don..”
Wina : “Apa ya enaknya.”
Bakti : “Nasi pecel aja gimana?”
Doni : “Ti..ti.. jauh-jauh ke kota makan tetep
nasi pecel.”
Bakti : “Kan cuma usul aja Don.”
Doni : “Burger King aja gimana.”
Wina : “Boleh tuh, lama engga kesana.”
Bakti : “Burger King itu apa ya, belum pernah
dengar.”
Doni : “Lho gatahu Burger King Ti.”
Bakti : “Belum tahu Don.”
Wina : “Ayo Ti ikut aja biar kamu tahu. Rasanya
enak kok.”
Bakti : “Yaudah aku ngikut.”
Wina : “Berangkat sekarang aja, keburu siang nih
entar ramai.”
Doni : “Eh, Sindy juga mau ikut nih” (sambil mengecek
HP melihat pesan dari Sindy)
Wina : “Samperin sana si Sindy, biar cepat dan
gausah nunggu-nunggu.”
Doni : “Okedeh gua samperin Sindy. Lo sama Bakti langsung ke Burger
King dan cari
tempat.”
Bakti : “Bentar-bentar, aku kesananya naik apa ya?”
(memasang muka bingung)
Wina : “Lho engga bawa motor Ti?”
Bakti : “Engga, belum tahu jalanan sini selain itu
belum boleh sama orang tua.”
Doni : “Bareng lo aja Win.”
Wina : “Gua kan gaada helm.”
Doni : “Di motor gua ada helm, biar dipakai sama
Bakti. Sindy bawa helm kok”
Wina : “Yaudah, gua sama Bakti langsung ke
tempat. Lho sama Sindy nyusul.”
Doni : “Ok, Win.”
Setelah itu mereka pergi ke Burger King, namun disana ternyata sudah ramai dan tidak mendapatkan tempat. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk membungkus burger yang mereka pesan dan memakannya di taman baca yang ada di kampus sambil menunggu kelas pada siang harinya.
Babak 5
Di taman baca mereka memakan burger dan mengobrol santai.
Doni : “Gimana Ti rasa burgernya?”
Bakti : “Enak kok, pengen nambah lagi rasanya.”
Doni : “Besok-besok kesana lagi.”
Bakti
: “Boleh-boleh, ke tempat lainnya juga
boleh.”
Doni : “Gampang, lo ngikut gua sama Wina. Jadi
anak kota ntar lo.”
Sindy : “Lo anak darimana sih, kok kelihatannya belum pernah makan
makanan yang kayak
gini?
Bakti : “Aku merantau dari desa.”
Sindy : “Pantesan.” (memasang muka songong)
Wina : “Ga boleh gitu Sin, jangan mentang-mentang Bakti dari desa
sikap lo sama dia jadi
kayak gitu.”
Sindy : “Iya-iya Win.” (dengan muka acuh)
Makan pun selesai, mereka kembali ke kelas untuk kembali kuliah.
Babak 6
Sore harinya, Bakti, Darto, dan Dina pulang bersama dari kampus. Bakti menunggu Darto dan Dina di depan gedung jurusannya.
Darto : “Ti, udah nunggu dari tadi?” (sambil menepuk pundak Bakti)
Bakti : “Enggak kok, ini juga barusan keluar dari
kelas.”
Dina : “Gimana perkuliahan hari ini?”
Bakti : “Enak kok, tadi juga makan bareng juga.”
Dina : “Makan apa kamu ti?”
Bakti : “Tadi makan burger.”
Darto : “Gaya banget kamu makan burger ti.”
Bakti : “Orang diajak sama teman. Lagian kan dirumah enggak ada burger,
jadi boleh dong
makan.”
Darto : “Boleh sih boleh, tapi jangan
sering-sering.”
Bakti : “Emang kenapa kalau sering makan-makanan
kayak gitu?”
Darto : “Harganya kan mahal, kita disini juga
merantau.”
Bakti : “Kalau harga itu relatif, menurut orang
beda-beda.”
Darto : “Tapikan itu termasuk mahal kalau bagi
mahasiswa.”
Bakti : “Suka-suka aku lah, orang di sekitar rumah ga ada makanan kayak
gini. Mumpung
disini ya di enakin dong.”
Dina : “Gausah ribut lah.”
Darto : “Akukan cuma ngigetin aja.”
Dina : “Udah-udah, ayo pulang. Sudah sore
waktunya istirahat”
Bakti : “Ayo lah.” (beranjak jalan pulang)
Setelah itu mereka berjalan pulang ke rumah kos karena hari sudah sore. Keesokan harinya mereka pun melakukan rutinitas seperti biasanya dengan berangkat kuliah bersama. Di kelas Bakti mengobrol dengan Doni dan Wina.
Doni : “Kenapa Ti, datang-datang wajah lo kok merenggut gitu?”
Bakti : “Marah aku sama temenku.”
Doni : “Emangnya kenapa Ti?”
Bakti : “Gara-gara kemarin makan burger aja dimarahin. Katanya boros
buang-buang
uang.”
Doni : “Itu kan uang-uang lo, ya terserah lo dong. Syirik aja tuh,
gara-gara gabisa makan
burger. Dari pada sebel gitu, gimana kalau nanti
malam kita keluar?”
Bakti :
“Keluar kemana Don?”
Doni : “Udah ngikut aja, tapi jangan ajak-ajak
temen lo.”
Bakti : “Siapa aja dong yang ikut?”
Doni : “Gua, Wina, Sindy, sama lo dong.”
Bakti : “Emang Wina bisa ikut?”
Doni : “Bisalah, nanti gua tanya kalau dia udah
datang.”
Tak berselang lama Wina datang
Doni : “Wina, sini..”
Wina : “Ada apa Don?” (sambil menaruh tas di
bangku)
Doni : “Nanti malam nongkrong yuk, sama Gua,
Sindy, dan Bakti?”
Wina : “Enggak ah Don, gua mau nonton drama dulu.
Episode baru udah keluar soalnya.”
Doni : “Engga asik lu.”
Wina : “Lain kali aja deh.”
Bakti : “Engga apa-apa Don. Bertiga juga boleh
kok.”
Doni : “Yaudah bertiga aja ya? Nanti gua kabari
lagi.”
Bakti : “Ok, siap Don”
Babak 7
Malam harinya mereka pun pergi bersama ke sebuah cafe.
Doni : “Gimana Ti, enakkan suasana cafenya?”
Bakti : “Enaklah, dirumahku paling adanya cuma
warung kopi biasa.”
Doni : “Sering-sering kayak gini Ti, kalau ngikut
temen-temen lo ga bisa kayak gini.”
Bakti : “Iya Don, kalau enggak kenal kamu ga bisa
kayak ginilah.”
Sindy : “Pesan apa nih?”
Bakti : “Apa nih, engga tahu nih mau pesan apa.”
(sambil melihat-lihat daftar menu)
Doni : “Gua pesan americano sama banana nugget.
Lo apa Sin?”
Sindy : “Gua juga americano sama ramen.”
Bakti : “Aku pesan Taronut sama Hot dog aja.”
Setelah itu mereka memesan makanan dan minuman.
Sindy : “Mau gak nih.” (mengeluarkan rokok dari dalam tasnya)
Bakti : “Kamu merokok Sin?” (dengan ekspresi
terheran-heran)
Sindy : “Iya, udah lama gue ngerokok. Pasti temen
lo ga ada yang kayak gue kan?”
Bakti : “Engga ada lah. Emang enggak dimarahi sama
orang tua kamu?”
Sindy : “Engga, nyokap ama bokap gue ga bakal tahu lah. Gue ngerokok
cuman waktu
diluar aja.”
Doni : “Ambil satu ya Sin?” (mengambil bungkus
rokok)
Sindy : “Oke, ambil aja. Lo enggak merokok Ti?”
Bakti : “Aku enggak ngerokok.”
Sindy : “Coba aja nih, masak lo kalah ama gua.”
Bakti : “Engga deh, makasih.”
Doni : “Sesekali ga apa-apa deh.”
Bakti : “Enggak deh, ga pengen ngerokok aku.”
Sindy : “Iya deh Ti, terserah lo kok.”
Doni : “Eh Ti, hari ini bayarnya pakai uang lo
dulu ya?”
Bakti : “Emang kenapa Don?”
Doni : “Gua enggak bawa uang nih, cuma bawa kartu kredit doang. Jadi
pakai uang lo dulu
aja ya?”
Bakti : “Bukannya disini bisa pakai kartu kredit?”
Doni : “Udah limit soalnya kartu kredit gue.”
Sindy : “Sekalian gua ya Ti, pakai uang lo dulu.”
Bakti : “Iya deh, sekalian aja aku bayarin deh buat
hari ini.”
Doni : “Seriusan nih Ti?”
Bakti : “Iya, aku seriusan.”
Doni : “Makasih Ti.”
Setelah itu mereka terus mengobrol hingga malam tiba.
Babak 8
Keesokkan paginya, Dina dan Darto menanyai Bakti sebelum berangkat kulaih kemana perginya kemarin malam karena ia tidak memberi tahu temannya tersebut.
Dina : “Kemarin malam kamu kemana Ti?”
Bakti : “Main dong.”
Darto : “Main kemana kamu Ti?”
Bakti : “Nongkrong di cafe.”
Darto : “Sama Doni Ti?”
Bakti : “Iya, emangnya kenapa?”
Darto : “Semenjak kamu sama Doni, kamu jadi
berubah.”
Bakti : “Berubah gimana?”
Dina : “Iya, kamu jadi sering main ke cafe-cafe
atau restoran.”
Darto : “Kalau gitu terus jatuhnya malah boros.”
Bakti : “Biarinlah, orang aku juga pakai uangku sendiri. Pengen kayak
aku ya kalian?
Lagian kaliankan cuma di kosan.”
Dina : “Emang kenapa kalau di kosan.”
Bakti : “Engga seru lah, masa tiap hari di kosan
aja. Main-main dong.”
Dina : “Kamu kok jadi gitu sih Ti.”
Darto : “Iya nih Ti, kamu kok jadi gitu.”
Bakti : “Kalian juga sih, ngapain coba ngurusin aku
main sama Doni.”
Dina : “Kita cuma ngingatin aja.”
Bakti : “Bilang aja syirik kalian. Selama sama kalian aku mungkin engga
bakal bisa main ke
tempat-tempat macam itu.”
Dina : “Kamu kok bisa-bisanya bicara gitu sih
Ti.”
Darto : “Biarinlah Din, suka-suka Bakti. Kalau ngurusin ginian terus
kita malah telat masuk
kelas.”
Setelah kejadian itu, hubungan Darto, Dina dengan Bakti agak merenggang. Bakti lebih dekat dengan Doni dan Sindy.
Babak 9
Di taman Sindy dan Doni sedang mengobril berdua mengenai Bakti.
Sindy : “Don, nanti malam keluar lagi yuk? Males gua di rumah mulu.”
Doni : “Keluar kemana? Lagi engga ada duit nih.”
Sindy : “Ngajak Bakti aja, siapa tahu dibayarin
lagi.”
Doni : “Pergi kemana tapi?”
Sindy : “Starbucks aja deh.”
Doni : “Boleh juga tuh, sebentar gua chat Bakti dulu.” (mengeluarkan
HP untuk men-chat
Bakti)
Sindy : “Nyebat ga lo, sambil nunggu balesannya Bakti?” (mengeluarkan
sebungkus rokok
dan menawarkan kepada Doni)
Doni : “Oke, makasih Sin.”
Sindy : “Gimana udah dibales belum sama Bakti?”
Doni : “Masih mengetik nih tulisannya di chat.”
Sindy : “Gimana-gimana?”
Doni : “Dia bisa katanya.”
Sindy : “Eh.. Don, Gimana kalau kita manfaatin aja
kali si Bakti.”
Doni : “Manfaatin gimana?”
Sindy : “Kita porotin aja si Bakti.”
Doni : “Boleh juga ide lu.”
Sindy : “Gimana tapi caranya?”
Doni : “Udah gampang, urusan gue itu ntar.”
Setelah itu mereka pulang.
Babak 10
Malam harinya di Starbucks.
Doni : “Ti, udah pernah ke Starbucks belum lo?”
Bakti : “Belum pernah, orang baru tahu sekarang
kok.”
Doni : “Temenan sama kita-kita lo tahu tempat
kayak ginikan?”
Bakti : “Iyalah, kalau sama Darto dan Dina. Apa
tahu tempat ginian.”
Sindy : “Temenan sama kita-kita aja. Sama mereka lo bakalah kudet deh.
Tahunya Cuma
kuliah sama nugas doang. Enggak pernah main.”
Bakti : “Iya nih, sekarang udah jarang main sama
Darto dan Dina.”
Doni : “Eh, ini daftar menu dianggurin doang?”
Sindy : “Oh.. iya, pesan apa nih?”
Doni : “Gua americano aja deh.”
Sindy : “Sama, gua juga americano.”
Bakti : “Aku ngikut kalian aja, americano juga.”
Doni : “Eh Ti, engga pengen bayarin lagi nih?”
Sindy : “Iya nih Ti, lo ga pengen apa bayarin
lagi?”
Bakti : “Yaudah, kali ini aku bayarin lagi.”
Sindy : “Makasih lo Ti.”
Bakti : “Aku ke kasir dulu ya buat bayar.”
(beranjak pergi ke kasir)
Sindy : “Don, mudah banget ya ngerayu si Bakti.”
Doni : “Iya nih, jadi anak kok lugu amat. Di
manfaatin temannya enggak kerasa dia.”
Setelah itu mereka mengobrol hingga larut malam.
Babak 11
Keesokkan harinya di kelas Bakti mengobrol dengan Wina.
Wina : “Itu kantong mata kok tebal amat Ti?” (sambil menaruh tas di bangku)
Bakti : “Semalam pulang larut nih.”
Wina : “Emang kemana kemarin malam kok pulang
sampai larut gitu?”
Bakti : “Habis nongkrong di Starbucks.”
Wina : “Sama Doni dan Sindy.”
Bakti : “Iya Win, Diajak aku sama mereka berdua.”
Wina : “Kok mau diajak ke Starbucks sama mereka?”
Bakti : “Iya, belum pernah kesana soalnya. Jadi ya
pengen aja.”
Wina : “Terus sekarang dimana Doni? Enggak masuk
kelas hari ini?”
Bakti : “Ngantuk mungkin kemarin keluar malam.”
Wina : “Jangan pulang malam-malam lagi kalau keluar malam. Sekarang
ngantukkan di
kelas.”
Bakti : “Yaudah enggak apa-apa kok. Namanya juga
nongkrong.”
Tak berselang lama Doni pun datang.
Wina : “Tuh wajah suntuk banget Don?”
Doni : “Iya nih, kemarin pulang malam. Nongkrong
sama Bakti di Starbucks.”
Wina : “Iya, sudah tahu. Tadi Bakti cerita.”
Doni : “Eh, makasih ya Ti udah dibayarin
kemarin.”
Bakti : “Iya, sama-sama Don.”
Doni : “Gua ke kamar mandi dulu ya. Mau cuci muka
nih.”
Wina : “Yaudah sana cuci muka dulu biar enggak
kayak muka bantal.”
Doni : “Bawel amat sih lu Win.” (beranjak pergi
ke kamar mandi)
Wina : “Kemarin jadi yang bayarin kamu Ti?”
Bakti : “Iya, Win. Kemarin aku yang bayarin. Waktu nongkrong di cafe sebelumnya aku
juga yang bayarin.”
Wina : “Emang mereka engga bawa duit apa?”
Bakti : “Katanya sih kartu kreditnya limit. Yaudah
aku bayarin aja sekalian.”
Wina : “Hati-hati aja Ti.”
Bakti : “Hati-hati kenapa emang?”
Wina : “Ya, Hati-hati aja. Takutnya kamu nanti dimanfaatin sama
mereka. Kalau begitu
yang rugikan kamu sendiri.”
Bakti : “Enggak mungkin kok Win. Doni sama Sindy
enggak mungkin begitu.”
Wina : “Aku cuma ngingatin aja. Semoga aja enggak
kayak gitu.”
Bakti : “Iya, enggak mungkin kayak gitu.”
Setelah itu kelas dimulai.
Babak 12
Bakti pulang ke rumah untuk mengambil uang karena uang yang diberikan oleh bapaknya sudah habis walaupun belum waktunya.
Bakti : “Assalamualaikum...”
Ibu
Dwi : “Walaikumsalam.. kok pulang enggak kabar-kabar nak?”
Bakti : “Bakti pulang dadakan buk.”
Pak
Dwi : “Kapan nak sampainya?” (masuk ke rumah setelah keluar ke warung)
Bakti : “Baru saja sampai pak.”
Ibu
Dwi : “Kenapa nak kok pulang mendadak.”
Bakti : “Uang Bakti habis bu, Bakti mau minta uang.
Soalnya uang yang diberikan kemarin
sudah habis.”
Ibu
Dwi : “Kan bisa transfer nak.”
Bakti : “Bakti ingin sekalian pulang bu.”
Bapak
Dwi : “Kok cepet habis nak uangnya?”
Bakti : “Buat makan sama keperluan kuliah pak,
disana mahal-mahal pak harganya.”
Bapak
Dwi : “Iya nak, kamu kembali kapan ya?”
Bakti : “Besok sore pak.”
Bapak
Dwi : “Uangnya besok bapak kasih waktu kamu mau berangkat ya?”
Bakti : “Iya pak, Bakti ke kamar dulu. Mau ganti
terus mandi.” (melangkah pergi ke kamar)
Ibu Dwi : “Pak, apa ada uang buat
uang saku Bakti soalnya untuk bulan ini kan pengeluaran
juga sudah banyak. Apalagi Citra juga baru kemarin
minta uang buat biaya beli buku.”
Bapak
Dwi : “Ada kok bu uangnya. Bapak masih ada simpanan.”
Ibu
Dwi : “Tapi pak, kalau begini uang tabungan kita bisa habis.”
Bapak
Dwi : “Enggak apa-apa bu, inikan juga untuk keperluan anak kita.”
Ibu
Dwi : “Iya pak, ibu percaya sama bapak.”
Babak 13
Di kantin saat istirahat, Bakti mengobrol dengan Doni dan Wina.
Bakti : “Eh, bajuku kelihatannya kok enggak banget ya?”
Wina : “Enggak banget gimana?”
Bakti : “Enggak enak aja dipakai.”
Wina : “Orang masih bagus gitu.”
Bakti : “Tapi enggak pede aja gitu makainya.”
Doni : “Udah beli lagi aja.”
Wina : “Kalau masih bagus ngapain harus beli
baru.”
Doni : “Orang Bakti ga pede makainya. Beli baru
aja Ti di Mall. Nanti gua anterin.”
Bakti : “Boleh juga tuh. Kapan nih bisa ke Mall?”
Doni : “Nanti malam aja.”
Bakti : “Besok enggak ada tugaskan?”
Doni : “Enggak ada tugas besok. Nanti malam aja
pergi ke Mall buat shopping.”
Bakti : “Yaudah deh. Nanti malam kalau begitu. Ikut
enggak Win?”
Wina : “Enggak deh, aku nanti malam mau istirahat. Kemarin banyak
tugas belum sempat
istirahat.”
Doni : “Gua aja si Sindy aja deh.”
Bakti : “Boleh tuh.”
Doni : “Lo tahu merk baju yang bagus enggak?”
Bakti : “Enggak Don.”
Doni : “Yaudah ntar gua bantu.”
Bakti : “Nanti malam ya Don.”
Doni : “Ok.”
Babak 14
Malam harinya Doni, Bakti, dan Sindy pergi ke Mall.
Sindy : “Udah pernah masuk ke mall belum lho?”
Bakti : “Sudah sih Sin, tapi yang besarnya kayak gini belum pernah.”
Sindy : “Dasar lo Ti, emang di daerah lo adanya apa
juga.”
Doni : “Udah, bantu Bakti cari baju.”
Sindy : “Mau beli baju yang gimana lo Ti?”
Bakti : “Enggak tahu nih.”
Sindy : “Beli yang bermerk aja deh. Biar lo
kelihatan anak kota dan kekinian.”
Bakti : “Iya deh.”
Doni : “Ke toko yang disana aja tuh. Kelihatannya
bajunya bagus-bagus.”
Bakti : “Yaudah deh. Aku ngikut aja. Kaliankan yang
lebih tahu.”
Mereka pun pergi ke salah satu toko.
Sindy : “Bagus-bagus tuh.”
Bakti : “Yang mana Sin?”
Sindy : “Ini nih, bagus model sama warnanya.”
Doni : “Ambil aja deh Ti.”
Bakti : “Mahal nih harganya.”
Doni : “Udah enggak apa-apa. Kapan lagi punya
baju mahal.”
Bakti : “Yaudah deh, aku ambil ini.”
Bakti
lalu membeli baju tersebut. Selain itu,
Bakti juga membeli beberapa baju lainnya yang harganya tergolong mahal. Setelah
membeli baju, mereka bertiga makan.
Doni : “Enggak pada lapar nih?”
Sindy : “Iya nih, gua lapar juga lama-lama.”
Bakti : “Makan apa ini enaknya?”
Doni : “Makanan Jepang ajang gimana. Katanya di
Mall ini ada restoran Jepang yang enak.”
Bakti : “Boleh juga tuh. Aku bayarin deh, hitung-hitung ucapan terima
kasih karena mau
nemenin beli baju.”
Doni : “Seriusan nih Ti?”
Bakti : “Iya, Don.”
Sindy : “Disana nanti cari ruangan yang ada ruangan buat ngerokok ya.
Udah gatal nih
mulut pengen nyebat dari tadi.”
Bakti : “Ayo deh, keburu lapar nih.”
Setelah itu mereka menuju Restoran Jepang untuk makan.
Babak 15
Saat istirahat Doni dan Bakti sedang makan di kantin.
Bakti : “Makan apa nih Don?”
Doni : “Gado-gado aja deh. Udah lama enggak makan
gado-gado soalnya”
Bakti : “Minumnya?”
Doni : “Es teh manis aja.”
Bakti : “Sudah itu aja?”
Doni : “Iya itu aja.”
Bakti : “Oke, Don.” (Beranjak pergi membayar
makanan)
Lalu
pergi untuk membayar makanan.
Doni : “Ti, gua utang dulu ya? Besok gua ganti.”
Bakti : “Oke, Don. Tapi beneran lo bayar kan?”
Doni : “Iya-iya Ti.”
Setelah itu pesanan mereka datang lalu mereka makan. Selain itu, semenjak itu Doni sering berutang kepada Bakti dan sering mengajaknya untuk nongkrong di tempat yang mahal.
Babak 16
Di kelas wajah Bakti sedikit murung, akhirnya dia ditanyai oleh Wina.
Wina : “Kenapa kamu Ti, kok murung gitu?”
Bakti : “Uangku habis Win.”
Wina : “Bukannya kamu kemarin baru pulang buat minta uang sama orang
tuamu. Kok bisa
habis?”
Bakti : “Uangnya aku pakai buat beli baju yang harganya cukup mahal dan
beliin Doni
sama Cindy makanan, ditambah si Doni juga berutang
sama aku.”
Wina : “Utangnya engggak dibayar.”
Bakti : “Gimana mau dibayar, orang Doni aja dihubungi aja enggak bisa.
Lagian dia udah
dua minggu bolos dan enggak ada kabar. Kamu aja yang
temannya dari SMA juga enggak tahu kemana Doni”
Wina : “Dulu
akukan sudah bilang buat hati-hati. Takutnya kamu di manfaatin sama Doni.
Sekarang kejadian benerankan.”
Bakti : “Iya sih Win, akunya juga salah. Terlalu terlena dengan mereka,
jadinya begini deh
sekarang. Selain itu, dulu aku juga sudah diingatkan
sama Darto dan Dina soal masalah ini. Tapi aku cuek sama saran mereka hingga
bertengkar.”
Wina : “Sekarang kamu enggak punya uang?”
Bakti : “Ada sih Win, tapi yang tinggal dikit. Mau minta uang lagi
kemarin waktu telpon ke
bapak sedang gaada uang. Soalnya jatah buat sakuku
udah habis dan adikku juga ada keperluan buat sekolah.”
Wina : “Ya sudah, sekarang kamu temui Darto dan Dina. Minta maaf sama
mereka. Kalian
bertigakan sudah berteman sejak SMA.”
Bakti : “Tapi aku takut mereka tidak mau menerimaku lagi. Soalnya
sikapku terhadap
mereka dahulu.”
Wina : “Bakti, coba aja dulu. Aku yakin mereka
bakal menerima kamu lagi kok. Kamukan
juga mau minta maaf secara tulus.”
Bakti : “Makasih ya Win sarannya. Aku coba dulu deh
buat nemuin mereka.”
Babak 17
Bakti akhirnya menemui Darto dan Dina untuk meminta maaf. Untuk meminta maaf Bakti menunggu Darto dan Dina di depan kos Dina karena mereka selalu pulang bersama dan baru berpisah ketika dari kosan Dina.
Darto : “Ngapain kamu disini?” (dengan muka sinis kepada Bakti)
Dina : “Masih ingat sama kita?”
Bakti : “Aku masih ingat dan mau minta maaf sama
kalian.”
Darto : “Mau minta maaf kenapa? Temanmu yang namanya Doni emang kemana
yang
katamu gaul itu.”
Bakti : “Aku ditipu sama dia, selama ini aku hanya di manfaatkan. Uangku
dipinjam sama
dia tapi enggak dikembaliin. Selama ini aku juga
bergaya hedon semenjak berteman sama Doni hingga uangku sekarang habis.”
Dina : “Gitu, kalau udah nyesel baru ingat
temannya yang dulu?”
Bakti : “Aku menyesal, dulu kalian coba ngingetin aku tapi akunya cuek
dan malah
ngeremehin ucapan kalian. Aku mau kalian maafin aku
dan nerima aku lagi. Kalian mau apa enggak nerima aku lagi?”
Dina : “Udah tahu rasakan sekarang.”
Bakti : “Iya, aku menyesal. Aku mohon kalian mau
menerima aku lagi.”
Darto : “Bakti, kami mau kok menerima kamu lagi. Kan dulu kita pernah
berjanji kalau mau
masuk bareng lalu lulus bareng.”
Dina : “Iya, Bakti. Jadikan yang dulu sebagai
pelajaran. Jangan kamu ulangi lagi ya?”
Bakti
: “Iya, makasih ya kalian sudah mau
maafin dan menerima aku lagi.”
Darto : “Iya, kita maafin kok.”
Dina : “Makan yuk, lapar nih. Dari pagi belum
makan.”
Darto : “Ayo, mie ayam dekat kosanmu boleh tuh
Din.”
Bakti : “Tapi aku enggak punya uang, soalnya sudah habis buat beli baju
sama dipinjam
Doni yang enggak dikembaliin.”
Dina : “Sudah tenang, nanti aku bayarin deh.”
Bakti : “Nanti aku ganti deh.”
Dina : “Enggak perlu kamu ganti Ti.”
Bakti : “Makasih Din.”
Darto : “Aku enggak sekalian kamu bayarin Din.”
(dengan nada tertawa)
Dina : “Iya, kamu sekalin deh.”
Darto : “Bercanda Din.”
Dina : “Sudah enggak apa-apa. Sekali-kali
ntraktir pengawalku sehari-hari.”
Darto : “Makasih Dina.”
Setelah itu merekapun pergi makan mie ayam dan kembali berteman kembali setelah sebelumnya sempat renggang.
~Tamat~
Biografi Penulis
Prayoga Adi Purna, ia dilahirkan di
kota kecil di selatan Jawa Timur yaitu Blitar pada tanggal 11 Desember 1998.
Sekarang ia sedang menempuh pendidikan di Universitas Negeri Malang pada
program studi S1 Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah, Jurusan Sastra
Indonesia. Sebelum menempuh pendidikan di UM, ia menempuh pendidikan di SMPN 1
Blitar dan SMAN 1 Blitar.
Ia juga menyukai fotografi dan
olahraga terutama sepak bola dan basket. Selain itu, dirinya juga memiliki
hobby membaca terutama yang berkaitan dengan dunia sejarah. Dengan belajar
sejarah, kita dapat menambah ilmu pengetahuan berdasarkan apa yang terjadi di
masa lampau. Untuk mengisi waktu senggangnya, terkadang dihabiskan untuk
mendengarkan podcast yang berkaitan dengan hobbynya.
Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi