NASKAH DRAMA KADO DI HARI ULANG TAHUN









KADO DI HARI ULANG TAHUN
FIRDAUS ACHMAD GHANDI

















SINOPSIS
            Intan adalah seorang gadis SMA yang sering membawa bekal roti selai. Alan dan Intan adalah teman satu kelas. Mereka berdua sering belajar bersama untuk persiapan ujian, meskipun begitu Alan masih saja mencontek saat ujian saat dia sudah tidak bisa menjawab soal ujian. Hasan dan Vina juga teman sekelas mereka berdua. Yanto anak yang terkenal rajin tidak terlalu suka dengan penampilan Alan yang dianggapnya terlalu berantakan. Suatu ketika sedang diadakan ujian di sekolah. Karena guru meninggalkan ruang kelas sementara waktu, kondisi kelas ribut untuk mencontek satu sama lain tak terkecuali Alan yang juga tidak memahami mata pelajaran matematika. Terjadilah percakapan dari kelima orang tersebut. Guru yang mengetahui Alan mencontek saat ujian berlangsung, menghukumnya dengan tidak menerima hasil ujiannya saat itu dan mengulanginya kembali di ruang guru. Selain itu juga Alan dihukum dengan dijemur di lapangan saat jam istirahat. Intan yang sejak dulu menyukai Alan mendatanginya saat dijemur di lapangan dan memberikannya bekal roti selainya kepada Alan. Setelah Alan dijemur dan mengerjakan ujian ulang di ruang guru. Sepulang sekolah Intan menunggu Alan di gerbang sekolah dan memberikan kado di hari ulang tahun Alan. Akan tetapi Alan membuang kado tersebut.



TOKOH PEMERAN DALAM DRAMA
Alan, siswa SMA usia 17 tahun teman Intan sejak kecil dengan tinggi standar yang biasanya berpakaian agak berantakan, sifatnya kasar, dan gegabah. Alan bersekolah di sekolah dan kelas yang sama dengan Intan.
Intan, seorang siswi SMA dengan perawakan cantik dan lembut berusia 17 tahun, murah senyum, ceria, penampilan selalu rapi, dan selalu membawa tempat makan serta botol minum saat ke sekolah.
Hasan, seorang siswa SMA berkacamata menjadi teman sekelas Alan, karakter dari Hasan ini adalah pandai, tetapi pendiam.
Vina, seorang siswi SMA berperawakan manis, akan tetapi suka menyalahkan. Biasanya selalu bersama Hasan setiap kali di sekolahan.
Yanto, Seorang siswa anak dari pemilik perusahaan sukses dan kaya berperawakan tinggi yang selalu berpenampilan rapi dan keren, sifatnya dingin, cuek, dan acuh.
Pak Arya, laki-laki berusia 40 tahun dengan tinggi standar dan tegap, badan sedikit berisi, dan berpakaian rapi. Karakternya tegas, teliti, dan disiplin.




CAHAYA HANGAT MENTARI MENYELINAP MELEWATI CELAH JENDELA SEBUAH RUANG KELAS. SEORANG GADIS BERJALAN MENUJU KE RUANG KELAS. SEORANG GADIS BERTAS RANSEL BERJALAN MENUJU KE RUANG KELAS. SEORANG GADIS BERJALAN DENGAN SENYUM SENDIRI. TANGANNYA MEMBAWA SEBUAH KOTAK BEKAL DAN TEMPAT MINUM YANG WARNANYA SENADA DENGAN RANSEL.

 (Di Kelas)
Alan : Pagii Intan!
            GADIS ITU LANTAS MENENGOK DAN MENGHENTIKAN LANGKAHNYA. SEORANG LAKI-LAKI DENGAN SENYUM DATANG MENGHAMPIRINYA
Intan : Ayo, buruan masuk kelas lan! 
Alan : Ayok! (Alan mengangguk) Ehh... Tunggu dulu. (menutup matanya mengikuti asal bau sedap yang melewati hidungnya) Hhmm... Aku      mencium bau  enak apa ini ntan? (Tangannya memegang kotak bekal            yang dibawa)
Intan : Eiittss... bilang saja kamu mau memakan isi kotak makan ini. Jangan dimakan dulu. Ini isinya roti selai kusiapkan untuk cemilan saat belajar kelompok nanti. (Mendorong tangan Alan dari kotak makannya). Besok giliranmu yang membawa cemilan, ya!
Alan : Loh, aku? Tidak ah, aku tidak akan membawa cemilan apapun buat besok hahaha.
Intan : “Tidak bisa, besok adalah giliranmu. Jadi, kau harus membawa cemilan!”
Alan : “Tidak, tidak bisa begitu. Aku mau meminta makanan darimu saja.”
Intan : “Dasar laki-laki, gak modal! Bawalah cemilan besok! Lagi pula kamu juga jarang membawakan cemilan saat belajar kelompok (mulai kesal)”
Alan : “Tidak akan! (Intan mulai gemas dan mereka mulai berdebat)”
(Suara riuh Alan dan Intan  yang berdebat mulai terdengar. Intan mulai tidak memperdulikan.)
INTAN CAPEK DENGAN KELAKUAN ALAN, LALU DIA BERULANGKALI MENGHENTAK-HENTAKKAN KAKINYA DARI TEMPATNYA BERDIRI KARENA KESAL
Intan : “Ehhh.. Awas saja kamu tidak membawa cemilan, lan! (Memberikan isyarat kepada Alan untuk tetap ditempat dengan tangannya kemudian          menaruh kotak makanannya).”
Alan : “Bodo ah. Emang kenapa kalo aku tidak bawa cemilan besok?”
Intan : “Apa kamu bilang? Besok kamu tidak usah ikut belajar kelompok bareng kita. (sambil duduk ke tempat duduknya dan merengut melihat ke arah       Alan).”

SISWA LAIN SALING BERSAHUTAN RAMAI KARENA GURU YANG BELUM DATANG KE RUANG KELAS. YANTO YANG DUDUK MULAI TERUSIK DENGAN KEBISINGAN ANAK-ANAK YANG BERADA DI KELAS, DIA MENUTUP BUKU YANG SEDANG DIBACA KEBUDIAN MENGGEBRAK MEJA.
Yanto : “Woy! Berisik! Tidak bisakah kalian memelankan suara? (Berhenti bicara sejenak, semuanya diam.) Nah benar, seperti itu. (Berbalik kedepan dan membuka kembali buku yang tadi sudah ditutup kemudian menyilangkan kaki)”
Alan : “Dasar, mentang-mentang anak orang kaya, seenaknya saja bersikap! (Bersedekap dan dengan nada bicara menyinggung), kalau kamu ingin tempat yang tenang untuk membaca, lebih baik pergi saja dari sini! (Bekacak pinggang)”
Vina : “Sudah-sudah, daripada meladeni Yanto, lebih baik kita belajar agar bisa menjawab soal nantinya. Benar tidak?”
YANTO MELIHAT KEARAH INTAN. MATA INTAN MASIH TERTUJU KE ALAN, TAPI SENYUMNYA TELAH HILANG. SAMBIL DUDUK DI BANGKUNYA INTAN SEJENAK TERDIAM
5 menit kemudian guru datang memasuki ruangan.
Pak Arya : “Selamat pagi! Sekarang akan diadakan ujian dan diberi soal pilihan ganda dan urai. Diharapkan seluruh mahasiswa tidak mencontek dalam mengerjakan. (membagi lembaran soal dan jawaban)”
INTAN DAN ALAN DUDUK BERSEBELAHAN, VINA DAN HASAN DUDUK TEPAT DI DEPAN MEREKA, SEDANGKAN ANTON DUDUK DI DI BELAKANG ALAN. MATA PELARAN YANG DIUJIKAN MATEMATIKA. SEMUA TERLIHAT BINGUNG MENJAWAB SOALNYA TAK TERKECUALI ALAN
Alan : “Hei Intan, aku minta jawaban nomor 3 dan 5!”
Intan : “Baru soal awal sudah mencontek.”
Alan : “ Vina, kamu sudah selesai?”
Vina : “Soalnya sulit sekali, masih banyak yang  belum aku kerjakan.”
Hasan : “Soalnya memang sulit sekali, kita harus kerja sama nih. Kalo sudah selesai fotokan jawaban kalian.”
Alan : “Halah kamu biasanya sudah selesai duluan. Aku minta jawaban nomor 3 dan 5”
Hasan : “A dan B.”
Alan : “Oke-oke aku lihat dulu lagi pertanyaannya.”
Vina : “Kalau soal nomor 2, 4, dan 6 jawabannya apa San?”
Hasan : “2 B, 4 A, nomor 6 aku belum.”
Vina : “San emang kamu sudah selesai semua?”
Hasan : “Belum, tinggal 4 soal lagi.”
            MEREKA SALING MENCONTEK DAN GURU SEDANG KELUAR DARI KELAS. TIDAK DENGAN YANTO, IA TERLIHAT SANTAI SANTAI MENGERJAKAN SOAL SENDIRI TANPA MENCONTEK
Intan : ”Yanto, aku minta jawaban nomor 7 dong!”
Yanto : “Tidak bisa Ntan.”
Intan : “Lah kenapa? Emang kamu belum? Pelit sekali kamu sama jawaban, kerja sama dikitlah.”
Vina : “Iya To, kita minta kerja samanya dong,.”
Alan : “Iya kamu kan anak paling pintar disini, bantu sedikit lah teman kamu ini.”
Yanto : “Kerja sama disini sih lain cerita. Sudah jangan kencang-kencang entar gurunya dengar.”
Alan : “Mumpung guru masih keluar sebentar. Ayolah aku minta jawaban kamu nomor 8.”
Yanto : “Mencontek sama memberi contekan keduanya sama saja. Sama-sama hal buruk, daripada nanti ketahuan malah bahaya bisa-bisa gak diterima nih ujiannya.
Alan : “Tapi untuk kali ini aja Bud, ujian matematika ini sulit sekali.”
Vina : “Iya To bantu kami.”
Hasan : “Sudah seperti biasanya, mana ada Yanto mau memberi contekannya.”
Intan : “Emang kenapa To? Hanya 10 soal saja, aku juga tidak mencontek semuanya darimu.”
Yanto : “Aku tidak mau mencontek karena sama aja berdosa, begitu juga meberi contekan ke kalian.”
Alan : “Bantu sedikit lah To. Kamu ini pelit sekali.”
Yanto : “Tetep tidak bisa.”
Intan : “Yasudahlah, biarkan, urus saja dirimu To, aku juga udah males minta contekan ke kamu. Awas saja nanti kamu mencontek di mata pelajaran Sejarah.”
            MERASA KESAL ALAN LALU MENGELUARKAN BUKU DARI TASNYA SECARA DIAM-DIAM. KEMUDIAN MELIHAT RUMUS DAN JAWABAN DALAM CATATAN BUKUNYA. LALU VINA MENANYAKAN HASILNYA.
Vina : “Bagaimana Lan? Ada tidak jawabannya?”
Alan : “Ada, barusan aku lihat jawaban nomor 1, 7, dan 9. Ada jawabannya kalian dengar ya 1 C, 7 B, dan 9 A”
ALAN YANG MENGELUARKAN SUARA AGAK KERAS. TIBA-TIBA PAK ARYA MASUK DAN MENANYAKAN SIAPA SISWAYANG RIBUT SAAT UJIAN BERLANGSUNG. SONTAK PAK ARYA MENANYAKAN HAL TERSEBUT DENGAN RAUT MUKA YANG GERAM
Pak Arya: “Siapa yang berisik tadi? Kalian ini, mengerjakan ujian tidak jujur ya? Mengaku atau kalau tidak satu kelas ini tidak saya terima hasil ujiannya!!!”
            ANAK KELAS SALING MENATAP SATU SAMA LAIN. KECUALI YANTO YANG TETAP MEMPERHATIKAN SOAL UJIANNYA. SEAKAN TIDAK PEDULI DENGAN BENTAKAN PAK ARYA. MELIHAT KELAKUAN YANTO, PAK ARYA MENGHAMPIRINYA.
Pak Arya : “Lihat lembar jawaban kamu To!!!”
            YANTO MEMBERIKAN LEMBAR JAWABANNYA KE PAK ARYA. SAMBIL MELIHATI LEMBAR JAWABANNYA PAK ARYA MELIHAT SEKITAR BANGKU MILIK YANTO. TIBA-TOBA PAK ARYA MENANYAI KE YANTO SIAPA SISWA YANG MENCONTEK SAAT UJIAN BERLANGSUNG. YANTO YANG TIDAK MENCONTEK DENGAN ENTENG MENMBERI TAHU PAK ARYA
Pak Arya : “Siapa tadi yang berisik waktu ujian berlangsung To?!”
Yanto : (Nada suara biasa) “Alan, Pak.”
Pak Arya : “Kamu lagi Alan?” (sambil berjalan menghampiri Alan yang duduk di depan Yanto)
            SEMUA SISWA MENENGOK KE ARAH ALAN, TERMSUK INTAN YANG DUDUK DI SEBELAHNYA
Pak Arya : “Pelajaran-pelajaran sebelumnya kamu juga sering berisik di kelas. Sekarang ujian pun begitu. Kamu mencontek ya, mana lembar jawaban kamu?” (sambil mengambil lembar jawaban yang ditaruh di atas bangku)
            ALAN MEMBERIKAN LEMBAR JAWABANNYA SECARA TIDAK SENGAJA KERTAS CONTEKAN YANG DISELIPKAN DIBAWAH SOAL TERLIHAT OLEH PAK ARYA
Pak Arya : “Kamu nanti mengerjakan ulang ujian sendirian sepulang sekolah, tapi sebelumnya di jam istirahat nanti kamu Bapak jemur di lapangan.”
Alan : “Iya Pak” (sambil memalingkan pandangan)
Pak Arya : “Yang lain segera di selesaikan. 10 menit lagi waktu habis. Kamu Alan tidak usah mengumpulkan sekarang, yang lain sekali lagi ketahuan mencontek atau saling mencontek tidak ada pengulangan lagi.”
            SEMUA SISWA TERDIAM SAMBIL BERGEGAS MENYELESAIKAN SOAL YANG BELUM DISELESAIKAN. SEPULUH MENIT KEMUDIAN WAKTU UJIAN SELESAI. SEMUA SISWA MENGUMPULKAN HASIL UJIANNYA, KECUALI ALAN YANG MASIH DUDUK DIAM DI BANGKUNYA
Vina : “Ini gara-gara Yanto, si Alan jadi mengulang ujian matematika!!!”
Alan : “Sudahlah gak usah memperdulikan aku, yang penting masih bisa ngulang nanti sepulang sekolah.”
Hasan : “Emang kamu sanggup mengerjakan ujian sendirian di ruang guru?”
Alan : “Entahlah, yang pasti tidak bakal bisa mencontek lagi.”
Vina : “Coba aja mencontek disana. Siapa tau nilai keluar dapetnya bagus sendiri kamu (sambil tertawa sedikit).”
Alan : “Yaudahlah aku mau ke lapangan dulu. Bakal tambah susah nanti aku kalo gak nurutin kata-kata Pak Arya.”

 (Di Lapangan)
            JAM SIANG WAKTU ISTIRAHAT JAM PELARAN. SESUAI HUKUMAN YANG DIBERIKAN PAK ARYA. ALAN YANG SEDANG DIJEMUR DI TENGAH LAPANGAN. TIBA-TIBA DIDATANGI INTAN DENGAN MEMBAWA BEKAL YANG BERISI ROTI SELAI
Intan : “Aku tidak menyangka akan seperti ini.”
Alan : “Aku juga tidak menyangka bakal di jemur seperti ini.”
Intan : “Harusnya kita belajar yaa.”
Alan : Kenapa kamu kesini? Katanya mau belajar bareng Hasan sama Vina.”
Intan : “Saat-saat seperti ini masih aja keinget mereka yaa. Mereka bakal kesini kok.”
            Setelah itu Hasan dan Vina keluar dari kelas dan datang menghampiri Alan dan Intan yang berada di lapangan.
Alan : “Kenapa lagi kalian berdua kesini panas-panas?”
Vina : “Nggak kok, penasaran aja gimana rasa panasnya kalo dijemur di lapangan siang-siang gini. Apalagi kalo ditambah belum makan, pasti double keselnya yaaa.”
Hasan : “Kita cuma berterimakasih kepadamu aja. Kamu tadi kan sudah tidak memberi tahu ke Pak Arya kalo kita juga mencontek.”
Alan : “Haaalah, gitu aslinya aku kasian aja liat kalian ntar kalo dihukum juga, paling waktu dijemur gini banyak ngomelnya.”
Vina : “Aku harap ini jadi pelajaran bagi kamu Lan.”
Alan : “Mana ada dijemur dibuat pelajaran. Di jemur itu hukuman.”
Vina : “Alah susah ngomong sama kamu nih. Dibilangin malah gitu.”
Hasan : “Mana bisa dibilangi orang kayak Alan gini.”
Intan : “Sudah-sudah ini bekal yang tadi pagi aku bawa, rencana kita bakal makan bareng kan. Yaudah kita makan sama-sama disini aja.”
Alan : “Bekal yang tadi pagi aku mau lihat itu yaa?”
Intan : “Iya, ini sekarang kita makan bareng-bareng.”
Vina : “Emang Intan paling pengertian deh kalo masalah gini.”
Hasan : “Gak kayak kamu Vin, taunya masalah orang mulu diurusin”
            TIDAK BERSELANG LAMA YANTO MENGHAMPIRI ALAN YANG BERADA DI LAPANGAN
Yanto : “Beneran dijemur ternyata kamu.”
Alan : “Ngapain kamu datang kesini?”
Yanto : “Aku hanya memastikan kamu benar-benar dijemur di lapangan. Beruntung juga kamu masih boleh mengulang ujian padahal sudah ketahuan mencontek.”
Alan : “Aku tidak harus peduli dengan orang sepertimu.”
Yanto : “Sudah sewajarnyakan aku menjawab jujur apa pertanyaan dari Pak Arya.”
Alan : “Yaaah aku sudah tidak medulikannya, aku masih bisa mengikuti ujian ulang setelah ini. Lebih baik kau pergi saja darisini!”
Yanto : Kalian juga mengapa masih sempat-sempat datang kesini melihat anak tidak karuan seperti dia.” (sambil melihat kearah Intan, Vina, dan Hasan.)
Vina : “Terserah kita dong mau ngapain aja, kenapa kamu ikut campur sih.”
Yanto : “Daripada kalian panas-panas datang kesini lebih baik menghabiskan waktu istirahat dengan kegiatan lain.”
Intan : “Jaga mulut kamu To, kamu tidak seharusnya bilang seperti itu.”
Yanto : “Yasudah terserah kalian. Aku sudah kepanasan disini, lebih baik aku ke balik ke kantin saja, haha.”
Intan : “Sana pergi saja darisini.”
Alan : “aku mau pergi ke ruang guru dulu.”
Hasan: “Loh sudah selesai kah ini, semoga kamu bisa mengerjakan ujiannya disana Lan.”
Vina : “Jangan pake nyontek disana, kerjain sebisanya.”
Intan : “Semangat ya Alan.”
            Alan yang melihat dukungan Intan kepadanya merasa menyimpan banyak pertanyaan kepadanya. Intan yang tadi pagi kesal terhadapnya kini datang melihat kondisinya ke lapangan dan membelanya dari perilakuan tidak enak Yanto. Setelah selesai dijemur Alan kemudian datang ke ruang guru dan mengerjakan ujian ulang disana. Setelah selesai mengerjakan ujian ulang Alan bersiap-siap pulang dari sekolah.
Alan : “Akhirnya pulang juga, untung tidak terlalu sore.” (berbicara sendiri)
Intan : “Alan!”
Alan : “Intan, kenapa kamu masih disini?”
Intan : “Tidak apa-apa aku barusan baru balik dari perpustakaan.”
Alan : “Owh yaudah aku mau pulang dulu.”
Intan : “Tunggu Lan.”
Alan : “Kenapa lagi mau bareng? Gausah aku mau mampir ke rumah temenku.”
Intan : “Bukan begitu. Kamu kelihatannya seperti merasa jemu sekali.”
Alan : “Kelihatannya saja. Kalaupun jemu mungkin itu sebab melihatmu.”
Intan : “Apa maksudmu berkata begitu? Aku hanya ingin memberikanmu sesuatu.”
Alan : “Tidak ada. Aku seharian ini sudah jemu melihatmu pulanglah dan sampai ketemu besok.. Sesuatu apalagi, kenapa kamu tiba-tiba memberiku sesuatu.”
Intan : “Begitu? Kalau begitu tidak apa-apa. Hari ini aku hanya sedikit memperhatikanmu. Aku ingin memberimu sesuatu agar kamu mengerti”
Alan : “Ah nanti saja aku masih capek.”
Intan : “Sekarang saja, aku pengen sekarang.”
Alan : “Aduh, Ntan, nanti saja lain kali.”
Intan : “Mumpung kita lagi ketemu Lan.”
Alan : “Iya iya iya. Yaudah mana itu aku buka sekarang.” (sambil mengambil yang ada di tangan Intan lalu membuangnya)
Intan : “Eeh Lan kok? Kenapa kamu buang?” (merasa kaget dan tidak karuan)
Alan : “Ya ya ya terimakasih yaa sudah memberikannya, aku sudah menerimanya terserah aku mau diapakan setelahnya.”
Intan : “Tapi setidaknya kamu membukanya terlebih dahulu Lan.”
Alan : “Apa sih kamu ini. Daritadi kamu seperti mengikutiku. Sudahlah aku mau pulang.”
Intan : “Baiklah aku akan mengatakannya. Aku tak tahu pasti, setelah lulus ini kita bisa bertemu kembali atau tidak. Tidak ingatkah? Kalau kamu pernah mengatakan aku cantik dan mencitaiku. Mulai saat itu, aku ingin melakukan segala apa yang aku bisa untuk menyayangimu juga.”
Alan : “Persetan dengan itu, aku pulang dulu. Sampai jumpa!”
            Intan hanya berdiam diri. Ia menangis dengan sangat sedih melihat kelakuan Alan. Kemudian sunyi. Setelah pergi meninggalkan Intan, notif terdengar dari telepon Alan. Sebuah notif pengingat ulang tahun dirinya tepat dihari ini.
(Begitulah akhir cerita ini kado dari Intan terbuang sia-sia)
            Tentang Penulis
            Firdaus Achmad Ghandi, lahir di Sidoarjo Jawa Timur pada tanggal 31 Januari 1999. Pria yang akrab disapa Ghandi ini adalah anak ke dua dari dua bersaudara. Ia memulai pendidikan sekolah dasar di Sekolah Dasar Negeri Porong tamat tahun 2010. Kemudian melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Dalwa Bangil tamat tahun 2013, dan melanjutkan ke Madrasah Aliyah Dalwa Bangil tamat tahun 2016. Saat ini ia menempuh pendidikan tinggi di Universtitas Negeri Malang dengan program studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia & Daerah di Fakultas Sastra. Dan ditahun berikutnya ia bergabung dan aktif di UKM Penulis sebagai anggota divisi sastra. Keinginannya untuk menulis karya sastra sudah ada sejak memasuki pendidikan tinggi, namun karena belum mendapat arahan dan dukungan serta motivasi yang belum kuat maka keinginan itu terpendam. Akan tetapi tekad untuk menulis semakin bertambah karena salah satu dosennya yang mengajar pada mata kuliah menulis prosa dan drama sangat mendukung kepercayaan mahasiswanya dan membimbing untuk mulai menulis cerpen dan naskah drama. Dan akhirnya ia telah menyelesaikan karangannya berupa buku kumpulan cerpen dan naskah drama bersama teman-teman satu kelasnya. Akrab dengan media sosial,  ia bisa dihubungi lewat alamat surel firdausachmadghandi@gmail.com.







Comments

Popular posts from this blog

NASKAH DRAMA ANAK YANG DURHAKA

ULANG TAHUN

Drama ANAK-ANAK TK