NASKAH DRAMA ANAKKU BUKAN ANAKKU
ANAKKU BUKAN ANAKKU!
Oleh:
Selviana Rahayu
PELAKU:
1. Ara, gadis pondokan anak kyai di kampung
2.
Emak,
istri pak kyai di kampung
3.
Abah,
kyai di kampung
4.
Bu
Enggar, tetangga 1
5.
Bu
Marni, tetangga 2
6.
Mbok,
pemilik warung
7.
Maryono,
ketua preman
8.
Simon,
asisten preman
9.
Karnadi,
sesepuh kampung
10. Mbak Iin, pembantu di rumah Abah
___________________________
PANGGUNG
MENGGAMBARKAN SEBUAH RUANGAN DALAM DARI SEBUAH RUANG TAMU, DI SEBELAH KANAN
TERDAPAT SATU SET SOFA BERWARNA ABU-ABU TUA. ARA MASUK RUMAH MENYERET KOPER
BIRU BERMOTIF DAUN DAN MENENTENG SATU TAS KECIL. ARA DISAMBUT ABAH DAN EMAK
DARI RUANG TENGAH.
ADEGAN 1
Ara : “Assalamualaikum, Abah Emak. Ara kangen”
(mencium tangan abah dan emak)
Abah : “Waalaikumsalam nak” (mengelus kepala)
Emak : (memeluk
putrinya) “Emak juga kangen, masuk nak”
Ara : (mengikuti
emak) “Sudah lama ndak pulang, 5
tahun ya Mak”
Emak
: “Iya nduk, akhirnya pulang juga”
Abah : “Aku tak berangkat dulu ke masjid, sudah
ditunggu” (menuju pintu)
TELPON (berbunyi)
Emak : (memandang
telpon) “angkat Nak”
Ara : (menuju
telpon) “Halo, Abah sudah berangkat Pak. Akan saya sampaikan. Nggeh, sama- sama”
ADEGAN 2
DI WARUNG MBOK,
ADA DUA ORANG IBU RUMAH TANGGA YANG SIBUK BELANJA. DUA ORANG BERWAJAH SEPERTI PREMAN SEDANG
NGOPI SAMBIL MAIN CATUR.
Bu
Enggar : (memandang Bu Marni) “Ngerti
ndak Bu? Anak gadisnya Abah sudah
balik”.
Bu
Marni : “Oh anak gadis yang cantik tadi
itu anaknya Abah, pantas saja kelihatannya sopan”
Mbok
: “Ara namanya. Cantik sekarang, tapi sayang sekali belum ada yang
menikahi“
Bu
Enggar : “Hus, ngawurmu Mbok, masih muda juga dia“
Mbok : “Juga
sudah umurnya nikah to? “
Bu
Marni : “Iyo juga Mbok, bener sampean“
Simon : “Sopo to Mbak? Anake Abah sing ndi“
Bu
Enggar : “Ndak perlu tau, bahaya mon“
(tertawa)
Maryono : “Anak perempuannya Herman yang kau
maksud? Sudah gede memang“
Mbok
: (sewot) “Jangan aneh-aneh
kamu! “
Maryono : (tertawa)
SUASANA
KEMBALI TENANG, BU ENGGAR DAN BU MARNI KELUAR DARI PANGGUNG.
Simon : “Siapa Bos yang tadi menjadi
gosipan ibu-ibu? “
Maryono : “Anaknya Herman, kawan lamaku“
Simon : “Siapakah dia, di kampung ini
semua ku kenali. Apa dia lelaki kampung seberang? Tak ada seorang pun bernama
Herman disini“
Maryono : “Kau saja yang goblok“
Simon : “Benar tak ada Bos“
Maryono : “Lelaki sok suci yang semua orang
memanggil Abah itu adalah Herman“
Simon : “Oh Abah yang rumahnya di ujung
jalan ini“
Maryono : “Lelaki tak punya otak tak usah
disebut Abah“ (meludah)
Simon : (diam)
Mbok : “Lapo kok emosi? “ (melihat ke
arah Maryono)
Maryono : (memalingkan
wajah)
Simon : “Ndakpapa Mbok, tambah kopi hitam satu Mbok“
Mbok : “Yoo, hari ini jangan ngebon Mon“
Simon : “Tidak, aku punya uang“
Mbok : “Dapat banyak nyopetnya? “
Simon : “Lagi sepi, satu dompet saja“
Maryono : “Mbok, ingat ndak, Herman menikah tahun berapa? “
Mbok : “Kalau ndak salah ingat, ketika Bapakmu masih menggarap sawah milik
Bapaknya. Ketika kau masih di kota, ketika kau masih menjadi pemuda yang baik“
Maryono : (menatap
si Mbok) “Kau ingat betul rupanya“
Mbok : “Sekitar tahun 91-an, ketika
aku masih sehat dan jalanku masih seperti bintang film“
Simon : “Memang kau dulu bintang film
Mbok? “
Mbok : “Yo ndak Mon, bodo mesti“
Simon : “Piye to maksude? “ (bingung)
MARYONO TERTAWA
ADEGAN 3
DI
DESA DEKAT HUTAN INI, SETIAP TANGGAL 18 HITUNGAN JAWA. SELALU ADA SELAMETAN
UNTUK DESA SETEMPAT. DALAM SELAMETAN SELALU ADA SEBUAH PERTUNJUKAN GAMELAN DAN
WAYANG KULIT YANG DIMAINKAN OLEH WARGA DESA SENDIRI
PANGGUNG
MENGGAMBARKAN KONDISI RUANG TAMU, ABAH DAN EMAK SEDANG DUDUK DAN ARA DARI DAPUR
MEMBUATKAN DUA CANGKIR MINUMAN
Abah :
“Rame ya Mak, warga sudah mulai sibuk mempersiapkan acara“
Emak :
“Nggeh, kampung kita ndak seperti kampung mati lagi“ (sambil tersenyum)
ARA DATANG DARI ARAH BELAKANG
Ara :
“Ini teh hangatnya Mak, Bah“
Emak :
“Terimakasih putriku yang cantik“
Abah :
(tersenyum)
Ara :
(berjalan ke arah jendela, mengintip ke
arah luar) “Kok rame di luar, sedang ada apa? “
Abah :
“Mau ada selametan“
Ara :
“Selametan yang ada gamelan dan wayang? “
Emak :
“Ya nduk, sudah lama ndak lihat kan? “
Ara :
“Iya Mak, sejak aku berangkat mondok
7 tahun lalu, sudah lupa juga bagaimana acara itu“ (tertawa)
Abah :
“Banyak yang berubah nduk acaranya,
ingin lihat? “
Ara :
“Nggeh pengen Bah, kapan to acaranya?
“
Emak :
“Acaranya besok nduk, besok lihat
dengan mbak Iin“
Ara :
“Lho, Abah dan Emak ndak pingin lihat? “
Abah :
“Emak dan Abah sudah bosan nduk“
Emak :
“Kami di rumah saja, menonton televisi“
SUARA
ADZAN ASHAR BERKUMANDANG, ABAH BERDIRI DARI SOFA MENUJU BELAKANG, HENDAK
MENGAMBIL WUDHU DAN BERGEGAS KE MASJID. EMAK BERDIRI MEMBAWA GELAS TEH YANG
KOSONG MENUJU DAPUR. MBAK IIN MASUK.
Ara :
“Mbak In, besok lihat selametan ya“
Mbak Iin :
“Sudah bosan mbak, setiap tahun aku selalu melihat bersama teman-teman ngajiku“
Ara :
“Aku sudah tujuh tahun mbak tidak pernah melihatnya lagi, ayolah mbak kancanono“
Mbak Iin :
“Nggeh mbak, besok jam 4 sore kita berangkat“
Ara :
“Nggeh Mbak, sampean baik sekali“ (memeluk mbak Iin)
ADEGAN 4
SORE
HARI DI DEPAN RUMAH ABAH, MBAK IIN DAN ARA BERSIAP MENUJU TEMPAT SELAMETAN
DENGAN BERJALAN KAKI LAPANGAN UJUNG
KAMPUNG.
Abah :
“Jangan pulang terlalu larut nduk“
Emak :
“Hati-hati ya nduk“
ARA
DAN MBAK IIN MENGANGGUK, DAN MENCIUM TANGAN ABAH DAN EMAK.
SAMPAI
DI LAPANGAN UJUNG KAMPUNG. BANYAK ORANG DUDUK DI TANAH MELIHAT KE ARAH GAMELAN
YANG SEDANG DIMAINKAN, BEBERAPA ORANG MENGERUMUNI PEDAGANG MAKANAN. MARYONO DAN
SIMON TAMPAK DUDUK DI DEKAT SALAH SATU PEMAIN GAMELAN DAN MENGAMATI KEADAAN.
MELIHAT GERAK-GERIK WARGA BERSIAP UNTUK MENGAMBIL DOMPET SALAH SATU WARGA.
Simon :
“Disitu ada ibu-ibu yang rumahnya hijau besar itu Bos“
Maryono :
“Dompetnya tebal“
Simon :
“Pasti dong, sampai-sampai tak cukup tangannya untuk menggenggam“
Maryono :
“Saat dia lengah, ambil dompetnya“
Simon :
“Siap Bos, sedang ku awasi“
Maryono :
“Jangan kau yang lengah“
Simon :
“Nggeh“
Maryono :
“Aku tak melipir dulu, nyari yang
lain“
Simon :
“Siap Bos“
DARI
TAMPAK DEPAN PANGGUNG, DUA ORANG SEDANG SIBUK MENONTON PERTUNJUKAN GAMELAN,
MARYONO MENANGKAP DAN MENGAWASI SEPASANG
MATA YANG AMAT BULAT SEMPURNA, MIRIP DENGAN MATA YANG TELAH LAMA TAK
DITATAPNYA. WANITA ITU SANGAT ASYIK MENONTON PERTUNJUKAN.
Maryono :
(dalam hati) “mata itu.. telah lama tak bersua bersamanya.. sepasang matamu
Sri... kau.. disini.. “ (terbata-bata)
MARYONO KEMBALI TERSADAR ATAS LAMUNANNYA.
Maryono :
“Tidak boleh lengah, dia mangsaku. Mengapa aku berfokus pada mata, bukan pada
dompet... Hmmmmh“
MARYONO MELANGKAH MENDEKATI ARA DAN MBAK IIN,
MARYONO BARU TERSADAR BAHWA GADIS ITU ANAK DARI MUSUH BEBUYUTANNYA. MARYONO
MENAHAN GERAM, MARYONO MENAHAN AMARAH.
Maryono :
(mendekat) “Gadis cantik, siapa
namamu?? “
Ara :
(diam)
Mbak Iin :
(memalingkan wajah)
Maryono :
(tertawa) “kau sama seperti ibumu“
Ara :
“Maaf Pak, apa maksudmu? “
Maryono :
“Yaa.. Kau sama seperti Sri, kembang desa tahun 90-an. Pandai melirik membuat semua orang tertarik“
Ara :
“Maaf Pak, saya sedang melihat pertunjukan gamelan, mohon jangan mengganggu“
Maryono :
“Sri.. Sri.. Kau juga masih Sri.. Sangat cinta dengan gamelan, coba tanya ibumu
apa ia tidak ingat menonton gamelan di
ujung desa kecamatan ini. “
Ara :
(diam)
Maryono :
“Jika kamu nduk arek ayu sampai
rumah, tanyakan pada ibumu, masih ingat pada Maryono tidak? “
Ara :
(melangkah pergi, merasa terganggu)
Maryono :
(dalam hati) “ia sama sepertimu Sri,
aku merindukanmu.. “
PERTUNJUKAN
GAMELAN BELUM SELESAI, ARA DAN MBAK IIN BERGEGAS PULANG KARENA MERASA TERGANGGU
DENGAN SIKAP MARYONO PADA ARA. ARA PULANG DENGAN SEGUDANG TANYA, MENGAPA LELAKI
ITU SEPERTI SANGAT MENGERTI APAPUN TENTANG IBUNYA. ARA BERTANYA-TANYA DALAM
HATI, APA YANG DULU SEBENARNYA TERJADI.
ADEGAN 5
ARA SAMPAI DI
RUMAH DENGAN WAJAH KESAL, DIIKUTI DENGAN MBAK IIN DIBELAKANGNYA YANG MERASA
TIDAK TAHU APAPUN.
Ara : “Aku sangat kesal mbak,
mengapa orang yang tadi menyapa sangat mengganggu.” (murung)
Mbak
Iin : ”Ya mau bagaimana lagi,
orangnya memang seperti itu”
Ara : “Mengapa ya, bapak itu
seperti sangat mengenal emak?”
Mbak
Iin : (terdiam)
EMAK
KELUAR DARI DALAM KAMAR
Emak : “Kokya sudah pulang, bukannya
masih seru menonton?”
Ara : “Tidak jadi seru, ada yang
mengganggu”
Emak : “Siapa yang berani mengganggu
anak emak yang cantik ini?”
Ara : “Bapak-bapak begitu, tidak
kenal”
Emak : “Memangnya siapa In?” (menoleh ke mbak iin)
Mbak
Iin : “Pak Maryono”
Emak : (terdiam, dan kaget)
Ara : “Emak kenal? Beliau seperti
sangat mengenalmu”
Emak : “Ya..i..yaa.. Kenal, dulu teman
masa kecil”
Ara : “Pantas saja, ia tau bahwa
emak juga suka menonton pertunjukan sama denganku”
Emak :”Ya memang, dulu pernah menonton
bersamanya”
Ara : “Apa dia sudah menikah Mak?
Anaknya juga sebaya denganku?”
Emak : “Belum nduk..” (bingung)
Ara : “Mengapa emak terlihat
bingung?”
Emak : “Tidak apa, cepatlah bersiap sholat
di mushola, maghrib hampir tiba” (memalingkan
wajah)
Ara : (berjalan menuju kamar)
ADZAN MAGHRIB TERDENGAR DARI MASJID YANG SEDIKIT
JAUH DARI RUMAH. ARA BERSIAP PERGI KE MASJID.
Ara : “Mak, ara ingin pergi ke
masjid, sudah lama tak kesana”
Emak : “Mengapa tidak ke mushola saja? Lebih dekat”
Ara : “Tidak apa-apa, sedang ingin
ke masjid saja”
Emak : “Mbak iin tidak ikut?”
Ara : “Mbak Iin sedang libur, aku
berangkat ya, assalamualaikum” (mencium
tangan)
Emak : “Waalaikumsalam nduk hati-hati”
ARA
MEMANG KE MASJID SHOLAT MAGHRIB DAN JUGA MELANJUTKAN SHOLAT ISYA. PUKUL 8
MALAM, ARA BERJALAN SENDIRIAN DARI MASJID KE RUMAH YANG JARAKNYA CUKUP JAUH
DENGAN KAMPUNG YANG SUDAH SANGAT SEPI. ARA BERJALAN SENDIRI, TIBA-TIBA ADA DUA
ORANG YANG MENGIKUTI, MEMAKAI TOPENG BERWARNA PUTIH.
Ara :
“Siapa kalian, jangan ganggu saya, pergi” (berlari)
ARA
DIKEJAR, ARA MEMBERONTAK DAN MENANGIS, ARA BERTERIAK NAMUN TIDAK ADA ORANG LAIN
SELAIN DUA ORANG YANG MENGGANGGUNYA. ARA DI SERET MENUJU KEBUN, DITIDURKAN DI
SEBUAH PONDOK YANG HAMPIR ROBOH.
ARA
MENANGIS, MENJERIT, TERNODAI. TAK ADA SEORANGPUN YANG AKAN MENOLONGNYA.
ADEGAN 6
ARA
TIDAK PULANG SEMALAM, DICARI KELILING KAMPUNG TAK ADA SEORANGPUN YANG
MENEMUKANNYA. SAJADAH MERAH YANG DIBAWANYA YANG SATU-SATUNYA DITEMUKAN.
Abah :
“piye Mak? Dicari kemana lagi anakku”
Emak :
“Ndaktau lagi Bah. Kita pasrahkan
pada Allah saja” (menangis)
TAMPAK
DARI LUAR, WARGA MEMBOPONG ARA DENGAN MASIH MEMAKAI MUKENAH. ARA DIBAWA PULANG,
DENGAN MATA SEMBAB TERLIHAT HABIS MENANGIS. ARA TERLIHAT SANGAT KETAKUTAN.
DENGAN KONDISI WAJAH DENGAN BANYAK DEBU YANG MENEMPEL PADA PARASNYA. EMAK
MENANGIS MELIHAT PUTRINYA DITEMUKAN DENGAN KONDISI DEMIKIAN.
Abah :
“Nduk, istighfar” (dengan cemas)
Emak :
(menangis)
Ara :
(menangis)
Abah :
“Nduk, kenapa Ara ndak pulang? Nduk emak abah khawatir”
Ara :
(terdiam, menangis)
Emak :
“Nduk, istirahat dulu, tenangkan
dirimu”
Ara :
“Maafin Ara.....” (menangis)
Abah :
“ Kenapa nduk, abah pasti maafno sampean”
Emak :
“Nduk, Ara anakku sayang, pasti emak
maafin”
Ara :
(menangis)
Emak :
(memeluk Ara)
Abah :
“Cerita nduk kalau bisa, Abah
khawatir”
Ara :
“Semalam Ara ndak pulang, Ara
diseret..” (menangis)
Abah :
“Siapa yang menyeretmu? Jawab Abah. Dibawa kemana nduk?”
Emak :
”Dibawa kemana nduk, cerita sama
Emak..”
Ara :
“Ke kebun dekat masjid..” (menangis)
Abah :
“Siapa yang berani menyeretmu, siapa yang mengganggumu?”
Emak :
“Nduk, jawab abahmu”
Ara :
“Ara ndak ngerti, wajahnya ditutup” (menangis)
Abah :
“Kenapa kamu sampai seperti ini nduk?
Apa yang terluka?”
Ara :
“Aku diperkosa Bah” (tangisnya semakin
menjadi)
EMAK
SEKETIKA MENJATUHKAN DIRINYA DI LANTAI, ABAH LANGSUNG TERDUDUK LUNGLAI KAGET
MENDENGAR APA YANG DIUCAPKAN OLEH ANAK SEMATA WAYANGNYA.
Abah : “Siapa nduk yang berani melakukan hal itu padamu? Kau sama sekali tidak
mengenali wajahnya? Siapa nduk?” (menangis)
Ara :
“Maafkan anakmu ini Bah” (menangis)
Emak :
“Nduk, sabar istighfar” (menangis)
Abah :
“Yaallah anakku, maafkan abah ndak
bisa menjagamu”
Ara :
(menangis)
Emak :
(menangis)
Abah :
“Bagaimana ciri orang keparat itu nduk?”
Ara :
“Aku tak ingat betul Bah” (menangis)
Emak :
“Pakai baju apa dia nduk?
Ara :
“Celana hitam..” (menangis)
Abah :
“Nduk, ingat-ingat lagi”
Ara :
“Yang besar berkaos partai ungu, yang satunya memakai kaos putih bolong” (menangis sesenggukan)
Abah :
“Biadab! Maryono! Kurang ajar!”
Emak :
“Astagfirullah nduk” (menangis)
Ara :
(menangis)
ADEGAN 7
WARUNG
MBOK RAMAI, BANYAK YANG BERBELANJA SAYUR. MARYONO DAN SIMON SEPERTI BIASA,
DUDUK SAMBIL NGOPI. BU ENGGAR DAN BU MARNI SEPERTI BIASA, MEMBICARAKAN GOSIP
TERBARU TENTANG ANAK ABAH YANG SEMALAM TIDAK PULANG.
Bu Enggar :
“Padahal ya anak pondok, kokya pake acara ndak
pulang”
Bu Marni :
“Apa iya, dia di pondok juga minggat
gitu”
Mbok :
“Kata hansip tadi sudah pulang, jangan nggosip terus to”
Bu Enggar :
“Masa iya Mbok? La semalam tidur nandi?”
Bu Marni :
“Laiya, masa iya tidur di masjid, ndak
mungkin ya kan”
Mbok :”Ndak eruh, tidur sama genderuwo mungkin”
Maryono :
“Kokyo ndak dijaga sama bapaknya yang
alim itu”
Bu Enggar :
“Laiya, mungkin sudah kebiasan minggatan
waktu di pondok”
Bu Marni :
“Di taruh pondok ndak pinter tambah
bikin malu”
Mbok :
“Hus ngawurmu yu yu..”
Maryono :
(tertawa)
ABAH DATANG DENGAN WAJAH GERAM, LANGSUNG MENGGEBRAK
MEJA TEMPAT MARYONO DAN SIMON NGOPI. ORANG YANG ADA DI WARUNG MBOK LANGSUNG
MENOLEH KE ARAH ABAH.
Abah :
“Kamu apain anakku, jawab!”
Maryono :
“Apa maksudmu? Gendeng” (sambil minum kopi)
Abah :
“He biadab!” (menumpahkan kopi)
Maryono :
“Kurang ajar! Gendeng ya kamu? Ndak waras kamu?”
Abah :
“Ikut aku sekarang!”
Maryono :
“Buat apa? Ndak ada untungnya ikut
kamu!”
Abah :
“Cepat keparat!”
Maryono :
“Kurang ajar, apa mau mu goblok!”
Abah :
“Kau apa kan anak gadisku!”
Maryono :
“Wajah anakmu saja aku tidak tahu, kau pikir aku pernah bertemu dengannya? Goblok!”
Abah :
“Jangan pura-pura kau keparat!”
Maryono :
“Apa yang kau tuduhkan padaku? Jelas-jelas melihatnya pun tidak pernah”
Abah :
“Jangan banyak alasan!”
ABAH MENYERET MARYONO MENUJU RUMAH. MBOK, BU ENGGAR
DAN BU MARNI YANG TIDAK TAHU SELUK BELUK PERMASALAHANNYA TERHERAN-HERAN MELIHAT
ABAH DENGAN AMARAH YANG MEMBARA.
ABAH, MARYONO DAN SIMON BERADA DI RUANG TAMU.
TERDAPAT ARA DAN EMAK YANG TERUS MENANGIS DI SOFA ABU-ABU TUA. MELIHAT MARYONO
DATANG, ARA MENANGIS DENGAN SANGAT KERAS DI PELUKAN EMAK.
Abah :
“Lihat ulah biadabmu! Kenapa kau sakiti putriku, apa salahku padamu?”
Maryono :
“Mengapa kau tanya begitu? Kau tidak tau kau salah apa?”
Abah :
“Kau dulu kawan baikku, kau dulu tidak begini”
Maryono :
(tertawa)
Abah :
“Kau sakiti putri semata wayangku, belahan jiwaku!”
Maryono :
“Kau memang kawanku, teman baikku, memang benar tapi itu dulu, Herman”
Abah :
“Apa salahku padamu Maryono?”
Maryono :
“Kau tanya apa salahmu padaku? Siapa wanita yang kau nikahi Herman? Jawab aku, siapa
wanita yang kau sebut istri itu? Sri yang aku titipkan, dia belahan jiwaku, aku
bekerja dan ingin menikahinya. Kau kawanku, aku percaya padamu untuk menjaganya
agar dia tak diganggu oleh siapapun! Disini, siapa yang keparat? Kau tak pantas
disebut kawan lama. Biadab!”
Abah :
(terdiam)
Maryono :
“Jawab aku biadab!”
Abah :
“Aku juga mencintainya..”
Maryono :
“Kau mencintainya? Dibelakangku? Teman macam apa dirimu? Sri, belahan jiwaku,
kau dengar suamimu itu?”
EMAK DAN ARA TERUS MENERUS MENANGIS MENDENGAR
PERKATAAN MARYONO. SEMENTARA ABAH HANYA TERDIAM.
Maryono :
“Jawab aku, jangan pura-pura tidak mendengar!”
Abah :
“Aku tahu aku salah untuk itu, apa harus kau balas dendam melalui putriku?”
Maryono :
“Tidak, aku tidak balas dendam, aku sudah berusaha mengikhlaskan Sri-ku
untukmu. Aku melakukan hal itu pada putrimu, karena dia cantik seperti Sri-ku”
(tersenyum memandang ke arah Emak dan Ara)
Abah :
“Salahku di masa lalu, aku memang salah benar-benar salah. Aku memang belum
sempat minta maaf padamu. Maafkan aku. Tapi jangan putriku, kau robohkan
bangunan yang aku bangun dari dulu Maryono” (menangis)
Maryono :
(tertawa)
EMAK MELEPAS PELUKANNYA DARI ARA, EMAK BANGKIT DAN
MENDEKATI MARYONO DAN ABAH.
Emak :
“Aku yang salah, aku memang salah pada kalian” (menangis)
Abah :
“Apa maksudmu?”
Maryono :
“Oh sri, tak perlu menangis, aku sangat tidak tega melihat pipimu basah dengan
air mata itu”
Emak :
“Aku mengiyakan pinangan Herman, karena ku pikir kau tidak akan kembali padaku
Maryono. Kau tak pernah membalas surat yang ku titipkan pada Herman saat kau
berada di rantau” (menangis)
Maryono :
“Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak pernah menerima selembar surat pun darimu
sayang”
Abah : “Karena memang surat itu selalu ku
buang ke kali dekat masjid”
Maryono :
“Kau benar-benar biadab Herman!” (geram)
Emak :
“Sudah jangan bertengkar, tidak ada gunanya!”
Maryono :
“Selama bertahun-tahun rasa sakit ini aku pendam, wanita yang aku cintai dinikahi
oleh sahabatku sendiri”
Emak :
“Lantas, mengapa kau perkosa anakku, mengapa kau sakiti Sri-mu seperti ini,
brengsek!”
Maryono :
(terdiam)
Emak :
“Itu anakmu Maryono, mengapa kau lakukan ini pada darah dagingmu!”
Abah :
“Apa maksudmu Sri? Jelaskan padaku!”
Maryono :
“Apa kau gila!”
Emak :
“Ara memang darah daging Maryono, bukan darah dagingmu. Aku menikah denganmu
dan telah mengandung selama dua bulan. Buah cintaku dengan Maryono”
Abah : “Kurang ajar, pantas saja kau langsung menyetujui pinanganku biadab!”
Abah : “Kurang ajar, pantas saja kau langsung menyetujui pinanganku biadab!”
ABAH MENGELUARKAN PISAU YANG TELAH DISIAPKAN DI SAKU BELAKANG CELANANYA. ABAH MENUSUK MARYONO DAN JUGA MENUSUK ISTRINYA SENDIRI. MARYONO DAN SRI MENGELUARKAN BANYAK DARAH. ARA YANG BERADA DI RUANG TAMU MENGHAMPIRI JASAD IBU DAN BAPAKNYA DAN MENANGIS DENGAN KERAS. SEMENTARA ITU, ABAH MEMOTONG URAT NADI DITANGANNYA, DAN TEWAS SEKETIKA
PROFIL PENULIS

.
Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi