NASKAH DRAMA ASMARADHANA
















ASMARADHANA
oleh Justitia Maulida




















“Ibunya seorang pemaes tersohor, meski demikian ia tak kunjung menikah atau menerima lamaran. Para tetangga dan paes-paes lain bergunjing karena tak ada laki-laki satupun yang mau mempersunting dirinyaTersebar rumor bahwa pandonga pemaes tersebut tak lagi semanjur dulu. Rumor itu berasal dari Sulastri, pemaes lain yang iri dengan karier pemaes tersebut. Kenyataannya, bukannya anak perempuan pemaes itu tidak laku, justru dia sudah menerima banyak lamaran. Namun, anak tersebut selalu merasa tidak cocok dengan laki-laki yang melamarnya atau datang ke rumah mempersuntingnya. Rupanya ia mewarisi bakat ibunya yang bisa melihat atau menerawang watak orang.”

DESKRIPSI TOKOH:
1.      Emak memiliki watak sabar, nrimo, legowo, lemah lembut, dan tidak suka memaksakan kehendak anaknya.
2.      Maimun memiliki watak agak sombong, pintar, terpelajar, mudah lari dari masalah.
3.      Kang Iman memiliki watak sombong, omong besar, suka mempermainkan orang, dan hasratnya terhadap perempuan terlalu berlebihan.
4.      Bapak Gianto (Bapak Kang Iman) memiliki watak “manut” atau menurut dengan kemauan anaknya, tidak banyak bicara.
5.      Ibu Gianto (Ibu Kang Iman) memiliki watak “manut” atau menurut dengan kemauan anaknya, tidak banyak bicara.
6.      Mbak Yumi memiliki watak suka ikut campur urusan orang lain, suka  membicarakan keburukan orang lain, melebih-lebihkan masalah, tidak sabaran, memikirkan diri sendiri.
7.      Mbak Darsi memiliki watak suka ikut campur urusan orang lain, suka  membicarakan keburukan orang lain, melebih-lebihkan masalah, tidak sabaran, terlalu “manut” atau menurut dengan Mbak Yumi.













BABAK 1
KALA ITU PAGI HARI DI RUMAH MAK TUR, SEORANG PEMAES TERSOHOR DI PEDUKUHAN ITU. MAK TUR SIBUK MEMASAK NASI SAMBIL MENGGENDINGKAN TEMBANG ASMARADHANA.
BAGIAN 1
EMAK
(MENYANYIKAN GENDING JAWA)
(ADA SUARA KETUKAN PINTU YANG MEMBURU DAN TERDENGAR TIDAK BERATURAN)
MBAK YUMI
Kulanuwun Mak Tur, Kulanuwun (SUARA RAMAI)
EMAK
Sopo? Sek, sek. ?
PAES B
Kulanuwun, Duh Gusti, kok suwi banget yo?
EMAK
Loh Mbak Yumi, Mbak Darsi? Ada apa pagi-pagi datang kemari? Kelihatannya kok terburu-buru, apa ada copet? (MENENGOK KE LUAR)
MBAK YUMI
(TIBATIBA DUDUK DI RUANG TAMU TANPA IZIN DAN BASA-BASI) Sudah-sudah kita duduk dulu, bicaranya di dalam saja.
MBAK DARSI
Itu pintunya ditutup dulu Mak. Nanti ada yang nguping, bisa gawat.
EMAK
He? Lapo to kok harus ditutup? Emange gawat banget? Apa acara kendurinya putri Pak Saryo diajukan lagi tanggalnya?
MBAK YUMI
Bukan, bukan itu. Ini tentang masa depan kita sebagai paes.
EMAK
Masa depan sing endi to Mbak Darsi? Aku iki wes tuwa, pangarepan kaya opo maneh sing dak jaluk?
MBAK DARSI
Mak Tur boleh tua, tapi kita?
MBAK YUMI
Heh…., Kowe iki. (MEMUKUL LUTUT MBAK YUMI) aku wae sing njelasno.
MBAK YUMI
Emak tahu Sulastri?
EMAK
Sulastri? Sulastri siapa to? Mungkin saja aku sudah terlampau pikun hingga tidak bisa mengingat dengan baik, Yu.
MBAK DARSI
Sulastri itu lho Mak, pendatang baru di kampung kita, yang ngaku kecipratan darah Paes Kesultanan Surakarta.
EMAK
 (HENDAK MENYAHUT)
MBAK YUMI
Halah, dia ngomong gitu karena sudah bergidik duluan mendengar nama Mak Tur yang terkenal seantero kutha. Mana ada paes lain yang bisa menyaingi jampi-jampi dan paesan Mak Tur?
EMAK
Sek sek. Aku kok tambah ora paham. Lalu masalahnya dengan masa depan kita dan Sulastri itu opo?
MBAK YUMI
Dia menyebarkan warta yang tidak-tidak Mak. Perkara Maimun, anak perawanmu.
MBAK YUMI DAN MBAK DARSI
Katanya Maimun kelewat ndak payu, bak kembang desa dia sudah layu, garing, dan terjerembab. Ndak  ada jaka-jaka yang mau meliriknya barang mung sak kedipan mripat, apalagi kawin dan punya keturunan dari Maimun. Sungguh fitnah yang keji, Mak.
EMAK
Oalah, perkara pernikahan Maimun. Dakkiro opo?
MBAK YUMI
Lho lho, Emak itu tenanan ndak paham atau pura-pura ndak tahu?
EMAK
Sek sek, tahu apa to?
MBAK DARSI
Emak ini kan pemaes terkenal Mak, apa kata orang kalau mereka melihat si Maimun, kembang desa, anak pemaes lagi, ndak ada yang mau mempersunting. Mau dikemanakan muka kita, Mak?
EMAK
Dakkiro kuwi ndak ada sangkutpautnya dengan masa depan kita opo maneh Sulastri.
MBAK YUMI
Hoalah, yo mesti ana hubungan e  to Mak, Mak. Orang-orang itu wis mulai rasan-rasan, jangan-jangan pandonga paes-mu wes ndak manjur, ora mandi maneh. Ya, karena mengawinkan anaknya saja ndak bisa kok mau mengawinkan anak orang? Gemblung!
EMAK
Selama iki, aku ngrasa ndak nduwe andil apa-apa. Mereka kemari, aku mung nyoba mbantu saja. Pandonga-ku juga ndak mesti manjur to.
MBAK DARSI
Haduh, aku sampai tak habis pikir karo dalan pikiranmu, Mak! Hah, sudah kita pergi saja, kesel ngomongi Mak Tur, mental!
MBAK YUMI
(BERBISIK LIRIH SAMBIL BERJALAN KE ARAH PINTU) Diberi tahu kok ngeyel, nanti kalau jasanya ndak laku, rasakan sendiri akibatnya.
MBAK DARSI
(BERBISIK LIRIH SAMBIL BERJALAN KE ARAH PINTU) Maklum sudah tua, sudah pikun. Ngawinin anaknya saja ndak bisa.
EMAK
 (MENUTUP PINTU) Eladalah, ana-ana wae.
EMAK
 (MELANJUTKAN MENGGENDANGKAN TEMBANG ASMARADHANA SAMBIL MEMBERSIHKAN AMPAS BERAS)
MAIMUN
Sopo to Mak?
EMAK
Mbak Yumi sama Mbak Darsi.
MAIMUN
Ngomong apa mereka Mak? Kok aku krungu saka kamar, ada yang nyinggung-nyinggung masalah kawin dan kembang desa yang sudah layu bahkan kering dan terpelanting ke jalan. Alegorinya kok terkesan digawe-gawe.
EMAK
Dudu’ terpelanting, Mun. Terjerembab katanya.
MAIMUN
Iyo, kuwi maksudku Mak.
EMAK
Aku kok yo dadi penasaran, kamu kenapa to ndak kawin-kawin?
MAIMUN
Oalah…., mau ungkit-ungkit perkara ini lagi?
EMAK
Piye ndak diungkit-ungkit, saban perjaka yang mampir ke sini, kamu selalu tolak, ora ana haha-hihi’ne, setidaknya kamu beri suguhan dulu, bukan main tudhung begitu kethok ndek ngarep lawang. Padahal sing ngelamar kamu itu ndak satu dua orang, bukan dari sembarang kalangan, titisan bangsawan sampai titisan pendekar dakitung-iitung ana tibak’ e.
MAIMUN
Piye aku iso yakin karo mereka Mak? Mereka itu ndak ada yang waras dakpikir-pikir.
EMAK
Maksudmu? Gendeng kaya tetangga kita yang suka mondar mandir ndak jelas ke kampung sebelah? atau terlahir goblok kaya anak lanang e pak Lurah?
MAIMUN
Bukan, bukan ndak waras kaya ngunu sing dakmaksud Mak... Bujang titisan bangsawan sing koksebut-sebut kuwi…. ternyata dulunya pernah menyuap orang kampung kita, supaya dia iso dadi kandidat bupati di kadipaten.
EMAK
Kalau itu Emak juga sudah tahu, kan kamu yang cerita. Terus, si cucu pendekar itu? pernah menyuap orang kampung juga? atau jangan-jangan membunuh orang?
MAIMUN
Dia bekas preman Mak, ndak punya latarbelakang pendidikan sing setara denganku ini. Mau jadi apa anak-anakku nanti, manut jejak bapak e?
EMAK
Oalah, Gusti. Lah kamu cari sing kaya piye to nduk nduk?
MAIMUN
Ya kaya Bapak. Ndak neko-neko seperti katamu Mak.
EMAK
Kaya-kaya Bapakmu itu laki-laki lurus saja? Ndak ada yang selamanya lurus nduk, nduk. Kamu juga pasti ndak tahu masa lalu Bapakmu to?
MAIMUN
Piye bisa ngerti? Lha wong Emak ndak pernah cerita soal Bapak, yo mesti wae dakpikir keluarga iki dulu adem ayem saja.
EMAK
Gawe opo to nyritakno aib e bapakmu. Lho… sek-sek, iki kok ujug-ujug bahas bapak to? He, nduk sini-sini. (MENARIK TANGAN MAIMUN UNTUK DUDUK DI KURSI) Emak hanya ndak mau kamu jadi bahan gunjingan warga. Opo maneh paes-paes kuwi.
MAIMUN
Emak isin to? Emak kan paes. Aku isih iso mbiayai keluarga iki Mak.
EMAK
Emak ndak isin Mun, kamu yo uwis mandiri, iso nggolek pangan dhewe. Tapi sing diomongne paes-paes itu ada benernya. Kapan kamu nikah?
MAIMUN
Ya…. yen uwis ana jodoh e, pasti ketemu to? Ndak usah dibuat susah Mak Mak.
EMAK
Ini ndak ada kaitan e to karo Jaka dan keluarga ne to?
MAIMUN
Kok ujug-ujug mbahas Jaka, aku kan sudah bilang. Ndak usah nggowo-nggowo jenenge Jaka dan keluarganya lagi!
EMAK
Oalah, yo uwis yen ngunu, Emak budhal maes dhisik yo. Assalamualaikum.
MAIMUN
Waalaikumsalam.
BAGIAN 3
KANG IMAN
Assalamualaikum, Spada
MAIMUN
Waalaikumsalam, sinten?
KANG IMAN
Kang Iman
MAIMUN
Eh, Kang Iman. Ana opo  Kang?
KANG IMAN
Aku tak dipersilahkan masuk dulu begitu?
MAIMUN
Oh iyo, mari-mari. Tapi Emak lagi keluar.
KANG IMAN
Emak masih suka membantu warga yang mau menikah, Mun?
MAIMUN
Masih, masih. Kenapa Kang?
KANG IMAN
Ndak apa-apa, ndak apa-apa. Kalau kamu sendiri masih kerja di kelurahan?
MAIMUN
Tentu masih Kang. Ada apa to Kang? Kok sajak e penting.
KANG IMAN
Begini Mun, aku dengar, kau sedang mencari suami. Aku kenal seorang pemuda yang tampan dan nggak neko-neko, hidupnya lurus, tidak suka dia menggoda wanita bahkan melirik biduan desa ini pun dia tak sanggup, tidak berani. Latar belakang keluarga dan pendidikannya juga setara denganmu.
MAIMUN
Ana laki-laki kaya ngunu?
KANG IMAN
Ya tentu saja ada. Dan mungkin dia ini bisa dibilang satu-satunya laki-laki yang disisakan Tuhan buatmu Mun!
MAIMUN
Opo ana takdir kaya ngunu Kang, Kang?
KANG IMAN
Loh, loh, beneran ini Mun! Kalau kau bersedia, besok bada’ maghrib aku bawa dia kemari, biar kau tahu sendiri.
MAIMUN
Kenapa mesti bada’ maghrib Kang? Ndak bisa sore saja?
KANG IMAN
Kalau sore, tetangga akan lihat, kalau lihat, mereka akan memfitnah yang bukan-bukan. Bukannya apa-apa, aku kasihan dengan Emak Tur, nampaknya sudah kenyang melahap cacian paes-paes kawakan itu.
MAIMUN
Oalah ya wis, terserah Kang Iman saja yen ngunu.
KANG IMAN
Ahhhh, begitu aku suka. Kau dandan saja yang cantik, sisanya kau serahkan padaku.
KANG IMAN
Kalau begitu aku pamit dulu, Assalamualaikum.
MAIMUN
Waalaikumsalam wr.wb.
BAGIAN 4
EMAK
Assalamualaikum
MAIMUN
Waalaikumsalam, piye Mak?
EMAK
Piye apane?
MAIMUN
Ya, kenduri-ne to! Opo maneh?
EMAK
Alhamdulillah lancar. Kata Mbak Darsi, Iman mampir ke sini? Dakkira dia kelewat betah nyambut gawe ndek Majalengka. Tibak e isih eling anak bojone ndek kene. Ana opo Iman ke sini?
MAIMUN
Bawa lamaran katanya.
EMAK
Ha? Lamaran? Lamaran e sopo sing dibawa?
MAIMUN
Katanya dia kenal pemuda lurus sing ndak tau main nakal dengan wanita, latarbelakang pendidikan dan keluarganya kethokane yo apik, cerita Kang Iman sih kedengarannya orang e alim dan thoat. Embuh, kaya piye. Belum jelas, ndak pati nggenah.
EMAK
Terus, terus? Langsung koktrimo?
MAIMUN
Ya ndak to Mak, aku saja ndak tahu orangnya siapa… Sesuk bada’ maghrib, Kang Iman arepe mampir, ngajak pemuda itu. Nah, baru aku iso nilai, opo tenan cocok dengan aku?
EMAK
Halah, kok mulai maneh. Pisan-pisan ndak usah terawang-terawangan, nilai-nilaian, nyapo to nduk? Kamu ndak yakin sama pilihannya Iman?
MAIMUN
Bukan-ne ndak yakin Mak, tapi mastikno wae?
EMAK
Terus opo maneh sing disampaikan Iman?
MAIMUN
Aku diminta dandan, macak sing ayu
EMAK
Opo perlu dakwacakno ajian pemikat hati, biar dia kesiwer kecantikanmu?
MAIMUN
Opo to Emak iki? Wes wes aku mau tidur.

BABAK 2
BAGIAN 1
EMAK
(SIAP-SIAP, MEMBERSIHKAN RUMAH)
MAIMUN
Lho Buk, kok uwis akeh jajan.
EMAK
Ya… digawe suguhan calon mantu.
MAIMUN
Belum tentu Mak, durung mesti.
EMAK
Durung mesti itu kan sekarang, kalau kata Gusti Allah kan kun fayakun, jadi, maka jadilah. Ya, sopo nyana yen doa Emak iki mandi?
MAIMUN
Iyo Mak, Aamiin.
EMAK
Lho, ayo ndang siap-siap. Dilut maneh bada’ maghrib, kok belum siap apa-apa?
MAIMUN
Iyo, iyo.
BAGIAN 2
KANG IMAN
Assalamualaikum, Sepada
EMAK
Waalaikumsalam… Mun Maimun, Iman wis di depan. Ayo ndang cepet.
MAIMUN
Iyo-iyo Mak, sek sebentar lagi.
KANG IMAN
Assalamualaikum, Sepada
EMAK
Waalaikumsalam, monggo pinarak-pinarak.
EMAK
(MENENGOK KE LUAR PINTU) Loh sing liyane endi Man? Katanya mau ngajak pemuda yang nglamar Maimun? Kok cuman kamu.
KANG IMAN
Sebentar lagi datang Mak, ditunggu saja. Maimun mana Mak? Kok ndak kelihatan.
EMAK
Maklum, perawan yen macak yo pasti lama.
EMAK
Mun, ayo ndang cepet, uwis ana Iman iki.
MAIMUN
Loh, Kang Iman. Mana calonnya kang?
KANG IMAN
Sebentar lagi, Mun. Kau tunggu saja dulu.
EMAK
Monggo, monggo disambi dulu.
KANG IMAN
Wah wah, merepotkan saja Mak.
EMAK
Loh sepertinya kok ada suara,
KANG IMAN
Saya saja Mak yang bukakan.
ROMBONGAN (KANG IMAN, PAK GIANTO, BU GIANTO)
Kulanuwun, Mak Tur, Maimun.
EMAK
Loh, Bu Gianto, Pak Gianto. Kok……Calonnya mana?
KANG IMAN
Sebentar, sebentar duduk dulu saja.
EMAK
Ini gimana to maksud e?
MAIMUN
Kang, calonnya mana?
KANG IMAN
Begini dek, kamu cari KANG IMAN yang jujur, ra neko-neko nggak main nakal dengan wanita sembarangan apalagi biduan kampung ini, punya latarbelakang pendidikan dan keluarga yang baik to?
MAIMUN
(DIAM) Iii iyo, tapi… (MENJAWAB RAGU-RAGU)
KANG IMAN
Ya aku ini orangnya… (SUASANA SEJENAK MENJADI HENING)
EMAK
(EMAK BERDIRI Ya Allah, Man. Kok…
MAIMUN
Opo maksudmu Kang? Maksudmu aku arepe kokdadekno istri ketigamu, begitu?
KANG IMAN
Loh loh sek, sek. Maimun sama Emak mending duduk dulu, biar aku jelaskan (SAMBIL MEMBERIKAN GESTURE TANGAN DUDUK KE EMAK DAN MAIMUN)
EMAK
(MONDAR-MANDIR)
KANG IMAN
(MEMBERI GESTURE TANGAN MENYURUH DUDUK)
KANG IMAN
Aku memang sedang mencari istri lagi Mak dan rasa-rasanya Maimun itu cocok buat jadi istri ketigaku. Bukannya gimana-gimana, yang mengantri jadi istri ketiga, keempat, dan kelimaku itu sudah….
MAIMUN
Lalu maksudmu, aku mau kokjadikan istri ketigamu atau keempat dan kelimamu?
EMAK
Wes wes balino Man, aku ndak bisa trimo. Bu Gianto, Pak Gianto. Sepuntene Nggeh. Heh, iki barang-barangmu bawa pulang sekalian (SAMBIL MENYERAHKAN SECARA SERAMPANGAN BARANG-BARANG PEMBERIAN KANG IMAN)
KANG IMAN
Loh loh, ndak-ndak. Ndak apa-apa Mak. (MENGEMBALIKAN BARANG BAWAAN PADA EMAK)
EMAK
Uuweesss, balio. Lamaranmu daktolak. (MENUTUP PINTU, BERDIRI SEJENAK DI DEPAN PINTU)
EMAK
(MELIHAT MAIMUN DI BELAKANGNYA YANG MASIH BERDIRI MENYAKSIKAN KANG IMAN DAN KELUARGANYA PULANG).
KANG IMAN DAN KELUARGANYA
(MASIH BERDIRI DI BALIK PINTU DAN TERDENGAR GADUH) “Lho jadi ini ditolak Man, kamu ini gimana to, uwes-uwes ayo pulang, malu aku sama Emak Tur”
MAIMUN
Aku arep nyang kamar dhisik Mak.
EMAK
Mun, Maimun.. Ya Allah Gusti, cobaan opo maneh iki?
(LAMPU MATI)

BABAK 3
BAGIAN 1
(EMAK SEDANG MEMASAK MAKANAN)
MAIMUN
Mak, aku mau minggat (SAMBIL MENENTENG TAS BESAR)
EMAK
Lunga menyang ngendi maneh to Mun? (MENGIPAS-NGIPAS TUNGKU API)
MAIMUN
Ke Solo Mak. Paling sekitar semingguan. (DUDUK DI KURSI)
EMAK
Nginep di Eyang Putri?
MAIMUN
Iya, mau kemana lagi.
EMAK
Yo uwis…. Ati-ati. Kalau sempet, ambil cuti di kelurahan. (MENGANGKAT PANCI DARI ATAS TUNGKU)
EMAK
Sarapan dhisek, Mun. (SAMBIL MENYIAPKAN PIRING DAN MAKANAN)
MAIMUN
Emak ndak tanya alasanku opo? (MENUNDUK SABIL BERPANGKU TANGAN)
EMAK
Oalah Mun, Mun. Emak iki uwis urip sama kamu lebih dari 20 tahun. Yo mesti Emak uwis ngerti kebiasaanmu. Mbiyen, kamu juga pernah minggat kaya ngene. Persis! Gara-gara dibilang ndak berpendidikan sama keluarganya Jaka. (MENATA NASI DAN LAUK DI PIRING)
MAIMUN
Hmmmm (MENYUNGGING SENYUM). Karena perkara itu juga, aku berubah Mak. Aku jadi punya ambisi sekolah dhuwur, supaya ora diremehno maneh.
EMAK
(DUDUK DI SAMPING MAIMUN). Emak itu ndak pernah ngelarang-ngelarang kamu sekolah sing dhuwur-dhuwur Mun. Tapi dudu iki sing Emak karepake. Emak nduweni gegayuhan, kalau suatu saat nanti, kamu sudah berpendidikan, uwis dadi wong, kamu panggah iso ngeregani wong-wong cilik kaya Emak ngene iki. Bukan malah ikut-ikutan menilai orang dari latarbelakang pendidikannya kayak sekarang. Emak isih eling, kamu itu, dulu benciiiii sekali sama keluarganya Jaka. Kamu janji ndak akan pernah ngukur tabiat orang dari pendidikan formalnya. Tapi kok sekarang, kamu sendiri sing ngelakoni kuwi nduk. Manungsa kuwi ndak selamanya bisa baik, ana sing tau ngelakoni khilaf, ana sing mbiyen tabiat e ala. Tapi, kamu kudu eling nduk, yen masa lalu kuwi ora iso dadi patokan saklawase, ndak bisa sembarangan kamu hakimi.
MAIMUN
(DIAM BERGEMING)
EMAK
Emak ngomong kaya ngene, bukan mau ngehalang-halangi kamu minggat. Emak mung kepengen kamu ngerti, yang namanya pasangan itu ndak ana sing sempurna. Termasuk kamu.
MAIMUN
Maturnuwun Mak.

TAMAT

















TENTANG PENULIS
Justitia Maulida, lahir di Kediri, 16 Juni 1999. Pernah menempuh pendidikan di TK Dharmawanita Kesatuan Kunjang. Kemudian ia melanjutkan pendidikan dasarnya di SDN Kapi 1. Perempuan yang akrab dengan panggilan Jeje ini beberapa kali berpartisipasi aktif dalam lomba akademik maupun non akademik semasa mengenyam pendidikan dasar. Ia mendaftar di SMP 1 Kunjang Kediri usai menuntaskan bangku pendidikannya di sekolah dasar. Di SMP, ia mulai mengembangkan skill menulisnya. Ia pernah menjadi finalis Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Ketertarikannya akan bidang lain juga semakin kentara ketika ia menginjak bangku SMA. Ia berhasil masuk SMA Negeri 2 Pare Kediri setelah melewati proses seleksi ketat. Di SMA, ia berpartisipasi dalam Sosialisasi Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara bersama kawan-kawannya dan berhasil membawa pulang piala juara kedua tingkat Provinsi Jawa Timur. Kini, ia tengah menyelesaikan gelar sarjananya di Prodi S1 Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah Universitas Negeri Malang


Comments

Popular posts from this blog

NASKAH DRAMA ANAK YANG DURHAKA

ULANG TAHUN

Drama ANAK-ANAK TK