NASKAH DRAMA "KARAM"
Karam
Oleh ST. Anisah
Persona :
·
Warto : pemarah, keras kepala, mudah terhasut
·
Andini : sabar, tidak mudah marah, baik hati, pemaaf
·
Susan : tidak peduli, tidak tahu diri, pemarah
Sinopsis :
Seorang
suami yang secara sengaja mengkhianati rumah tangga yang telah dibangun selama
15 tahun bersama istrinya. Sang suami tega berselingkuh dengan salah satu rekan
kerjanya di kantor yang baru dikenalnya selama 7 bulan. Semenjak kehadiran
wanita lain di kehidupan sang suami, rumah tangga mereka dipenuhi dengan
perdebatan-perdebatan yang tidak memiliki jalan keluar.
Semenjak
sang suami secara blak-blakan mengatakan kepada istrinya bahwa dia
berselingkuh, rumah tangga mereka menjadi hancur berantakan. Sang istri memilih
untuk mengalah dan mengakhiri rumah tangga yang telah dibangun selama 15 tahun.
Namun, sang suami yang telah dibutakan oleh cinta lebih memilih selingkuhannya dibandingkan
dengan istri yang telah setia selama 15 tahun.
BABAK
I
Jam hampir menunjukkan
tengah malam tetapi batang hidung Warto masih belum kelihatan. Andini yang
resah menunggu sang suami sampai tertidur di sofa ruang tamu. Tidak biasanya
Warto pulang larut malam tanpa memberitahu Andini.
Namun, tidak lama kemudian
terdengar bunyi pagar dibuka. Andini terbangun dan segera menyambut Warto di
ambang pintu. Senyum paling manis terbingkai di bibir tipis Andini.
Andini : “Kok baru pulang, Mas? Ada lembur mendadak?
Biasanya Mas Warto mengabari Andini kalau pulang telat. Andini sampai tertidur
di sofa saat menunggu Mas Warto pulang.”
Warto : “Gak usah ngoceh! Aku ini baru pulang kerja,
capek!”
Andini : “Aku khawatir, Mas.”
Warto : “Aku gak papa, buktinya aku masih pulang
dengan keadaan utuh kan?”
Andini : “Aku takut Mas Warto bersama wanita lain di
luar sana.”
Warto : (terkejut) “APA!? Kamu menuduh aku
berselingkuh?”
Andini : “Tidak, Mas, tapi Andini hanya waspada.”
Warto : “Atau jangan-jangan kamu gelisah seperti ini
karena kamu mengundang laki-laki lain ke rumah?”
Andini : “Astaghfirullah, tidak, Mas. Tidak sedikit
pun Andini berpikir untuk berselingkuh dari Mas Warto. Kita sudah 15 tahun
membina rumah tangga, jangan sampai hal-hal seperti itu membuat kapal kita
karam.”
Warto : “Kamu mengantuk? Tidur sana, arah
pembicaraanmu sudah melantur jauh.”
Andini : “Aku masih sadar kok, Mas. Kenapa Mas Warto
tidak suka Andini membahas ini?”
Warto : “Bukan tidak suka, tapi aku ini capek,
ngerti gak sih? Aku kerja seharian di kantor loh, Din.”
Andini “Iya, Mas, maaf.”
Warto : “Aku gak suka kalau kamu menuduh aku
selingkuh tanpa bukti. Ngerti?”
Andini : “Tapi, aku mendengar tetangga kita baru saja
bercerai karena suaminya berselingkuh. Aku hanya mengatakan ketakutanku saja,
Mas.”
Warto : “TERSERAH!”
Andini : (terkejut) “Mas.. Mas Warto tidak biasanya
membentak Andini seperti ini.”
Warto : “Kalau kamu tidak mau dibentak, diam dan
siapkan aku air panas untuk mandi.”
Andini : “Bisakah kita membahas ini lain kali?”
Warto : “Apa lagi yang perlu dibahas, Din?”
Andini : “Mas Warto harus berjanji tidak akan
mengkhianati rumah tangga ini.”
Warto : “Apa yang membuatmu menjadi ragu seperti
ini? Tetangga kita yang berselingkuh itu?”
Andini : (mengangguk) “Iya, Mas, apalagi jam pulang
Mas Warto akhir-akhir ini sulit ditebak dan terkadang Mas Warto tidak mengabari
Andini kalau pulang telat.”
Warto : “Baik, besok aku akan mengabarimu setiap
saat. Setuju?”
Andini : “Tetapi Mas Warto juga harus janji untuk
setia kepada Andini ya?”
Warto : (membelai rambut Andini) “Iya, janji.”
BABAK II
Warto
memang pulang tepat waktu, tetapi yang dia lakukan hanya mengutak-atik gawai di
atas tempat tidur. Andini berulang kali meminta Warto agar segera mandi karena
mereka harus pergi ke rumah orang tua Andini untuk menghadiri acara pengajian.
Tetapi Warto tidak peduli.
Andini : “Mas, air panasnya sudah siap dari tadi, loh.”
Warto : “Iya, tunggu.”
Andini : “Nanti kita telat ke acara pengajian Ibu dan
Bapak, Mas.”
Warto : “Iya, sabar, tunggu.”
Andini : (mendekati Warto) “Sudah satu jam Mas Warto
seperti ini. Ngapain sih, Mas?”
Warto : (terkejut dan cepat-cepat menyembunyikan
gawai) “Eh, apa sih, iya aku mandi, Din.”
Andini : “Mas Warto ngapain?”
Warto : “Ini ada urusan kantor mendadak.”
Andini : “Coba Andini lihat, Mas.”
Warto : “Ah, kamu tidak akan mengerti.”
Andini : “Kalau urusan kantor, kenapa harus
disembunyikan seperti itu?”
Warto : “Siapa yang menyembunyikan? Urusan kantor
kan memang rahasia.”
Andini : “Termasuk dirahasiakan dari istri?”
Warto : “Aku mau mandi. Tolong kamu siapkan baju
koko, peci, dan sarung ya?”
Andini : “Sudah, ada di samping Mas Warto tuh.”
Warto : “Oh, iya.”
Andini : “Mas Warto tidak sadar Andini menyiapkan
semua ini?”
Warto : “Sadar kok, tidak usah khawatir, Din.”
Andini : “Mas, tolong jangan rahasiakan apa pun dari
Andini.”
Warto : “Rahasia apa, Din? Kamu jangan ngarang deh!”
Andini : “Urusan kantor seperti apa yang membuat mata
Mas Warto berbinar-binar saat menatap gawai?”
Warto : “Tadi Mas Warto dapat bonus dari perusahaan,
Din.”
Andini : “Lalu, kenapa Mas Warto menyingkirkan gawai
itu dari Andini?”
Warto : “Anu, aku mau memberikan kejutan kepadamu.”
Andini : “Benar, Mas?”
Warto : “Benar, Sayang.”
Andini : “Yaudah, sana mandi!”
BABAK III
Di rumah orang tua
Andini, saat yang lain sibuk membolak-balik lembar-lembar Alquran, Warto
lagi-lagi malah sibuk menguatik-atik gawai. Tidak jarang Andini menangkap basah
Warto sedang tersenyum tipis sambil menatap gawai.
Andini
berkali-kali memberikan tatapan tajam kepada Warto agar berhenti menguatik-atik
gawai dan menyimak pengajian. Tetapi Warto sepertinya tidak sadar dengan
kode-kode kemarahan Andini. Akhirnya, Andini dengan susah payah menahan diri
untuk tidak marah kepada Warto hingga acara pengajian selesai.
Andini : “Saat acara pengajian tadi Mas Warto dapat
bonus lagi dari perusahaan?”
Warto : “Hah? Bonus yang mana? Benar kata Wisnu,
wanita memang mata duitan.”
Andini : “Lalu, kenapa Mas Warto tadi senyum-senyum
sendiri saat menatap gawai?”
Warto : “Hah? Kapan?”
Andini : “Hah.. hoh.. hah.. hoh.. jangan sampai stok
kesabaran Andini habis ya, Mas.”
Warto : “Lagian kenapa kamu malah memperhatikan aku
daripada menyimak pengajian?”
Andini : “Mas Warto itu menjadi pusat perhatian karena cengengesan dengan
benda mati di acara pengajian.”
Warto : “Tadi Wisnu mengirim lelucon-lelucon lucu,
Din.”
Andini : “Mas Warto kan bertemu Wisnu setiap hari di kantor, seharusnya di
luar kantor Mas Warto hanya fokus kepada urusan-urusan pribadi dong.”
Warto : “Iya, jangan ngomel-ngomel terus, dilihat
orang-orang tuh!”
Andini : “Mas, ini sudah kedua kalinya Mas Warto bertingkah aneh di depan
Andini. Mas Warto tidak menyembunyikan apa pun dari Andini kan?”
Warto : “Tidak, Din.”
Andini : “Senyuman Mas Warto tadi itu bukan senyum-senyum biasa, tetapi
senyum-senyum seseorang yang sedang jatuh cinta.”
Warto : “Astaghfirullah, kamu gila ya, Din? Aku
jatuh cinta kepada siapa? Wisnu?”
Andini : “Mas, aku wanita yang sudah kamu nikahi selama 15 tahun, dan aku
paham semua tingkah laku Mas Warto.”
Warto :
“Din, aku pria yang sudah kamu nikahi selama 15 tahun, dan aku masih
mencintaimu hingga saat ini dan seterusnya. Aku masih peduli dengan kamu dan
anak-anak.”
Andini : “Aku cuma minta satu, Mas. Jangan khianati
aku dan rumah tangga ini.”
Warto : “Tidak akan pernah, Din.”
Andini : “Dengan tingkah laku seperti tadi, bagaimana Andini akan percaya
lagi dengan Mas Warto?”
Warto : “Tingkah laku seperti apa?”
Andini : “Sudahlah, Mas. Andini lelah kalau
terus-menerus berdebat seperti ini.”
Warto : “Yang mengajak berdebat siapa? Kamu kan?”
Andini : “Tetapi Mas Warto selalu mencari masalah.”
Warto : “Menjadi istri itu harus sabar, jangan
ngomel-ngomel terus!”
Andini : “Tetapi sabar ada stoknya, Mas Warto juga
harus tahu diri!”
Warto : “Din, tolong jangan di sini, kita menjadi
pusat perhatian.”
Andini : “Kalau Mas Warto mengulangi lagi, Andini
tidak akan tinggal diam, Mas.
Warto : “Silahkan.”
Andini:
(berlalu pergi)
BABAK IV
Sejak perdebatan
di rumah orang tua Andini tempo hari, rumah tangga Warto dan Andini kembali
tenang dan damai seperti sediakala. Tidak ada perdebatan-perdebatan yang tidak
perlu. Bahkan Warto selalu pulang tepat waktu dan mengajak anak-anak bermain.
Tetapi semua
ketenangan dan kedamaian itu tidak bertahan lama. Tiba-tiba pada suatu pagi,
Andini kedatangan seorang tamu wanita yang mengaku rekan kerja Warto.
Susan : “Assalamualaikum.”
Andini : (membuka pintu) “Waalaikumsalam. Mencari
siapa ya?”
Susan : “Mbak Andini?”
Andini : “Iya, betul. Siapa ya?”
Susan : “Perkenalkan saya Susan, Mbak, rekan kerja
Mas Warto di kantor.”
Andini : “Oh, ada perlu apa, Mbak Susan?”
Susan : “Mas Warto sudah berangkat?”
Andini : “Belum, masih sarapan, Mbak.”
Susan : “Boleh masuk?”
Andini : (bingung) “Ada perlu apa ya?”
Susan : “Kebetulan ada berkas yang harus disetor
kepada Mas Warto pagi ini.”
Andini : “Oh, silahkan masuk, Mbak.”
Susan : “Ruang makan di sebelah mana ya?”
Andini : “Maaf sebelumnya ya, Mbak. Bagaimana kalau
menunggu di ruang tamu saja? Mas Warto biasanya tidak ingin diganggu kalau
sedang sarapan dengan anak-anak.”
Susan : “Oh, begitu, Mbak. Gak masalah kok!”
Warto : (tiba-tiba datang) “Loh, sudah dari tadi,
San?”
Susan : (tersenyum) “Ini baru datang, Mas.”
Warto: “Kok gak
langsung ke ruang makan? Kan bisa sekalian sarapan bareng.”
Susan : (melirik Andini) “Hmm.. Tadi kata Mbak
Andini, Mas Warto itu tidak suka diganggu kalau sedang sarapan dengan
anak-anak.”
Warto : (menatap Andini) “Hah? Gak kok!”
Andini : “Tetapi anak-anak akan merasa risih kalau ada
orang baru, Mas.”
Susan : “Tidak apa-apa, Mbak, saya mengerti kok.
Kan anak-anak masih belum kenal.”
Andini : (mengabaikan Susan) “Anak-anak sudah selesai
makan, Mas?”
Warto : “Sudah, tetapi sepertinya aku tidak bisa
mengantar, Din.”
Andini : “Loh, kenapa, Mas?”
Warto : “Kalau Susan ke rumah, itu tandanya ada
urusan kantor mendadak.”
Andini : “Tadi Mbak Susan mengatakan hanya ingin
menyetor berkas saja, Mas.”
Susan : “Anu.. maaf tiba-tiba ada urusan kantor
mendadak, Mbak.”
Andini : “Padahal anak-anak senang kalau diantar Mas
Warto ke sekolah. Kalau seperti ini, sama saja seperti mengecewakan anak-anak.”
Susan : “Bagaimana kalau Mas Warto mengantarkan
anak-anak terlebih dahulu?”
Andini : (menatap Warto) “Ide bagus. Bagaimana, Mas?”
Warto : “Kamu yakin tidak apa-apa, San?”
Susan : “Nanti bisa diatur kok, Mas.”
Warto : “Ya sudah, aku mengantar anak-anak terlebih
dahulu. Susan, kamu tunggu di sini ya?”
Susan : “Siap, Mas.
Andini : (menatap Susan) Apakah Mas Warto seakrab ini
dengan rekan-rekan yang lain di kantor?”
Susan : “Tidak sih, Mbak, tetapi saya dan Mas Warto
memiliki beberapa kesamaan yang membuat kita menjadi lebih dekat.”
Andini : “Hanya karena memiliki beberapa kesamaan,
kamu bersikap seperti ini kepada Mas Warto?”
Susan : “Iya, memang kenapa ya, Mbak?”
Andini : “Kamu menanyakan pertanyaan yang sudah jelas jawabannya, Mbak Susan.”
Andini : “Kamu menanyakan pertanyaan yang sudah jelas jawabannya, Mbak Susan.”
Susan : “Memang salah akrab dengan rekan kerja di
kantor?”
Andini : “Tetapi keakraban antara kamu dan Mas Warto
tidak seperti keakraban antara sesama rekan kerja di kantor, Mbak Susan.”
Susan : “Jadi, Mbak Andini menuduh saya ingin
merebut Mas Warto?”
Andini : “Semua kemungkinan bisa terjadi, Mbak.”
Susan : “Mbak, saya juga wanita, dan saya paham
rasanya dikhianati. Tidak mungkin saya setega itu membuat rumah tangga Mbak
Andini dan Mas Warto hancur.”
Andini : “Sebelumnya maaf ya, Mbak, tetapi saya tidak
bisa mempercayai seseorang di awal pertemuan.”
Susan : “Tidak apa-apa, Mbak. Pelan-pelan Mbak
Andini akan mengerti maksud saya.”
Andini : “Maksud yang mana ya, Mbak?”
Susan : (tersenyum) “Maksud saya baik di keluarga
Mbak Andini dan Mas Warto, tetapi Mbak Andini sepertinya tidak berpikiran
seperti itu.”
Andini : “Saya hanya waspada dengan orang-orang baru,
Mbak.”
Susan : “Oh, saya mengerti kok.”
Andini : “Wanita yang menghancurkan rumah tangga
tetangga saya juga bersikap baik di awal pertemuan, Mbak.”
Susan : (menatap Andini) “Lalu?”
Andini : “Semua bisa terjadi di luar kendali kita,
Mbak.”
Susan : “Secara terang-terangan Mbak Andini
menganggap saya calon penghancur rumah tangga Mbak Andini dan Mas Warto kan?”
Andini : “Setiap orang pemahamannya berbeda-beda,
Mbak. Mungkin pemahaman Mbak Susan seperti itu.”
Susan : “Saya tersinggung, Mbak.”
Andini : “Maaf, tetapi saya lupa bagaimana cara untuk
bersikap baik kepada seseorang seperti Mbak Susan ini.”
Susan : “Oh, baik.”
Andini : “Mbak Susan seharusnya tahu diri di depan Mas
Warto yang sudah beristri.”
BABAK V
Sejak
kedatangan Susan ke rumah, hampir setiap hari Andini datang ke kantor Warto.
Andini tidak lagi mempercayakan bekal makan siang Warto ke tukang ojek online. Bahkan Andini secara blak-blakan
melarang Susan untuk mampir ke rumah lagi. Bagi Andini, teman kantor hanya
berurusan di kantor saja.
Dipantau
secara terus-menerus di kantor oleh Andini tidak membuat Warto kehabisan akal.
Warto justru mengajak Susan bertemu di luar kantor. Bahkan Warto rela menyewa
apartemen untuk ditinggali oleh Susan dan dirinya.
Andini : “Di mana Susan, Mas?”
Warto : “Loh, kok nanya ke aku sih.”
Andini : “Lalu, aku tanya ke siapa? Mas Warto kan
teman dekat Susan di kantor.”
Warto : “Teman dekat?”
Andini : “Eh, maksudku rekan kantor yang lumayan
dekat.”
Warto :
“Sampai kapan kamu mau seperti ini, Din? Aku malu kalau kamu datang ke kantor
terus.”
Andini : “Kenapa harus malu, aku kan bukan istri
simpananmu.”
Warto : “Tetapi, aku kan bekerja di sini, Din, bukan
mondok.”
Andini : “Yang mengatakan ini pesantren siapa?”
Warto : “Kamu mending pulang deh, Din. Setelah ini
aku ada rapat di luar kantor.”
Andini : “Aku ikut!”
Warto : “Kamu gila ya, Din? Sikap kamu ini sudah keterlaluan.”
Andini : “Aku seperti ini karena Mas Warto dan
anak-anak.”
Warto : “Din, tolong, kita kan bisa selesaikan ini
di rumah.”
Andini : “Mas, besok anak-anak ada lomba mendongeng.
Mas Warto datang kan?”
Warto :
“Din, bukannya tidak mau datang, tetapi besok aku kan berangkat ke Bali untuk
survei lokasi pembangunan hotel.”
Andini : “Mas Warto silahkan bilang sendiri ke
anak-anak.”
Warto : “Iya, mereka pasti mengerti kok.”
Andini : “Mas, tolong, jangan seperti ini.”
Warto : “Seperti apa? Kamu yang selalu memulai semua
perdebatan ini.”
Andini : “Tetapi aku tidak akan seperti ini kalau Mas
Warto tidak neko-neko.”
Warto : “Cukup, aku harus pergi rapat, Din.”
Andini : “Ke mana?”
Warto : “Di luar kantor, Din.”
Andini : Iya, di mana, Mas?
Warto : “Kamu benar-benar ingin ikut denganku?”
Andini : “Kalau boleh, tentu saja.”
Warto : “Din, tolong beri aku kebebasan seperti dulu
lagi.”
Andini : “Iya, aku pulang, tetapi Mas Warto malam ini
makan malam di rumah kan?”
Warto : (mengangguk) “Iya, aku usahakan.”
Andini : “Ya sudah, aku pulang dulu, Mas.”
Warto : “Iya, hati-hati.”
BAB VI
Hari
itu Warto memang pergi rapat di luar kantor bersama beberapa staf yang lain,
tetapi setelah itu Warto pergi mengunjungi Susan yang tidak masuk kerja karena
sakit. Warto sengaja menyembunyikan kondisi Susan kepada Andini karena khawatir
sang istri akan berpikiran yang tidak-tidak kepadanya.
Susan : “Wanita itu ke kantor lagi, Mas?”
Warto : “Siapa?”
Susan : (tersenyum sinis) “Siapa lagi kalau bukan
istrimu yang tercinta itu.”
Warto : “Iya, membuat gempar kantor.”
Susan :
“Mas, kapan kamu memberitahu dia kalau kamu sebenarnya mencintaiku? Aku lelah
menjadi bayang-bayangmu seperti ini.”
Warto :
(mengelus kepala Susan) “San, tunggu
waktu yang tepat dulu. Jangan mendadak seperti ini.”
Susan : “Kapan, Mas? Kamu selalu bilang tunggu,
tunggu, dan tunggu.”
Warto :
“Aku juga bingung, San, semua di luar dugaanku. Kenapa waktu itu kamu harus
mampir ke rumah disaat aku belum siap dengan skenario yang kamu buat.”
Susan : “Jadi, ini semua salahku?”
Warto : “Bukan begitu, tetapi aku belum siap.”
Susan :
“Mas, apa yang masih ingin kamu pertahankan dari istrimu yang suka berburuk
sangka itu?”
Warto :
“Meskipun Andini suka berburuk sangka, tetapi menurutku itu adalah salah satu
caranya untuk mempertahankan diri, San. Andini juga pernah menjadi wanita yang
paling aku cintai dan saat ini masih ibu dari anak-anakku. Tolong, beri aku
sedikit waktu.”
Susan : “Sampai wanita itu mati?”
Warto : “SUSAN!!!”
Susan :
“APA?! KAMU MASIH INGIN MEMBELA ANDINI YANG SUDAH MENCACI MAKI DAN BERBURUK
SANGKA KEPADA WANITA YANG SAAT INI PALING KAMU CINTAI?!”
Warto :
“San, tolong sedikit lebih sabar. Kalau sikapmu seperti ini, kamu tidak jauh
berbeda dengan Andini.”
Susan : “Silahkan membanding-bandingkan aku dan
Andini sampai kamu puas, Mas.”
Warto :
“Aku tidak membanding-bandingkan, San. Meskipun kamu adalah wanita yang paling
aku cintai saat ini, tetapi aku juga masih mencintai Andini.”
Susan : “Baik, biar aku perjelas ya, Mas. Aku
sebenarnya tidak sakit, tetapi aku hamil, Mas.”
Warto : (terdiam sesaat) “Ha.. ha.. hamil?”
Susan : “Iya, ini darah daging kamu ada di perut
aku, Mas.”
Warto : “Sejak kapan?”
Susan : “Sudah memasuki usia dua minggu, Mas.”
Warto : “San, belum ada yang tahu kan?”
Susan :
“Tidak ada, Mas, aku bisa dipecat kalau orang-orang di kantor tahu tentang
kehamilanku.”
Warto : “San, tidak hanya kamu, aku juga bisa
dipecat.”
Susan : “Jadi, bagaimana, Mas? Jalan keluar dari
permasalahan ini adalah menikah.”
Warto : (terdiam sesaat) “Me.. menikah?”
Susan : “Aku harus apa lagi, Mas?”
Warto : “Kita bisa mencari jalan keluar yang lain,
San.”
Susan : “Jangan bilang kalau kamu ingin aku
menggugurkan kandungan ini, Mas.”
Warto :
“Memang apa lagi selain itu, San? Saat ini bukan waktu yang tepat untuk
mengumumkan kepada orang-orang kalau kamu mengandung darah dagingku.”
Susan : “Kamu takut, Mas?”
Warto :
“Bukan takut, tetapi semua akan berantakan kalau kita mengungkap sebuah
kebenaran saat ini. Kita bisa dipecat, San.”
Susan : “Kamu masih bisa mencari pekerjaan lain,
Mas.”
Warto :
“Kantor apa yang akan dengan sukarela menerima seseorang yang baru dipecat
karena menghamili rekan kerjanya?”
Susan :
(terdiam sesaat) “Lalu, bagaimana, Mas? Ini kan dari awal salah kamu yang
mengajakku pergi ke hotel setelah rapat malam itu.”
Warto : “Tanya kepada dirimu sendiri, kenapa malam
itu kamu mau kuajak pergi ke hotel?”
Susan :
“Kenapa kamu semakin mempersulit semua ini sih, Mas? Kamu hanya perlu menikahi
aku.”
Warto : “Tidak semudah itu, San. Nikah bukan untuk
main-main.”
Susan : “Tidak usah menceramahiku, Mas, aku sudah
tahu.”
Warto : “Beri aku waktu, aku pasti akan segera
menikahimu. Aku janji, San.”
Susan : “Aku ingin jawabannya minggu depan.”
Warto : “Apa? Kamu bercanda, San?”
Susan : “Tidak, memang aku terlihat bercanda?”
Warto : “Kamu kan bisa menutupi tentang kehamilan
ini sampai bulan depan, San.”
Susan : “Aku mual-mual terus, Mas. Orang-orang
kantor pasti akan curiga.”
Warto :
“Baik, aku akan menikahimu, tetapi tidak dalam waktu dekat. Kamu harus berhenti
dari kantor dengan alasan lain terlebih dahulu, San.”
Susan : “Tetapi aku ingin nafkahku ditambah sebagai
bentuk kompensasi atas semua ini.”
Warto :
“Tidak masalah, asalkan kamu bisa merahasiakan semua ini sampai waktu yang
tepat.”
Susan : “Tidak masalah.”
Warto :
“Ya sudah, aku pamit pulang. Aku sudah berjanji kepada Andini untuk makan malam
di rumah.”
BAB VII
Sesampainya
di rumah, Warto langsung disambut oleh berbagai macam hidangan makan malam di
atas meja makan. Makan malam dipenuhi dengan obrolan dan candaan kecil seperti
biasanya. Tak seperti biasa, Warto menjelma menjadi seorang suami dan ayah yang
sangat menyanginya keluarganya. Bahkan Andini tidak mengungkit apa pun tentang
Susan di depan Warto malam itu.
Tetapi
karena Warto ingin Andini kembali mempercayainya, dia berinisiatif untuk
memberitahu Andini tentang rencana pengunduran diri Susan dari kantor. Maka
setelah makan malam, Warto mengajak Andini ke balkon untuk mengobrol sebentar.
Andini : “Ada apa, Mas?”
Warto : “Sudah lama kita tidak menatap langit malam
bersama seperti ini, ya?”
Andini : (menatap Warto) “Hmm.. kamu kan sibuk bekerja. Aku selalu menatap
langit malam di sini saat menunggu kamu pulang.”
Warto : “Maaf kalau ada salah selama ini ya, Din?”
Andini : (kebingungan) “Kamu kenapa sih?”
Warto : “Aku hanya ingin meminta maaf, gak boleh?”
Andini : “Semua orang pasti pernah melakukan
kesalahan, Mas.”
Warto : “Apakah kamu termasuk orang yang suka memaafkan?”
Andini : “Aku sudah memaafkan saat kamu pulang dan menepati janji untuk
makan malam bersama aku dan anak-anak tadi, Mas.”
Warto : “Terima kasih, sayang. Omong-omong, ada
berita bagus buat kamu.”
Andini : “Apa itu?”
Warto : “Susan mengundurkan diri dari kantor, Din.”
Andini : (terkejut) “Kenapa?”
Warto :
“Mungkin, dia merasa bersalah kepada kita. Jadi, dia memutuskan untuk mengalah
dan meninggalkan kantor.”
Andini : “Apa selama ini aku terlalu berburuk sangka
kepada Mbak Susan ya, Mas?”
Warto :
“Sudah sudah, tidak usah menyalahkan diri sendiri. Mungkin Susan mengundurkan
diri karena sebenarnya dia ingin mencoba suasana baru, Din.”
Andini : “Oh iya, Mas, kamu betul.”
Warto : “Jadi, kamu sudah tidak perlu ke kantor
lagi, ya? Susan kan sudah pergi dari kantor.”
Andini : “Tidak suka nih kalau aku ke kantor?”
Warto : “Bukan begitu, urusan kita kan di rumah.”
Andini : “Jangan mengulangi kesalahan yang sama lagi
ya, Mas.”
Warto : (memeluk Andini) “Iya, sayang.”
BAB VIII
Semenjak
Susan mengundurkan diri dari kantor, rumah tangga Warto dan Andini baik-baik
saja. Di rumah Andini tidak pernah menyinggung tentang Susan di depan Warto.
Bahkan Andini tidak pernah lagi mengunjungi kantor Warto untuk mengantarkan
bekal makan siang.
Warto
benar-benar pintar membagi waktu antara pergi ke apartemen Susan dan pulang ke
rumah tanpa membuat Andini curiga sedikit pun. Namun, sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga. Suatu hari, Andini
tidak sengaja menemukan bukti transfer ke Susan dengan nominal yang lumayan
besar di kantong celana Warto.
Andini :
(menghampiri Warto sambil menyodorkan bukti transfer) “Apa ini, Mas?”
Warto :
(terkejut) “Oh.. ini.. aku memiliki hutang kepada Susan, Din.”
Andini :
(mengernyitkan dahi) “Hutang? Dengan nominal yang lumayan besar?”
Warto :
“Iya, waktu itu aku lupa membawa uang saat pergi ke luar kota.”
Andini :
“Mas Warto jujur kan kepada Andini?”
Warto : “Din, Susan kan sudah mengundurkan diri dari
kantor. Apa yang masih kamu curigakan dari dia?”
Andini : “Mas Warto baca catatan di bukti
transfer itu deh!”
Warto :
(menepuk dahi) “Din, maaf.”
Andini :
“Siapa yang membayar hutang dengan catatan tanda hati, Mas?”
Warto :
“Din, aku bisa jelasin kok.”
Andini :
“Apa lagi, Mas? Kamu mau berapa kali aku beri kesempatan?”
Warto :
“Din, tunggu dulu, jangan marah.”
Andini : “Kamu mengirim uang bulanan kepada wanita itu
kan, Mas? Jawab dengan jujur, Mas!”
Warto :
“I-i-iya, Din.”
Andini : “Tolong katakan yang sejujurnya, Mas, aku
siap. Siapa wanita itu, Mas? Dan apa arti aku bagimu saat ini?”
Warto :
“Din, aku tetap mencintai kamu. Kamu ibu dari anak-anakku.”
Andini : “Kalau kamu mencintaiku, kamu tidak akan
mengkhianati rumah tangga kita, Mas. SIAPA WANITA ITU, MAS?!”
Warto : “Iya, aku memang berselingkuh dengan Susan,
dan sekarang dia sedang mengandung darah dagingku.”
Andini : (menatap tajam Warto) Lalu, apa yang akan
kamu lakukan, Mas? Menikahi dia dan menjadikan aku sebagai istri tua? AKU TIDAK
SUDI!!!”
Warto :
“Kamu ingin aku meminta kepada Susan untuk menggugurkan kandungannya?”
Andini :
“CERAIKAN AKU, MAS!”
Warto :
“Andini, jaga ucapanmu ya!”
Andini :
“Memang apa yang perlu dipertahankan lagi, Mas?”
Warto : “Kamu benar-benar ingin mengakhiri rumah
tangga ini, Din? Bagaimana dengan anak-anak?”
Andini :
“Anak-anak menjadi tanggung jawabku. Silahkan kamu nikahi wanita itu.”
Warto :
“Din, jangan gegabah dalam mengambil keputusan. Pikirkan secara baik-baik!”
Andini : “Kalau kamu lebih mencintaiku, kamu tidak
akan berselingkuh, Mas. Jadi, untuk apa aku mempertahankan sesuatu yang
sia-sia?”
Warto :
“Aku masih mencintaimu, Din.”
Andini :
“Tetapi kamu lebih mencintai dia kan, Mas?”
Warto :
“Din, aku akan berusaha adil kepadamu dan Susan.”
Andini : “Aku hanya akan memberikanmu sebuah pilihan,
mempertahankan rumah tangga kita atau menikahi dia?”
Warto :
“Aku tidak bisa memilih, Din.”
Andini :
“Kamu harus memilih! Jangan egois!”
Warto :
“Aku mencintai Susan.”
Andini: “Lebih dari aku?”
Warto :
“Iya, Din.”
Andini: “Ya sudah, nikahi dia dan ceraikan
aku.”
Warto :
“Kamu benar-benar egois, Din.”
Andini : “Aku?
Egois? Kamu tidak salah, Mas?”
Warto :
“Mengapa kamu tidak bisa menerima, Susan?”
Andini :
“Bawa dia ke rumah besok pagi.”
Warto :
“Untuk apa?”
Andini :
“BAWA DIA KE RUMAH BESOK PAGI!”
BAB IX
Keesokan harinya sesuai permintaan Andini,
Warto memjemput Susan untuk menemui Andini di rumah. Tidak tahu kenapa Andini
ingin sekali bertemu Susan meskipun dia sangat membenci wanita itu.
Susan :
(bersalaman dengan Andini) Mbak Dini, apa kabar?
Andini : (mengabaikan tangan Susan) “Tidak terlalu
baik karena baru saja mengalami pengkhianatan.”
Susan :
(terkejut) “Mbak, maaf, aku khilaf.”
Andini : “Semua
orang akan meminta maaf setelah mereka khilaf.”
Warto :
“Din, jangan terlalu keras, dia sedang hamil.”
Andini :
(mengabaikan Warto) “Apa ini maksud baik kamu kepada keluargaku?”
Susan :
(berlutut di hadapan Andini) “Mbak, aku mohon maafkan aku.”
Andini :
“Sekarang kamu hanya pandai meminta maaf?”
Susan : “Lalu, apa yang harus aku lakukan,
Mbak?”
Andini :
“Jangan datang di kehidupan Mas Warto dan aku, bisa?”
Susan :
“Apa perlu aku menggugurkan kandungan ini?”
Andini :
“Siapa yang meminta kamu melakukan itu? Tolong jaga darah daging Mas Warto.”
Susan :
“Mbak, tolong jangan bercerai dengan Mas Warto.”
Andini :
“Apa yang harus aku pertahankan lagi dari rumah tanggaku?”
Warto :
“Din, tolong pikirkan lagi nasib anak-anak kita nanti.”
Andini : “Anak-anak tidak akan lapar dan kekurangan
meskipun tidak ada kamu, Mas. Dan ingat, aku tidak akan pernah berubah
pikiran.”
Warto :
“Kamu tidak ingin memberikan aku kesempatan?”
Andini : “Kesempatan apa lagi? Kesempatan yang saat
itu aku berikan tidak pernah kamu manfaatkan dengan baik. Susan, aku ikhlas
kamu menikah dengan Mas Warto dan aku tidak ingin mempertahankan rumah tangga
ini.”
Susan :
“Mbak, maafkan aku.”
Andini : “Aku sudah memaafkan kamu dan Mas Warto, kamu
tidak perlu khawatir. Semoga kamu tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan
saat ini. Jaga rumah tanggamu dengan baik.”
Warto :
“Apa aku masih boleh menemui anak-anak?”
Andini :
“Tentu saja, Mas, tetapi cepat atau lambat anak-anak pasti akan mengerti
tentang semua ini, dan aku tidak tahu apa mereka masih ingin menemuimu lagi.”
Warto :
“Tolong jaga anak-anak ya, Din.”
Andini :
“Jangan khawatir, Mas. Jaga Susan dan calon bayinya dengan baik.”
Warto :
“Iya, Din.”
BIODATA PENULIS
Siti
Anisah atau yang akrab disapa Anis lahir di Sampang, 18 Agustus 1998. Anis suka
sekali menulis dan membaca artikel tentang fakta-fakta sejarah dunia. Kini,
Anis sedang menempuh jenjang S1 Jurusan Sastra Indonesia di Universitas Negeri
Malang.
Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi