NASKAH DRAMA MAAFKAN IBU!
MAAFKAN IBU!
Izdiharti
Husniyah
Drama keluarga
Tokoh
inti:
·
IBU
·
AYAH
·
LISA
Figuran:
·
BU IMAH
·
ORANG ITU
·
ANA
·
PAK SATPAM
BABAK 1
SETTING
MENAMPILKAN SEBUAH RUANGAN DENGAN PERABOTAN YANG SANGAT SEDIKIT. HANYA SEBUAH
KURSI TUA, TIKAR, DAN LEMARI. TERLIHAT SEORANG AYAH DAN IBU YANG MENGGENDONG
BAYINYA.
BAYI
TERUS MENANGIS
Ibu : (menenangkan bayi Ana yang menangis)
Sayang, tenang ya. Ush…ush…ush….
Ayah : Ana kenapa, Bu? (sambil duduk di tikar
memangku laptop)
Ibu : (Terlihat gelisah) Anak kita menangis
terus dari tadi, Yah. Susu formulanya sudah habis. (menggendong bayinya dengan
tidak tenang)
Ayah : (Mengetik di laptop) Ini juga Ayah lagi
berusaha menyelesaikan tulisan. Semoga bisa diterima dan bisa membeli susu buat
Ana.
Ibu : Yah, kasian Ana. (khawatir) Kalau
nunggu tulisan kamu, kapan Ana bisa makan?
Ayah : (Bangun lalu menuju ke Ibu) Sini, Bu, biar
Ayah gendong. Ibu coba buatkan air tajin untuk Ana.
Ibu : Baik, Yah. Tunggu ya sayang. (Berbicara
pada Ana lalu menyerahkannya pada suaminya)
IBU
PERGI KE DAPUR
Ayah : (menggendong dan berusaha menenangkan Ana)
TIBA-TIBA
ANAK BUANG AIR
Ayah : Ya ampun! (Panik) Bu, Ana gak pakai
pampers, ya?
Ibu : Ada apa yah? (Ibu datang berlari dari
dapur, lalu terkejut saat melihat ayah terkena air pipis Ana)
Ayah : Syukur saja dia gak BAB. (menidurkan Ana di
tikar dengan alas tempat tidur bayi)
Ibu : Ya ampun maafkan Ibu, Yah. Ibu lupa
bilang kalau Ana gak pakai pampers. (membersihkan Ana) Soalnya pampers Ana juga
habis, Yah. Beras di dapur juga tinggal sedikit.
Ayah : Mau bagaimana lagi, Bu. Sabar dulu saja.
Biar ayah cari cara.
Ibu : Yah, tolong ambilkan air tajinnya di
dapur.
AYAH
MENUJU KE DAPUR. BAYI ANA MASIH MENANGIS.
Ayah : Ini, Bu. (memberikan air tajin)
Ibu : Ini sayang diminum, ya. Cup… cup… cup….
(menyuapi bayi Ana)
BAYI
ANA MULAI TENANG.
Ayah : (kembali bekerja di laptop)
Ibu : Yah, gimana kalau Ibu bekerja juga?
(tanya Ibu sedikit ragu)
Ayah : Sudah, fokus saja urus anak-anak. Kamu itu
baru saja melahirkan, masa mau kerja.
Ibu : Tapi coba lihat keadaan kita, Yah?
(bicara agak meninggi)
Ayah : Ayah juga tahu. Tapi kasian juga Ana. Dia
masih bayi. Siapa yang urus?
Ibu : Kan ada kamu, Yah.
Ayah : (menghentikan pekerjaan) Bu, ayah lagi
nulis. Harus fokus. Kamu suap saja dulu Ana. Nanti baru ngobrol. (kembali
mengetik)
SUASANA
HENING KEMBALI. SESEKALI BAYI ANA MENANGIS DAN IBU MENENANGKAN DAN
MENGGENDONGNYA.
Ibu : Yah.
Ayah : Iya.
Ibu : Lisa sebentar lagi mau wisuda
sekolahan. Dia harus beli baju, make up, dan patungan untuk acara di sekolah.
Ayah : (hanya menghela napas)
Ibu : Ibu besok kerja saja, ya?
Ayah : Kamu mau kerja apa? (sedikit kesal dan
lelah meladeni istrinya)
Ibu : Belum tahu, Yah. Biar besok Ibu
sekalian cari-cari.
Ayah : (Menutup laptopnya lalu diam berpikir
sejenak) Kita pinjam dulu saja uang di Pak Bambang atau Bu Imah?
Ibu : Malu lah, Yah. Kita kemarin sudah
pinjam banyak. Belum dikembalikan masa mau pinjam lagi.
Ayah : Tapi gak baik Bu kalau kamu bekerja. Pasti
ada cara lain. Biar Ayah cari pekerjaan tambahan.
Ibu : Tapi kan Ayah sudah tanda tangan
kontrak sama koran itu. Kalau Ayah keluar atau tulisannya gak bagus karena
kerjaan lain. Malah tambah menambah masalah, Yah.
Ayah : (mengelus kepalanya yang terasa sakit
karena pusing memikirkan masalah keluarganya)
TIBA-TIBA
PINTU DIKETUK.
Bu
Imah: Assalamualaikum…
Ibu : Waalaikumussalam… Yah, itu sepertinya
Ibu Imah. Gimana nih, kita belum ada uang untuk bayar utang.
Ayah : Ayah persilahkan Ibu Imah masuk dulu, ya.
Nanti kita jelaskan saja keadaan kita.
Bu
Imah: BU RETNO! Ini saya Bu Imah… (Sedikit teriak)
Ayah : Iya, Bu. Sebentar. (menuju ke pintu depan)
Ayo, Bu, silahkan masuk dulu.
Bu
Imah: Gak usah, Pak. Ibu Retnonya ada, Pak?
Ayah : Ada, Bu. Di dalam. Sedang mengurus Ana.
Maklum dari tadi rewel.
Bu
Imah: Mohon maaf nih ya, Pak. Saya ke sini mau nagih utang Bu Retno beberapa
bulan yang lalu.
Ibu : (menuju pintu depan) Aduh, Bu. Saya
minta maaf. Keluarga kami belum punya uang untuk membayar utang. Apa bisa
diperpanjang lagi waktu pengembaliannya, Bu? (sambil menggendong bayi Ana,
berbicara sedikit memelas)
Bu
Imah: Gimana ya Bu Retno. Suami saya sekarang sedang sakit. Saya butuh uangnya
sekarang.
Ibu : saya minta maaf sebesar-besarnya, Bu.
Andai kami punya, sekarang pasti sudah kami bayar.
Ayah : Istri saya besok mau coba cari kerja. Nanti
kalau ada penghasilan tambahan pasti kami cicil secepatnya, Bu. (memohon)
Ibu : (terkejut) Yah?
Ayah : Kalau Bu Imah tahu lowongan pekerjaan apa
saja. Kabari kami ya Bu.
Bu
Imah: (wajah kecewa) Ya ampun, Bu. Lain kali jangan seperti ini, ya. Kami
bukannya tidak mau membantu. Tapi kami juga punya kebutuhan.
Ibu : Iya, Bu. Sekali lagi kami minta maaf.
Kami janji setelah dapat pekerjaan. Hasilnya kami pakai untuk menyicil utang
kami.
Bu
Imah: O ya sudah kalau begitu. Saya pamit dulu. (sedikit kesal)
Ibu : Iya, Bu. Makasih banyak. (agak lega)
Bu
Imah: (saat hendak berjalan keluar ia pun berbalik kembali) Oya, kenalan suami
saya lagi cari orang yang mau jadi agen penjualan rumah. Kamu coba daftar.
Syaratnya gak harus muluk-muluk kok.
Ibu : Baik, Bu. Terima kasih. Saya mau, Bu.
Apapun itu. Yang panting bisa membantu keluarga saya.
Ayah : Terima kasih banyak, Bu.
BU
IMAH PUN MENINGGALKAN RUMAH MEREKA. AYAH DAN IBU SALING BERTATAPAN DENGAN
BINGUNG DAN KHAWATIR
Ibu : Yah, ini bener?
