NASKAH DRAMA KEINGINAN AYAH
KEINGINAN
AYAH
Ratna Puspitasari
Tokoh,
Karakter, Ciri
Pemain
Ayah :Sosok yang tegas, keras, menyayangi anak-anaknya,
tidak ingin melihat anak anaknya dikalahkan oleh orang lain.
Ibu : Seseorang yang berhati
lembut, sabar dalam membimbing anak-anaknya dan
selalu ada untuk anak-anaknya
Rehan : Anak pertama dari sebuah
keluarga kecil sederhana,berbakti kepada
orangtuanya
pintar tapi bertekad kuat untuk sukses dan bisa menghidupi keluarganya dengan
keadaan yang berkecukupan
Nadia : Anak kedua dari keluarga
tersebut memiliki tekad yang sama dengan kakaknya untuk bisa hidup dengan layak
dan sukses
SETTING :
PANGGUNG
MENGGAMBARKAN SEBUAH RUANGAN DALAM DARI SEBUAH RUMAH, TERDAPAT KURSI DAN MEJA
MENGGAMBARKAN RUANG KELUARGA.
LAMPU
MENYOROT TERANG MENGGAMBARKAN SUSASANA DI DALAM RUMAH SAAT MALAM HARI
BABAK
1
BAGIAN 1
Hakikatnya
manusia tak mengenal kata berhenti untuk mewujudkan segala impian mereka,
memuaskan segala keinginan dengan berbagai cara dan memenuhi segala
kebutuhannya. inilah yang terjadi ketika ayah ingin melihat anak-anaknya
menjadi orang yang sukses sehingga mendidik anaknya dengan didikan yang keras
agar mereka selalu berusaha untuk menjadi nomor 1 dan tidak bisa dikalahkan
oleh orang lain.
AYAH
DUDUK SANTAI DI KURSI DENGAN SESEKALI MENEGUK SECANGKIR TEH SAMBIL MEMBACA
KORAN YANG BERISI ISU-ISU TERKINI, SEDANGKAN REHAN DAN NADIA BELAJAR BERSAMA
DUDUK DI BAWAH SAMBIL SESEKALI
AYAH :
(MEMBACA KORAN LALU MENOLEH SEJENAK MELIHAT ANAK-ANAKNYA YANG SEDANG TERPAKU
DENGAN BUKUNYA MASING-MASING) “Belajar yang benar sebentar lagi kalian ujian,
jangan sampai kalian membuat malu ayah.”
REHAN
: “Iya Yah.”
AYAH
: (MEMBACA KORAN KEMBALI SAMBIL BERKATA) “Ayah tidak mau jika nilai ujian
kalian nanti turun, kalian harus bisa mendapatkan peringkat 1”.
NADIA
: (MELETAKKAN PENSIL YANG DIA PEGANG) “Ujian kan masih 2 minggu lagi yah, apa
kita tidak ada rencana untuk pergi bersama ke luar?”
AYAH
: (MENUTUP KORAN YANG DIBACANYA DAN MENOLEH, SERAYA MENINGGIKAN NADA BICARANYA)
“Tidak! Kalian tidak boleh kemanapun hingga ujian kalian selesai.”
NADIA :
(TERDIAM MENUNJUKKAN RAUT MUKA KECEWA ATAS JAWABAN AYAHNYA) “Iya Yah.”
REHAN
: “Kamu turuti saja apa kata ayah ya, nanti setelah ujian kita selesai ayah
pasti mengajak kita untuk pergi liburan.”
NADIA
: (PASRAH DAN MENURUTI PERKATAAN KAKAKNYA) “Semoga saja benar.”
IBU : (MEMANGGIL ANAK-ANAKNYA YANG SEDANG SIBUK
BELAJAR DAN MENYURUH MEREKA UNTUK BERISITIRAHAT) “Rehan, Nadia sudah malam
kalian istirahat ya.”
AYAH
: (DENGAN NADA MEMBENTAK) “Tidak boleh mereka harus tetap belajar, ini masih
belum terlalu larut malam.”
IBU : “Kasihan mereka sudah lelah belajar.”
AYAH
: “Biarkan mereka berusaha, baru begitu saja sudah lelah. Bagaimana nanti
mereka ketika dewasa menghadapi kehidupan yang lebih keras. Mereka harus
dibiasakan menghadapi masalah dan kehidupan yang keras agar saat mereka dewasa
nanti bisa menghadapinya.”
IBU : (TERUS BERDEBAT DENGAN AYAH) “Jangan
terlalu keras dengan mereka Yah, mereka berhak menentukan pilihannya sendiri.”
AYAH
: “Aku tidak ingin mereka mempermalukan nama baik keluarga kita, mereka harus mengangkat
derajat nama baik keluarga. Apa kata orang nanti jika melihat anakku bisa
dikalahkan orang lain.”
REHAN
DAN NADIA YANG MENDENGAR PERCAKAPAN KEDUA ORANG TUA MEREKA HANYA TERDIAM DAN PASRAH,
MEREKA AKHIRNYA MELANJUTKAN BELAJAR MEREKA DENGAN BEBAN FIKIRAN YANG BERAT ATAS
TUNTUTAN AYAH MEREKA.
REHAN :
“Dek, walaupun kita lelah belajar tapi kita harus berusaha untuk terus belajar
ya.”
NADIA
: (DENGAN SUARA PARAU MENAHAN TANGIS) “Kenapa sih ayah begitu kerasnya terhadap
kita? Aku juga ingin seperti anak-anak yang lainnya hidupnya tidak dipenuhi
hanya dengan belajar saja. Aku juga ingin pergi, bersantai, bermain bersama
teman-teman, tapi nyatanya sejak kita masih kecil kita sudah dilarang untuk
bermain. Hanya belajar….belajar…dan belajar terus. Aku merasa sampai saat ini
aku tidak mempunyai teman kak.”
REHAN
: (MENENANGKAN ADIKNYA DAN MEMEGANG PUNDAKNYA) “Ayah melakukannya demi kebaikan
kita di masa depan dek. Jadi kita jalani saja dan lakukan yang terbaik ya.”
BAGIAN 2
UJIAN
TELAH BERLANGSUNG, HASIL UJIAN AKAN SEGERA KELUAR. REHAN DAN NADIA ANTUSIAS
AKAN HASIL UJIAN MEREKA. AYAH YANG MENUNGGU HASIL UJIAN MEREKA RESAH DAN
BERTANYA-TANYA BAGAIMANA HASIL UJIAN MEREKA, APAKAH MEREKA AKAN TETAP MERAIH
PREDIKAT PERINGKAT 1.
REHAN : (MELIHAT
PAPAN PENGUMUMAN YANG DI PAJANG, MENCARI NAMANYA SAMBIL MENUNJUKKAN JARINYA) “Rehan
Aditya…Rehan Aditya…”
REHAN : (TERKAGETNYA REHAN AKAN HASILNYA SERAYA TAK
PERCAYA) “Apa? Aku peringkat 3?
Bagaimana bisa? Apa yang kurang dari ujianku, aku sudah mengerjakan semuanya dengan
benar.”
REHAN
KEBINGUNGAN, DIA TAKUT JIKA AYAHNYA NANTI AKAN MEMARAHINYA. SESAMPAINYA DI
RUMAH, REHAN PUN HANYA TERDIAM TAK BERANI MENGHADAP AYAHNYA.
AYAH : (MELIHAT REHAN YANG SUDAH PULANG, SEGERA
MENANYAKAN HASILNYA KARENA PENASARAN) “Bagaimana hasil ujianmu? Dapat peringkat
berapa kamu? Kenapa kamu tidak seperti biasanya yang selalu langsung
memberitahukan hasil ujianmu kepada ayah.”
REHAN :
(LANGKAHNYA TERHENTI SAAT AKAN MEMASUKI KAMARNYA, DENGAN SUARA TERBATA-BATA
KARENA TAKUT) “E…e…emmm…hasil ujiannya memang sudah keluar yah.”
AYAH : “Lantas, bagaimana dengan hasilnya?”
REHAN : “Maafkan Rehan yah, hasil nilai ujian Rehan
turun yah. Rehan mendapatkan peringkat 3 di sekolah.”
AYAH : (RAUT WAJAHNYA BERUBAH MENJADI MARAH,
DENGAN NADA KERAS BERKATA) “Bagaimana
bisa kamu hanya mendapatkan peringkat 3? Apa kamu selama ini tidak belajar
dengan serius?”
SUASANA
RUMAH MENDADAK BERUBAH MENJADI TEGANG, KARENA KEMARAHAN AYAH AKAN HASIL ANAKNYA
YANG HANYA MERAIH PERINGKAT 3.
REHAN : (TAKUT, DAN GEMETAR MELIHAT AYAHNYA MARAH) “Maafkan
Rehan yah, Rehan sudah belajar dengan sungguh-sungguh. Rehan sendiri juga
bingung, bagaimana bisa hasil ujianku menurun yah.”
AYAH : “Tidak mungkin kamu belajar sungguh-sungguh
tapi hanya mendapatkan peringkat 3, ayah benar-benar kecewa dengan kamu.”
IBU : (MELIHAT KETEGANGAN YANG SEDANG TERJADI,
BERUSAHA MENENANGKAN AYAH YANG SEDANG MARAH) “Sabar yah, jangan marah-marah
kasihan Rehan. Ibu yakin dia sudah berusaha semaksimal mungkin.”
AYAH : (MENYANGKAL PENJELASAN IBU) “Tidak! Ini
pasti karena dia tidak serius belajar. Ayah tidak mau tau setelah ini kamu
harus belajar. Ayah akan memanggilkan guru privat agar kamu bisa tetap belajar
dengan bimbingan guru dan ayah bisa mengawasi belajar kamu.”
REHAN
: “Tapi yah, aku lelah belajar terus. Tolong beri aku kesempatan untuk belajar
setelah beberapa minggu ini aku belajar dengan keras.”
IBU : (DENGAN TATAPAN SEDIH TIDAK TEGA) “Yah,
tolong beri kesempatan Rehan untuk beristirahat, kasihan Rehan.”
AYAH
: (TAK MENGGUBRIS NASEHAT ISTRINYA) “Itu kesalahanmu, jadi kamu harus menerima
konsekuensinya. Sekarang kamu masuk kamar belajar dan jangan pernah kamu pergi
keluar.”
REHAN
: “Apa yah? Kenapa aku diperlakukan seperti ini. Ayah memang tak pernah bisa
mengerti.” (PERGI MENINGGALKAN AYAH DAN IBUNYA LALU MASUK KE DALAM KAMAR DENGAN
MEMBANTING PINTU)
REHAN
: (KESAL LALU MEMBANTING TASNYA KE KASUR) “Ayah sudah keterlaluan, ayah memang
tidak pernah peduli dengan anak-anaknya. Aku tidak bisa begini terus aku juga
ingin bebas.”
REHAN MERENCANAKAN UNTUK
PERGI DARI RUMAH DAN KABUR LEWAT JENDELA KAMARNYA AGAR DIA BISA BERMAIN DENGAN
BEBAS SETELAH SELAMA INI TERUS TERUSAN BELAJAR. REHAN BERGANTI BAJU MEMASUKKAN
BARANG KEPERLUANNYA SELAMA DIA PERGI DAN MEMASUKKAN KE DALAM TASNYA. LALU DIA
KABUR MELEWATI JENDELANYA DAN PERGI BERSAMA TEMAN-TEMANNYA.
BEBERAPA JAM KEMUDIAN,
ADIKNYA NADIA MENCARI KEBERADAAN KAKAKNYA DI KAMARNYA. NADIA MEMBUKA PINTU DAN
MEMANGGIL NAMA KAKAKNYA
NADIA
: “Kak Rehan! dipanggil ibu untuk makan itu.”
NADIA
: (TIDAK MELIHAT KAKAKNYA DI KAMAR, SERAYA MENCARI DAN MEMANGGIL NAMA KAKAKNYA)
“Kak Rehan….Kak Rehan dimana? Ibu….Kak Rehan tidak ada di dalam kamarnya Bu.”
IBU : (MENDENGAR NADIA SONTAK LANGSUNG
TERKAGET) “Apa? Jangan bercanda kamu Nadia.”
NADIA
: “Tidak bu, ini aku sudah cari dikamarnya tapi tidak ada.”
AYAH
: (MENDENGAR KERIBUTAN YANG SEDANG TERJADI DAN BERTANYA) “Ada apa ini? Dimana
kakak?”
NADIA
: “Tidak tahu yah, kakak sepertinya pergi.”
AYAH
: (DENGAN NADA KERAS) “Anak kurang ajar! Beraninya dia kabur seperti itu, bikin
susah saja.”
IBUNYA
HANYA BISA MENANGIS MERATAPI KEPERGIAN REHAN YANG TANPA IJIN KARENA KHAWATIR
JIKA TERJADI APA-APA DENGANNYA, SEDANGKAN REHAN SEDANG MENIKMATI HARINYA DENGAN
BERMAIN BERSAMA TEMAN-TEMANNYA. DIA BISA BERMAIN GAME SEPUASNYA DAN MENIKMATI
WAKTU SAAT BERSAMA TEMANNYA. AYAH MENCARI KEBERADAAN REHAN DENGAN BERTANYA KE
SEMUA TEMAN-TEMAN REHAN. KEBERADAAN REHAN DITEMUKAN, REHAN SEDANG MENONTON
BALAPAN LIAR BERSAMA TEMANNYA. AYAHNYA LANGSUNG MENUJU KE TEMPAT BALAPAN ITU
UNTUK MENJEMPUT REHAN.
AYAH
:
(MELIHAT ANAKNYA SEDANG BERDIRI DI PINGGIR JALAN BERSAMA TEMAN-TEMANNYA DAN
LANGSUNG MENGHAMPIRI DENGAN WAJAH EMOSI) “Rehan! Anak kurang ajar!”
REHAN
:
(TERKAGET MENDENGAR SUARA AYAHNYA) “A….ayahh! bagaimana bisa ayah menemukan aku
di sini.”
AYAH
: (DENGAN NADA TINGGI MEMBENTAK) “Kemari kamu! Ayo pulang, beraninya kamu kabur
membuat repot semua orang. Mau jadi apa kamu keluyuran tidak jelas begini.”
REHAN PUN MENURUTI PERKATAAN
AYAHNYA TERSEBUT DAN LANGSUNG MENGIKUTI AYAHNYA DARI BELAKANG DENGAN
MENUNDUKKAN KEPALANYA UNTUK PULANG
DENGAN PERASAAN MALU TERHADAP TEMAN-TEMANNYA KARENA AYAHNYA MEMBENTAK DIA DI
DEPAN TEMAN-TEMANNYA.
AYAH
: (SAAT DIRUMAH EMOSINYA SEMAKIN MEMUNCAK DAN MENAMPAR WAJAH REHAN) “Berani,
beraninya ya kamu kabur seperti itu. Bikin malu saja kamu, anak tidak tau
diuntung. Prakkk….!”
IBU
: (SEGERA MENGHAMPIRI MEREKA DAN BERUSAHA MEREDAM AMARAH AYAHNYA) “Berhenti
yah, jangan tampar Rehan kasihan dia. Sudah Alhamdulillah Rehan ditemukan dalam
keadaan baik-baik saja yah.”
AYAH
: “Dia ini sudah berani sama ayah, kelakuannya bikin malu ayah saja. Kamu ini
sudah tidak belajar dengan sungguh-sungguh hingga tidak meraih peringkat 1,
lalu sekarang kamu berani kabur dari rumah.”
REHAN
: (DENGAN MENAHAN RASA SAKIT AKAN TAMPARAN AYAHNYA, TERDENGAR SUARANYA YANG
PARAU KARENA MENAHAN EMOSI) “Rehan melakukan semua itu karena Rehan lelah sama
ayah, ayah tak pernah menghargai usaha Rehan selama ini. Ayah hanya memikirkan
rasa malu ayah tak ingin posisi pertama itu diraih oleh siapapun.”
AYAH
: (SEMAKIN EMOSI MENDENGAR ALASAN REHAN) “Berani kamu ya menentang ayah
sekarang, ini pasti gara-gara kamu terpengaruh oleh teman-temanmu yang gak
bener itu. Mau jadi apa kamu bergaul bersama anak-anak berandal itu hah…!”
IBU : (BERUSAHA MEREDAM
EMOSI SUAMINYA AGAR TIDAK MENYAKITI ANAKNYA) “Sudah cukup yah, cukup. Rehan
hanya lelah yah, beri dia kesempatan untuk beristirahat belajar dan biarkan dia
menikmati waktunya bersama teman-temannya sejenak. Rehan sudah berusaha kasihan
Rehan tidak pernah menikmati waktunya untuk bersantai.”
AYAH : “Itu
karena ayah ingin dia menjadi anak yang sukses di kedepannya nanti. Ayah tidak
ingin dia menjadi susah, dan menyesal. Ayah malu jika anak ayah dikalahkan oleh
orang lain.”
REHAN
: “Ayah terlalu egois hanya memikirkan rasa malu ayah, Rhan hanya ingin
beristirahat sebentar setelah ujian. Memang Rehan kemarin tidak bisa
mendapatkan peringkat 1 tapi itu juga bukan keinginan Rehan juga yah. Tolong sekali
saja ayah bisa menghargai apapun hasil yang Rehan dapatkan.”
AYAH
: (MEMANDANG REHAN DENGAN PENUH KEMARAHAN) “Ayah nggak peduli walaupun kamu
lelah, kamu harus belajar dengan sungguh-sungguh selanjutnya agar kamu bisa
mendapatkan predikat peringkat 1 itu lagi.”
REHAN
: “Ayah memang tak pernah bisa mengerti.” (LALU PERGI MENINGGALKAN AYAHNYA DAN
MASUK KE DALAM KKAMAR)
NADIA YANG MELIHAT
KETEGANGAN ANTARA AYAHNYA DAN KAKAKNYA TERSEBUT HANYA BISA MENANGIS KARENA
TAKUT AKAN KEMARAHAN AYAHNYA, SELAMA INI TAK PERNAH MELIHAT AYAHNYA SEPERTI
ITU. NADIAPUN MENGHAMPIRI KAKAKNYA KE DALAM KAMAR.
NADIA
: (MEMBUKA PINTU DENGAN PERLAHAN) “Kak Rehan….”
REHAN
: “Iya dek, ada apa?”
NADIA
: (MENGHAMPIRI KAKAKNYA DAN MEMEGANG WAJAH KAKAKNYA) “Apa wajah kakak masih
sakit?”
REHAN
: “Iya dek, tapi tidak apa.”
NADIA
: (DENGAN RAUT WAJAH SEDIH) “Ayah itu khawatir dengan kakak yang hilang
tiba-tiba jadi ayah marah.”
REHAN
:
(MENUNDUKKAN KEPALA) “Kakak hanya ingin beristirahat menikmati waktu bersama
teman-teman kakak yang selama ini tidak pernah kakak rasakan, tapi ayah tidak
mau mengerti itu. Ayah hanya memperdulikan posisi saja.”
NADIA
: (MEMELUK KAKAKNYA YANG SEDIH) “Kakak yang sabar ya kak. Kita doakan saja
semoga ayah bisa mengerti kondisi dan keinginan kita.”
REHAN
: “Kenapa
Ayah begitu berambisi terhadap kita? Kakak tidak bisa memahami jalan pemikiran
Ayah.”
NADIA
: “Mungkin
Ayah hanya menginginkan yang terbaik untuk kita.”
BABAK
2
BAGIAN
1
Kini
Rehan dan Nadia telah beranjak dewasa mereka kini tinggal terpisah dengan orang
tua mereka. rehan dan nadia sudah sibuk dengan pekerjaan mereka masig-masing,
nadia sudah sukses dengan pekerjaannya sebagai dosen di salah satu universitas
favorit dan telah memiliki keluarga yang bahagia, sedangkan rehan yang masih
berusaha untuk mengembangkan usahanya berjualan sepatu. orang tua mereka tentu
bangga dengan pencapaian anak-anaknya, namun kesibukan mereka membuatnya tidak
sempat untuk berkunjung menemui kedua orang tua mereka.
IBU SEDANG BERDIRI DI
SEBELAH MEJA TELEFON, MENGANGKAT TELFON DAN MENGEMBALIKAN TELEFONNYA BEBERAPA
KALI KARENA TERLINTAS KERAGUAN DI BENAKNYA UNTUK MENELFON ANAKNYA NAMUN IBU
SUDAH RINDU DENGAN MEREKA DAN MULAI MEMENCET TOMBOL
IBU : “Tut…tut…tut..(SUARA
DERING TELEFON YANG TAK DAPAT DIHUBUNGI) Kenapa Rehan tidak bisa dihubungi? Apa
mungkin dia sedang sibuk?”
AYAH
: (MELIHAT
ISTRINYA YANG SEDANG CEMAS SAMBIL MENGGENGGAM TELEFON) “Ada apa Bu, kenapa
terlihat cemas?”
IBU : “Ibu rindu dengan
anak-anak, tapi mereka susah dihubungi.”
AYAH : (MENEPUK PUNDAK ISTRINYA) “Sudahlah Bu, mungkin mereka
sedang sibuk. Biarkan saja nanti mereka juga pasti akan telefon Ibu.”
IBU : “Ibu akan menelfon mereka
kembali, siapa tau mereka mengangkatnya.”
IBU MENELFON KEMBALI,
BERHARAP REHAN AKAN MENGANGKAT
TELEFONNYA.
IBU : “Tut…tut…tut (HANYA DERING TELFON YANG
TERDENGAR) Tak ada jawaban Yah.” (DENGAN RAUT WAJAH KECEWA)
AYAH
: “Coba Ibu hubungi Nadia saja, siapa tau dia sedang senggang.”
IBU : (MENCOBA MENELFON NADIA) “Halo,
Assalamualaikum..Nak. bagaimana kabarmu apakah baik-baik sa...”
BELUM SELESAI BERBICARA
TERPOTONG OLEH KATA-KATA NADIA YANG MEMBUAT IBU KECEWA
NADIA
: “Bu maaf ya ini Nadia sedang ada rapat, Sudah ya Nadia tutup. Tut…tut…tut…”
IBU : “Eh…Nadia ini bagaimana, langsung main
tutup telefonnya begitu saja. Ibu bahkan
belum selesai berbicara, menjawab salam saja tidak dia.”
AYAH
: “Bagaimana Bu kabar Nadia?”
IBU
: “Nadia juga sibuk Yah, Ibu padahal sangat rindu dengan mereka tapi kenapa mereka
sibuk dengan pekerjaan sehingga tidak pernah berkunjung ke sini, bahkan
menelfonpun juga tidak pernah.” (RAUT WAJAH SEDIH IBU MEMBUAT AYAH MENJADI TAK
TEGA MELIHATNYA)
AYAH
: “Nanti Ayah akan bicara dengan mereka dan meminta mereka untuk berkunjung ke
sini.”
BAGIAN
2
Satu
minggu telah berlalu, namun tetap tak ada kabar dari Rehan maupun Nadia. Hal
tersebut menyebabkan Ibu jatuh sakit karena terlalu memikirkan tentang Rehan
dan Nadia. Ibu menginginkan untuk Rehan dan Nadia pulang ke rumah, rasa rindu
yang terpendam namun tak bisa tersampaikan karena kesibukan anak-anaknya.
IBU TERBARING DI KASUR
DENGAN CAHAYA DI WAJAHNYA YANG MULAI PUDAR MENJADI PUCAT, AYAH MENUNGGU DI
SEBELAHNYA DENGAN MENGGENGGAM TANGAN DAN MEMANDANG SENDU KEADAAN IBU.
IBU : “Yah, kapan Rehan dan
Nadia bisa berkumpul bersama kita?”
AYAH
: “Ayah akan mencoba menghubungi mereka.” (AYAH LALU MENGHUBUNGI NADIA, AKHIRNYA
NADIA MENGANGKAT TELFON DARI AYAHNYA)
NADIA
: “Iya Yah, ada apa?”
AYAH
: “Apa kamu sibuk Nak?”
NADIA
: “Memangnya ada apa?”
AYAH
:
“Sempatkanlah untuk berkunjung ke rumah, kami rindu.”
NADIA
: “Maaf Yah, memang aku sedang sibuk karena banyak sekali pekerjaan. Ayah
hubungi kak Rehan saja siapa tau dia sedang senggang.”
AYAH
: (DENGAN NADA LIRIH) “Ibu sedang sakit ingin kalian untuk menyempatkan waktu
datang menjenguk.”
NADIA
: “Ibu sakit? Apa Ayah sudah membawa Ibu ke dokter?”
AYAH
:
“Belum Nak.”
NADIA
: (DENGAN NADA TERBURU-BURU) “Ayah segera bawa Ibu ke dokter ya, nanti masalah
biaya biar aku yang tanggung jadi jangan khawatirkan biaya sudah dulu ya”
AYAH
: “Bukan masalah itu, tapi Ibu ingin bertemu kamu Nak.”
NADIA
: “Iya aku usahakan Yah.”
LALU MENUTUP TELFONNYA,
AYAH MERASA KECEWA MELETAKKAN TELFONNYA DAN SESEKALI MEMANDANG KE DALAM KAMAR
IBU KARENA TAK TEGA MELIHAT KONDISI ISTRINYA YANG TERBARING LEMAH KARENA RINDU
DENGAN ANAK-ANAKNYA.
BABAK
3
BAGIAN
1
Rehan
yang berjuang di kota dengan usahanya berjualan sepatu, sebagai seorang
pengusaha Rehan sangat gigih dalam mengembangkan usahanya. Namun rintangan
tetap dirasakan oleh Rehan, usahanya tiba-tiba mengalami penurunan penjualan
sehingga membuatnya khawatir akan kondisi usahanya. Rehan ternyata telah ditipu
oleh rekan usahanya dengan membuat produksi sepatu yang jumlahnya cukup besar
untuk di ekspor ke luar negeri namun hasil yang didapatkan oleh Rehan tak
sesuai dengan kesepakatan, sehingga membuat Rehan mengalami kerugian dalam
usaha. Rehan merasa terpuruk dengan hal tersebut, sehingga Rehan memiliki beban
fikiran yang membuatnya menjadi sering emosi.
AYAH MENCOBA MENGHUBUNGI REHAN,
DENGAN MENGGENGGAM GAGANG TELEFON DI TANGANNYA DAN MENEKAN TOMBOL TOMBOL NOMOR
REHAN. AYAH MENEMPELKAN GAGANG TELEFONNYA DI TELINGA MENUNGGU JAWABAN DARI
REHAN.
REHAN
: “Halo ada apa sih telfon terus?” (DENGAN NADA BICARA SEDIKIT TINGGI KARENA
KESAL)
AYAH
: “Ini Ayah, Rehan kamu kenapa susah sekali dihubungi?”
REHAN
: “Sibuk Yah, ini aku sedang mengurusi usaha.”
AYAH
: ”Sempatkanlah untuk pulang kemari nak, Ibu rindu dengan kamu.”
REHAN:
“Iya tapi memang untuk saat ini sedang banyak urusan yang tak bisa
ditinggalkan.”
AYAH
: (TERKAGET MENDENGAR NADA SUARA ANAKNYA YANG TERDENGAR MEMBENTAK) “Iya Ayah
mengerti jika kamu sedang senggang kamu pulang ya, Ibu sedang sakit karena
rindu dengan kamu.”
BERAKHIRLAH PEMBICARAAN
MEREKA, AYAH MELETAKKAN TELEFONNYA KEMBALI SAMBIL MEMEGANG DADANYA UNTUK
MENENANGKAN DIRINYA ATAS PERKATAAN KASAR YANG IA DENGAR DARI ANAKNYA.
BAGIAN
2
Sikap
anak-anaknya membuat Ayah tersadar, bahwa apa yang dia rasakan saat ini adalah
akibat dari dahulu dia terlalu bersikap keras terhadap anak-anaknya sehingga
menyebabkan hubungan mereka menjadi tidak dekat. Kesuksesan yang diraih oleh
anak-anaknya kini memang hasil usaha mereka sendiri, namun kepintaran mereka
dalam ilmu membuat mereka kurang memiliki etika dan kurang peduli dengan orang
sekitarnya.
TIBA-TIBA TERBESIT DALAM
BENAKNYA UNTUK MEMBUAT ANAK-ANAKNYA BISA PULANG KE RUMAH UNTUK MENJENGUK IBU
YANG SEDANG SAKIT. AYAH MENCARI HANDPHONENYA DAN MULAI MENGETIKKAN SESUATU.
AYAH SEMPAT RAGU DENGAN RENCANANYA TERSEBUT SESEKALI IA MENULIS DAN MENGHAPUS
KEMBALI KATA-KATA YANG TELAH IA TULIS, NAMUN IA BERFIKIR BAHWA INI DEMI
ISTRINYA AGAR BISA SENANG.
AYAH
: “Aku akan mengirimkan pesan ini kepada Rehan dan Nadia, semoga saja mereka
bisa pulang dengan cara ini.” (MENEKAN TOMBOL KIRIM KEPADA REHAN DAN NADIA)
SESAAT PESAN AYAH MASUK
DALAM HANDPHONE MILIK REHAN DAN NADIA, NADIA YANG SEDANG MENGAJAR MAHASISWANYA
MENDENGAR SUARA DERING PESAN YANG MASUK. NADIA SEGERA MEMBUKANYA KARENA
BERFIKIR BAHWA PESAN ITU ADALAH INFORMASI DARI PIHAK JURUSAN.
NADIA
: “Ayah…” (TERDENGAR LIRIH SUARA NADIA MEMBACA NOTIFIKASI YANG MUNCUL DI
HANDPHONENYA)
NADIA
: (MEMBACA PESAN DARI AYAHNYA DENGAN LIRIH) “Nak, kamu ada waktu atau tidak?
Maaf sekali Ayah harus bilang begini terus, ayah harap kamu bisa pulang
sekarang karena Ibu ingin sekali bertemu kamu, Ibu ingin ditemani selama satu
hari saja sebelum Ibu pergi. Ibu sudah tidak sanggup menahan rasa sakitnya
lagi, dengan menyesal Ayah harus memberitahukan kabar bahwa Ibu telah
meninggal. Apa?! I…ibu…Ya ALLAH…apa yang terjadi?”
PESAN YANG DIKIRIMKAN
OLEH AYAH JUGA TELAH DITERIMA OLEH REHAN, NAMUN REHAN BELUM MEMBUKA PESAN
TERSEBUT KARENA MASIH SIBUK MENGURUSI PRODUKSI SEPATUNYA. TERDENGAR SUARA
DERING TELFON, REHAN MELIHAT BAHWA PANGGILAN TERSEBUT DARI ADIKNYA NADIA DAN
MENGANGKAT TELFONNYA
REHAN
: “Halo
Dek, ada apa?”
NADIA
: “Kak, Ibu kak Ibu….barusan Ayah mengirimkan pesan kepadaku dan mengabarkan
bahwa Ibu meninggal Kak..” (DENGAN SUARA TERSENGGUK KARENA MENAHAN TANGIS)
REHAN
: “Apa? Enggak itu nggak mungkin Ibu baik-baik saja. Kamu jangan bercanda.”
NADIA
: “Iya Kak, aku tidak berbohong coba kakak lihat pesan masuk dari Ayah.”
REHAN
: (MENGECEK PESAN MASUK DARI AYAHNYA) “Ya Allah, Ibu…apa yang terjadi kenapa
Ibu….” (MATANYA BERKACA-KACA KARENA TIDAK PERCAYA DENGAN APA YANG TERJADI)
NADIA
: “Beberapa hari yang lalu Ayah menelfonku memberikan kabar bahwa Ibu sakit dan
ingin untuk kita datang menjenguknya.”
REHAN
: “Kenapa aku tidak diberi kabar, Ibu… kenapa jadi begini, aku tidak tahu bahwa
Ibu sedang sakit.” (TERDUDUK LEMAS KARENA MASIH TIDAK PERCAYA)
NADIA
: “Kita harus pulang kak, aku ingin bertemu Ibu.”
REHAN
:
“Iya, setelah ini aku akan memesan tiket untuk pulang. Kakak akan hubungi Ayah,
siapapun yang sampai di rumah duluan tolong saling mengabari ya.”
NADIA
: “Iya Kak, aku akan hubungi Ayah lagi.”
MEREKA BERGEGAS
UNTUK PULANG KE RUMAH, DENGAN PERASAAN
TAK KARUAN KARENA BINGUNG DAN TAK PERCAYA. REHAN DAN NADIA BERANGKAT SAMBIL
NADIA TERUS MENGHUBUNGI AYAHNYA NAMUN TAK ADA RESPON.
NADIA
: “Ayah ini kenapa tidak diangkat telfonnya.”
DI DALAM KENDARAAN NADIA
TERUS BERUSAHA MENGHUBUNGI AYAHNYA, PERASAAN KALUT YANG NADIA RASAKAN MEMBUAT
NADIA MENJADI LEMAS DAN HANYA BISA MENANGIS BERHARAP BISA SEGERA SAMPAI DI
RUMAH.
BAGIAN
3
REHAN SENGAJA MENUNGGU
KEDATANGAN NADIA UNTUK PERGI KE RUMAH MEREKA BERSAMA-SAMA. REHAN RESAH DAN
CEMAS MENUNGGU KEDATANGAN NADIA YANG TAK KUNJUNG DATANG. REHAN INGIN SEGERA
SAMPAI DI RUMAH UNTUK BERTEMU DENGAN IBUNYA TERAKHIR KALINYA. REHAN MENYESAL MENGINGAT
BAHWA IA JARANG MEMILIKI WAKTU UNTUK MENEMUI IBU YANG SANGAT IA SAYANGI.
NADIA
: “Ayo kak, maaf lama karena di jalan sangat macet.”
REHAN
: “Iya, ayo kita harus segera sampai di rumah.” (REHAN MENAIKI MOBIL NADIA DAN
BERGEGAS UNTUK PULANG. NADIA SESEKALI MENANGIS, REHAN HANYA BISA MENENANGKAN
ADIKNYA TERSEBUT)
NADIA
: “Aku belum sempat meminta maaf secara langsung kepada Ibu karena jarang ada
waktu untuk menemui Ibu, bahkan menjenguk Ibu saja tidak.”
REHAN DAN NADIA SUDAH
SAMPAI DI DEPAN RUMAH MEREKA, BETAPA KAGETNYA MEREKA KARENA TAK TERLIHAT
TETANGGA YANG BERDATANGAN KE RUMAH MEREKA UNTUK MELAYAT. KEADAAN RUMAH SEPI DAN
HENING, REHAN DAN NADIA SALING MEMANDANG KARENA BINGUNG AKAN APA YANG TERJADI.
NADIA MENGIRA BAHWA IBUNYA MASIH ADA DI RUMAH SAKIT MUNGKIN JENAZAHNYA SEDANG
DALAM PERJALANAN. BERGEGAS MEREKA MASUK KE DALAM RUMAH, PERLAHAN MEREKA
MEMASUKI RUMAH KARENA TAKUT DAN RAGU MENYELIMUTI MEREKA.
REHAN
:
“Assalamualaikum…” (MEMANDANG SEKITAR RUMAH KARENA TAK TERLIHAT SIAPAPUN,
BERJALAN MENUJU KAMAR IBUNYA TAPI TAK ADA SIAPAPUN DI DALAM)
NADIA
: “Kak..kesini!”
REHAN
: “Ada apa?”
NADIA
: “Ibu…Ibu…” (NADIA MELIHAT IBUNYA SEDANG DUDUK MEMANDANG JENDELA DAN LANGSUNG
BERLARI MEMELUK IBUNYA DARI BELAKANG)
REHAN
: “Ibu…Ya Allah…Alhamdulillah Ibu..”
IBU
: (MEMBALAS PELUKAN NADIA YANG ERAT SAMBIL MENGUSAP RAMBUT ANAKNYA TERSEBUT)
“Akhirnya kamu pulang Nak, Ibu rindu sekali dengan kamu.”
NADIA
: “Maafkan aku, aku sangat menyesal karena tidak pernah bisa berkunjung untuk
menemui Ibu.” (MENANGIS MEMELUK IBUNYA)
REHAN
: “Ibu, apakah baik-baik saja?”
IBU
: “Semoga Ibu baik-baik saja terus ya.” (SEMBARI TERSENYUM)
AYAH YANG MELIHAT
KEDATANGAN ANAK-ANAKNYA DAN MENGHAMPIRI MEREKA
AYAH
:
“Ayah senang karena kalian bisa ke sini.”
REHAN
: “Apa yang terjadi Yah, bukannya Ayah sendiri yang memberi kabar menyedihkan
tentang Ibu?”
AYAH
:
“Iya, itu benar tapi itu ayah lakukan karena terpaksa. Ibu kalian sangat ingin
bertemu namun kalian selalu sibuk. Akhirnya Ayah merencanakan hal tersbut agar
kalian bisa pulang.”
REHAN
: “Maafkan kami bu, kami sudah keterlaluan
hingga tak pernah menyempatkan waktu untuk menemui Ibu.” (BERSUJUD DI KAKI IBU)
IBU
: “Sudahlah, yang penting sekarang kalian bisa bersama-sama kemari.”
AYAH
:
“Ayah minta maaf kepada kalian atas apa yang Ayah lakukan, selama ini Ayah
hanya memikirkan diri Ayah sendiri tanpa memikirkan keadaan kalian. Ayah hanya
menginginkan yang terbaik bagi kalian namun ternyata hanya saling menjauhkan
kalian semua. ”
Pada akhirnya mereka
saling menyadari kesalahan mereka masing-masing, kepintaran dan jabatan
bukanlah suatu hal yang utama tapi kepedulian lebih membahagiakan dan waktu
lebih berharga karena setiap waktu yang kita lewati tak dapat terulang kembali.
Tamat
Tentang Penulis

Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi