NASKAH DRAMA JEJAK RITUAL


Jejak Ritual
Oleh : Alvian Guntur
Tokoh : Rega : Pemberani, Sopan
             Guntur : Pemberani, Saru
             Elsa : Pemberani, Kagetan
             Lisa : Penakut, Manja
             Security : Baik, Pemberani
Sinopsis :
            Terdapat mahasiswa Universitas cyber yang penasaran terhadap apartmen kosong yang sudah lama tidak berpenghuni bernomor 1013 dan konon katanya dahulu tempat tersebut menjadi tempat ritual pemuja setan. Mereka berempat akhirnya memutuskan untuk memasuki apartmen dan menguak misteri Jejak Ritual dan petualangan merekapun dimulai.













Naskah Dialog
Adegan 1
            Waktu menunjukan pukul 16.00 mereka berkumpul di tempat parkir kampus universitas cyber yang lokasinya berdekatan dengan apartmen De Luna.
Elsa : “Regaaaaa, Guntur dimana?”
Rega : “dia lagi lagi beli minum”
Lisa : “kita ngapain kumpul disini kenapa ga ntar malem aja sih?” tanya Lisa dengan rasa penasaran.
Elsa : “lu dari mana?”
Guntur : “beliin minum buat lu semua, nih” sambil menyodorkan 3 minuman bersoda ke mereka bertiga.
Lisa : “terus lu ngapain ngumpulin kita disini? Kenapa ga ntar malem aja di cafe biasanya nyet?”
Guntur : “gini, gua punya rencana ntar malem kita kesana” sambil menunjuk Gedung apartmen De Luna.
Rega : “setuju, gue juga udah lama penasaran ama tu gedung” sambil meringis tanda tanda Rega akan menikmati petualangannya nanti malem.
Lisa : “gila kali lu yah, ogah kalian bertiga aja yang kesana gue gamau ntar ada apa-apa siapa yang tanggung jawab? Gua belum nikah coy”
Rega : “lu el, gimana mau ikut?”
Elsa : “gue mau ikut kalo nanti ada yang mau tanggung jawab kalo gue kenapa-kenapa” berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Guntur : “oke, gue mau tanggung jawab kalo kalian kenapa-kenapa”
Lisa : “gue mau, tapi awas kalo lu ga nepatin janji lu nyet, gue comblangin lu sama bi minah” (bi minah itu pembantu gue yang suka sama guntur)
Elsa : “hahaha gue setuju banget kalo itu nanti gue bantuin”
Guntur : “dih” memasang muka kesal karena diledekin
Adegan 2
            Pukul 19.00 mereka sudah berada di dalam apartmen dengan membawa senter masing-masing karena di dalam tidak semua lampunya bisa nyala hanya beberapa tapi masih bisa kelihatan jalannya. Tetapi ternyata apartmen de luna kalau malam dijaga oleh security. Mereka berniat untuk meminta izin masuk apartmen.
Guntur : “selamat malem pak”
Security : “malem, kalian mau ngapain kesini malem-malem”
Guntur : “iya ini pak kita mau minta izin masuk ke dalam boleh tidak pak?”
Security : “ada urusan apa kalian mau ke dalem? Kalau tidak ada kepentingan silahkan pergi dari sini!”
Rega : “kita ke dalem sebentar saja kok pak tidak lama-lama”
Security : “iyaa tetapi kepentingan kalian itu apa? Apalagi kalian bawa anak perempuan”
Elsa : “kita hanya ingin mengeksplor apartmren ini pak” Elsa hanya mencari-cari alasan logis supaya diizini masuk ke dalam
Guntur : “boleh yah pak hanya sebentar aja”
Security : “kalian bisa mengerti omongan saya ga sih, mending kalian pergi dari sini!! Kalian masih kuliah kan daripada keluyura ga jelas mending kalian nugas atau belajar”
Elsa : “yahh please pak bolehin kita masuk ya” bujuk elsa supaya dibolehin masuk apartmen
Lisa : “bener kata bapaknya mending kita nugas mata kuliah pak Leo ya ga? Ya ga?”
Security : “nah bener tuh kata temenmu, kalau kalian mau mengeksplor liat aja di blogspot sudah banyak yang menulis tentang apartmen de luna. Saya kasih tau ya, tempat ini itu angker dulunya terdapat keluarga yang melakukan semacam ritual untuk kebahagian hidupnya tetapi kebahagian tersebut tidak bertahan lama dan berakhir tragis karena jin yang biasanya membantu mereka meminta tumbal anaknya. Dan kalian tau selanjutnya bagaimana? Selanjutkan kalian pulang aja”
Rega : “yah pak kok setengah-setengah sih”
Elsa : “iya pak lanjutin dong jangan bikin penasaran”
            Mereka berempat semakin penasaran dengan apa yang diceritakan oleh seceruty tersebut. Karena cerita itu tidak mereka dapat di dalam blogspot. Yang tau mengenai cerita itu hanya orang-orang yang dulunya tinggal di apartmen tersebut dan security ini telah bekerja di apartmen de luna semenjak awal mula berdiri hingga sekarang.
Security : “sampai mana tadi?”
Lisa : “sampai anaknya diminta jadi tumbal pak”
Security : “oke, atetapi keluarga tersebut tidak mau anaknya jadi tumbal. Akhirnya mereka memanggil paranormal untuk membantu mereka. Paranormal tersebut bilang harus ada satu dari kalian yang harus dikorbankan sebagai ganti dari tumbalnya. Akhirnya ayah dari keluarga tersebut yang menjadi korban sebagai gantinya untuk memisahkan jin tersebut dari dunia manusia supaya tidak datang lagi. Dan sekarang kamar tersebut diberi garis polisi tidak ada orang yang boleh masuk”
Lisa : “ihh ngeriii banget”
Secuity : “yaudah sekarang kalian pulang, saya capek cerita ke kalian”
Guntur : “yaelah pak ga boleh masuk ini?”
Security : “ga boleh!!!!!!!” dengan nada suara yang tinggi karena mereka memaksa untuk tetap masuk ke dalam.
            Setelah mereka dimarahi oleh security mereka berempat pergi dari sana dan berencana masuk melalui pintu belakang yang hanya tertutupi oleh ilalang yang panjang.
Guntur : “yaudah kita masuk lewat belakang”
Rega : “setuju”
Elsa : “yaudah ayok”
Lisa : “yakin nih kalian mau ngelanjutin?” tanya Lisa yang masih takut tetapi tidak ada yang menghiraukan Lisa.
            Setelah sampai di dalam lingkungan apartmen de luna melalui pintu belakang mereka berempat langsung masuk ke dalam gedung. Mencari nomor 1013 ke tempat yang mereka akan tuju.
Rega : “gue live ig bagus kali yah?”
Lisa : “gila ga usah aneh-aneh lu nyet”
            Mereka semakin ketakutan saat sampai dilantai seribu apalagi lisa yang memang penakut.
Elsa : “Lis jangan kenceng-kenceng pegangnya sakit tau”
Lisa : “gue takut” wajahnya sampe pucat dan keringat digin.
Rega : “Tur lu dimana?, udah ngilang aja ni anak”
Lisa : “Guntuurrrrrrrrrrrr”
Elsa : “Tur lu dimana? Sumpah ga lucu ini jangan macem-macem deh udah tau tempatnya gini”
            Ga ada jawaban dari Guntur Tiba-tiba hening
Guntur : “huauuaaaaaaaa, hahahaha” ngerasa bahagia karena berhasil nakutin temen-temennya.
Elsa, Lisa, Rega : “hhhaaaaaaaaa” sambil menutupi wajahnya
Lisa : “bangsat, ga lucu nyet kalo gini mending gue balik aja deh”
Elsa : “Tur gausah main-ain di tempat gini ntar kalo ada apa-apanya gimana?”
Guntur : “tenang ada gue ga bakal terjadi apa-apa, selooowwww guntur nih bukan kaleng-kaleng kau pikir kaleng-kaleng”
Rega : “buruan masuk dah keburu pagi”       
            “duuarrrrrr” suara gebrakan pintu yang sangat keras membuat mereka kaget
Lisa, Elsa Guntur, Rega : “haaaaaaa”
Lisa : “kita balik aja yah”
Elsa : “kayaknya kita ga disambut dengan baik deh”
Rega : “ Tur gimana, ini dilanjutin?”
Guntur : “iya dilanjutinlah, ah payah lu di gebrak aja udah geter-geter”
Elsa : “mangkannya lu jangan aneh-aneh deh tur”
Guntur : “iyaa-iyaa”
            Kemudian mereka nyamperin dari asal suara tersebut
Rega : “suaranya dari sini” sambil nunjuk pintu
Lisa : “ini kan kamar yang kita cari”
Guntur : “1013” sambil mencoba membuka pintu
Elsa : “bisa ga tur?”
Guntur : “susah mungkin karna berkarat kali”
            Tiba-tiba lampu dilantai seribu mati
Elsa : “sa jangan kenceng-kenceng megangnya” bentak Elsa
Lisa : “gue takut El”
Rega : “eh ini siapa yang megang pundak gue?”
Lisa : “bukan gue Ga, gue pegang Elsa”
Rega : “siapa sih ini” sambil memegang pundah tapi saat pundaknya dipegang tidak ada siapa-siapa tangan yang tadi memegang pundaknya hilang.
Adegan 3
            Ketika di dalam kamar 1013 semua barang ditutupi dengan kertas koran dan dibatasi dengan garis polisi supaya tidak ada yang memasuki area terebut. Namun mereka malah memasuki dan mencari-cari alat atau benda yang dulunya digunakan untuk ritual.
Elsa : “Ga itu apaan?” sambil menunjuk sebuah benda yang mirip dengan manusia tetapi tertutup dengan tempelan-tempelan kertas koran.
Rega : “hmmm” sambil membuka tempelan-tempelan kertas koran.
Lisa, Elsa : “hhaaaaaaaaaaa” mereka berdua terkejut dikira patung itu adalah setan tetapi hanya patung tengkorak
“dduuuuaarrrrrrrrrrrrrr” tiba-tiba pintu kamar 1013 tertutup dengan keras dan mengagetkan Lisa dan Elsa
Lisa, Elsa : “hhhaaaaaaaaa” mereka teriak dengan keras
Guntur : “hei, kalian bisa diem ga? Kalo mau paduan suara jangan disini babi” dengan memasang muka kesal karena mereka dari tadi berisik.
Elsa : “guys” sambil membawa keris yang terdapat di dalam lemari
Guntur : “dapet darimana?”
Rega : “balikin biasanya kalo barang-barang jaman dulu dipegang sama orang yang bukan pemiliknya penunggunya bisa keluar, lu mau diterror?”
Elsa : “okee”
Elsa : “Lis lu ngapain sih dari tadi mondar mandir kayak setrikaan bi minah tau ga”
Lisa : “gue nyari colokan lampu kali aja bisa gue takut gelap-gelapan gini”
Guntur : “Sa di belakang lu”
Lisa : “apaaaaaaaaa?” dengan raut muka yang panik takut dan ingin mengeluarkan air mata.
Elsa, Rega : “hahahaha” menertawakan ekspresi Lisa.
Guntur : “ga ada apa-apa”
Lisa : “bangsaattt, mentang-mentang gue penakut, lu takut-takutin mulu” sambil berjalan menuju guntur dan melayangkan satu pukulan ke lengannya.
Guntur : “hahaha sorry-sorry”
            Mereka tidak menemukan tempat ritualnya yang dulu digunakan untuk penumbalan sampai akhirnya Guntur melihat apa yang ada di bawah tempat tidur.
Guntur : “Ga bantuin gue ngangkat ini” sudah bergaya nungguing dan bersiap-siap mengangkat kasur.
Rega : “dipindahin kemana?”
Elsa : “situ aja kosong” sambil menunjuk tempat paling pojok karena tidak ada barang disana.
            Ternyata di bawah tempat tidur ada kertas koran dan mereka belum tau kertas koran itu menutupi apa.
Lisa : “gue gamau buka” dengan wajah menolak
Elsa : “siapa juga yang nyuruh lu buka”
Guntur : “gue aja” sambil menyingkirkan tumpukan koran.
            Dan saat Guntur menarik koran tersebut terdapat simbol berbentuk lingkaran yang ditengahnya berbentuk iluminati dan tiba-tiba lampu kamar tidur mati, kasur goyang sendirinya seperti ada yang loncat ditempat tidur. Lampu yang diatas kamar tiba-tiba pecah dan pada saat bersamaan senter mereka bertiga padam hanya tersisa senter dari guntur yang masih menyala. Ketika cahaya senter guntur menerangi tempat tidur mereka berempat melihat sesosok orang dewasa yang lagi berbaring dengan muka yang tertutup oleh karung dan mengeluarkan cairan hitam dan keris dari mulutnya. Guntur membuka portal yang telah ditutup bertahun-tahun oleh paranormal antara dunia jin tersebut dengan manusia dan sekarang dia membuka kembali.
Guntur : “eh eh kalian lihat ga itu?” dengan muka panik dan tegang
Rega : “iyaa iya”
Elsa, Lisa : “aaahhhhhhh” mereka bersamaan teriak karena kaget dan ketakutan
Lisa : “aaaahhhhhh tolongggg” tiba-tiba lisa ditarik ke bawah tempat tidur.
Elsa : “Lisa pegang tanganku cepet” dengan suara panik
Lisa : “toloonggggggg”
Elsa : “Rega bantuin pegangin gue!!”
Guntur : “kkkhhhhhkk tolongggin gue” dengan suara tersendat sendat seperti dicekik
            Saat Rega melihat kearah Guntur ternyata dia di atas menempel tembok.
Guntur : “tolongin gue, gue ga bisa nafas” mukanya terlihat pucat
Rega : “gue tarik kaki lu”
            Dan akhirnya Rega berhasil menyalamatkan Guntur sedangkan Lisa dia hilang. Elsa nangis sejadi-jadinya dan dia mulai frustasi. Guntur terdiam karena masih merasakan sakit di lehernya, mereka semua sampai berkeringat.
Elsa : “Guntur seharusnya gue ga ngikutin lu untuk dateng kesini dan akhirnya gini kan sekarang gimana Lisa ilang dan lo bilang mau tanggung jawab. Sekarang gimana?” sambil menangis
Elsa : “Tur jawabbbb!!!
Rega : “Sa lu tenang dulu” mencoba menenangkan Elsa yang sudah mulai frustasi
Elsa : “tenang gimana Lisa hilang gaa!! Lu tau kan”
Rega : “iya iyaa gue tau tapi kalo kita ga tenang malah semakin runyam”
Guntur : “oke oke yok kita cari Lisa”
Rega : “tapi cari kemana?”
Guntur : “kita keluar aja dulu dari kamar ini”
            “braakkkkk,brakkkkkkk” tiba-tiba lemarinya goyang sendiri
Guntur, Rega, Elsa : “ahhhhh” mereka sama-sama kaget
Guntur : “ga coba lu cek deh”
Rega : “hmm jangan gue deh” Rega yang awalnya tadi berani sekarang mulai takut
Elsa : “cepet buka Ga!”
Guntur : “aahh payah, biar gue aja yang buka”
Rega : “hati-hati tur”
Guntur : “ga bisa dibuka” dengan raut penuh usaha untuk membuka tapi tetap tidak bisa
Elsa : “yaudah bareng-bareng”
Rega : “ayo dalam hitungan tiga tarik sama-sama”
Rega : “ satu, dua , tigaaa. Aaahhhh” dengan susah payah tetap lemari tersebut tidak bisa dibuka
Elsa : “hah percuma kita narik juga ga bakal bisa kebuka” pasrah dengan keadaan
Guntur : “Lisa lisa, kalian dengar suara lisa? Di teriak-teriak minta tolong”
Elsa : “lisa lisaaaa lu dimana?”
            Bruaaakkkkkk suara pintu terdengar seperti ada yang mendobrak tapi entah itu siapa karena yang disini hanya kita berempat dan kasur juga kebali beroyang-goyang diiringi suara jaritan seorang cowok yang kesakitan.
Elsa : “aahhh kita keluar aja yok” bujuk elsa karena dia tampak ketakutan
Guntur : “woi tunjukin diri lo kalo berani, sini adepin gue” tantang Guntur dengan nada marah karena dia sudah tampak geram
            Lampu tidur tiba-tiba nyala terlihat bayangan yang sangat besar dan lampu itu kembali padam.
Rega : “pintunya ga bisa dibuka” berusaha membuka pintu untuk ke luar dari dalam kamar 1013
Guntur : “kita dobrak”
Brakkkkk, brakkkkk akhirnya usaha mereka membuahkan hasil. Dan saat berada di koridor apartmen setiap kamar seperti ada yang mendobrak pintu di tambah lagi kita tidak punya sekali pencahayaan.
Elsa : “tolongggggg” kaki Elsa tiba-tiba ditarik dari belakang, dengan sigap rega memegang tangan Elsa
Guntur : “lu gapapa?” tanya Guntur yang mulai panik
Rega : “kita turun minta tolong sama security mungkin dia tau caranya nemuin Lisa secara dia kan yang jaga apartmen dari dulu sampe sekarang”
            Ternyata security tersebut sudah berada di atas karena ulah mereka yang berisik
Security : “kalian ngapain disini, saya kan sudah nyuruh pulang”
Elsa : “pak tolongin kita temenku hilang dibawa sama jin peminta tumbal”
Security : “saya kan sudah melarang tetapi kalian malah melanggar larangan saya!!!!”
Guntur : “bantuin kita pak tolonggg” memasang wajah memalas
Security : “ada satu cara untuk membuat temen kalian balik dan menyelesaikan ini semua”
Guntur : “apa pak?”
Security : “kalian lihat semacam keris di dalam kamar?”
Guntur : “maksud bapak keris ini?” sambil menunjukan benda tersebut
Elsa : “tur bukannya tadi gue suruh balikin benda itu di lemari”
Security : “kalian lihat kan seorang cowok yang mukanya ditutup dengan karung di atas kasur”
Rega : “iyaa pak kita udah dua kali lihat tapi gatau itu maksudnya apaan, soalnya hanya sekilas aja”
Security : “nanti pada saat dia muncul lagi keris yang kalian bawa masukin ke dalam mulut si cowok tersebut, itu cara agar menutup portal kembali”
Elsa : “tapi pak gimana dengan temen saya, salah satu temen saya masih sama dia”
Security : “saat semuanya selesai temen kalian akan kembali tapi ditempat yang berbeda kalian harus nyari”
Guntur : “bapak ikutkan ke dalam kamar?” tanya Guntur untuk memastikan agar di dalam ada yang menjaganya
Security : “tidak, saya menjaga di luar karena kalian tau sendiri kan setiap kamar disini sudah ada makhluk yang menunggunya, saya gamau masalah ini bertambah lagi dengan masuknya makhluk lain ke dalan sini”
Guntur : “yaudah pak kita masuk” berusaha menengkan diri
Elsa : “apa yang harus kita lakuin supaya dia muncul? Apa kita harus nunggu?”
Rega : “woi keluar lu kalo berani, balikin temen gue!!!!” tantang Rega
Brrraakkkk braakkkk dobrakan di dalam lemari kembali terdengar
Rega : “apaan sih ini ga jelas banget, keluar kalo berani”
Elsa : “tur bayangannya keluar, cepat”
            Guntur langsung menancapkan pisau dimulutnya, walaupun itu hanya bayangan tapi terlihat sepeti nyata. Air hitam terus keluar dari dalam mulutnya. Kasur yang tadinya putih menjadi hitam.
Guntur : “matii lu”
Rega : “kan dia udah mati tur”
Elsa : “ ga, udah tau gini masih aja sempetnya bercanda lu”
            Sampai akhirnya bayangan itu hilang dan kamar yang tadinya berantakan kini kembali seperti semula.
Elsa : “oh iya Lisaa, Lisa dimana?”
Rega : “kita tanyain securitynya aja”
Guntur : “pak kita sudah selesai denagn semua yang bapak perintahkan, tapi temen saya belum kembali” tanya dengan nada panik
Security : “saya kan sudah bilang temen kalian”
Lisa : “Elsa tolongin gue, keluarin gue dari sini”
Rega : “suaranya dari dalam” mereka bergegas mengecek di dalam kamar
Braaakkkk brakkkkkk suara di dalam lemari terdengan lagi
Guntur : “di dalam lemari, kita dobrak aja sama-sama”
Security : “dalam hitungan tiga kita tarik sama-sama, satu dua tiga”
Lisa : “Elsa gue takut” sambil memeluk Elsa
Elsa : “lu gapapa kan?”
Lisa : “gapapa kok”
Elsa : “yaudah lu tenang aja, masalahnya udah selesai” mencoba menenangkan Lisa yang dari tadi ketakutan.
Security : “kalian pulang sekarang!!!”
Guntur : “iyaa pak, makasih sudah membantu nemuin temen kami”
            Akhirnya mereka pulang dengan baju yang kotor semua karena cairan hitam dan Lisa kembali dengan mereka.












Biografi Penulis
            Alvian Guntur Prasetya Aziz lahir di Pasuruan, 5 april 1999. Dia pernah menumpuh pendidikan sekolah dasar di SDN Petahunan II Pasuruan, dan melanjutkan studinya di SMPIT Aluswah Bangil. Setelah menyelesaikan pendidikan SMP dia melanjutkan ke Aliyah Pasuruan. Sekarang menempuh Pendidikan sebagai mahasiswa di Universitas Negeri Malang Fakultas Sastra.





























Comments

Popular posts from this blog

NASKAH DRAMA ANAK YANG DURHAKA

ULANG TAHUN

Drama ANAK-ANAK TK