NASKAH DRAMA MENEMANI IBU



MENEMANI IBU
Oleh Rahajeng Shafira




Sinopsis
Meira di umur yang ke-29 saat ini masih belum memiliki pasangan. Sudah berulang kali ibunya memperkenalkan dia dengan banyak pria namun selalu berakhir tidak berjalan lancar. Meira adalah salah satu copywriters di sebuah majalah. Dia sudah bekerja di sana hampir 5 tahun lamanya. Sang ibu yang melihat anaknya selalu bekerja pernah menyuruh Meira untuk berhenti bekerja karena dianggap menghambat Meira untuk mendapatkan pasangan. Tentu saja hal itu ditolak oleh Meira dan dia memberikan pengertian kepada ibunya. Selain tekanan dari ibunya, tetangga sekitarnya juga ikut campur. Bahkan sampai-sampai ada kabar yang mengatakan kalau dia adalah lesbian, padahal itu tidak benar. Lagi-lagi ibu Meira merasa malu dan termakan omongan tetangga.
Alasan Meira tidak kunjung menikah adalah ibunya sendiri. Sebagai keturunan Jawa, ketika seorang perempuan sudah menikah, maka perempuan tersebut harus ikut dengan suaminya, yang artinya bila Meira menikah nanti Meira harus ikut suaminya dan meninggalkan ibunya yang sudah tua di rumah sendiri. Meira masih ingin terus menemani ibunya, karena ibunya hanya punya Meira, dan Meira hanya punya ibunya.

Saat ini di rumah Meira cukup ramai karena teman-teman SMA Meira sedang berkumpul untuk reuni kecil-kecilan. Beberapa teman membawa anaknya. Ada yang anaknya sudah berumur 5 tahun, 2-3 tahun, ada pula yang masih bayi. Rata-rata teman Meira sudah memiliki anak.

(di ruang tamu rumah Meira; teman-teman Meira dan Meira sedang berkumpul. Gelak tawa memenuhi ruang tamu. Terkadang tangisan anak kecil terselip. Meira sedang berbincang dengan teman-temannya. Salah satu temannya adalah Ayu yang sudah mempunyai anak. Anak Ayu sedang ditidurkan di atas karpet dan dikelilingi oleh dua teman Ayu dan Meira (bernama Nuri dan Sela) sambil sesekali menghibur anak Ayu)
Meira                : Uutututu anak siapa ini? Boleh aku gendong ya anakmu?”
Ayu                   : “Eh jangan, nanti bau tangan anakku”
Meira               : (Mengendus jari tangannya) “Memangnya tangnku bau apa? Padahal aku sudah cuci                             tangan dengan sabun tadi”
Ayu                 : (Bola matanya memutar) “Haduh, bukan itu, Mei. Bau tangan yang aku maksud itu       kalau anak bayi keseringan digendong atau dipegang, dia jadi mudah nangis kalau        gak digendong.”
Meira            : (Memasang muka heran, sambil senyum dengan salah satu sisi bibir terangkat) “Masih percaya kamu sama mitos-mitos begituan?”
Ayu                  : “Eh? Ya percaya dong, aku enggak mau capek-capek gendong anakku seharian              atau nina boboin dia sampai nangisnya berhenti. Capek tau.”
Meira               : “Kan bisa gantian sama suamimu?”
Ayu                 : “Ya kamu tau sendiri, Mei, kalau yang wajib ngurusin anak dan tetek bengek pekerjaan rumah ya perempuan. Kamu mana tahu capeknya? Kan belum menikah, apalagi punya anak. Ribet deh pokoknya.”
Sela                 : “Nah itu, makannya aku masih nunda punya anak, masih takut gak punya waktu buat diri sendiri. Lagian aku masih suka traveling sama suami.”
Nuri                 : “Iya, benar. Untuk menjadi Ibu perlu mental yang kuat, karena yang dijaga nantinya bukan cuma diri sendiri, tapi juga anak, suami. Harus ada kerja sama  dengan suami buat ngurus anak. Biar anak enggak deket sama ibu aja.”
Ayu                 : (Tersenyum melas, sambil melihat anaknya) “Bener, kadang kita sebagai ibu juga harus ngorbanin cita-cita demi ngurus keluarga.”
Meira               : (Memandangi temannya satu per satu) “Nyesel udah nikah?”
Ayu                 : “Ya enggak gitu maksudnya. cuma ngasih gambaran aja ke kamu kalau udah nikah gimana kehidupannya.”
Nuri                 : “Iya, Mei, biar kamu enggak kaget aja kalau nanti nikah.”
                        (Sela dan Ayu mengangguk-anggukan kepala dan ada hening sesaat di antara mereka. Kemudian Ayu membuka suara)
Ayu                 : “Habis denger cerita kita, ada gambaran enggak kapan mau nikah, Mei? Inget udah umur berapa lho ini”

(Ayu, Nuri dan Sela menunggu jawab dari Meira yang terlihat sedang berpikir)

Meira               : “Gak tau deh, kayaknya gak bakal nikah hahaha”
Nuri                 : (Tangannya memukul mulut Meira yang sedang tertawa) “Hush! Enggak boleh ngomong begitu. Seorang perempuan itu bakal jadi perempuan seutuhnya kalau mereka menikah dan punya anak. Kalau belum punya anak aja belum jadi perempuan seutuhnya, apalagi kalau belum menikah? Kayak kamu gini.”
Sela                 : “Jadi menurutmu aku ini belum jadi perempuan gara-gara belum punya anak? Omong kosong dari mana lagi itu?”
Nuri                 : (Menutupi mulutnya karena merasa salah berbicara) “Oh iya maaf, Sel, aku lupa kalau kamu masih nunda punya anak. Semoga segera ingin punya anak ya.”
Meira               : “Wah, Nuri, pedes banget omonganmu. Menikah atau enggak menikah, punya anak atau enggak punya anak, perempuan tetaplah perempuan. Coba lihat tuh di akta lahir, aku perempuan”
Ayu                 : “Coba dipikirin lagi deh, Mei. Kalau kamu menikah, nanti di hari tua ada yang ngerawat kamu juga, suamimu, anak-anakmu. Kamu kemana-mana juga enggak sendirian.”
Sela                 : “Benar juga sih, seenggaknya kamu ada yang nememnin buat cerita-cerita ngeluhmu. Masa dari dulu ngeluh ke ibumu terus?”
Meira               : “Yakin kalau dengan menikah jaminannya saat tua pasangan kita bakal ngerawat kita? Kalau pasangan kita minta cerai? Mati? Gimana?”
Ayu                 : (Memijat pangkal hidungnya sambil menggelengkan kepala) “Memang susah kalau bicara sama orang keras kepala. Mending Meira ambilin minum, deh. Capek dari tadi ngomong ternyata tetep teguh sama pendirian.”
Nuri                 : “Wah, setuju. Makasih ya, Mei”
Meira               :” Ngusir secara halus nih? Ambil sendiri aja tuh.” (menunjuk meja yang berisi minuman)
                        “Udah ya, aku mau nyamperin temen yang lain.”
Ayu, Salsa,      : “Yah, Meira.”
Nuri

(Acara reuni kecil-kecilan pun selesai. Teman-teman Meira meninggalkan rumah Meira. Tersisalah teman Meira bernama Lani yang sedang menunggu jemputan suaminya. Meira membersihkan sisa-sisa acara dengan Lani, sahabatnya. Memungut kemasan air mineral gelas dan kulit kacang yang berceceran)
Meira               : “Akhirnya selesai juga acaranya.” (Sambil mengambili sampah kulit kacang dan kemasan air mineral yang sudah habis)
Lani                 : (Menoleh ke kanan dan kiri seperti mencari sesuatu)
Meira               : “Cari apa kamu, Lan?”
Lani                 : “Ibumu di mana, Mei? Dari aku dating kok enggak lihat sama sekali?”
Meira               : “Oh Ibu? Ada di kamar, tadi bilang kalau kakinya capek, jaid di kamar aja istirahat.”
Lani                 : “ohhh, nanti kalau aku pulang salamin ke Ibu ya.”
Meira               : “Iya, nanti aku salamin.”

(Hening sesaat dengan latar suara sapu lidi yang menyapu karpet)

Meira               : “Eh, tadi telingaku capek banget dengerin pertanyaan sama omelan Ayu, Nuri, Salsa.”
Lani                 : (Tertawa kecil) “Memangnya ngomel apalagi mereka?”
Meira               : “Masa kamu enggak denger? Padahal tadi mereka membara banget kalau cerita.”
Lani                 : “Coba aku tebak.” (terlihat seperti berpikir)
  “Nyuruh kamu cari calon?”
Meira               : (Mengangguk lemas) ”Iya, disuruh cepet nikahlah, disuruh punya anak juga. Katanya biar jadi perempuan seutuhnya. Hash omong kosong! Sejak kapan ada peraturan seperti itu? Gak masuk akal.”
Lani                 : (Menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum) “Mereka masih sama saja dari dulu. Sukanya mengurusi kehidupan orang lain.”
Meira               : “Kesal sekali, tapi kalau bertengkar gara-gara itu malu sama umur. Kalau saja omongan mereka bisa ditukar dengan uang, sudah kaya aku”
Lani                 : “Hahaha gak mungkin banget.”
“Tapi mereka ada benernya juga sih, Mei, tentang nyuruh kamu cepet nikah, biar nanti  kamu ada yang menemani di hari tua.”
Meira               : “Sebenarnya aku ingin, Lan. Ingin sekali aku menikah dan punya keluarga kecil. Tapi…”
Lani                 : “Tapi apa, Mei? Coba ceritakan padaku, kamu selalu saja menghindar kalau aku tanya alasannya apa.”
Meira               : “Sebenarnya aku…”
Lani                 : “Apa? Ayo coba katakana.”
Meira               : “Tidak jadi. Hahaha janji aku akan cerita ke kamu”
Lani                 : “Halah kamu itu bikin orang penasaran saja.
                         Yasudah, kapanpun aku siap mendengarkan ceritamu”
Meira               : “iya.” (ada suara klakson mobil yang terdengar. Meira dan Lani menlongok keluar pintu)
“Eh, itu suamimu sudah menjemput. Pulanglah, Lan. Makasih ya sudah bantu bersih-bersih.”
Lani                 : “Waduh belum selesai nih, beneran tidak apa-apa?”
Meira               : “Iya tidak apa-apa, ini tinggal melipat karpet aja kok. Sudah sana, nanti suamimu nunggu kelamaan”
Lani                 : “Yasudah, aku pulang dulu ya, Mei. Jaga kesehatan dan jaga diri ya. Salam buat Ibu” (Lani dan Meira berpelukan)
Meira               : “Iya, Lan, kamu juga jaga kesehatan. Kata orang-orang ngurus rumah tangga itu melelahkan (tertawa kecil). Hati-hati di jalan. Kalau sudah sampai rumah kabari aku”
Lani                 : “Iya, Mei. Dadah” (melambaikan tangan keluar dari rumah Meira)
Meira               : “Dadah” (melambaikan tangan)

(Meira melanjutkan kegiatan bersih-bersihnya, melipat karpet. Ibu Meira keluar dari dalam kamar dan mengajak bicara Meira.)
Ibu Meira         : “Sudah pulang semua teman-temanmu, Mei?”
Meira               : “Sudah, Bu. Yang terakhir tadi Lani yang pulang.”
Ibu Meira         : “Dijemput siapa Lani?”
Meira               : “Dijemput suaminya, Bu.”
Ibu Meira         : “Enak ya kalau sudah punya suami gak perlu repot-repot nyetir sendiri atau pesan ojek. Tinggal telepon, langsung deh suami meluncur.”
Meira               : “Ya tapi kan gak setiap saat bisa gitu bu. Suami Lani kan kerja juga. Kebetulan saja hari ini sedang hari libur, jadi suaminya bisa menjemput. Biasanya Lani juga naik mobil sendiri atau naik ojek.”
Ibu Meira         : “Setidaknya kan bisa meringankan beban. Daripada kayak kamu kemana-mana sendirian. Enggak ada yang jaga, kalau ada apa-apa bagaimana?”
Meira               : “Enggak sendirian, Bu, kan ada Mang gojeknya.”
Ibu Meira         :”Beda, Meiraaa.”
                        “Kamu enggak malu lihat teman-teman kamu sudah pada nikah? Malah ada yang bawa anak.”
Meira               : “Untuk apa malu, Bu? Jalan hidup orang beda-beda.
                         Lagi pula nikah bukan untuk dijadikan lomba. Teman Meira saja banyak yang mengeluh saat menikah. Mereka kehilangan waktu untuk diri mereka sendiri, bahkan ada yang kehilangan cita-cita. Meira masih mau ngejar cita-cita Meira, Bu.”
Ibu Meira         : “kamu ini umur saja yang udah tua, tapi pemikirannya masih belum dewasa. Menikah itu bukan penghalang buat cita-citamu, bukan juga penghalang buat punya waktu untuk diri sendiri. Menikah itu ketika kamu dan pasanganmu saling melengkapi dan membantu satu sama lain, saling berjuang bareng-bareng. Harusnya bisa direncanakan atau disepakati mau bagaimana. Sama-sama bekerja? Atau salah satu yang bekerja? Lagian kamu ini perempuan Jawa, gak boleh lajang lama-lama, nanti gak ada yang mau. Siapa yang mau ngurusin waktu kamu tua nanti?”
Meira               : (Meira menyentuh kedua pundak ibunya) “Ibu…sudah lah, ibu gak usah khawatir kalau Meira gak nikah-nikah, tunggu aja, nanti pasti ada waktunya.”
Ibu Meira         : “Jangan terlalu pilih-pilih, yo nduk. Kamu juga jangan kerja terus-terusan. Mbok yo sekali-sekali cuti gitu lho. Cari calon ta, pergi sama temen. Jodoh itu dijemput bukan ditunggu. Jaman e ibu dulu, umur 17 udah pada nikah, tapi ya juga bisa tetep kerja, nandur pari, ngingu pitik.”
Meira               : “Sudah beda zaman, bu. Apa-apa sekarang mahal. Kalau dulu kan mau makan sayur apa tinggal metik di kebon sendiri. Sekarang mana ada sawah di tengah-tengah kota begini. Kalau adapun pasti sudah diincar jadi perumahan 5 tahun lagi.”
Ibu Meira         : “Kamu itu ada aja alasannya. Udahlah terserah kamu, Mei. Itu dilanjutin nyapunya. Yang bersih kalau nyapu, biar calon suamimu enggak brewokan.”
Meira               : “Ibu sama saja sperti teman Meira. Percaya takhayul.”
Ibu Meira         : “Kamu saja yang tidak percayaan. Jaman Ibu dulu kalau nurut sama takhayul hidupnya lancar dan selamat.”
Meira               : “Beda jaman Ibu. Kalau sekarang orang-orang paling sering percaya hoax. Tapi karena percaya hoax jalan pikirnya jadi kacau.”
Ibu Meira         : (Mukanya kelihatan kebingungan) “Ngomong apa sih kamu? Udah itu cepat diselesaikan nyapunya. Ingat yang bersih ya. Masak anak perempuan nyapunya enggak bersih.”
Meira               : “Dari tadi Ibu ajak bicara terus, kapan selesainya, apalagi bersihnya.”
Ibu Meira         : “Ah kamu ini malah nyalahin Ibu.” (Berjalan menuju pintu keluar)
                        “Lebih baik ibu siram-siram bunga saja. Kasihan dari pagi belum disiram, pasti sekarang sudah layu.”
Meira               : “Iya, Bu, hati-hati waktu nyiram jangan sampai kena anak tetangga lagi. Nanti seperti Satrio yang basah kuyup tidak sengaja Ibu siram.”
Ibu Meira         : “Bukan salah Ibu itu. Kalau Satrio, kan memang bocah yang suka hujan-hujanan. Mangkannya dia senang waktu kesiram sama Ibu, malah ketagihan.”

Meira hanya mengangguk sambil tertawa kecil tanpa menjawab ucapan ibunya. Setelah bersih-bersih Meira masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan ibu masih menyirami bunga-bunganya di taman dan ada tetangga yang melewati depan rumahnya. Tetangga tersebut menyapa Ibu Meira, kemudian mereka mulai berbincang.

Bu Hera           : (Melongok melalui pagar rumah yang tidak terlalu tinggi) “Waduh, Ibu, rajin sekali setiap sore menyirami bunga.”
Ibu Meira         : “Heheh iya nih jeng, kasian tadi pagi lupa belum disiram, sudah pada layu-layu    begini. Tadi siang juga panas banget”
Bu Hera           : “Saya itu paling suka kalau lewat depan rumah ibu karena suasanya tenang dan asri. Bunga-bunganya juga cantic-cantik.”
Ibu Meira         : “Wah, Bu, jangan begitu, nanti saya semakin rajin berkebun lama-lama tamannya jadi hutan.
Bu Hera           : (tertawa terbahak) “Ada-ada saja, Bu.”
Ibu Meira         : “Tidak mau mampir, Bu?”
Bu Hera           : “Saya mau bu, sudah lama saya tidak berbincang dengan Ibu.”
Ibu Meira         : (Mematikan keran air kemudian berjalan menuju pagar dan membukakan pintu pagar, kemudian mempersilahkan Bu Hera untuk duduk di kursi teras) “Mari-mari, Bu. Sebentar ya, saya buatkan teh dulu. Mau teh apa bu? Teh jasmine? Teh rossela? lemon tea? Green tea?” (menyebutkan nama-nama the sambil melipat jari seperti berhitung)
Bu Hera           : “Tidak usah repot-repot bu, kita bicara santai saja.”
Ibu Meira         : “Tidak apa-apa, Bu, sekalian menghabiskan stok teh saya. Jadi mau teh apa bu?”
Bu Hera           : (Terlihat kebungan dengan dahi yang berkerut) “Eh… teh yang biasa saja, Bu.”
Ibu Meira        : “Yang biasa saja ya, Bu. Perlu ditambah irisan lemon tidak?”
Bu Hera           : “Bukannya itu jadi lemon tea  ya, Bu?”
Ibu Meira         : “oh iya, benar juga. Yasudah saya buatkan yang biasa ya, Bu.”
                        (membuka tutup toples yang terdapat di meja) “Silakan di makan, BU, anggap seperti rumah sendiri saja.”
Bu Hera           : “Makasih lho, jeng”

(Ibu Meira masuk ke dalam rumah dan beberapa saat kemudian keluar sambil membawa nampan berisi 2 cangkir teh dan setoples kue kering.)

Ibu Meira         : (memindahkan cangkir di atas nampan ke atas meja) “Silakan Bu, mumpung masih anget”
Bu Hera           : “Tehnya harum sekali. Apa mereknya, Bu?”
Ibu Meira         : (Sambil membuka tutup topless) “Mereknya ini teh Bandulan, Bu.
Bu Hera           : “Oh, ini teh Bandulan itu ya bu. Enak ini saya suka. Rasanya lokal sekali. Seperti yang biasanya dibuat di desa-desa. Saya jadi kangen pulang ke desa.”
Ibu Meira         : “Betul jeng, saya juga suka the ini karena keinget hidup di desa.Ini teh andalan saya. Kalau lagi kangen kampung, ingin nostalgia, saya biasanya minum ini.”
Bu Hera           : “Iya Bu, cocok sekali memang.” (sambil menyeruput tehnya)
“Ngomong-ngomong, kok rumahnya sepi jeng? Mbak Meira lagi tidak di rumah?” (kepalanya melongok melihat dalam rumah)
Ibu Meira         : “Tidak jeng, Meira baru saja selesai bersih-bersih, mungkin sekarang di dalam kamar.”
Bu Hera           : “Enak ya, Bu, punya anak perempuan bisa diajak bersih-bersih rumah, masak-masak, berkebun juga bisa.”      
Ibu Meira         : “Enggak juga, Bu, Meira tidak terlalu pintar masak, tetapi hasil masakannya masih bisa dinikmati.”
Bu Hera           : “Jaman sekarang tidak perlu pintar masak kalau jadi perempuan, kan sudah banyak restoran, tinggal pesan online, makanan datang.”
Ibu Meira         : “hahaha bener jeng, sekarang jaman sudah beda. Tapi kan kemampuan memasak itu kemampuan dasar manusia untuk bertahan hidup. Setidaknya Meira harus bisa walau masih belajar.”
Bu Hera           : “Betul itu, jeng. Setidaknya setiap orang pernah belajar masak, walau hanya menggoreng telor.” (Bu Hera menyeruput tehnya)
“Tidak seperti anak saya. Anak saya hanya satu, laki-laki pula, dari kecil tidak saya biasakan nyapu rumah, nyuci piringnya sendiri, atau minimal masak nasi. Saat kuliah dulu dia kesusahan mengatur uang karena selalu beli makanan di luar dan laundry baju. Akhirnya saya ajari masak sederhana dan cuci baju, syukurlah uang bulanan bisa pas, bahkan bisa ditabung.”
Ibu Meira         : “Iya, Bu, sebenarnya laki dan perempuan perlu tahu itu semua, bukan hanya perempuan saja.”
Bu Hera           : (Bu Hera mengangguk sambil mengambil satu kue kering untuk dimakan) “Ngomong-ngomong tadi ada acara apa, bu? Kok kelihatannya ramai banyak suara anak kecil.”
Ibu Meira         : “Acara euni kecil-kecilan teman SMA-nya Meira. Sudah lama tidak ketemu, jadinya milih di rumahnya Meira karena dekat dari mana saja. Tadi senang semua sambil nostalgia masa SMA.”
Bu Hera           : “Senang pasti ya, bu, bertemu sama teman lama. Pasti udah pada beda mukanya.”
Ibu Meira         : “Iya, beberapa ada yang pangling. Wah heboh pokoknya. Bahkan beberapa sudah membawa anaknya. Anak saya ini kapan bakal begitu?”
Bu Hera           : “lho memang Mbak Meira belum ada calon bu?”
Ibu Meira         : “Dulu-dulu sih ada. Tapi tidak tau sekarang sepertinya sudah tidak. Tidak pernah main ke sini lagi teman laki-lakinya. Dia juga lagi males punya hubungan, katanya.”
Bu Hera           : “Waduh, kenapa begitu? Anak saya aja udah nikah dari 3 tahun lalu. Meskipun umur 27 sewaktu menikah tapi wajar kalau laki-laki. Nah kalau perempuan kan harus lebih cepet bu.”
Ibu Meira         : “Tidak tau, Bu, padahal sudah umur berapa dia. Katanya menunggu nanti saja. Mau mengumpulkan uang dahulu sambil mengejar cita-citanya. Padahal uang kan tidak dibawa mati dan bisa dicari pas udah nikah to jeng? Cita-cita juga masih bisa dikejar walau sudah menikah.”
Bu Hera           : “Benar, Bu, uang tidak dibawa mati. Tapi ya mungkin Mbak Meira itu pingin manfaatin waktu mudanya semaksimal mungkin. Kan sayang sekali sudah sekolah tinggi-tinggi untukt mencapai cita-citanya, tapi nantinya dapat suami yang menyuruhnya berhenti kerja. Mungkin Mbak Meira hanya takut.”
Ibu Meira         : “Jadi Ibu rumah tangga kan juga pekerjaan mulia, Bu? Tapi kalau emang begitu alasan dia tidak ingin menikah saya merasa lega sekali.”
Bu Hera           : “Mengapa lega, Bu?”
Ibu Meira         : “Saya berharap Meira bisa melakukan apa yang dia mau selama dia bisa. Jangan sampai seperti saya.
Ibu Meira         : “Dahulu sewaktu saya masih muda, saya punya cita-cita sebagai guru. Sayangnya saya malah kepincut dengan laki-laki yang pada akhirnya meninggalkan kami. Awalnya ketika saya menyampaikan pendapat saya tentang ingin bekerja sebagai guru, mantan suami saya menolak. Dia bilang ‘kalau urusan biaya rumah tangga biarlah aku saja, kamu yang mengurus anak dan rumah’. Saya menurut saja, sampai pada akhirnya suami memberi uang bulanan semakin sedikit, saya bertanya malah dimarahi. Katanya saya tidak becus mengatur keuangan. Akhirnya dia meninggalkan saya dan Meira yang masih kecil tanpa uang seperpun. Terpaksa saya bekerja serabutan menitipkan Meira kepada tetangga.
                        Saya berangkat subuh pulang malam, sampai-sampai Meira berpikir kalau saya tidak menyayangi dia. Saat itu saya merasa gagal menjadi Ibu.” (bercerita sambil mengusap air matanya)
Bu Hera           : “Namanya juga musibah, Bu. Mungkin saat itu Meira belum tahu kalau Ibu sedang bekerja demi menghidupi dia. Itu kan juga salah satu bentuk kasih sayang ibu ke Meira juga. Seorang ibu itu pasti punya banyak cara buat menyayangi anaknya. Meskipun terkadang mereka tidak merasa atau gak tau kalau sedang disayang.”
Ibu Meira         : “Mungkin begitu ya Bu. Ahh pokoknya saya mengharapkan yang terbaik buat anak saya. Tapi saya lebih senang kalau dia cepat menikah, biar ada yang jagain dia. Nanti kalau saya udah gak ada, siapa yang mau mengurus dia?”
Bu Hera           : “Mbak Meira kan juga sudah besar, bu. Pasti tau apa yang harus dia lakukan. Yang penting sekarang ibu jaga kesehatan biar bisa menemani Mbak Meira lebih lama.”
Ibu Meira         : “Setidaknya, sebelum saya menutup mata nanti saya ingin melihat dia menikah bu. Dengan begitu saya bisa pergi dengan tenang, tanpa ada beban.”
Bu Hera           : “Semoga begitu bu. Umur tidak ada yang tahu, apalagi kita-kita yang sudah berumur begini.”
Ibu Meira         : “iya bu, oleh karena itu saya menyuruh dia cepat-cepat menikah bukan karena apa-apa. Ya karena murni ingin dia ada yang menjaga selain saya.”
Bu Hera           : “Iya bu, saya tahu kok perasaan ibu.”

(Adzan maghrib berkumandang)

Bu Hera           : “Wah udah adzan maghrib bu, saya pamit dulu ya, belum memanaskan sayur.”
Ibu Meira         : “Oh iya, bu, silahkan-silahkan. Saya juga belum masak untuk makan malam. Hati-hati, Bu.”
Bu Hera           : “iya bu, mari.”

Ibu Meira menggulung selang yang digunakan untuk menyiram bunga dan menutup gorden karena sudah maghrib.Ibu Meira masuk kedalam rumah dengan nampan bekas kegiatan meminum the ke dapur. Ibu Meira berjalan menuju kamar Meira mengetuk pintu kamar Meira dan melongok ke dalam kamarnya.

Ibu Meira         : (Ibu Meira mengetuk pintu)
Meira               : “Iya, Bu, buka saja pintunya.”
Ibu Meira         : (melongokkan kepalnya ke dalam kamar Meira) “Mei, ayo bantu Ibu buat makan malam.”
Meira               : “Sebentar, Bu, masih ada beberapa draft dari kantor yang harus aku cek.”(menjawab tanpa melihat ke ibunya)
Ibu Meira         : “Nanti saja Mei, toh besok masih hari Minggu. Ibu kangen sama kamu dari minggu kemarin Ibu masak dan makan sendirian. Ayo temani Ibu masak.”
Meira               : (terdiam sebentar dan menoleh ke tempat Ibu berada) “Kenapa tiba-tiba kangen? Biasanya cuek-cuek saja. Habis membicarakan apa tadi dengan Bu Hera? Pasti membicarakan aku kan?”
Ibu Meira         : “Ah, enggak kok. Ayo, Ibu sudah lapar, kamu cuci sayur-sayurnya ya?”
Meira               : “iya bu, iya.” (Meira dan Ibunya berjalan keluar dari kamar Meira)

(Dapur hening dan hanya ada suara peralatan masak saling beradu. Meira terlihat meniman-nimang apakah dia harus bertanya pada ibunya atau tidak tentang apa yang dia dengar tadi.)

Meira               : (Meira mencuci sayur) “Bu…”
Ibu Meira         : “Apa nduk?”
Meira               : “nggg…tidak jadi.”
Ibu Meira         : “Jangan membuat Ibu penasaran. Ada apa Mei? tanyakan saja.”
Meira               : “Ibu…mengapa selalu menyuruh Meira untuk cepat-cepat  menikah?”

(Ibu Meira terdiam sejenak dan terdengar dia menghela napas, serta senyuman tipis di bibirnya.)

Ibu Meira         : “Nduk.” (sambil memotong sayur-sayuran)
Meira               : “Iya, Bu?”
Ibu Meira         : “Sebenarnya Ibu ini ingin kamu cepat-cepat menikah itu bukan karena gengsi melihat tetangga seumuran ibu sudah pada gendong cucu. “ (meletakkan pisau dapurnya)
“Ibu ini sebenernya ingin kamu ada yang jagain. Ibu ingin kamu memiliki tempat sandaran yang tidak membuat kamu sungkan untuk cerita, yang selalu ada buat kamu.”
Meira               : “Kenapa harus cari pasangan hidup? Kan Meira punya Ibu. Ibu juga selalu mendengarkan cerita Meira dan Ibu juga selalu ada buat Meira.”
Ibu Meira         : “Tapi kan nantinya tidak bakal selalu begini, Mei. Kamu semakin tua, Ibu juga semakin tua Mei. Ada saatnya nanti kalau Ibu sudah tidak ada, siapa yang bakal menenangkan kamu kalau sedang stress karena pekerjaan? Siapa yang bakal jagain kamu? Siapa yang bakal mendengarkan ceritamu?” (Mengelus-elus kepala Meira dan berbicara dengan nada yang sedikit bergetar)
Meira               : “Bu, meskipun nanti Meira sudah menemukan pasangan hidup, apakah yakin pasangan hidupku nanti bakal setia sama aku? Meira takut ketemu pasangan hidup kayak bapak.”
Ibu Meira         : “Meira, ibu minta maaf kalau kamu jadi takut menjalani hubungan yang penuh komitmen ini karena kejadian ibu dan bapak di masa lalu.”
                        “Tapi ingat Meira, kamu bukan Ibu. Kamu lebih cerdas dari ibu, kamu punya banyak kesempatan. Kamu bisa dapatkan pasangan hidup yang jauh lebih baik dari Ibu dulu.”
Meira               : “Tapi, Bu, kalau aku sudah menikah, aku harus ikut dengan suamiku kan? Aku tidak mau, Bu.”
                        .” (air mata mulai bertetsan, saat berbicara suara bergetar) “Aku tidak sampai hati meninggalkan ibu sendirian.”
Ibu Meira         : “Betul, kamu harus ikut dengan suamimu. Ibu tidak apa-apa kok kalau kamu tinggal, atau tetangga-tetangga di sini pasti jagain ibu. Kalau kamu mau menitipkan ibu ke panti jompo juga tidak apa-apa.”
Meira               : “Tidak bu, tidak. Tetangga tetaplah orang lain, bukan saudara sendiri. Saudara sendiri saja bisa menelantarkan kita, apalagi tetangga. Lagian sudah tugasku sebagai anak untuk menjaga Ibu, sebagai balas budi sudah membesarkan aku.” 
Ibu Meira         : “Tidak, Meira, Ibu melahirkan kamu bukan untuk membalas apa yang sudah Ibu lakukan untuk Meira.”
                        “Ibu ingin kamu menjalani hidup sesuai apa yang kamu inginkan, tidak terbebani dengan keharusan untuk menjaga Ibu.”
Meira               : “Boleh saja Ibu menganggap seperti itu, tapi perasaan terikat antara ibu dan anak yang aku rasakan mengatakan kalau aku memang harus menjaga Ibu dahulu. Urusan pasangan hidup atau apalah itu nanti saja. Yang terpenting bagi Meira saat ini adalah Ibu.”
Ibu Meira         : “Sampai kapan Mei?”
Meira               : “Entah, Bu, pokoknya Meira ingin bersama Ibu selalu.”
Ibu Meira         : “ Kamu tau tidak Mei? Sikapmu yang seperti ini malah membuat Ibu merasa bersalah.”
Meira               : “Jangan berpikir seperti itu, Bu. Ibu bukan penghalang bagiku.”
Ibu Meira         : “Iya, Mei. Ibu merasa jadi penghalang buat kebahagian kamu, kamu jadi menunda menikah karena Ibu, kerja terus-terusan juga karena Ibu. Maafin Ibu ya nduk.”
Meira               : “Tidak bu, bukan salah Ibu. Ini adalah bagaimana satu-satunya cara kita bertahan hidup. Kalau tidak begini kita bakal luntang-luntung. Bukan hanya Ibu, tapi kita bu.”
Ibu Meira         : “Iya, Meira, terima kasih sudah menemani Ibu hingga saat ini. Tapi ingat Mei, kamu juga harus mencari bahagaimu sendiri.”
Meira               : “Hidup bersama Ibu adalah kebahagiaan Meira, Bu.”
                       
(Meira berjalan memeluk Ibunya, Ibu dan anak itu akhirnya tidak jadi masak dan duduk di meja makan sambil berpegangan tangan)

Meira               : “Sudah dari dulu Ibu selalu berjuang sendirian, mencari uang kesana kemari, dari tukan cuci baju hingga buruh pabrik semuanya ibu lakukan sendirian.”
Ibu Meira         : “Hanya itu yang dulu bisa Ibu lakukan. Maafkan Ibu kamu harus lahir dari rahim Ibu dan menjalani hidup yang cukup sulit.”
Meira               : “Ibu yang tanpa seorang laki-laki sebagai suami disampingnya dan juga seorang yatim, masih bisa bertahan hidup. Bukan hanya bertahan untuk dirinya sendiri, bahkan mampu membesarkan anak perempuan semata wayangnya.”
Ibu Meira         : (menangis tersedu-sedu sambil menggenggam tangan Meira)
Meira               : “Sekarang anak perempuan yang Ibu besarkan sudah mampu menghasilkan uang sendiri, sudah mampu memberikan apa yang ibu inginkan, sudah mampu menjaga diri sendiri. Semua ini karena siapa, Bu?”
Ibu Meira         : “Karena Meira sendiri. Meira memang pintar, Meira memang pantas mendapatkan semua ini.” (mengelus pipi Meira)
Meira               : “Tidak, Bu. Ini semua karena Ibu. Ibu yang mengajarkan ini semua kepada Meira.”
Ibu Meira         : “Tidak, Mei, Ibu hanya menyusahkanmu sejak kamu masih kecil.”
Meira               : “Ibu mengajarkanku, bahwa semuanya bisa dilalui bila kita yakin. Dahulu ibu yakin bisa melalui segala kesulitan karena ada aku.”
                        “Dahulu bisa dibilang, aku juga sebagai penghambat Ibu untuk menggapai cita-cita Ibu.”
Ibu Meira         : “Ibu tidak pernah merasa kamu adalah penghambat, Mei. Malahan Ibu senang karena ada kamu, Ibu jadi lebih semangat mencari pekerjaan yang lebih baik.”
Meira               : “Seumpamanya saat itu aku belum lahir, Ibu pasti sudah bisa mengambil sekolah keguruan tanpa memikirkan apapun.” (menghela napas yang panjang) “sayanganya saat itu aku sudah lahir, Ibu tidak bisa mengambil sekolah keguruan karena untuk menjadi guru prosesnya memerlukan waktu, sedangkan kita sedang membutuhkan uang sesegera mungkin. Sehingga Ibu harus bekerja serabutan untuk memnuhi kebutuhan kita.”
                        “Bahkan aku yang masih kecil sudah menghambat Ibu untuk menggapai cita-cita.”
Ibu Meira         : “Saat itu kamu masih kecil, belum memiliki tanggung jawab untuk membantu Ibu. Lagi pula pekerjaan apa yang akan dilakukan oleh anak berumur 3 tahun? Ibu ajak mengemis? Mana mungkin Ibu tega. Belum lagi bila ada razia Satpol PP.”
                        “Menurut Ibu, kamu tidak bersalah, Mei. Saat itu yang kita butuhkan hanyalah untuk bertahan hidup secara efektif. Jadi, Ibu rasa kamu tidak menghambat ibu untuk menggapai cita-cita Ibu.
Meira               : “Anggaplah setimpal saja, Bu. Aku menghambat Ibu untuk menggapai cita-cita. Sedangkan Ibu menghambatku menikah. Agar aku bisa menemani Ibu, agar Ibu tidak berjuang sendirian lagi hingga akhir.”
Ibu Meira         : “Baiklah Meira bila itu mau. Maaf bila ibu membuatmu tidak kunjung menikah. Terima kasih kamu telah memilih untuk menemani Ibu, terima kasih kamu ingin berjuang dengan Ibu hingga akhir.”
Meira               : “Bukan masalah besar, Bu, aku akan menemani Ibu hingga akhir.”

Meira dan Ibunya berpelukan erat, saling menguatkan untuk saling menemani hingga akhir.



SELESAI








Biografi Penulis

Rahajeng Shafira Raihanah Wiwaha adalah anak pertama dari dua bersaudara yang lahir di Karanganyar pada tanggal 21 April 1999. Penulis menempuh pendidikan SD di SDN Mojolangu 4, SMP di SMPN 16 Malang, SMA di SMA Brawijaya Smart School. Saat ini penulis sedang menjalani pendidikan strata 1 di Universitas Malang, Sastra Indonesia, Jurusan Pendidikan Bahasa, Sastra, Indonesia, dan Daerah. Penulis sangat menyukai minumes the dan menikamti bepergian seorang diri seperti ke bioskop, toko buku, dan taman kota. Penulis mengidolakan Joko Pinurbo sebagai panutannya saat membuat puisi. Saat ini penulis sedang tertarik membaca artikel dengan tema kesahatan mental, perempuan, dan anak.




Comments

Popular posts from this blog

NASKAH DRAMA ANAK YANG DURHAKA

ULANG TAHUN

Drama ANAK-ANAK TK