NASKAH DRAMA BILA MALAM TELAH TIBA
BILA
MALAM TELAH TIBA
Cindy Fitria
Wulandari
170211604584
TOKOH
DAN KARAKTER:
1.
ANDARA : Janda cantik beranak satu, pemilik
warung kopi yang selalu difitnah sebagai pengganggu suami orang dan seorang ibu
penyayang yang lemah lembut.
2.
RUNI : Gadis
cantik, putri semata wayang Andara yang pemberani, pemberontak, dan berbakti
kepada kedua orang tua.
3.
PAK RT : Lelaki genit yang selalu menggoda
Andara, RT yang disegani karena keramahnnya, dan suami yang takut istri. Ia
juga sosok yang bermuka dua, keji, licik, dan tempramen.
4.
BU RT : Istri Pak RT yang sangat cerewet,
mudah terpengaruh, tidak berpikir panjang, tidak mau kalah dan suka menyalahkan
orang lain.
5.
KACONG : Ajudan yang sangat penurut dan penakut.
Ia tidak mau mengambil resiko.
6.
ILHAM : Warga yang peduli dengan sesamanya.
7.
RONI : Warga yang peduli dengan
sesamanya.
8.
MAK SUMI : Nenek yang sabar, penenang dan sangat
keibuan.
BABAK
1
MALAM DI SUATU PERKAMPUNGAN. SEBUAH WARUNG
KOPI YANG CUKUP RAMAI PENGUNJUNG YANG SEKEDAR NGOPI ATAUPUN NIMBRUNG HINGGA
LARUT MALAM.
TERLIHAT PAK RT SEDANG NONGKRONG
DENGAN KACONG, JONGOSNYA. MENYERUPUT KOPI HITAM DAN MENGHISAP CERUTU SECARA
BERGANTIAN.
PAK HANSIP MEMBERI ISYARAT KEPADA PAK
RT.
KACONG : “Pak..! Pak..!” (mencolek-colek bahu Pak
RT)
PAK RT :
“Apasih? Kalau mau nambah bilang aja ke Dek Dara.” (Melirik ke Andara, pemilik
warung kopi)
KACONG : “Pak! Itu..ada....”
PAK RT : “Ada apa? Ada setan?”
KACONG : “Anu, Pak. Itu....”
PAK RT : “Apasih, Cong?”
KACONG : “Bbbbuuu...Bu RT, Pak.”
PAK RT : “Oh, Bu RT....Hah Bu RT?” (menoleh
ke belakang)
KACONG : “Kan saya sudah bilang.”
PAK RT : “Alamak..setan benaran, Cong!”
KACONG : “Sssaya mau pulang saja, Pak. Saya tidak
mau ikut campur.”
KACONG MENINGGALKAN
WARUNG KOPI. TERSISA PAK RT, BU RT, DAN ANDARA, WANITA PEMILIK WARUNG KOPI.
BU RT MONDAR-MANDIR
SAMBIL TERUS MENGGERUTU.
BU RT : “Pulang, Pak! Pulang!”
PAK RT : “I..i..iyaa, Buk e.”
BU RT : “Saben hari ke sini. Mau ngapain?”
PAK RT : “Yaa...ngopi, Buk e.”
BU RT : “Ngopa ngopi ngopa ngopi! Tidak
cukup kopi di rumah?”
PAK RT :
“Ya..kan kalau di sini bisa nimbrung, Buk e. Terjun ke masyarakat dan bersahabat
dengan masyarakat.”
BU RT : “Halah! Alasan! Sudah cepat pulang
sana!”
PAK RT : “Yaa kan bener, Buk e.”
BU RT : “Pulangg!”
PAK RT : “I..i..iya, Buk e.”
BU RT MENYILANGKAN KEDUA
TANGANNYA DAN MELIRIK KE ANDARA.
PAK RT : “Loh, katanya pulang, Buk e. Lah
ayo.”
BU RT : “Bapak pulang duluan saja!”
PAK RT : “Oh, Buk e mau ngopi?”
BU RT : “Bapak!”
PAK RT : “Loh, Bapak salah?”
BU RT : “Bapak mau diusir dari rumah?”
PAK RT : “Loh, kok Bapak mau diusir?”
BU RT : “Pak! Pulang!”
PAK RT : “Lah Buk e tidak pulang?”
BU RT : “Tidak! Bapak pulang duluan saja!”
PAK RT`` : “Ya sudah..ya sudah. Pamit ya, Dek
Dara.”
BU RT : “Bapakkk!”
BU RT MENGGEBRAK MEJA
HINGGA MEMBUAT KAGET ANDARA.
BRAKK!
ANDARA : “Astaugfirullah..”
BU RT : “Heh! Janda genit! Beraninya
godain suami orang!”
ANDARA : “Astaugfirullah. Saya tidak....”
BU RT :
“Diam!” (menodong Andara dengan jari telunjuknya) “Dengerin baik-baik, ya. Sekali
lagi kamu godain suami saya, saya bakal bikin hidup kamu tidak tenang!“
ANDARA : “Istighfar, Bu RT.”
BU RT : “Halahh..tidak usah sok alim kamu!”
ANDARA : “Saya tidak pernah menggoda suami Bu RT.”
BU RT : “Hahh..masih berani ngeles. Pasti
kamu pelet suami saya kan?”
ANDARA : “Astaugfirullah.”
BU RT :
“Ya untuk apa suami saya ngedeketin janda miskin seperti kamu kalau bukan karena
pelet.”
ANDARA : “Astaugfirullah.”
BU RT :
“Dasar lonte! Beraninya main pelet! Sadar diri! Kamu itu cuma orang miskin!”
BRAKK!!
BU RT MENGGEBRAK MEJA
LALU PERGI SAMBIL TERUS MENGOMEL. ANDARA HANYA DIAM DAN MENGGELENG-GELENGKAN
KEPALA MENDENGAR MAKIAN BU RT. MALAM PUN BERTAMBAH MALAM.
BABAK 2
WARUNG KOPI DI MALAM
HARI. ANDARA SEDANG DUDUK TERMENUNG SEORANG DIRI.
ANDARA MENEMBANG PELAN.
KELIHATAN DARI KEJAUHAN RUNI, ANAK GADIS SEMATA WAYANGNYA MEMANGGIL KEMUDIAN
MENGHAMPIRI.
RUNI : “Bukk..Ibukk. Bukkk.”
ANDARA MEMEJAMKAN MATA. HANYUT
DALAM TEMBANGNYA SAMPAI TIDAK TAHU JIKA ANAKNYA DATANG.
RUNI : “Ibukkk.”
ANDARA : “Eh, anak Ibuk udah pulang.”
RUNI : “Ibuk..Ibukk. Dipanggilin dari
tadi tidak menyahut.”
ANDARA : “Eh, iya sayang. Maafkan Ibuk, ya.”
RUNI : “Ibuk lagi kangen sama bapak,
ya?”
ANDARA : “Sok tahu kamu, Run.”
RUNI : “Apasih yang Runi tidak tahu.”
ANDARA : “Semoga bapak tenang di alam sana ya,
Run.”
RUNI : “Iya, Buk. Amiin. Runi kangen
banget sama bapak.”
BU RT TIBA-TIBA DATANG
DENGAN WAJAH BERMURAM DURJA. DI BELAKANGNYA PAK RT MENGIKUTI DENGAN TANGAN
MEMEGANGI PUNGGUNGNYA YANG SEDANG ENCOK.
BRAKK! (BU RT MENGGEBRAK
MEJA)
BU RT : “Heh! Janda genit!”
PAK RT : “Buk e. Sudah Buk e. Ayo kita
pulang.”
BU RT : “Lepaskan Ibuk. Ibuk mau memberi
pelajaran kepada mereka.”
ANDARA : “Ada apa lagi Bu RT?”
BU RT : “Bilang sama anakmu itu. Jangan
ganjen sama anak saya!”
RUNI : “Maksud Bu RT apa? Bu RT mau
memfitnah saya seperti ibuk saya?”
ANDARA : “Runi!”
BU RT : “Lancang! Jaga bicaramu! Masih
kecil sudah berani ke orang tua!”
PAK RT : “Sudah Buk e. Ayo kita pulang.”
ANDARA : “Maafkan anak saya, Bu RT.”
BU RT : “Halah, ini pasti kamu yang
ngajarin. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.”
RUNI : “Bu RT! Jangan hina ibuk saya
lagi.”
BU RT : “Saya tidak akan begini kalau kamu
dan ibukmu tidak berulah.”
RUNI :
“Yang seharusnya Bu RT salahkan itu suami Bu RT sendiri. Dialah yang terus
mengganggu dan menggoda ibuk saya. Saya juga tidak pernah ganjen sama anak Bu
RT. Kita Cuma berteman.”
BU RT :
“Apa katamu? Ya tidak mungkinlah. Mana mungkin suami saya tertarik sama orang
miskin seperti kalian. Tidak level!”
PAK RT : “Sudah..sudah. Ayo..”
BU RT : “Bapak! Diam!”
RUNI : “Dengar ya, Bu RT. Kita memang
orang miskin, tapi kita punya harga diri.”
ANDARA : “Sudah, Run. Sudah. Jangan seperti itu
ke Bu RT.”
BU RT :
“Tuh! Lihat anak hasil didikanmu! Pembangkang dan tidak sopan dengan orang tua.”
RUNI : “Bu RT!”
ANDARA :
“Cukup, Run. Maafkan saya dan anak saya. Bu RT boleh menghina saya, tetapi
jangan hina anak saya. Saya sudah mendidik anak saya dengan baik.”
RUNI : “Ibuk tidak perlu minta maaf.
Kita tidak salah.”
ANDARA : “Runi!”
BU RT : “Dasar kalian! Wanita penggoda!”
PAK RT MENARIK ISTRINYA
DAN MENGAJAKNYA PULANG.
PAK RT : “Buk e sudahlah ayo pulang.”
BU RT : “Apasih, Pak! Lepaskan ibuk!”
PAK RT : “Buk e pulang saja. Malu jika
dilihat orang.”
BU RT : “Oh..Jadi menurut Bapak ibuk
malu-maluin?”
PAK RT : “Bukan begitu..”
BU RT : “Alahh..ini semua gara-gara wanita
jalang ini.”
BU RT MENJAMBAK RAMBUT
ANDARA HINGGA ANDARA BERTERIAK KESAKITAN. RUNI YANG TIDAK TERIMA IBUNYA
DISAKITI LALU MENDORONG BU RT HINGGA TERJATUH.
RUNI : “Bu RT!” (mendorong Bu RT hingga
terjatuh)
BU RT : “Ahhh..”
ANDARA : “Runi!”
BU RT : “Berani kamu ya sama orang tua!
Dasar anak haram!”
ANDARA MENAMPAR BU RT.
MUKANYA MEMERAH. TANGAN KIRINYA MENGEPAL MENAHAN AMARAH.
ANDARA : “Bu RT! Bu RT sudah keterlaluan!”
BU RT : “Beraninya kamu menampar saya.
Kamu cari mati?”
ANDARA : “Saya tidak akan seperti ini kalau Bu RT
tidak keterlaluan!”
BU RT : “Apa? Saya salah? Memang itu
faktanya kan? Iya kan?”
SUASANA MEMANAS.
PERTIKAIAN ANTARA BU RT DAN ANDARA SEMAKIN MENJADI-JADI. KEDUANYA SALING TAMPAR
MENAMPAR, JAMBAK-MENJAMBAK, HINGGA PUKUL-MEMUKUL. MALAM ITU SEMAKIN RICUH.
PAK RT : “Buk e sudah Buk e. Hentikan.”
RUNI : “Buk. Sudah, Buk.”
WARGA BERDATANGAN. ADA YANG MELERAI
BU RT DAN ANDARA. ADA YANG HANYA DATANG UNTUK MENONTON. NAMUN, TAK LAMA
KEMUDIAN SEMUANYA BUBAR.
MALAM SEMAKIN LARUT.
TERSISA RUNI DAN ANDARA. DUDUK BERDUA DI SEBUAH BANGKU BAMBU DI MUKA WARUNG
KOPI.
RUNI : “Buk. Apa maksud perkataan Bu RT
tadi?”
ANDARA : “Maksudmu?”
RUNI : “Apa benar Runi anak haram?”
ANDARA :
(Andara terdiam sejenak) “Mungkin sudah saatnya ibuk menceritakan ini padamu,
Nak. Kamu sudah besar, sudah waktunya mengetahui kebenarannya.”
RUNI : (Runi tidak bergeming)
ANDARA : “Dulu Ibuk dan Pak RT pernah dekat,
Run.”
RUNI : “Maksud, Ibuk?”
ANDARA :
“Iya, kami pernah menjalin hubungan. Tapi Yang Kung dan Utimu tidak merestui
kami, Run. Tapi Ibuk tetep saja kekeh dan melawan mereka. Kami tetap
berhubungan tanpa sepengetahuan mereka. Hingga suatu malam, kami bertindak
diluar batas.”
RUNI : “Yaallah, Buk.”
ANDARA : “Maafkan, Ibuk ya Run. Ibuk telah
berbuat salah. Ibuk telah berdosa.”
RUNI HANYA TERDIAM.
PIPINYA KEMUDIAN BASAH. ANDARA MELANJUTKAN CERITANYA
ANDARA :
“Setelah Pak RT tahu Ibuk hamil, dia tidak mau bertanggung jawab. Dia memilih
meninggalkan Ibuk lalu menikah dengan gadis kaya, seorang anak juragan. Dia
meninggalkan ibuk yang miskin ini.” (Andara menghela napas. Air matanya tak
terbendung lagi.) “Gadis kaya itu tak lain adalah Bu RT. Istri Pak RT
sekarang.”
RUNI : “Lalu?”
ANDARA :
“Orang-orang mengira bahwa ibu dihamili oleh pacar Ibuk yang tidak bertanggung
jawab, Run. Tidak ada yang tahu bahwa pacar Ibuk itu adalah Pak RT, bahkan Yang
Kung dan Utimu.”
RUNI : “Kenapa Ibuk diam saja? Kenapa
Ibuk tidak mengatakan yang sebenarnya.”
ANDARA :
“Ibuk diancam. Jika Ibuk membeberkan yang sebenarnya, Pak RT akan menyuruh
orang untuk membunuh Yang Kung dan Utimu, Run.”
RUNI : ”Yaa Allah, Buk.”
ANDARA : “Ibuk benar-benar minta maaf, Run. Ibuk
sudah melakukan kesalahan besar.”
RUNI : “Lalu?”
ANDARA :
“Lalu, Ibuk bertemu dengan bapakmu. Bapakmu benar-benar lelaki yang baik. Dia
mau menerima Ibuk. Janda miskin beranak satu. Bapak memperlakukanmu seperti
anak kandungnya sendiri, Run.”
RUNI MEMELUK ANDARA. AIR MATANYA
SUDAH TAK TERBENDUNG LAGI. SEPINYA MALAM MEMBALUT KISAH SENDU IBU DAN ANAK ITU.
BABAK 3
PUKUL 11 MALAM PAK RT
DATANG LAGI KE WARUNG KOPI. TAK SEPERTI BIASANYA IA DATANG DENGAN BERMURAM
DURJA.
MELIHAT PAK RT DARI
KEJAUHAN, ANDARA SEGERA MENUTUP WARUNG KOPINYA. IA TIDAK MAU TERLIBAT MASALAH
LAGI.
ANDARA : “Ada apa Pak RT? Saya mau tutup.”
PAK RT :
“Dek Dara, saya sudah peringatkan berkali-kali jangan ceritakan rahasia kita ke
orang lain.”
ANDARA : “Maksud, Pak RT apa?”
PAK RT : “Jangan pura-pura tidak tahu. Semalam
saya sudah mendengar semuanya.”
ANDARA : “Pak RT menguping pembicaraan kita?”
PAK RT :
“Sudahlah, kan kita sudah sepakat. Kalau Dek Dara melanggar tahu sendiri kan
akibatnya?”
ANDARA : “Oh! Jadi, Pak RT mau mengancam saya?”
PAK RT : “Saya hanya memperingatkan Dek
Dara.”
ANDARA :
“Pak RT. Runi itu anak saya, jadi saya berhak memberi tahu dia tentang
kebenarannya. Sudah Pak RT pulang saja. Saya tidak mau terekena masalah lagi.”
PAK RT :
“Apa Dek Dara mau nasib Runi sama seperti suami Dek Dara 5 tahun yang lalu?”
ANDARA :
“Astaugfirullah. Inget! Runi itu anakmu! Darah dagingmu!” (suara Andara
meninggi)
PAK RT : “Siapapun yang menghalangi rencana
saya akan saya singkirkan.”
ANDARA : “Meskipun anakmu?”
PAK RT : “Ya! Tidak peduli itu anak saya atau
bukan!”
ANDARA : “Astaugfirullah.”
TANPA SEPENGETAHUAN ANDARA DAN PAK
RT, RUNI TELAH MENGUPING PEMBICARAAN MEREKA. IA YANG AWALNYA HENDAK MENEMUI
IBUNYA, KEMUDIAN BERSEMBUNYI DI BALIK POHON KETIKA MELIHAT PAK RT DAN IBUNYA
TENGAH BERBICARA SERIUS.
RUNI : “Pergi!”
PAK RT : “Eh, Nak Runi. Sini duduk, Nak.”
RUNI : “Saya sudah tahu semuanya.”
PAK RT : “Maksud Nak Runi apa?”
RUNI :
“Dasar Pembunuh! Pergi dari hadapan saya dan ibuk saya! Saya jijik liat Anda!”
PAK RT : “Oh, jadi kamu barusan nguping ya?”
RUNI : “Jauhi ibuk saya!”
RUNI MENDORONG PAK RT
HINGGA TERJATUH.
PAK RT : “Kurang ajar! Kamu berani ya sama
orang tua? Saya ini bapakmu!”
RUNI : “Saya tidak pernah menganggap Anda
sebagai bapak saya!“
PAK RT : “Lancang! Dasar anak tak tahu
diuntung!”
RUNI : “Pergi! Atau saya teriak.”
PAK RT :
“Dasar bocah! Hati-hati dengan ucapanmu. Kalau kamu berani buka mulut kamu akan
tahu akibatnya.”
PAK RT PERGI MENINGGALKAN
WARUNG KOPI. TERSISA ANDARA DAN RUNI.
RUNI : “Kita tidak bisa diam saja
seperti ini, Buk.”
ANDARA : “Sudahlah, Run. Ibuk tidak mau kamu
kenapa-napa.”
RUNI : “Tidak bisa, Buk. Ini salah.
Runi tidak boleh tinggal diam.”
ANDARA :
“Jangan, Run. Jangan, Nak. Sudah cukup ibuk kehilangan bapakmu. Ibuk tidak mau
kehilangan orang yang ibuk cintai untuk kedua kalinya.
RUNI : “Ibuk tidak usah khawatir.”
ANDARA : “Apa yang akan kamu lakukan, Run?”
RUNI :
“Sudahlah, Buk. Mari kita pulang. Sudah malam. Warung juga sepi dari tadi.”
ANDARA : “Baiklah.”
RUNI DAN ANDARA MENUTUP WARUNG KOPI. MALAM
SEMAKIN SEPI. GELAP MENGGULITA
BABAK 4
PADA JAM YANG SAMA DI MALAM YANG
BERBEDA PAK RT DATANG LAGI. TETAP DENGAN WAJAH YANG BERMURAM DURJA.
DI WARUNG KOPI HANYA ADA ANDARA,
RUNI, DAN PAK RT. KETIGANYA SALING MEMANDANG TAJAM.
RUNI : “Ada apa lagi Anda ke sini?”
PAK RT : “Diam! Bukankah sudah kuperingatkan
kepada kalian untuk tutup mulut? Ini pasti ulah bocah ini. Kamu mau memeras
saya?” (menunjuk Runi)
RUNI : “Maksud Anda apa?”
PAK RT : “Alah, jangan pura-pura kamu! Kamu
kan yang meneror saya?”
ANDARA : “Sepertinya ini salah paham.”
PAK RT :
“Diam! Jangan ikut campur! Semenjak anakmu tahu semuanya, saya terus diteror.”
RUNI : “Anda gila. Pergi dari sini!”
RUNI MENDORONG PAK RT, NAHAS RUNI
DIBALAS DENGAN TUSUKAN. SEBUAH BELATI MENANCAP DI PERUTNYA. ANDARA BERTERIAK.
PAK RT MELARIKAN DIRI.
ANDARA : “Tolong! Tolong! Tolonggg!”
MENDENGAR TERIAKAN
ANDARA, WARGA MULAI BERDATANGAN.
ANDARA : “Pak, tolong, Pak. Anak saya, Pak.”
(Andara menangis tersedu-sedu)
KACONG : “Astaga. Kenapa bisa seperti ini, Mbak?”
RONI : “Astaughfirullah. Sebentar saya
periksa denyut nadinya.”
ANDARA : “Runi...bangun Runi. Jangan tinggalkan
ibuk, Run.”
RONI : “Maaf, Mbak Dara. Runi...Runi
sudah....”
ANDARA : “Runiiiii...”
ILHAM : “Sabar, Mbak. Semoga Runi tenang di
alam sana.”
MAK SUMI : “Sabar ya, Nduk. Istighfar. Ikhlaskan biar
Runi tenang.”
INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJI’UN.
RUNI TELAH MENINGGAL DI TANGAN BAPAKNYA SENDIRI. ANDARA TIADA HENTINYA
MENANGIS.
ILHAM : “Siapa, Mbak yang telah melakukan
hal keji ini?”
ANDARA : “Brudin! Ini semua ulah Brudin! Biadab!”
KACONG : “Apa? Pak RT?”
MAK SUMI : “Sabar, Nduk istighfar.”
ILHAM : “Mbak Dara tidak salah orang?”
RONI : “Cong, tolong panggilkan Pak
RT.”
KACONG : “Baik, Pak.”
TIBA-TIBA DARI KEJAUHAN
PAK RT DATANG DIIKUTI SANG ISTRI, BU RT. KACONG YANG HENDAK MEMANGGIL PAK RT
MENGURUNGKAN NIATNYA. PAK RT TERLIHAT SANTAI, SEMENTARA ANDARA MENATAPNYA TAJAM
DENGAN TATAPAN PENUH AMARAH.
ANDARA : “Biadab!”
MAK SUMI : “Nduk istighfar, Nduk.”
PAK RT : “Ada apa ini? Astaughfirullah hal
adzim. Nak Runi kenapa bisa seperti ini?”
ANDARA : “Diam kamu! Ini gara-gara kamu!”
BU RT :
“Dasar janda gatel, beraninya kamu maki-maki dan menuduh suami saya seperti
itu!”
ANDARA : “Biadab!”
BU RT : “Diam! Jaga bicaramu! Kamu sadar
siapa yang kamu maki-maki?”
PAK RT :
“Sudah, Buk e tidak apa-apa, mungkin Dek Dara terpukul karena Runi meninggal.”
ANDARA : “Brengsek! Dasar pembunuh!”
PAK RT :
“Bapak-bapak dan ibu-ibu apakah kalian tahu bagaimana kronologi ceritanya?”
ILHAM : “Tidak, Pak. Waktu saya ke sini
keadaan Runi sudah seperti ini.”
MAK SUMI : “Sama, Pak. Saya datang bersama Ilham.”
RONI : “Saya juga, Pak.”
KACONG : “Saya melihat ada sosok berpakaian serba
hitam, Pak.”
JANTUNG PAK RT BERDEBAR
KENCANG. IA TAKUT KACONG MENGETAHUI SEMUA RAHASIANYA. IA MULAI TIDAK TENANG DAN
BERKERINGAT DINGIN.
PAK RT : “Lalu apakah kamu tahu siapa itu,
Cong?”
KACONG ; “Mmmm...”
PAK RT : “Bagaimana, Cong?” (sekujur tubuh
Pak RT mulai dingin)
KACONG :
“Wajahnya tidak jelas, Pak. Saya melihatnya dari kejauhan jadi tidak begitu
jelas, Pak.”
PAK RT : “Kamu ini, Cong.” (Pak RT lega)
ANDARA : “Sudah ku bilang dia orangnya!” (Andara
bangkit dan mendorong Pak RT)
BU RT : “Diam! Jaga bicaramu!”
MAK SUMI : “Nduk, istighfar Nduk. Sadar, Nduk. Itu Pak
RT.”
KACONG : “Iya, Pak RT tidak akan melakukan hal
sekeji dan sekotor ini, Mbak.”
PAK RT :
“Tidak apa-apa, Mak. Mungkin Dek Dara sangat terpukul jadinya berhalusinasi.
Mari Dek kita bawa Nak Runi pulang.”
ANDARA : “Jangan sentuh anak saya!”
BU RT : “Ayo, Pak kita pulang. Perempuan
ini sepertinya sudah gila.”
PAK RT :
“Buk e. Kita harus membantu Dek Dara. Kasian nak Runi juga kalau dibiarkan
sepert ini.”
TIBA-TIBA ANDARA
PINGSAN. WARGA PANIK. PAK RT LEGA
SETIDAKNYA ANDARA TIDAK BANYAK BICARA LAGI. IA MEMINTA WARGA UNTUK
MENGANGKAT RUNI DAN ANDARA DAN MEMBAWA
MEREKA KE RUMAHNYA.
PAK RT :
“Bapak-bapak, tolong angkat Nak Runi dan Dek Dara, bawa mereka ke rumahnya.”
WARGA : “Baik, Pak.”
BU RT : “Ayo, Pak.”
PAK RT : “Saya menyusul. Ini ada telepon penting.”
BU RT : “Iya, Pak. Jangan lama-lama.”
TINGGALAH PAK RT SEORANG
DIRI. IA BERDALIH BAHWA ADA TELEPON PENTING. SEMENTARA WARGA BERANJAK KE RUMAH
ANDARA UNTUK MENGURUS PEMAKAMAN RUNI.
PAK RT MENUJU WARUNG
KOPI. MATANYA SEOLAH MENCARI. IA TAKUT ADA BARANG BUKTI YANG TERTINGGAL.
PAK RT :
“Aman! Tidak akan ada yang tahu kalau saya pembunuhnya.” (Pak RT tersenyum
sinis) Sekarang tidak akan ada lagi yang meneror dan memeras saya malam-malam.
Mampus kamu bocah tengik! Brudin dilawan.”
ANDARA KEMBALI KE WARUNG KOPI. IA
MASIH DENGAN AIR MATA YANG BERCUCURAN. DENGAN KESEDIHAN YANG MENDALAM.
ANDARA :
“Saya harus mencarinya..ya, saya harus mencarinya. (matanya menelisik seisi
warung) Kenapa tidak ada bukti apa pun? Ya Tuhan tolong bantu saya. Brudin
benar-benar biadab! Kamu akan mendapat balasan yang setimpal! (Andara terduduk
di kursi bambu, mengusap air matanya yang tiada henti membasahi pipinya)
Maafkan Ibuk, Run. Ibuk tidak bisa membuktikan yang sebenarnya. Tapi Ibuk akan
selalu berusaha untukmu, Run. Semoga kamu tenang di alam sana.”
ANDARA PULANG DENGAN TANGAN KOSONG.
BEGITUPUN TATAPANNYA. AIR MATANYA TELAH KERING MENANGISI KEPERGIAN ANAKNYA.
BATINNYA MENGUTUK BRUDIN YANG BERHASIL LOLOS DARI TUDUHANNYA.
BABAK 5
DI LAIN MALAM, DI JAM
YANG SAMA. UNTUK KETIGA KALINYA PAK RT DATANG KE WARUNG KOPI ANDARA. SEJAK
KEPERGIAN RUNI PAK RT MEMANG TIDAK MENAMPAKKAN BATANG HIDUNGNYA. NAMUN, MALAM ITU IA DATANG DENGAN PENUH AMARAH.
PAK RT : “Hei! Wanita jalang!”
ANDARA : “Biadab! Mau apa kau datang ke sini
lagi?”
PAK RT : “Kamu mau memeras saya? Kamu kan yang meneror saya setiap malam?”
ANDARA :
“Maksud kamu apa? Datang-datang marah-marah tidak jelas! Meneror apa? Saya
tidak mengerti!”
PAK RT :
“Kamu kan yang mengirim surat dan sms ancaman? Kamu juga kan yang melempari
jendela rumah saya dengan batu? Meneror istri dan anak saya! Wahhh! Licik
sekali kamu! Apa tidak cukup uang yang saya berikan?”
ANDARA : “Maksud kamu apa? Kamu mencurigai saya?”
PAK RT :
“Siapa lagi yang tahu rahasia saya kalau bukan kamu? Wanita jalang!
Gara-gara kamu istri dan anak saya
mencurigai saya. Apa kamu sudah melupakan kematian anakmu?”
ANDARA :
“Dengar baik-baik! Saya tidak pernah berbuat licik seperti kamu, begitu juga
anak saya.”
PAK RT :
“Alah, jangan pura-pura polos kamu. Sok suci! Kamu telah merusak rencana saya!
Rasakan ini!” (Pak RT mengeluarkan belati miliknya, dan menancapkannya ke perut
Andara)
ANDARA : “Biadab!”
PAK RT : “Mampus! Matilah kamu wanita
jalang!”
ANDARA : “Kau akan tertusuk belatimu sendiri!”
PAK RT TERTAWA. IA BAHAGIA ATAS
KEMATIAN ANDARA. IA SENANG KARENA TIDAK AKAN ADA LAGI YANG BISA MENGHALANGI
RENCANANYA.
PAK RT :
“Hahaha! Sekarang sudah tidak ada lagi yang harus saya takuti. Saya bisa tidur
nyenyak malam ini. Tidak seperti malam-malam sebelumnya. Tidak akan ada teror
lagi. Tidak akan ada yang memeras saya lagi. Sebentar lagi saya akan menjadi
orang kaya raya. Saya akan menyingkirkan istri jahanam itu. Akan saya merebut
hartanya. Saya akan mencari istri baru yang lebih cantik!”
TIBA-TIBA HP PAK RT
BERDERING. SEBUAH PESAN MASUK. TANGANNYA BERGETAR MEMBACA PESAN ITU.
PAK RT :
“Tidak! Tidak mungkin! Saya telah membunuh kedua wanita jalang itu. Tidak
mungkin!” (kakinya lemas, keringat dingin mengucur deras) “Jika bukan mereka,
lalu siapa yang mengirim pesan ini? Siapa yang telah meneror saya? Siapa yang
telah mengetahui rahasia saya? Bangsat! Apa mungkin mereka menceritakannya pada
orang lain? (mondar-mandir tidak jelas) Ah, saya rasa tidak mungkin. Saya
selalu memperhatikan mereka. Apa ada yang pernah menguping pembicaraan kami?”
BILA MALAM TELAH TIBA,
PAK RT TERUS MENDAPATKAN PESAN MISTERIUS. IA TIDAK PERNAH BISA TIDUR DENGAN
NYENYAK. BATINNYA TIDAK PERNAH TENANG. TABUNGANNYA MAKIN LAMA MAKIN MENIPIS.
MENTALNYA HARI DEMI HARI MAKIN TERGUNCANG. ISTRI DAN ANAKNYA MULAI MENJAUHINYA
BAHKAN MENINGGALKANNYA. MENGANGGAP IA SUDAH GILA KARENA BICARANYA SELALU
NGELANTUR.
PAK RT : “Bukan...bukan..bukan saya
pembunuhnya. Saya tidak bersalah.”
HINGGA SUATU MALAM, PAK
RT BUNUH DIRI. IA MENANCAPKAN BELATI MILIKNYA DI PERUT.
TIDAK ADA SATUPUN YANG
MENOLONG. TIDAK ADA YANG MENDENGAR TERIAKANNYA. TIDAK ADA LAGI JEJAK BERDARAH
DAN TIDAK ADA LAGI BALADA YANG MENGHARUKAN.
~TAMAT~
TENTANG PENULIS
CINDY FITRIA WULANDARI
atau yang sering dipanggil Cindy adalah mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas
Negeri Malang, angkatan 2017. Dunia kepenulisan telah digelutinya sejak berada
di bangku SMP. Kecintaanya pada dunia tulis menulis telah mendarah daging
bahkan menyatu dalam jiwanya. Bagi Cindy, menulis bukan sekedar merangkai kata, melainkan
bagaimana memaknai hidup dan melihat sesuatu dengan berbagai sudut pandang.
Dengan menulis, segala rasa tercurah, segala yang terbungkam dapat terkatakan.
Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi