NASKAH DRAMA BANYAK SUAMI, BANYAK ANAK, TETAPI TIDAK BANYAK REZEKI

NASKAH DRAMA BANYAK SUAMI, BANYAK ANAK, TETAPI TIDAK BANYAK REZEKI
Oleh
Ersita Noor Mahliga

Drama Persona :
·         Indra                                       : Pendiam, pekerja keras, nakal, dan keras kepala
·         Nenek Rusmi                          : Penyayang dan penyabar
·         Retno (Ibu Indra)                    : Pemarah, keras kepala, dan pemalas
·         Pak Anam (Ayah tiri Indra)    : pekerja keras dan penyabar
·         Riko (Adik tiri Indra)              : nakal
·         Bu Yuyun                                 : pemarah, jahat
Tyas                                           : penurut



Nenek Rusmi menyulam bajunya di teras rumah
Nenek Rusmi  : “Ini lubangnya yang terlalu kecil atau mataku yang sudah rusak” (bergumam sambil mencoba memasukkan benang ke jarum jahit)
Indra               : “Makanya Nek pake kacamata biar kelihatan” (sahut Indra dari dalam rumah)
Nenek Rusmi  : “Mau makan aja susah kok mau pake kacamata. Jangan aneh-aneh kamu kalo ngomong”
Indra               : “Memang serba salah jadi orang miskin, pengen pake kacamata saja harus mikirin makan. Sudah miskin, kebanyakan mikir lagi” (jawab Indra mengambil benang dan jarum dari tangan Nenek Rusmi)
Nenek Rusmi  : “Lah daripada buat beli kacamata bukannya lebih baik buat makan? Makanya kamu kalo jadi anak itu yang bener. Biar kalo mau apa-apa gak kebanyakan mikir”
Indra               : “Belum sampe beli ini itu paling sudah mati duluan aku, karena kebanyakan mikir. Memang kalau mau jadi orang bener harus miskin dulu ya, Nek? (tanya Indra)
Nenek Rusmi  : “Ibaratnya anak kalo mau jadi orang kan harus bayi dulu. Dari belum bisa apa-apa sampai bisa berjalan, berlari. Sama seperti nomor, kalau mau ke angka 10 harus 0 dulu, lalu 1, 2,3. Kita, kalau mau jadi orang yang kaya harus miskin dulu” (jawab Nenek Rusmi)
Indra               : “lah Nenek dari bayi sampai sekarang miskin terus. Kapan kayanya? Masa dari dulu Nenek 0 terus” (kata Indra sedikit bercanda)
Nenek Rusmi  : “berarti nanti tugas kamu harus bikin Nenek jadi kaya” (jawab Nek Rusmi)
Di dapur Nenek Rusmi menyiapkan makan malam
Indra               : “wah bau minyak jelantahnya enak sekali” (kata Indra keluar dari kamar)
Nenek Rusmi  : “mau pake minyak yang baru juga gak punya duit. Ada minyak ini saja sudah bisa makan kok” (jawab Nenek Rusmi sambil menggoreng tempe)
Indra               : “itu minyak udah berapa kali dipake, Nek? Warnanya kok gak jauh beda sama clurit itu”
Nenek Rusmi  : “hus! Jangan bilang gitu. Sudah makan sana” (jawab Nenek Rusmi dengan sedikit membentak)
Selesai makan malam, Indra membenahi rantai sepedanya yang lepas
Nenek Rusmi  : “kenapa lagi sepedahmu?” (tanya Nenek Rusmi)
Indra               : “biasa Nek. Minta dielus-elus”
Nenek Rusmi  : “setiap hari kok minta dielus-elus” (kata Nenek Rusmi)
Indra               : “mungkin tidak pernah dimanja sama juragannya dulu”
Nenek Rusmi  : “memang orang kaya seperti itu. Kalau sudah rusak dikasih ke yang miskin” (kata Nenek Rusmi sedikit jengkel)
Indra               : “Tidak apa-apa, Nek. Kalau tidak ada sepeda ini mana bisa Indra merumput”
Nenek Rusmi : “kamu tidak belajar?” (tanya Nenek Rusmi)
Indra                : “tidak, Nek” (jawab Indra yang masih membentulkan sepedanya)
Nenek Rusmi  : “kalau sudah merasa pintar tidak usah sekolah saja. Belajar tidak mau, besok kamu mau jadi apa?” (protes Nenek Rusmi)
Indra               : “mau buat Nenek kaya lah. Kan kata nenek yang penting jadi orang bener, bukan orang pintar” (kata Indra sedikit tersenyum)
Nenek Rusmi  : “orang bener itu ya harus pinter, Ndra” (tegas Nenek Rusmi)
Indra               : “tidak, Nek. Banyak orang pinter tapi gak bener” (sangkal Indra)
Nenek Rusmi  : “sok tau kamu”
Indra               : “buktinya anggota DPR banyak orang pinternya tapi jadi pencuri” (jelas Indra)
Nenek Rusmi  : “pencuri? Mana ada anggota DPR jadi pencuri”
Indra               : “pencuri uang rakyat, Nek. Kan mencuri bukan perbuatan bener. Berarti mereka pinter tapi gak bener kan?” (kata Indra)
Nenek Rusmi  : “bener juga kamu. Ya sudah kamu tidak usah sekolah, belajar ngaji saja biar gak jadi anggota DPR.”
Indra               : “tapi Nek. Kalo ngaji sore Indra kan gak bisa. Indra harus merumput. Kalau gak merumput nanti kita gak bisa makan tempe” (ucap Indra sambil merengek)
Nenek Rusmi  : “kamu ini bisa saja ngelesnya. Gak! Memangnya nenek ini bodoh. Merumputnya setelah ngaji!” (tegas Nenek Rusmi)
Indra               : “iya iya Nek” (jawab Indra)
Indra pun membereskan sepedanya dan tidur
Keesokan harinya, Indra bersiap akan pergi ke sekolah
Indra               : (membuka tudung saji yang kosong di dapur) “wah menu hari ini enak sekali” (ucap Indra sambil menyindir Nenek Rusmi)
Nenek Rusmi  : “masih pagi jangan sarapan dulu. Nanti siang saja”
Indra               : “iya, Nek. Mana mungkin aku sarapan. Dari dulu kan sarapanku selalu digabung dengan makan siang” (menutup tudung saji)
Nenek Rusmi  : “sudah hafal kenapa masih saja menyindir Nenek. Ya sudah apa yang di meja saja itu kamu makan”
Indra               : “lah kan tidak ada apa-apa Nek”
Nenek Rusmi  : “katamu tadi ada makanan enak, ya itu angin di meja itu kamu buat sarapan”
Indra               : “hahaha Nenek ini nglawaknya pinter juga. Kenapa gak ikut Sule Nek?”
Nenek Rusmi  : “banyak tanya kamu. Sana cepat berangkat” (suruh Nenek)
Indra               : “iya, Nek” (kata Indra sambil menali sepatu bututnya)
Nenek Rusmi  : “kalau sekolah jangan pinter-pinter, nanti jadi DPR. Yang biasa-biasa saja”
Indra               : “lagian Nek kalo aku pinter mana mungkin jadi DPR. Aku kan miskin. Sepatu saja jebol-jebol mana bisa jadi DPR”
Nenek Rusmi  : “iya siapa tahu. Pokoknya yang paling penting kamu harus pinter ngaji. Belajar agama. Gak papa gak bisa matematika yang penting kamu bisa alif ba ta” (tutur Nenek pada Indra)
Indra               : “siap, Nek. Aku berangkat Nek. Assalamualaikum” (mencium tangan Nenek)
Nenek Rusmi  : “iya, walaikumsalam”
Sebelum Indra berangkat, tiba-tiba datang seorang wanita dewasa bersama dengan anak kecil dan seorang pria
Retno              : “Assalamualaikum, Bu”
Nenek Rusmi  : “Walaikumsalam” (memandangi wanita itu)
Retno              : “Ini Retno, Bu” (mencium tangan Nenek Rusmi)
Nenek Rusmi  : “astaga Retno. Ya Allah apa kabar kamu?” (jerit Nenek Rusmi sambil memeluk Retno)
Retno              : “baik, Bu”
Sedangkan Indra masih mengamati mereka berdua
Nenek Rusmi  : “ini ibumu, Ndra”
Indra               : “apa aku punya ibu, Nek?”
Retno              : “Indra, maafin Ibu ya, Nak” (menangis memeluk Indra)
Indra               : “aku tidak punya ibu! Ibuku ya Nenek!” (mencoba melepaskan pelukan Retno)
Retno              : “ibu tahu. Kamu sebenarnya juga merindukan ibu kan?”
Indra               : (mulai berkaca-kaca) “apakah ini benar Ibu?”
Retno              : “iya, Nak”
Merekapun berpelukan dan menangis
Indra               : “lalu ini siapa, Bu?” (tanya Indra menunjuk anak kecil yang digandeng ibunya)
Retno              : “ini Riko adikmu”
Indra               : “lalu apa ini Ayah?” (menunjuk seorang pria di belakang ibunya)
Retno              : “iya ini calon Ayahmu”
Indra               : “bagaimana bisa aku sudah sebesar ini masih mempunyai calon Ayah?”
Retno              : “Ayahmu tidak akan kembali, Nak. Dia yang akan merawat kita nanti. Dia Pak Anam”
Pak Anam       : “Indra, ini calon Ayahmu” (mengulurkan tangan pada Indra)
Indra               : “Anda bukan Ayahku!” (bentak Indra)
Retno              : “Indra, Ayah kandungmu tidak akan kembali lagi. Pak Anam adalah Ayahmu nantinya yang akan merawatmu” (kata Retno)
Indra                : (menyalami Pak Anam) “baiklah kalau begitu”
Nenek Rusmi  : “Indra cepat kamu berangkat. Sudah hampir siang”
Retno              : “apa kamu sudah sarapan?”
Nenek Rusmi  : “Indra tidak pernah sarapan”
Retno              : (menangis sambil mengeluarkan roti dari tasnya) “ini buat bekal di sekolah”
Indra               : “terima kasih Bu” (mengambil roti yang diberikan ibunya) “tapi aku tidak mau menerima dia menjadi ayahku!” (teriak Indra sambil menunjuk Pak Anam)
Retno              : “kamu apa tidak kasihan melihat Ibu yang harus membiayai kamu sekolah dan juga harus merawat nenek?”
Indra               : “kalau Ibu merantau untuk mencari uang, mana uangnya? Kenapa yang dibawa pulang malah laki-laki?”
Retno              : (menampar Indra) “kenapa kamu jadi kurang ajar!? Apa ini hasil didikan Ibu?” (menoleh ke arah Nek Rusmi)
Nenek Rusmi  : “kalau gak mau anakmu jadi kurang ajar ya didik sendiri! Apa kamu tahu kenapa anakmu begitu? Apa kamu tanya sama dia kenapa dia jadi seperti itu dengan ibu kandungnya sendiri?”
Retno              : “Ya, aku memang salah Bu. Tapi aku juga berhak bahagia dan menentukan hidupku!”
Nenek Rusmi  : “kamu memang berhak atas itu semua tapi kamu tidak berhak untuk menampar anakmu!”
Retno              : “ maafkan aku, Bu. Aku salah. Aku pamit pergi untuk mencari nafkah, namun ternyata aku hanya membawa masalah” (berlutut sambil menangis pada ibunya)
Nenek Rusmi  : “aku ini pernah jadi Ibu. Meskipun aku miskin aku tidak pernah meninggalkan anak-anakku. Makan tidak makan anakku harus tetap berada di rangkulanku”
Indra               : “kalau Ibu masih mau menikahi dia aku akan pergi!” (menunjuk ke arah Pak Anam)
Pak Anam       : “Indra, Bapak janji akan berusaha mencari nafkah agar kamu seperti teman-teman yang lain”
Indra               : “memang Anda pikir aku tidak seperti teman-temanku? Memang Anda tahu bagaimana aku ataupun teman-temanku?”
Pak Anam       : “bukan begitu Indra, tapi pernikahan Ibumu adalah jalan terbaik agar permasalahan dapat terselesaikan”
Indra               : “masalah apa? Masalah yang bawa itu Anda! Selama Anda dan Ibu belum datang di rumah ini tidak pernah ada permasalahan!”
Retno              : “Indra! Kamu kalo ngomong sama orang tua jangan kurang ajar ya!”
Indra               : “dia bukan orang tua Indra!”
Riko                : “Yah, takut” (merengek pada Pak Anam)
Indra               : “heh diam kamu!” (membentak Riko)
Riko                : (menangis dan digendong oleh Pak Anam)
Nenek Rusmi  : “sudah mulai siang, Ndra. Cepat kamu pergi ke sekolah saja”
Indra               : “aku tidak akan pergi ke sekolah kalau orang ini tidak pergi dari rumah ini!” (menunjuk Pak Anam)
Retno              : “Indra! Kamu di sekolah apa tidak diajarkan sopan santun?” (membentak Indra)
Nenek Rusmi  : “kamu mau nyalahin gurunya Indra kalau mereka gak ngajarin sopan santun? Kenapa kamu gak nyalahin diri kamu sendiri yang seharusnya ngajarin sopan santun?
Indra               : brak! (menggebrak meja dan memecahkan vas bunga di meja) “aku sudah muak!”
Indra pergi meninggalkan rumah. Ia berjalan menuju kota dengan membawa baju yang ia pakai dan sandal yang sudah tipis alasnya. Ketika di tengah perjalanan ia merasa lelah, tak terasa ia tertidur di salah satu toko yang sepertinya baru saja tutup
Lelaki tua        : “Nak, bangun” (membangunkan Indra yang tertidur pulas)
Indra               : (membuka matanya dan mengernyitkan dahi sambil memandangi lelaki tua yang membangunkannya) “oh iya, Pak” (dia segera bangkit dari tidurnya)
Lelaki tua        : “siapa namamu? Dari mana kamu, Nak?” (tanya lelaki tua itu sambil duduk di sebelah Indra)
Indra               : “nama saya Indra, Pak. Saya dari desa sebelah”
Lelaki tua        : “lalu kamu mau ke mana? Ini sudah hampir larut”
Indra               : “saya kabur dari rumah, Pak. Saya kesal dengan ibu saya”
Lelaki tua        : “sepertinya kamu belum ingin menceritakan apa yang baru saja terjadi”
Indra               : “apakah Bapak pemilik toko ini?”
Lelaki tua        : “iya, Nak.”
Indra               : “maafkan saya Pak. Saya tidur sembarangan di sini”
Lelaki tua        : “tidak apa-apa. Apa kamu sudah makan?”
Indra               : “belum, Pak”
Lelaki tua        : “Bapak lapar, ada soto enak di perempatan sana” (menunjuk ke arah jalan)
Indra               : “tidak perlu, Pak. Sehabis ini saya mau melajutkan perjalanan”
Lelaki tua        : “bukankah berjalan juga butuh tenaga? Ayo kita makan!” (menggandeng tangan Indra menuju soto di perempatan)
Indra tidak bisa menolak karena lelaki tua itu memaksanya, dan ia juga merasa lapar.
Lelaki tua        : (bersendawa) “Alhamdulillah”
Indra               : “terima kasih banyak, Pak”
Lelaki tua        : “kamu ikut ke rumah Bapak saja”
Indra               : “tidak, Pak saya mau melanjutkan perjalanan”
Lelaki tua        : “cuaca sedang tidak baik, kondisimu juga tidak baik”
Indra               : “tidak apa-apa, Pak. Saya sudah biasa seperti ini”
Lelaki tua        : “tidak biasa bagi seorang anak seperti kamu yang bisa kabur dari rumah. Saya juga punya anak. Jadi saya tau apa yang seharusnya dilakukan untuk anak seperti kamu, Nak”
Indra               : “Bapak tidak tahu apa yang terjadi”
Lelaki tua        : “tanpa kamu cerita Bapak sudah tahu. Apa ibu kamu membawa laki-laki baru di rumah? Atau dia tidak pulang bersama ayahmu?”
Indra               : “bagaimana Bapak bisa tahu?”
Lelaki tua        : “apa yang kamu rasakan, Bapak pernah merasakannya”
Indra               : “lalu apa yang Bapak lakukan?”
Lelaku tua       : “ya sama seperti kamu”
Indra               : “kabur dari rumah?”
Lelaki tua        : “iya. Tapi mungkin bedanya kamu jalan, Saya naik truk. Jadi lebih berkelas”
Indra               : “memang Bapak kabur karena apa?”
Lelaki tua        : “karena orang tua. Ayah membawa pulang wanita lain”
Indra               : “wah bagaimana bisa, Pak?”
Lelaki tua        : “kalau dia masih ada, pasti akan menjawab bahwa istrinya tidak lagi seksi”
Indra               : “maksud Bapak?”
Lelaki tua        : “sulitnya menjadi lelaki setia ketika sudah mendapatkan segalanya. Saya kemudian kabur bersama truk pengangkut sapi. Saya turun di pasar bantu-bantu juragan sapi. Orang tua saya tinggal. Mereka hidup atau tidak saya tidak peduli”
Indra               : “lalu bagaimana dengan Ibu, Pak?”
Lelaki tua        : “setelah saya berhasil mendirikan toko yang tadi kamu pakai untuk tidur, saya menjemput ibu saya. Dia masih hidup sedangkan ayah saya dan wanita mudanya telah meninggal karena kecelakaan”
Indra               : “saya ingin menjemput nenek saya, Pak”
Lelaki tua        : “jangan sekarang. Ibumu masih ingin merawatnya. Beri sedikit waktu”
Indra               : “sampai kapan, Pak?”
Lelaki tua        : “sampai kamu bisa menjemputnya dengan mobilmu sendiri.”
Indra               : “kapan, Pak? Sedangkan sekarang saya gelandangan”
Setelah lama berbincang. Akhirnya Indra mau untuk diajak tinggal di rumah lelaki tua itu.
Keesokan harinya, Indra sarapan bersama lelaki tua itu dan istrinya
Indra               : “alhamdulillah. Terima kasih banyak, Pak” (mengelap mulutnya)
Lelaki tua        : “sama-sama. Habis ini apa yang kamu rencanakan?”
Indra               : “saya mau melanjutkan perjalanan saya”
Lelaki tua        : “lalu ketika sudah sampai kota kamu mau ngapain?”
Indra               : “mencari kerja, Pak”
Lelaki tua        : “kenapa kamu tidak kerja di sini saja?”
Indra               : “di mana, Pak?”
Lelaki tua        : “di toko bangunan yang kamu pake tidur kemarin”
Indra               : “maaf, Pak. Saya sepertinya tidak bisa. Karena daerah sini masih belum terlalu jauh. Saya takut jika nanti ada saudara yang bertemu dan mengajak saya pulang”
Lelaki tua        : “tidak akan pernah terjadi. Aku bisa menjamin. Orang-orang di desamu jarang pergi ke sini untuk membeli peralatan bangunan.”
Indra               : “baik, Pak. Saya mau bekerja di sini Pak”
Indra menerima pekerjaan yag ditawarkan oleh lelaki tua itu. Di rumah itu, lelaki tua itu ditemani istrinya, dan dua pembantu suami istri. Di kamar yang terletak di pos satpam depan rumah terdapat seorang laki-laki yang belum terlalu tua. Dia adalah penjaga rumah lelaki tua itu, ia bernama Pak Adi
Indra               : “selamat pagi, Pak” (sapa Indra)
Pak Adi           : “iya, Dek. Kamu anak yang kemarin dibawa sama Pak Hans ya?”
Indra               : “iya, Pak.”
Pak Adi           : “asal kamu dari mana?”
Indra               : “desa sebelah, Pak”
Setelah berbulan-bulan Indra bekerja di toko itu. Ia mendapatkan gaji yang cukup untuk membelikan beras untuk neneknya. Ia memutuskan untuk pulang.
Indra               : “Pak, bolehkah saya pulang?”
Lelaki tua        : “saya menunggu kamu untuk bertanya ini, Nak”
Indra               : “kenapa, Pak?”
Lelaki tua        : “ternyata kamu anak yang benar-benar penuh kasih sayang. Pulanglah. Nenekmu pasti merindukanmu”
Indra               : “iya, Pak. Saya sangat merindukan nenek saya”
Indrapun pulang ke rumah dengan membawa beberapa bahan sembako untuk neneknya.
Indra               : “Assalamualaikum” (ucap Indra di depan pintu rumah yang tertutup)
Nenek Rusmi  : “Walaikumsalam” (membuka pintu) “astaga Indra” (terkejut dan memeluk Indra)
Retno              : “siapa, Bu?” (berjalan menuju pintu rumah)
Nenek Rusmi  : “kamu apa kabar, Ndra?” (menangis memeluk Indra)
Retno              : “Indra!”
Indra               : “jangan ikut memelukku!” (bentak Indra kepada Retno)
Nenek Rusmi  : “apa kamu sudah makan?” (tanya Nek Rusmi melepaskan pelukan Indra)
Indra               : “aku tidak makan karena ingin menyantap sambal kecap buatan Nenek”
Retno              : “ayo, makan dulu Ndra”
Indra               : “tidak usah berbicara kepadaku!”
Retno              : “Ibu minta maaf, Ndra” (menangis memegang tangan Indra)
Indra               : “untuk apa?”
Retno               : “ibu tidak memahami perasaan kamu”
Indra               : “sudah tidak penting itu sekarang”
Riko                : “Bu, Riko mau makan sama ayam” (keluar dari dalam rumah sambil membawa piring)
Indra               : “heh anak kecil! Aku saja tidak pernah makan telur, apalagi ayam. Sekarang kamu di sini bisa-bisanya makan ayam!”
Retno              : “ ya itu karena ayahmu bekerja keras, Ndra”
Indra               : “ayahku? Ayahku yang mana?”
Retno              : “sudahlah, Ibu capek ngomong sama kamu!”
Indra               : “memang ada yang nyuruh Ibu ngomong sam aku?”
Nenek Rusmi  : “sudah Indra, ayo makan” (mengajak Indra makan)
Indra               : “Nenek sudah makan?”
Nenek Rusmi  : “sudah, tadi pagi”
Indra               : “yang katanya mau merawat Nenek apa kabar? Kok Nenek masih makan satu kali” (ucap Indra mengeraskan suara bermaksud menyindir Retno)
Nenek Rusmi  : “Nenek nunggu kamu pulang biar bisa makan bareng kamu, Ndra”
Retno              : “itu ayam tinggal satu buat Anam ya, Bu”
Nenek Rusmi  : “makan tu ayam! Perut suamimu memang lebih penting daripada perutku”
Indra               : “oh, jadi ternyata begitu ya Nek yang katanya mau merawat Nenek malah lebih mentingin perut laki-laki yang gak jelas asal usulnya”
Retno              : “jaga mulut kamu ya, Ndra. Pak Anam itu yang cari duit buat makan. Ya wajar dong kalo dia makan enak”
Indra               : “rumah ini kan rumah Nenek. Ya waja juga dong kalo Nenek harus makan enak”
Nenek Rusmi  : “sudah Indra. Biar Nenek gorengin telur buat kamu”
Indra               : “tidak usah, Nek. Aku membawa makanan lebih enak daripada ayam ini.” (membuka bingkisan dari tasnya)
Nenek Rusmi  : “ini makanan impian Nenek, Ndra” (mengambil ikan gurami goreng dari bingkisan itu)
Indra               : “iya, Nek. Maaf ya Indra baru bisa beli sekarang”
Nenek Rusmi  : “terima kasih ya, Ndra”
Retno              : “kamu dapet dari mana, Ndra?”
Indra               : “beli lah!”
Retno              : “memang kamu punya uang?”
Indra               : “memang suami Ibu saja yang punya duit? Aku juga bisa cari duit”
Retno              : “kamu dapet kerjaan di mana?”
Indra               : “kenapa? Ibu mau belain aku sekarang karena aku punya uang lebih banyak dari suami Ibu?”
Retno              : “bukan begitu, Ndra”
Indra               : “nih, ayamnya, ntar keburu nggak enak” (memberikan ayam kepada Riko)
Retno              : “kamu kerja di mana Ndra?”
Indra               : “kenapa Ibu ingin tahu? Pasti Ibu mau menyuruhku untuk mengajak suami Ibu kan untuk bekerja di tempatku”
Retno              : “kan itu semua demi kebaikan kita semua”
Indra               : “bukan, kita. Tapi Ibu sama Riko!”
Retno              : “maksud kamu?”
Indra               : “apa Ibu pernah berpikir kesehatan Nenek? Nenek saja baru makan sekali dan suami Ibu mungkin sudah dua kali”
Retno tidak bisa menjawab pertanyaan Indra.
Indra               : “kenapa Ibu diam saja?”
Retno              : “maafkan Ibu Ndra”
Indra               : “minta maaf sama nenek. Bukan denganku!”
Retno              : “tapi Ibu juga punya salah sama kamu, Ndra”
Indra               : “sebelum aku pergi meninggalkan rumah, kenapa tidak minta maaf? Sekarang aku sudah bisa mendapatkan uang baru diperlakukan seperti raja”
Retno              : “bukan seperti itu, Ndra. Saat itu ibu sedang bingung.”
Indra               : “bingung apa? Bingung mencari alasan agar aku bisa pergi?”
Retno              : “ bukan seperti itu, Ndra. Tolon pahami kondisi Ibu”
Indra               : “tidak.ibu saja seenaknya datang membawa laki-laki tidak jelas asal-usulnya tanpa memikirkan perasaanku dan nenek”
Retno              : “lalu apa yang kamu mau Ndra?”
Indra               : “ibu pergi lagi. Pulang harus bisa membeli sebidang tanah untukku dan nenek”
Retno              : “kamu gila? Kamu kira uang tinggal metik dari pohon?”
Indra               : “bukankah itu lebih mudah untuk Ibu? Tinggal mencari bos batubara kan bisa”
Retno              : (menampar Indra) “kurang ajar kamu!”
Nenek Rusmi  : “diam kalian! Rumah ini sudah sempit jangan semakin berisik!”
Retno membanting piring  plastik dan menuju kamar.
Riko                : “ibu kenapa?”
Retno              : “tidak apa-apa, Nak” (menangis terisak-isak)
Riko                : “Bu, ayo pulang saja”
Retno              : “jangan. Kita harus bisa lebih kuat dari mereka”
Riko                : “kalo Ibu kuat kenapa Ibu menangis?”
Retno              : “menangis bukan tanda lemah, Nak”
Riko                : “ibu jangan nangis”
Retno              : (mengusap air matanya) “iya, Nak”
Sementara itu, Indra dan Rusmi berbincang di ruang tamu.
Nenek Rusmi  : “begitulah manusia. Ketika sudah berbau uang akan dikejar sampai mati”
Indra               : “siapa maksud Nenek? Nenek menyinggungku, ya?
Nenek Rusmi  : “apa kamu merasa seperti itu?”
Indra               : “tidak, Nek. Hanya saja sekarang aku merasa diperbudak oleh uang”
Nenek Rusmi  : “berarti lebih parah dari hanya mengejar”
Indra               : “apakah seperti itu Nek?”
Nenek Rusmi  : “tumben Anam belum pulang”
Indra               : “memangnya ke mana?”
Nenek Rusmi  : “bekerja sedari pagi”
Indra               : “apakah dia benar-benar baik, Nek?”
Nenek Rusmi  : “semua orang baik tidak ada satupun yang buruk. Terkadang dia buruk karena perlakuan kita”
Indra               : “apa aku terlalu jahat, Nek?”
Nenek Rusmi  : “kamu seperti itu karena ada alasan dan itu wajar. Itu kenapa nenek tidak melerai pertengkaranmu dengan ibumu. Karena kalian sama-sama tidak benar”
Indra               : “jadi itu Nenek memilih diam?”
Nenek Rusmi  : “iya. Nenek tidak menyalahkan kamu sebagai anak piatu yang telah lama ditinggalkan seorang ibu dan ketika datang ibumu malah seperti itu. Begitupun juga ibumu. Dia hanya ingin pendamping di hidupnya”
Indra               : “apa selama aku pergi Nenek pernah diperlakukan semena-mena?”
Nenek Rusmi  : “tidak Ndra”
Indra               : “lalu?”
Nenek Rusmi  : “dia lelaki baik. Hanya kehadirannya memang sedang tidak diharapkan”
Indra               : “apakah makanan Nenek diambil oleh orang itu?”
Nenek Rusmi  : “ayam yang kamu perdebatkan itu adalah milik Nenek. Anam selalu menyisakannya untuk Nenek. Namun, Nenek malas jika malam-malam harus mendengar teriakan ibumu yang mengira ayam itu diambil kucing”
Indra               : “jadi sebenarnya siapa yang jahat?”
Nenek Rusmi  : “tidak ada orang jahat, mereka seperti itu karena keadaan Ndra. Coba saja kalau kita tidak miskin, apa mungkin kita berdebat hanya masalah ayam?”
Indra               : “berarti salah siapa jika kita miskin Nek?”
Nenek Rusmi  : “salah kakekmu”
Indra               : “kenapa salah kakek?”
Nenek Rusmi  : “karena kakekmu tidak bekerja keras sewaktu muda”
Indra               : “kenapa Nenek tidak ikut membantu bekerja untuk dapat uang banyak?”
Nenek Rusmi  : “pekerjaan Nenek lebih berat daripada kakekmu. Nenek harus mengurus anak, mengurus keperluan rumah.”
Indra               : “berarti Nenek sudah menjadi orang sukses”
Nenek Rusmi  : “sukses apanya? Rumah numpang, listrik juga dapat dari bantuan kok sukses”
Indra               : “karena Nenek sudah berhasil menjadi ibu dan istri yang baik”
Nenek Rusmi  : “tau dari mana kamu?”
Indra               : “Nenek barusan bilang. Tugas Nenek mengurus anak dan keperluan rumah”
Nenek Rusmi  : “lalu?”
Indra               : “penilaian Tuhan dan manusia memang beda Nek. Penilaian  manusia tidak begitu penting, yang penting penilaian Tuhan”
Nenek Rusmi  : “itu adalah omongan orang miskin”
Indra               : “miskin di mata manusia juga belum tentu miskin di mata Tuhan”
Nenek Rusmi  : “dapat petuah dari mana?”
Indra               : “dari bapak-bapak tua Nek”
Nenek Rusmi  : “Nenek tidak akan menanyakan itu siapa. Tapi nenek selalu berdoa kamu selalu dikelilingi orang-orang baik yang bisa menolong kamu”
Indra               : “berarti itu adalah salah satu doa Nenek. Uang yang kubuat beli Ikan Gurameh tadi adalah hasil kerja kerasku Nek. Tidak banyak memang, setidaknya mengabulkan impian Nenek”
Nenek Rusmi  : “Nenek tidak akan bertanya kamu kerja apa. Tapi nenek yakin kamu pasti tidak akan melakukan perbuatan buruk hanya demi uang”
Indra               : “pasti, Nek. Itu karena Nenek yang mendidikku untuk lebih mengutamakan belajar ngaji daripada belajar di sekolah”
Nenek Rusmi  : “kamu semakin dewasa Ndra”
Indra               : “Nenek juga tidak memarahi Indra jika tidak mendapat juara. Tapi Nenek selalu marah jika Indra tidak mengaji”
Nenek Rusmi  : “di manapun kamu hidup yang paling utama adalah akhlak. Akhlak tidak dapat dibeli dan dimiliki semua orang”
Di tengah perbincangan di teras rumah itu, terdengar suara mobil yang kemudian berhenti di depan rumah.
Indra               : “siapa itu Nek?”
Nenek Rusmi  : “tumben ada mobil yang berhenti di depan rumah kita”
Indra               : “apa jangan-jangan dari tim bedah rumah, Nek?” (sambil tertawa kecil)
Nenek Rusmi  : “mana mungkin Ndra”
Terlihat seorang wanita muda dan tua yang mengenakan baju necis turun dari mobil.
Ibu Yuyun       : “apa benar ini rumahnya Retno?” (bertanya sambil memasang wajah menjengkelkan)
Nenek Rusmi  : “bukan!”
Ibu Yuyun       : “jangan bohong!”
Nenek Rusmi  : “memang tidak bohong. Ini rumah suami saya, Retno tidak punya rumah!”
Ibu Yuyun       : “berarti Anda ibunya Retno?”
Nenek Rusmi  : “ya! Ada apa?”
Ibu Yuyun       : “tidak salah. Ibunya saja seperti ini ya pasti anaknya juga tidak jauh beda”
Nenek Rusmi  : “apa maksudmu? Tamu gak diundang dateng-dateng bikin orang jengkel”
Ibu Yuyun       : “Retno anakmu itu yang mengundang saya datang ke sini”
Nenek Rusmi  : “maksudmu apa?”
Ibu Yuyun       : “di mana Retno menyembunyikan Anam?”
Nenek Rusmi  : “apa hubungan kamu dengan Anam?”
Ibu Yuyun       : “saya Yuyun ibu mertua Anam!”
Nenek Rusmi  : “apa? Bagaimana bisa?”
Ibu Yuyun       : “kenapa tidak bisa? Retno anakmu itu wanita tidak tahu diri! Membawa pulang suami orang”
Nenek Rusmi  : “apa kamu bilang?”
Ibu Yuyun       : “ini istri sahnya Anam. Anam pergi ke kalimantan, dia tidak mengabari jika sudah pulang. Ternyata dia tinggal di kandang ayam!”
Nenek Rusmi  : “enak aja kalo ngomong. Saya tidak tahu anda dan tidak ingin tahu. Pergi dari sini sekarang!”
Sementara itu Retno dan Riko keluar dari kamar.
Retno              : “mohon maaf Anda siapa?” (kebingungan menatap wajah Bu Yuyun)
Ibu Yuyun       : “nah ini biang keroknya! Di mana Anam? Saya ibunya!”
Retno              : “mas Anam sedang keluar Bu”
Ibu Yuyun       : “dasar wanita tidak tahu diri. Pelacur kamu!”
Nenek Rusmi  : (menampar Bu Yuyun) “jangan asal kalau ngomong!”
Ibu Yuyun       : “memang begitu kenyataannya. Lalu apa bahasa yang lebih halus yang kerjanya membawa pulang suami orang?”
Terdengar suara motor milik Anam. Anam terkejut dengan kedatangan ibu dan istrinya.
Anam              : “Ibu”
Ibu Yuyun       : “kamu habis dari mana?”
Tyas                 : “mas Anam!” (berlari memeluk Anam)
Anam              : “Ibu ngapain di sini?”
Ibu Yuyun       : “bodoh sekali kamu! Ya jelas bawa kamu pulang”
Tyas                 : “aku rindu Mas”
Anam              : “aku tidka mau pulang! Di sini aku mendapatkan ketenangan. Meskipun ibu menyuruhku pulang aku tidak akan pulang!” (melepaskan tangan Tyas)
Ibu Yuyun       : “lalu kamu mau apa di sini?
Anam              : “aku lelah ketika ibu membandingkan dengan Tyas. Aku hanya buruh dan Tyas seorang dokter. Aku harus merantau ke sana ke sini untuk mendapatkan uang, Tyas hanya duduk saja uang sudah datang. Aku lelah menjadi perbincangan orang! Memang seharusnya aku tidak menikah dengan Tyas.”
Ibu Yuyun       : “kamu ini tidak tahu diri. Sudah syukur kamu aku restui menikah dengan Tyas. Padahal kamu tahu banyak dokter dan pengusaha yang mengantri ingin mendapatkan Tyas”
Anam              : “Ibu merestui karena memang Ibu butuh pembantu, bukan suami untuk Tyas”
Tyas                 : “Mas” (menangis memegangi tangan Anam)
Ibu Yuyun       : “kamu duit tidak punya, mobil apalagi masih mau menanyakan kenapa aku mesrestui kamu sama Tyas?”
Anam              : “saya laki-laki Bu. Saya tidak terima jika harga diri saya diinjak-injak oleh Ibu”
Ibu Yuyun       : “pilihan terakhir. Kamu ikut pulang atau rumah pelacurmu ini aku bakar?”
Anam              : “Ibu sangat keterlaluan!”
Ibu Yuyun       : “kau lebih keterlaluan. Lebih memilih tinggal di kandang ayam daripada di istana”
Anam              : “istana tapi seperti neraka di dalamnya”
Ibu Yuyun       : “apa kamu bilang?”
Anam              : “baik, aku ikut Ibu pulang. Tapi aku pulang untuk bercerai dengan Tyas!”
Tyas                 : “Mas jangan seperti itu” (menangis)
Nenek Rusmi  : “pulang saja kalian! Jangan berisik di sini. Rumahku tidak cukup menampung keributan kalian!”
Akhirnya Anam mengikuti perinta ibu mertuanya untuk pulang. Indra, Retno, Riko, dan Nenek Rusmi  kembali tinggal bersama tanpa keributan. Namun tetap dengan keluhan tentang kemiskinan. Indra memutuskan putus sekolah dan bekerja di toko laki-laki tua yang menolongnya.
BIOGRAFI PENULIS


Nama               : Ersita Noor Mahliga
TTL                 : Banyuwangi 12 Februari 2000
Agama             : Islam
Status              : Mahasiswi
E-mail              : mersyta5@gmail.com

 







Ersita Noor Mahliga lahir di Banyuwangi tepat pada tanggal 12 Februari 2000. Mahasiswi Universitas Negeri Malang dengan program studi S1 Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah. Selain sibuk kuliah, ia juga mengajar les privat mata pelajaran bahasa Indonesia di salah satu lembaga bimbingan belajar di Kota Malang. Selain itu, ia juga mengikuti salah satu program yang diselenggarakan oleh Kantor Hubungan Internasional UM, yaitu Program Internship dan bekerja pada Divisi Keimigrasian. Sebelumnya, ia juga mengikuti UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) di kampus, yaitu UKM Blero dan UKM Bulu Tangkis. Mahasiswi yang sedang menempuh semester lima ini memiliki hobi memasak. Ia juga suka mendengarkan musik dari berbagai genre.
Anak terakhir dari tiga bersaudara ini lulusan dari SDN 8 Grajagan Kec. Purwoharjo Kab. Banyuwangi pada tahun 2011, kemudian melanjutkan di SMP Negeri 4 Banyuwangi dan lulus pada tahun 2014. Setelah itu melanjutkan di SMA Negeri 1 Tegaldlimo dan lulus pada tahun 2017.










Comments

Popular posts from this blog

NASKAH DRAMA ANAK YANG DURHAKA

ULANG TAHUN

Drama ANAK-ANAK TK