NASKAH DRAMA GEMBLAK


NASKAH DRAMA
GEMBLAK
Rintan Varadilla
PEMAIN        :
1.      AWANG
2.      NIMAS
3.      IBU AWANG
4.      NENEK AWANG
5.      WAROK SUBANDIRJA
6.      WAROK SUPRASTAWA
7.      SUAMI NIMAS

BABAK I
ADEGAN I
(DALAM RUMAH TANPA MEJA, SUASANA BERKABUNG. LAMPU GELAP)
 AYAH AWANG BARU SAJA MENINGGAL DUNIA TERBUJUR KAKU TERTUTUP TIKAR ANYAM. DIATAS KEPALANYA ADA LILIN YANG MENYALA. SEMUA KELUARGA MENANGIS.

WAROK SUBANDIRJA
Saya turut berduka cita, gara-gara saya, Bapak harus mengalami hal ini. Saya sangat meminta maaf, Bapak rela mengorbankan nyawanya demi saya. Sekali lagi, saya minta maaf atas kejadian ini. Semoga Ibu dan keluarga diberi ketabahan.
IBU AWANG
Injih Bapak, mungkin ini sudah menjadi takdir Sang Kuasa


ADEGAN II
(SEBUAH RUANG TAMU DENGAN MEJA DAN KURSI)
HARI YANG PANAS. WAROK SUBANDIRJA BERTAMU KE RUMAH AWANG, MENYAMPAIKAN MAKSUD DAN KEINGINANNYA. AWANG MENGUPING PEMBICARAAN DARI BALIK PINTU.

WAROK SUBANDIRJA
Jadi begini Bu, maksud saya kesini untuk membantu keluarga Ibu, saya bermaksud untuk mempererat silaturahmi dengan keluarga. Seperti yang Ibu dengar dari masyarakat, saya kira Dhik Awang adalah orang yang tepat untuk pekerjaan yang saya butuhkan. Hitung-hitung sebagai balas budi saya kepada keluarga karena Bapak telah menyelamatkan nyawa saya dulu. Masalah bayaran, ah tidak usah dipikirkan, 10 ekor sapi cukup kan?

IBU AWANG
Mengapa demikian, Pak? Apakah Awang pantas?

WAROK SUBANDIRJA
Awang itu putih, tampan, dan juga tinggi. Badannya bagus. Dia akan menjadi gamanku yang paling kuat. Bukankah sudah saatnya ia dimanfaatkan? Aku akan jauh lebih memiliki digdaya apabila ada dia. Hahaha!

IBU AWANG
Tapi dia masih 15 tahun, Pak.

WAROK SUBANDIRJA
Tidak apa, saya yang akan bertanggungjawab. Saya akan membimbingnya.



ADEGAN III
DI RUANG DAPUR KETIKA WAROK SUBANDIRJA SUDAH PULANG

AWANG
Apa yang Ibu bicarakan dengan Pak Subandirja tadi?

IBU AWANG
Bukankah kamu sudah mendengar sendiri? Keputusan Ibu sudah bulat. Apa kamu tidak mau membantu perekonomian keluarga ini?

AWANG
Bukan begitu maksutku, Bu. Tapi bukankah kita bisa mencari uang dengan cara lain?

IBU AWANG
Mau pakai cara apa?

AWANG
Aku bisa bekerja di pasar, atau di tempat-tempat lain.

IBU AWANG
Halah, sudahlah! Mau berapa ratus tahun kita bisa kaya dengan pekerjaan itu? Sudahlah kamu menurut saja kalau kamu berbakti dengan Ibu.

AWANG
Tapi, Bu! Apakah Ibu tega melihatku menari di depan orang-orang? Aku laki-laki, Bu!



IBU AWANG
Lalu kenapa kalau kamu laki-laki? Salah? Ibu tidak peduli dengan kata orang, yang penting kita dapat uang! Kalau kamu anak Ibu, Kamu harus menurut kepada Ibu!

AWANG
Terserah, Ibu.

IBU AWANG
He! Mau kemana kamu!

