NASKAH DRAMA JANGAN LUPA MENJADI MANUSIA











JANGAN LUPA MENJADI MANUSIA
FITRIYANTI BUNGA RINDANG UTAMI WIYONO

PARA TOKOH:
AMIN (Laki-laki yang tidak memiliki pendirian)
SICEMAS (Lebay, dan terlalu cerewet)
SIMARAH (Sedikit dewasa, pemarah, dan suka menghakimi)
SILEGA (Ceria, cerewet, dan suka bercanda)
SISENYUM (Suka menyenangkan orang lain, suka tertawa, dan penuh kepura-puraan)
LALU (Penyayang, sabar, dan tokoh terpenting bagi Amin)
DEPAN (Realistis, sahabat Amin, penguat, sekaligus penasihat Amin)
SAAT (Blak-blakan, ketus, dan jujur)
TIKA (Praktis)
DIAN (Praktis)
BABAK 1

            LAMPU SOROT MENERANGI SISI KANAN PANGGUNG. MULAI MASUK SEORANG PEMAIN DENGAN RAUT WAJAH KUSAM DAN SIBUK DENGAN LAYAR TELEPON GENGGAMNYA. IA BERJALAN KE TENGAH PANGGUNG DAN MULAI MERACAU.

AMIN             : “Duh! Uripku kok yo mung ngene-ngene tok! Teman-temanku asik membagikan momen bahagia mereka bersama teman, keluarga, dan pasangan. Ada pula yang sibuk dengan pencapaian, tapi kenapa aku masih begini aja,” (Sambil memegangi kepalanya dan tidak lupa menunjukkan muka masam).
           
DI BALIK PANGGUNG TERDENGAR SUARA-SUARA YANG BERASAL DARI PIKIRAN AMIN. SUARA-SUARA YANG BERASAL DARI KECEMASAN AMIN.

SIMARAH     : “Kapan kamu bisa seperti dia,”
SICEMAS      : “Memangnya kamu bisa seperti dia? Kalau salah bagaimana?”
SIMARAH     : “Ah, gimana bisa seperti dia? Wong kerjamu cuma goler-goler di kasur tiap hari,”
SICEMAS      : “Eh, tapi bukannya sudah sempat mencoba, mencoba lagi gak salah to?”
AMIN             : “(Mulai gusar dengan suara-suara tersebut dan mengacak-ngacak rambutnya)... Diam!”

            LAMPU SOROT KEMBALI PADAM DAN MULAI PEMBACAAN NARASI OLEH NARATOR CERITA.

            Amin adalah seorang anak yang ceria bagi teman-temannya. Kesehariannya, ia adalah anak yang mudah bergaul dengan banyak orang dan memiliki banyak teman. Sayangnya, ia justru memforsir dirinya untuk mengerjakan tanggung jawab dan menyenangkan orang lain.

            (MUSIK MULAI BERTABUH SEBAGAI TANDA JEDA)

            LAMPU SOROT KEMBALI HIDUP DAN MENERANGI BEBERAPA TOKOH DI ATAS PANGGUNG. TERDAPAT TIGA PEMERAN YANG BERCENGKRAMA DI SANA.

SISENYUM   : “Amin, apa yang mau kamu lakukan hari ini?”
SICEMAS      : “Apa kamu sudah mengerjakan deadline? Kalau kamu ingin bermain-main terus bagaimana kamu akan menyelesaikan deadline?”
AMIN             : “Aku sedang berusaha mengerjakannya satu persatu,” (dengan raut wajah bingung dan berpikir tentang hal selanjutnya yang ingin dilakukan).
SISENYUM   : “Coba lihat! Sifulan kemarin baru saja juara lomba inovasi di Semarang, kamu tidak ingin jadi sepertinya?”
SICEMAS      : “Memang kamu bisa sepertinya?” (sambil menunjuk Amin).
AMIN             : “Sebentar, dia ke sana juga butuh usaha. Aku juga sedang berusaha,”
SICEMAS      : “Cih, bagaimana kamu mau berusaha, lah wong kamu sibuk main timbangan di hapemu itu,” (ujarnya sambil merengut).
SISENYUM & AMIN: “Main timbangan?” (ujar mereka berbarengan).
SISENYUM   : “Timbangan opo to, Mas?”
SICEMAS      : “Ituloh yang gambar-gambar, foto-foto ada komentarnya,” (ujarnya meyakinkan).
AMIN             : “Ealah, Instagram. Timbangan dari mananya to?!”
SISENYUM   : “Lah iya! Kamu mau kapan bekerja...Amin?”
AMIN             : “Duh, kalian berkelakar saja! Aku sedang berusaha,” (intonasi Amin tidak kalah naik dari Sisenyum).

LAMPU SOROT YANG MENERANGI KETIGA PEMAIN TERSEBUT BERGANTI KE SISI LAIN. MUNCUL DUA TOKOH LAINNYA YAKNI TEMAN-TEMAN DEKAT AMIN.

DEPAN           : “Min, ke mana saja kamu seharian ini?” (sambil menepuk pundak Amin)
SAAT             : “Halah, Dia kan memang orang sibuk. Social Butterfly lek wong londo ngomong,” (lagaknya sambil berkacak pinggang dengan raut meremehkan Amin).
AMIN             : “Gundulmu sibuk, aku juga punya waktu menikmati kehidupan At!” (dengan raut wajah tidak kalah kesalnya).
SAAT             : “Aku tahu kebiasaanmu, Min. Siang ini kamu ada di sini, coba nanti sore kamu sudah sibuk di sekre,”
AMIN             : “Ora mesti, gak usah sok ngerti!”

SEBELUM TERJADINYA BAKU HANTAM, DEPAN MULAI MELERAI KEDUANYA.

DEPAN           : “He wes-wes to. Amin gak usah emosi, Saat gak usah sok menghakimi,”
SAAT             : “Lah yo bener, to. Tugas minggu kemarin kamu cuma ngerjakan bagianmu, Min. Itupun salah-salah,”
AMIN             : “Kan kamu sendiri yang bilang, aku bisa mengerjakan semampuku, At”
DEPAN          : “Wes-wes to! Kalau ada kesalahan kan bisa diperbaiki di waktu selanjutnya. Toh tugas kemarin juga sudah dikumpulkan. At, kita tadi ke sini mau nyusul si Amin buat ngajak makan bareng,”
SAAT             : “Halah, kadung nggak nafsu aku, Pan. Sudah kenyang dengan bualannya si Amin,” (ujarnya berlalu sambil meninggalkan dua temannya yang kebingungan).
DEPAN          : “Loh..At! At! Saat!” (sambil masih meneriaki sahabatnya yang telah berlalu itu dan berharap temannya itu mau kembali. Melihat ke arah Amin)..piye to, tiap kumpul kok yo satru ae. Maksud dia itu mungkin baik, Min,”
AMIN             : “Sudah-sudah, kamu jadi ngajak makan apa ngajak debat lagi kayak si Saat itu?”
DEPAN          : “Ayo wes, kalau perut kosong memang rawan bikin orang emosi,” (sambil merangkul kawannya yang masih menunjukkan raut masam itu).

Selepas keduanya kenyang dengan kudapan makan siang. Depan mencoba membuka kembali topik yang mereka bicarakan dengan Saat, sebelum kawannya itu tidak jadi ikut dengan mereka. Di tengah percakapan mereka berdua, Tika dan Dian menghampiri Amin dan Depan

DEPAN     : “Yokpo saiki atine? Kamu gak mau coba baikan sama si Saat?”
AMIN        : “(Sambil menghela nafas kasar) Anaknya judes gitu. Kok bisa ya kamu tahan sama dia?”
DEPAN     : “Mungkin maksudnya baik, Min. Supaya kamu nggak lupa tugas utamamu,”
AMIN        : “Iya-iya. Aku tahu, sangat tahu!” jawabnya mengacuhkan.
TIKA         : “Min, gimana deadline desain buat besok? Sudah selesai?” (Sapa Tika sambil menghampiri Amin dan Depan).
AMIN        : “Oh iya, kesepakatannya aku yang bagian desain ya? Kalian kumpulkan saja kontennya, biar aku tinggal layout desainnya,” jawab Amin mengiyakan.
DIAN         : “Kan kamu kemarin yang punya konsepnya...sekalian saja kamu kumpulkan kontennya. Tugas minggu kemarin kan sudah aku dan Tika yang mengerjakan. Sekarang gantian yaa,” bujuk Dian.
AMIN        : “Begitu? Tapi bukankah kita sepakat mengerjakan bersama?”
TIKA         : “Nanti aku kirimkan bagianku, Dian juga akan mengirimkan bagiannya. Nanti kamu yang menambahkan kurangnya.”
DEPAN     : “Apa tidak lebih baik dikerjakan bersama?”
DIAN         : “Waktunya selalu tidak tepat. Sudah aku percayakan padamu saja ya Min. Yuk Tika, setelah ini kita kan ada kelas lagi,” ajak Dian.
TIKA         : “Minta tolong ya Min,” tutup Tika.
AMIN        : “Baiklah kalau begitu,” Amin mengalah.
DEPAN     : “Kamu jangan seperti itu Min. Tugas kelompok dikerjakan kelompok bukan dibagi-bagi seperti itu. itu namanya kerja individu, dihimpun kelompok!”
AMIN        : “Kan Dian bilang, waktunya tidak tepat. Nggak papa, lagian aku juga yang punya konsepnya tugas minggu ini,”
DEPAN     : “Yasudah. Jangan menangis kalau nanti kamu kerepotan sendiri,”
AMIN        : “Ada-ada saja kamu, mana mungkin aku menangis nanti,” (Jawabnya dengan ragu-ragu.

LAMPU SOROT KEMBALI PADAM DAN MULAI PEMBACAAN NARASI OLEH NARATOR CERITA.
Meskipun terlihat tidak terima dan mengacuhkan nasehat dari depan, Amin diam-diam mengakui bahwa dirinya memang salah dan kawannya, Depan, benar.

BABAK 2
LAMPU SOROT KEMBALI HIDUP DAN MENERANGI SESEORANG YANG TENGAH SIBUK MERAJUT DI BERANDA.
Sore itu, amin memutuskan untuk mengunjungi lalu, sosok yang telah menjadi rumahnya sejak ia kecil. Lalu bukanlah kerabat kandung amin, namun lalulah tempat amin berkeluh kesah. Lalu telah merawatnya sejak kecil dan telah menganggap amin selayaknya anak sendiri. Amin berharap bisa melupakan kekesalannya dengan teman-temannya jika bisa mengunjungi lalu.

AMIN        : “Lalu! Aku datang membawakan pukis kesukaanmu,” (ujarnya sambil berhambur mendatangi Lalu).
LALU        : “Datang kamu le, gimana kuliahmu?”
AMIN        : “Begitulah Lalu. Banyak tugas, mondar-mandir kampus pemondokan,”
LALU        : “Kesulitan ada padamu le?”
AMIN        : “Kalau sudah di sini, rasanya semua tidak jadi sulit, Lalu. Mungkin ketakutanku saja yang berlebih,”
LALU        : “Jangan dibuat beban, jangan juga terlalu dipendam. Ketakutanmu hanya berputar dipikiran, jangan abai dengan kesehatan,”
AMIN        : “Ah Lalu. Cemas dengan kesehatanku. Kesehatanmu sendiri bagaimana?”
LALU        : “Orang tua sakit kalau anak sakit, orang tua sehat kalau anak sehat. Dulu tugasku merawatmu sampai besar, kini tugasmu merubah diri menjadi sukses. Wong tuo mung iso ndungakno le, Cah Bagus,”

LAMPU SOROT KEMBALI PADAM DAN MULAI PEMBACAAN NARASI OLEH NARATOR CERITA.
Keduanya bercengkrama sangat lama, melepas rindu, dan bertukar cerita.

BABAK 3
LAMPU SOROT MENERANGI BEBERAPA TOKOH YANG BERADA DI TENGAH PANGGUNG

SISENYUM   : “Senangnya. Tugas kemarin sudah selesai!”
SIMARAH     : “He! Jangan lupa tugas akhir yang dikumpulkan akhir tahun! Memangnya sudah  dikerjakan?”
SICEMAS      : “Lah, belum lagi deadline portofolio mingguan, sudah buat?”
SILEGA         : “(Kebingungan) Tugas apalagi? Aduh mati Aku! Belum buat persiapan praktik Minggu depan!”
SISENYUM   : “Kapan tugas ini selesai?!”
AMIN             : “Berhenti! Berhenti! Stop! Kenapa tidak bisa satu-satu sih? Kan aku masih mengerjakannya!”
SISENYUM, SIMARAH, SICEMAS, dan SILEGA : “Kapan selesainya?!”
SIMARAH     : “Kalau dari kemarin sudah dikerjakan, kapan selesainya? Mana hasilnya?”
SICEMAS      : “Haduh, pasti tidak cukup waktu! Belum lagi kemarin kamu cekcok dengan anggota kelompokmu,”
SILEGA         : “Menyedihkan! Kenapa musti dikerjakan semuanya sendiri? Bukannya sudah dibagi-bagi tugasnya?”
SISENYUM   : “Aku ingin segera istirahat! Kenapa tidak ada hari libur?”
SIMARAH     : “Duh! Jangan keenakan memanjakan diri! Kapan usahanya?”
AMIN             : (Memalingkan muka dan memilih untuk tidur).

BABAK 4
PUKUL SATU DINI HARI, AMIN MENDAPATKAN TELEPON SECARA MENDADAK DARI MBOK, TETANGGA LALU. MBOK MENGABARKAN KEADAAN KRITIS LALU KARENA GULA DARAHNYA YANG TIBA-TIBA NAIK DAN HARUS MASUK RUANG ICU RUMAH SAKIT UMUM.

AMIN             : “Lalu! Lalu! Kenapa pula dirimu? Aku harus kembali tidur, ketika nanti langit sudah mulai cerah, aku akan bergegas mengunjungi Lalu!”
(Karena terlalu gelisah, Amin sama sekali tidak bisa kembali tidur dan hanya mematung tanpa tahu harus melakukan sesuatu. Hanya menunggu langit segera cerah agar ia bisa segera pergi membesuk Lalu)
“Ah! Mata ini sama sekali tidak mau terpejam! Sial! Aku tidak bisa berangkat sekarang! Aku harus mengabari Depan dan Saat,”
(Suara telepon berdering...tidak ada jawaban dari kawannya Saat)
(Suara telepon berdering...terangkat)
“Pan! Sepertinya hari ini aku harus absen, Lalu masuk ICU! Aku harus ke sana!”
DEPAN          : “Innalilahi, Iya Min. Nanti aku sampaikan. Kamu ada di mana sekarang Min?”
AMIN             : “Masih di pemondokan, menunggu pagi,”
DEPAN          : “Semoga segera membaik, Min. Titip salam untuk Lalu,”
(Suara telepon putus...Amin menunggu hari agar segera pagi. Ia akan naik angkutan umum pertama yang beroperasi pagi itu.)

BABAK 5
LAMPU SOROT KEMBALI MENERANGI PANGGUNG DENGAN DUA ORANG YANG SALING BERTENGKAR. NARATOR KEMBALI MEMBACAKAN NARASI BABAK KE 5.
Niat hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Belum lagi berpamitan dengan amin, lalu telah meninggalkannya menghadap sang kuasa. Satu-satunya rumah yang ia tuju akhirnya pergi meninggalkannya.
AMIN             : “Lalu! Lalu, sampai hati kamu meninggalkanku! Lalu! Kemana lagi tempat istirahat yang bisa kutuju?! Belum lagi aku membuatmu bangga Lalu!”
DEPAN          : “Sabar Amin! Ikhlaskan Lalu, ia sudah memanen kehidupannya di hadapan Tuhan. Jika kamu terus bersedih seperti ini, justru kamu akan menyulitkan dirinya,”
AMIN             : “Tahu apa kamu, ha?! Kamu mana tahu rasanya ditinggal orang tuamu sendiri? Satu-satunya rumah yang bisa kamu tuju untuk pulang, satu-satunya orang yang paling mengerti dirimu sudah hilang. Tahu apa kamu, Pan?!”
DEPAN          : “Setidaknya aku masih di sini berusaha menemani. Kenapa justru kamu tidak berterima kasih? Pantas saja Saat muak dengan sikapmu yang angkuh dan egois seperti itu! Sudah! Aku muak masih berada di sini. Obati saja lukamu sendiri!” (Pergi meninggalkan Amin yang masih tersedu sedan sambil memegang foto Lalu).

Menyesal karena sikapnya yang justru membuat teman terakhirnya pergi, amin pun berusaha mengejar depan namun tidak kesampaian.  

SISENYUM   : “Harusnya kamu tidak bersikap seperti itu pada Depan. Dia temanmu satu-satunya, sekarang kamu justru tidak memiliki seseorang sama sekali di sampingmu,” sesal Sisenyum.
SIMARAH     : “Bodoh! Jangan sok tegar kamu! Lihat, Lalu sudah tidak ada. Kamu sudah tidak punya teman lagi, mau apa kamu sekarang?”
SICEMAS      : “Ingat, kehidupanmu masih berlanjut! Lihat tugas-tugasmu semakin menumpuk dan kamu sekarang justru tidak memiliki pendukung saat sedih,” imbuh Sicemas.
SILEGA         : “Haduh, sekarang apa? Masa mau terus bersedih begini?”
SIMARAH     : “Menyedihkan, sudah akhiri saja semua sekalian!”
SISENYUM   : “Jangan, masih banyak hal yang belum diselesaikan. Kamu mau menyesal?”
SICEMAS      : “Lalu akan bersedih, kalau kamu menyusulnya bahkan bukan waktunya,” cegah Sicemas.

            MUSIK BERTABUH KENCANG DAN SEMAKIN MEMBUAT SUASANA TEGANG. AMIN BERSIAP MENGIKAT LEHERNYA DENGAN TALI.

SIMARAH     : “Buat apalagi ditahan? Toh dia juga sudah tidak punya teman. Lihat Depan, dia teman satu-satunya, justru malah menghilang.” (Tegasnya sambil berkacak pinggang).
AMIN             : “Benar, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi sekarang.” (Sesalnya sambil menyiapkan tali).
SISENYUM   : “Jangan Amin. Di luar sana bahkan ada yang lebih tidak beruntung dari dirimu. Jangan gegabah mengambil tindakan!”
SILEGA         : “Benar Amin. Pikirkan lagi. Pikirkan Lalu, dia pasti sedih melihatmu begini,” bujuk Silega.
AMIN             : “Diam kalian! Tahu apa kalian? Kalian hanya merecoki pikiranku saja. Lebih baik aku sudahi saja. Manusia-manusia ini menyebalkan!”
SICEMAS      : “Bagaimana nanti kamu masuk kuliah? Suasananya pasti akan berbeda. Teman-temanmu sudah tidak lagi sama. Apa yang akan kamu lakukan? Mereka pasti tidak akan membantumu,”
SIMARAH     : “Banyak cincong! Sudah eratkan saja talinya. Kamu sudah sampai titik lelahmu. Mereka tidak pernah tahu perasaanmu. Percuma mencoba mengerti mereka, mereka saja tidak mengerti perasaanmu. Lihat Depan, sejak awal dia memang tidak pernah mau mengerti dirimu, Min. Dia sama saja dengan Saat,” tegas Simarah.
SISENYUM   : “Jangan Min! Di luar sana pasti ada yang mau memahami perasaanmu. Tidak apa-apa lelah, istirahat sebentar. Kalau Lalu pergi, kamu akan menemukan rumah lain. Kamu juga akan menemukan teman lain seperti Depan,” bujuk Sisenyum.
AMIN             : “Kalau dia memang teman yang baik, dia tidak akan meninggalkanku saat ini,” sesal Amin.
SILEGA         : “Coba kamu pikir ulang, siapa yang membuatnya pergi? Kamu kan? Dia selama ini sudah menemanimu, justru kamu tadi membentaknya dan membuatnya pergi,” ujar Silega.
SICEMAS      : “Benar, kamu harus mengejar Depan. Tidak sebaiknya kamu membentaknya tadi. Kalau kalian berbaikan, kamu tidak akan sendirian lagi,”
SIMARAH     : “Kalau memang dia benar-benar teman yang baik, dia akan berada di sampingmu saat ini,” sangkal Simarah.

            Di tengah suasana hatinya yang gelap, beruntung kawannya Depan kembali untuk menolong Amin.

DEPAN          : “Amin. Jangan Amin!” (sambil menarik tangan Amin)
SISENYUM   : “Depan!”
AMIN             : “Depan! Kenapa kamu kembali?”
DEPAN          : “Maafkan aku Min, harusnya aku tidak marah-marah padamu tadi. Seharusnya aku bisa menjadi penopangmu saat membutuhkan teman,” (Sesal Depan sambil megang pundak Amin).
AMIN             : “Aku minta maaf Pan. Aku minta maaf. Seharusnya aku tidak membentakmu saat kamu berusaha menghiburku. Aku minta maaf Pan,” Isak Amin sambil memegang tangan Depan.
DEPAN          : “Gak popo, gak popo. Setiap orang memiliki kesalahan. Saling memaafkan jalan tengahnya. Ayok bangkit Min.” 
AMIN             : “Aku nggak tahu harus bagaimana, Pan.”
DEPAN          : “Aku bantu Min. Berubah, Min. Berubah!”
AMIN             : “Gimana Pan? Saat sudah tidak mau berteman denganku lagi. Aku sama sekali tidak punya teman,”
DEPAN          : “Kamu tidak sendiri Min. Aku di sini. Kamu bisa cerita semua padaku,” (bujuk Depan).
AMIN             : “Temanku satu-satunya kamu, Pan. Mereka yang datang hanya memanfaatkanku, Pan. Aku harus bagaimana?”
DEPAN          : “Jangan lupa, kamu bisa menolak mereka. Kamu bisa berkata tidak, keberatan dengan permintaan mereka. Jangan suka memforsir dirimu berlebihan, Min. Lalu akan sangat sedih kalau dia tahu, selama ini kamu hidup dengan cara seperti ini!”
AMIN             : “Apa yang harus aku lakukan ketika Lalu saja sudah tidak di sini, Pan?”
DEPAN          : “Merelakan! Dia sudah bahagia di sana. Tugasmu saiki mung buktino, kalau kelak kamu bisa membanggakan Lalu, meskipun dia sudah tidak ada. Ayo Min, berubah. Pelan-pelan asal kamu bisa menjadi lebih baik.”
AMIN             : “Aku mau berubah, Pan. Aku mau berubah,” kukuh Amin pada dirinya sendiri.
DEPAN          : “Aku bantu Min,” teguh Depan.

LAMPU SOROT MATI DAN DIIRINGI DENGAN TABUH MUSIK PENUTUP



TENTANG PENULIS

Fitriyanti Bunga Rindang Utami Wiyono, akrab disapa dengan nama Bunga. Ia adalah mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Negeri Malang sejak tahun 2017. Kesibukannya adalah sebagai mahasiswa yang semangat menulis. Gadis kelahiran 26 Januari 1999 ini mengaku menyukai membaca sejak usia enam tahun. Di sekolah menengah pertamanya untuk pertama kalinya ia mulai membacai karya-karya tahun 60-an yang membuat dirinya semakin menyukai sastra. Menurut Bunga Tulisan yang Baik adalah Tulisan yang Selesai dan itu yang memotivasinya untuk selalu menyelesaikan tulisannya.   




Comments

Popular posts from this blog

NASKAH DRAMA ANAK YANG DURHAKA

ULANG TAHUN

Drama ANAK-ANAK TK