Ayah : Bener apanya?
Ibu : Ayah tadi bolehkan Ibu kerja.
Ayah : Ya, mau bagaimana lagi, Bu. Ayah harus
meyakinkan Bu Imah.
Ibu :Kalau gitu nanti sore Ibu akan ke
rumahnya Bu Imah. Untuk minta alamat kenalan suaminya itu.
Ayah : Loh, Ibu yakin? (khawatir)
Ibu : Iya, Yah. Ini kan demi keluarga kita
juga.
Ayah : Tapi pekerjaan itu berat, Bu. Biar Ayah
saja.
Ibu : Aku tidak pernah bisa memberikan ASI
untuk Ana. Mungkin dengan bekerja seperti ini, setidaknya aku melakukan sesuatu
untuk anak kita, Yah.
Ayah : (memeluk Ibu) Maafkan Ayah, ya Bu.
Ibu : (Balas memeluk ayah) Gak apa-apa, Yah.
Aku titip Ana dan Lisa, ya.
KEDUANYA
SALING BERTATAPAN LALU TERSENYUM.
BABAK 2
HARI
PERTAMA, DI PAGI HARI.
Ibu : Ayah, Ibu pergi dulu! Ibu titip
anak-anak, ya. Assalamualaikum… (menyalimi tangan ayah dan mencium bayi Ana
digendongan suaminya)
Ayah : Iya, sayang. Hati-hati, ya. (mencium kening
istrinya)
Ibu : Lisa, sini cepat biar berangkat sama
Ibu.
Lisa : Iya, Bu.Tunggu… (sambil berlari ke arah
ibu)
Ibu : Ayo, berangkat.
Lisa : Daaah, Ayah, Ana…. (melambaikan tangan ke
ayah dan adiknya)
Ayah : (melambaikan tangan dan menggerakkan tangan
bayi Ana)
HARI
KELIMA, DI MALAM HARI. TERLIHAT AYAH SEDANG DUDUK DI DEPAN LAPTOP, MENGETIK.
Ibu : Assalamualaikum… (membuka sepatu lalu
langsung duduk di sofa)
Ayah : Waalaikumusalam… (sambil berjalan mendatangi
ibu, lalu duduk di sebelahnya) Ibu malam sekali pulangnya. Sudah makan?
Ibu : (Ibu mencium tangan ayah) Belum, Yah.
Tadi padat sekali jadwalnya. Banyak rumah yang harus dijual. Ibu harus keliling
kota mendatangi calon pembeli, lalu memperkenalkan rumah-rumah itu (suara lemah
kurang tenaga)
Ayah : (Menghela napas) Kamu sudah bekerja keras
(tersenyum pada ibu seraya menepuk pundaknya). Oya, di dapur hanya ada 1 tempe,
Bu. Nasinya juga tinggal sedikit. Ayah masak pakai uang royalti puisi Ayah, 30
ribu.
Ibu : Iya, gak apa-apa, Yah. Ana dan Lisa?
Ayah : Gak usah khawatir. Ana dan Lisa sudah tidur
dari tadi. Kamu makan dulu, ya.
Ibu : Iya. (tersenyum pada ayah)
KEDUANYA
BERJALAN MENUJU KE DAPUR.
HARI
KE SEPULUH, DI PAGI HARI. SEMUA ORANG TERLIHAT SIBUK.
IBU
SIBUK MEMASUKKAN BARANG-BARANG KE TAS, MEMPERBAIKI DANDANAN, MEMAKAI SEPATU.
SEMENTARA LISA JUGA SIBUK BERSIAP KE SEKOLAH. AYAH SEDANG SIBUK MENCUCI BAJU DI
BELAKANG RUMAH.
Lisa : Ibu, topi upacara Lisa di mana, ya?
(dengan panik berlari ke arah ibu)
Ibu : (menjawab dengan sedikit kesal karena
sedang panik terburu-buru) Ibu gak tahu, Lisa. Coba tanya ayah sana.
Lisa : (berlari ke arah ayah) Ayah lihat topi
upacara Lisa, gak?
BAYI
ANA MENANGIS.
Ayah : Lisa, lihat ayah lagi sibuk? Makanya
selesai dipakai ya simpan yang baik. (sedikit marah juga pada Lisa karena panik
bayi Ana menangis)
Ibu : (sedikit berteriak) Ayah... Ana nangis.
Cepat lihat. Mungkin lapar atau pup.
Ayah : (buru-buru meletakkan cuciannya) Iya Ana…
tunggu.
Lisa : Yah, Ayah? (cemberut) Hmm….
Ayah : (mendatangi Ana, memeriksa pampersnya, Lalu
menggendongnya) Ana lapar, ya? (sambil menggendong bayi Ana, ayah mengambil
botol susu, lalu menyuapi Ana). Maaf ya sayang, kamu masih harus minum air
tajin sesekali. Kita harus berhemat susu, sayang. (tersenyum sedih melihat
anaknya) Kamu tunggu ya nanti setelah ibu mendapat gaji. Kamu harus minum susu
yang banyak. Kamu harus tumbuh sehat dan pintar, ya. (mencium kening bayi Ana)
TELEPON
IBU BERDERING.
Ibu : (sambil berbicara di telepon) Iya,
baik, Pak. Saya akan segera ke sana. …. Apa? Mau ke sini? (terkejut dan reflek
menutup mulutnya) Baik, Pak, saya akan segera keluar. (dengan terburu-buru
mengambil tas lalu berlari keluar) Ibu pergi dulu, Ya. Assalamualaikum…
(sedikit berteriak dan menutup pintu dengan keras).
Lisa : Ibu, tunggu! (Lisa kaget karena
ditinggal. Ia kembali cemberut) Huh, sudah 3 kali ibu tinggalin aku berangkat
sendiri. Padahal kemarin-kemarin setidaknya kita masih keluar rumah bareng.
LISA
MENGAMBIL SEPATU DAN TASNYA.
Lisa : Ayah, Lisa berangkat dulu. (berlari
menuju ke ayah)
Ayah : Iya, Sayang. Sst… Ana sudah tertidur.
(meletakkan bayi Ana) Astaga, tadi ayah masak sayur di belakang. (berlari ke
arah dapur, namun sesaat berhenti dan melihat ke arah Lisa) Lisa berangkat dah
sana. Nanti terlambat. Daah… (melambaikan tangannya sambil berlari kecil ke
dapur).
Lisa : (terdiam mematung, terkejut) kenapa sih orang-orang belakangan
ini? Biasanya juga kita cium tangan dulu sebelum pergi. Fuh…, ya sudahlah. Aku
sudah telat. (berlari ke luar dan membanting pintu, kesal)
HARI
KEDUA PULUH.
HARI
SUDAH MALAM PUKUL 20.00. SETTING BERTEMPAT DI SEBUAH SEKOLAH. ANAK-ANAK SEKOLAH
TERLIHAT RAMAI KARENA WAKTUNYA PULANG. NAMUN SEMAKIN LAMA, SEMAKIN SEPI KARENA
ANAK-ANAK SEMUA SUDAH PULANG. TINGGALAH LISA SEORANG DIRI
Lisa : (Menelepon ayah) Ayah, Lisa sudah pulang.
Acara foto-foto kelasnya sudah selesai. Sudah malam, gak ada angkot, Yah.
Ayah : (Di seberang telepon ayah sambil
menggendong Ana, Ayah bekerja di depan laptop) Lisa, coba telepon Ibu. Ayah
sedang sibuk mengurus Ana, Ayah juga lagi ngejar deadline, nih. Ibu juga belum
pulang. telepon Ibu, ya. Dadah… (Ayah langsung menutup telepon ana)
Lisa : Loh, Ayah? Ayah? Loh kok dimatikan. Terus
aku gimana? (Wajah ingin menangis. Namun ia langsung mengetik nomor di hapenya
dan menelepon ibunya)
Ibu : (Terdengar suara ibu dari seberang
sana) Lisa, maafkan Ibu, ya. Ibu masih bekerja jadi belum bisa menjemput kamu.
Kamu telepon Ayah, ya. (Telepon dimatikan)
Lisa : Orang-orang semuanya kenapa? Aku telepon
ayah gak bisa. Telepon ibu juga gak bisa. Aku harus bagaimana? Aku takut di
sini. (menangis) Kenapa ya, semenjak ada Ana, Ayah dan Ibu sudah tidak peduli
lagi sama aku. Apa mereka sudah gak sayang lagi sama aku? (merengut).
Satpam:
(Menghampiri Lisa) Dek, gak ada yang jemput?
Lisa : (Sesenggukan) Iya, Pak. Saya bingung gak
tahu harus bagaimana. Saya takut kalau harus pulang sendiri. Padahal biasanya
Ayah menjemput. (menunduk sedih namun berusaha tetap tersenyum)
Satpam:
Kamu pulang sama saya saja, ya. Daripada kamu di sini atau pulang sendiri
semakin bahaya buat kamu.
Lisa : Loh, gak apa-apa, Pak? Saya pasti
merepotkan Bapak.
Satpam:
Gak merepotkan kok, Dek. Ini Bapak sekalian mau mampir beli kopi sebentar.
Lisa : Kalau gitu makasih banyak ya Pak.
MEREKA
BERJALAN PERGI
PAK
SATPAM MAMPIR UNTUK MEMBELI KOPI. NAMUN LISA SAAT ITU MELIHAT IBUNYA BERSAMA
PRIA ASING DENGAN SETELAN JAS MAHAL PULA MASUK KE SEBUAH TOKO JAM TANGAN.
BEBERAPA SAAT KEMUDIAN MEREKA KELUAR. KEDUANYA TERLIHAT SANGAT AKRAB SATU SAMA
LAIN. TERTAWA, MENGOBROL, BAHKAN MENEPUK LENGAN SATU SAMA LAIN. MEREKA LALU
MASUK KE DALAM MOBIL MEWAH DAN PERGI HANYA BERDUA.
Lisa : Itu kan Ibu. Ibu sama siapa? (mengamati)
Apa rekan kerja? Mengapa mereka hanya berdua di malam hari seperti ini?
Satpam:
Apa Lisa mau membeli sesuatu?
Lisa : (sedikit terkejut) Ah, tidak Pak. Tidak
usah.
Satpam:
Kamu melihat apa?
Lisa : Gak kok, Pak. Tidak ada apa-apa.
Satpam:
Ya sudah kalau gitu. Saya antar kamu pulang ya.
Lisa : Baik, Pak. (sambil masih melihat mobil
itu pergi)
DI
RUMAH.
Ibu : Assalamualaikum, Ibu pulang. (dengan
wajah lemas karena kecapean)
Ayah : Waalaikumussalam. Bu, kok lama sekali sih
pulangnya? (khawatir)
Ibu : Ya, namanya juga kerja, yah. (mencium
tangan ayah) sudah ya yah, ibu capek. Mau istirahat.
Ayah : Sudah makan malam?
Ibu : Sudah, Yah, tadi sama teman-teman.
Ayah : Makan di mana?
Ibu : Ada, di warung, daerah Tanggerang
Selatan, dekat rumah yang mau kita jual.
Ayah : Jauh banget, Bu.
Ibu : Ya begitulah yah.
Ayah : Ibu, yakin masih mau kerja? Kok kayaknya
berat sekali. Kamu setiap hari harus pergi pagi pulang malam seperti ini.
Kasian anak-anak.
Ibu : Iya, sayang, maafkan aku. Kamu tahu
sendiri kan aku terpaksa juga. Tapi ini kan demi anak-anak kita.
Ayah : Iya, tapi… (terlihat gelisah dan khawatir)
Ibu : Sudah… kamu percaya saja sama aku.
Sudah ya Yah. Aku mau istirahat.
Ayah : Yaudah.
TIBA-TIBA
LISA KELUAR DARI KAMAR.
Lisa : Ibu baru pulang? Dari mana, Bu? (nada
menginterogasi dengan curiga)
Ibu : Baru pulang kerja. Ada apa Lisa?
Lisa : Ibu tadi pulang sama siapa?
Ibu : Oh itu? Sama teman Ibu.
Lisa : (Melihat ke arah jari ibu) Loh, cincin
Ibu mana?
Ibu : Oh tadi… ibu dan teman-teman sempat
membantu mengangkat barang dan bersih-bersih rumah tadi. Jadi daripada jatuh
terus hilang, makanya ibu lepas.
Lisa : Tapi kan Ibu kalau bersih-bersih di rumah
gak perlu buka cincin kan?
Ibu : Emm… iya Lisa. Cuma tadi itu beda. Ibu…
(belum selesai berbicara)
Ayah : Lisa, Ibu baru pulang, mau istirahat, kok
begitu sih nanyanya. (heran dengan sikap Lisa)
Lisa : Ya, habisnya… ayah sama ibu nyebelin.
AYAH
IBU BERTATAPAN.
Ibu : Oh… karena masalah gak dijemput tadi? Maafkan
Ibu, sayang. Kan tadi Ibu masih kerja.
Ayah : Iya, maafkan Ayah juga. Ayah juga sebenarnya
gak mau tinggalkan kamu kayak tadi. Tapi Ayah terpaksa.
Ibu : Terus tadi jadi pulang dengan siapa?
(sambil menyentuh pundak Lisa)
Lisa : (Lisa menepisnya tangan Ibu dari
pundaknya) Sudah, gak perlu tahu. Oya, Lisa gak marah kok sama Ayah. Lisa Cuma
sedih.
Ibu : Lalu…
Lisa : Tapi Lisa marah sama Ibu… Ibu gak sayang
lagi sama Lisa. Ibu sudah gak peduli lagi sama keluarga kita, sama Ayah, sama
Ana.
Ibu : (Terkejut) Lisa?
Lisa : Ibu sedikit-sedikit kerja. Ibu sudah gak
kayak dulu lagi.
Ayah : Lisa bicara apa? (Ayah juga terkejut dengan
sikap Lisa)
Lisa : Kalau Ibu benar-benar sayang sama Lisa.
Ibu mending berhenti kerja.
Ibu : Loh, Ibu kan kerja buat kamu, sayang.
Lisa : Gak. Ibu macam apa yang kerja sampai
malam kayak gini? Sampai gak bisa jemput Lisa. (Lisa terlihat marah dan
wajahnya memerah) Tapi malah… (terhenti menatap ayah) Yah, Ayah harus tahu apa
yang Ibu lakukan di luar. Ibu…
Ibu : Lisa! (sedikit membentak dan memotong
kalimat Lisa karena tak sanggup mendengarnya lagi)
Ayah : (Bingung ingin merespon apa. Ayah langsung
meninggalkan tempat, pergi menuju ke kamar)
Lisa : (Lisa bingung dengan sikap ayah yang
tiba-tiba pergi begitu saja) Sudah Lisa mau tidur. Lisa gak mau ngomong lagi.
(menutup pintu kamar) Ibu juga gak perlu pergi-pergi atau diantar sama pria itu
lagi.
Ibu : Lisa! Lisa! (menggedor) Ibu kan benar-benar
kerja, Sayang. Pria siapa sih? (melihat ke arah Ayah yang mulai menutup pintu
kamar)
BABAK 3
PAGI
HARI YANG SIBUK KEMBALI HADIR DI KELUARGA KECIL MEREKA.
Ayah : Lisa tolong ambilkan baju ganti Ana di
kamar Ibu-Ayah.
Lisa : Iya, Yah. (langsung menuju kamar)
SEMENTARA
IBU SEDANG MEMBERI SUSU PADA ANA. DI KAMAR, LISA KEMUDIAN MENGAMBIL BAJU ANA.
NAMUN MATANYA TERTUJU PADA HP IBUNYA YANG TERUS BERGETAR. LISA LALU MEMBUKA HP
ITU.
Lisa : Pak Rama. Oh pasti teman kerja Ibu.
(namun tiba-tiba ia kaget setelah membaca apa isi pesan itu) ‘Nanti malam kita
ketemu di The Consulate, ya.’ Ya ampun, urusan kerja kok di restauran mewah
kayak gini. Ini pasti gak bener Ibu.
Ayah : Lisa… kok lama sekali, sih.
Lisa : (Buru-buru menyimpan HP. Lalu berlari
keluar) Ini, Yah. (menyerahkan baju Ana pada ayah).
Ibu : Ana sayang. Sekarang kamu sama Ayah,
ya. (berbicara pada bayi Ana) Ibu mau bersiap berangkat kerja dulu. Untuk beli
keperluan kamu juga. Kamu yang sabar ya. (mencium kening bayi Ana. Lalu
menyerahkannya pada suaminya)
IBU
LALU MENUJU KAMAR UNTUK BERSIAP. LISA MELIHATNYA DENGAN CURIGA. KARENA KEJADIAN
KEMARIN, IBU DAN LISA MASIH DALAM KETEGANGAN SATU SAMA LAIN.
Lisa : (menghampiri Ibu yang sedang berdandan)
Bu, mending Ibu berhenti kerja sekarang. Sekarang Ibu sudah jarang mengurusi
keluarga. Ibu selalu sibuk.
Ibu : Lisa, Ibu gak mau berdebat, oke?
Lisa : BU! Ibu dengarkan Lisa. Atau Lisa kasih
tahu ke Ayah. Apa yang Ibu lakukan di luar sana. (mengancam)
Ibu : Apa sih Lisa? Yang jelas dong kalau
ngomong.
Lisa : Bu, kok pura-pura gak tahu sih. Lisa tuh
kemarin lihat dengan jelas. Ibu pergi sama pria itu ke toko jam tangan berdua.
Ibu itu kerja sebagai agen. Ibu harusnya pergi sama tim, ke rumah, ke klien,
bukan ke toko jam tangan.
Ibu : (menghadap ke Lisa) Lisa sayang… kamu
mungkin salah lihat. Mungkin orang yang mirip.
Lisa : Enggak. Itu Ibu. Aku lihat dengan jelas.
Ayah : (datang menghampiri mereka berdua setelah
mendengar ada keributan antara keduanya) ada apa ini?
Ibu : Iya nih, Yah. Lisa sedang penasaran
dengan kerjaan Ibu.
Lisa : (wajah terlihat kesal sebab Ibu seperti
berpura-pura di depan ayah) Yah, Ibu pergi dengan pria itu. Lisa lihat sendiri,
Yah. Apalagi kemarin Ibu melepas cincinnya. Untuk apa lagi kan Yah kalau bukan
Ibu selingkuh?
Ibu : Gak Yah. Lisa mungkin masih marah sama
kejadian kemarin. Ibu juga sekarang jarang punya waktu sama keluarga. Wajar
saja jika Lisa salah paham, Yah.
Lisa : Lisa gak salah lihat, kok Yah.
Ayah : Lisa, sudah jangan bicara macam-macam. Kamu
sebentar lagi terlambat ke sekolah.
Lisa : Yah, Ayah… (sedikit kecewa dengan sikap
ayah yang tak merespon dirinya sedikit pun)
Ibu : (menyalimi tangan ayah) Yah, Ibu
berangkat dulu, ya. (tersenyum)
Ayah : Iya (tersenyum getir)
Lisa : Yah, Lisa juga pergi dulu, ya.
Assalamualaikum…
AYAH
PERGI DENGAN WAJAH MENUNDUK DAN TERLIHAT SEDIH.
SAAT
DI DEPAN RUMAH, SEBELUM MEREKA BERANGKAT. TELEPON IBU BERDERING. LISA MASIH
MEMAKAI SEPATU.
Ibu : (Melihat kiri-kanan, lalu sedikit
berbisik saat berbicara di telepon) Iya, halo…
Pria
itu : Kamu aku jemput ya.
Ibu : (Terkejut) Hah? (suara agak keras, lalu
kembali dipelankan setelah sadar) aduh gak usah, ya. Aku bisa berangkat
sendiri, kok.
Pria
itu : Aku jemput di rumah kamu ya, Sayang.
Ibu : (Pergi menjauh dari Lisa) Gak usah, gak
usah. Aku tunggu saja di butik kemarin, ya.
LISA
CURIGA DAN WAJAHNYA AGAK KESAL DENGAN SIKAP IBU. LISA YAKIN PASTI ITU TELEPON
DARI SELINGKUHANNYA. LISA MEMAKAI SEPATU DENGAN LEBIH CEPAT.
Pria
itu : Kenapa harus di sana sih? Kan aku
bisa jemput langsung di rumah kamu.
Ibu : (Wajahnya khawatir bila Lisa
mendengarnya) gak apa-apa kok, sayang.
Aku tunggu di sana, ya.
LISA
HANYA MELIHAT DARI JAUH. BERPURA-PURA TAK MENDENGAR DAN TAK MELIHAT APAPUN. IA
BERPURA-PURA SIBUK DENGAN BUKUNYA. TAPI IYA YAKIN ITU ADALAH SELINGKUHAN
IBUNYA.
Ibu : Lisa, kamu pergi sendiri, ya. Ibu
sedang buru-buru. Daah… assalamualaikum. (berlari pergi)
Lisa : (bangkit dari duduknya dengan wajah
sedikit kesal) Huh, aku yakin itu pasti selingkuhan Ibu. Tapi aku gak mungkin
langsung panggil Ayah tadi. Karena Ayah gak akan mau percaya sama aku. Ayah
pasti tetap membela Ibu. (menghela napas, raut wajah sedih, melihat ke dalam
rumah, ada ayah yang sedang bekerja di laptop sambil menjaga Ana di sampingnya)
Kasian Ayah… dia sudah berjuang buat keluarga. Kok Ibu tega sekali sih pada
ayah. (sambil berjalan untuk berangkat ke sekolah) Aku kecewa sama Ibu. Ibu
tidak seperti Ibu yang aku kenal. Hiks… (sedikit menangis, tapi ia mencoba kuat)
BABAK 4
HARI
SUDAH SORE. LISA BARU SAJA PULANG SEKOLAH. DI RUMAH TERLIHAT AYAH SEDANG PANIK
SAMBIL MENELEPON. BAYI ANA MENANGIS.
Lisa : Assalamualaikum… (Lisa bingung dan
terkejut dengan keadaan di rumah)
Ayah : Waalaikumussalam… (masih dalam keadaan
bingung dan cemas)
Lisa : Ada apa, Yah? (khawatir)
Ayah : Ana sakit, Lisa. Dari tadi dia nangis
terus. Ayah coba telepon ibu dari tadi kok gak diangkat-angkat. Ayah sudah
kehabisan uang hari ini kalau mau bawa Ana ke rumah sakit.
Lisa : Ya ampun, Yah. Maafkan Lisa, gara-gara
untuk acara perpisahan Lisa, uang Ayah jadi habis.
Ayah : Gak usah minta maaf, sayang. Itu memang
tanggung jawab ayah dan ibu. Uang itu memang untuk kamu. Cuma memang hari ini
sedang banyak keperluan. Bayar listrik, beli susunya Ana, beli beras, dan Ayah
gak menduga kalau Ana sakit hari ini.
Lisa : Ya sudah, Yah. Ayo kita bawa saja dulu
Ana ke rumah sakit. Biar Lisa yang sambil coba telepon Ibu.
TIBA-TIBA
PINTU RUMAH DIKETUK. BU IMAH DATANG.
Biografi Penulis
Izdiharti Husniyah, perempuan yang lahir dan besar di Bima, 06 Maret 1999.
Saat ini ia berkuliah di Universitas Negeri Malang sebagai mahasiswi jurusan
Sastra Indonesia. Menulis baginya adalah sarana untuk mencurahkan isi hati dan
pikirannya tanpa perlu terbebani oleh tuntutan tugas ataupun kewajiban. Cerpen
‘Senja Buta’ ini ia tulis untuk pertama kali lagi setelah sekian lama berhenti
dari kesukaannya menulis, sebab pencarian jati diri.
Jika pembaca ingin mengenalnya lebih jauh dan membaca tulisan-tulisannya
yang lain. Ia bisa ditemukan di blognya ninafairystory.wordpress.com dan bisa
kunjungi instagramnya di @ninaizdiharti.
Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi