NASKAH DRAMA HATI TAK ADA HATI


HATI TAK ADA HATI
Oleh Fauziyyah Zahra S

Drama Persona
1.      Kesha       : periang, penurut, berprinsip kuat, penyayang. Kekasih Aldo
2.      Aldo         : keras kepala, kasar, egois, pencemburu. Kekasih Kesha
3.      Rena         : peduli, baik, berani. Teman Kesha
4.      Adhi         : penyayang, tulus, bijak. Lelaki yang menyukai Kesha

Prolog
Pagi yang cerah dengan suasana kampus sudah sangat ramai, ada yang sibuk membaca, bercerita bahkan sibuk memainkan gawai. Namun pagi itu bukan pagi yang cerah untuk Kesha memulai perkuliahannya, Ia berjalan lorong demi lorong dengan kelesuan pada raut mukanya, sapaan teman-temannya hanya dijawab segaris senyum saja. Di kelas tampak bangku-bangku sudah banyak terisi, terdengar suara teriakan dari bangku belakang.

Adegan 1
Rena    : (berteriak menyambut) “Pagi, kenapa kau lesu begitu ?”
Kesha  : (mendekat lalu duduk) “Tak apa, aku baik saja”
Rena    : (terkejut) “Ini tangan kamu kenapa ? Diapakannya kau olehnya ?”
Kesha  : “Hanya tidak sengaja terkena puntung rokoknya”
Rena    : (nada tinggi) “Tidak, pasti pecundang itu sengaja mengarahkan puntung rokoknya ke
tanganmu, masih saja kau menutupi ulah busuknya ?”
Kesha  : “Jangan keras-keras. Sudahlah tidak apa, Dia khilaf hanya terbawa emosi.
Permintaan maaf juga sudah diucapkan”
Rena    : (emosi) “Khilaf kok terusan, minta maaf tapi diulang- ulang. Aldo sudah keterlaluan
Kesh, tidak sekali dua kali Dia bersikap kasar padamu!”
Kesha  : “Aku yang salah juga kok Ren, bukankah tidak akan ada api kalau tidak ada yang
menyulutnya ? Benar bukan ?”
Rena    : (bertambah emosi) “Pasti doktrin itu berasal dari mulut buayanya Aldo, pintar sekali
Dia mengolah kata hingga membuatmu menyalahkan dirimu sendiri!”
Kesha  : (sedikit kesal) “Ren jangan menuduhnya seperti itu terus, Dia tidak sejahat itu. Kamu
tak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Berhenti menyalahkannya, dari tadi aku
juga tidak meminta pendapatmu perihal masalah ini”
Rena    : (tertawa sinis) “Bukan main, sebenarnya kau ini masih anggap aku sahabatmu atau
tidak ? Tak habis pikir, bisa-bisanya kau berbalik memarahiku yang sedang
memperdulikanmu dan memilih terus membelanya”
Kesha  : “Astaga maafkan aku sungguh kutak bermaksud demikian, suasana hatiku sedang
kurang baik. Aku mengerti kau mengkhawatirkan kondisiku, tapi lihatlah aku tak apa”
Rena    : “Tak apa bagaimana, tak hanya fisikmu saja yang sudah dilukainya, tapi hati dan
mentalmu juga. Sepertinya ini waktu yang tepat untukku memakinya!”
Kesha  : “Sudahlah Ren, nanti amukannya malah makin menjadi. Aku tak apa, toh hanya
luka kecil akan cepat sembuh”
Rena    : “Yang kupermasalahkan bukan luka kecilmu saat ini saja, tapi juga luka-luka
sebelumnya yang pernah tergurat pada kulitmu. Memang benar sudah menghilang, tapi
bekasnya masih ada bukan ?”
Kesha : “Kamu salah tidak ada yang berbekas, selagi sudah terlewat ya sudah biarkan saja tak
perlu terus menerus diingat”
Rena    : “Ya karena kau menghindari untuk mengingatnya, kau takut ingatan itu terus melukai
hati dan mentalmu”
Kesha  : “Jangan cenayang seolah kau mengerti saja apa yang kupikirkan, aku sedang tak ingin
kita berdebat. Lebih baik hibur saja aku”
Rena    : “Sungguh tiap kali kumelihat kau bersedih demikian dan disakiti olehnya, aku benar-
benar merasa gagal menjadi sahabatmu. Apa yang kupikirkan tempo hari itu hingga aku
memberimu saran untuk lebih memilihnya dari pada Adhi. Sahabat macam apa yang
justru menjerumuskan sahabatnya”
Kesha  : “Jangan merasa begitu, tak perlu menyalahkan dirimu sendiri karena ini bukan
salahmu. Tempo hari itu aku yang keras kepala memilih Aldo, karena memang aku
cinta padanya. Setiap orang punya sisi baik dan buruk kan Ren, dan dalam hubungan
harus berupaya menerima pasangannya. Percayalah aku sedang baik-baik saja”
Rena    : “Tapi Kesh...”

Pembicaraan itupun terhenti saat tiba-tiba Aldo masuk, mengajak Kesha keluar kelas.

Aldo    : “Kesha ayo keluar sebentar”
Rena    : (dengan sinis) “Kau tak liat kelas sebentar lagi dimulai ?”
Kesha  : “Tidak apa, hanya sebentar Ren”
Adegan 2

Aldo yang membawa sekantung keresek berisi obat merah dan juga perban, menggandeng tangan Kesha menuju taman depan kelas. Diobatinya tangan Kesha akibat ulahnya sendiri.

Kesha  : (dengan ketus) “Kau tidak perlu seperti ini, aku bisa sendiri”
Aldo    : “Kamu masih marah sama aku ? Kan aku sudah minta maaf sayang, tolong biarkan
aku menebus kesalahanku semalam”
Kesha  : “Coba saja sikapmu dari semalam seperti ini, mungkin yang kamu lakukan tidak akan
seburuk itu. Puntung rokokmu tak perlu melayang pada tanganku”
Aldo    : (memelas) “Iya aku tahu aku sudah sangat salah, maafkan aku. Sekarang kuobati dulu
luka ini agar lukanya segera hilang bersama dengan kesalahanku yang ikut hilang”
Kesha  : “Ya sudah obati saja, benar perkataanmu semoga saja kesalahanmu bisa ikut hilang
juga dari ingatanku”
Aldo    : (sedikit mengancam) “Oiya, Rena sudah mengetahuinya ? Kau jawab apa ketika
ditanyanya ? Ingat ya jangan cerita pada siapapun, tahu kan konsekuensinya apa ?”
Kesha  : (dengan kesal) “Iya tahu, tidak perlu kau ulang terus. Sudah kubilang tidak sengaja
menyenggol puntung rokokmu. (menggerutu) Baru saja bersikap manis, sudah mulai
lagi”
Aldo    : (sembari mengusap rambut) “Baguslah kalau begitu, pacarku memang baik sekali.
Lukanya sudah selesai kuobati, aku kembali ke kelas ya, nanti kutunggu di parkiran”
Kesha  : “Iya terima kasih, tapi nanti aku ada perlu di himpunan dulu”
Aldo    : (nada tinggi) “Rapat tidak penting lagi ? Acara itu kenapa tidak segera berlangsung,
aku tidak izinkan, aku tak suka kamu sibuk”
Kesha  : (marah) “Aku tidak butuh izin darimu, tak mau juga berdebat perihal ini lagi, toh pada
akhirnya justru akan membuatmu berpikir macam-macam”
Aldo    : (meremas kuat lengan Kesha) “Sekarang kau berani berbicara seperti itu padaku ?”
Kesha  : (beranjak pergi) “Memang benar kan ? Aku mau masuk kelas”
Aldo    : “Keshaa, aku belum selesai bicaraa...”

Adegan 3

Pagi beralih siang, rapat himpunan sudah menunggu Kesha. Terlihat dari kejauhan, tampak Adhi berdiri di depan ruang himpunan memasang raut muka sedikit geram memandangi langkah Kesha yang mendekat.

Adhi    : (mendekat menarik tangan Kesha) “Berulah apalagi si bedugal itu hingga tanganmu
terbalut kasa seperti ini ?”
Kesha  : (melepaskan tangan Adhi) “Jangan sok tau, ini hanya luka kecil”
Adhi    : “Luka karena puntung rokoknya kan ? Setelah sebelumnya kau ditamparnya,
dimakinya dimuka umum, sekarang rokoknya melayang pada tanganmu ? Apalagi
setelah ini ?”
Kesha  : “Pasti dari Rena, hiraukan saja perkataannya. Aku datang
kesini memenuhi panggilan rapat, bukan untuk kau introgasi”
Adhi    : (emosi) “Aku tidak terima kau diperlakukan kasar lagi, memang banci lelaki itu,
hanya berani pada wanita. Akan kubalas perlakuannya, tanganku sudah gatal
untuk menghajar muka sok gantengnya”
Kesha  : (marah) “Cukup dhi, aku tak suka kau menyebutnya demikian. Jangan sok menjadi
jagoan seperti itu”
Adhi    : “Sampai kapan kau bertahan dengan lelaki ringan tangan seperti itu ? Apa yang kau
takutkan jika pergi darinya ? Jangan hanya karena cinta kau memilih menyiksa dirimu
sendiri. Pikirkan perkataanku baik –baik”
Kesha  : “Sudahlah urus saja urusanmu, jangan mencampuri urusanku”
Adhi    : “Kesh, kalau Dia mencintaimu, Dia tak akan mungkin memperlakukanmu demikian.
Andai waktu itu aku lebih cepat, pasti kau tak akan terjebak dengannya”
Kesha  : (dengan ketus) “Bicara apa kau ini ? Masih siang begini omonganmu sudah ngelantur
kemana-mana, percuma dirimu berandai keputusanku waktu itu juga akan sama”
Adhi    : (memelas) “Ya aku tahu, memang kau lebih mencintainya dari pada aku. Tetapi jika
sekarang begini keadaannya, apa tak menyesal ? Jangan kau bohongi dirimu sendiri”
Kesha  : “Aku tidak membohongi diriku, setiap hubungan tidak selalu bahagia kan ?”
Adhi    : (memegang tangan Kesha) “Mengertilah, aku sangat mencemaskan dirimu. Malamku
selalu tak tenang memikirkan...”

Belum selesai ucapan Adhi, keduanya dikagetkan dengan kedatangan Aldo yang entah sudah berapa lama Ia mendengar percakapan keduanya.

Aldo    : (sembari berjalan mendekat) “Oh jadi ini yang namanya rapat himpunan ? Rapat
berdua ? Rapat sambil pegangan tangan ?”
Kesha  : (memegang tangan Aldo) “Kamu salah paham Do, tidak seperti yang kamu lihat aku
bisa menjelaskannya”
Aldo    : (menampik kasar tangan Kesha) “Diam lah, dasar pembohong, wanita murahan!”
Adhi    : (mendorong Aldo) “Jangan kasar pada wanita, mulutmu tidak pernah belajar etika ?”
Aldo    : (memukul muka Adhi) “Kurang ajar, beraninya kau ikut campur dan memegang tangan pacarku”
Adhi    : (membalas pukulan Aldo) “Pacarmu kau bilang ? Kenapa kau perlakukan begitu
pacarmu ? Tak tahu malu, kau lebih kurang ajar padanya”
Aldo    : (memegang kerah baju Adhi) “Tahu apa kau perihal hubunganku, tak usah
menasehatiku, cukup jangan ganggu pacarku”
Adhi    : (menampik tangan Aldo) “Wus santai saja jadi orang, aku tak pernah mengganggu
pacarmu, aku hanya ingin menyelamatkan seorang wanita yang terjebak dengan lelaki
pecundang”
Aldo    : (marah) “Siapa yang kau bilang pecundang ?”
Adhi    : (dengan tertawa) “Syukurlah jikalau ada yang merasa”
Kesha  : (menghardik) “Hentikan ! Apa-apaan kalian ini seperti anak kecil saja”
Aldo    : (mendorong Adhi) “Urusan kita belum selesai” (menarik kuat tangan Kesha) “Ayo
ikut aku pulang”
Kesha  : “Aldo sakit, jangan ditarik”
Adhi    : (teriak) “Dasar banci !”

Adegan 4

Kesha dan Aldo beranjak pergi dari penglihatan Adhi, Aldo menarik paksa tangan Kesha mendekat ke parkiran dekat gedung fakultas yang tengah sepi.

Kesha  : “Do kamu tidak perlu menarikku paksa seperti ini tadi, aku bisa berjalan sendiri. Baru
saja tanganku kau obati pagi tadi, malah kau remas luka ini”
Aldo    : “Diam! Jangan berisik, aku tak mau mendengar ocehanmu!”
Kesha  : (melepaskan tangan Aldo) “Lepasin sakit Do!”
Aldo    : (menampar Kesha) “Lebih sakit yang kurasakan Kesh, melihat kau justru bermesraan
dengan lelaki brengsek itu”
Kesha  : (memegang pipinya) “Kau menamparku lagi ? Tunggu penjelasanku Do, tadi Adhi
hanya melihat luka ditanganku”
Aldo    : (tertawa sinis) “Sangat murahan sekali kau sebagai wanita, dengan gampangnya
dipegang”
Kesha  : (menampar Aldo) “Apa pantas pacarmu sendiri kau katai seperti itu ?”
Aldo    : (menjambak rambut Kesha) “Salah sendiri kau masih mencoba membohongiku, kau
bilang akan rapat, lantas mengapa berduaan di depan ? Jelas-jelas dia memegang tangan
sembari menatapmu, lantas masikah kau bilang hanya melihat ?”
Kesha : (menangis, memegang rambutnya) “Aldo sakit Do, jangan seperti ini. Aku tak
bermaksud membohongimu, sungguh”
Aldo    : (semakin emosi) “Lantas apa ? Aku tak butuh alasanmu, semua yang kau katakan
hanya sampah!”
Kesha  : “Lepasin rambutku, sakit! Bisa dibicarain baik-baik Do. Jangan berlaku kasar lagi,
aku akan bicara jujur”
Aldo    : (melotot) “Ya sudah cepat bicaralah! Jelaskan yang ingin kau jelaskan!”
Kesha  : (sambil terisak) “Tadi ketika aku datang, Adhi sudah menunggu di depan. Lantas Ia
bertanya perihal luka ini, Dia memintaku bercerita”
Aldo    : “Hanya itu yang kau jelaskan ? (membenturkan kepala Kesha ke mobil)
Kesha  : (menangis keras)
Aldo    : (memegang dagu Kesha) “Coba saja kau tak membohongiku Kesha”
Kesha  : (masih menangis) “Cukup Do, aku capek tak kau hargai seperti ini. Apa gunanya ada
hubungan ini kalau sudah tidak ada lagi rasa percaya dan justru dikuasai oleh cemburu
dan amarah ? Mungkin harus kupikirkan lagi perihal kita”
Aldo    : (memegang lengan Kesha) “Tidak Kesh Tidak, tidak boleh kau berpikir demikian.
Kesh maafkan aku. Aku...”
Kesha : (sambil terisak) “Berhenti! Jangan mendekat!”
Aldo    : “Diluar kontrol aku Kesh, aku kelewat emosi”
Kesha  : (hanya terdiam sembari menangis)
Aldo    : (menampar pipinya sendiri) “Tampar aku Kesh, tampar agar kamu bisa memaafkan
aku. Aku tidak mau ada keraguan di dirimu tentang kita”
Kesha  : (menahan tangan Aldo) “Udah Do, berhenti! Percuma kau membalas menampar
dirimu sendiri, tidak begini caranya menyelesaikan masalah Do”
Aldo    : “Maafin aku dulu, janji setelah ini kita tetap baik-baik seperti biasanya. Kalau tidak
aku akan terus menyakiti diriku. Ya Kesh ?”
Kesha  : (senyum kecut) “Iya iya Do, aku maafin”  
Aldo    : “Oiya ada satu permintaan lagi dan ini harus kamu turuti, aku ingin kamu menjauhi
Rena dan Adhi. Jangan dekat-dekat mereka”
Kesha  : (marah) “Tapi Do.. Kalau Adhi aku masih bisa memahami, lalu kenapa Rena ? Dia
temen dekatku”
Aldo    : (marah dan melotot) “Karena Adhi punya perasaan ke kamu, sedang Rena sering
menghasutmu dan aku tidak suka itu”
Kesha  : (sembari pergi) “Tidak jika harus menjauhi Rena, aku pusing aku mau pulang. Biarkan
pulang sendiri”
Aldo    : (teriak) “Harus setuju, kamu tahu konsekuensinya Kesh, Kesha... ”

Adegan 5

Hari-hari Kesha kembali membaik, namun Kesha kembali dipusingkan dengan Aldo yang tak memberinya izin datang ke persiapan acara himpunan. Di kantin kampus, Kesha dan Rena membicarakan hal tersebut.

Rena    : “Besok bagaimana caranya kamu datang ? Atau lebih baik tidak usah saja ?”
Kesha  : “Tidak mungkin aku tidak datang Ren, tapi Aldo...”
Rena    : “Benar kau, bisa ribut anak himpunan tanpa ketua pelaksananya. Aldo benar-benar
tidak bisa kau bujuk ?”
Kesha  : (lesu) “Sejak kejadian tempo hari itu, Dia sama sekali tidak percaya padaku jika aku
akan rapat”
Rena    : (kesal) “Dasar memang masih bocah! Ajak saja Dia”
Kesha : (terkejut) “Hah asal berucap saja mulutmu, mengajak Dia sama saja bunuh diri”
Rena    : (mengejek) “Hahaha bukankan mengajaknya atau tidak tetap saja sama dengan bunuh
diri ? Kau berpacaran dengannya saja sudah bunuh diri”
Kesha  : (kesal) “Sialan memang ucapanmu yang benar itu”
Rena    :  “Beralasan saja pergi kemana begitu”
Kesha  : (ketakutan) “ Tidak mungkin, Dia akan meminta bukti foto. Akan jadi apa aku nanti
bila Dia tahu aku berbohong ?”
Rena    : “Ya jangan sampai Dia tahu, bilang saja pada Dia besok kau pergi denganku”
Kesha  : (kaget keceplosan) “Masalahnya Aldo juga tidak boleh pergi dengan...”
Rena    : (terkejut) “Apa ? Jangan bilang Dia menyuruhmu menjauhiku!”
Kesha  : (memelas) “Jangan marah Ren, aku kan menolaknya. Jangan kau maki Dia”
Rena    : (sembari pergi) “Terus saja membelanya”

Adegan 6

Benar saja mimpi buruk yang ditakutkan Kesha terjadi. Di malam persiapan acara himpunan, Aldo datang dengan amarahnya.

Adhi    : “Kesh tolong kamu ambil alih masalah bintang tamu ya, aku mau urus perlengkapan”
Kesha  : “Oh iyaa bisa kok Dhi, iyaa sudah aku langsung kesana ya”
Adhi    : (menahan tangan Kesha) “Tunggu, kamu kenapa menghindari aku terus ? Dari
kemarin aku ajak berunding selalu terburu pergi”
Kesha  : (melepas tangan Adhi) “Oh tidak, mungkin hanya perasaanmu saja”
Adhi    : “Disuruh Aldo ? Permasalahan tempo hari ?”
Kesha  : (ketus) “Jangan dibahas lagi. Sebenarnya ingin aku bercerita tapi...”
Adhi    : (menggandeng Kesha) “Iya sudah berceritalah disini, berpura saja kita sedang
berdiskusi”
Kesha  : (berkaca-kaca) “Aku sudah terlalu sakit, tidak mampu lagi menahan amarahnya.
Bantu aku”
Adhi    : (emosi) “Tempo hari apa yang terjadi ? Cepat ceritakan Kesh, biar kuhajar Dia!”
Kesha  : (menangis)“Adhi.. Adhi jangan keras-keras, aku tidak ingin bercerita perihal itu. Aku
ingin kau membantuku, yang jelas aku sudah tidak mampu bertahan”
Adhi    : (menghapus air mata Kesha) “Tentu saja aku akan membantumu Kesh. Setelah ini
biarkan aku melindungimu”

Kedatangan Aldo yang mendadak disuguhkan dengan pemandangan Kesha dan Adhi yang tengah berbincang berdua. Pukulan demi pukulan diberikan Aldo pada Adhi

Aldo    : (menghajar Adhi) “Kau sudah kuperingatkan tempo hari, jangan kau dekati Kesha.
Kau malah menyentuhnya, dasar brengsek! Persetan dengan kau!”
Adhi    : (tertawa) “Hei bedebah, terus pukul sepuasmu!”
Aldo    : (marah dan melotot) “Beraninya kau menantangku seperti itu!”
Adhi    : (mengejek) “Kenapa aku harus takut padamu, justru nyatanya kau yang takut padaku”
Aldo    : (memukul Adhi) “Aku takut padamu ? Hahaha”
Adhi    : “Iya takut karena kau tau aku lebih baik untuk Kesha dari pada kau, dan kau juga takut
Kesha akan meninggalkanmu!”
Aldo    : (manghajar Adhi habis-habisan) “Bicara apa kau ini ? Jelas-jelas Kesha tidak
mencintaimu dan lebih memilihku”
Adhi    : (membalas memukul Aldo) “Ini untuk kau yang berani memaki Kesha! Lalu ini untuk
kau yang berani menyakiti Kesha! Dan ini untuk kau yang pecundang!”
Kesha  : (menangis sesenggukan) “Adhi sudah cukup, jangan lagi. Aldo kamu...”
Aldo    : (menarik tangan Kesha) “Ayo ikut aku!”
Adhi    : “Heh pecundang, mau kau bawa kemana Kesha..”

Adegan 7
Aldo menarik tangan Kesha menuju ke basement gedung tempat acara berlangsung. Kesha menghentikan langkah Aldo yang hendak membawanya pergi.

Aldo    : (mencengkram lengan Kesha) “Ayo cepat, jangan lelet jalannya!”
Kesha  : (kesakitan) “Ah sakit Do, tidak usah kasar begini kan bisa ?”
Aldo    : (meunjuk kening Kesha) “Dimana otakmu ? Aku kasar saja kau terus membohongiku,
apalagi kalau tidak ? Ha ?”
Kesha  : (menangis) “Justru kamu yang seperti ini yang membuatku terpaksa bersikap
demikian”
Aldo    : (membentak) “Terpaksa kau bilang ? Kebohonganmu itu memang kau rencanakan!”
Kesha  : “Harus bagaimana aku ? Kalau bilang tidak kau izinkan, sedangkan aku
harus mengurus acara ini, kau tau posisiku”
Aldo    : “Kau rela berbohong tidak untuk mengurusi acara ini, tapi ingin berduaan mengurusi
Adhi. Bisa-bisanya memilih membohongiku untuk lelaki lain!”
Kesha  : (membentak) “Jangan ngawur kau bilang! Aku tadi berdiskusi dengan Adhi, kau tau
sendiri Dia ketua himpunan”
Aldo    : (marah) “Tidak usah kau banggakan simpananmu itu didepanku, berdiskusi tapi
pegang-pegang pipi ? Yang benar saja!
Kesha  : (membentak) “Aldo cukup menuduhku yang tidak-tidak! Aku tidak sepicik itu Do,
kau hanya... ”
Aldo    : (memegang dagu Kesha) “Hanya apa ? Salah paham ? Aku tidak sebodoh itu Kesh
bisa percaya alasanmu yang itu-itu saja. Perkataanmu hanya omong kosong menutupi
kebohonganmu!”
Kesha  : (membentak) “Terserah kau saja, aku sudah lelah meladenimu!”
Aldo    : (menampar Kesha) “Sudah berani membentak, berkata seperti itu pula. Siapa yang
menghasutmu ? Lelaki brengsek itu ?”
Kesha  : (memegang pipi) “Terus tampar lagi, ini kan yang selalu ingin kau lihat ? Wajahku
yang tersiksa seperti ini ?”
Aldo    : (tertawa sinis) “Aku hanya memberimu tahumu agar kau tidak mengulangi
kesalahanmu, tapi apa ? Kau terus saja genit main belakang dengan Adhi. Memang ya
wanita murahan bersama lelaki brengsek!”
Kesha  : (menampar Aldo) “Cukup kau mengataiku murahan, aku tidak serendah itu! Kaulah
yang brengsek!”
Aldo    : (menjambak rambut Kesha) “Wah wah wah, memang berani membantah kau sekarang
ya, apa yang membuatmu jadi liar seperti ini ?”
Kesha  : (menangis) “Sakit Do lepas! Aku sudah tidak tahan dengan perlakuan kasarmu, aku
lelah Do berpura baik-baik saja mengikuti maumu”
Aldo    : (melotot) “Lalu apa yang kau inginkan ? Putus ? Aku yakin kau tak akan berani!”
Kesha  : “Iyaa aku ingin putus, aku sudah terlalu sakit Do!”
Aldo    : (menonjok Kesha hingga jatuh) “Apa kau bilang barusan ? Benar-benar
membangkang sekali kamu ya, kau tarik ucapanmu sekarang juga!
Kesha  : “Aku semakin yakin untuk menyudahi hubungan ini! Tidak ada yang patut aku
pertahankan dari seorang sepertimu!”
Aldo    : (menginjak leher Kesha) “Coba bilang sekali lagi, ayo bilang lebih keras lagi! Cepat
mana suaramu yang membentak tadi!”
Kesha  : (merintih, menangis) “Sakiit, ampun Do ampun. Tolong lepas”
Aldo    : (mengangkat kakinya) “Masih tetap kekeuh putus ? Berlututlah sembari berkata kau
tidak akan menyudahi hubungan ini. Cepat!”
Kesha  : (batuk-batuk) “Tidak ada keraguan sedikitpun”
Aldo    : (menendang perut Kesha) “Masih keras kepala ternyata ya!”
Kesha  : (menangis kesakitan) “Tidak akan”
Aldo    : (menjambak rambut Kesha untuk berlutut) “Jika tak kau lakukan yang kuminta, akan
kuberi pelajaran lebih dari ini! Cepat Kesha...!”
Kesha  : (ketakutan, menangis) “Apa kau tak puas melihatku sudah begini ?”

Tubuh Kesha sudah lemas babak belur akibat dihajar Aldo, dengan darah yang bercucuran dari hidungnya. Kesha mencoba lari mencari untuk meminta bantuan sembari menangis dan ketakutan. Tak jauh Kesha berlari, Adhi datang.

Adhi    : (memeluk Kesha) “Sudah jangan menangis, ada aku jangan takut. Pergi ke mobilku
sekarang”
Kesha  : (menarik tangan Adhi) “Adhi ayo kita pergi saja, tidak usah kamu meladeni orang gila
psikopat itu”
Adhi    : “Percaya aku tidak akan kenapa – kenapa, aku tidak terima kau dibuat seperti
ini, kamu pergi dulu saja!”
Aldo    : (bertepuk) “Wah ini Dia ya simpanan Kesha yang sok menjadi pahlawan, seru sekali
saling menyelamatkan satu sama lain
Adhi    : (menghajar Aldo) “Apa kau tak punya hati ? Tak punya otak ? Kau perlakukan seperti
itu seorang wanita ?”
Aldo    : (membalas pukulan Adhi) “Ini semua akibat kau, kau yang menyebabkan
aku seperti itu pada Kesha!”
Adhi    : (tertawa mengejek) “Hah Aldo Aldo itu semua hanya alibimu saja, egoismu sendiri
itu yang membuatmu kesetanan, tidak ada angin tidak ada hujan kau tetap kasar pada
Kesha”
Aldo    : (marah memukul Adhi) “Tahu apa kau ini soal hubunganku, jangan ikut campur
menasehatiku!”
Kesha  : (melerai) “Aldo sudah jangan memukul Adhi lagi! Adhi ayo pergi Dhi ayo!”
Aldo    : (menjambak dan memukul Kesha) “Kau sudah berani membelanya di depanku ?
            Dasar pelacur!”
Adhi    : “Keshaa…! (menghajar terus menerus Aldo hingga jatuh) “Memang kau sudah benar-
benar tidak waras, biadab kelakuanmu. Tak akan kuberi ampun kau!
Aldo    : (tertawa jahat) “Tak akan pernah kulepaskan Kesha! Kesha sayangku tak akan
kubiarkan kau memutuskanku, tak kubiarkan kau pergi!”
Adhi    : (terus memukul Aldo) “Memang seperti psikopat kau ini, sudah gila!”
Kesha  : (menahan tangan Adhi) “Adhi cukup kontrol emosimu, bisa mati Dia Dhi!”
Aldo    : “Ayo pukul lagi pukul! Akan mendapat masalah kau setelah ini!”
Adhi    : “Jangan coba-coba mengancamku, justru kau yang akan terkena masalah, hukum akan
berbicara bahwa aku hanya membela Kesha!”
Aldo    : (bangun mendekat Kesha) “Kesha sayang, kamu tidak akan memperpanjang masalah
ini kan ? Kamu sayang sama aku kan ? Pasti kamu tidak akan tega”
Kesha  : “Berhenti! Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa, untuk apa aku sayang kau jika kau
tidak sayang aku. Bukan begini caranya menyayangi orang!”
Aldo    : “Aku sayang kamu, aku akan berubah!”

Kesha  : “Beribu kali kau berjanji demikian, tapi berjuta kali kau menyakitiku lagi! Aku hanya
minta kau jangan ganggu aku lagi!”
Aldo    : (berusaha memegang tangan Kesha) “Tidak akan kubiarkan kau lepas dariku!”
Adhi    : “Jangan coba kau menyentuhnya lagi, atau aku benar-benar memperpanjang masalah
ini dan memperumit dirimu!”
Aldo    : (tertawa sinis) “Aku tidak takut! Aku punya segalanya!”
Adhi    : “Jangan pernah macam-macam lagi!”
Kesha  : (menarik tangan Adhi) “Adhi ayo pergi saja, sudahlah biarkan saja!”
Kesha dan Adhi pergi meninggalkan Aldo sendirian di basement. Adhi membawa Kesha yang masih lemas dan kaget dengan apa yang terjadi pada dirinya. Selepas mengetahui Kesha yang saat ini sudah sendiri, harapan kembali muncul dibenak Adhi.
Adhi    : (merangkul Kesha) “Kamu duduk sini dulu, ini teh hangat untukmu agar kamu lebih
tenang. Aku ambil kotak P3K dulu untuk luka-lukamu”
Kesha  : (tersenyum melihat Adhi) “Iya terima kasih banyak, aku sudah lebih baik”
Adhi    : (kembali dengan kotak P3K) “Aku saja yang mengobatimu, tidak keberatan kan ?”
Kesha  : “Tidak, silahkan obati saja sembari aku menghabiskan teh ini”
Adhi    : (sembari mengobati luka Kesha) “Kesh, apa kau benar-benar yakin mengakhiri
hubunganmu dengannya ?”
Kesha  : “Justru aku merasa sangat menyesal…”
Adhi    : (terkejut) “Hah ? Sesayang itu kamu dengannya ?”
Kesha  : (tertawa) “Belum selesai ucapanku, aku sangat menyesal mengapa tidak sedari dulu
saja aku mengakhiri hubungan yang tidak sehat ini”
Adhi    : (tertawa) “Oh aku kira, syukurlah lega sekali aku mendengarnya”
Kesha  : “Lega ? Apa perasaanmu itu masih ada ?”
Adhi    : (memegang tangan Kesha) “Cukup kau rasakan, biar waktu yang menjawabnya”
Kesha  : (hanya tersenyum)

Malam itu, menjadi malam yang benar-benar tak terlupakan untuk Kesha. Dua kejadian yang bertolak belakang terjadi dalam satu malam. Adhi pun merasakan demikian, Ia sangat lega karena orang yang disayangnya bisa terbebas dari pesakitan sekaligus awal untuknya dekat kembali dengan Kesha. Ditaruhnya harapannya pada gadis itu, hingga suatu hari harapan itu jatuh kembali .

Adhi    : (mendekat kearah meja Kesha) “Kesha dengan siapa kau disini ?”
Kesha  : (terkejut dan gugup) “Eh Adhi, em maaf perihal ajakanmu yang kutolak. Aku
bersama..”
Adhi    : “Iya ? Bersama siapa ? Mama mu ? Atau Rena ?
Kesha  : (terbata-bata) “Aku bersama.. aku bersama itu..”
Seorang lelaki mendekat ke meja itu dan ikut menyela pembicaraan Adhi dan Kesha
Aldo    : (tersenyum sinis) “Bersama aku”
Adhi    : (terkejut) “Aldo..! Kesha apa maksudnya ini ?”
Kesha  : “Maaf Dhi”


-SELESAI-







BIOGRAFI

Fauziyyah Zahra Swandalia, Lahir di Madiun pada tanggal 27 November 1998. Saya tinggal bersama orang tua saya di Madiun. Saat ini saya tengah menempuh pendidikan di jurusan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Malang. Pendidikan formal yang pernah saya tempuh yaitu lulus tahun 2011 dari MI Kresna, Mlilir. Saya lulus tahun 2014 dari SMP N 1 Dolopo. Menyelesaikan jenjang pendidikan SMA pada tahun 2017 di SMAN 1 Madiun.



 
 


Comments

Popular posts from this blog

NASKAH DRAMA ANAK YANG DURHAKA

ULANG TAHUN

Drama ANAK-ANAK TK