NASKAH DRAMA ASMARADHANA
ASMARADHANA
oleh
Justitia Maulida
“Ibunya seorang
pemaes tersohor, meski demikian ia tak kunjung menikah atau menerima lamaran.
Para tetangga dan paes-paes lain bergunjing karena tak ada laki-laki satupun
yang mau mempersunting dirinyaTersebar rumor bahwa pandonga pemaes tersebut tak lagi semanjur dulu. Rumor itu berasal
dari Sulastri, pemaes lain yang iri dengan karier pemaes tersebut.
Kenyataannya, bukannya anak perempuan pemaes itu tidak laku, justru dia sudah
menerima banyak lamaran. Namun, anak tersebut selalu merasa tidak cocok dengan
laki-laki yang melamarnya atau datang ke rumah mempersuntingnya. Rupanya ia
mewarisi bakat ibunya yang bisa melihat atau menerawang watak orang.”
DESKRIPSI
TOKOH:
1.
Emak
memiliki watak sabar, nrimo, legowo, lemah lembut, dan tidak suka memaksakan
kehendak anaknya.
2.
Maimun
memiliki watak agak sombong, pintar, terpelajar, mudah lari dari masalah.
3.
Kang
Iman memiliki watak sombong, omong besar, suka mempermainkan orang, dan
hasratnya terhadap perempuan terlalu berlebihan.
4.
Bapak
Gianto (Bapak Kang Iman) memiliki watak “manut” atau menurut dengan kemauan
anaknya, tidak banyak bicara.
5.
Ibu
Gianto (Ibu Kang Iman) memiliki watak “manut” atau menurut dengan kemauan
anaknya, tidak banyak bicara.
6.
Mbak
Yumi memiliki watak suka ikut campur urusan orang lain, suka membicarakan keburukan orang lain,
melebih-lebihkan masalah, tidak sabaran, memikirkan diri sendiri.
7.
Mbak
Darsi memiliki watak suka ikut campur urusan orang lain, suka membicarakan keburukan orang lain,
melebih-lebihkan masalah, tidak sabaran, terlalu “manut” atau menurut dengan
Mbak Yumi.
BABAK 1
KALA ITU PAGI HARI DI RUMAH MAK TUR, SEORANG PEMAES
TERSOHOR DI PEDUKUHAN ITU. MAK TUR SIBUK MEMASAK NASI SAMBIL MENGGENDINGKAN
TEMBANG ASMARADHANA.
BAGIAN 1
EMAK
(MENYANYIKAN
GENDING JAWA)
(ADA SUARA KETUKAN
PINTU YANG MEMBURU DAN TERDENGAR TIDAK BERATURAN)
MBAK YUMI
Kulanuwun Mak Tur,
Kulanuwun (SUARA RAMAI)
EMAK
Sopo? Sek, sek. ?
PAES B
Kulanuwun, Duh
Gusti, kok suwi banget yo?
EMAK
Loh Mbak Yumi,
Mbak Darsi? Ada apa pagi-pagi datang kemari? Kelihatannya kok terburu-buru, apa
ada copet? (MENENGOK KE LUAR)
MBAK YUMI
(TIBATIBA DUDUK DI
RUANG TAMU TANPA IZIN DAN BASA-BASI) Sudah-sudah kita duduk dulu, bicaranya di
dalam saja.
MBAK DARSI
Itu pintunya
ditutup dulu Mak. Nanti ada yang nguping, bisa gawat.
EMAK
He? Lapo to kok
harus ditutup? Emange gawat banget? Apa acara kendurinya putri Pak Saryo
diajukan lagi tanggalnya?
MBAK YUMI
Bukan, bukan itu.
Ini tentang masa depan kita sebagai paes.
EMAK
Masa depan sing
endi to Mbak Darsi? Aku iki wes tuwa, pangarepan kaya opo maneh sing dak jaluk?
MBAK DARSI
Mak Tur boleh tua,
tapi kita?
MBAK YUMI
Heh…., Kowe iki.
(MEMUKUL LUTUT MBAK YUMI) aku wae sing njelasno.
MBAK YUMI
Emak tahu
Sulastri?
EMAK
Sulastri? Sulastri
siapa to? Mungkin saja aku sudah terlampau pikun hingga tidak bisa mengingat
dengan baik, Yu.
MBAK DARSI
Sulastri itu lho
Mak, pendatang baru di kampung kita, yang ngaku kecipratan darah Paes
Kesultanan Surakarta.
EMAK
(HENDAK MENYAHUT)
MBAK YUMI
Halah, dia ngomong
gitu karena sudah bergidik duluan mendengar nama Mak Tur yang terkenal seantero
kutha. Mana ada paes lain yang bisa menyaingi jampi-jampi dan paesan Mak Tur?
EMAK
Sek sek. Aku kok tambah
ora paham. Lalu masalahnya dengan masa depan kita dan Sulastri itu opo?
MBAK YUMI
Dia menyebarkan warta
yang tidak-tidak Mak. Perkara Maimun, anak perawanmu.
MBAK YUMI DAN MBAK DARSI
Katanya Maimun
kelewat ndak payu, bak kembang desa dia
sudah layu, garing, dan terjerembab. Ndak ada jaka-jaka yang mau meliriknya barang mung
sak kedipan mripat, apalagi kawin dan punya keturunan dari Maimun. Sungguh
fitnah yang keji, Mak.
EMAK
Oalah, perkara
pernikahan Maimun. Dakkiro opo?
MBAK YUMI
Lho lho, Emak itu tenanan
ndak paham atau pura-pura ndak tahu?
EMAK
Sek sek, tahu apa
to?
MBAK DARSI
Emak ini kan
pemaes terkenal Mak, apa kata orang kalau mereka melihat si Maimun, kembang
desa, anak pemaes lagi, ndak ada yang mau mempersunting. Mau dikemanakan muka
kita, Mak?
EMAK
Dakkiro kuwi ndak
ada sangkutpautnya dengan masa depan kita opo maneh Sulastri.
MBAK YUMI
Hoalah, yo mesti
ana hubungan e to Mak, Mak. Orang-orang
itu wis mulai rasan-rasan, jangan-jangan pandonga paes-mu wes ndak manjur, ora mandi maneh. Ya, karena mengawinkan anaknya
saja ndak bisa kok mau mengawinkan anak orang? Gemblung!
EMAK
Selama iki, aku ngrasa
ndak nduwe andil apa-apa. Mereka kemari, aku mung nyoba mbantu saja.
Pandonga-ku juga ndak mesti manjur to.
MBAK DARSI
Haduh, aku sampai
tak habis pikir karo dalan pikiranmu, Mak! Hah, sudah kita pergi saja, kesel
ngomongi Mak Tur, mental!
MBAK YUMI
(BERBISIK LIRIH
SAMBIL BERJALAN KE ARAH PINTU) Diberi tahu kok ngeyel, nanti kalau jasanya ndak
laku, rasakan sendiri akibatnya.
MBAK DARSI
(BERBISIK LIRIH
SAMBIL BERJALAN KE ARAH PINTU) Maklum sudah tua, sudah pikun. Ngawinin anaknya
saja ndak bisa.
EMAK
(MENUTUP PINTU) Eladalah, ana-ana wae.
EMAK
(MELANJUTKAN MENGGENDANGKAN TEMBANG ASMARADHANA
SAMBIL MEMBERSIHKAN AMPAS BERAS)
MAIMUN
Sopo to Mak?
EMAK
Mbak Yumi sama
Mbak Darsi.
MAIMUN
Ngomong apa mereka
Mak? Kok aku krungu saka kamar, ada yang nyinggung-nyinggung masalah kawin dan
kembang desa yang sudah layu bahkan kering dan terpelanting ke jalan.
Alegorinya kok terkesan digawe-gawe.
EMAK
Dudu’
terpelanting, Mun. Terjerembab katanya.
MAIMUN
Iyo, kuwi maksudku
Mak.
EMAK
Aku kok yo dadi
penasaran, kamu kenapa to ndak kawin-kawin?
MAIMUN
Oalah…., mau ungkit-ungkit
perkara ini lagi?
EMAK
Piye ndak
diungkit-ungkit, saban perjaka yang mampir ke sini, kamu selalu tolak, ora ana haha-hihi’ne,
setidaknya kamu beri suguhan dulu, bukan main tudhung begitu kethok ndek ngarep
lawang. Padahal sing ngelamar kamu itu ndak satu dua orang, bukan dari
sembarang kalangan, titisan bangsawan sampai titisan pendekar dakitung-iitung ana
tibak’ e.
MAIMUN
Piye aku iso yakin
karo mereka Mak? Mereka itu ndak ada yang waras dakpikir-pikir.
EMAK
Maksudmu? Gendeng kaya
tetangga kita yang suka mondar mandir ndak jelas ke kampung sebelah? atau
terlahir goblok kaya anak lanang e pak Lurah?
MAIMUN
Bukan, bukan ndak
waras kaya ngunu sing dakmaksud Mak... Bujang titisan bangsawan sing koksebut-sebut
kuwi…. ternyata dulunya pernah menyuap orang kampung kita, supaya dia iso dadi kandidat bupati di kadipaten.
EMAK
Kalau itu Emak
juga sudah tahu, kan kamu yang cerita. Terus, si cucu pendekar itu? pernah
menyuap orang kampung juga? atau jangan-jangan membunuh orang?
MAIMUN
Dia bekas preman
Mak, ndak punya latarbelakang pendidikan sing setara denganku ini. Mau jadi apa
anak-anakku nanti, manut jejak bapak e?
EMAK
Oalah, Gusti. Lah kamu
cari sing kaya piye to nduk nduk?
MAIMUN
Ya kaya Bapak. Ndak
neko-neko seperti katamu Mak.
EMAK
Kaya-kaya Bapakmu itu
laki-laki lurus saja? Ndak ada yang selamanya lurus nduk, nduk. Kamu juga pasti
ndak tahu masa lalu Bapakmu to?
MAIMUN
Piye bisa ngerti?
Lha wong Emak ndak pernah cerita soal Bapak, yo mesti wae dakpikir keluarga iki
dulu adem ayem saja.
EMAK
Gawe opo to
nyritakno aib e bapakmu. Lho… sek-sek, iki kok ujug-ujug bahas bapak to? He,
nduk sini-sini. (MENARIK TANGAN MAIMUN UNTUK DUDUK DI KURSI) Emak hanya ndak
mau kamu jadi bahan gunjingan warga. Opo maneh paes-paes kuwi.
MAIMUN
Emak isin to? Emak
kan paes. Aku isih iso mbiayai keluarga iki Mak.
EMAK
Emak ndak isin Mun,
kamu yo uwis mandiri, iso nggolek pangan dhewe. Tapi sing diomongne paes-paes itu
ada benernya. Kapan kamu nikah?
MAIMUN
Ya…. yen uwis ana jodoh
e, pasti ketemu to? Ndak usah dibuat susah Mak Mak.
EMAK
Ini ndak ada kaitan
e to karo Jaka dan keluarga ne to?
MAIMUN
Kok ujug-ujug
mbahas Jaka, aku kan sudah bilang. Ndak usah nggowo-nggowo jenenge Jaka dan keluarganya
lagi!
EMAK
Oalah, yo uwis yen
ngunu, Emak budhal maes dhisik yo. Assalamualaikum.
MAIMUN
Waalaikumsalam.
BAGIAN 3
KANG IMAN
Assalamualaikum,
Spada
MAIMUN
Waalaikumsalam, sinten?
KANG IMAN
Kang Iman
MAIMUN
Eh, Kang Iman. Ana
opo Kang?
KANG IMAN
Aku tak
dipersilahkan masuk dulu begitu?
MAIMUN
Oh iyo, mari-mari.
Tapi Emak lagi keluar.
KANG IMAN
Emak masih suka
membantu warga yang mau menikah, Mun?
MAIMUN
Masih, masih.
Kenapa Kang?
KANG IMAN
Ndak apa-apa, ndak
apa-apa. Kalau kamu sendiri masih kerja di kelurahan?
MAIMUN
Tentu masih Kang.
Ada apa to Kang? Kok sajak e penting.
KANG IMAN
Begini Mun, aku dengar, kau sedang mencari suami. Aku
kenal seorang pemuda yang tampan dan nggak neko-neko, hidupnya lurus, tidak
suka dia menggoda wanita bahkan melirik biduan desa ini pun dia tak sanggup,
tidak berani. Latar belakang keluarga dan pendidikannya juga setara denganmu.
MAIMUN
Ana laki-laki kaya
ngunu?
KANG IMAN
Ya tentu saja ada.
Dan mungkin dia ini bisa dibilang satu-satunya laki-laki yang disisakan Tuhan buatmu
Mun!
MAIMUN
Opo ana takdir kaya
ngunu Kang, Kang?
KANG IMAN
Loh, loh, beneran
ini Mun! Kalau kau bersedia, besok bada’ maghrib aku bawa dia kemari, biar kau
tahu sendiri.
MAIMUN
Kenapa mesti bada’
maghrib Kang? Ndak bisa sore saja?
KANG IMAN
Kalau sore,
tetangga akan lihat, kalau lihat, mereka akan memfitnah yang bukan-bukan.
Bukannya apa-apa, aku kasihan dengan Emak Tur, nampaknya sudah kenyang melahap
cacian paes-paes kawakan itu.
MAIMUN
Oalah ya wis,
terserah Kang Iman saja yen ngunu.
KANG IMAN
Ahhhh, begitu aku
suka. Kau dandan saja yang cantik, sisanya kau serahkan padaku.
KANG IMAN
Kalau begitu aku
pamit dulu, Assalamualaikum.
MAIMUN
Waalaikumsalam
wr.wb.
BAGIAN 4
EMAK
Assalamualaikum
MAIMUN
Waalaikumsalam, piye
Mak?
EMAK
Piye apane?
MAIMUN
Ya, kenduri-ne to!
Opo maneh?
EMAK
Alhamdulillah
lancar. Kata Mbak Darsi, Iman mampir ke sini? Dakkira dia kelewat betah nyambut
gawe ndek Majalengka. Tibak e isih eling anak bojone ndek kene. Ana opo Iman ke
sini?
MAIMUN
Bawa lamaran
katanya.
EMAK
Ha? Lamaran?
Lamaran e sopo sing dibawa?
MAIMUN
Katanya dia kenal
pemuda lurus sing ndak tau main nakal dengan wanita, latarbelakang pendidikan
dan keluarganya kethokane yo apik, cerita Kang Iman sih kedengarannya orang e
alim dan thoat. Embuh, kaya piye. Belum jelas, ndak pati nggenah.
EMAK
Terus, terus?
Langsung koktrimo?
MAIMUN
Ya ndak to Mak,
aku saja ndak tahu orangnya siapa… Sesuk bada’ maghrib, Kang Iman arepe mampir,
ngajak pemuda itu. Nah, baru aku iso nilai, opo tenan cocok dengan aku?
EMAK
Halah, kok mulai maneh.
Pisan-pisan ndak usah terawang-terawangan, nilai-nilaian, nyapo to nduk? Kamu
ndak yakin sama pilihannya Iman?
MAIMUN
Bukan-ne ndak
yakin Mak, tapi mastikno wae?
EMAK
Terus opo maneh
sing disampaikan Iman?
MAIMUN
Aku diminta
dandan, macak sing ayu
EMAK
Opo perlu dakwacakno
ajian pemikat hati, biar dia kesiwer kecantikanmu?
MAIMUN
Opo to Emak iki?
Wes wes aku mau tidur.
BABAK 2
BAGIAN 1
EMAK
(SIAP-SIAP,
MEMBERSIHKAN RUMAH)
MAIMUN
Lho Buk, kok uwis akeh
jajan.
EMAK
Ya… digawe suguhan
calon mantu.
MAIMUN
Belum tentu Mak,
durung mesti.
EMAK
Durung mesti itu
kan sekarang, kalau kata Gusti Allah kan kun
fayakun, jadi, maka jadilah. Ya, sopo nyana yen doa Emak iki mandi?
MAIMUN
Iyo Mak, Aamiin.
EMAK
Lho, ayo ndang
siap-siap. Dilut maneh bada’ maghrib, kok belum siap apa-apa?
MAIMUN
Iyo, iyo.
BAGIAN 2
KANG IMAN
Assalamualaikum,
Sepada
EMAK
Waalaikumsalam…
Mun Maimun, Iman wis di depan. Ayo ndang cepet.
MAIMUN
Iyo-iyo Mak, sek sebentar
lagi.
KANG IMAN
Assalamualaikum,
Sepada
EMAK
Waalaikumsalam, monggo
pinarak-pinarak.
EMAK
(MENENGOK KE LUAR
PINTU) Loh sing liyane endi Man? Katanya mau ngajak pemuda yang nglamar Maimun?
Kok cuman kamu.
KANG IMAN
Sebentar lagi
datang Mak, ditunggu saja. Maimun mana Mak? Kok ndak kelihatan.
EMAK
Maklum, perawan yen
macak yo pasti lama.
EMAK
Mun, ayo ndang
cepet, uwis ana Iman iki.
MAIMUN
Loh, Kang Iman.
Mana calonnya kang?
KANG IMAN
Sebentar lagi,
Mun. Kau tunggu saja dulu.
EMAK
Monggo, monggo disambi
dulu.
KANG IMAN
Wah wah,
merepotkan saja Mak.
EMAK
Loh sepertinya kok
ada suara,
KANG IMAN
Saya saja Mak yang
bukakan.
ROMBONGAN (KANG IMAN, PAK GIANTO, BU GIANTO)
Kulanuwun, Mak
Tur, Maimun.
EMAK
Loh, Bu Gianto,
Pak Gianto. Kok……Calonnya mana?
KANG IMAN
Sebentar, sebentar
duduk dulu saja.
EMAK
Ini gimana to
maksud e?
MAIMUN
Kang, calonnya
mana?
KANG IMAN
Begini dek, kamu
cari KANG IMAN yang jujur, ra neko-neko nggak main nakal dengan wanita
sembarangan apalagi biduan kampung ini, punya latarbelakang pendidikan dan
keluarga yang baik to?
MAIMUN
(DIAM) Iii iyo,
tapi… (MENJAWAB RAGU-RAGU)
KANG IMAN
Ya aku ini
orangnya… (SUASANA SEJENAK MENJADI HENING)
EMAK
(EMAK BERDIRI Ya
Allah, Man. Kok…
MAIMUN
Opo maksudmu Kang?
Maksudmu aku arepe kokdadekno istri ketigamu, begitu?
KANG IMAN
Loh loh sek, sek. Maimun
sama Emak mending duduk dulu, biar aku jelaskan (SAMBIL MEMBERIKAN GESTURE
TANGAN DUDUK KE EMAK DAN MAIMUN)
EMAK
(MONDAR-MANDIR)
KANG IMAN
(MEMBERI GESTURE
TANGAN MENYURUH DUDUK)
KANG IMAN
Aku memang sedang
mencari istri lagi Mak dan rasa-rasanya Maimun itu cocok buat jadi istri
ketigaku. Bukannya gimana-gimana, yang mengantri jadi istri ketiga, keempat,
dan kelimaku itu sudah….
MAIMUN
Lalu maksudmu, aku
mau kokjadikan istri ketigamu atau keempat dan kelimamu?
EMAK
Wes wes balino
Man, aku ndak bisa trimo. Bu Gianto, Pak Gianto. Sepuntene Nggeh. Heh, iki
barang-barangmu bawa pulang sekalian (SAMBIL MENYERAHKAN SECARA SERAMPANGAN
BARANG-BARANG PEMBERIAN KANG IMAN)
KANG IMAN
Loh loh,
ndak-ndak. Ndak apa-apa Mak. (MENGEMBALIKAN BARANG BAWAAN PADA EMAK)
EMAK
Uuweesss, balio.
Lamaranmu daktolak. (MENUTUP PINTU, BERDIRI SEJENAK DI DEPAN PINTU)
EMAK
(MELIHAT MAIMUN DI
BELAKANGNYA YANG MASIH BERDIRI MENYAKSIKAN KANG IMAN DAN KELUARGANYA PULANG).
KANG IMAN DAN KELUARGANYA
(MASIH BERDIRI DI
BALIK PINTU DAN TERDENGAR GADUH) “Lho jadi ini ditolak Man, kamu ini gimana to,
uwes-uwes ayo pulang, malu aku sama Emak Tur”
MAIMUN
Aku arep nyang
kamar dhisik Mak.
EMAK
Mun, Maimun.. Ya
Allah Gusti, cobaan opo maneh iki?
(LAMPU MATI)
BABAK 3
BAGIAN 1
(EMAK SEDANG
MEMASAK MAKANAN)
MAIMUN
Mak, aku mau minggat
(SAMBIL MENENTENG TAS BESAR)
EMAK
Lunga menyang
ngendi maneh to Mun? (MENGIPAS-NGIPAS TUNGKU API)
MAIMUN
Ke Solo Mak.
Paling sekitar semingguan. (DUDUK DI KURSI)
EMAK
Nginep di Eyang
Putri?
MAIMUN
Iya, mau kemana
lagi.
EMAK
Yo uwis…. Ati-ati.
Kalau sempet, ambil cuti di kelurahan. (MENGANGKAT PANCI DARI ATAS TUNGKU)
EMAK
Sarapan dhisek,
Mun. (SAMBIL MENYIAPKAN PIRING DAN MAKANAN)
MAIMUN
Emak ndak tanya
alasanku opo? (MENUNDUK SABIL BERPANGKU TANGAN)
EMAK
Oalah Mun, Mun.
Emak iki uwis urip sama kamu lebih
dari 20 tahun. Yo mesti Emak uwis ngerti kebiasaanmu. Mbiyen, kamu juga pernah
minggat kaya ngene. Persis! Gara-gara
dibilang ndak berpendidikan sama keluarganya Jaka. (MENATA NASI DAN LAUK DI
PIRING)
MAIMUN
Hmmmm (MENYUNGGING
SENYUM). Karena perkara itu juga, aku berubah Mak. Aku jadi punya ambisi
sekolah dhuwur, supaya ora diremehno maneh.
EMAK
(DUDUK DI SAMPING MAIMUN). Emak itu ndak pernah ngelarang-ngelarang kamu sekolah sing dhuwur-dhuwur Mun. Tapi dudu iki
sing Emak karepake. Emak nduweni
gegayuhan, kalau suatu saat nanti, kamu sudah berpendidikan, uwis dadi
wong, kamu panggah iso ngeregani wong-wong cilik kaya Emak ngene iki. Bukan
malah ikut-ikutan menilai orang dari latarbelakang pendidikannya kayak sekarang.
Emak isih eling, kamu itu, dulu benciiiii sekali sama keluarganya Jaka. Kamu
janji ndak akan pernah ngukur tabiat orang dari pendidikan formalnya. Tapi kok
sekarang, kamu sendiri sing ngelakoni kuwi nduk.
Manungsa kuwi ndak selamanya bisa baik, ana
sing tau ngelakoni khilaf, ana sing mbiyen tabiat e ala. Tapi, kamu kudu eling
nduk, yen masa lalu kuwi ora iso dadi patokan saklawase, ndak bisa sembarangan
kamu hakimi.
MAIMUN
(DIAM BERGEMING)
EMAK
Emak ngomong kaya
ngene, bukan mau ngehalang-halangi kamu minggat. Emak mung kepengen kamu
ngerti, yang namanya pasangan itu ndak ana sing sempurna. Termasuk kamu.
MAIMUN
Maturnuwun Mak.
TAMAT
TENTANG PENULIS
Justitia Maulida, lahir
di Kediri, 16 Juni 1999. Pernah menempuh pendidikan di TK Dharmawanita Kesatuan
Kunjang. Kemudian ia melanjutkan pendidikan dasarnya di SDN Kapi 1. Perempuan
yang akrab dengan panggilan Jeje ini beberapa kali berpartisipasi aktif dalam
lomba akademik maupun non akademik semasa mengenyam pendidikan dasar. Ia
mendaftar di SMP 1 Kunjang Kediri usai menuntaskan bangku pendidikannya di
sekolah dasar. Di SMP, ia mulai mengembangkan skill menulisnya. Ia pernah menjadi finalis Lomba Penelitian Ilmiah
Remaja (LPIR) tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI). Ketertarikannya akan bidang lain juga semakin
kentara ketika ia menginjak bangku SMA. Ia berhasil masuk SMA Negeri 2 Pare
Kediri setelah melewati proses seleksi ketat. Di SMA, ia berpartisipasi dalam
Sosialisasi Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara bersama
kawan-kawannya dan berhasil membawa pulang piala juara kedua tingkat Provinsi
Jawa Timur. Kini, ia tengah menyelesaikan gelar sarjananya di Prodi S1
Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah Universitas Negeri Malang
Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi