NASKAH DRAMA "HARAPAN PENUH GADIS LUSUH"


Harapan penuh gadis lusuh
oleh: Viga Eka Putri N

Tokoh&Karakter      : a. Salma                    : Pekerja Keras, Tabah
                                    b. Indra                       : Baik Hati, Pekerja Keras
c. Bapak Suprapto       : Baik Hati, Penolong
                                    d. Ibu Diah                  : Jahat, Sombong
                                    e. Dinda                      : Jahat
Sinopsis                      :
            Salma adalah gadis remaja 17 tahun yang harus merasakan pahitnya kehidupan hanya demi mencari sesuap nasi. Salma hanya hidup dengan seorang adiknya yang sedang sakit keras. Ibu dan ayahnya sudah lama meninggal karena kecelakaan. Dengan kondisi fisiknya yang kurang sempurna akibat kecelakaan ia harus bekerja keras agar bisa membayarsewa rumah, makan dan bisa membayar pengobatan adiknya . adiknya sudah lama sakit akibat kecelakaan yang keluarga mereka alami.  Berbekal karung goni yang disingkapkan di bahunya setiap hari ia harus berjalan berkilo-kilo meter untuk mengumpulkan gelas plastik. Setiap sore ia harus mengumpulkan hasil mulungnya kepada pengepul dimana 100 botol hanya dihargai Rp.10.000 saja
            Suatu hari ia dihadapkan denga situasi dimana 5 hari lagi ia harus membayar sewa rumah yang sudah 2 bulan jatuh tempo. Namun malang nasibnya ia hanya bisa mengumpulkan uang tiga perempat dari harga sewa rumahnya. Salma takut jika ia tidak bisa membayar sewa rumah lagi, ia dan adiknya harus pergi dari rumah itu. Sekuat tenaga ia mencari pekerjaan lain untuk bisa mendapatkan uang lebih. Dengan kakinya yang sedikit pincang ia berjalan dideretan rumah-rumah mewah sepanjang jalannya. Ia berharap bisa mendapatkan pekerjaan dari situ. Namun sayang berkali-kali ia selalu ditolak dan selalu dianggap sebagai pengemis yang hanya mau meminta-minta, banyak juga yang mengiranya sebagai pencuri berkedok wajah melas.
Karena tekadnya yang kuat suatu hari ia bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Ia di terima menjadi seorang pembantu rumah tangga keluarga Bapak Suprapto yang kaya raya. Seiring berjalannya waktu keluarga Bapak Suprapto mengetahui latar belakang keluarga Salma dan Bapak Suprapto tahu bahwa Salma masih berusia 14 tahun. Namun karena usia Salma masih sangat muda dan belum bisa menjadi seorang pekerja rumah tangga, akhirnya Salma dan adiknya diangkat menjadi seorang anak oleh majikannya. Sayangnya salah satu keluarga Bapak Suprapto yaitu Istrinya Bu Diah tidak terima jika pak Suprapto mengangkat Salma dan Adiknya  sebagai anak angkat mereka, karena ibu Diah berpikir bahwa Salma dan Adiknya hanya parasit dalam keluarnya.

BABAK 1

SIANG ITU CUCANYA SANGAT MENDUNG DAN TIBA-TIBA HUJAN DATANG SANGAT DERAS, SALMA DAN INDRA YANG SAAT ITU SEDANG MENGOREK-OREK SAMPAH SEGARA MENCARI TEMPAT BERTEDUH.

Indra              : “heh (Mengeluh), Belum juga penuh , hujan sudah datang saja”
Salma              : “sudah sabar ndra. Yuk kita berteduh dulu”
Indra              : “aduuuh kenapa hujan sih”
Salma              : “udah jangan mengeluh hujan itu berkah ndra”
Indra              : “hmmm iya iya sal. berteduh di sana aja yuk” (menunjuk restoran cepat
    saji diseberang jalan)
Salma              : “yakin ndra? Jangan deh nanti kita akan diusir”
Indra              : “terus mau dimana sal? sudah tidak ada tempat lagi untuk berteduh.”
Salma              : “yasudah”
Indra              : “kan lumayan sal kalau kita dapat makanan gratis di sana. Memang kamu
    tidak lapar? Sudah yuk kesana, nanti hujan tambah deras”

SAAT SALMA DAN INDRA HENDAK MENYEBRANG MENUJU RESTORAN CEPAT SAJI UNTUK BERTEDUH, TIBA-TIBA DARI ARAH SAMPING MELAJU SEBUAH MOBIL DENGAN CEPAT SAMPAI HAMPIR MENABRAK SALMA.

Dinda              : Tiiiiiiiiiittttt (bunyi klakson sangat keras) duuuuuh ada ada saja (sedikit
                           kesal)
Dinda              : (menurunkan kaca mobil) “ Bagaimana sih mbak menyebrang kok tidak
  lihat kanan kiri dulu. Mau mati?” (tanyanya dengan nada membentak)
Indra              : “Salma kamu tidak apa-apa kan?”
Salma              : (salma terjatuh dikubangan saat hendak menyebrang tubuhnya dipenuhi
dengan air dan lumpur) “Maaf maaf saya salah, saya tidak melihat terlebih
dahulu sebelum menyebrang”
Dinda              : “Untung mobil saya tidak apa-apa. Lecet sedikit saja habis kamu. Minggir
   minggir saya mau lewat” (sambil membunyikan klaksonnya berkali-kali)
Indra              : “sabar dong mbak. Kita tidak tuli. Ayo sal” (membantu Salma berdiri)

BABAK 2

            KEMUDIAN SALMA BERDIRI DIBANTU OLEH INDRA DAN PERGI MENUJU RESTORAN DISEBERANG JALAN SAMBIL BERJALAN TERTATIH UNTUK BERTEDUH DARI DERASNYA HUJAN. SESAMPAINYA SALMA DAN INDRA DI RESTORAN TERSEBUT BANYAK ORANG YANG MELIHATNYA SEBELAH MATA.

Salma              : (dengan nada lirih Salma berkata) “Permisi”
Ibu Diah         : “ ini, pergi sana” (sambil memeberikan uang dan menyuruhnya pergi)
Indra              : “maaf bu saya hanya ingin berteduh sebentar sambil menunggu hujan
                           sedikit reda lalu saya akan pergi bukan  untuk meminta minta bu”
Ibu Diah         : “haduuh membuat selera makan saya hilang saja kamu” (pergi sambal
   meninggalkan makan yang masih tersisa banyak)
Salma             : “ ibu maaf makanannya ketinggalan” (Salma berlari mengejar ibu
                          Diah)sambil memberikan makanannya)
Ibu Diah         : “aduuh, ada apa lagi masih kurang yang saya kasih tadi?
Salma             : “maaf bu saya hanya ingin memberikan ini” (menjulurkan makanan yang
   tertinggal di meja)
Ibu Diah         : “najis makan makanan yang sudah dipegang orang menjijikan seperti
    kamu” (pergi meninggalkan Salma)
Indra              : “dasar orang kaya angkuh, baru bisa beli makanan seperti ini saja
    sombongnya sudah minta ampun” (dengan nada kesal)
Salma              : “sudah ndra tidak apa-apa”
Indra              : “semoga saja nanti jika kita kaya, kita dijauhkan dari sifat hati seperti itU
   ya sal”
Indra              : “Sal lumayan nih masih sisa banyak. Yuk kita makan, lumayanlah kita
   tidak harus mengeluarkan uang untuk makan hari ini”

NAMUN SAAT SALMA HENDAK MEMAKANNYA TERBESIT DIPIKIRANNYA INGAT DENGAN ADIKNYA DIRUMAH IYA BERPIKIR UNTUK MEMBAWA SISA MAKANAN TERSEBUT PULANG SAJA.

Salma              : “sudah kamu saja ndra aku sedang tidak lapar sekarang”
Indra              : “bagaimana tidak lapar, sedari pagi kamu belum makan Sal”
Salma              : “tidak apa-apa ndra, ini untuk adikku saja”
Indra              : (seketika Indra menghentikan suapannya) nih sal aku sudah kenyang
  (menyodorkan nasinya pada Salma)
Salma              : “kamu serius sudah kenyang ndra?”
Indra              : “iya sudah makan saja”

            KETIKA SALMA HENDAK MENYUAP NASINYA, TIBA-TIBA DATANGLAH SEORANG PELAYAN YANG MENGUSIR MEREKA PERGI

Pelayan           : “maaf mbak mas pengemis dilarang untuk masuk. Silahkan bisa pergi dari
   sini”
Indra              : “kita bukan pengemis mas, kita hanya menghabiskan makanan saja,
    mubazir mbak jika tidak dihabiskan”
Pelayan           : “silahkan pergi mbak mas” (dengan nada sedikit marah)
Indra              : “sabar dong mas kami ini bukan hewan”
Pelayan           : “ayo cepat pergi kalian mengganggu orang-orang yang sedang makan di
   sini!”
Indra              : “mengganggu apanya? kami tidak meminta, kami tidak mencuri, kami juga
    tidak mengusik mereka yang sedang makan. Kami hanya memakan sisa
    mereka apa itu mengganggu?”
Pelayan           : ayo cepat pergi tidak usah banyak alasan. Nanti pengunjung restoran bias
  bisa pergi karena adanya kalian yang menjijikkan ada disini!”
Salma              : “maaf mas, tolong biarkan kami berteduh dulu sekejap setelah hujan
   sedikit reda kami janji akan pergi” (ucap Salma dengan nada lirih)
Pelayan           : “tidak bisa. Pergi sekarang juga! Toh kalian juga tidak membeli apapun di
                sini. Ayo pergi!

            PELAYAN TERSEBUT MENARIK TANGAN INDRA DAN SALMA SECARA PAKSA DAN MENYURUH MEREKA PERGI DARI RESTORAN TERSEBUT.

Indra              : “Dasar tidak punya hati! Suatu saat akan saya beli restoran ini termasuk
    kamu juga” (mengucapkannya dengan sedikit berteriak kepada pelayan
    yang mengusirnya)

BABAK 3

PERGILAH MEREKA MENUJU TEMPAT PENGEPUL UNTUK MENJUAL HASIL PULUNGANNYA HARI INI. DI TENGAH PERJALANAN MEREKA BERTEMU DENGAN 2 GADIS REMAJA YANG MEMAKAI SERAGAM SEKOLAH YANG SEDANG ASIK BERCANDA GURAU DI TAMAN.

Salma              : “hmm.. cantiknya mereka pakai baju seragam itu. Andai saja ibu dan
                 ayahku masih hidup. Pasti aku masih bisa memakai seragam itu”
Indra              : “sudahlah Sal, jangan terlalu bersedih. Suatu saat kita akan bisa seperti
    mereka bahkan bisa lebih dari mereka. Kita akan bisa membeli
    semuanya” (jawab Indra sambil tertawa)

            Tak sengaja ke 2 gadis itu melihat Salma dan Indra yang sedang mengamati mereka berempat.

Safa                : “eeeh lihat deh, dari tadi kita diamati tuh sama dia” (menujuk Salma yang
   masih tercengang melihat keempat gadis tersebut)
Dinda              : “sudah kasih uang saja nanti dia juga akan pergi”
Safa                 : “Udah jelek, kotor, pincang. Apa jangan-jangan mereka mau macam
   macam sama kita?”
Dinda              : “kan aku sudah bilang, beri saja dia uang. Nanti juga dia akan pergi”
   (Dinda memberi uang kepada Safa)
Safa                : (berjalan menuju arah Salma) nih pergi sana, dasar jelek, kumuh, bau.
  (menyodorkan uang pada Salma)
Salma              : “terimakasih, tapi maaf mbak kami bukan pengemis”
Safa                : “diberi uang saja tidak mau, cuih sok jual mahal banget kalian. Nih cepet
   pergi sana buat orang risih aja kalian berdua ni” (Safa melemparkan uang
    ke arah Salma)
Dinda              : (Tiba-tiba Dinda menghampiri Safa)  “ada apa. Kenapa berisik sekali”
Safa                : “ini nih Din, orang miskin dikasih uang gak mau”
Dinda              : (dinda terkejut melihat Salma dan Indra) kalian lagi?
Salma              : “mbak”(hendak mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Dinda)
Dinda              : (Dinda menepis tangan Salma dan tak sengaja menjatuhkan nasi yang
  dipegang oleh Salma) ups maaf gak sengaja hahaha
Indra              : “tega sekali kalian, semena-mena dengan orang miskin seperti kami”
Indra              : “kami memang tidak sekaya kalian, tapi maaf attitude kalian lebih miskin
   dari pada kami” (bertiak ke arah Dinda dan Safa yang bejalan pergi
   menjauhi Salma dan Indra)
Salma              : (sambil menangis Salma berkata) “kenapa sih ndra kita selalu saja
  dipandang buruk sama orang-orang. Kita tidak pernah berniat jahat sedikitpun kepada mereka. Tuhan sedang menguji kita apalagi kali ini?”
Indra              : “Tuhan masih sayang pada kita Sal. Tuhan masih memberikan ujian yang
   pasti kita bisa melewatinya” (sambil menguatkan Salma)
Indra              : “Suatu saat nanti kita akan buktikan pada semua orang, kita akan menjadi
  orang sukses yang baik hati. Udah yuk pergi, sudah jangan menangis lagi”
Salma              : “tetapi bagaimana dengan adikku ndra. Dia menungguku pulang untuk bias
makan, jika aku pulang tidak membawa makanan adikku pasti kelaparan. Sedangkan hasil mulungku hari ini tidak seberapa banyak karena hujan”
Indra              : “sudah nanti ambil saja separuh milikku”
Salma              : “jangan ndra kamu juga membutuhkan uang itu”
Indra              : “ kamu lebih membutuhkan uang itu untuk adik kamu Sal. aku tahu kamu
banting tulang hanya untuk membiayai pengobatan adikmu saja”
Salma              : “Terimakasih banyak ndra kau memang sahabat terbaikku”
Indra              : “yasudah ayuk kita pulang, siapa tahu nanti diperjalanan kita mendapatkan
   beberapa botol lagi untuk dijual lumayan untuk tambah-tambah”

BABAK 4
            SALMA DAN INDRA PERGI BERJALAN KETEMPAT PENGEPUL RONGSOKAN. DITENGAH PERJALANAN ADA SEORANG LELAKI SEDIKIT TUA SEDANG KECOPETAN. SALMA DAN INDRA YANG SAAT ITU BERADA TEPAT DI SEBERANG JALAN SANGAT JELAS MELIHAT KEJADIAN TERSEBUT.

Pak Suprapto : “tolong…tolong… copet” (sambil berteriak)

            INDRA DAN SALMA LANGSUNG MENGHAMPIRI BAPAK SUPRAPTO YANG SEDANG KEBINGUGAN

Indra              : “bapak pencopetnya lari kemana?”
Pak Suprapto: “ke arah sana nak” (menunjuk ke arah jln Patimura)
            INDRA LANGSUNG BERLARI KE ARAH JLN SUPARMAN MENGEJAR PENCOPETNYA. MENINGGALKAN SALMA BERSAMA PAK SUPRAPTO.
Indra              : “kamu tunggu di sini ya. Jika aku lama temui saja aku di tempat pengepul” (indra pergi)
Salma              : “ hati-hati ndra”
Salma              : “Bapak tidak apa-apa? Sepertinya lengan bapak sedikit terluka”
Pak Suprapto: “tidak nak bapak tidak apa-apa. Hanya luka kecil saja ini tidak berarti”
Salma              : “tapi luka bapak sedikit mengeluarkan darah, mari pak saya coba
    bersihkan”
Pak Suprapto: “terimakasih nak, baik sekali kamu. Nama kamu siapa?
Salma             : “nama saya Salma pak”
Pak Suprapto: “anak baik. Pasti orang tuamu bangga padamu nak”
Salma              : “heheh mungkin iya pak jika mereka masih ada”
Pak Suprapto: “maaf nak memang orang tua kamu kemana?”
Salma              : “meninggal 1 tahun yang lalu pak karena kecelakaan mobil”
Pak Suprapto: “innalillah, terus sekarang kamu tinggal bersama siapa?
Salma              : “saya hanya tinggal bersama adik saya pak”
Pak Suprapto : “ Lalu mengapa kaki kananmu pincang?”
Salma              : “ karena kecelakaan mobil itu pak, jadi waktu itu saya bersama ayah dan
inu ingin menikmati hari libur di pantai pak. Akan tetapi ditengah perjalanan ada sebuah truk dari arah berlawanan melaju sangat kencang hingga melewati batas jalan. Lalu truk tersebut menabrak 2 mobil dimana salah satu mobil tersebut adalah mobil yang saya tumpang bersama ayan dan ibu saya pak. Karena kecelakaan tersebut kaki saya tertindih barang berat pak. Karena kecelakaan itu pula ibu dan ayah saya mendingal di tempat kejadian.

            TIBA-TIBA DATANGLAH SEBUAH MOBIL SEDAN BERWARNA MERAH DARI ARAH KANAN. KEMUDIAN DISUSUL TURUNNYA SEORANG GADIS DENGAN  MENGENAKAN SERAGAM DARI MOBIL TERSEBUT.

Dinda              : “ayah.. ayah tidak apa-apa?” (bertanya dengan nada cemas) (belum
 menyadari keberadaan Salma)
Pak Suprapto: “Dinda (terkejut Dinda datang) kenapa kamu datang kemari?”
Dinda              : “tadi supir ayah telpon Dinda katanya ayah terluka karena kecopetan”
Pak Suprapto: “tidak ayah tidak apa-apa nak”
Dinda              :  (Dinda terkejut, Salma sedang membersihkan luka ayahnya) “kamu. Oooh
kamu yang sudah melukai ayah saya?”
Salma             : “bukan mbak. Saya haa…. (Dinda memotong omongan Salma)”
Dinda              : “halaaah tidak usah banyak alasan kamu”
Pak Suprapto: “sudah sudah tidak usah bertengakar. Dinda dia Salma. Salma yang sudah
membantu ayah” (menunjuk a situ Salma)
Dinda              : “halah ayah masih aja kemakan sama tampang orang yang pura-pura baik.
Dia pasti punya niat buruk yah”
Salma              : “saya hanya menolong bapak Suprapto saja mbak, tidak ada maksud jahat”
Dinda              : “ mana pacar kamu yang kampungan itu?”
Salma              : “ dia sedang mengejar pencurinya mbak”
Dinda              : “ ooohh, apa jangan jangan dia yang mencuri tas ayah”
Salma              : “ gak mbak ”
Dinda              : “ tidak usah banyak alasan kamu “
Salma             : “ benar mbak saya dan teman saya tidak mencuri”
Dinda              : “ yah ayah lihat sendirikan ternyata yang mencuri adalah pacar si
perempuan pincang ini”
Salma              : “ tidak mbak tidak. Mbak salah “
Dinda              : “ tidak usah pasang  muka melas begitu dong di depan ayah. Mau minta
dikasihani kamu?”
Pak Suprapto : “ sudah Dinda, Salma tidak tahu apa-apa”
Dinda              : “ayah selalu saja membela perempuan menjijikan ini”
Pak Suprapto : “ sudah Dinda, ayah kan sudah bilang Salma tidak tahu apa-apa. Dia dan
temannya hanya membantu ayah”
Pak Suprapto : “ Salma terimakasih ya sudah membantu bapak, ini alamat rumah bapak
kalau ada apa-apa telpon saja nomor ini atau kamu bisa pergi kerumah
bapak”
Salma             : “terimakasih bapak senang bertemu dengan bapak”
Pak Suprapto : “ ooh iya ini sedikit uang untuk kamu nak” (menjulurkan uang kepada
Salma)
Salma              : “tidak usah pak tidak apa-apa”
Dinda             : “ Apa-apaan lagi nih ayah, bisa-bisanya memberikan uang sebanyak itu
pada perempuan miskin ini”
Pak Suprapto : “ Dinda jaga mulut kamu, ayah tidak pernah mengajarkan kamu
berkata tidak sopan seperti ini kepada orang lain”
Dinda             : “ terus aja ayah belain dia. Anak ayah siapa sih? Dinda atau perempuan
miskin ini?
Pak Suprapto : “dinda ayo pulang memalukan kamu” (sambil menyeret Dinda masuk ke
dalam mobil)
Dinda              : “apaan sih yah sakit tau yah. Dinda juga bisa jalan sendiri” (Dinda menuju
mobilnya meninggalkan Pak Suprapto dan Salma)
Pak Suprapto : “ salma pulang naik apa?”
Salma             : “ jalan kaki pak”
Pak Suprapto : “ mari bapak antar saja nak”
Salma              : “ tidak pak tidak usah, lagi pula saya masih menunggu teman saya”
Pak Suprapto            : “ benar tidak apa-apa nak?”
Salma              : “ oh iya pak, ini uangnya terlalu banyak”
Pak Suprapto : “ sudah tidak apa-apa ambil saja semuanya kamu bagi dengan teman
kamu”
Salma              : “ meski dibagipun ini uga masih terlalu banyak pak “
Pak Suprapto : “tidak apa-apa nak, anggap saja ini balas budi bapak pada kamu dan teman
kamu”
Salma              : “terimakasih banyak ya pak. Nanti kalau ada kabar tentang tas bapak
insyaallah saya akan menghubungi bapak”
Pak Suprapto : “ terimakasih nak, kamu baik sekali. Bapak pergi dulu ya nak
Kalau ada apa-apa hubungi bapak saja tidak usah malu”
Salma              : “baik pak, sekali lagi terimakasih banyak pak”
PAK SUPRAPTO MENINGGALKAN SALMA SENDIRIAN DI TAMAN.
TAK  LAMA KEMUDIAN INDRA DATANG DARI ARAH SELATAN SAMBIL BERLARI TERGESA-GESA.
Indra              : “ Sal, salma. Ini tasnya sudah berhasil ku rampas dari pencopet itu”
(berteriak memanggil Salma)
Salma              : “ Indra kamu tidak apa-apa?”
Indra               : “ tidak apa-apa Sal”
Salma              : “ tunggu kenapa muka kamu lebam begini?”
Indra               : “tadi saat  aku ingin merampas tas itu dari tangan pencopet, aku ditonjok
sal. Yaaaa alhasil begini lebam “
Salma              : “ mengapa kau tak panggil orang-orang sekitar saja dra untuk
membantumu melawan si pencopet itu?”
Indra                : “ sudah sal tapi a situ satupun orang yang membantuku “
Salma              : “ bagaimana bisa kau merampas tas itu sendirian dengan tangan kosong
dari dua pencopet menyeramkan tadi?”
Indra               : “gini-gini aku juga pandai bela diri. Mau seribu musuhpun akan aku
lawan”
Salma              : “ Indra….. Indra… menghayal saja kamu. Sudahlah yang penting sekarang
ta situ sudah kembali”
Indra               : “ oh iya ini tasnya Sal. ngomong-ngomong bapak yang tadi mana sal?”
Salma              : “ bapaknya sudah pulang ndra. Tapi aku diberi kartu nama bapak tadi ndra.
Namanya Bapak Suprapto”
Indra               : “ mau kita kembalikan hari ini Sal?”
Salma              : “ bagaimana jika besok saja ndra. Hari ini aku capek sekali. Hari sudah
mulai gelap ndra kita juga harus pergi ketempat pengepul dulu sebelum tutup, lagi pula alamat bapak ini jauh ndra”
Indra               : “ yasudah sal apa katamu saja”
Salma              : “ oh iya aku lupa, tadi bapak Suprapto memberi kita uang ndra. Nih
uangnya” (mengeluarkan uang pemberian bapak Suprapto dari saku celananya)
Indra               : “ sebentar sebentar aku hitung dulu ini uangnya. Satu… dua… tiga…..
sepuluh (lembar uang ratusan). Wah banyak sekali sal, ini sih bisa buat
makan kita 1 bulan plus kita bisa beli baju hehehe”
Salma              : “ tadi aku sudah menolaknya ndra, Hanya saja bapak Suprapto tetap ingin
memberikannya pada kita, katanya sih ucapan terimakasih karena sudah
membantunya.”
Indra               : “ memang ini terlalu banyak untuk kita sal, Cuma mau bagaimana lagi
inikan sudah rejeki kita hehehe”
Salma              : “ hmmm indra….. indra.. sudah yuk hari sudah semakin gelap kita
tukarkan dulu hasil memulung kita hari ini”
Indra               : “ yuk”
SALMA DAN INDRA PERGI KE TEMPAT PENGEPUL UNTUK MENJUAL HASIL PULUNGANNYA.
BABAK 5
SETELAH ITU KEESOKAN HARINYA MEREKA BERNIAT PERGI KERUMAH BAPAK SUPRAPTO UNTUK MENGEMBALIKAN TAS YANG DICOPET KEMARIN.
Indra               : “waaaah, besar besar sekali ya sal rumah orang-orang kaya nih sal”
Salma              : “iya ndra, besar sekali”
Indra               : “ kita kapan ya sal bisa tinggal di rumah seperti ini”
Salma              : “nanti kalou kita sudah sukses”
Indra               : “sepertinya tidak mungkin deh sal kita bisa punya rumah sebesar ini,kerja
kita saja hanya sebatas pemulung. Mau mengumpulkan uang sampai lebaran monyet pun belum cukup untuk bisa membangun rumah sebesar dan semewah ini”
Salma              : “ jangan pesimis gitu dong ndra, rezeki itu sudah ada yang mengatur, kita
hanya harus berusaha dan berdoa. Tidak ada yang tidak mungkin ndra, selagi Allah menghendaki.”
Indra               : “iya iya sal”
Salma              : “rumah bapak Suprapto yang mana ya ndra?”
Indra               : “susah sekali mencarinya, nomor berapa rumahnya Sal?”
Salma              : “Blok D10 Nomor 15”
Indra               : “nah ini nih sal rumahnya. Waaaah besar sekali ya sal. aku bisa main bola
setiap hari tanpa harus kelapangan nih sal”
Salma              : “ haduuuuh, Indra……Indra. Udah yuk masuk”
Salma              : “ Assalamualikum” (salma mengucapkannya berkali-kali)
Indra               : “mungkin sedang tidak ada orang dirumah ini sal. mungkin saja mereka semua pergi”
Salma              : “ aku coba lagi dulu ya ndra. Jika memang tidak ada jawaban besok kita
pergi kemari lagi”
Indra               : “iya sal”
Salma              : “ Assalamualikum”

KELUARLAH SEORANG IBU-IBU CANTIK YANG DIRASA PERNAH SALMA DAN INDRA TEMUI SEBELUMNYA
Ibu Diah          : “ haduuh, berisik. Siapa sih pagi-pagi begini mengganggu saja”
Ibu Diah          : (ibu Diah membuka pintu, dan ia terkejut) “ kamu?”
Salma              : (Salma kaget) “Ibu”
Ibu Diah          : “ dari mana kalian tahu alamat rumah saya? Apa kalan ingin meminta uang
ganti rugi atas kecelakaan kemari?”
Salma              : “tidak bu tidak kami tidak akan meminta ganti rugi pada ibu”
Ibu Diah          : “ lantas mau apa kalian datang kemari? Sebentar sebentar tas itu sepertinya
saya kenal”
Salma              : “ kami kemari hanya ingin mengembalikan tas ini saja bu. Apa benari ini
rumah Bapak Suprapto?”
Ibu Diah          : “ kenapa kalian tahu nama suami saya?”
Salma              : “ jadi kemarin saat kami akan pulang Bapak Suprapto sedang berteriak
minta tolong, tas yang belia bawa di bawa kabur oleh para pencopet bu”
Ibu Diah          : “ alasan saja kalian. Pasti kemari ingin meminta uang imbalan kan? Karena
kalian bisa mendapatkan ta situ kembali”
Salma              : “ tidak bu saya hanya ingin mengembalikannya saja, ibu bisa periksa isi tas
ini bu. Saya dan teman saya tidak pernah membukanya.”
Ibu Diah          : (merampas tas suaminya) “sana pergi rumah saya tidak untuk orang-orang
miskin seperti kamu” (sambil mendorong Salma)
Salma              : (terjatuh) “aduuuuuh”
Indra               : “ sal kamu tidak apa-apa? Ibu jangan begitu dong sama teman saya, kami
kesini tidak ada maksud jahat hanya ingin mengembalikan tas inin saja kok”
Ibu Diah          : “ aduuuuh banyak omong kalian sana-sana pergi mengotori rumah saya
saja”
TIBA-TIBA PAK SUPRAPTO KELUAR DARI DALAM RUMAHNYA
Pak Suprapto   : “ ada apa ini teriak-teriak. Tidak enak didengar tetangga”
Ibu Diah          : “ ini  nih ada orang miskin datang kerumah kita mau meminta uang
imbalan karena sudah bisa mendapatkan tas ayah. Mereka mau memeras
ayah”
Pak Suprapto   : “Salma. “
Salma              : “ iya pak. Tas bapak sudah kembali. Kami tidak berani membukanya pak.
Bapak cek saja dulu”
Pak Suprapto   : (pak Suprapto mengecek tasnya)“masih utuh kok nak. Terimakasih ya”
Salma              : “ sama-sama pak. Yasudah pak kami pamit pulang dulu”
Ibu Diah          : “yasudah sana pergi. Kan dari tadi saya juga sudah menyuruh kalian untuk
pulang”
Pak Suprapto   : “ibu tidak boleh seperti itu (membentak). Mereka itu baik tidak ada niat
jahat”
Ibu Diah          : “ terus saja ayah bela orang-orang miskin menjijikan ini”
Pak Suprapto   : “ibu jaga omongan kamu! Salma dan Indra sudah makan?”
Indra               : “ belum om kami belum makan”
Salma              : “ sudah sudah pak kami sudah kenyang” (kemudian salma berbisik pada
Indra) “jangan memalukan ndra. Yasudah pak bu kami pulang dulu”
Pak Suprapto   : “ sudah ayo masuk kita makan bersama dulu. Lagi pula kami juga sedang
mmakan yuk makan bareng. Ayo masuk”
Ibu Indah        : “ayah apa-apaan sih mengajak mereka masuk kerumah. Tidak tidak boleh”
Pak Suprapto   : “ibu tidak boleh seperti itu. Ayo  masuk nak”
SAAT MEREKA SEDANG MAKAN BERSAMA PAK SUPRAPTO MENANYAKAN TENTANG KEHIDUPAN SALMA
Pak Suprapto   : “ kalian berdua bekerja apa?”
Indra               : “ kami memulung pak”
Pak Suprapto   : “ Sehari dapat berapa banyak uang?”
Indra               : “ yaaa cukup untuk makan sseharilah pak”
Pak SUprapto  : “ kenapa tidak mencari kerja yang lain?”
Indra               : “ya gimana ya pak, saya sudah sering mencoba melamar pekerjaan. Belum
ngelamar saja sudah diusir”
Salma              : “ ya apalagi saya pak pincang begini”
Pak Suprapto   : “bagaimana kalau kalian kerja disini saja?”
Ibu Daih          : “ aduuuh ayah ini apalagi sih. Kenapa harus mereka sih yah”
Pak Suprapto   : “lagi pula asisten rumah tangga kita kan kemarin sudah ibu pecat”
Ibu DIah          : “ ya kan bukan mereka juga yang harus menjadi asisten rumah tangga kita”
Pak SUprapto  : “ sekarang mencari asisten rumah tangga itu susah bu. Lagi pula mereka
baik kok bu”
Ibu Diah          : “terserah ayah saja deh”
Pak Suprapto   : “bagaimana kalian mau bekerja disini?”
Salma & Indra : “ mau pak”

SEIRING BERJALANNYA WAKTU KELUARGA BAPAK SUPRAPTO MENGETAHUI LATAR BELAKANG KELUARGA SALMA DAN BAPAK SUPRAPTO TAHU BAHWA SALMA MASIH BERUSIA 14 TAHUN. NAMUN KARENA USIA SALMA MASIH SANGAT MUDA DAN BELUM BISA MENJADI SEORANG PEKERJA RUMAH TANGGA, AKHIRNYA SALMA DAN ADIKNYA DIANGKAT MENJADI SEORANG ANAK OLEH MAJIKANNYA. IBU DIAH YANG AWALNYA BENCI TERHADAP SALMA NAMUN SETELAH BU DIAH MENGETAHUI BAHWA SALMA BAIK DAN TULUS AKHIRNYA BU DIAH MENERIMA SALMA DAN ADIKNYA MENJADI ANAK ANGKAT MEREKA.



BIOGRAFI PENULIS
Viga eka putri nurprihardianti, lahir di Bondowoso, 16 agustus 1999. Viga adalah anak pertama dari dua bersaudara dari bapak Priyo Karsono dan Ibu Suguarti. Viga pernah menempuh pendidikan di TK Aisyiah 2,  Sekolah Dasar Negeri 1 Tapen, Sekolah menengah pertama Nergeri 2 Tenggarang, Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Tenggarang dan saat ini Viga sedang menempuh penddikan di Universitas Negeri Malang Jurusan Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah angkatan 2017.


Comments

Popular posts from this blog

NASKAH DRAMA ANAK YANG DURHAKA

ULANG TAHUN

Drama ANAK-ANAK TK