NASKAH DRAMA "DENAYA"
DENAYA
Oleh : Risma Septyana Sari
Denaya Ayu atau lebih sering dipanggil dengan nama
Naya adalah seorang perempuan muda yang baru saja lulus kuliah. Dia seorang
gadis cantik berusia 22 tahun. Dia memiliki seorang kekasih bernama Aryo.
Mereka sudah menjalin hubungan cukup lama dengannya dan sudah memiliki rencana
untuk membawa hubungan mereka kedepannya.Naya bercita-cita ingin bekerja
disebuah kantor sebagai seorang sekretaris. Naya melamar kesana kemari mencari
pekerjaan, mungkin masih belum rezekinya dia masih belum mendapatkan pekerjaan.
Namun semua itu tidak menyurutkan semangat Naya dalam mecari pekerjaan.
Naya :
“Selamat pagi mbak, ruang interview dimana ya?”
Dewi :
“Siapa anda?, ada urusan apa?”
Naya :
“Saya Naya, saya akan melakukan interview
mbak. Bisa kasih tau ruangannya dimana? Saya sudah terlambat.”
Dewi :
“Penampilanmu seperti ini saja kok mau interview.”
Naya :
“Mbak jangan banyak omong ya! Saya sudah terlambat.”
Dewi :
(hanya memandangi Naya dari atas sampai
bawah)
Naya :
“Mbak, saya tidak butuh penilaian dari mbak! Yang saya butuhkan sekarang mbak
memberi tahu saya dimana letak ruang interviewnya.”
Dewi :
“Loh mbak kok nyolot sih, emang mbak itu gak pantes kerja disini. Penampilan
mbak aja gak menarik samasekali. Mendingan mbak keluar dari kantor ini.”
Naya :
“Kenapa mbak mengusir saya? Apa kuasa mbak di kantor ini?”
Dewi :
“Saya adalah kekasih pemilik kantor ini.”
Naya :
“Halah mbak jangan khayal deh. Liat aja diri mbak, wajah udah seperti
ondel-ondel, baju saja bahannya kurang, memang mbak gakpunya uang buat beli
baju yang bahannya lebih?
Dewi :
“Eh dijaga ya mbak omongannya. Saya adukan ke pemilik kantor ini biar mbak
tidak diterima kerja disini.”
Naya :
“Mbak… sudah mimpinya? Mana mau pemilik perusahaan ini mengakui kalua punya
saudara seperti anda. Malu-main saja. Sudah jangan banyak ngomong mbak, apakah
kurang jelas pertanyaan saya dimana letak ruang interviewnya?”
Dewi :
“Pulang saja mbak… mbak itu….”
Naya :
(memotong omongan resepsionis)
“Mbak!!! (sambal menggebrak meja)”
Dewi :
“Ruang interview berada di lantai 7 ruangan paling kiri! Dasar wanita bar-bar”
Naya :
“Begitu saja lama banget. Niat kerja apa enggak sih.” (sambal meninggalkan meja resepsionis dan menuju ruang interview)
Naya tidak mengetahui bahwa yang mewawancarainya nanti
adalah pemilik perusahaannya langsung.
Setibanya didepan ruang interview
Naya :
“(mengetuk pintu) permisi”
Deon :
“ Iya, silakan masuk”
Naya :
(hanya melongo karena mengagumi
ketampanan laki-laki yang berada didepannya)
Deon :
“Kalau hanya bengong saja lebih baik kamu keluar.”
Naya :
“Eh, maaf pak apa benar ini ruang untuk interview?”
Deon :
“Iya benar, silakan duduk.”
Naya :
“Terima kasih pak.”
Deon :
“Perkenalkan saya Deon Mahendra kepala HRD perusahaan ini.”
Naya :
“saya Denaya Ayu yang mendapatkan surat untuk melakukan interview pada hari ini.”
Deon :
“Interview? Mohon maaf mbak untuk jam
interviewnya sudah habis, jadi mbak
tidak bisa melakukan interview.”
Naya :
“Pak, saya terlambat interview
gara-gara pegawai bapak yang belagu itu.”
Deon :
“Pegawai yang mana ya mbak? Kami disini menilai kualitas sebelum menerima
karyawan. Kami pasti memilih yang berkompeten.”
Naya :
“Pegawai yang berkompeten? Resepsionis belagu seperti itu kok diterima kerja.”
Deon :
“Apa maksud anda berbicara seperti itu? Justru anda yang tidak berkompeten
disini dan tidak layak untuk diterima disini.”
Naya :
“Saya tidak berkompeten? Kalau saya tidak berkompeten, tidak mungkin saya
datang kesini untuk melakukan interview.”
Deon :
“Iya… kamu tidak berkompeten, kamu datang terlambat, setelah memasuki ruangan
ini kamu malah menghina karyawan saya. Lebih baik anda keluar dari ruangan
ini!”
Naya :
“Pak, saya terlambat karena karyawan bapak yang berada di bagian resepsionis
tidak segera menjawab pertanyaan saya saat saya menanyakan ruangan interviewnya. Malah dia menghina
penampilan saya dan dia mengaku-ngaku kalau dia adalah kekasih pemilik
perusahaan ini.”
Deon :
“Jangan mengarang cerita, saya bukan guru yang dengan suka cita mendengarkan
karangan-karangan siswanya.”
Naya ;
“Siapa juga yang mengarang pak. Saya mengatakan apa adanya.”
Deon :
“Tidak mungkin pegawai-pegawai kantor ini berbicara tidak sopan dan
bisa-bisanya mengaku sebagai kekasih pemilik perusahaan. Kamu berbohong ya?”
Naya :
“Astaga… untuk apa juga pak saya bohong kepada anda, tidak ada manfaatnya
juga.”
Deon :
“Saya akan memanggilkan resepsionis kantor ini, kalau memang kamu berbohong
anda tidak saya terima bekerja disini dan silakan pergi dari kantor ini.”
Naya :
“Oke, siapa takut.”
Deon :
“Kita buktikan saja (kemudian menelfon
bagian resepsionis)”
Dewi :
“Permisi pak, apakah benar bapak memanggil saya?”
Deon :
“Ya, saya memanggil kamu.”
Dewi :
“Ngapain kamu masih disini? (sambal
menunjuk Naya)”
Naya :
“Kenapa memangnya, masalah buat kamu?”
Dewi :
“Masalah lah, pak bos memanggilku karena ada urusan dan kamu tidak perlu tau,
jadi kamu silakan keluar.”
Naya :
“Pak bos?”
Dewi :
“Iya pak bos, kamu tidak tau pemilik perusahaan ini siapa?”
Deon :
“Stop, kenapa kalian malah bertengkar? Saya memanggil kamu kesini bukan untuk
adu mulut dengan mabk ini.”
Dewi :
“Maafkan saya pak.”
Naya : “Maafkan saya juga pak.”
Deon : “Ya, silakan kalian berdua
duduk. Saya ada perlu dengan kalian berdua.”
Dewi :
“Ada apa ya pak?”
Deon :
“Begini, saya akan mengklarifikasi kepada kamu (menunjuk resepsionis) mengenai apa yang telah dikatakan…. Siapa
namamu?”
Naya :
“Naya pak, Denaya.”
Deon :
“Ya, mengenai apa yang telah dikatakan Naya.”
Dewi :
(melirik Naya sambil mencolek Naya) memangnya
aku kenapa?”
Naya : “Dengarkan saja apa kata pak
Deon (sambil memandang sinis kearah
resepsionis).”
Deon :
“Begini, Naya mengatakan bahwa kamu menghina Naya saat dia bertanya ruang untuk
interview dan itu yang mengakibatkan
dia terlambat untuk interview, apakah
itu benar?”
Dewi :
“Tidak pak, saya langsung mengatakan dimana ruang untuk interview. Dan mana mungkin saya menghina tamu di kantor ini
walaupun dia datang untuk melamar pekerjaan, di kantor ini menegakkan prinsip
sopan santun kepada siapun. Jadi tidak mungkin saya dengan berani menghina
orang lain dan menjatuhkan nama baik kantor ini.”
Naya :
“Apa maksudmu kamu mengatakan seperti itu? Jelas-jelas kamu yang dengan bibir lancangmu
itu mengatakan kalau aku tidak pantas bekerja di kantor ini, penampilaknku
tidak menarik sama sekali dan kamu juga dengan lancang mengusirku dari kantor
ini.”
Dewi :
“Tidak pak, saya tidak pernah mengatakan hal rendahan seperti itu kepada
siapapun. Saya bekerja disini sudah lama jadi saya sudah tau lama mengenai tata
tertib kantor ini.”
Deon :
“Ya kamu benar, tapi apakah kamu mengaku-ngaku sebagai kekasih dari pemilik
perusahaan ini?”
Dewi :
“Apa??!?! (pura-pura terkejut) siapa
yang berani mengatakan kalau saya mengaku-ngaku sebagai kekasih pemilik
perusahaan ini?”
Naya :
“Aku, memangnya kenapa? Memang benar kan kamu mengaku-ngaku sebagai kekasih
pemilik perusahaan ini?”
Dewi :
“Lancang sekali mulut kamu mengatakan kalau saya mengaku-ngaku kekasih pemilik
perusahaan ini. Saya tidak pernah mengatakan hal tidak sopan seperti itu.”
Deon :
“Sudah jelas kan Naya, tidak mungkin resepsionis kantor saya berbicara lancang
seperti itu. Kamu saja yang mengarang karena kamu jadikan alasan kamu terlambat
untuk interview.”
Naya :
“Tidak pak, saya mengatakan apa adanya.”
Dewi :
“Bohong pak.”
Deon :
“Sudah jelas kan Naya, siapa yang benar dan siapa yang salah, sekarang untuk
kamu Naya, silahkan keluar dari kantor ini!”
Naya :
“Tapi pak, bagaimana dengan inverviewnya?
Saya kan kesini untuk interview.”
Deon :
“Tidak ada interview lagi, kamu
secara otomatis saya tolak karena kamu dengan lancang menjelekkan kinerja
karyawan disini dan secara otomatis kamu mencemarkan nama baik dan reputasi
kantor ini. Silakan keluar sekarang!”
Naya :
“Pak, saya tidak pernah menjelekkan perusahaan ini, justru wanita ini yang
menghina saya.”
Deon :
“Cukup sudah, saya tidak mau mendengarkan alasanmu lagi. Silakan keluar, pintu
keluar ada disebelah sana (sambil
menunjuk pintu keluar)”
Naya :
“Baik, terima kasih atas perlakuan bapak yang ini. Saya permisi.” (meninggalkan ruang interview dengan
menangis)
Deon :
“Ya.(memandang kepergian Naya), dan
untuk kamu silakan kembali ke tempat kerjamu.”
Dewi :
“Baik pak, saya permisi.”
Setelah pengusiran Deon, sambil menangis Naya
meninggalkan kantor tersebut dan duduk di bangku taman dekat kantor Deon.
Sambil menenangkan diri, Naya menelfon kekasihnya.
Naya : “Mas, kamu ada dimana?”
Aryo : (….)
Naya :
“Aku berada di taman sebelah kantor tempat aku interview. Nanti aku kirimkan alamatnya ke kamu.”
Aryo :
(….)
Naya :
“Oke”
(selang
beberapa saat, Aryo datang)
Aryo :
“Hai Nay.”
Naya :
“Hai mas.”
Aryo :
“Gimana tadi interviewnya?”
Naya :
“Gagal mas, aku ditolak lagi. Aku malah dituduh mencemarkan nama perusahaan itu
dan aku dituduh tidak memiliki sopan santun kepada karyawan disana.”
Aryo :
“Kok bisa Nay? Coba ceritakan pada mas.”
Naya :
“Tadi sewaktu aku datang aku langsung menuju meja resepsionis dan tanya dimana
letak ruang interviewnya. Tapi
resepsionisnya gak ngasih tau dan malah menghina penampilanku, mengatakan kalau
aku tidak pantas untuk bekerja disitu dan juga resepsionis itu ngaku-ngaku
kalau dia itu kekasihnya pemilik perusahaan itu, padahal enggak sama sekali.”
Aryo :
“Terus gak kamu laporkan ke bagian yang interview
kamu?”
Naya :
“Sudah mas tapi malah lebih percaya ke perempuan resepsionis itu, alasannya
perempuan resepsionis itu sudah lama bekerja di kantor tersebut jadi gak
mungkin tidak sopan ke para tamu walaupun tujuan mereka untuk interview.”
Aryo :
“Pintar sekali resepsionis itu memutarbalikkan fakta.”
Naya :
“Aku harus mencari pekerjaan dimana lagi? (sambil
menangis)”
Aryo :
“Sudahlah, masih banyak kok lowongan pekerjaan, kamu jangan patas semangat. (sambil membawa Naya kedalam pelukannya)”
Naya :
“Kamu berjanji kan mas mau menemani aku dalam susah maupun senang?”
Aryo :
(hanya diam)
Naya :
“Mas, kok kamu gak jawab? (memandang
wajah Aryo)”
Aryo :
“Begini nay…”
Naya :
“Ada apa mas?”
Aryo :
“Maafkan kalau ini menambah beban pikiranmu dan menambah masalahmu.”
Naya :
“Iya… ada apa mas?”
Aryo :
“Aku minta maaf Nay (sambil menundukkan
kepala).”
Naya :
“Kalau kamu ngomong minta maaf terus, kapan kamu ngomong permasalahanmu yang
membuat kamu minta maaf kepadaku?”
Aryo :
“Aku minta tolong padamu untuk mendengarkan semua ceritaku dahulu kemudian kamu
boleh menanggapinya. Jangan memotong ucapanku terlebih dahulu!”
Naya :
“Baiklah, aku akan mendengarkan ceritamu.”
Aryo :
“Begini Nay, ini mengenai hubungan kita. Kita sudah menjalin hubungan ini
kurang lebih 2 tahun. Suka duka dalam hubungan ini telah kita lewati bersama.
Bahkan orangtua kita telah mengenal kita satu sama lain. Tetapi seminggu
sebelumnya orangtua ku mengajakku berbicara.”
Naya :
“Ya. Membicarakan apa?”
Aryo : (menarik nafas) “Ayahku mengatakan
bahwa perusahaannya sedang berada dalam masalah, dan sedang membutuhkan banyak
uang untuk mempertahankan agar tetap berdiri. Kemudian ada salah satu rekan
ayahku yang menawarkan bantuan kepada perusahaan ayahku, dan semua itu tidak gratis.”
Naya :
“Lantas apa yang diinginkan rekan kerja ayahmu tersebut?”
Aryo :
“Rekan kerja ayahku menginginkan ada hubungan antara keluargaku dan
keluarganya.”
Naya :
“Maksud kamu, kamu dijodohkan dengan anak rekan kerja ayahmu.”
Aryo :
“Tapi aku menolak Nay, aku tidak mau dan aku ingin tetap bersama kamu. Aku
selalu menolak bujukan dari kedua orangtuamu, semua kulakukan karena aku ingin
bersama kamu nay.”
Naya :
“Percuma mas kalo kamu mempertahankan aku, aku tidak bisa membantu apa-apa.
Pekerjaan saja aku belum dapat dan baru saja aku ditolak.”
Aryo :
“Kamu tidak ingin berjuang bersamaku nay? Kamu sudah tidak mecintaiku?”
Naya :
“Bukannya aku tidak mau berjuang bersamamu mas tapi saat ini perusahaan ayahmu
berada diambang kehancuran. Ini juga untuk masa depanmu, kehidupan orangtuamu
dan kamu juga. Aku masih mencintaimu mas, gak berubah semua rasaku padamu.
Jujur sebenarnya aku sakit hati dan kecewa mendengar berita ini. Tapi aku juga
tidak bisa berbuat apa-apa.”
Aryo :
“Kamu tidak perlu melakukan apa-apa nay, aku sudah memikirkan jalan keluarnya.”
Naya :
“Apa mas?”
Aryo :
“Kawin lari.”
Naya :
(kaget dan menampar aryo) kamu jangan
gila mas. Aku gak akan pernah setuju dengan keputusanmu yang tidak masuk akal
seperti itu.” (pergi meninggalkan aryo)
Setibanya dirumah. Naya memutuskan untuk langsung pergi
ke kamar. Kedua orangtua yang melihat tingkah anaknya seperti itu hanya bisa
memaklumi, mungkin ada permasalahan selama Naya melamar pekerjaan hari ini.
Ketika malam harinya ayah, ibu dan Naya sedang berbicara diruang keluarga.
Ayah :
“Nak… mengapa saat pulang tadi kamu langsung masuk rumah tanpa mengucapkan
salam seperti biasanya?”
Ibu :
“Iya nak, padahal kami sedang berada disini.”
Naya :
“Maafkan Naya ayah, ibu… Naya tadi sedang ada masalah.”
Ayah :
“Masalah apa nak?”
Naya :
(hanya diam dan menunduk)
Ibu :
“Berceritalah nak, selagi kami orangtua masih bisa mendengarkan keluh kesahmu,
belum tentu besok kami bisa mendengarkan keluh kesahmu.”
Ayah :
“Selagi kami bisa memberikan solusi pasti kami akan membantumu nak.”
Naya :
“(menarik nafas) begini ayah, ibu…
tadi Naya datang di tempat naya interview
kemudian Naya disambut dengan petugas resepsionis yang tidak menyukai Naya dan
akhirnya karena petugas resepsionis itu, Naya tidak diterima ditempat kerja
tersebut..”
Ayah :
“Memangnya kamu ada masalah apa dengan petugas resepsionis itu?”
Naya :
“Naya diadukan kepada pihak yang akan menginterview
Naya dan memfitnah kalau Naya menjelek-jelekkan nama perusahaan tersebut.”
Ayah :
“Apakah dia tidak mempunyai sopan santun! Dia telah menghancurkan harapan masa
depan seseorang.”
Naya :
“Sabar yah, sebenarnya Naya tidak terima dan Naya sudah melawan omongan sala
tersebut tetapi pihak perusahaan lebih mempercayai perempuan itu dibanding
perkataan Naya.”
Ibu :
“Sudahlah yah… mungkin bukan rezeki Naya untuk bekerja di perusahaan itu, dan
kamu nak… kamu jangan patah semangat, kalau memang rezeki mu bukan di
perusahaan itu mungkin di perusahaan lain.”
Naya :
“Tapi yah, bu… ada sesuatu hal yang lebih penting yang ingin Naya sampaikan
kepada kalian.”
Ayah :
“Berita apalagi nak?”
Naya :
“Ini mengenai hubungan Naya dan mas Aryo yah.”
Ayah :
“Ada masalah apalagi dengan hubunganmu dengan Aryo? Sudah ayah katakan untuk
mengakhiri hubungan kalian.”
Naya :
(menundukkan kepala)
Ayah :
“Dari dulu ayah tidak menyetujui hubunganmu dengan Aryo, ayah tidak menyukain
kepribadian Aryo, hanya saja kamu yang selalu membantah ayah dan tetap
melanjutkan hubungan kalian.”
Naya :
“Tapi yah… Naya mencintai mas Aryo.”
Ayah :
“Sudah cukup! (berteriak) Ayah tidak
mau lagi mendengarkan pembelaanmu tentang Aryo, lalu ada masalah apa?”
Naya :
“Begini yah…(sambil meremas jari-jari) tadi
setelah Naya pergi dari perusahaan itu, Naya dan mas Aryo bertemu kemudian Naya
menceritakan permasalahan yang Naya alami.”
Ayah :
“Jangan bertele-tele Nay, ayah tidak suka terlalu lama membahas Aryo, langsung
ke permasalahnya saja.”
Ibu :
“Sabar yah… lanjutkan ceritamu nak.”
Naya :
“Tadi mas Aryo mengatakan kalau perusahaannya sedang berada dalam masalah, dan
sedang membutuhkan banyak uang untuk mempertahankan agar tetap berdiri.
Kemudian ada salah satu rekan ayahnya yang menawarkan bantuan kepada perusahaan
ayahku, dan semua itu tidak gratis.”
Ayah :
“Sudah pasti bagi mereka semua tidak ada yang gratis (tertawa sinis)”
Naya :
“Rekan ayah mas Aryo ingin menjodohkan anaknya dengan mas Aryo.”
Ayah :
“Sudah kuduga.”
Naya :
“Tapi mas Aryo menolak perjodohan itu yah, mas Aryo mencintai Naya dan Naya pun
juga, pada akhirnya mas Aryo mengajak untuk kawin lari (menunduk dan menangis).”
Ayah :
“Apa!!! (berteriak marah) anak kurang
ajar! Berani-beraninya dia mengajak anakku untuk kawin lari.”
Naya :
(menangis)
Ayah :
“Ayah tidak setuju dan tidak akan pernah setuju sampai kapanpun tentang
keinginan anak kurang ajar itu! Secara tidak langsung tidakan dia sama saja
dengan menginjak-injak harga diri keluarga ini, apalagi kamu sebagai perempuan
Nay.”
Naya :
“Lalu aku harus bagaimana yah?”
Ayah :
“Dari awal ayah sudah tidak setuju kamu menjalin hubungan dengan Aryo, tapi
kamu yang selalu membantah apa ucapan ayah dan sekarang terbukti kan, dia
mengajakmu lebih buruk lagi, dengan mengajakmu kawin lari berarti sama saja
derajatmu direndahkan dan menganggap ayah dan ibumu ini tiada Nay, apa kamu
terima?”(masih dengan marah-marah)
Naya :
“ Mengapa ayah tidak pernah menyetujui hubunganku dengan mas Aryo?” (tanya Naya tidak terima)
Ayah :
“Ayah dari awal tidak menyukai Aryo karena sikap dia, juga latar belakang
orangtuanya yang lebih dari kita, dengan kamu menjalin hubungan dengan Aryo
maka keluarga kita akan selalu diinjak-injak dan mengertilah Nay keadaan
keluarga kita bagaimana, kita tidak bisa mengimbangi mereka.”
Naya :
“Tapi kan itu orangtuanya, bukan mas Aryo.”
Ayah :
“Memang bukan Aryo dan kamu, tapi orangtuamu dengan orangtua Aryo nak… apakah
kamu tidak kasihan kepada kami? Mengertilah nak… kami ingin yang terbaik untuk
semuanya karena ayah ingin keluarga ayah bahagia.”
Naya :
(menangis)
Ayah :
“Nak… apakah ayah boleh meminta sebuah permintaan kepada kamu?”
Naya :
“Ayah ingin meminta apa kepada Naya?”
Ayah :
“Akhirilah hubunganmu dengan Aryo, mungkin ini jalan terbaik yang ditunjukkan
oleh-Nya.”
Naya :
“Tapi ayah… Naya tidak bisa, Naya masih mencintai Mas Aryo.”
Ayah :
“Kamu masih saja mencintai laki-laki seperti itu? (marah) seorang laki-laki yang tidak bertanggung jawab samasekali
dan malah mengajak anak orang lain untuk kawin lari ! masih ingin
mempertahankan laki-laki seperti itu?”
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu
(tok…tok…tok)
Ibu :
“Biar ibu saja yang membuka pintunya.”
Ayah :
“Ya bu.”
Ibu :
“Iya sebentar.”
Ibu :
“(kaget) Waalaikum salam, loh nak
Aryo ayo silahkan masuk.”
Aryo :
“Permisi bu… Naya nya ada?”
Ibu :
“Ada nak… silahkan masuk dulu.”
Ayah :
“Siapa bu?”
Aryo :
“Assalamualaikum pak.”
Ayah :
“Waalaikum salam, ada apa kamu kesini? (marah)”
Aryo :
“Saya ingin bertemu dengan Naya pak.”
Ayah :
“Untuk apa kamu mencari anak saya? Mau kamu ajak kawin lari?”
Aryo :
(kaget)
Ibu :
“Lebih baik duduk terlebih dahulu.”
Ayah & Aryo :
(duduk)
Ayah :
“Lebih baik kamu putuskan hubunganmu dengan anak saya!”
Aryo :
“Loh ada apa pak kok tiba-tiba bapak meminta saya memutuskan hubungan saya
dengan Naya?”
Ayah :
“Jangan sok tidak mengerti, kamu mengatakan apa kepada anak saya?”
Aryo :
“Saya tidak mengatakan apapun kepada Naya pak.”
Ayah :
“Laki-laki yang seperti ini kah Nay yang sedang kamu pertahankan? (tersenyum sinis) Laki-laki yang tidak
mengakui dengan apa yang ia ucapkan? Laki-laki yang tidak bertanggung jawab
dengan apa yang ia ucapkan?”
Naya :
(terdiam)
Aryo :
“Memangnya aku mengatakan apa Nay ke kamu?”
Ayah :
“Dasar laki-laki kurang ajar, kamu yang mengajak anak saya untuk kawin lari
tapi dengan tidak bertanggungjawabnya dia mengatakan bahwa ia tidak mengatakan
apapun kepada kamu.”
Aryo :
“Maafkan saya pak.”
Ayah :
“Maaf? Apa maksudmu mengatakan seperti itu?”
Aryo :
“Saya mencintai Naya pak, tetapi perusahaan ayah saya sedang dalam keadaan
krisis sehingga harus mencari suntikan dana kepada perusahaan-perusahaan lain.
Dan perusahaan yang memberikan bantuan kepada perusahaan ayah meminta untuk
saya menikah dengan anaknya, tetapi saya menolak dan saya memutuskan untuk
mengajak Naya kawin lari.”
Ayah :
“Kamu tahu kalau dengan kamu mengajak Naya untuk kawin lari berarti sama saja
kamu menjelekkan kami dan kamu merendahkan Naya.”
Aryo :
“Saya tidak bermaksud seperti itu pak, saya mencintai Naya jadi saya berani
untuk mengajak Naya kawin lari.”
Ayah :
“Saya tidak akan pernah mengizinkan kamu untuk mengajak kawin lari Naya, dan
saya ingin kamu mengakhiri hubunganmu dengan Naya sekarang juga di hadapan
saya!”
Naya :
“Ayah…”
Aryo :
“Tidak pak, saya tidak akan pernah memutuskan Naya.”
Ayah :
“Saya tidak tidak akan pernah menyetujui hubunganmu dengan anak saya! (marah-marah dan tiba-tiba memegang dada
merasakan sesak nafas)”
Naya :
“Ayah… (panik) ayah kenapa?”
Ibu :
“Ayah kenapa?” (panik sambil menangis)
Aryo :
“Bapak kenapa?”
Ayah :
“ Sampai kapanpun saya tidak akan pernah menyetujui hubungamu dengan anak
saya.” (mengucapkan sambil nafas
tersengal-sengal)
Namun pada akhirnya nyawa ayah Naya tidak dapat
diselamatkan. Naya dan ibunya merasa kehilangan sosok pemimpin keluarga. Mereka
merasa sangat sedih. Dan semenjak kematian ayah Naya, Aryo menghilang bak
ditelah bumi. Mengujungi rumah Naya pun tidak dan hal tersebut membuat Naya
membenarkan apa kata ayahnya bahwa Aryo memang tidak pernah serius dalam
hubungan ini dan juga karena itu Naya menganggap bahwa hubungan mereka sudah
selesai. Naya juga sudah tidak peduli dengan keberadaan dan keadaan Aryo lagi.
Setelah kematian ayahnya, Naya semakin giat untuk mencari pekerjaan.
Naya : “Aku harus mencari pekerjaan
dimana lagi?”
(tiba-tiba ada mobil berhenti didepan Naya)
Naya :
“Astaga, bisa apa enggak sebenarnya naik mobil… gak liat apa kalo ada orang
lewat.”
Deon : “Maaf mbak, apakah mbak yang
dulu melamar diperusahan saya?”
Naya : (sambil mengingat-ingat) “maaf pak?”
Deon : “Oh iya kalau mbak lupa, saya
Deon Mahendra HRD disebuah perusahaan.”
Naya :
“Oh iya… saya baru ingat, bapak yang mengusir dari perusahaan tersebut dan
menghancurkan masa depan saya sehingga sampai sekarang saya masih menjadi
pengangguran yang masih melamar pekerjaan kesana kemari kan?”
Deon : “Loh mbak kok jadi memarahi
saya?”
Naya :
“Bagaimana saya tidak marah, saat itu saya sangan benci dengan anda dan
resepsionis centil dan sampai sekarang saya masih ingat fitnahan itu.”
Deon :
“Nah lebih baik mbak sekarang ikut saya dan saya akan meluruskan permasalahan
ini.”
Naya :
“Tidak! Saya tidak sudi untuk ikut anda bahkan saya baru mengenal anda.”
Deon :
“Saya tidak akan berbuat macam-macam kepada anda, saya hanya ingin meluruskan
permasalahan yang terjadi dan saya memberikan sebuah penawaran kepada anda.”
Naya :
(berfikir)
Deon :
“Jangan terlalu lama berfikir, ayo ikut saya” (sambil menarik tangan Naya)
Naya :
“Eh… apa ini maksudnya? Tidak udah pegang-pegang, kita duduk di kursi itu saja,
yang tidak terlalu ramai.”
Deon :
“Baiklah, silahkan jalan terlebih dahulu.”
(kemudian
mereka duduk di kursi yang suasanya tidak terlalu ramai)
Naya :
“Ada apa?” (tanya sewot)
Deon :
“Galak banget mbak.”
Naya :
“Tidak usah terlalu banyak ngomong, langsung saja ke inti pembicaraan ini apa?”
Deon :
“Baiklah, dasar wanita bar-bar” (berkata
pelan)
Naya :
“Maaf ! tadi anda mengatakan apa?”
Deon :
“Tidak ada.”
Naya :
“Saya sudah bertanya tadi anda ingin mengatakan apa? Saya tidak punya banyak
waktu, saya harus mencari pekerjaan.”
Deon :
“Maaf-maaf dasar wanita sok sibuk, saya akan meluruskan permasalahan yang lalu
dan akan memberikan kamu peawaran, jangan pernah memotong perkataan saya sampai
saya selesai mejelaskan semuanya.”
Naya :
(menganggukkan kepala)
Deon :
“Begini, saya akan meluruskan permasalah lalu. Sebelumnya saya minta maaf
karena sebenarnya saya salah paham mengenai permasalah kamu dan Dewi, ternyata
benar apa yang kamu katakan dan semua yang dikatakan Dewi adalah rekayasa.”
Naya :
“Nah kan benar apa kataku, wanita itu memang wanita licik karena dengan
mudahnya dia membalikkan fakta seolah-olah dia yang paling benar, sukanya
memfitnah orang hanya untuk nama baiknya sendiri dan mencari perhatian kepada
orang lain.”
Deon :
“Saya pribadi minta maaf kepada anda mengenai masalah itu.”
Naya :
“Ya harus lah anda minta maaf kepada saya, kan anda salah.”
Deon :
“Dasar wanita ini, kalau bukan untuk nama baik kantor saya tidak akan pernah
meminta maaf kepada wanita bar-bar ini.”
Naya :
“Apa maksud anda mengatakan seperti itu? Anda tidak ikhlas meinta maaf kepada
saya?”
Deon :
“Ikhlas, saya ikhlas meminta maaf kepada anda.”
Naya :
“Kalau memang ikhlak mengapa harus berkata seperti itu.”
Deon :
“Iya maaf, saya hanya heran saja kenapa saya bisa meladeni omongan perempuan
cerewet seperti anda.”
Naya :
“Sudahlah, saya disini hanya buang-buang waktu saja harus berdebat dengan
anda.” (beranjak pergi)
Deon :
“Tunggu… (menghadang jalan) saya
belum selesai berbicara dengan anda.”
Naya :
“Anda sudah terlalu banyak bicara.”
Deon :
“Baik-baik, ini untuk terakhir kalinya.”
Naya :
“Ya.”
Deon :
“Saya punya penawaran untuk anda.”
Naya :
“Apa?”
Deon :
“Untuk menebus permintaan maaf saya, saya ingin menawarkan sebuah pekerjaan kepada
anda.”
Naya :
“Pekerjaan apa? Jangan aneh-aneh anda!”
Deon :
“Astaga, bisa apa tidak anda ini tidak selalu berfikiran buruk kepada saya?”
Naya :
“Tidak bisa.”
Deon :
“(menghembuskan nafas) saya ingin
menawarkan pekerjaan kepada anda sebagai resepsionis untuk menggantikan Dewi,
resepsionis yang bermasalah denganmu.”
Naya :
“Ha? Jadi resepsionis centil itu sudah dipecat? Akhirnya dia mendapatkan
balasan atas perbuatannya.”
Deon :
“Iya, Dewi sudah saya pecat, bagaimana? Apakah kamu mau bekerja sebagai resepsonis
di kantor saya?”
Naya :
“Ya pasti mau lah pak, saya sudah lama mecari pekerjaan dan lelah,
keberuntungan akhirnya berpihak padaku.”(tersenyum
senang)
Deon :
“Baiklah, mulai besok kamu sudah bisa bekerja di kantor.”
Naya :
“Wah… benar pak?”
Deon :
“Iya.”
Naya :
“Terima kasih pak, terima kasih.”
Deon :
“Iya sama-sama, yasudah saya harus kembali ke kantor lagi, besok jangan sampai
terlambat.”
Naya :
“Siap.” (menghormatkan tangan)
Setelah
mendapatkan berita tersebut, Naya memutuskan untuk pulang kerumah dan
memberikan informasi kepada ibunya bahwa dirinya sudah mendapatkan pekerjaan.
Namun ketika Naya memasuki rumah, didalam rumah ada Aryo, laki-laki yang telah
menghilang beberapa waktu.
Aryo : “Hai Nay.”
Naya : “ (memandang marah) ngapain kamu kesini?”
Aryo : “Maaf Nay.”
Naya : “Maaf? Untuk apa maaf? Aku
tidak butuh kata maaf.”
Aryo : “Tapi Nay.”
Naya :
“Lebih baik kamu pergi dari rumah ini, aku sudah tidak sudi untuk melihat
kamu.”
Aryo :
“Nay… aku ingin memberikan ini kepada kamu.” (memberikan undangan pernikahan)
Naya :
“(memandang nanar undangan) oh jadi
karena ini kamu menghilang, setelah meninggalnya ayahku tiba-tiba kamu
menghilang, tidak datang saat pemakaman ayahku karena ini.”
Aryo :
“Maafkan aku Nay.”
Naya :
“Aku tidak butuh kata maaf darimu dan lebih baik kamu pergi dari sini!” (menunjuk kearah pintu)
Aryo :
“Nay…” (berjalan kearah pintu)
Naya :
“Pergi! Dan memang hubungan ini harus berakhir.” (menutup pintu dan menangis)
Pada akhirnya
ketika Naya telah mendapatkan keberuntungan dalam hidupnya yaitu mendapatkan
pekerjaan dari perusahaan yang dulu telah mengusirnya, pada saat itu pula
kehidupan asmara Naya dengan Aryo telah hancur karena Aryo akan menikah dengan
anak dari rekan bisnis ayahnya.
S E L E S A I
BIOGRAFI PENULIS
Risma Septyana Sari, lahir di Ponorogo, 15 September
1999. Anak petama dari 2 bersaudara.
Pernah menempuh pendidikan di TK Dharma
Wanita Simo, pendidikan sekolah dasar di SD Negeri 2
Simo, pendidikan sekolah
menengah pertama di SMP Negeri 1 Bungkal, dan pendidikan sekolah
menengah atas
di SMA Negeri 3 Ponorogo. Saat ini sedang menempuh pendidikan di perguruan
tinggi Universitas Negeri Malang (UM) tepatnya di jurusan Sastra Indonesia
dengan prodi
Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah angkatan 2017.
Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi