NASKAH DRAMA BUNUH AKU DENGAN DRAMAMU
Bunuh Aku Dengan Dramamu
Riska
Cania Dewi
Tokoh
1.
Mama
Mama Cintia yang memiliki hati yang
lembut
2.
Papa
Papa Cintia yang memiliki karakter
Keras Kepala, karena keras kepalanya itu membuat Cintia putus asa dengan
hidupnya.
3.
Cintia
Cintia memiliki karakter yang keras
kepala seperti ayahnya, karena keras kepala itu Cintia dengan Papanya tidak
pernah akur.
Tokoh
Pembantu
1.
Perawat
2.
Dokter
Adegan
1
Di dalam kamar yang
gelap
Mama : “kamu
sakit?”
Cintia : “enggak”
Mama : “kamu
sakit?”
Cintia : “enggak
(sambil membelakangi mama)”
Mama : “ayo,
ke dokter!”
Cintia : “enggak,
Cintia cuma butuh istirahat”
Mama : “kamu
harus periksa sekarang”
Cinta : “(hanya
diam dan menutup wajahnya dengan selimut)
Mama kemudian pergi meninggalkan cintia
Beberapa menit kemudian papa yang masuk
kedalam kamar cintia”
Papa : “ayo
ke dokter”
Cintia : “enggak”
Papa : “cepat
bangun atau papa yang paksa kamu bangun”
Cintia : “enggak
pa”
Papa : “cepat!”
Cintia diam tak
bergerak sama sekali.
Papa :”
Cintia , Cintia!” (berteriak, dengan mata melotot)
Cintia tetap tidak bergerak
Papa : “Cintia!”
(berteriak sekali lagi dan mencoba mendekati cintia)
Papa segera menggendong
membawa ke rumah sakit.
Adegan
2
Setibanya Cintia segera
dilarikan menuju ruang UGD. Perawat segera memberikan oksigen dan menyadarkan Cintia.
Perawat terus saja menyebut nama Cintia dan menepuk-nepuk lengan Cintia agar Cintia
cepat sadar.
Mata Cintia sudah
bergerak perlahan dan cintia mulai membuka mata
Mama : “Cintia”
( dengan suara lembut dan mengusap rambut cintia)
Cintia hanya diam dan
melirik ke kanan dan ke kiri. Perawat kembali untuk mengambil darah Cintia
Cintia : “Cintia
mau pulang”
Mama : “Enggak boleh nak… hasil cek darah belum
keluar. Kamu disini sampai
hasil cek darah keluar”
hasil cek darah keluar”
Cintia : “ya”..
Adegan
3
Cintia dipindahkan ke
ruang intensif.
Tiga hari kemudian…
Cintia : “Cintia
mau pulang”
Papa : “Tidak.
Cintia harus disini sampai sehat”
Cintia : “Cintia
sudah sehat”
Papa : “Belum”
Cintia : “Cintia
mau pulang!”
Papa : “Enggak!”
Cintia : “Kenapa?”
Papa : “Papa
bilang enggak ya enggak”
Cintia : “Cintia
tidak butuh oksigen tidak butuh infus”
Papa : “Cintia
butuh”
Cintia : “Cintia
kenapa?”
Papa : “Cintia
demam”
Cintia : “Demam?
Lalu kenapa ada oksigen?”
Papa : “Cintia
sempat pingsan”
Cintia : “Tapi
ini sudah lama, seharusnya sudah bisa di lepas pa..”
(Papa hanya bisa diam)
Cintia : “Papa
bohong!”
Papa : “Enggak.
kenapa papa harus bohong?”
Cintia : “Papa
menyembunyikan sesuatu. Cintia tidak butuh ini semua”
(Sembari berusaha melepas oksigen dan infus)
Papa : “Cintia!
Cintia berhenti!”
Cintia
tidak menghiraukan papa dan masih berusaha untuk melepas Papa memencet tombol
bantuan untuk memanggil perawat dan dokter dan berusaha menghentikan Cintia.
Perawat
dan dokter berlari menuju ruangan cintia dan mencoba menghentikan
cintia.Akhirnya dokter menyuntikkan obat bius pada Cintia dan Secepat mungkin
suster memasang kembali oksigen yang sudah di lepaskan oleh Cintia
Adegan
4
Setelah Cintia sadar
Cintia : “Pa Cintia mau pulang pa”
Papa : “Cintia tidak boleh pulang”
Cintia : “Kenapa pa?”
Papa : “Papa bilag tidak ya tidak. Ayo makan sekarang, papa
suapin!”
Cintia : “Enggak”
Papa : “Ayo makan!”
Cintia : “Cintia bilang enggak ya enggak pa!”
Papa : “Cintia!”
Cintia : “Papa!”
Papa : “Cintia makan atau papa tidak akan kesini lagi!”
Cintia : “terserah papa!”
Papa : “Cintia makan!”
Cintia : “Sebelum papa jujur, Cintia gak akan makan!”
Papa : “Cintia demam. Papa sudah berulangkali bilang, Cintia demam!”
Cintia : “Papa.. bo.hong...!”
Papa : “Cintia!”
Cintia : “Papa!”
Papa : “Kamu berani ya sama papa”
Cintia : “Papa berani ya bohongin anak papa sendiri, Cintia!!”
Papa : “Papa gak bohong”
Cintia : “Papa BOHONG!”
Papa : “Papa gak suka ya Cintia seperti ini sama papa!”
Cintia : “Cintia gak suka ya papa bohong seperti ini!”
Papa : “Ayo makan, keburu dingin” (dengan nada yang halus dan sedikit menyerah)
Cintia : “Enggak. Cintia lebih baik mati dari pada harus
berpura-pura tidak tau
dengan kebohongan mama dan papa!”
dengan kebohongan mama dan papa!”
Mama : “Cintia gak boleh bilang seperti itu!” (tiba-tiba muncul dari pintu)
Cintia : “Mama, Cintia kenapa?”
Mama : “Kamu demam nak...”
Cintia : “Mama bohong!”
Mama : “Enggak sayang”
Cintia : “CINTIA ENGGAK PERCAYA MAMA DAN PAPA!”
Papa : “CINTIA!”
Cintia hanya diam, berbalik dan menutup wajahnya dengan selimut.
Cintia : “Mama, papa pergi!” (ujar cintia pelan, tanpa membuka selimut)
Mama dan papa terdiam dengan apa yang dikatakan Cintia. Mereka tidak percaya bahwa putrinya, berbicara
seperti itu pada orangtuaya.
Mama : “Cintia” (duduk disebelah cintia dan mengelus kepala cintia)
Cintia tidak menghiraukan, suara mama
Mama : “Cintia, ayo makan nak”
Cintia : “Enggak”
Mama : “Mama suapin”
Cintia : “Cintia tidak lapar”
Mama : “Meskipun kamu gak mau makan, kamu harus tetap makan”
Cintia : “Enggak”
Papa : “Ayo makan”
Cintia : “Enggak”
Mama : “Hp kamu bunyi, mau mama ambilin?”
Cintia : “Iya”
Papa : “Dari siapa?”
Cintia : “Cowok Cintia”
Papa : “Kamu punya cowok?”
Cintia : “Punya”
Papa : “Siapa yang ngajarin kamu pacaran?”
Cintia : “Enggak ada, Cintia sendiri yang mau”
Papa : “Kamu ya bener-bener anak gak bisa di untung!”
Cintia : “Lah suka- suka Cintia. Papa aja bisa suka-suka papa. Kenapa Cintia enggak
boleh!”
boleh!”
Papa : “Cintia!”
Cintia : “Papa tidak bisa ya, ngatur-ngatur Cintia. Cintia sudah besar pa!”
Papa : “Cintia. Berani ya cintia ngomong gitu ke papa!”
Cintia : “kenapa gak berani? Papa aja berani bohong ke Cintia”
Papa : “putus sekarang!”
Cintia : “enggak, cuma mas Dio yang ngerti Cintia, yang jujur sama Cintia!”
Papa : “bagaimana kamu tau Dio jujur ke kamu?”
Cintia : “hati kecil Cintia yang bilang”
Papa : “enggak, ini enggak bener Cintia. Putus sekarang!”
Cintia : “kalau papa jujur, Cintia akan putusin mas Dio sekarang”
Papa : “putusin sekarang!”
Cintia : “papa!”
Papa : “PUTUS SEKARANG!”
Cintia : “papa pilih Cintia pacaran atau papa cerita semuanya?”
Tiba-tiba tangan ayah merebut hp cintia dan membatingnya.
Cintia : “PAPA!”
papa hanya diam dengan wajah merahnya dan keluar dari kamar Cintia.
Adegan
4
Mama : “Pa?”
Papa hanya menengok
membelakangi mama
Mama : “apa
tidak sebaiknya kita cerita ke Cintia?”
Papa : “Cintia
gak boleh tahu tentang apapun, itu akan memperburuk keadaan ma”
Mama : “lalu
bagaimana dengan sikap Cintia yang semakin keras pa? apa papa gak
khawatir dengan sikapnya?”
khawatir dengan sikapnya?”
Papa : “bukan
papa gak khawatir, tapi ini masalah kondisi Cintia ma. Papa sangat
khawatir dengan perubahan sikap Cintia,tapi mau bagaimana lagi ma..?”
khawatir dengan perubahan sikap Cintia,tapi mau bagaimana lagi ma..?”
Mama : “pa,
anak kita bukan anak kecil lagi. Cintia pasti bisa mengendalikan dirinya
setelah kita menjelaskan semuanya pa”
setelah kita menjelaskan semuanya pa”
Papa : “ini
bukan masalah anak kecil atau enggak ma. Ini masalah KONDISI
Cintia.Masalah nyawa Cintia ma. Iya kalau Cintia bisa menerima
keadaanya, jika tidak bagaimana? Mama mikir gak sih!”
Cintia.Masalah nyawa Cintia ma. Iya kalau Cintia bisa menerima
keadaanya, jika tidak bagaimana? Mama mikir gak sih!”
Mama : “tapi
pa….”
Papa : “ah.
Sudah” (membuang muka dan mengibaskan tangan. Tidak peduli
dengan apa yang diucapkan mama)
dengan apa yang diucapkan mama)
Hari
terus berlajan. Sikap Cintia yang makin hari makin dingin dengan orangtuanya.
Cintia tidak mau makan apapun jika orangtunya berada didekatnya. hanya perawat
dan dokter yang bisa melihat Cintia dari dekat, orangtua Cintia hanya bisa
melihat dari balik kaca pintu.
Adegan
5
Aku
gak bisa gini terus. Cuma diam liat kebenaran yang mereka tutupi. Aku harus
cari tau apa yang sebenarnya terjadi. Tapi gimana caranya. Cintia
terus berfikir dan bertanya pada dirinya sendiri.
Cintia
akhirnya Cintia menemukan jawabannya, tanpa berfikir panjang Cintia melakukan
apa yang dikatakan yang disarankan oleh otaknya.
Perawat :
“hey, apa yang kamu lakukan? Apakah kamu bodoh. Berhenti!”
Cintia :
“jangan mendekat!”
Perawat :
“oke saya tidak akan mendekat, tapi tolong letakkan pisau itu”
Mama : “Cintia! Apa yang kamu lakukan nak”
Cintia : “lebih baik Cintia mati daripada
Cintia harus terus melihat mama
papa menyembunyikan sesuatu tentang Cintia!”
papa menyembunyikan sesuatu tentang Cintia!”
Mama : “jangan bodoh kamu Cintia. Papa
dan mama tidak menyembunyikan
apapun nak”
apapun nak”
Cintia :
“lagi-agi mama bohong. Harus berapa kali lagi mama dan papa harus
bohong sama Cintia hah? Cintia bukan anak kecil lagi yang gak peka
dengan keadaan, yang percaya sama apapun yang keluar dari mulut
papa dan mama!”
bohong sama Cintia hah? Cintia bukan anak kecil lagi yang gak peka
dengan keadaan, yang percaya sama apapun yang keluar dari mulut
papa dan mama!”
Papa : “ada apa ini?”
Mama : “pa, Cintia pa”
Papa : “Cintia, taruh pisaunya! Gak usah
bodoh. Gak usah jadi pecundang”
Cintia : “memang Cintia pecundang!”
Papa : “Cintia!”
Cintia : “Papa!”
Papa : “cepat taruh atau kamu papa
gampar!”
Cintia : “Nih pipi gampar pa, biar papa
puas! Lebih baik Cintia mati dari
pada Cintia harus mendengar kebohongan lainnya yang mama dan
papa buat”.
pada Cintia harus mendengar kebohongan lainnya yang mama dan
papa buat”.
Papa : “Mama dan papa tidak bohong sama
apapun”
Cintia : (dengan senyuman nyengirnya) “Hah,
lagi-lagi papa mempermainkan
Cintia!”
Cintia!”
Papa yang dengan
langkah kcilnya mendekati Cintia
Cintia : “Papa berhenti. Jangan dekati
Cintia sebelum papa ngomong jujur!”
akhirnya
Cintia menggores pergelangan tangannya dengan pisau buah yang disediakan oleh
Rumah Sakit. Darah segar terus mengucur
dari pergelangan tangannya dan Cintia mulai lemas dan pingsan. Mama
Cintia yang menyaksikan tingkah bodoh anaknya, juga ikut pingsan. Suster menolong
Mama Cintia. Papa Cintia dan dokter dengan segera menolong Cintia dan segera
membawa Cintia ke UGD.
BIOGRAFI PENULIS
Riska Cania Dewi, lahir
di Malang, 31 Januari 1999. Seorang mahasiswa yang sering kali dikenal dengan
nama Chaca atau Riska, saat ini sedang menempuh pendidikan di Universitas
Negeri Malang jurusan Sastra Indonesia. Pemilik instagram @rcania31.
Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi