NASKAH DRAMA BITTERSWEET
BITTERSWEET
Oleh: Cinda Rabita
RINGKASAN
Kalandra dan Deolinda sedang berlibur di Ubud.
Keduanya tengah menikmati liburan akhir tahun. Mereka sedang berada di sebuah
kafe ketika hujan turun dan hari mulai menggelap. Keceriaan yang terjadi di antara
mereka seolah meredup bersamaan dengan langit yang juga mulai menggelap. Kini
hawa dingin masih kalah dinginnya dengan emosi Deolinda, yang sedang meminta
Kalandra untuk segera menikahinya. Bukan tanpa sebab, mereka sudah bersama
selama tiga tahun dan usia keduanya sudah sangat matang untuk menikah. Akan
tetapi, trauma masa lalu akibat perceraian kedua orangtuanya membuat Kalandra
berpikir sedikit lebih lama untuk meminang Deolinda. Entah bagaimana akhirnya,
Deolinda memberi waktu untuk Kalandra memikirkan lagi keputusannya. Menikah
atau berpisah.
DRAMA PERSONA
DEOLINDA, perempuan karir yang baru saja berusia 27 tahun bekerja sebagai
seorang analis di sebuah perusahaan multinasional. Independen dan sayang
keluarga. Keras kepala, tetapi ia lebih senang menyebut dirinya teguh
pendirian. Selalu tampil elegan dan rapi, tetapi dapat bertingkah manja ketika
bersama kekasihnya, Kalandra. Memiliki rambut panjang sebahu yang berwarna
hitam berkilau dan lebih senang menggerai rambutnya. Deolinda senang
mengunjungi kafe, tetapi ia tidak pernah memesan kopi sebab kafein adalah musuh
utamanya. Selalu memesan cokelat hangat dan penggemar berat cheese cake. Mempunyai target untuk
menikah sebelum berusia 28 tahun.
***
KALANDRA, laki-laki berusia 31 tahun yang bekerja sebagai
pemimpin tim analis dan atasan Deolinda. Pekerja keras, keluarganya memiliki
bisnis resort di Bali, Lombok, Penang,
dan Langkawi tetapi ia lebih memilih untuk bekerja di perusahaan lain karena
ingin mencari pengalaman dan memulai usahanya dari nol. Sangat peduli terhadap
detail. Perfectionist garis keras.
Pemikir, pembuat keputusan yang baik dan tidak takut mengambil risiko.
Berasal dari keluarga kaya raya tidak membuat Kalandra
bahagia. Percerian kedua orangtuanya akibat perselingkuhan sang Mama membuat
Kalandra takut untuk menjalin hubungan rumah tangga dengan kekasihnya,
Deolinda. Lebih senang memanggil Deolinda dengan sebutan Dee. Sangat menyukai
Ubud. Selalu menghabiskan akhir tahun di Ubud bersama Deolinda. Kalandra andal
dalam mengambil keputusan dalam pekerjaannya, akan tetapi menjadi sangat payah
jika berurusan dengan rencana pernikahan seperti yang diajukan oleh Deolinda.
Deolinda dan Kalandra adalah
sepasang kekasih yang sedang berlibur di Ubud, Bali. Keduanya telah menjalin
hubungan selama tiga tahun, terhitung sejak pertama kali Kalandra menyatakan
perasaan kepada Deolinda secara tidak sengaja setelah insiden adu mulut antara
keduanya. Kini mereka sedang menikmati liburan akhir tahun setelah melewati
beberapa minggu hectic akibat pekerjaan.
Deolinda dan Kalandra sedang
berjalan menuju kafe. Di tengah jalan tiba-tiba Deolinda menghentikan
langkahnya. Ia meminta Kalandra untuk berfoto bersama. Akhirnya Kalandra
menuruti Deolinda. Akan tetapi, foto bidikan Deolinda terlihat buram. Deolinda
pun meminta untuk mengambil foto lagi.
Kalandra : “Malu, Dee.” (berbicara pelan sambil menatap sekitar)
Deolinda : “Sini, jangan jauh-jauh.” (menarik lengan Kalandra)
Kalandra : “Apa harus sama?” (menatap
ngeri ke arah Deolinda)
Deolinda : “Satu kali lagi, Kal. Lihat! Seperti
ini.” (menunjukkan jari telunjuk dan ibu jarinya yang membentuk love sign ala
korea)
Kalandra : “Seperti ini?” (menunjukkan jarinya kepada Deolinda)
Deolinda : “Bagus! Seperti itu. Sekarang
senyum.” (menatap Kalandra)
Kalandra : (tersenyum
kaku)
Deolinda : “Kamu ingin ke restroom?”
Kalandra : “Nope.”
(menggeleng)
Deolinda : (berdecak)
“Senyumnya yang natural, jangan ditahan!” (menarik
sudut bibir Kalandra gemas)
Kalandra : (pasrah)
Deolinda : “Yang natural, Kal. Seperti ini.” (tersenyum lebar kepada Kalandra)
Kalandra : (tersenyum
melihat Deolinda)
Deolinda : (menjentikkan
jari bersemangat) “Ya! Seperti itu. Tahan ya, kita mulai.” (mengarahkan
ponselnya ke depan) “Satu.. dua.. tiga.. cheers!” (membidik gambar)
Kalandra : (mendesah
lega)
Deolinda : “Nanti aku kirim ke kamu.” (tersenyum mengamati hasil bidikannya)
Kalandra : (tersenyum,
mengusap puncak kepala Deolinda)
Deolinda
dan Kalandra sedang duduk berhadapan di salah satu meja di kafe. Di luar sedang
hujan. Langit juga semakin menggelap pertanda bahwa hari semakin petang. Udara
sekitar terasa dingin. Keduanya masih setia duduk di meja yang berada di dekat
jendela.
Kalandra : “Selalu hujan ya, Dee.” (memandang ke luar jendela sambil tersenyum)
Deolinda : (menggedikkan
bahu) “Memang sudah waktunya hujan, kan?”
Kalandra : “Iya, tapi setiap kita ke sini selalu
hujan.” (menatap Deolinda sambil
tersenyum)
Deolinda : “Kita baru ke sini dua kali, tiga
kali dengan hari ini.”
Kalandra : (mendengus
geli) “Tiga kali, dan selalu hujan.”
Deolinda : (menyesap
cokelat hangatnya) “Kita selalu kemari setiap akhir tahun –kalau kamu lupa.”
Kalandra : “Kamu tahu sendiri, aku sangat
menyukai suasana kota ini.”
Deolinda : “Sampai aku jadi hafal setiap sudut
kota ini, padahal baru tiga kali kamu mengajak aku
kemari.” (mendengus geli)
Kalandra : “Aku pernah bilang, aku hanya kemari
dengan orang yang istimewa-”
Deolinda : “Dan orang itu adalah aku.” (memotong kalimat Kalandra sambil tersenyum bangga)
Kalandra : (tertawa)
“That’s my girl!”
Deolinda : “Apa nggak berniat ngajak orang-orang istimewa lainnya?” (menyendok cheese cake dari piringnya)
Kalandra : “Siapa?” (ikut menyendok cheese cake dari piringnya)
Deolinda : “Memangnya kamu nggak punya orang-orang istimewa lainnya?”
Kalandra : “Senin sampai Jumat aku di kantor. Weekend jarang bertemu teman. Mereka semua sudah berkeluarga.”
Deolinda : “Keluargamu. Kita bisa berlibur
bersama.”
Kalandra : “Keluargaku? Kamu tahu kalau kedua
orangtuaku berpisah sejak aku SMA.”
Deolinda : “It’s
been a long year. Apa kamu nggak
merindukan momen saat keluargamu berkumpul bersama?” (menatap Kalandra dengan serius)
Kalandra : “I
don’t know, Dee.” (tersenyum simpul)
Deolinda : “That’s
why I asked you to go with them. Liburan keluarga pasti menyenangkan.” (memegang tangan Kalandra yang ada di meja)
Kalandra : “Mereka nggak berpisah baik-baik. Mama selingkuh dengan sahabatnya.” (menatap tangannya yang dipegang Deolinda,
kemudian beralih memegang tangan Deolinda)
Deolinda : (mendengus)
“Kalau begitu, kamu lebih dekat dengan siapa?”
Kalandra : (mengusap dagunya sambil berpikir) “Papa, maybe. Aku sering bertemu Papa ketika akhir pekan.”
Kalandra : (mengusap dagunya sambil berpikir) “Papa, maybe. Aku sering bertemu Papa ketika akhir pekan.”
Deolinda : “Oh, ya? Kamu nggak pernah cerita.” (cemberut)
Kalandra : “Berdiskusi masalah pekerjaan. Nggak perlu cerita, kan?” (tersenyum)
Deolinda : “Kamu bilang nggak tinggal sama Papa.” (menatap
ke luar jendela)
Kalandra : “Kami tidak tinggal serumah. Aku
punya rumah sendiri.”
Deolinda : “Kamu bilang, Papa tinggal di Penang.”
(menoleh kembali ke Kalandra)
Kalandra : “Itu satu tahun yang lalu. Kami
sering bertemu setelah Papa pindah ke Kemang.” (menyesap
Americano sambil menatap Deolinda)
Deolinda : “Dan kamu nggak bilang ke aku? Great!”
(bersedekap)
Kalandra : “Aku lupa, terlalu banyak membahas
pekerjaan dengan Papa.” (meletakkan kembali
Americano ke meja)
Deolinda : (mendengus,
menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan cemberut)
Kalandra : (tersenyum
geli) “Kamu merajuk.”
Deolinda : “Aku nggak merajuk.”
Kalandra : “I’m
not asking, itu pernyataan. Kamu merajuk.”
Deolinda : “Nggak,
Kalandra.”
Kalandra : “Yes,
you did.”
Deolinda : (mendengus
kesal sambil memutar bola mata)
Kalandra : “Maaf. Please don’t be mad at me.” (mengambil
setangkai bunga yang menjadi hiasan di meja dan memberikannya pada
Deolinda)
Deolinda : (berdecak,
mengabaikan bunga yang diberikan kepadanya) “Kapan kamu akan mengajak aku bertemu orangtuamu?”
Kalandra : “Nanti, Dee. Setelah aku siap dengan
semua ini.” (mengembalikan bunga pada vas)
Deolinda : “Kalau begitu aku akan memaafkanmu
setelah bertemu orangtuamu.” (tersenyum
sinis)
Kalandra : (menghela
nafas) “Don’t be so difficult,
Dee.”
Deolinda : (menghela
nafas) “Ini sudah tiga tahun, Kalandra. Apa yang membuat kamu belum siap?” (wajahnya berubah kesal)
Kalandra : (mengusap
wajah)
Deolinda : “Aku sudah hampir kepala tiga.
Sebentar lagi kamu 32.” (menumpukan tangannya pada meja, menegakkan duduknya)
Kalandra : “I
know. Aku akan memikirkannya. Oke?” (menggengam
tangan Deolinda di meja)
Deolinda : “Bunda menerorku setiap hari, bertanya
kapan kamu akan melamarku.”
Kalandra : “Aku bisa melamarmu sekarang juga.”
Deolinda : (menggeleng
sambil menatap Kalandra)
Kalandra : “Kamu nggak mau?”
Deolinda : “Menikah. Aku ingin kita menikah.”
Kalandra : “Itu terlalu terburu-buru, Dee.”
Deolinda : “Kalau begitu, lamaran secara resmi.
Ajak keluarga kamu menemui orangtuaku.” (menarik tangannya dari genggaman Kalandra)
Kalandra : “Aku bingung harus mengajak keluarga
dari pihak Mama atau Papa.”
Deolinda : “Kamu bisa ajak keluarga dari pihak
Papa kalau memang lebih dekat dengan mereka.”
Kalandra : “Let
me think about it later. Ya?” (menatap
meminta persetujuan)
Deolinda : “Berapa lama lagi aku harus
menunggu?”
Kalandra : “What’s
wrong with you? Kamu habis nonton drama lagi, ya?”
Deolinda : “Kalandra, aku mungkin masih bisa
menunggu. Tapi tidak dengan Bunda.”
Kalandra : (menghela
nafas) “Fine, aku akan bicara
pada Bunda.”
Deolinda : “Aku anak terakhir, kamu ingat?”
Kalandra : (tertawa
kecil) “Tentu saja, Dee.”
Deolinda : “And
I’m the only daughter. Ketiga abangku sudah menikah. Bunda ingin
melihat anak perempuannya menikah.”
Kalandra : “Baiklah, let’s talk about it later. Sekarang kita ngobrol biasa saja. You’re not in a good mood to talk about marriage.”
Deolinda : “Bunda mengidap penyakit jantung.” (suaranya memelan)
Kalandra : “Cukup, kita bahas itu nan-.. Apa?” (terkejut)
Deolinda : “Aku cukup yakin kamu mendengarnya.”
Kalandra : (mengusap
rambutnya frustrasi)
Deolinda : “Jadi, bagaimana? Aku nggak ingin hubungan kita stagnan. Kamu
sudah mapan dan usiamu sudah matang, begitu juga
denganku. Kita hanya perlu lebih serius lagi, Kal. Aku yakin saat memutuskan untuk
bersama, kita memiliki tujuan yang sama.” (tersenyum)
Kalandra : “Semuanya terlalu tiba-tiba, Dee.
Harusnya ini menjadi kencan yang menyenangkan.” (menatap Deolinda)
Deolinda : “Tiga tahun bukan waktu yang
tiba-tiba untuk membahas pernikahan, Kalandra. Kamu serius dengan aku, kan?”
Kalandra : “Tentu saja aku serius. Aku bukan
orang yang senang bermain-main.”
Deolinda : “Lalu, kenapa kamu perlu waktu lagi?”
(mengangkat alis)
Kalandra : “Aku yakin kamu sudah tahu
jawabannya.”
Deolinda : “Kamu masih trauma dengan perpisahan
orangtuamu?” (menyipit)
Kalandra : “Bukan trauma, aku hanya takut gagal
membina hubungan. Aku butuh beberapa waktu lagi.” (mengalihkan pandangan)
Deolinda : “Tiga tahun kita bersama, apa pernah
sekali saja aku membohongimu?”
Kalandra : “Tidak.”
Deolinda : “Aku berbeda dengan Mama, Kalandra.
Tidak semua perempuan akan melakukan hal seperti itu. Pernikahan adalah
sesuatu yang sakral.”
Kalandra : “Aku tahu.”
Deolinda : “Keluargaku dan keluargamu berbeda.
Kamu tahu kan aku dibesarkan di keluarga yang seperti apa?”
Kalandra : “Maksudmu keluargaku bukan keluarga
baik-baik? Aku nggak nyangka kamu bisa mengatakan
hal seperti itu.” (menyesap americano
lagi, meletakkan gelas ke meja)
Deolinda : “Bukan seperti itu, Kalandra.” (mengusap dahinya frustrasi sambil menunduk)
Kalandra : “Lalu apa maksud dari ucapanmu?”
Deolinda : “Dengan latar belakang keluargaku, aku
bisa menjamin kalau aku nggak akan pernah
berselingkuh.” (menatap Kalandra)
Kalandra : “Meskipun orangtuaku berpisah, aku
tetap menganggap pernikahan adalah hal yang sakral, Deolinda.” (serius)
Deolinda : “Aku percaya.”
Kalandra : “Bagus. Terima kasih sudah percaya.”
Deolinda : (menghela
nafas)
Kalandra : “Kenapa?”
Deolinda : “Bunda menyarankanku untuk kencan
buta dengan salah satu anak buah Ayah yang masih melajang.”
Kalandra : “Kamu tidak pernah bilang.” (menatap Deolinda tidak percaya)
Deolinda : “Tadinya aku ingin menolak saran
Bunda karena aku berpikir kamu akan segera melamarku. Tetapi, kamu justru memintaku untuk
menunggu lagi. Tiga tahun menunggu di usia kritis tidak semudah itu,
Kalandra.” (menegakkan kembali duduknya)]
Hening
sejenak di antara keduanya. Baik Kalandra maupun Deolinda sama-sama sibuk
dengan pikirannya. Kalandra akhirnya membuka suara untuk memecahkan keheningan
tersebut.
Kalandra : (menghela
nafas) “Kamu menyukainya?”
Deolinda : “Siapa?” (bingung)
Kalandra : “Laki-laki itu. Kamu menyukainya?” (mengangkat alis)
Deolinda : “Aku bahkan hanya tahu namanya.”
Kalandra : “Kamu ingin mencoba dengannya?”
Deolinda : “Astaga! Apa yang sedang kamu
pikirkan?!” (sebal)
Kalandra : (mengusap
wajahnya frustrasi)
Deolinda : “Kamu ingin aku mencobanya?”
Kalandra : “Aku masih sangat waras untuk tidak
membiarkan pacarku berhubungan dengan laki-laki lain.” (menatap Deolinda)
Deolinda : “Lalu kenapa kamu bertanya?”
Kalandra : “Aku hanya takut.” (menunduk)
Deolinda : “Demi Tuhan! Kamu laki-laki tetapi
ada lebih banyak hal yang kamu takutkan.”
Kalandra : “Apa aku terlihat seperti itu?” (tersenyum miris)
Deolinda : “Kamu menolak untuk menikah
denganku.”
Kalandra : “Dee, please. Aku nggak pernah
berpikiran untuk menolak kamu.”
Deolinda : “Lalu kenapa kamu ingin aku menunggu
lagi?” (suaranya bergetar)
Kalandra : “Beri aku sedikit waktu lagi, Dee.
Aku nggak akan mengecewakan kamu.”
Deolinda : “Kalandra, please...” (memijat
hidungnya)
Kalandra : “Aku nggak akan begini kalau dulu Mama nggak mengabaikan dan memukulku hanya demi selingkuhannya.” (tersenyum miris)
Deolinda : “Tapi itu sudah sangat lama, dan aku
bukan wanita seperti itu, Kalandra.”
Kalandra : “Sebentar lagi, Dee. You can have my words.”
Deolinda : “Seharusnya aku dulu mengabaikan kamu
ketika kamu selalu menggangguku di kubikelku.” (matanya menerawang)
Kalandra : “Aku atasanmu. Kamu nggak bisa mengabaikan perintah
atasanmu.” (menyeringai)
Deolinda : “Ya, kamu atasanku. Ke mana perginya
atasanku yang selalu mengambil keputusan dengan cepat dan tepat?”
Kalandra : “I’m
here, Deolinda. Aku tepat berada di depanmu.”
Deolinda : “Aku sangat yakin jika atasanku bukan
orang penakut. Ia selalu membuat keputusan dengan tepat dan berani mengambil
risiko.”
Kalandra : “Ini masalah yang berbeda dengan
pekerjaan, Deolinda.”
Deolinda : “Kamu bahkan menyebut hubungan kita
adalah masalah.” (terperangah tidak percaya nada
bicaranya sedikit naik)
Kalandra : “Astaga, Deolinda!” (nada bicaranya meningkat)
Deolinda : “Kamu membentakku?” (nada bicaranya bergetar)
Kalandra : “Maafkan aku.” (meraih tangan Deolinda)
Deolinda : “Ada keahlianmu yang lain selain
meminta maaf?”
Kalandra : “Aku mencintai kamu.” (menatap mata Deolinda dalam)
Deolinda : (berdecak
kemudian berdiri, beranjak dari kursinya)
Kalandra : (beranjak
mengikuti Deolinda)
Deolinda : “Kalau begitu, aku tunggu hingga
besok pagi. Silakan buat keputusan. Kamu akan menikahiku atau kamu akan membuat aku
menungu.”
Kalandra : “Apa aku boleh membuat keputusan yang
kedua?”
Deolinda : “Aku nggak akan menunggu untuk tiga tahun lagi, Kalandra. Sampai jumpa besok pagi di
tempat yang sama.” (melangkah pergi meninggalkan Kalandra)
Kalandra : “Kalau begitu aku akan memilih opsi
pertama.” (mengikuti Deolinda)
Deolinda : (tetap
berjalan) “Aku tunggu besok. Jangan membuat keputusan ketika kamu sendiri nggak yakin dengan dirimu.”
Kalandra : “Dee! Deolinda!” (berusaha mengejar dan memangil Deolinda dan berhenti ketika Deolinda
menghentikan langkahnya)
Deolinda : (menghentikan
langkah, menoleh ke arah Kalandra lalu kembali melanjutkan langkahnya dan
meninggalkan Kalandra)
Kalandra
menatap nanar punggung Deolinda yang semakin menjauh. Ia menghela nafas,
berbalik kembali ke tempat duduknya. Perempuan itu meninggalkan tasnya. Ia
tersenyum kecut. Bagaimana mungkin ia dapat meninggalkan perempuan itu jika ia
selalu saja bersikap ceroboh. Esok pagi ia akan menemui Deolinda. Memberi
jawaban yang terbaik bai keduanya.
TENTANG PENULIS
CINDA RABITA, atau yang akrab disapa Cinda merupakan mahasiswa
Sastra Indonesia di Universitas Negeri Malang sejak tahun 2017. Kesibukannya
sebagai mahasiswa dan anak kos tidak menyurutkan semangatnya untuk menjadi penulis.
Gadis yang lahir pada 8 Januari 1999 ini mengaku senang dengan kegiatan
kepenulisan sejak kecil. Bagi Cinda, menulis bukan sekedar pelepas dahaga,
tetapi juga pelipur lara. Dengan menulis ia dapat berkelana tanpa batas dan
menuntaskan segala imajinasinya yang tak terbatas.
Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi