NASKAH DRAMA DI BALIK ISI KOPER







DI BALIK ISI KOPER
DWINA SASAKIA FAUZI





















DRAMA RESUME

            Widya yang saat itu ketakutan karena kehilangan kopernya berusaha meminta bantuan pada para petugas bandara. Dia takut isi kopernya terbongkar atau bahkan hilang begitu saja karena notabene isi kopernya ada salah satu rahasia negara. Dia berusaha untuk meminta bantuan sebisa mungkin hingga para petugas bandara kewalahan dibuatnya, namun sayang, koper itu tidak ditemukan, dokumen negara itu telah raib entah kemana, bisa saja bocor ke tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Begitu besar dampak kehilangan itu, para petugas bandara akhirnya harus mendapatkan hukuman atas kelalaian dan kecerobohan mereka dalam menjaga, apa yang terjadi? Simak drama berikut.























WAKTU MENUNJUKKAN PUKUL 02.00 SIANG, WIDYA SUDAH MENGAMBIL BARANG DAN KELUAR DARI AREA PENGAMBILAN BAGASI. SEDETIK KEMUDIAN IA MEMBERHENTIKAN TROLI BERISI BARANGNYA DAN MELETAKKAN TROLI ITU DI PINTU DEPAN TOILET. DIA SUDAH MENAHAN BEGITU LAMA SEJAK DI PESAWAT, DILIHATNYA PETUGAS KEBERSIHAN YANG KEBETULAN TENGAH MEMBERSIHKAN WESTAFEL.

WIDYA: “Permisi, Mbak. Maaf kalau menganggu, apakah saya boleh menitip troli sebentar di sini? Saya sudah tidak tahan, Mbak.” (ucap Widya sembari meletaakkan troli itu)

PETUGAS 1: “Oh ya, Mbak, silahkan.”

SAAT ITU KEADAAN TOILET MEMANG SEDIKIT GADUH, ADA BEGITU BANYAK ORANG YANG MENYEROBOT ANTRIAN TOILET SEHINGGA WIDYA JUGA BERUSAHA UNTUK MEMPERCEPAT LANGKAHNYA, SELAIN ITU IA JUGA TIDAK TAHAN LAGI. TROLINYA TERPAPAR AGAK JAUH DARI POSISINYA, BELUM LAGI KERUMUNAN ORANG-ORANG DI DALAM TOILET MEMBUATNYA TIDAK SADAR AKAN BARANG-BARANGNYA.


WIDYA: “Loh, barang-barangku mana ya?” (kebingungan melihat ligkungan sekitar)

WIDYA LANGSUNG MEENGHAMPIRI PETUGAS KEBERSIHAN TEMPAT IA MENITIPKAN BARANG-BARANGNYA.

WIDYA: “Mbak, troli saya mana ya?”

PETUGAS 1: “Lho, lho, bukannya tadi sudah Mbak ambil ya?”

WIDYA: “Lah, engga Mbak, saya baru saja keluar dari  toilet.”

PETUGAS 1: “Lho, tapi berusan Mbak tarik troli keluar, kok?”

WIDYA: “Lah, gimana sih Mbak, saya baru aja keluar nih, gimana ceritanya saya bisa narik troli.”

PETUGAS 1: “Tapi tadi saya benar-benar ngeliat Mbak narik troli milik Mbak.”

WIDYA: “Saya ga pernah narik apapun, Mbak! Ini saya baru aja keluar dari toilet. Sekarang mana barang-barang saya?!”

PETUGAS 1: “Loh, Mbak, saya tidak tahu.”

WIDYA: “Lah kan saya tadi minta tolong ke Mbak, mbak kok ga mau tanggung jawab sama sekali sih! Padahal tadi katanya sanggup jagain! Mbak tahu ga apa isi koper saya?!”

PETUGAS 1: “Memangnya apa, Mbak?!”

WIDYA: “Barang penting! Mbak mau saya laporkan ke polisi? Itu bukan barang sembarangan asal mbak tahu! Itu isinya dokumen rahasia negara!”

PETUGAS 1: “Loh mbak, kok seperti itu? Ya tidak bisa begitu mbak. Tapi jujur, saya benar-benar tidak tahu, Mbak. Coba tanya petugas bandara, mungkin bisa melihat dari CCTV.”

WIDYA : “Ah, sudahlah! Ayo cepat ke kantor polisi!”

PETUGAS 1: “Jangan begitu, Mbak. Kita bisa cari bukti di CCTV. Jangan main lapor lapor polisi dulu.”

WIDYA: “Ya gimana saya tidak marah, Anda yang meyanggupi malah teledor! Itu barang penting, kalau hilang, bukan hanya saya yang mati tapi Anda akan merasakan akibatnya juga.”

WIDYA BERGEGAS MEMPERCEPAT LANGKAHNYA MENUJU RUANGAN PETUGAS BANDARA YANG TIDAK JAUH DARI SANA, BERPALANG BESAR ‘SECURITY’ WIDYA BERHARAP DIA BISA MENDAPATKAN KEMBALI BARANG-BARANGNYA. DIA MEMUTAR LANGKAH KE ARAH RUANGAN YANG BERADA DI UJUNG LORONG.

WIDYA : “Permisi, Pak.”

PETUGAS 2: “Iya, Mbak. Ada yang bisa kami bantu?”

WIDYA: “(dengan wajah panik yang tak bisa ia sembunyikan) Saya kehilangan troli berisi barang-barang dan koper di depan pintu toilet, dan petugas meminta saya untuk melapor ke sini.”

PETUGAS 2: “Loh bagaimana bisa, Mbak? Mbak tadi letakkan di mana? Sudah dicari dengan benar?”

WIDYA : “Saya letakkan di depan pintu toilet yang berada di bawah eskalator.”

PETUGAS 2: “Bagaimana bisa hilang seperti itu, Mbak?”

WIDYA : “Saya juga tidak tahu, Pak. Saya hanya masuk ke toilet tidak lebih dari 5 menit, ketika keluar, barang saya raib begitu saja. Saya sudah meminta tolong pada petugas kebersihan, eh malah buat alesan yang tidak jelas.”

PETUGAS 2: “Apa Mbak tidak melihat seseorang yang mencurigakan? Atau mungkin barang Anda dibawa saudara atau keluarga.”

WIDYA: “Saya sendiri, Pak! Take off dari Lombok seorang diri dan saya tidak kenal siapapun di sini.”

PETUGAS 2: “Baik, Mbak. Bisa tunjukkan lokasinya?”

WIDYA DAN PETUGAS BANDARA BERGEGAS MENUJU TEMPAT KEJADIAN PERKARA. LOKASINYA TEPAT DI SEBUAH LORONG YANG BERSEBELAHAN DENGAN RESTO CEPAT SAJI.

WIDYA : “Di sini, Pak. Saya letakkan di sini.” (Widya berusaha mengontrol emosinya)

DIA KEHILANGAN SEMUA BARANGNYA, KECUALI TAS SELEMPANG YANG IA BAWA MASUK KE TOILET BERISI TELEPON GENGGAM DAN DOMPET, SATU-SATUNYA BARANG YANG TERSELAMATKAN DARI KEJADIAN TAK TERDUGA DI SIANG YANG PANAS INI. DIA BELUM MENELEPON SIAPAPUN ATAS KEJADIAN INI, DIA BERUSAHA UNTUK TETAP TENANG WALAU SEBENARNYA HATINYA SEDANG TIDAK KARUAN, KESAL, MARAH DAN LELAH MENJADI SATU. GERAM SEKALI RASANYA.

PETUGAS 2: “Wah, Mbak, di sini memang rawan kehilangan barang, sepertinya Mbak terlalu teledor meletakkan barang di sembarang tempat seperti ini.”

WIDYA : “ (terkejut mendengar ucapakan tak terduga dari petugas bandara) Hah? Bagaimana bisa Anda berbicara seperti itu tanpa memberikan solusi apapun!?”

PETUGAS 2: “Bukan begitu, Mbak. Tetapi, area ini memanag terkenal dengan kasus barang hilang. Ikhlaskan saja, Mbak.”

WIDYA: “Bapak tahu tidak isi koper saya apa?! Minta ikhlas ikhlasin aja”

WIDYA YANG SUDAH MULAI DONGKOL KARENA TIDAK MENDAPATKAN RESPON YANG BAIK DARI PETUGAS BANDARA MULAI MEROGOH SELEMPANGNYA, SATU-SATUNYA BARANG TERSISA YANG IA BAWA MASUK KE TOILET. DIA BERNIAT UNTUK MEMBERITAHU HAL KEJADIAN INI PADA KELUARGA DI RUMAH, TIDAK TENANG RASANYA BERADA DI TEMPAT JAUH DENGAN ORANG TUA, DENGAN KEADAAN SEPERTI SEKARANG, DIA SEHARUSNYA TAHU SURABAYA LEBIH KELAM DIBANDING CERITA-CERITA YANG IA DENGAR.

WIDYA: “ (dengan raut wajah tidak senang) Ya sudah, tolong perlihatkan CCTV di area ini.”

INI JAM RAWAN EMOSI, DITAMBAH DIA YANG BELUM MENYENTUH MAKANAN SEDIKITPUN SELEPAS LANDING. TIBA-TIBA TELEPONNYA BERDERING.

WIDYA : “Halo?”

TRAVEL: “Permisi, saya dari travel. Apakah ini dengan mbak Lona? Saya ingin bertanya keberadaan Andaa sekarang.”

WIDYA BARU SAJA TERINGAT DENGAN TRAVEL YANG SUDAH IA PESAN BEBERAPA HARI YANG LALU. SEHARUSNYA SEKARANG DIA SUDAH BERADA DI DALAM MOBIL BER-AC DENGAN MENEGUK SEBOTOL TEH DINGIN DAN ROTI BOI YANG BIASA IA BELI JIKA DI BANDARA. ALIH-ALIH MENIKMATI ITU SEMUA, DIA MALAH HARUS BERHADAPAN DENGAN PETUGAS BANDARA YANG SAMA SEKALI TIDAK MEMBANTU APAPUN ATAS KEHILANGAN YANG IA ALAMI SAAT INI.

WIDYA : “Oh iya, sebentar, Pak. Saya sudah landing. Tetapi, koper dan barang-barang saya raib, jadi beri saya waktu untuk mencari arang saya dulu.”

TRAVEL: “Oalah, bagaimana bisa, Mbak. Akan saya tunggu.”

WIDYA : “Baik, Pak. Terima kasih.”

WIDYA BARU SAJA MENUTUP OBROLAN MEREKA. LALU SEDETIK KEMUDIAN TELEPONNYA BERDERING KEMBALI.

WIDYA : “Halo?”

TRAVEL: “Mbak, maaf ini saya hubungi lagi. Jumlah penumpang sudah penuh, apakah Mbak bisa mencari travel lain?”

WIDYA DONGKOL BUKAN MAIN, DIA SUDAH MEMESAN DARI AGEN TRAVEL INI SEJAK EMPAT HARI YANG LALU DAN SEKARANG MEREKA INGIN MEMBATALKAN PERJANJIAN HANYA KARENA IA MENGULUR WAKTU BEBERAPA SAAT UNTUK SESUATU YANG LEBIH GENTING.

WIDYA : “Lho, bagaimana sih, Pak. Anda bilang mau menunggu, sekarang malah menyuruh saya untuk mencari tumpangan lain. Saya sudah memesan dari biro travel ini sejak empat hari yang lalu lho!”

TRAVEL: “Bagaimana ya Mbak, ada penumpang lain yang rela membayar lebih yang penting bisa segera berangkat.”

JAWABAN DARI TRAVEL TERSEBUT BENAR-BENAR MEMBAKAR OTAK WIDYA, DIA SUDAH CUKUP PUSING DENGAN DRAMA KOPER HILANG, SEKARANG SEORANG SOPIR TRAVEL SEENAK JIDAT MEMBATALKAN PESANANNYA DENGAN DALIH DAPAT BAYAR LEBIH DARI PELANGGAN YANG LAIN.

WIDYA : “Ya, terserah Anda saja! (ucap Widya dengan nada tinggi)”

WIDYA SUDAH TIDAK PEDULI DENGAN PANDANGAN ORANG-ORANG DI SEKITAR ATAU PETUGAS BANDARA YANG MELIHAT KEBINGUNGAN KE ARAHNYA. SEKARANG YANG IA PIKIRKAN HANYALAH BAGAIMANA CARA MENDAPATKAN KEMBALI KOPER DAN BARANG-BARANGNYA. SEKALI LAGI TELEPONNYA BERDERING. INI MEMANG BUKAN WAKTUNYA UNTUK MEMPERPANJANG OBROLAN, TETAPI DIA HARUS BERTINDAK SECEPAT YANG IA BISA, SIAPA TAHU DIA PUNYA TITIK TERANG ATAS HILANGNYA BARANG-BARANGNYA SAAT INI.
WIDYA DAN PETUGAS BANDARA BERGEGAS MENUJU KANTOR YANG BERISI CCTV UNTUK MELIHAT APA YANG SEBENARNYA TERJADI DI SANA.

PETUGAS 3: “ (merapikan dasinya) ada yang bisa kami bantu?”

WIDYA : “Ya, saya perlu melihat CCTV di sekitar area toilet di bawah eskalator.”

PETUGAS 3: “Ada kasus kehilangan barang, dan mbak Lona adalah korbannya.”

WIDYA : “Ya, saya perlu melihat CCTV sesegara mungkin, barang saya raib hanya dalam waktu kurang dari 5 menit.”

PETUGAS ITU HANYA MENGANGGUK. MENGECEK TAMPILAN LAYAR KOMPUTER YANG MEMPERLIHATKAN SEGALA SISI DARI BAGIAN BANDARA. TAK LAMA BERSELANG, RAUT WAJAH PETUGAS ITU BERUBAH MENJADI SEDIKIT KEBINGUNGAN.

PETUGAS 3: “Wah, Mbak. Bagian area yang Anda tunjukkan tidak terekam kamera CCTV.”

WIDYA : “Yang benar saja, Pak! (Widya melotot marah)”

PETUGAS 3: “Ya, Mbak.”

WIDYA: “Bagaimana bisa!? Bandara sebesar ini ada bagian yang tidak terjangkau CCTV? Dan bagaimana bisa para petigas di sini membiarkan begitu saja? Bagaimana dengan kasus-kasus kehilangan lainnya? Kalian tidak perah bisa berkaca akan masalah itu?!”

WIDYA MELEDAK-LEDAK TAK BISA MENYEMBUNYIKAN EMOSINYA LAGI DI SIANG YANG TERIK ITU.

WIDYA : “Saya sedari tadi dioper-oper, diminta menemui petugas di sini, dan sekarang apa yang bisa saya dapatkan? Apakah saya harus menerima begitu saja kenyataan bahwa barang saya raib?”

PETUGAS 3: “Mbak harusnya sadar itu ketelodaran sendiri.”

WIDYA: “Iya saya paham! Tetapi saya masih berusaha untuk mencari semampu saya. Apakah Anda tidak bisa melihat jerih payah saya saat ini?”

PETUGAS 3: “Sabar, Mbak. Jangan marah-marah seperti itu”

WIDYA: “Bagaimana saya tidak marah-marah, kalian juga teledor sebagai petugas di sini dan lebih lucunya tidak ingin bertanggung jawab atas apa yang terjadi”

PETUGAS 3: “Hilangnya barang Anda bukan kepentingan kami”

WIDYA: “Ha? Bukan kepentingan kalian? Bisa-bisanya kalian memberikan statement seperti itu! Koper saya berisi dokumen penting, yang bisa salah sedikit saja akan menyeret kalian semua ke penjara!”

PETUGAS 3: “Wah tidak bisa seperti itu dong”

WIDYA: “Sudah! Saya muak dengan kalian yang tidak memberikan apa-apa. Hal ini akan saya bawa ke ranah hukum”

PETUGAS 3: “Atas dasar apa? Anda akan menuntut kami dengan pasal apa? Berani sekali ya, Anda. Bukankah itu milik Anda dan seharusnya Anda yang bertanggung jawab untuk menjaga, mengapa menjadi petugas di sini yang disalahkan?”

WIDYA: “Jelas-jelas saya sudah menjelaskan bahwa koper itu berisi dokumen penting yang dapat menyeret kalian semua ke penjara akibat kelalaian kalian dalam menjadi barang milik negara.”

KASUS ITU AKHIRNYA DIBAWA KE RANAH HUKUM, PARA PETUGAS DINYATAKAN BERSALAH KARENA KELALAIAN MEREKA. KETIGA PETUGAS ITU DIHUKUM 10 TAHUN PENJARA KARENA DIANGGAP MENGHILANGKAN BARANG MILIK NEGARA.

10 TAHUN KEMUDIAN.

PETUGAS 2: “Sepuluh tahun mendekam di penjara atas kesalahan yang kuperbuat, meninggalkan anak dan istirku untuk waktu yang lama, akhirnya sekarang aku bisa bebas. Bagaimana perasaan kalian semua?”

PETUGAS 1: “Aku tinggal hanya dengan seorang ibu, sepuluh tahun kutinggalkan dari dalam balik jeruji besi itu. Tidak ada yang mengurus, kesakitan seorang diri di rumah, lima tahun yang lalu ibuku meninggalkanku, sungguh aku menyesal selama beberapa tahun terakhir tidak sempat membahagiakannya, andai waktu itu tidak ada kasus ini, setidaknya aku tidak hidup dalam penyesalan sekarang.”

PETUGAS 3: “Begitu juga aku, aku meninggalkan anakku seorang diri di rumah sejak sepuluh tahun yang lalu, dia akhirnya hidup bersama kakakku yang hanya buruh cuci, semenjak istriku meninggal, dia tidak memiliki siapapun selain aku. Sungguh, aku tidak bisa membayangkan hidupnya selama sepuluh tahun terakhir ini seperti apa, menanggung beban yang begitu besar. Andai tidak ada kasus ini, dia bisa tumbuh bersamaku, bahagia bersamaku.”

SEMENTARA ITU DI ISTANA NEGARA

WIDYA: “Apa? Koper itu tidak pernah hilang?! Begitu maksud Anda?”

PRESIDEN: “Ya, koper itu sudah diberikan padaku sehari setelah kamu memberi kabar koper itu hilang, dokumen itu masih tersimpan rapi.”

WIDYA: “Bagaimana bisa, Pak? Lalu mengapa Anda tidak memberitahu saya secepat mungkin jika memang koper itu akhirnya dibawa ke istana? Mengapa tidak ada yang memberi saya kabar apapun?”
PRESIDEN: “Sudah, kami sudah mengabarimu, bahkan malamnya sehari setelahnya aku yang langsung menghubungimu, tetapi kamu sepertinya tidak mengindahkan perkataanku. Hingga akhirnya lebih memilih untuk membawa semuanya ke ranah hukum dan memenjarakan ketiga petugas itu.”

WIDYA TERDIAM MEMATUNG. MERUTUKI APA YANG SUDAH IA LAKUKAN. DIA DIAM DIAM MENYESAL ATAS TINDAKAN CEROBOHNYA. SEMUA SUDAH TIDAK ADA GUNANYA LAGI, KETIGA PETUGAS ITU SUDAH MERASAKAN KEHIDUPAN PAHIT DI PENJARA SELAMA SEPULUH TAHUN LAMANYA DAN MEREKA HARUS KEHILANGAN HAL BERHARGA DALAM HIDUP MEREKA.


Tentang Penulis
Dwina Sasakia Fauzi, lahir di Selong, Lombok Timur 19 Desember 1999. Dia mengahabiskan masa kecil di salah satu kabupaten yang terletak di Pulau Sumbawa, lebih tepatnya di Dompu. Alumni SDN 06 Pekat ini akhirnya memutuskan untuk kembali ke Lombok ketika masuk bangku sekolah menengah pertama. Dari kecil dia sudah berlangganan majalah anak-anak yang sangat terkenal waktu itu, dari sanalah bakat menulisnya mulai muncul. Cerpen pertama yang berhasil dia selesaikan dengan baik adalah ketika dia duduk di bangku kelas 6 SD, saat beranjak SMP dia semakin giat menulis dan mulai mengikuti ajang kepenulisan, beberapa karya fanfiction yang ia buat kerap kali ia posting di blog.

Comments

Popular posts from this blog

NASKAH DRAMA ANAK YANG DURHAKA

ULANG TAHUN

Drama ANAK-ANAK TK