(AWANG BERLARI KELUAR RUMAH MELEWATI PINTU BELAKANG DENGAN RASA SEDIH DAN TAKUT. IA BERNIAT MENEMUI KEKASIHNYA)


ADEGAN IV
SEPETAK KEBUN PISANG. AWANG DAN NIMAS DUDUK DI BAWAH POHON PISANG. KEDUANYA TERDIAM SEJENAK. NIMAS MENIDURKAN KEPALANYA DI PUNDAK AWANG.

AWANG
Nduk, aku mau digemblak.

NIMAS
Lalu?

AWANG
Aku mungkin tidak bisa bertemu denganmu.

NIMAS
Berapa lama?

AWANG
Mungkin… 3 tahun.

NIMAS
Baiklah
AWANG
Apakah sebaiknya harus kuambil?

NIMAS
Ambilah. Mas nanti bisa kaya raya. Bukankah dengan begitu Mas juga bisa berbakti kepada orang tua?

AWANG
Tapi, maukah kau menungguku selama itu?
NIMAS
Tentu saja. Aku akan menunggu sampeyan.

AWANG
Meskipun suatu saat nanti banyak yang mencibirku karena menjadi gemblak?

NIMAS
Tidak apa, aku menerima Mas apa adanya.

AWANG
Baiklah Nduk. Akan kuambil tawaran ini.. Ini mungkin terakhir kali kita bertemu. Tunggu aku barang 3 tahun lagi, dan aku akan menikahimu.

NIMAS
Injih Mas, sampeyan baik-baik ya disana.

BABAK II
ADEGAN I                                                             
SUASANA RUMAH WAROK SUBANDIRJA. GENAP 7 BULAN, WAROK SUBANDIRJA TELAH BERHASIL MENGUBAH AWANG MENJADI GEMBLAK. KINI AWANG SUDAH SANGAT LEMAH GEMULAI SEPERTI LAYAKNYA PEREMPUAN.

WAROK SUBANDIRJA
Le, mrenea.

AWANG
Injih, wonten nopo Bapak?

WAROK SUBANDIRJA
Buatkan aku kopi, gulanya sedikit saja.

AWANG
Injih, Bapak.

WAROK SUBANDIRJA
Duh anakku. Sudah waktunya kamu keluar kandang. Akan kubanggakan pada temanku.



ADEGAN II
SUASANA PERTEMUAN ANTAR WAROK. MASING-MASING WAROK MEMAMERKAN GEMBLAKNYA. HANYA SATU YANG MENCURI PERHATIAN, YAKNI AWANG. AWANG MAMPU MENARI DENGAN SANGAT BAGUS. MATANYA YANG SAYU MENATAP PENUH GODA.

WAROK SUPRASTAWA
Bagus sekali didikanmu. Sekarang si Awang berhasil menjadi gemblak yang mahal. Kau pun tambah kuat dan jaya. Kekuasaanmu telah meluas. Orang sukses kau sekarang.

WAROK SUBANDIRJA
HAHAHA. Ya begitulah, aku.

WAROK SUPRASTAWA
Lalu, istrimu kau kemanakan?

WAROK SUBANDIRJA
Dia berada di luar kota. Menjadi pengusaha batik di Jogja. Biarlah dia berlaku sesukanya. Aku sudah tidak butuh dia.

WAROK SUPRASTAWA
Kau ini, mentang-mentang sudah kaya raya.

SEMENTARA ITU, SEKERUMUNAN ORANG TENGAH MENCIBIR AWANG KARENA SAKING LEMAH GEMULAINYA HINGGA MIRIP PEREMPUAN. DANDANANNYAPUN SANGAT CANTIK. MEREKA YANG MENCIBIR BERDENGUNG LAYAKNYA KERUMUNAN TAWON.



ADEGAN III
LATAR TEMPAT DI RUMAH AWANG. IBU DAN NENEK AWANG SEDANG BERDISKUSI MENGENAI BAYARAN AWANG YANG SUDAH DILIMPAHKAN KEPADA KELUARGANYA.

IBU AWANG
Mak! Kita kaya! Kita kaya! Kita kaya!

NENEK AWANG
Halah! Itu hartanya Awang, dia yang bekerja sampai sekarang seperti itu, dan kau tidak merasa bersalah sama sekali telah mengorbankan anakmu sendiri yang sekarang hampir menjadi perempuan! Apa kau rela anakmu menjadi penari dan tontonan bagi banyak orang? Hah! Lihat sekarang banyak yang mencibirnya.

IBU AWANG
Tidak apa, sudah resikonya. Salah sendiri ia dulu membiarkan Bapaknya mati terbunuh.

NENEK AWANG
Astaga! Itu anakmu sendiri.

IBU AWANG
Aku sudah lelah dikatai seperti itu. Aku mau pergi keluar dari sini. Terserah Mak mau ikut atau tidak Aku sudah capek hidup disini. Biarkan Awang tetap disana. Toh dia juga betah menjadi seperti itu.

NENEK AWANG
Aku ikut denganmu. Aku juga sudah lelah meskipun sebenarnya aku tidak tega dengannya.

IBU AWANG
Baiklah. Ayo

IBU DAN NENEK AWANG PERGI MENINGGALKAN RUMAH DI MALAM HARI TANPA DIKETAHUI SIAPAPUN. MEREKA PERGI DENGAN MEMBAWA SEMUA HARTA BAYARAN AWANG SEBAGAI GEMBLAK.


BABAK III
ADEGAN I    
DI KAMAR, AWANG MEMBACA SURAT UNDANGAN PERNIKAHAN YANG BARU SAJA DIKIRIMKAN KE RUMAH WAROK SUBANDIRJA. RUPANYA ITU ADALAH UNDANGAN PERNIKAHAN DARI NIMAS YANG MENIKAH DENGAN SEORANG KONGLOMERAT YANG UMURNYA 25 TAHUN LEBIH TUA DARIPADA NIMAS.

AWANG
Nimasku… Apa yang kamu lakukan kepadaku! Mengapa kau tega mengingkari janjimu! Aku bekerja untukmu. Tetapi kamu malah pergi. Nduk Nimas! Tega kamu!

RINTIHAN AWANG DIIRINGI PETIR YANG MENGGELEGAR. SUASANA SEDANG HUJAN DERAS. AWANG BERTERIAK SANGAT KERAS. IA LALU KABUR DARI RUMAH WAROK SUBANDIRJA DI TENGAH GUYURAN HUJAN MENUJU RUMAHNYA SENDIRI. YANG IA TEMUKAN HANYALAH RUMAH YANG TIDAK TERURUS. SUDAH 2 TAHUN LAMANYA DIA TIDAK KEMBALI KE RUMAH INI.

AWANG
Tuhan! Cobaan apa ini!

IA BERJALAN KELIMPUNGAN MENYADARI HARTANYA SUDAH HABIS DIBAWA KELUARGANYA DAN SEKARANG IA TIDAK PUNYA APA-APA. IA PINGSAN.


ADEGAN II
DI RUMAH WAROK SUBANDIRJA.

WAROK SUBANDIRJA
Le, Apa yang kamu lakukan? Kamu sedang pingsan tadi di tengah jalan!

AWANG
Saya sedang tidak enak badan Pak, saya kehujanan. 

WAROK SUBANDIRJA
Nanti malam kamu harus menari di jamuan warok. Kamu harus mampu melakukan yang lebih baik dari kemarin

AWANG
Injih, Bapak.



ADEGAN III
DI RUMAH SUAMI NIMAS. TERSAJI MAKANAN DI MEJA MAKAN. KEDUANYA SEDANG MAKAN BERSAMA.

SUAMI NIMAS
(MELEMPAR PIRING) Makanan apa ini! Sampah! Kau bisa memasak atau tidak!

NIMAS
Ngapunten, Mas

SUAMI NIMAS
Dasar anak kecil! Tidak berguna! Percuma kalau cuma cantik saja! Layani aku sekarang!

NIMAS
Tapi Mas, aku sedang tidak bisa sekarang

SUAMI NIMAS
Dasar istri tidak berguna!

(SUAMI NIMAS PERGI MENINGGALKAN RUANGAN. NIMAS MENANGIS).

NIMAS
Mas Awang, aku butuh kamu. Aku tidak sanggup menahan ini sendirian.



ADEGAN IV
AWANG MENARI DIKELILINGI PARA WAROK. NAMUN ADA YANG BERBEDA KALI INI. GERAK TUBUHNYA TIDAK SEPERTI BIASANYA. IA MENARI HANYA DENGAN RAGANYA, JIWANYA TIDAK SEDANG BERADA DISINI. ADA BEBAN BERAT YANG SEDANG DIPIKIRKANNYA. SEMUA ORANG YANG ADA DISANA TIDAK BERHENTI BERDENGUNG.


ADEGAN V
DI RUMAH WAROK SUBANDIRJA. KEADAAN MEMANAS. WAROK SUBANDIRJA MARAH KARENA AWANG TIDAK MAMPU MENGHIBUR PENONTON DENGAN BAIK.

WAROK SUBANDIRJA
Mengapa kau ini! Baru kali ini tarianmu tidak bagus! Apa bayaranku kurang? Hah! Bicaralah! Kau ini, sudah kubayar banyak tapi malah begini. Aku kecewa padamu! Kau harus membayar kesalahan ini! Nanti malam aku mau tidur denganmu!

AWANG
Tidak mungkin, Pak.


WAROK SUBANDIRJA
Salahmu! Kau harus melayaniku malam ini!

AWANG LANGSUNG BERLARI SEJAUH MUNGKIN AGAR TIDAK DAPAT DIKEJAR OLEH SIAPAPUN. DIA TIDAK KUAT MERASAKAN BEBAN INI SENDIRIAN.

BABAK IV
ADEGAN I    
AWANG BERHENTI DI DEPAN SEBUAH RUMAH TUA. IA MENEMUKAN TALI. DAN AKHIRNYA IA MEMUTUSKAN UNTUK BUNUH DIRI. KETIKA TALI SUDAH BERADA TEPAT DI LEHERNYA, DI BELAKANG AWANG ADA SEORANG PEREMPUAN BERTERIAK. NAMUN AWANG SUDAH TIDAK MAU MENDENGARKAN.

NIMAS
Mas Awaaaaaaaaaaang!

SEBELUM TERIAKAN ITU SELESAI. NYAWA AWANG SUDAH TERLEPAS DARI RAGANYA. TANPA PIKIR PANJANG, NIMAS BERLARI KE SAMPING AWANG DAN MENCARI SEBUAH TALI. NIMAS MENYUSUL AWANG.


- - - TAMAT - - -



TENTANG  PENULIS

Rintan Varadilla, lahir di Ponorogo, pada tanggal 21 Juli 1999. Anak pertama dari dua bersaudara. Ia memulai pendidikannya di TK Dharma Wanita Persatuan Gelanglor I, kemudian melanjutkan ke SD Negeri I Gelanglor. Setelah 7 tahun menempuh pendidikan di dekat rumahnya, ia melanjutkan ke SMP Negeri 6 Ponorogo yang berada di tengah kota. Setelah berhasil lulus dengan nilai memuaskan, ia diterima di sekolah favorit di Kabupaten Ponorogo yakni SMA Negeri 1 Ponorogo. Ia sekarang berkuliah di Universitas Negeri Malang, Program Studi S1 Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah.
Jurusan ini mendukung cita-citanya yang ingin berkiprah di dunia anak-anak. Di masa depan nanti, ia ingin menjadi guru, penulis, sekaligus pendongeng anak-anak. Ia berpendapat bahwa karakter anak dapat ditanamkan sejak kecil salah satunya dengan memberikan dongeng yang syarat akan nilai edukasi dan pendidikan karakter. Oleh karena itu, ia menekuni bakat dan minatnya di bidang bahasa dan sastra. Selain itu, ia juga tengah menjalani bisnis yang memproduksi berbagai macam kerajinan tangan yang dinaunginya dalam satu manajemen @idelala.id. Motto hidupnya adalah “hidup harus berguna untuk orang lain, apapun yang bisa dilakukan, maka harus dilakukan”.


Comments

Popular posts from this blog

NASKAH DRAMA ANAK YANG DURHAKA

ULANG TAHUN

Drama ANAK-ANAK TK