NASKAH DRAMA MAJELIS LARA ATI








DRAMA SATU BABAK
Majelis LaRA ATI
Karya Yohan FM













● Tokoh & Penokohan:
-          Amar
-          Husni
-          Amin
-          Brudin



















Drama dimulai dengan memunculkan sebuah latar warung kopi, di sana duduk empat orang kawan, mereka mengitari sebuah meja berbentuk persegi lengkap dengan 4 cangkir kopi dan beberapa bungkus rokok di atasnya. Mereka ini adalah Amar, Husni, Amin, dan Brudin. Ketika Husni, Amin, dan Brudin tengah asik mengobrol, tiba-tiba saja Husni menyadari bahwa Amar dari tadi tampak diam saja tidak turut serta ngobrol dengan mereka bertiga. Husni yang mengetahui ada yang berbeda dari sahabatnya itu, memberikan isyarat dengan pandangan mata kepada Amin yang duduk sisi kiri meja, Amin membalas dengan memandang balik. Husni berbisik menanyakan ada apa dengan Amar, tetapi Husni hanya menjawab dengan gelengan kepala. Setelah itu, gantian Husni yang melempar pandangannya ke arah Brudin yang duduk di depannya, memanggilnya setengah berbisik dan bertanya apa yang terjadi pada Amar, tetapi rupanya Bruddin juga tidak tahu, ia hanya membalas dengan memandang balik, lalu dia melempar pandangannya ke arah Husni. Walhasil, mereka malah saling memandang satu sama lain bergantian. Lantaran tak tahan, Husnipun mengambil tindakan untuk menyadarkan Amar yang sedari tadi melamun....

Husni: (Melempar sepuntung rokok yang masih menyala ke arah Amar yang tampak murung di depannya) “Woi nglamun wae!”
Amar: (Kaget dan mengumpat) “Asu! Gila kau, Ni! Rokok masih menyala gini dilempar ke teman sendiri. Kalau mau membunuh mbok yo jangan tanggung-tanggung. Sekalian lemparkan pisau atau linggis kalau perlu.”
Amin: “Ha..ha..ha..akhirnya pisuhanmu keluar juga.”
Brudin: “Sudahlah bro, gak perlu dipikirin, gugurkan saja nanti masalah pasti selesai.”
Amar: “Asu! Kau kira aku menghamili gadis?!”
Brudin: “Loh tak pikir kau malah habis menghamili janda montok yang jaga warung kopi dekat pasar legi itu.”
Amar: “Nah kalo itu aku malah mau.”
Husni, Amin, Brudin: “Jancuk!” (Nyeletuk secara bersamaan)
Husni: “Ha..ha..ha..kau ini kenapa to, Mar? Kok dari tadi diam saja. Gak biasanya kau diam saja begini, Mar.”
Amin: “Betul itu, gak biasanya kau diam terus begini. Ada masalah apa? Ceritalah, kami pasti tinggal ngobrol kok ha..ha..ha..”
Amar: (Menghela nafas lalu menyulut sebatang rokok) “Gak lucu, cuk! Percuma juga, gak ada gunanya nyritain masalah. Nyritain masalah itu gak bakalan buat masalah itu selesai.”
Husni: “Ya seenggaknya kan kalau kamu nyritain masalahmu, siapa tahu kami bisa bantu.”
Brudin: “Benar, siapa tahu kalau kau memang habis menghamili janda penjaga warung kopi itu, kami bertiga bisa patungan biar anak hasil hubunganmu dengan dia punya adik lagi, ha..ha..ha..”
Amin: “Mulutmu memang benar-benar rusak, Din! Tapi boleh juga sih ha..ha..ha” 
Husni: (Menggeleng-gelengkan kepala) “Sudah-sudah! Berhenti meledek teman kita. Wong ada temannya sedang susah bukannya dibantu kok malah dibuat bahan guyonan. Kau ini kenapa, bro? Ayolah cerita pada kami.”
Amar: (Menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu menghembuskannya) “Apa pendapatmu tentang kepercayaan yang disia-siakan, Ni?”
Husni, Amin, & Bruddin: (Saling memandang satu sama lain)
Husni: “Ha...ha...ha...owalah...jadi rupanya, kawan kita ini sedang patah hati toh.”
Amar: (Menegakkan posisi duduknya seolah tidak terima) “Loh memangnya kenapa kalau aku patah hati? Memangnya salah? Menurutku, jatuh hati dan patah hati itu malah bukti kalau perasaan kita ini masih berfungsi loh.”
Brudin: “Ha..ha...ha, kau betul, Mar. Aku gak nyalahin patah hatimu kok, cuman, kalau lagi patah hati gitu ya gak usah dibawa ngopi bareng kita-kita begini, bikin kopi jadi sepet aja rasanya.”
Amar: “Oh jadi kau pengen aku pergi, gitu Din?”
Brudin: “Aku gak ngomong gitu loh ya”

Melihat pembicaraan antara Amar dan Brudin yang sepertinya mulai memanas, Husni mencoba menengahi...

Husni: “Sudah-sudah! Kalian ini sudah tahu teman lagi sedih, bukannya dihibur, malah diledekin terus. Kau juga Din, kalau mau ngomong itu dipikir dulu. Mulut sama otak kok gak sinkron blas. Kalau gak mau bantu temanmu yang lagi susah, ya seenggaknya gak usah bikin dia tambah susah. Monggo, dilanjut Mar! (Mempersilahkan Amar untuk melanjutkan curhatannya) Kalian berdua dengerin Amar ngomong!”
Amar: “Jawab saja pertanyaanku barusan, Ni!”
Husni: “Hmmm, aku sendiri kurang paham perkara hati begini, Mar. Tapi menurutku, kepercayaan itu meski disia-siakan, dia gak akan pernah benar-benar hilang, cuman dia jadi rusak aja. Dan semua kerusakan itu pasti ada cara memperbaikinya. Bener gitu to?”

Mendengar apa yang dinyatakan oleh Husni, Amin yang sepertinya tidak setuju lantas membantah...

Amin: “Ya gak mesti gitu Ni, masalahnya gak semua yang rusak itu bisa diperbaiki, ada noh kerusakan yang gak bisa diperbaiki.” (sambil menunjuk dengan dagu ke arah Brudin)
Brudin: (Bingung dan menatap balik ke arah Amin) “Loh, maksudmu apa Min? Kok jadi aku yang kena?”
Amin: “Loh, kau ini gak sadar atau pura-pura goblok, Din?! Kau ini kan contoh nyata kerusakan yang gak bisa diperbaiki.”
Husni: “Aku kok gak paham maksudmu ya Min” (sambil menggaruk-garuk kepala)
Amin: “Ha..ha..ha..iya Brudin ini kan akhlaqnya dari dulu rusak dan sampek sekarang gak bisa diperbaiki.”
Husni, Amar, Amin: (Tertawa terbahak-bahak)
Brudin: (Melengos sebal)

Setelah tertawa terbahak-bahak, Amar yang masih tampak murung saja kembali bertanya.

Amar: “Terus Ni?” (memandang ke arah Husni)
Husni: “Ya begitu kalau menurutku, Mar. Kepercayaan yang disia-siakan itu gak bakalan benar-benar hilang, tapi cuma rusak. Kalau cuma rusak, itu artinya masih bisa diperbaiki kan?”
Amin: “Tetap aja gak bisa semudah itu Ni. Gak semua yang rusak itu bisa diperbaiki, kadang malah minta buat diganti dengan yang baru. Kalaupun kerusakan itu bisa diperbaiki, aku berani jamin, barang itu pasti gak bakalan berfungsi normal kayak dulu.”
Brudin: “Kalau aku, kalau barangnya rusak dan masih bisa diperbaiki, ya diperbaiki. Nanti kalau sudah bisa lagi, terus dijual lagi, dapat duit, ha..ha..ha..”
Amar, Husni, Amin: (Menatap datar ke arah Brudin yang tertawa)
Brudin: “He..he..he..Piss bro...damai bro..” (Meringis sembari mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah, tanda “peace”)
Amar: “Terus, kalau kau yang digitukan, kira-kira sikap apa yang bakalan kau ambil? Kau dulu, Ni.”
Husni: “Wah susah ini, aku sendiri masalahnya gak paham cinta-cintaan begini, Mar. Kalau aku ya kondisional sih. Kalo akunya sudah kadung cinta, ya mau gimana lagi, Mar.”
Amin: “Itu sama sekali bukan solusi, Ni.”
Husni: “Terus menurutmu gimana?”
Amin: “Kalau aku yang digitukan, meskipun mungkin aku sudah kadung cinta padanya, ya tetep bakalan kutinggal lah.”
Husni: “Alasannya?”
Amin: “Gini, Ni. Kepercayaan itu kan urusan hati, iya ndak?”
Amar, Husni, & Bruddin: (Memperhatikan Amin dengan seksama) “Iyo, bener Min!” (menjawab serempak sambil manggut-manggut).
Husni: “Terus?” (menelisik)
Amin: “Sekarang, kalau kepercayaan itu urusannya sama hati, kalau sampek orang yang kamu kasih kepercayaan itu merusak kepercayaanmu, opo itu namanya ndak sama saja dengan nglarani atimu to, Ni? Logikanya kan gitu.”
Amar, Husni, & Bruddin: (manggut-manggut pertanda paham)
Brudin: “Bener banget, aku setuju pol sama yang dikatakan Amin. Menurutku, Mar, kalo kamu sampai ninggalin dia karena ngerasa sakit hati, ya wajar itu. Cuman, jangan sampek setelah sakit hati, kamu terus lupa buat sembuh. Intinya, kamu boleh sakit hati, Mar. Tapi jangan sampai sakit hatimu itu jadi luka yang berkelanjutan.”

Mendengar apa yang dikatakan oleh Brudin, Amin dan Husni tampak saling memandang satu sama lain. Husni pun akhirnya beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Brudin...

Husni: “Tunggu sebentar, Din!” (berdiri dan mendekati Brudin, lalu menyentuh dahi Brudin dengan tempurung tangannya)
Brudin: (Berontak dan berusaha membuang tangan Husni) “Apaan sih, Ni? Gak jelas banget!”
Husni: “Enggak, Din. Ngecek aja kamu demam atau enggak. Kok tumben-tumbenan omonganmu bener.”
Amin: “Ha..ha..ha..iya tumben sekali kau ini Din, Biasanya yang keluar dari mulutmu itu kan penyakit semua isinya ha..ha..ha... Kopimu coba diminum, kayaknya kepahiten tuh, Din.”
Brudin: “Asu!” (Mengambil sebatang rokok dan menyulutnya dengan muka sebal)
Amin: “Tapi tunggu dulu, Mar. Kembali lagi ke dirimu sendiri, apa kamu ndak pernah mikir, jangan-jangan, tanpa kau sadari, pacarmu begitu gara-gara perilakumu sendiri, Mar. Hayo...”
Amar: “Maksudnya? Perilakuku yang bagaimana?”
Amin: “Ya pernah dekat dengan perempuan lain selain pacarmu misale”
Amar: (menerawang dan berpikir sejenak) “Yo...pernah seh, tapi dia kan hanya teman biasa, Min, ndak lebih!”
Amin: “Lah itu, bisa saja pacarmu begitu berawal dari rasa cemburu seng ndak pernah dia katakan, dan kaupun ndak sadar kalau dia ternyata sakit ati gara-gara itu.”
Amar: “Tapi kan dia hanya teman biasa, Min. Sumpah ndak lebih!”
Amin: “Heh, jancuk! Kau ini kok ngeyel terus to, mikiro yang bener! Bukankah perempuan yang sekarang jadi pacarmu itu dulunya juga berawal dari teman biasa?! Mikir Mar!! Mikir!! Dia itu perempuan, beda dengan kita para lelaki!” (emosi)
Amar, Husni, Bruddin: (hening......)

Perkataan Amin membuat Amar, Husni, dan Bruddin diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Husni yang tidak ingin rutinitas ngopi mereka rusak hanya gara-gara perdebatan yang tidak perlu, akhirnya membuka percakapan agar suasana yang tiba-tiba beku tadi segera mencair kembali, namun, alih-alih mencairkan suasana, ternyata malah timbul lagi perdebatan baru dengan topik yang baru pula

Husni: “Sudah...sudah, emosi gak boleh dibawa waktu ngopi. Ngopi itu ngopeni ati, jadi gak boleh ada percekcokan yang membuat ati kita gak kopen.”
Bruddin: “Beginilah cinta, penderitaannya tiada akhir” (menirukan gaya jenderal Tienpeng di film Kera Sakti)
Husni: “Sudah Mar, jangan terlalu dijadikan beban pikiran. Jodoh itu sudah ada yang ngatur, domain kita sebagai manusia yawes cukup doa dan ikhtiar, sisanya pasrahkan semua sama yang di atas.”
Bruddin: “Betul itu! Jodoh itu urusan Tuhan, urusan kita ya ngopi kayak gini ha..ha..ha..”
Amar: “Gak lucu blas Din guyonmu! Garing koyo karak!
Husni, Amin: (tertawa)
Amar: “Oh iya Min, ngomong-ngomong, gimana hubunganmu sama pacarmu? Lancar?”
Amin: “Sejauh ini lancar, menurutku dia ya tipe cewek yang setia sama pasangannya.”
Husni: “Kok bisa kamu nilai gitu, Min? Tahu dari mana hayo? Siapa tahu di belakangmu diam-diam dia selingkuh.”
Amin: “Ha..ha..hah...ya gak bakallah dia gitu, wong setiap mau ke mana aja dia rajin ngasih kabar kok.”
Bruddin: “Sek to..sek to...ya ndak bisa terburu-buru menjudge gitu lah, Min. Menurutku itu rasa percayamu aja yang berlebihan.”
Amin: “Hallah, kalian berdua ini jomlo tahu apa masalah beginian?” (tertawa meledek)
Amar: “Sebentar, Min. Yang dibilang Husni sama Bruddin itu ada benere juga tak pikir-pikir. Bisa jadi itu kepercayaanmu saja seng berlebihan. Di belakangmu, mana kamu tahu? Kecuali kamu punya indera keenam alias bisa melihat yang ndak kelihatan.”
Amin: (diam berpikir)
Husni: (mengambil rokok lagi dan menyulutnya) “Jadi gini, Min. Kita main logika-logikaan aja wes. Sebelume, aku pengen tanya, kamu setuju ndak kalo aku bilang gini; kita bisa menyebut pasangan kita setia, gak lain sebenernya karena kita gak bisa membuktikan kalo pasangan kita itu selingkuh. Setuju gak?”
Amar, dan Bruddin: “Setuju” (sambil mengangguk)
Husni: “Kamu, Min. Setuju gak?”
Amin: “Ya...ya..ya setuju seh” (dengan raut muka ragu-ragu)
Husni: “Jadi, sampai di sini apa yang bisa kita simpulkan?”
Amar, Amin, dan Bruddin: (hening)

Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 WIB, setelah hening kesekian kalinya. Suasana menjadi lebih beku dari sebelumnya, semua sibuk sendiri-sendiri, sibuk dengan pikiran masing-masing. Karena malam sudah semakin larut, dan warung kopi pun sudah mulai sepi, mereka pun akhirnya bubar.

Husni: “Wes larut rek, ayo pulang! Kalau masih lanjut ya monggo, aku tak pulang duluan, besok ada kelas.”
Amar: “Sama, ayo..ayo balik! Ayo balik Min, Din! Kalian gak balik to?”
Amin dan Bruddin: (berdiri dari tempat duduk)

Setelah bersalaman mereka pun menuju parkiran dan pulang ke rumah masing-masing
Lampu dimatikan, dan backdrop di tutup.

Backdrop kembali di buka pelan-pelan. Lampu menyala lagi tetapi redup saja. Latar diganti, dari yang semula warung kopi, kini menjadi latar sebuah kamar, lengkap dengan ranjang, meja di samping ranjang, lemari pakaian, dan perabot-perabot lainnya.
Adegan dimulai dengan Amin yang membuka pintu kamar, dan membanting tubuhnya ke atas ranjang. Wajahnya tampak memikirkan sesuatu, perkataan Husni rupanya masih terngiang-ngiang di kepala Amin. Amin jadi berpikiran yang tidak-tidak kepada pacarnya. Walhasil, semalam suntuk Amin tidak bisa tidur lantaran dirundung cemas, ia uring-uringan sendiri, mengumpat-ngumpat sendiri di dalam kamar, “jangan-jangan yang dikatakan Husni benar, jangan-jangan pacarku seperti yang dikatakan Husni, di depanku saja menampakkan kesetiaannya, tapi di belakangku bermain api.” Guna mengusir rasa cemas yang melanda hatinya, Amin berniat menelepon Eva, tetapi ia urungkan.

Amin: “Arrkkhh....janccooookkk!!! Kenapa to aku jadi bingung dan cemas sendiri begini. Gak mungkinlah Eva kayak yang dibilang Husni, dia itu cewek yang setia. Buktinya, dia mau ke mana aja pasti ngasih kabar (mengambil sebungkus rokok di saku, mengambil sebatang, menyulutnya, lalu berdiri ke arah jendela, memandang ke luar)
“Tapi...apa yang dibilang Husni itu yo banyak benarnya. (menghembuskan asap rokoknya) Kita ini gak bisa bilang pasangan kita setia, ya ndak lain karena kita gak bisa buktikan kalo dia selingkuh. Jangan-jangan selama ini, Eva itu sebenere sama kayak yang dibilang Husni, ah asu! Aku jadi gak bisa tidur begini jadie, tak coba telfon Eva wes, eh tapi ini sudah jam 03.00. Jam segini, banci dan balon-balon ae ya wes pulang dari mangkal, pasti dia sudah tidur. Yasudahlah, besok tak curhat ke Husni.”
Lampu dimatikan, backdrop ditutup.

Lampu menyala kembali diiringi dengan backdrop yang pelan-pelan terbuka. Drama di mulai dengan menampilkan latar sebuah sebuah kelas, tampak di dalamnya ada dosen, dan mahasiswa-mahasiswa yang sedang melaksanakan kegiatan belajar-mengajar. Semua mahasiswa memperhatikan dosen yang sedang memberikan materi, termasuk di antaranya adalah Amin.
Saat Amin tengah di kelas dan memperhatikan dosen yang sedang menjelaskan materi, tiba-tiba HP yang ia taruh di atas meja di sampingnya bergetar, rupanya Husni menelepon, Amin pun bergegas mengangkatnya.

Amin: “Iya Ni, ada apa? Ini aku lagi nek kelas sik an (setengah berbisik). Opo?! Yang bener mulutmu, Ni!
(semua mahasiswa lain di kelas melemparkan pandang ke arah Amin lantaran brisik sendiri, Amin pun mengecilkan suaranya hampir setengah berbisik)
“Ndek mana kamu lihat Eva boncengan ambek arek lanang? Oh keluar gerbang kampus, kamu ndak kenal siapa arek lanange? Oh pakek masker, yawes aku tak izin keluar alesan, kita ketemu di depan masjid. Oke-oke, makasih infone.”

Amin berkemas, memasukkan buku dan pulpen ke dalam tas, dan beranjak maju ke depan, meminta izin ke dosen untuk keluar lebih awal ...

Dosen: “Iya Amin, ada apa?”
Amin: “Maaf Pak, saya mau izin untuk pulang lebih awal.”
Dosen: “Loh ada apa memangnya?”
Amin: “Anu Pak, barusan dikabari, saudara saya kecelakaan, dan saya harus segera ke lokasi, Pak. Karena dari pihak keluarganya gak ada yang bisa dihubungi.”
Dosen: “Hmmm...yasudah kalau begitu, hati-hati.”
Amin: “Baik, Pak. Terimakasih banyak (salaman), assalamu’alaikum.”
Dosen: “Wa’alaikumsalam.”
Amin keluar kelas...
lampu di matikan, backdrop ditutup

Lampu menyala, backdrop kembali di buka. Tampak latar bekalang sebuah masjid, Husni sedang menunggu Amin di depannya. Dari kejauhan, Amin baru sampai dan berteriak memanggil Husni.

Amin: “Ni! Piye?”
Husni: “Woe, cepet ke sini. Tak kasih tahu foto si Eva boncengan di jalan ambek cowok. Nih, lihato!” (menyodorkan foto Eva di handphonenya)
Amin: “Asu! Ternyata bener seng kamu bilang, Ni. Lah ini kamu dapat fotonya dari siapa? Bukan dari tadi kamu ndek sini nunggu aku?”
Husni: “Tadi aku langsung nelfon Amar & Bruddin. Ketepatan mereka lagi gak ada kelas, langsung tak suruh ngikuti mereka. Tak kasih arah-arah, kemungkinan si Eva lewat mana, mereka langsung gas ngikuti si Eva dari belakang.”
Amin: “Terus sekarang mereka berdua di mana?”
Husni: “Nah, belum ada kabar sampek sekarang, Min. Tak coba telfon dulu.”
Amin: “Iyo cepetan!”

Husni menelepon Amar...
Husni: “Neng ndi Mar? Piye perkembangane? Aman ta? Aman tah aman tah ndiasmu! Mereka tadi akhire pergi ke mana? Oh ke kosse Eva, oh iyo-iyo. Jadi, cowoke tadi nganter Eva pulang to. Terus-terus?! Owalah yawes ndangan ke sini!”
Amin: “Gimana, Ni?!”
Husni: “Sabar! Amar sama Bruddin mau ke sini katanya, nanti biar dijelasin sama mereka saja. Tadi intinya, si cowok itu nganter si Eva pulang ke kosse.”
Amin: “Apa aku telfon Eva saiki yo?!”
Husni: “Yo janganlah cok! Kon kok goblok seh, kita belum ngerti kejadian tadi yang bener gimana, yang tahu ya Amar ambek Bruddin. Lek sekarang kamu dedes si Eva, kamu tanyai ini itu tentang cowok tadi, ya dia pasti bisa berkilah, minimal dia pasti bisa alesan.”
Amin: “Tapi kan tadi wes ada bukti fotonya, Ni!”
Husni: “Ya masio, Min! Bisa saja Eva bilang kalo itu temennya, sepupunya, tukang ojol?! Wes talah...tenangno pikiranmu dulu. Kita tunggu, Amar sama Bruddin datang dulu, baru kita pikirkan kelanjutannya gimana. Kamu ini sebenarnya anak seng cerdas, kritis pisan, tapi ternyata kalau sudah kena seng namany “cinta”, podo ae, jatuhe tetep aja...”
Amin: “Tetep opo?”
Husni: “Tetep aja jadi goblok!”
Amin: (diam)

Selang beberapa lama kemudian, datanglah Amar dan Bruddin setengah terengah-engah.
Amar dan Bruddin: (terengah-engah, ngos-ngosan)
Husni: “Ambekan sek, Mar! Ambekan sek!”
Amin: “Gimana Mar, Din?”
Bruddin: “Ya aman tah!”
Amin: “Aman sikilmu metel! Aku tenanan ini, Din? Gimana tadi?”
Amar: “Jadi gini, Min. Awalnya aku sama Bruddin sempat husnudzon, kalau itu mungkin ya cuma temennya Eva. Masalahnya, pas mereka boncengan, mereka ya cuma boncengan biasa gak ada mesra-mesrane blas, Min!”
Amin: “Alhamdulillah, sudah tak bilang to kalo Eva gak mungkin kayak yang kalian bilang”
Bruddin: “Sek ta lah, Min, sek! Belum selesai iki ceritane”
Amar: “Bener, Min. Masih ada lanjutannya, tapi kamu ojo loro ati terus gantung diri kaya yang viral di medsos yo! Nah, ternyata pas sampek kosnya si Eva, adegan mesra itu baru muncul. Sebelum si cowok ini pulang, si cowok ini sempet disalimi sama si Eva, pakek dicium tangannya. Terus si cowok ini nyium keninge Eva.”
Amin: “Jancok! Cangkemmu seng bener, Mar! Gak mungkin Eva kaya gitu!” (sambil mencengkeram kerah baju Amar)
Husni & Bruddin: “Tenang, Min! Tenang! Gak kabeh opo seng kamu pengen iku sesuai harapanmu! Ini juga  bukan salah Amar, dia cuma ngasih informasi apa seng dia dapat tadi!”
Amar: “Lek kon gak percoyo, nyoh! Ini loh aku ada bukti! Tadi aku sama Bruddin sempet ngefoto adegan itu! Nyoh! Sawangen dewe! (sambil menyodorkan foto Eva yang ada di handphone)
Amin: (melepas kerah baju Amar, lalu meraih HP Amar)

Matanya berkaca-kaca, tangannya gemetaran, pertahanannya mulai goyah. Amin akhirnya jatuh terduduk, dia tidak bisa berkata barang sepatah kata pun, air matanya meleleh. Husni, Amar, dan Bruddin duduk di samping Amin, menguatkan sahabat mereka yang telah hancur itu.
Husni: “Sudah, Min. Sudah. Kami tahu hatimu hancur. Ingat, Min. Ini cukup dijadikan pelajaran. Patah hati itu resiko jatuh hati. Sakit? Ya pasti, namanya aja patah. Kamu berani jatuh hati, secara gak langsung, ya kamu sudah merelekan separuh dari hati kamu minimal, buat sewaktu-waktu patah hati, Min.”
Amar: “Iya, Min. Ini artinya, Gusti Allah sayang awakmu. Kamu dijauhkan dari orang yang tidak baik buatmu!”
Bruddin: “Bener apa seng dikatakan Husni sama Amara, Min. Gak ada suatu hal dalam hidup ini, yang diambil Gusti Allah, kecuali Dia memberi penggantinya. Jadi, kamu seng sabar, Min. Pasti kamu bakalan ditemokno ambek perempuan seng bener-bener tulus mencintai kamu.”
Amin: (tertunduk lesu)
Husni, Amar, Bruddin: (mengelus-elus punggung Amin, sahabatnya)

Lampu dimatikan, backdrop tertutup pelan-pelan, diiringi backsound lagu berirama melankolia.

~ TAMAT ~









Profil Penulis:

Yohan Fikri M. Mahasiswa aktif di Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah Universitas Negeri Malang. Aktif menulis puisi. Juara 2 lomba cipta puisi yang diselenggarakan oleh “Pilihan Rakyat” dan “Penerbit Sulur.” Beberapa puisinya termuat dalam Antologi 38 Penyair Ponorogo Babu Tetek; Seibu Puisi (Penerbit Kuncup: 2018)” dan Antologi puisi Santri (Penerbit Sulur: 2019). dikunjungi di akun Instragramnya @yohan_fvckry.

Comments

Popular posts from this blog

NASKAH DRAMA ANAK YANG DURHAKA

ULANG TAHUN

Drama ANAK-ANAK TK