NASKAH DRAMA GELAP DI MALAM TAKBIR
Gelap di Malam Takbir
Karya : Richard
Dito A
170211604544
170211604544
TOKOH & PENOKOHAN :
1.
Ali : Cerdas, Pekerja Keras,
Pantang Menyerah, Tidak Sombong, Baik Hati & Penyayang.
2. Ibu : Penyayang, Sabar.
3. Ani : Gila.
BABAK 1
Di sebuah desa terpencil, tinggalah
sebuah keluarga kecil yang terdiri atas Ibu dan dua orang anaknya yakni Ali dan
Ani. Mereka hidup dengan penuh kesengsaraan dan penderitaan yang luar biasa
hebat. Ali yang sudah tidak kuat lagi dengan keadaan keluarganya memutuskan
untuk pergi merantau dengan harapan menyelamatkan segenggam nama baik yang akan
ia pertaruhkan di luar sana. Keinginan Ali sempat membuat sang Ibu ragu untuk
melepaskan Ali merantau, namun karena tekad Ali yang kuat Ibu pun merelakan Ali
untuk pergi berjuang merantau menyelamatkan keluarganya.
Ibu : (Duduk
di sebelah kanan Ali)
Apakah engkau sudah benar-benar memikirkan secara masak keinginanmu
untuk pergi merantau ke kota?
Ali : (Berdiri) Tentu saja ibu, apapun yang akan aku lakukan telah
kupikirkan secara matang. Aku tidak ingin salah dalam bertindak. Dan itu semua
aku lalui dengan perenungan, sehingga apa yang telah aku putuskan, aku sangat
percaya diri untuk melakukannya.
Ibu : (Berdiri
di tempat) Tapi nak, tak berpikirkah engkau bagaimana nasib ibu serta
adikmu jika kau meninggalkan kami? Apalagi, kau tahu sendirikan bagaimana
keadaan adikmu sekarang (melihat ke
sebelah kiri. Ani adik Ali dipasung karena tidak waras). Kita terpaksa
harus memasungnya, karena kondisi jiwanya telah terguncang akibat kejadian
memilukan itu.
Ali : (Berputar ke belakang, menghampiri ibu) Ibu, Ali melakukan ini semua
juga demi ibu dan Ani. Ali ingin sekali membungkam mulut warga desa, agar tak
mencibir keluarga kita lagi ibu. Telah banyak hinaan serta cibiran yang mereka
lontarkan kepada kita. (Mulai melangkah
mendekati Ani sembari berkata) Semenjak bapak meninggal, kehidupan keluarga
kita semakin tidak karuan. Ani (mengarahkan
tangannya ke Ani) kehilangan kesuciannya, karena diperkosa segerombolan berandalan
desa yang entah kabur kemana. Dan aku, aku, harus rela gagal menikah dengan
wanita pujaanku karena orang tuanya merasa malu atas apa yang menimpa keluarga
kita. Mereka menganggap bahwa kita hanya akan membuat nama baik mereka
tercemar. (Berlutut, tangannya mau
memegang pundak Ani)
Ani : (Menghindari
tangan Ali) Tidak! Tidak! Jangan sentuh aku, tidak ku mohon... kasihani
aku. Pergi kau! Pergi! (Ali sedih melihat
keadaan adiknya)
Ibu : Tapi nak, ini semua merupakan
suratan takdir. Kita harus kehilangan bapakmu, Ani harus kehilangan kesuciannya
hingga membuatmu gagal menikah. Kita sebagai insan Tuhan, hanya bisa mengikuti
alur kehidupan yang Tuhan ciptakan. Kita tidak bisa mengelak dari apa yang telah
diputuskan.
Ali : (Berdiri dan mendekati ibu sembari berkata) Namun apakah kita harus
tetap diam begitu saja? Melihat, mendengar, orang-orang yang mengguncing kita.
Harga diri kita seakan sudah tak ada lagi harganya di hadapan mereka. Kita
bagaikan sampah yang barang siapa mencium aromanya, hanya akan menjadi bahan
perbincangan.
Ibu : Ali, kita memang sudah tak berharga
lagi dihadapan mereka. Namun kita masih memiliki kedudukan yang sama dengan
mereka dihadapan Tuhan. Hal itulah yang membuat ibu tak mepermasalahkan atas
apa yang mereka lakukan kepada kita.
Ali : Tapi ibu, dadaku telah sesak
dengan perlakuan mereka kepada kita. Kupingku selalu panas jika mereka mencibir
kita, apalagi mencibir ibu. Aku tak rela wanita sepertimu harus mendapatkan
perlakuan seperti itu.
Ibu : (Hanya
terdiam dan duduk kembali)
Ali : (Bersimpuh di hadapan ibu) Maka dari itu Ibu, aku mohon kepadamu izinkan
aku untuk pergi merantau agar aku bisa meperbaiki nasib keluarga kita. Aku
berjanji kepadamu bahwa hidup kita akan menjadi lebih baik setelah ini. Aku
bersumpah akan menaikkan derajat kita, agar harga diri kita tak ditindas dan
dinjak-injak lagi.
Ibu : (Mengusap
kepala Ali dan memegang pipi Ali) Jika keputusanmu telah bulat, ibu tidak
akan mungkin bisa melarangmu. Tapi ibu berpesan kepadamu, agar jika engkau sukses nanti tidak akan melupakan ibu dan
adikmu, serta segeralah pulang karena ibu pasti akan sangat merindukanmu.
Ali
: Engkau tak perlu khawatir
mengenai hal tersebut ibu, aku pasti akan segera pulang kepadamu. Terimakasih
ibu (memeluk ibu).
BABAK 2
Tiga tahun sudah Ali pergi
merantau. Kerinduan sang Ibu kepada Ali sudah memuncak. Namun, tiada kabar yang
datang menghampiri keluarga terkait keberadaan Ali. Ibu yang semakin tua
sekarang tak lagi kuat dan merasa pasrah akan nasibnya. Namun, ibu tak tega
melihat Ani yang semakin hari tiada perkembangan di hidupnya. Sembari tertatih
tatih ia pun merawat Ani sembari berharap Ali akan segera datang.
Ibu : (Batuk-batuk.
Sedang menyuapi Ani yang tidak mau makan, dengan menitihkan air mata) Ayo
makan dulu nak. Ini Ibu suapi. Buka mulutmu Ani!
Ani : (Memalingkan
tubuhnya tidak mau disuapi) Tidak! Tidak! Aku tidak mau!
Ibu : (Meletakkan
piring yang berisi nasi di dekat pasungan Ani, lalu berdiri dan melangkah dengan
batuk-batuk menuju meja dan kursi) Duh Gusti. Mengapa berat sekali ujian
yang kau berikan kepada hamba. Tubuhku yang mulai ringkih, sudah tak kuat untuk
memangkul beban seberat ini. Kakiku sudah tak kuat untuk berdiri. Tanganku
sudah tak kuat untuk menggegam. (Menoleh
ke foto Ali yang terpajang di Meja, lalu mengambilnya) Nak? Di mana engkau
sekarang? Ibu sangat merindukanmu. Apakah engkau sekarang telah sukses? Mengapa
engkau tak kunjung pulang? (Menengok ke
atas sebelah kiri, seperti orang mendengarkan sesuatu) Kau dengar itu nak?
Ini merupakan malam takbir yang ketiga kalinya di mana engkau tidak
mendengarkannya bersama keluargamu. (Menatap
foto Ali dengan mata nanar dan perasaan sedih) Jika aku melihat tetangga,
sebenarnya aku iri melihat anak-anak mereka telah pulang dari perantauan untuk
merayakan lebaran bersama. Tapi aku mencoba untuk mengerti mengapa hingga kini
kau belum pulang juga, tekadmu untuk menaikkan harga diri keluarga merupakan
suatu perbuatan yang mulia. (Menoleh ke
Ani yang tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila) Duh Gusti. Sampai
kapan anak bungsuku akan terus seperti itu? Masa remajanya telah direnggut oleh
kebiadaban budak-budak setan. Aku takut. Aku takut Gusti,
bagaimana jika aku mati nanti? Siapa yang akan mengurusnya? Kakaknya pasti akan
tinggal di tanah perantauan dan dia pasti akan terlantarkan. (Berdiri dengan batuk-batuk sembari
memegangi dadanya yang terasa sakit) Duh Gusti hanya kepadamulah aku
meminta. Hanya kepadamulah aku berserah (Terduduk
di lantai dengan
batuk-batuk) Ku tengadahkan
tangan memohon kepadamu, agar terlepas segala beban berat yang aku pikul.
Berikanlah jalan pada setiap hambatan yang kulalui. (Batuk-batuk semakin kencang dan parah. Tangan memegangi dada yang
terasa sesak dan sakit. Dan tiba-tiba tergeletak).
Ani : (Melihat
ibunya tergeletak. Lalu berteriak dan menangis) Ibu? Ibu? Ibu? Ibu kenapa? (Dia berusaha bergeser, dengan mengesot dan
menyeret pasungan yang menjerat kakinya). Ibu, Ibu kenapa? (Menangis sejadi-jadinya tapi tetap dengan
mengacak-acak rambutnya)
Ali memang sedang
dalam perjalanan menuju rumah dengan mengendarai mobil pribadinya. Ia sukses
dan merasa bahwa ini waktunya untuk membungkam mulut warga dengan apa yang ia
dapatkan selama merantau. Namun, lagi-lagi musibah datang dalam hidupnya. Ia
mendapati ibunya sedang terbaring lemah di lantai.
Ali : Ibu? Ibu? (Lalu datang menghampiri Ibu dan Ani) Ibu? Ibu kenapa (Berusaha menyentuh Ibu, tapi diusir Ani).
Ani : (Mendorong
Ali) Tidak! Jangan sentuh ibuku! Pergi kau! Pergi!
Ali : Ani. Ini aku kakakmu Ali. Ani? Ada
apa dengan Ibu?
Ani : (Tetap
berusaha mendorong Ali dan marah) Tidak! Jangan sentuh ibuku. Pergi! Pergi
kau!
Ali : (Nekat menyentuh Ibu dan memangku kepalanya, dan tidak menghiraukan Ani
walaupun dia berusaha mendorongnya) Ibu? Ini Ali bu. Ini kenapa? Ali telah
datang bu. Kini Ali telah sukses. Maafkan Ali yang tidak pernah menjenguk Ibu.
Ibu Ali mohon bu, sadarlah bu. Maafkan Ali Bu. Ibu... (Berteriak dan menangis).
Dalam situasi genting tersebut, ali
mendengar suara yang entah dari mana asalnya. Suara itu mirip sekali dengan
suara Ibu.
Ibu : Ali hidup memang indah. Hidup
adalah suatu berkah yang diberikan Tuhan kepada kita. Namun dibalik itu, Tuhan
menyimpan rahasia yang tidak ada satu orang pun yang tahu. Dan inilah takdir
yang telah digariskan oleh Tuhan kepada kita. Sebagai manusia kita hanya bisa
menerimanya. Dan Ibu hanya titip satu pesan kapadamu nak. Jaga adikmu Ani baik-baik.
Jangan pernah kau tinggalkan dia, apalagi dengan keadaannya yang seperti ini.
Kau adalah harapan ibu satu-satunya, Ibu mohon kepadamu Ali.
Ali : (Berdiri seperti mencari-cari suara itu) Ibu? Ibu? Ibu? (Berada di pelukan ibu dan
terduduk atau bersimpuh)
Duh Gusti. (Menangis) Mengapa di malam
takbir ini, gelap seakan menyelimuti keluargaku? Ku mohon kepadamu Gusti, di
hari nan fitri agar kulihat esok yang cerah, yang kan melukis senyum dalam
wajahku. Biar tak seperti malam ini, yang kau kirimi awan gelap kepada
keluargaku. Gusti??? Mengapa ini harus terjadi kepadaku? Apakah munajatku
padamu masih kurang untuk kulantunkan? (Sedikit
meneloh ke belakang, melihat Ani yang menangis dan memeluk Ibunya) Tuhan
kembalikanlah kebahagiaan kepada kami. Aku mohon (perlahan-lahan membungkukan badan).
#SELESAI#
TENTANG PENULIS
Richard
Dito A. Mahasiswa aktif di Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah
Universitas Negeri Malang. Seorang lelaki yang tidak hanya bergelut di dunia
kesusastraan namun juga di dunia entertaint yakni bidang musik. Beberapa
penghargaan telah diraih salah satunya 2nd Winner International Singing
Competition di Jakarta. Penulis juga aktif di social media salah satunya
Instagram (@richarddito) sebagai influencer.
Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi