NASKAH DRAMA MAJELIS LARA ATI
DRAMA SATU BABAK
“Majelis
LaRA ATI”
Karya Yohan FM
● Tokoh &
Penokohan:
-
Amar
-
Husni
-
Amin
-
Brudin
Drama dimulai dengan
memunculkan sebuah latar warung kopi, di sana duduk empat orang kawan, mereka
mengitari sebuah meja berbentuk persegi lengkap dengan 4 cangkir kopi dan
beberapa bungkus rokok di atasnya. Mereka ini adalah Amar, Husni, Amin, dan
Brudin. Ketika Husni, Amin, dan Brudin tengah asik mengobrol, tiba-tiba saja Husni
menyadari bahwa Amar dari tadi tampak diam saja tidak turut serta ngobrol
dengan mereka bertiga. Husni yang mengetahui ada yang berbeda dari sahabatnya
itu, memberikan isyarat dengan pandangan mata kepada Amin yang duduk sisi kiri
meja, Amin membalas dengan memandang balik. Husni berbisik menanyakan ada apa
dengan Amar, tetapi Husni hanya menjawab dengan gelengan kepala. Setelah itu,
gantian Husni yang melempar pandangannya ke arah Brudin yang duduk di depannya,
memanggilnya setengah berbisik dan bertanya apa yang terjadi pada Amar, tetapi
rupanya Bruddin juga tidak tahu, ia hanya membalas dengan memandang balik, lalu
dia melempar pandangannya ke arah Husni. Walhasil, mereka malah saling
memandang satu sama lain bergantian. Lantaran tak tahan, Husnipun mengambil
tindakan untuk menyadarkan Amar yang sedari tadi melamun....
Husni: (Melempar
sepuntung rokok yang masih menyala ke arah Amar yang tampak murung di depannya)
“Woi nglamun wae!”
Amar:
(Kaget dan mengumpat) “Asu! Gila kau, Ni! Rokok masih menyala gini dilempar ke
teman sendiri. Kalau mau membunuh mbok yo jangan tanggung-tanggung. Sekalian lemparkan
pisau atau linggis kalau perlu.”
Amin:
“Ha..ha..ha..akhirnya pisuhanmu
keluar juga.”
Brudin:
“Sudahlah bro, gak perlu dipikirin, gugurkan saja nanti masalah pasti selesai.”
Amar:
“Asu! Kau kira aku menghamili gadis?!”
Brudin:
“Loh tak pikir kau malah habis menghamili janda montok yang jaga warung kopi
dekat pasar legi itu.”
Amar:
“Nah kalo itu aku malah mau.”
Husni, Amin, Brudin:
“Jancuk!” (Nyeletuk secara bersamaan)
Husni:
“Ha..ha..ha..kau ini kenapa to, Mar? Kok dari tadi diam saja. Gak biasanya kau
diam saja begini, Mar.”
Amin:
“Betul itu, gak biasanya kau diam terus begini. Ada masalah apa? Ceritalah, kami
pasti tinggal ngobrol kok ha..ha..ha..”
Amar:
(Menghela nafas lalu menyulut sebatang rokok) “Gak lucu, cuk! Percuma juga, gak
ada gunanya nyritain masalah. Nyritain masalah itu gak bakalan buat masalah itu
selesai.”
Husni:
“Ya seenggaknya kan kalau kamu nyritain masalahmu, siapa tahu kami bisa bantu.”
Brudin:
“Benar, siapa tahu kalau kau memang habis menghamili janda penjaga warung kopi
itu, kami bertiga bisa patungan biar anak hasil hubunganmu dengan dia punya
adik lagi, ha..ha..ha..”
Amin:
“Mulutmu memang benar-benar rusak, Din! Tapi boleh juga sih ha..ha..ha”
Husni:
(Menggeleng-gelengkan kepala) “Sudah-sudah! Berhenti meledek teman kita. Wong ada
temannya sedang susah bukannya dibantu kok malah dibuat bahan guyonan. Kau ini kenapa,
bro? Ayolah cerita pada kami.”
Amar:
(Menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu menghembuskannya) “Apa pendapatmu tentang
kepercayaan yang disia-siakan, Ni?”
Husni, Amin, &
Bruddin: (Saling memandang satu sama lain)
Husni:
“Ha...ha...ha...owalah...jadi rupanya, kawan kita ini sedang patah hati toh.”
Amar:
(Menegakkan posisi duduknya seolah tidak terima) “Loh memangnya kenapa kalau
aku patah hati? Memangnya salah? Menurutku, jatuh hati dan patah hati itu malah
bukti kalau perasaan kita ini masih berfungsi loh.”
Brudin:
“Ha..ha...ha, kau betul, Mar. Aku gak nyalahin patah hatimu kok, cuman, kalau
lagi patah hati gitu ya gak usah dibawa ngopi bareng kita-kita begini, bikin
kopi jadi sepet aja rasanya.”
Amar: “Oh
jadi kau pengen aku pergi, gitu Din?”
Brudin: “Aku
gak ngomong gitu loh ya”
Melihat pembicaraan antara
Amar dan Brudin yang sepertinya mulai memanas, Husni mencoba menengahi...
Husni:
“Sudah-sudah! Kalian ini sudah tahu teman lagi sedih, bukannya dihibur, malah
diledekin terus. Kau juga Din, kalau mau ngomong itu dipikir dulu. Mulut sama
otak kok gak sinkron blas. Kalau gak mau bantu temanmu yang lagi susah, ya
seenggaknya gak usah bikin dia tambah susah. Monggo, dilanjut Mar! (Mempersilahkan
Amar untuk melanjutkan curhatannya) Kalian berdua dengerin Amar ngomong!”
Amar:
“Jawab saja pertanyaanku barusan, Ni!”
Husni:
“Hmmm, aku sendiri kurang paham perkara hati begini, Mar. Tapi menurutku,
kepercayaan itu meski disia-siakan, dia gak akan pernah benar-benar hilang,
cuman dia jadi rusak aja. Dan semua kerusakan itu pasti ada cara memperbaikinya.
Bener gitu to?”
Mendengar apa yang
dinyatakan oleh Husni, Amin yang sepertinya tidak setuju lantas membantah...
Amin:
“Ya gak mesti gitu Ni, masalahnya gak semua yang rusak itu bisa diperbaiki, ada
noh kerusakan yang gak bisa diperbaiki.” (sambil menunjuk dengan dagu ke arah
Brudin)
Brudin:
(Bingung dan menatap balik ke arah Amin) “Loh, maksudmu apa Min? Kok jadi aku
yang kena?”
Amin:
“Loh, kau ini gak sadar atau pura-pura goblok, Din?! Kau ini kan contoh nyata
kerusakan yang gak bisa diperbaiki.”
Husni:
“Aku kok gak paham maksudmu ya Min” (sambil menggaruk-garuk kepala)
Amin:
“Ha..ha..ha..iya Brudin ini kan akhlaqnya dari dulu rusak dan sampek sekarang
gak bisa diperbaiki.”
Husni, Amar, Amin:
(Tertawa terbahak-bahak)
Brudin:
(Melengos sebal)
Setelah tertawa
terbahak-bahak, Amar yang masih tampak murung saja kembali bertanya.
Amar: “Terus
Ni?” (memandang ke arah Husni)
Husni:
“Ya begitu kalau menurutku, Mar. Kepercayaan yang disia-siakan itu gak bakalan
benar-benar hilang, tapi cuma rusak. Kalau cuma rusak, itu artinya masih bisa
diperbaiki kan?”
Amin: “Tetap
aja gak bisa semudah itu Ni. Gak semua yang rusak itu bisa diperbaiki, kadang malah
minta buat diganti dengan yang baru. Kalaupun kerusakan itu bisa diperbaiki,
aku berani jamin, barang itu pasti gak bakalan berfungsi normal kayak dulu.”
Brudin: “Kalau
aku, kalau barangnya rusak dan masih bisa diperbaiki, ya diperbaiki. Nanti
kalau sudah bisa lagi, terus dijual lagi, dapat duit, ha..ha..ha..”
Amar, Husni, Amin: (Menatap
datar ke arah Brudin yang tertawa)
Brudin: “He..he..he..Piss
bro...damai bro..” (Meringis sembari mengacungkan jari telunjuk dan jari
tengah, tanda “peace”)
Amar: “Terus,
kalau kau yang digitukan, kira-kira sikap apa yang bakalan kau ambil? Kau dulu,
Ni.”
Husni: “Wah
susah ini, aku sendiri masalahnya gak paham cinta-cintaan begini, Mar. Kalau
aku ya kondisional sih. Kalo akunya sudah kadung cinta, ya mau gimana lagi,
Mar.”
Amin: “Itu
sama sekali bukan solusi, Ni.”
Husni: “Terus
menurutmu gimana?”
Amin: “Kalau
aku yang digitukan, meskipun mungkin aku sudah kadung cinta padanya, ya tetep
bakalan kutinggal lah.”
Husni: “Alasannya?”
Amin: “Gini,
Ni. Kepercayaan itu kan urusan hati, iya ndak?”
Amar, Husni, &
Bruddin: (Memperhatikan Amin dengan seksama) “Iyo,
bener Min!” (menjawab serempak sambil manggut-manggut).
Husni: “Terus?”
(menelisik)
Amin: “Sekarang,
kalau kepercayaan itu urusannya sama hati, kalau sampek orang yang kamu kasih
kepercayaan itu merusak kepercayaanmu, opo itu namanya ndak sama saja dengan
nglarani atimu to, Ni? Logikanya kan gitu.”
Amar, Husni, &
Bruddin: (manggut-manggut pertanda paham)
Brudin: “Bener
banget, aku setuju pol sama yang dikatakan Amin. Menurutku, Mar, kalo kamu
sampai ninggalin dia karena ngerasa sakit hati, ya wajar itu. Cuman, jangan
sampek setelah sakit hati, kamu terus lupa buat sembuh. Intinya, kamu boleh
sakit hati, Mar. Tapi jangan sampai sakit hatimu itu jadi luka yang
berkelanjutan.”
Mendengar apa yang
dikatakan oleh Brudin, Amin dan Husni tampak saling memandang satu sama lain.
Husni pun akhirnya beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Brudin...
Husni: “Tunggu
sebentar, Din!” (berdiri dan mendekati Brudin, lalu menyentuh dahi Brudin
dengan tempurung tangannya)
Brudin: (Berontak
dan berusaha membuang tangan Husni) “Apaan sih, Ni? Gak jelas banget!”
Husni: “Enggak,
Din. Ngecek aja kamu demam atau enggak. Kok tumben-tumbenan omonganmu bener.”
Amin: “Ha..ha..ha..iya
tumben sekali kau ini Din, Biasanya yang keluar dari mulutmu itu kan penyakit
semua isinya ha..ha..ha... Kopimu coba diminum, kayaknya kepahiten tuh, Din.”
Brudin: “Asu!”
(Mengambil sebatang rokok dan menyulutnya dengan muka sebal)
Amin: “Tapi
tunggu dulu, Mar. Kembali lagi ke dirimu sendiri, apa kamu ndak pernah mikir,
jangan-jangan, tanpa kau sadari, pacarmu begitu gara-gara perilakumu sendiri,
Mar. Hayo...”
Amar: “Maksudnya?
Perilakuku yang bagaimana?”
Amin: “Ya
pernah dekat dengan perempuan lain selain pacarmu misale”
Amar: (menerawang
dan berpikir sejenak) “Yo...pernah seh, tapi dia kan hanya teman biasa, Min,
ndak lebih!”
Amin: “Lah
itu, bisa saja pacarmu begitu berawal dari rasa cemburu seng ndak pernah dia
katakan, dan kaupun ndak sadar kalau dia ternyata sakit ati gara-gara itu.”
Amar: “Tapi
kan dia hanya teman biasa, Min. Sumpah ndak lebih!”
Amin: “Heh,
jancuk! Kau ini kok ngeyel terus to, mikiro yang bener! Bukankah perempuan yang
sekarang jadi pacarmu itu dulunya juga berawal dari teman biasa?! Mikir Mar!!
Mikir!! Dia itu perempuan, beda dengan kita para lelaki!” (emosi)
Amar, Husni, Bruddin: (hening......)
Perkataan Amin membuat
Amar, Husni, dan Bruddin diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Husni
yang tidak ingin rutinitas ngopi mereka rusak hanya gara-gara perdebatan yang
tidak perlu, akhirnya membuka percakapan agar suasana yang tiba-tiba beku tadi
segera mencair kembali, namun, alih-alih mencairkan suasana, ternyata malah timbul
lagi perdebatan baru dengan topik yang baru pula
Husni: “Sudah...sudah,
emosi gak boleh dibawa waktu ngopi. Ngopi itu ngopeni ati, jadi gak boleh ada
percekcokan yang membuat ati kita gak kopen.”
Bruddin: “Beginilah
cinta, penderitaannya tiada akhir” (menirukan gaya jenderal Tienpeng di film
Kera Sakti)
Husni: “Sudah
Mar, jangan terlalu dijadikan beban pikiran. Jodoh itu sudah ada yang ngatur,
domain kita sebagai manusia yawes cukup doa dan ikhtiar, sisanya pasrahkan
semua sama yang di atas.”
Bruddin: “Betul
itu! Jodoh itu urusan Tuhan, urusan kita ya ngopi kayak gini ha..ha..ha..”
Amar: “Gak
lucu blas Din guyonmu! Garing koyo karak!
Husni, Amin: (tertawa)
Amar: “Oh
iya Min, ngomong-ngomong, gimana hubunganmu sama pacarmu? Lancar?”
Amin: “Sejauh
ini lancar, menurutku dia ya tipe cewek yang setia sama pasangannya.”
Husni: “Kok
bisa kamu nilai gitu, Min? Tahu dari mana hayo? Siapa tahu di belakangmu
diam-diam dia selingkuh.”
Amin: “Ha..ha..hah...ya
gak bakallah dia gitu, wong setiap mau ke mana aja dia rajin ngasih kabar kok.”
Bruddin: “Sek
to..sek to...ya ndak bisa terburu-buru menjudge gitu lah, Min. Menurutku itu
rasa percayamu aja yang berlebihan.”
Amin: “Hallah,
kalian berdua ini jomlo tahu apa masalah beginian?” (tertawa meledek)
Amar: “Sebentar,
Min. Yang dibilang Husni sama Bruddin itu ada benere juga tak pikir-pikir. Bisa
jadi itu kepercayaanmu saja seng berlebihan. Di belakangmu, mana kamu tahu?
Kecuali kamu punya indera keenam alias bisa melihat yang ndak kelihatan.”
Amin: (diam
berpikir)
Husni: (mengambil
rokok lagi dan menyulutnya) “Jadi gini, Min. Kita main logika-logikaan aja wes.
Sebelume, aku pengen tanya, kamu setuju ndak kalo aku bilang gini; kita bisa
menyebut pasangan kita setia, gak lain sebenernya karena kita gak bisa
membuktikan kalo pasangan kita itu selingkuh. Setuju gak?”
Amar, dan Bruddin: “Setuju”
(sambil mengangguk)
Husni: “Kamu,
Min. Setuju gak?”
Amin: “Ya...ya..ya
setuju seh” (dengan raut muka ragu-ragu)
Husni: “Jadi,
sampai di sini apa yang bisa kita simpulkan?”
Amar, Amin, dan
Bruddin: (hening)
Waktu sudah menunjukkan
pukul 01.00 WIB, setelah hening kesekian kalinya. Suasana menjadi lebih beku
dari sebelumnya, semua sibuk sendiri-sendiri, sibuk dengan pikiran
masing-masing. Karena malam sudah semakin larut, dan warung kopi pun sudah
mulai sepi, mereka pun akhirnya bubar.
Husni: “Wes
larut rek, ayo pulang! Kalau masih lanjut ya monggo, aku tak pulang duluan,
besok ada kelas.”
Amar: “Sama,
ayo..ayo balik! Ayo balik Min, Din! Kalian gak balik to?”
Amin dan Bruddin: (berdiri
dari tempat duduk)
Setelah bersalaman
mereka pun menuju parkiran dan pulang ke rumah masing-masing
Lampu dimatikan, dan
backdrop di tutup.
Backdrop kembali di
buka pelan-pelan. Lampu menyala lagi tetapi redup saja. Latar diganti, dari
yang semula warung kopi, kini menjadi latar sebuah kamar, lengkap dengan
ranjang, meja di samping ranjang, lemari pakaian, dan perabot-perabot lainnya.
Adegan dimulai dengan
Amin yang membuka pintu kamar, dan membanting tubuhnya ke atas ranjang.
Wajahnya tampak memikirkan sesuatu, perkataan Husni rupanya masih
terngiang-ngiang di kepala Amin. Amin jadi berpikiran yang tidak-tidak kepada
pacarnya. Walhasil, semalam suntuk Amin tidak bisa tidur lantaran dirundung
cemas, ia uring-uringan sendiri, mengumpat-ngumpat sendiri di dalam kamar, “jangan-jangan
yang dikatakan Husni benar, jangan-jangan pacarku seperti yang dikatakan Husni,
di depanku saja menampakkan kesetiaannya, tapi di belakangku bermain api.” Guna
mengusir rasa cemas yang melanda hatinya, Amin berniat menelepon Eva, tetapi ia
urungkan.
Amin: “Arrkkhh....janccooookkk!!!
Kenapa to aku jadi bingung dan cemas sendiri begini. Gak mungkinlah Eva kayak
yang dibilang Husni, dia itu cewek yang setia. Buktinya, dia mau ke mana aja
pasti ngasih kabar (mengambil sebungkus rokok di saku, mengambil sebatang,
menyulutnya, lalu berdiri ke arah jendela, memandang ke luar)
“Tapi...apa
yang dibilang Husni itu yo banyak benarnya. (menghembuskan asap rokoknya) Kita
ini gak bisa bilang pasangan kita setia, ya ndak lain karena kita gak bisa
buktikan kalo dia selingkuh. Jangan-jangan selama ini, Eva itu sebenere sama
kayak yang dibilang Husni, ah asu! Aku jadi gak bisa tidur begini jadie, tak
coba telfon Eva wes, eh tapi ini sudah jam 03.00. Jam segini, banci dan
balon-balon ae ya wes pulang dari mangkal, pasti dia sudah tidur. Yasudahlah,
besok tak curhat ke Husni.”
Lampu dimatikan,
backdrop ditutup.
Lampu menyala kembali diiringi
dengan backdrop yang pelan-pelan terbuka. Drama di mulai dengan menampilkan
latar sebuah sebuah kelas, tampak di dalamnya ada dosen, dan
mahasiswa-mahasiswa yang sedang melaksanakan kegiatan belajar-mengajar. Semua
mahasiswa memperhatikan dosen yang sedang memberikan materi, termasuk di
antaranya adalah Amin.
Saat Amin tengah di
kelas dan memperhatikan dosen yang sedang menjelaskan materi, tiba-tiba HP yang
ia taruh di atas meja di sampingnya bergetar, rupanya Husni menelepon, Amin pun
bergegas mengangkatnya.
Amin: “Iya
Ni, ada apa? Ini aku lagi nek kelas sik an (setengah berbisik). Opo?! Yang
bener mulutmu, Ni!
(semua
mahasiswa lain di kelas melemparkan pandang ke arah Amin lantaran brisik
sendiri, Amin pun mengecilkan suaranya hampir setengah berbisik)
“Ndek
mana kamu lihat Eva boncengan ambek arek lanang? Oh keluar gerbang kampus, kamu
ndak kenal siapa arek lanange? Oh pakek masker, yawes aku tak izin keluar
alesan, kita ketemu di depan masjid. Oke-oke, makasih infone.”
Amin berkemas,
memasukkan buku dan pulpen ke dalam tas, dan beranjak maju ke depan, meminta
izin ke dosen untuk keluar lebih awal ...
Dosen: “Iya
Amin, ada apa?”
Amin: “Maaf
Pak, saya mau izin untuk pulang lebih awal.”
Dosen: “Loh
ada apa memangnya?”
Amin: “Anu
Pak, barusan dikabari, saudara saya kecelakaan, dan saya harus segera ke
lokasi, Pak. Karena dari pihak keluarganya gak ada yang bisa dihubungi.”
Dosen: “Hmmm...yasudah
kalau begitu, hati-hati.”
Amin: “Baik,
Pak. Terimakasih banyak (salaman), assalamu’alaikum.”
Dosen: “Wa’alaikumsalam.”
Amin keluar kelas...
lampu di matikan,
backdrop ditutup
Lampu menyala, backdrop
kembali di buka. Tampak latar bekalang sebuah masjid, Husni sedang menunggu
Amin di depannya. Dari kejauhan, Amin baru sampai dan berteriak memanggil
Husni.
Amin: “Ni!
Piye?”
Husni: “Woe,
cepet ke sini. Tak kasih tahu foto si Eva boncengan di jalan ambek cowok. Nih,
lihato!” (menyodorkan foto Eva di handphonenya)
Amin: “Asu!
Ternyata bener seng kamu bilang, Ni. Lah ini kamu dapat fotonya dari siapa?
Bukan dari tadi kamu ndek sini nunggu aku?”
Husni: “Tadi
aku langsung nelfon Amar & Bruddin. Ketepatan mereka lagi gak ada kelas,
langsung tak suruh ngikuti mereka. Tak kasih arah-arah, kemungkinan si Eva
lewat mana, mereka langsung gas ngikuti si Eva dari belakang.”
Amin: “Terus
sekarang mereka berdua di mana?”
Husni: “Nah,
belum ada kabar sampek sekarang, Min. Tak coba telfon dulu.”
Amin: “Iyo
cepetan!”
Husni menelepon Amar...
Husni: “Neng
ndi Mar? Piye perkembangane? Aman ta? Aman tah aman tah ndiasmu! Mereka tadi
akhire pergi ke mana? Oh ke kosse Eva, oh iyo-iyo. Jadi, cowoke tadi nganter
Eva pulang to. Terus-terus?! Owalah yawes ndangan ke sini!”
Amin: “Gimana,
Ni?!”
Husni: “Sabar!
Amar sama Bruddin mau ke sini katanya, nanti biar dijelasin sama mereka saja.
Tadi intinya, si cowok itu nganter si Eva pulang ke kosse.”
Amin: “Apa
aku telfon Eva saiki yo?!”
Husni: “Yo
janganlah cok! Kon kok goblok seh, kita belum ngerti kejadian tadi yang bener
gimana, yang tahu ya Amar ambek Bruddin. Lek sekarang kamu dedes si Eva, kamu
tanyai ini itu tentang cowok tadi, ya dia pasti bisa berkilah, minimal dia
pasti bisa alesan.”
Amin: “Tapi
kan tadi wes ada bukti fotonya, Ni!”
Husni: “Ya
masio, Min! Bisa saja Eva bilang kalo itu temennya, sepupunya, tukang ojol?!
Wes talah...tenangno pikiranmu dulu. Kita tunggu, Amar sama Bruddin datang
dulu, baru kita pikirkan kelanjutannya gimana. Kamu ini sebenarnya anak seng
cerdas, kritis pisan, tapi ternyata kalau sudah kena seng namany “cinta”, podo
ae, jatuhe tetep aja...”
Amin: “Tetep
opo?”
Husni: “Tetep
aja jadi goblok!”
Amin: (diam)
Selang beberapa lama
kemudian, datanglah Amar dan Bruddin setengah terengah-engah.
Amar dan Bruddin: (terengah-engah,
ngos-ngosan)
Husni: “Ambekan
sek, Mar! Ambekan sek!”
Amin: “Gimana
Mar, Din?”
Bruddin: “Ya
aman tah!”
Amin: “Aman
sikilmu metel! Aku tenanan ini, Din? Gimana tadi?”
Amar: “Jadi
gini, Min. Awalnya aku sama Bruddin sempat husnudzon, kalau itu mungkin ya cuma
temennya Eva. Masalahnya, pas mereka boncengan, mereka ya cuma boncengan biasa
gak ada mesra-mesrane blas, Min!”
Amin: “Alhamdulillah,
sudah tak bilang to kalo Eva gak mungkin kayak yang kalian bilang”
Bruddin: “Sek
ta lah, Min, sek! Belum selesai iki ceritane”
Amar: “Bener,
Min. Masih ada lanjutannya, tapi kamu ojo loro ati terus gantung diri kaya yang
viral di medsos yo! Nah, ternyata pas sampek kosnya si Eva, adegan mesra itu
baru muncul. Sebelum si cowok ini pulang, si cowok ini sempet disalimi sama si
Eva, pakek dicium tangannya. Terus si cowok ini nyium keninge Eva.”
Amin: “Jancok!
Cangkemmu seng bener, Mar! Gak mungkin Eva kaya gitu!” (sambil mencengkeram
kerah baju Amar)
Husni & Bruddin: “Tenang,
Min! Tenang! Gak kabeh opo seng kamu pengen iku sesuai harapanmu! Ini juga bukan salah Amar, dia cuma ngasih informasi
apa seng dia dapat tadi!”
Amar: “Lek
kon gak percoyo, nyoh! Ini loh aku ada bukti! Tadi aku sama Bruddin sempet
ngefoto adegan itu! Nyoh! Sawangen dewe! (sambil menyodorkan foto Eva yang ada
di handphone)
Amin: (melepas
kerah baju Amar, lalu meraih HP Amar)
Matanya berkaca-kaca, tangannya
gemetaran, pertahanannya mulai goyah. Amin akhirnya jatuh terduduk, dia tidak
bisa berkata barang sepatah kata pun, air matanya meleleh. Husni, Amar, dan
Bruddin duduk di samping Amin, menguatkan sahabat mereka yang telah hancur itu.
Husni: “Sudah,
Min. Sudah. Kami tahu hatimu hancur. Ingat, Min. Ini cukup dijadikan pelajaran.
Patah hati itu resiko jatuh hati. Sakit? Ya pasti, namanya aja patah. Kamu
berani jatuh hati, secara gak langsung, ya kamu sudah merelekan separuh dari
hati kamu minimal, buat sewaktu-waktu patah hati, Min.”
Amar: “Iya,
Min. Ini artinya, Gusti Allah sayang awakmu. Kamu dijauhkan dari orang yang
tidak baik buatmu!”
Bruddin: “Bener
apa seng dikatakan Husni sama Amara, Min. Gak ada suatu hal dalam hidup ini,
yang diambil Gusti Allah, kecuali Dia memberi penggantinya. Jadi, kamu seng
sabar, Min. Pasti kamu bakalan ditemokno ambek perempuan seng bener-bener tulus
mencintai kamu.”
Amin: (tertunduk
lesu)
Husni, Amar, Bruddin: (mengelus-elus
punggung Amin, sahabatnya)
Lampu dimatikan,
backdrop tertutup pelan-pelan, diiringi backsound lagu berirama melankolia.
~ TAMAT ~
Profil Penulis:
Yohan
Fikri M. Mahasiswa aktif di Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah
Universitas Negeri Malang. Aktif menulis puisi. Juara 2 lomba cipta puisi yang
diselenggarakan oleh “Pilihan Rakyat” dan “Penerbit Sulur.” Beberapa puisinya termuat
dalam Antologi 38 Penyair Ponorogo Babu
Tetek; Seibu Puisi (Penerbit Kuncup: 2018)” dan Antologi puisi Santri (Penerbit Sulur: 2019). dikunjungi di akun
Instragramnya @yohan_fvckry.
Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi