NASKAH DRAMA: MERINDUKAN FAJAR
Merindukan
Fajar
Karya: Defi Permatasari
TOKOH:
1. IBU
2. BAPAK
3. MUZAMMIR
4. SAMIT
5. PAK
USTADZ
Di sebuah desa yang bernama Desa Telisir, terdapat
seorang pemuda tampan bernama Muzammir yang sangat taat sekali dengan agamanya.
Setiap adzan subuh berkumandang dia segera bergegas pergi ke surau yang tidak
jauh dari rumahnya, kemudian dia mengambil wudhu’ pada kendi-kendi yang
terdapat di dekat sumber mata air yang berada di samping suaraunya.
ADEGAN
1
(Adzan
subuh berkumandang) di sudut
panggung terdapat seorang pemuda yang sedang berbaring di atas tempat tidur,
lampu perlahan menyala dan menyorotinya.
Muzammir :
(mendengar sayup-sayup suara adzan, dia bergegas bangun dari tempat tidurnya.
Mengambil sarung yang masih terlipat dengan rapi di meja kamarnya dan kemudian
pergi ke surau untuk mengambil wudhu’ dan melaksanakan sholat subuh)
Muzammir :
Assalamualaikum Warohmatullah (menoleh ke kanan), Assalamualikum Warohmatulloh
(menoleh ke kiri) setalah salam selesai Muzammir berzikir dan menengadahkan
kedua tangan untuk berdoa.
Pak Ustad :
(setelah selesai melaksanakan sholat subuh, pak ustad mengahmpiri Muzammir dan
menegurnya) Muzammir, kenapa beberapa
hari ini kamu jarang terlihat sholat di masjid?
Muzammir :
eh pak ustad (sambil melempar senyum, menghampiri pak ustad dan bersalam
dengannya) beberapa hari ini saya
sedikit tidak enak badan ustad.
Pak Ustad :
loh kamu sakit to le? (sambil memegang pundak Muzammir) sakit apa to?
Muzammir :
nggeh ustad (sambil tersenyum dan menganggukkan kepala) Cuma sakit panas saja
Ustad dan agak sedikit pusing kalau dibuat berdiri, maka saya beberapa hari ini
tidak bisa ikut sholat berjamaah di masjid.
Pak Ustad :
kamu kecapekan itu, terlalu banyak bekerja. Ingat kesehatan juga penting le
Muzammir
: nggeh ustad..
(keduanya beranjak keluar dari surau. Percakapan
mereka dilanjutkan di depan surau)
Pak Ustad :
masih sibuk garap sawahnya Pak Bejo?
Muzammir :
masih ustad, tapi sekarang juga harus bantu bapak di pasar.
Pak Ustad :
loh lah ibukmu kemana le? (dengan mengerutkan dahi)
Muzammir :
sakit ustad, sudah empat hari ini terbaring di tempat tidur.
Pak Ustad :
looo looo looo, sudah di periksakan apa belum?
Muzammir :
belum Ustad, ibu tidak mau pergi ke puskesmas, katanya sayang uangnya kalau dibuat untuk periksa, lebih baik
di kumpulkan untuk membayar hutang kepada Pak Prabu.
( sadar kalau hari sudah semakin pagi, Muzammir
pamit ke pak ustad untuk segera bergegas pulang ke rumah) pak ustad, saya pamit
pulang ke rumah dulu nggeh. Mau bantu bapak di pasar (sambil tersenyum)
Pak Ustad :
eh iyaa le, sudah pagi (sambil melihat sekitar) salam sama ibuk yo le. Semoga
cepet sembuh.
Muzammir :
nggeh ustad, terima kasih. Assalamualaikum (sambil mencium tangan pak ustad)
Pak Ustad :
Waalaikumsalam….
ADEGAN
2
KETIKA PULANG DARI MASJID, DI DEPAN PINTU RUMAH
SEWAKTU MUZAMMIR INGIN MENGUCAP SALAM TERDENGAR SUARA BATUK IBUNYA DARI DALAM
RUMAH. MUZAMMIR SEGERA MEMBUKA PINTU RUMAH DENGAN RASA CEMAS.
Ibu :
Hukkkk…..hukkkk.hukkkkkkk…….hukkkkk
Muzammir :
Buk… (terdengar suara batuk-batuk dari kamar ibunya, Muzammir segera bergegas
menghampirinya dengan cemas)
Ibu :
Hukkkk…..hukkkk.hukkkkkkk…….hukkkkk (sambil memegangi dadanya dengan kesakitan
di atas tempat tidur) ambilkan ibuk minum le (dengan suara serak)
Muzammir :
(bergegas ke dapur mengambilkan segelas air putih untuk ibunya)
Ibu :
Hukkkk…..hukkkk.hukkkkkkk…….hukkkkk (bangun dari ranjang)
Hukkkk…..hukkkk.hukkkkkkk…….hukkkkk ( memegangi dada dengan rasa kesakitan lalu
memuntahkan dara)
Muzammir :
astaqfirulloh (kaget) buk (berteriak sambil bergegas menghampiri ibunya) buk..
ibuk….bukk (sambil mengguncang-guncang tubuh ibunya)
LAMPU MEREDUP SECARA PERLAHAN DENGAN DIIRINGI ALUNAN
MUSIK
ADEGAN
3
SORE HARI KEADAAN RUMAH MUZAMMIR BEGITU HENING,
BAPAK TIBA DARI PASAR DENGAN MEMBAWA BEBERAPA BARANG DAGANGANNYA. SETELAH
SAMPAI DI DEPAN RUMAH BAPAK MELETAKKAN BARANG DAGANGANNYA DI SISI KIRI TERAS
RUMAH. TERDENGAR SUARA KETUKAN PINTU DARI LUAR.
Bapak :
Assalamualaikum (membuka pintu rumah)
Muzammir :
Waalaikumsalam ( duduk di ruang tamu dengan muka cemas)
Bapak :
Ibuk kemana Mir? Bagaimana keadaannya sekarang, sudah membaik?
Muzammir :
Tadi pagi ibuk habis pingsan lagi pak (terlihat sangat sedih) dan…..
Bapak :
Dan opo leee (cemas)
Muzammir :
Ibuk muntah dara pak…..
Bapak :
Ya Allah… (seluruh tubuh terasa lemas dan sangat sedih)
Muzammir :
Apa ndak sebaiknya kita bawa ibu ke rumah sakit saja Pak?
Samit : Assalamualaikum (membuka pintu
rumah ) ada apa to kok mukanya murung begitu ( mencium tangan Bapak)
Muzammir :
Ibuk sakitnya semakin parah mas
Samit :
Loh kok bisa? (kaget) apa ibuk masih bersih keras tidak mau dibawa ke rumah
sakit?
Muzammir :
Iya mas
Samit :
Dimana ibu sekarang Mir? Di kamar?
Muzammir :
Iya mas sedang tidur
Samit :
(samit bergegas menghampiri ibu yang sedang tidur di kamar)
Muzammir :
Gimana ini Pak? Semakin hari melihat keadaan Ibu yang terus menurus semakin gak
tega Pak lihatnya (murung)
Bapak :
Gimana le Bapak juga bingung (dengan wajah yang murung dan merunduk)
Muzammir :
Ya allah gusti, berilah kemudahan untuk setiap cobaan yang kau berikan ya Rabb.
SEMENTARA MUZAMMIR DAN BAPAK SEDANG BERGELUT DENGAN
PIKIRAN MEREKA MASING-MASING. SAMIT MENGHAMPIRI IBUNYA YANG SEDANG TERBARING
TIDAK BERDAYA DI KAMAR.
Ibu :
Sudah pulang le? (dengan tubuh yang lemas dan wajah yang pucat)
Samit :
Buk (mencium tangan Ibu) apa ibuk gak ingin cepet sembuh?
Ibu :
Mana ada orang yang suka diberi penyakit seperti ini. Ibu juga ingin sembuh le
(muka sedih meratapi kehidupan)
Samit :
Lah kalau begitu kenapa ibu gak mau pergi ke rumah sakit? Mau sampek kapan
seperti ini terus buk (melihat wajah ibunya)
Ibu :
Uang dari mana le untuk pergi ke rumah sakit. Keluarga kita saja hidup
pas-pasan. Ibu gak mau merepotkan Bapak mu kasian dia.
Samit :
Sudahlah buk gak perlu mikir uangnya dari mana yang penting ibu sembuh dulu.
Uang bisa di cari buk
Ibu :
Biaya berobat di rumah sakit itu mahal le, Ibuk tidak mau.
Samit :
Ibuk ini kok ya keras kepala sekali. Katanya mau sembuh. Gimana to buk? (dengan
nada geram)
SAMIT MENINGGALKAN KAMAR IBUNYA. LAMPU PERLAHAN MULAI MEREDUP MENYOROTI IBU DENGAN
IRINGAN MUSIK. SUARA ISAK TANGIS IBU SESEKALI MASIH TERDENGAR
ADEGAN
4
SAMIT SEDANG DUDUK DI RUANG TAMU MEREKA SAMBIL
MEMBACA KORAN. MUZAMMIR DATANG
MENGHAMPIRI SAMIT DENGAN MEMBAWA SEBUAH UNDANGAN
Muzammir :
Ini mas ada undangan dari Pak Rt (sambil menyodorkan undangan)
Samit :
Undangan apa Mir? (meletakkan Koran)
Muzammir :
Ada kumpul warga untuk agenda gotong royong minggu depan mas
Samit :
Gimana Mir, Ibuk sudah mau kau bujuk untuk pergi ke rumah sakit?
Muzammir :
Masih tetap sama mas, Ibuk masih bersikeras tidak mau
Samit :
Kalau seperti itu Ibuk semakin menambah beban semua orang. Katanya gak mau
membebani tetapi sikapnya seperti itu.
Muzammir
:Mas! (membentak )
Samit :
Kamu kok membantak aku Mir. Benerkan yang aku bilang (dengan mata melotot ke
Muzammir) kalau saja kita terlahir dari keluarga kaya pergi berobat gak akan
sesusah ini (marah)
BAPAK SEDANG BERADA DI DAPUR UNTUK MEMBUATKAN THE
IBU. MENDENGAR ANAKNYA BERKATA SEPERTI ITU, BAPAK LANGSUNG MENGHAMPIRI SAMIT
DAN MUZAMMIR YANG SEDANG BERADA DI RUANG TAMU.
Bapak :
Jaga bicaramu Mit, siapa yang mengajarimu menjadi anak yang kurang ajar seperti
itu (melotot sambil melihat ke arah Samit) Bapak dan Ibu tidak pernah
mendidikmu seperti itu!
Samit :
(beranjak dari tempat duduk sambil berjalan kea rah depan panggung) iya, memang
Bapak dan Ibu tidak pernah mengajariku menjadi seperti ini, tapi buat apa Pak
kita mengasihani orang yang keras kepala seperti Ibuk (berbicara dengan nada
meninggi) hidup kita sudah susah Pak ditambah lagi dengan keadaan Ibuk yang
seperti itu semakin membuat kita susah saja.
Bapak :
SAMITTTTTTT!!!!!!!!!!! (beranjak dari tempat duduk dan ingin menampar samit)
Ibuk :
Jangan Pak (memegang tubuh bapak) sudah Pak sudah… isthiqfar Pak (sambil
menangis dan sesekali batuk-batuk)
Muzammir :
Keterlaluan kamu mas jaga bicaramu, mereka berdua ini orang tua kita mas yang
membesarkan kita berdua.
Samit :
Iya mereka memang orang tua kita yang membesarkan kita dalam kemiskinan. Orang
tua yang mengajarkan kita hidup serba pas-pasan. Bapak dan Ibu hanya
mengajarkan kita untuk terus bersyukur, hahaha memangnya dengan terus bersyukur
Tuhan akan memberikan kita kehidupan yang lebih layak dari ini?! Lihat keadaan
Ibu sekarang, dengan terus bersyukur Ibu justru diberi penyakit seperti ini
oleh Tuhan. Inikah hasil dari rasa bersyukur itu?
Muzammir :
Mas, cukup! (marah dan membentak)
Samit :
Mir! (membentak) lihat kehidupan kita sekarang, dari dulu sampai sekarang sama
saja tidak ada yang berubah sedikitpun kita tetap berada dalam jurang
kemiskinan. Tidak maukah kamu merasakan kehidupan yang lebih baik dari ini
Mir?!
Muzammir :
Tidak semua kehidupan yang menurutmu baik itu memang benar-benar baik Mas,
semua pasti mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Jangan terlena
dengan kehidupan duniawi yang hanya sesaat Mas!
Samit :
Hahaha….. memang kelebihan kita sebagai orang miskin apa Mir? Lebih bersyukur?
Apa yang mau disyukuri dengan keadaan ini?
Muzammir :
Mas…( membentak)
Ibu :
Sudah cukup (membentak ) Mas mu benar le, kita memang keluarga miskin maka dari
itu Ibu selalu menolak untuk pergi ke rumah sakit. Uang dari mana yang akan
digunakan untuk berobat (sambil terisak dan terbatu-batuk)
Bapak :
Buk, ibuk tidak apa-apa (sambil memegang pundak ibuk dan dengan wajah yang
terlihat cemas)
Muzammir :
Pak, bawa Ibu ke kamar saja. Kasian Ibu Pak butuh istirahat.
(Bapak membawa Ibu masuk ke dalam bilik kamar,
sambil masih terdengar suara batuk-batuk dari ibu yang perlahan menghilang)
Muzammir :
Lihat Mas, lihat apa yang kamu lakukan. Mereka itu orang tua kita mas, tidak
pantas kamu berbicara seperti itu di depan mereka. Pergi mas, pergi dari rumah
ini silahkan cari kehidupan yang kamu inginkan mas.
Samit :
Sudah berani kamu mengusir Mas mu sendiri Mir?! Baik, aku akan pergi dari rumah
ini. Aku juga sudah lelah semua ini.
SAMIT PERGI KE KAMARNYA UNTUK MENGEMASI
BARANG-BARANGNYA, IRINGAN MUSIK PERLAHAN MULAI TERDENGAR. SAMIT PERGI
MENINGGALKAN RUMAH.
BIOGRAFI
Rasa
cintanya terhadap kesenian dan kebudayaan Indonesia membuat penulis memilih
melanjutkan kuliah di jurusan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Malang.
Menurut penulis dalam dunia seni memiliki banyak petualangan yang sangat
menarik untuk dipelajari selain itu, kebudayaan juga memiliki daya tarik
tersendiri dalam hidupnya. Dunia seni peran menarik hatinya untuk terjun
kedalamnya, maka dari itu penulis juga ikut aktif dalam Unit Kegiatan Mahasiswa
Teater Hampa Indonesia sejak tahun 2015 untuk mengasah kemampuan berorganisasi
dan juga menjajal kemampuannya dalam dunia seni peran. Dari kegemarannya
tersebut yang membawanya sering keluar kota untuk kegiatan berkesenian dan
bertemu dengan orang-orang ternama.
Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi