NASKAH DRAMA GARA-GARA GOJEK








GARA-GARA GOJEK
Himmatul ‘Aliyah













DRAMA RESUME
            Seorang wanita bernama Wulan ingin memesan GOJEK, tetapi ponselnya mati. Kemudian Wulan bertemu dengan seorang wanita bernama Mawar yang kebetulan sedang melintas di Jalan Srikandi. Wulan segera memanggil Mawar dan meminta bantuan kepadanya untuk memesankan GOJEK dengan menggunakan ponsel Mawar. Mawar dengan senang hati membantu Wulan dan memesankan GOJEK untuknya. Namun, ia segera pergi karena ada kepentingan yang harus diselesaikan. Setelah selesai memesan GOJEK, Wulan menunggu driver GOJEK sendirian di trotoar Jalan Srikandi.
            Seorang driver GOJEK menghampiri Wulan yang tengah berdiri sendirian karena ia yakin bahwa Wulan adalah penumpangnya. Driver berkata bahwa nama penumpangnya yang tertera di aplikasi adalah Mawar. Wulan menyangkal bahwa ia adalah penumpang dari driver GOJEK tersebut. Namun, driver GOJEK tetap yakin dan  ngotot bahwa Wulan adalah penumpangnya karena tidak ada siapapun di sana selain Wulan.  Pertikaian mulai terjadi karena Wulan yang gagap teknologi menganggap bahwa driver GOJEK tersebut hendak melakukan tindak kejahatan. Oleh sebab itu, dia mengusir dan berkata kasar kepada driver tersebut. Driver GOJEK tersebut tidak terima dan masalah ini sampai pada kasus yang serius yang menyebabkan keduanya harus menempuh jalur hukum.










            Jalan Srikandi tampak sepi di hari yang siang menjelang sore. Sepanjang jalan hanya terlihat lima sampai enam mobil yang sesekali melintas di sana. Ada pula seorang gadis bernama Wulan yang tengah bingung sendiri di trotoar jalan itu tanpa ada teman bicara.
Wulan  : “Duh! Jangan mati dong.” (telapak tangan kanannya dipukul-pukulkan pada bagian samping ponselnya).
            Dia terus menggerutu sambil sesekali berkacak pinggang. Ekspresinya yang bingung terlihat semakin kuat. Ia mencoba berjalan menyusuri trotoar untuk mencari sumber  listrik.
Wulan  : “Gimana bisa pulang kalo mati, sialan!” (melihat kanan dan kiri sambil menggaruk kepala)
            Harapannya kini tertuju pada sebuah bayangan yang ia lihat dari jarak sekitar 20 meter dari tempatnya sekarang ini. Ia berlari kecil sambil menggenggam ponselnya yang mati untuk mendekati bayangan manusia itu hingga mereka hanya berjarak satu meter saja.
Wulan  : “Permisi, Mbak.”
Mawar : “Maaf, Mbak. Saya buru-buru.” (berlari kecil meninggalkan Wulan)
Wulan  : “Hei tunggu! (mengejar Mawar)
Wulan  : “Aduh!” (jatuh tersungkur)
Mawar : (menoleh ke belakang dan berbalik) “Astaga!”
Mawar : (menolong Wulan yang kesulitan berdiri) “Kenapa Mbak tadi mengikuti saya?”
Wulan  : (belum berkata apapun karena menahan sakit)
Wulan  : “Mampus nggak bisa pulang.” (sibuk memandangi layar HP yang retak)
Mawar : “Mbak dengar pertanyaan saya?”
Wulan  : (sibuk memijat-mijat lututnya yang lecet)
Mawar : “Mbak maaf, masih ingat pertanyaan saya?”
Wulan  : “Masih ingat barusan saya bilang apa? ”
Mawar : “Apa? Pulang?”
Wulan  : “Saya butuh HP buat telfon pacar saya.”
Mawar : “Ha? Tadi nggak bilang gitu.”
Wulan  : “SAYA BUTUH HP BUAT TELFON PACAR SAYA.” (nada sedikit meninggi)
Mawar : “Mau pinjam HP saya?”
Wulan  : “Kalau ada pulsanya.”
Mawar : “Baru diisi.” (menyodorkan HP)
Wulan  : (terlihat bingung dan hanya memandang layar HP milik Mawar)
Mawar : “Kenapa, Mbak? Nggak hafal nomor pacarnya?”
Wulan  : “Mmm... belakangnya 933.”
Mawar : “Yang depan?”
Wulan  : “Kosong dan delapan, kalo nggak salah.”
Mawar : “Tengah?”
Wulan  : (menyodorkan HP) “Nggak jadi pulang.”
Mawar : “Nggak hafal nomor keluarga yang lain?”
Wulan  : “Mereka HP aja nggak punya.”
Mawar : “Ha?”
Mawar : “Hmmmm...” (berpikir) “Aaa.. naik GOJEK saja, Mbak.”
Wulan  : “Ha? Apa itu?”
Mawar : “GOJEK, Mbak. Ojek online.”
Wulan  : “Ojek online?” (wajah bingung)
Mawar : “Mbak nggak tau?”
Wulan  : “Tahu. Ojek kan? Saya bisa pulang pake itu kan?”
Mawar : “Tapi bayar.”
Wulan  : “Tapi bisa pulang kan?”
Mawar : “Asal dompetmu nggak kosong.” (sambil menyodorkan HP) “Cepat pesan! saya buru-buru mau pergi.”
Wulan  : (terlihat bingung dengan tampilan aplikasi GOJEK dan tak henti memandangi layar HP)
Mawar : “Bisa nggak sih, Mbak?”
Wulan  : “Masih ada saja manusia yang suka meremehkan orang lain.”
Mawar : “Maaf, 10 menit lagi saya harus masuk kelas.”
Wulan  : (masih sibuk memencet-mencet layar HP)
Mawar : “Berikan padaku!” (mengambil HP-nya) “Kamu mau pergi kemana?”
Wulan  : “Jl. Merdeka Barat no 56.”
Mawar : “Oke, 5 menit lagi driver GOJEK-nya akan datang. Tapi maaf, saya harus pergi sekarang. Kamu bisa kan menunggu sendirian?”
Wulan  : “Ya, tentu.”
            Mawar segera pergi dengan langkah tergesa dan membiarkan Wulan menunggu driver GOJEK sendirian di trotoar Jalan Srikandi yang mulai beranjak petang.








Seorang pengemudi GOJEK berjaket hijau sedang mengampiri Wulan yang tengah berdiri di pinggir Jalan Srikandi.
GOJEK           : “Permisi, Mbak. Atas nama Mawar, ya?”
Wulan              : “Ha? Bukan, Pak. Nama saya Wulan.”
GOJEK           : “Lho, iyakah? Tapi sampean sedang menunggu GOJEK juga?”
Wulan              : “Iya, tapi nama saya bukan Mawar, Pak. Saya ini Wulan.  Mungkin Bapak
salah orang. Coba Bapak cari penumpang bernama Mawar itu di sebelah
sana.” (sambil menunjuk kearah kiri)
GOJEK           : “Sampean dapat driver atas nama siapa?”
Wulan              : “Mmmm... Joko Susanto. Memangnya kenapa, Pak?”
GOJEK           : “Lho, itu nama saya, Mbak. Berarti sampean ini penumpang saya.”
Wulan              : “Tapi Bapak dapat pelanggan atas nama Mawar, kan? Maaf Pak nama saya
bukan Mawar, Pak. Jadi silakan Bapak cari di tempat lain penumpang yang
bernama Mawar itu.”
GOJEK           : “Maaf, Mbak. Apakah sampean dapat driver dengan plat nomor kendaraan
AG 9714 BF?”
Wulan              : “Aduh, Pak. Maaf ya saya lupa. Kalau boleh jujur saya ini merasa terganggu
lho dengan sikap Bapak. Kalau Bapak tidak mau pergi, maka saya yang
akan pergi. Permisi!” (kemudian berjalan pergi meninggalkan driver
GOJEK)
Driver GOJEK masih mencoba mengejar Wulan sambil melontarkan beberapa pertanyaan.
GOJEK           : “Mbak mbak, tunggu Mbak. Boleh saya lihat aplikasi di hp-nya sampean
buat ngecek berapa plat nomor kendaraan drivernya sampean? Biar
semua ini cepat ada kejelasan gitu lho Mbak.”
Wulan              : (berhenti) “Aduh, Pak. Kenapa sih Bapak ngikutin saya? Jangan-jangan
Bapak mau berbuat jahat ya sama saya?”
GOJEK           : “Lho Mbak sampean ini kok malah menuduh saya to. Lha wong saya lho
cuma pingin  tau plat nomor kendaraan driver yang sampean dapat. Yowes
kalau saya ndak boleh lihat hp-nya sampean, monggo sampean cek sendiri
di aplikasi berapa plat nomor kendaraan driver yang sampean dapat.”
Wulan              : “Pak, sudah ya. Saya capek banget meladeni Bapak dari tadi. Bapak ini siapa
sih kok berani-beraninya nyuruh-nyuruh saya? Sekarang silakan Bapak
pergi atau saya akan teriak biar orang-orang gebukin Bapak karena sudah
berniat melakukan tindak kejahatan sama saya.”
GOJEK           : “Mohon maaf nggih, Mbak. Saya tadi dapat orderan di tempat ini atas nama
Mawar. Sedangkan di tempat ini hanya ada sampean dan mas tukang
sampah itu. Mosok iyo mas-mas tukang sampah itu yang order GOJEK
saya? Mosok iyo mas-mas itu namanya Mawar?”
Wulan              : “Pak, saya tegaskan sekali lagi, ya. Nama saya bukan Mawar, tapi nama saya
Wulan. Lagian aneh-aneh saja namanya Mawar. Memangnya penjual bakso
boraks apa?” (sambil berjalan pergi meninggalkan driver GOJEK)
GOJEK           :  (mengejar Wulan dengan motornya) “Lho, Mbak tunggu Mbak. Saya ini
hanya ingin mengonfirmasi data penumpang saya. Saya ndak ingin berbuat
kriminal atau bertindak macam-macam kok. Saya mohon kesediaan
sampean untuk mengecek plat nomor driver di aplikasi agar masalah ini
cepat selesai.”
Wulan              : (berhenti) “Pak cukup ya. Zaman sekarang ini di Jakarta banyak modus-
modus kejahatan, Pak. Bapak nggak usah banyak alasan. Sudah, Bapak
pergi saja.”
GOJEK           : “Maaf nggih Mbak. Saya ini hanya mau memenuhi tanggung jawab saya
sebagai driver GOJEK. Saya bukannya mau macam-macam kok.
Saya punya istri dan anak yang harus saya hidupi. Tolong Mbak mengerti
dan mari kita selesaikan masalah ini dengan kepala dingin. Sekarang saya
mohon sama Mbak untuk melihat plat nomor kendaraan driver di HP
sampean.”
Wulan              : “Bapak ini keras kepala sekali, ya. Saya tau kok Pak, nanti waktu saya
ngeluarin HP, Bapak ngrampas HP saya lalu pergi, kan? Sudahlaaaaah, saya
ini tahu betul bagaimana rencana Bapak. Itu sudah biasa saya lihat di TV,
Pak. Jadi kalau Bapak mau membodohi saya, maaf saja ya, saya bukan
orang yang tepat. Sudah sana pergi atau saya akan teriak.”
GOJEK           : “Astaghfiruullah Mbak. Tidak semua orang yang ada di Jakarta ini bisa
sampean pandang rendah seperti itu ya. Sampean ini lebih muda dari saya
tapi kok ndak ada sopan-sopannya blasss sama orang yang lebih tua.
Ditanya baik-baik eh malah menuduh yang bukan-bukan. Anak kemarin
sore kok nggak tahu sopan santun.”
Wulan              : “Lahhh, Bapak sendiri emang punya sopan santun? Sama orang nggak
dikenal kok ngata-ngatain. Sudah, cepat Bapak pergi dari sini atau saya
akan teriak karena Bapak sudah mau bertindak jahat.”
GOJEK           : “Heh Mbak. Dari tampangmu saja sudah kelihatan kalau kamu itu nggak
punya barang-barang mewah. Lah wong kamu itu lho juga nggak terlalu
cantik, terus buat apa juga saya mau bertindak jahat. Kalau mau menuduh
orang itu mbok ya ngaca dulu gitu lho.”
Wulan              : “Waahh dasar tukang GOJEK sialan. Berani-beraninya ya kamu ngata-
ngatain fisik saya. Nihhh rasain nihh. (memukuli driver GOJEK dengan
tasnya).
GOJEK           : “Heh Mbak. Apa-apaan ini? Hey berhenti hey.” (menutupi mukanya lengan)
Wulan              : “Tolooongg....tolooongg...” (sambil terus memukuli driver GOJEK)
            Mendengar teriakan itu, seorang tukang sampah datang berlari menghampiri Wulan dan driver GOJEK yang sedang dipukulinya.
Mas Sampah    : “Hey hey hey, ada apa ini Mbak?”
Wulan              : “Mas tolong saya, Mas. Orang ini mau bertindak jahat sama saya. Dari tadi
saya suruh pergi tapi ngotot saja mengikuti saya terus.”
Mas Sampah    : “Bapak, maaf ya. Bapak ini kenapa kok mengikuti Mbak ini terus? Kalau
Bapak ingin berbuat jahat, saya bisa membawa Bapak ke kantor polisi
sekarang juga.”
GOJEK           : “Yongalah Maaaas. Saya ini lho cuma driver GOJEK biasa yang mau jemput
Mbak ini. Dia itu penumpang saya tapi mouuulekk terus dari tadi. Eh lha
kok saya dituduh mau berbuat jahat lah, apa lah. Aduuuhh badanku sakit
semua ini diantemi gawe tas. (sambil memegang lengan kiri)
Wulan              : “Bohong! Saya bukan penumpangnya, Mas. Dia sendiri yang bilang kalau
penumpangnya bernama Mawar. Terus saya jelaskan dari tadi kalau nama
saya itu bukan Mawar, tapi Wulan. Eh masih ngotot terus mau jemput saya.
Saya kan jadi takut kalau Bapak ini macam-macam.”
Mas Sampah    : “Lho, lha Bapak kenapa kok masih saja ngotot mau jemput Mbak ini? kan
sudah dia bilang namanya bukan Mawar. Berarti dia memang bukan
penumpang Bapak.”
GOJEK           : “Mas, sekarang coba sampean lihat sekeliling. Di sepanjang jalan ini lho
cuma ada sampean sama Mbak yang gila ini. Emangnya kalau bukan Mbak
ini, sampean yang pesan GOJEK saya?”
Wulan              : “Mas sudahlah Mas. Jangan dengarkan Bapak ini. Semakin lama Bapak ini
ngomong, semakin banyak kebohongan-kebohongannya.”
GOJEK           : “Heh Mbak diam ya kamu! Dari tadi kok menyudutkan saya terus. Saya ndak
terima ya kamu tuduh-tuduh seperti itu. Saya bisa lho menuntut kamu ke
polisi.”
Wulan              : “Oh begitu? Siapa takut? Saya juga bisa menuntut Bapak ke polisi atas
laporan tindak kejahatan.”
Mas Sampah    : “Aduuhh... cukup cukup. Saya tidak tahu mana yang benar dan mana yang
salah. Begini saja. Ayo kita sama-sama pergi ke kantor polisi di ujung jalan
sana. Mari kita selesaikan semua urusan di sana. Bagaimana? Mau atau
tidak?
Wulan              : “Kalau saya ya mau-mau saja. Saya kan nggak salah. Gimana, Pak? Bapak
berani nggak ketemu polisi?”
GOJEK           : “Siapa takut.”
            Mereka bertiga menuju kantor polisi yang ada di ujung Jalan Srikandi bersama-sama.

KANTOR POLISI
Sesampainya di kantor polisi mereka bertiga menemui salah satu polisi yang siap melayani mereka.
Polisi               : “Selamat siang, Bapak Ibu. Ada yang bisa kami bantu?”
Mas Sampah    : “Siang, Pak. Saya mau melapor Pak. Jadi tadi kan saya nyapu di Jalan
Srikandi sebelah sana, terus saya lihat Bapak GOJEK dan Mbak ini sedang
ada cekcok. Kemudian saya samperin. Setelah saya tanya ternyata menurut
keterangan Mbak ini, si Bapak GOJEK mau melakukan tindak kejahatan.
Tapi kata Bapak GOJEK ini, beliau cuma mau ngambil penumpang. Jujur
saja saya tidak mau mana yang benar dan mana yang salah, Pak. Jadi saya
ajak mereka ke sini untuk mencari solusinya.”
Polisi               : “Oh begitu. Baiklah, sekarang saya mau tanya Mas dulu ya. Kalau menurut
Mas, adakah tanda-tanda adanya tindak kejahatan dalam percekcokan itu?”
Mas Sampah    : “Mmmm, saya tidak tahu sih, Pak. Tapi yang saya lihat Mbak ini memukuli
Bapak GOJEK dengan tasnya. Setelah itu dia berteriak meminta tolong dan
saya menghampiri mereka.”
Wulan              : “Ya iyalah Pak saya pukuli. Bapak GOJEK ini mau berbuat kriminal sama
saya. Saya usir-usir dari tadi tetap tidak mau pergi. Saya kan jadi takut.”
GOJEK           : “Baru kali ini lho Pak saya dapat penumpang yang ndak mau dijemput.
Ordernya pakai nama Mawar, tapi ngakunya namanya Wulan. Lha iki
lek ruwet to namanya? Mana saya dikata-katai, dituduh, dipukuli, saya
nggak terima ini Pak.”
Wulan              : “Saya juga nggak terima, Pak. sudah saya bilang saya ini bukan
penumpangnya dia. Eh saya malah diikutin. Saya usir juga nggak mau.
Apa namanya kalau bukan tindak kriminal?”


Polisi               : “Maaf, boleh saya lihat aplikasinya Mbak?”
Wulan              : “Aplikasi? Dimana?”
Polisi               : “Aplikasi GOJEK yang ada di HP Anda, Mbak.”
Wulan              : “Bisa nyala saja sudah syukur.”
Polisi               : “HP-nya mati?”
Wulan              : “Ya kalau bisa nyala dari tadi saya telfon pacar saya buat jemput, nggak perlu ketemu GOJEK ini.”
GOJEK           : “Lihat, Pak! Ruwet to? He, Mbak. Lha terus tadi itu kamu pesan GOJEK pake apa?”
Wulan              : “Mana saya tahu. Kenal istilah GOJEK aja baru hari ini.”
GOJEK           : “Loh... lha terus kamu itu di Jalan Srikandi sedang menunggu apa?”
Wulan              : “Saya mau pulang. Nunggu ojek.”
Polisi               : “Ojek online?”
Wulan              : “Yaaa...seingat saya ada line line-nya lah.”
Polisi               : “Siapa yang memesankan?”
Wulan              : “Orang.”
Polisi               : “Mawar, ya?”
Wulan              : “Siapa itu Mawar?”
Polisi               : “Loh.”
GOJEK           : “Kamu tadi pesan GOJEK pake HP-nya siapa?” (nada marah)
Wulan              : “Biasa aja dong, Pak. Gausah nyolot!”
GOJEK           : “Heh, dari tadi itu kamu yang nyolot sama saya.”
Polisi               : “Sudah... sudah... Mbak, tadi Anda pesan GOJEK pakai HP siapa?”
Wulan              : “Nggak tahu namanya.”
Polisi               : “Lho, baru kenal?”
Wulan              : “Ketemu di trotoar tadi.”
Polisi               : “Perempuan?”
Wulan              : “Rambutnya pendek tapi pakai rok.”
GOJEK           : “Yaitu namanya Mawar.” (nada kesal). “Yongalah, wong gaptek diajak ngobrol kok ruwet eram.”
Polisi               : “Mohon dimaklumi, Bapak. Sepertinya Mbak ini seorang perantau. (tersenyum kecil). Kalau boleh tahu, Mbak asalnya dari mana?”
Wulan              : “Kalimantan.”
GOJEK           : “Memang wong Kalimantan itu ruwet-ruwet kayak kamu.”
Wulan              : “Pak, saya nggak terima ya dikata-katai seperti itu.”
GOJEK           : “He! Saya juga nggak terima ya kamu tuduh-tuduh dan kamu pukuli kayak tadi.”
Polisi               : “Sudah... sudah... Inti permasalahan sudah ditemukan, kan? Jadi saya mohon bapak GOJEK untuk memaklumi Mbak ini. Mohon pengertiannya Pak, setiap orang pasti memiliki keterbatasan pengetahuan dan pengalaman yang tentunya tidak dapat disamakan dengan orang lain.”
Polisi               : “Dan untuk Mbak Wulan, lain kali minta didampingi yang punya HP ya kalau mau pesan ojek online.”
GOJEK           : “Tunggu, Pak.  Ini bukan perkara memaklumi kegaptekan, tapi setiap orang seharusnya punya etika bagaimaan cara bersikap dengan orang yang lebih tua. Sakit hati saya dituduh-tuduh, dikata-katai, dan dipukuli. Saya nggak terima kalau dia masih hidup tanpa rasa jera. Saya mau menuntutnya ke meja hukum atas pasal perbuatan tidak menyenangkan, Pak.”
Wulan              : “Hei! Apa-apaan ini? Seharusnya saya yang menuntut Bapak karena sudah berniat jahat sama saya. Yang bertindak kriminal dia kok yang dituntut saya.”
GOJEK           : “Siapa yang mau berbuat kriminal? Mau dijemput malah ruwet.” (nada kesal)
Polisi               : “Hahaha”







Comments

Popular posts from this blog

NASKAH DRAMA ANAK YANG DURHAKA

ULANG TAHUN

Drama ANAK-ANAK TK