NASKAH DRAMA KELUARGA KECIL
KELUARGA KECIL
Oleh
IMAM JIHADI MUSLIM
TOKOH:
1.
Bobi
2.
Papa
3.
Mama
4.
Bibi
5.
Tukang Sampah
BABAK
1
Berita TV: Meski belum
sepenuhnya terjawab teka-teki lokasi ibu kota baru terkuak setelah pemerintah
memastikan letak ibu kota baru berlokasi di Kalimantan. Pada Mei lalu presiden
Jokowidodo telah mengunjungi beberapa daerah di Kalimantan untuk memastikan
kelayakan sebagai ibu kota yang baru.
Papa:
“Nah ini tepat seperti dugaanku.”
Bibi:
“Den sini sarapan dulu sebelum berangkat.”
Bobi:
“Bentar bi masih ganti.”
Bibi:
“Awas kalo gak sarapan lagi.”
Bobi:
“Alah bi sarapan enggak juga sama saja.”
Bibi:
“Tadi bibi sudah dipesani tuan nyonya supaya aden sarapan pagi.”
Bobi:
(Menggendong tas mengambil roti di meja makan) “Alah alah bi bi orang mama gak
ada aja kok nanti pulang paling juga gak nanya aku tadi sarapan atau enggak.”
Bibi:
“Iya den tapi.”
Bobi:
“Alah dia lebih mementingkan persalonannya itu daripada anaknya.”
Papa:
“Bobi bicara apa kau ini. Mamamu begitu juga karena kamu.” (mematikan TV )
Bobi:
“Apa pa? papa mau bilang semua ini demi Bobi? Kalimat-kalimat itu sudah busuk
pa ditelinga Bobi tiap hari bilang gitu tapi buktinya apa? Kapan keluarga kita
terakhir kumpul untuk sarapan bersama?”
Papa:
“Harusnya kau mengerti Bobi waktu adalah uang dan dengan kesibukan papa dan
mama sekarang kamu seharusnya bisa memaklumi toh kamu juga sudah besar.”
Bobi:
“Kurang maklum bagaimana lagi Bobi pa? berapa tahun kita tidak bisa kumpul
bareng sebagai sebuah keluarga? Mama sibuk ngurusi salonya tiap hari, Bisnis
tanah papa juga tidak ada liburnya, dan kakak pun yang dulu peduli sama Bobi
mana sekarang? Dia lebih mementingkan dunianya yang katanya publik figur,
public figur anjing apa.”
Papa:
“Ayolah Bobi jangan buat papamu ini marah pagi-pagi buta gini jangan buat mood
papa hancur dan harus terbawa ke klayen proyek terbesar papa tahun ini.”
Bobi:
“Iya kan terbukti papa lebih memilih bisnis papa itu daripada sejenak
mendengarkan keluhan anaknya.”
Papa:
“Ayolah Bobi bukan begitu maksud papa tolong sekali lagi tolong papa hari ini
mau bertemu dengan klayen besar dan papa harus segera menyiapkan berkas ke
kantor kemudian nanti siang harus terbang ke Kalimantan. Ayolah bersikap dewasa
Bobi.”
Bobi:
“Bukan masalah dewasa atau tidak pa. Ini masalah kasih sayang sedewasa apapun
Bobi juga masih butuh kasih sayang papa sama mama. Bobi iri pa sama teman-teman
Bobi apalagi kemarin waktu rapat pleno mahasiswa dengan wali, hampir semua
mahasiswa didampingi orang tuanya tapi Bobi? Meluangkan sehari saja untuk Bobi
apa susahnya sih? Kayak gak punya otang tua Bobi malu pa.”
Papa:
“Huss sudah stop jangan dilanjutkan. Tinggal sarapan aja susah kalo emang gak
mau sarapan ya udah. Gak tau apa papa juga lagi sibuk. Ini semua untuk kamu
siapa yang membiayai kuliah kamu? Siapa yang ngasih jatah bulananmu? Cari
sendiri kamu? Sudahlah intinya kami begini juga untuk masa depanmu.”
Bobi:
“Tapi pa.”
Papa:
“Tapi apa lagi? Sudah, papa mau berangkat kekantor dulu nanti terlambat papa
gara-gara nanggepin kamu. (Mengambil tas dan bergegas pergi).”
Bobi:
“Arrrrkkkhhh apa ini yang namanya keluarga?”
Bibi:
“Den”
Bobi:
“Apa? Sudahlah den orang tua aden seperti itu juga demi kebaikan aden. Arrrkkkh
Sama saja bibi ini dengan mereka.”
Bibi:
(Menunduk) “Sarapan dulu den nanti aden sakit kalo tidak sarapan sebelum
berangkat kuliah.”
Bobi:
“Sudah bi sudah Bobi mau berangkat bilangin mama kalo dia pulang dan tanya aku
sarapan atau tidak, bilang den Bobi tadi pagi sarapan tanpa lauk kasih sayang.
Bobi berangkat Assalamualaikum.”
Bibi:
“Den den weladalah Waalaikumsalam.”
Beberapa mahasiswa
berpakaian hitam tampak melintas arak-arakan dengan motor kenalpot brong di
depan gerobak sampah bapak paruhbaya yang terlihat termenung duduk tepat di
bibir trotorar pinggir gedung.
Bobi yang saat itu yang
sedang kesal dengan perlakuan kedua orang tuanya berusaha kuliah dengan tanpa
memperlihatkan ekspresi kesalnya itu. Paginya sudah harus terenggut karena
harus merdebat dengan papanya sehingga harus masuk telat ke kelas.
Bobi:
“Aduh ngapain dosen-dosen itu berlarian udah tau telat ya udah terima kenyataan
aja kalo telat malah lari-larian. Tidak ingat umur apa? Kesandung malah masuk
rumah sakit tau rasa.” (Berjalan santai di trotoar sambil menghabiskan roti
pengganjal perutnya)
Bobi berniat membuang
bungkus rotinya ke gerobak tukang sampah namun tanpa sengaja menabrak punggung tukang sampah.
Bobi
: “Haduh..”
Tukang
sampah: (kaget) “Apa?”
Bobi:
“Maaf mau
titip pak.”
Tukang
sampah: :liat-liat dong kalo jalan nak-nak.”
Bobi:
“Lagian bapak waktunya
kerja malah tidur di pinggir
jalan gerobaknya
ditaruh di jalan lagi gak liat apa ada arak-arakan mahasiswa mau demo.”
Tukang
sampah: “Saya tidak tidur nak.”(mengangkat kepala)
Bobi:
“Itu ngapain kalo gak tidur mata bapak merah gitu. Nangis? Memang belum gajian?
Tukang
Sampah: Bagaimana nasib negara ini.” (Menggelengkan kepala seolah tak peduli
ocehan mahasiswa)
Bobi:
“Aduh pak pak ngapain mikir negara udah ada yang mikir.”
Tukang
Sampah: “Siapa?”
Bobi:
“Ya mereka pejabat-pejabat itu.”
Tukang
Sampah: “Terus menurutmu kita tidak boleh memikirkan wakil-wakil kita itu?”
Bobi:
“Alah ngapain pak.. pak mikir keluarga sendiri-sendiri aja gak becus.”
Tukang
sampah: “Indonesia Indonesia. Pantas saja! mahasiswamu aja kaya gini.”
(Menggelengkan kepala kembali dengan tatapan tajam kepada mahasiswa)
Bobi:
“Apa maksud bapak? Mahasiswa tugasnya kuliah pak kalo nilainya bagus bisa
nggantiin orang-orang di atas sana nanti biar gak kaya sekarang.” (Membalas tatapan tajam
si bapak)
Tukang
Sampah: “Apatis.” (Dengan suara lantang)
Bobi:
“Alah buang-buang tenaga pagi-pagi debat sama orang tidak berpendidikan sudah
pak jangan nambah-nambah masalah otakku ini sudah muntah-muntah dijejali
masalah terus.” (Melangkah meninggalkan bapak tukang sampah)
Tukang
sampah: “Kau belum pernah merasakannya nak. Kalau memang kau yang akan menggantikan orang-orang di
atas sana bapak hanya berdoa semoga 98 tak lagi terjadi.”
Bobi:
(Terdiam) “Apa maksudmu? Aku juga tau ORBA pak.”
Tukang
sampah: “Tapi kau tak merasakannya.”
Bobi:
(Membalikkan badan) “Sekarang beda sama dulu.”
Tukang
sampah: “Sama saja kalau penerus bangsa ini apatis sepertimu. Teman-temanmu
sedang memperjuangkan suara-suara orang kecil di sana.”
Bobi:
“Buang-buang waktu aja mereka palingan juga belum ngerjain tugas alesannya
demo. Mereka yang di sana hanya orang-orang bodoh, belum lagi kalo anarkis. Mengurus
dirinya sendiri sama keluarganya aja belum mampu sok-sokan ngurus negara.”
Tukang
sampah: “Masih mending mereka orang-orang bodoh tak pernah mengerjakan tugas
tapi peduli nasib bangsa ini peduli sama rakyat cilik. Timbang kau pintar tak
pernah mempedulikan nasib bangsa dan orang kecil seperti kami. Lantas apa
bedanya kau sama yang di atas sana?”
Bobi:
“Kenapa tidak bapak saja sana berangkat demo? Dasar orang kuno pake
nyama-nyamain dengan 98. Palingan tahun 98 bapak demo cuman karena dibayar. Buruh-buruh.”
Tukang
sampah: “Jaga mulutmu. Kami dulu aksi tanpa dibayar kau tau. Aksi kami
benar-benar menginginkan revolusi. Negara kita ini negara demokrasi. Kekuasan
terbesar berada di tangan kita bukan para wakil yang pinter tapi minteri itu.”
Bobi:
“Bicara apa bapak ini sok sekali pake demokrasi demokrasian lagi aku lebih tau
pak pernah juga diajar itu.”
Tukang
sampah: “Aku memang tak pernah sekolah sepertimu tapi akulah saksi
mahasiswa-mahasiswa sepertimu tampil terdepan membela hak kami hak para buruh
kala itu. Kami juga saksi 3 anak seumuranmu ditembak mati karena memperjuangkan
hak kami. Kau ini mahasiswa tak tau terimakasih tak bakal kau kuliah sebebas
ini tanpa perjuangan mereka.”
Bobi terdiam tak bisa
berkata-kata lagi. Langsung duduk lemas sejajar dengan sang tukang sampah
persis di bibir trotoar sambil menundukan kepala.
Bobi:
“Ayolah pak aku sudah capek dengan semua ini banyak sekali masalah
keluargaku jangan ditambah lagi tolong.”
Tukang
Sampah: “Kenapa dengan keluargamu nak?”
Bobi:
“Mereka sudah tidak peduli padaku, mereka lebih mementingkan pekerjaan mereka
yang katanya untuk masa depanku.”
Tukang
Sampah: “Sabar nak satu yang harus kau ingat kamu juga punya keluarga besar
diluar keluargamu yang kau maksud itu. Barangkali mereka akan sadar ketika kamu
berguna untuk keluarga besarmu diluar sana. Kita semua adalah keluarga nak
tanpa kau sadari. Kita Indonesia kita satu kita disini berkeluarga.”
Bobi:
“Maksud bapak?”
Tukang
Sampah: “Tak perlu ku jelaskan lebih jauh kuarasa kau tau apa yang harus kau
lakukan. Mahasiswa takut pada dosen. Dosen takut pada rektor. Rektor takut pada
menteri. Menteri takut pada Presiden. Dan yakinlah Presiden takut pada
mahasiswa sepertimu.”
Bobi segera lari menuju
arah mahasiswa arak-arakan dan seolah-olah tak mau lagi mendengar ocehan tukang
sampah sok tau itu.
Berita TV: Hari ini rapat paripurna
dilaksanakan di gedung DPR.
Bobi: “Yang aku tahu kala itu otakku
dipenuhi masalah keluarga.”
Berita TV : Hari ini juga hari tani,
dimana petani dan buruh juga melakukan demonstrasi menentang RUU pertanahan.
Bobi: “Perlahan-lahan kami mencoba
menyuarakan suara kami arak-arakan, orasi, dan nyanian-nyanyian pembelaan terus
menggema.”
Berita TV : Ditambah lagi para
mahasiswa yang menuntut keadilan kepada pemerintah untuk menolah RKUHP dan
membatalkan RUUKPK.
Bobi: “Berjam-jam kami menunggu agar
mereka keluar dan mau derdiskusi dengan kami namun taka ada jawaban sama
sekali.”
Berita TV : Dibeberapa kota besa di
Indonesia seperti Medan, Lampung, Yogyakarta, Solo, Malang, dan Jakarta
tentunya, Sejarah mencatat kembali Sejarah besar dimana pergerakan mahasiswa
menolak sikap DPR.
Bobi : “Brigade pengamanan tetep berdiri tegak
seolah tak peduli dengan apa yang kami lakukan.”
Berita TV : Tadi sempat bebrapa kali
gas air mata dilemparkan petugas untuk memukul mundur para mahasiswa yang
berusaha masuk ke gedung DPR.
Bobi: “Sampai pada salah seorang
dari belakang mencoba mendobrak brigade polisi dan berusaha masuk gedung dengan
paksa. Sontak yang lain mengikuti dan berusaha untuk masuk ke gedung DPR namun
tim keamanan tidak tinggal diam. Yang aku tahu sebelum aku benar benar tak tau
sekomplotan dari mereka menembakan sesuatu ke udara dan sebagian menyemprotkan
air dari mobil pemadam. Sontak seluruh pendemo lari termasuk aku, karena mataku
tak lagi bisa melihat dan seolah didorong ombak besar yang membuat pendemo
porak poranda. Dan ketika kuberlari menjauhi gedung itu dengan mata buta dan
AAAAKKKKHHHHHHHHHHHHH.”
Keluar dari mobil sepulangnya dari rumah sakit tempat ayah dan anak itu dirawat,
Bobi yang tak berdaya itu dibopong ibunya mesuk rumah begitu juga sang ayah
yang harus dibopong bibi. Tak ada sepenggal percakapan pun lahir dari mulut
mereka selama perjalanan menuju kamar. Naas tenaga sang ibu dan bibi hanya
sanggup membopong mereka sampai ruang tamu sehingga harus beristrirahat sejenak
meskipun sebenanrnya Bobi ingin langsung
masuk kamar saat itu.
Ibu:
“Istirahat sebentar nak duduk dulu.”
Bobi:
“Bobi langsung ke kamar aja ma.”
Ibu:
“Ayo lah nak istirahat sebentar saja ibu tidak kuat jika harus membopongmu
sampai lantai dua jika tidak istirahat dulu.”
Bobi:
“Bobi pengin langsung ke kamar ma mau istirahat.”
Ibu:
“Iya sabar bob mama masih capek.”
Papa:
“Bobi apa salahnya istirahat sebentar kasian ibumu capek.”
Bobi:
“Kapan lagi Bobi diperhatikan kalo gak
dalam keadaan kayak gini pa.
Papa:Huss
ngomong apa kamu Bob.”
Ibu:
“Bobi.”
Bobi:
“Iya kan? Iya kan bi?”
Papa:
“Bobi ayolah dalam keadaan seperti ini masih sempat-sempatnya kamu bicara
seperti itu kepada kedua orang tuamu.”
Bobi:
“Hloh apa salahnya pa emang kenyataannya begitu. Coba kalo kita tidak tertimpa
musibah kaya gini kapan papa sama mama peduli sama Bobi?”
Ibu:
“Bobi apa-apaan sih kamu itu kita seperti ini demi kamu juga.”
Bobi:
“Tapi bukan harus mengorbankan rasa kasih sayang kedua orang tua kepada anaknya
juga kan?”
Ayah:
“Stop Bobi stop. Ocehanmu semakin membuat tubuh papa sakit stop.”
Bobi:
“Memang sepertinya tubuh papa harus begini dulu supaya bisa duduk dan sedikit
mendengarkan anaknya berbicara.”
Ibu:
“Astagfirullah stop Bob stop.”
Papa:
“Anak kurang ajar.”(Nada meninggi)
Bobi:
“Yaa Bobi berharap aja papa sama mama bisa berubah setelah kejadian ini.”
Papa:
“Aslinya semua ini gara-gara kamu. Ngapain kamu ikut-ikutan demo-demo segala
belajar aja jarang gitu sok-sokan mau jadi aktivis pake ikut-ikut demo lagi.”
Bobi:
“Kok salah Bobi? Orang yang nabrak Bobi ayah.”
Ayah:
“Iya tapi kalo kamu tidak ikut-ikutan demo gk jelas itu gak mungkin kejadian
ini terjadi.”
Bobi:
“Apa salahnya oarng demo pa? Tau gitu jadi aktivis semenjak dulu Bobi.”
Ayah:
“Ngapain kamu mikir negara? Kuliah belum becus sok-sokan.”
Bobi:
“Bobi beruntung bertemu orang, itu yang menyadarkan Bobi bahwa Indonesia juga
keluarga Bobi. Bobi gak mau kalo keluarga besar Bobi pecah gara-gara salah
mengambil keputusan. Meski keluarga Bobi sendiri dalam kerusakan.”
Ibu:
“Sudah stop sudah ayah sama anak sama saja sudah stop jangan dilanjutkan. Bobi
kami tahu kami salah mungkin kejadian ini adalah teguran untuk kita. Maafkan
mama Bob mama sadar akhir-akhir ini ibu trlalu sibuk dengan pekerjaan mama
sehingga mama mengabaikan keluarga kecil kita.”
Bobi:
“Iya ma sudah Bobi maafkan kok. Bobi minta maaf juga jika selama ini seperti
anak kecil dan hanya mementingkan ego Bobi. Bobi hanya mau keluarga bobi
harmonis seperti sebelum-belumnya saja tidak lebih. Karena menurut Bobi negara
atau keluarga besar Bobi juga tidak akan sepenuhnya merdeka jika keluarga kecil
Bobi masih banyak masalah. Kemerdekaan dan kesuksesan suatu bangsa juga sangat
dipengaruhi harmonisnya sebuah keluarga kecil.” (Sambil memeluk ibunya)
Selesai
Profil
Penulis:
Penulis bernama Imam Jihadi Muslim.
Orang-orang biasa memanggil dengan sebutan Imam. Lahir di Ponorogo, 14 Mei
1998. Penulis merupakan anak tunggal dari kedua orang tuanya. Tempat tinggal
penulis berada di Desa Wilangan, kecamatan Sambit, Kabupatenn Ponorogo. Ia
pernah menempuh pendidikan di SDN Wilangan, SMP N 2 Sambit, dan SMK PGRI 2
Ponorogo, dan sekarang adalah mahasiswa aktif S1 Pendidikan Bahasa Sastra
Indonesia dan Daerah, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra Universitas
Negeri Malang angkatan 2017. Di samping menulis penulis juga hobi berolahraga.
Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi