NASKAH DRAMA MENTARI SUBUH










MENTARI SUBUH
EGA WAHYUNI NENGTIAS WITOMO PUTRI
Tokoh dan penokohan:

1.      Kartika adalah gadis yatim piatu. Kedua orang tuanya telah meninggal, ibunya meninggal sejak ia kecil karena sakit yang di deritanya. Tak lama setelah ibunya meninggal, ayahnya pun ikut menyusul kepergian istrinya karena kecelakaan. Kematian kedua orang tuanya membuatnya harus putus sekolah, dan akhirnya membuatnya melacur. Dengan pembawaannya yang ceplas-ceplos dan apa adanya menjadi daya tariknya.  
2.      Aji adalah seorang pemuda yang lahir dari keluarga taat beragama. Selain menjadi seorang pemuda yang sholeh, karakter serta pembawannya yang kalem menjadi daya tariknya.
3.      Umi Aji. Wanita beranak satu yang kesehariannya selalu berpaian syar’i dengan sikap keibuaan dan bijaksananya membuatnya disegani di lingkungan tempat tinggalnya.
4.      Tri. Tri adalah sosok yang humoris dan usil. Ia adalah teman sekaligus sahabat Kartika. Tri sama halnya dengan Tika, ia adalah seorang Yatim Piatu yang membuatnya harus putus sekolah dan akhirnya membuatnya melancur. Berbeda dengan Tika yang memiliki rasa ingin berubah, Tri justru lebih menyukai pekerjaan haramnya.
5.      Reni, si gadis ayu nan lugu yang rela melakukan segalanya demi kebahagiaan keluarga. Karakternya yang lugu justru menjadi boomerang baginya. Ia mudah percaya dengan orang dan berakhir dengan kesialan yang harus ia terima.
6.      Ibu-Ibu 1 dan Ibu-Ibu 2. Mereka adalah warga kampung yang sangat usil dan suka julid.
























BAGIAN 1

Di suatu kampung, dipelosok kota, hidup seorang perempuan bernama Kartika. Perempuan cantik nan rupawan yang hidup dari hasil mata pencahariannya yang tidak patut, dia adalah seorang pelacur. Ia adalah seorang yatim piatu. Kematian kedua orang tuanya membuat Ia harus putus sekolah, dan akhirnya membuatnya melacur.

ANGIN DINGIN MENGELUS KULITNYA TANPA AMPUN. JAM SUDAH MENAMPILKAN PUKUL 00:15, TAPI TAK SATUPUN PELANGGAN YANG MENGHAMPIRINYA.

Tika:  (MEMBATIN) heran gue, tadi di sini masih ramai eh... tinggal gue sama dia aja yang masih di sini (SERAYA MELIHAT SEKELILING)

LALU IA MENYALAKAN SEBATANG ROKOK, HINGGA SEORANG WANITA YANG KEBETULAN JUGA BERPROFESI SAMA DENGANNYA DATANG MENGHAMPIRINYA.

Wanita 1 (Reni): “Mbak?” (SAPANYA)

TIKA MENGURUNGKAN MENYULUT ROKOKNYA

Tika: “Hmm?”
Wanita 1 (Reni): “Saya duduk di sini ya, mbak?”
TIKA TAK MENJAWAB, NAMUN IA MENGGESER SEDIKIT TUBUHNYA UNTUK MEBERIKAN TEMPAT DUDUK UNTUKNYA.

Wanita 1 (Reni): “Saya Reni.”

TIKA SEDIKIT TERKEJUT

Tika: “Tika.”
Reni: “Mbak Tika sering mangkal di sini?”
Tika: “Lumayan. Tapi paling sering di daerah belakang kantor Bank Rakyat”
Reni: “Oh...”

TIKA MENOLEH KE ARAH RENI

Tika: “Lo sendiri, biasanya mangkal dimana? Soalnya gue gak pernah lihat lo di sini?”
Reni: “Saya biasanya online, mbak. Baru hari ini aja saya langsung ke tempat.”
TIKA HANYA MANGUT-MANGUT

Reni: “Mbak Tika asal sini?”
Tika: “Iya, gue asli Jakarta. Lo?”
Reni: “Saya dari Pekalongan, Mbak”
Tika: “Jangan panggil Mbak. Tika aja. Jadi lo merantau donk disini?”
Reni: “Saya kena tipu.”
Tika: “Ketipu?”
RENI TERSENYUM MIRIS

Reni: “Awalnya saya ke sini dijanjiin untuk jadi ART eh... taunya saya dijual”
Tika: “Sama siapa?”
Reni: “Sama teman saya.”
Tika: “Lah?”
RENI TERTAWA SUMBANG

Reni: “Salah saya sendiri sih kenapa gampang percaya sama dia, padahal baru kenal.”

TIKA TAK MENYAHUT

Reni: “Awalnya saya kenal di Facebook. Waktu itu saya bikin status kalau saya lagi butuh kerjaan, terus dia ngirim pesan lewat Fb, katanya dia ada lowongan pekerjaan untuk jadi ART dan dia bilang bisa masukin saya.”
Tika: “Terus?”

RENI TERTAWA KECIL

Reni: “Karena posisi lowongan itu ada di Jakarta saya otomatif harus ke sana. Orang tua saya sebenarnya nggak ngasih izin, tapi saya tetep kekeh mau berangkat. Dan ya... akhirnya saya seperti ini.” (UCAPNNYA MIRIS)

TIKA BERDECIH LIRIH.

Tika: “Lo sih, gampang percaya sama orang!”
Reni: “Ya... mau gimana lagi, namanya orang lagi butuh uang.”
TIKA TERSENYUM SINIS.

Tika: “Butuh duwit buat apaan? Lo masih muda, paling-paling juga tu duwit buat lu beli gincu!

RENI TERSENYUM.

Reni: “Ibu saya lagi sakit, bapak udah tua. Sementara ada adik saya masih kelas 5 SD.”

TIKA BERDEHEM KARENA MERASA BERSALAH.

Reni: “Ibu saya butuh uang buat berobat, terus ada adik saya yang masih kelas 5. Sementara ayah saya sudah tua, sudah mulai sakit-sakitan. Mangkannya saya nekat pergi ke sini, walaupun sebenarnya saya takut. Tapi mau bagaimana lagi? Keluarga saya membutuhkan uang untuk tetap hidup.

Tika: “Lo... nggak coba buat kabur atau lapor polisi gitu?”

Reni: “Saya nggak berani. Dia tahu tempat tinggal saya begitupun dengan semua anggota keluarga saya. Dia bilang, kalau saya mencoba kabur atau lapor polisi, dia akan datang ke rumah dan bilang kalau selama ini uang yang saya kirimkan adalah hasil dari menjual diri.”

RENI MENGHELA NAFAS BERAT DAN MENENGGADAHKAN KEPALANYA KE ATAS.

Reni: “Bukannya saya takut untuk diusir atau digampar, tapi saya lebih takut jika semua keluarga saya tahu betapa bejatnya saya. Saya nggak mau Ibu dan Bapak saya sedih dan merasa bersalah karena gagal menjaga anak putrinya. Meraka sudah tua dan saya nggak mau sisa hidup mereka dihantui oleh rasa sedih, malu, dan bersalah... (RENI MENOLEH KE ARAH TIKA DAN TERSENYUM MIRIS) Terutama adik saya, saya nggak mau menunjukkan bejatnya saya, saya ingin dia tetap memiliki pandangan yang baik tentang saya. Bukan bermaksud saya egois, tapi saya tidak mau menyakiti hatinya tentang citra buruk kakaknya.”

TIKA MEMANDANG WAJAH LUGU RENI DENGAN PANDANGAN SEDIH DAN MENGHELA NAFAS BERAT.
Reni: “Jangan pandangi saya dengan sedih, sejujurya saya benci dikasihani.” (UCAPNYA DENGAN SEDIKIT TAWA)

TIKA TERSENYUM TIPIS LALU MENARIK NAFAS SINGKAT.

Reni: “Kamu sendiri kenapa bisa seperti ini?”
Tika: “Butuh duwit!”
Reni: “Yaelah semua juga butuh duwit, Tik.”

TIKA TERTAWA SINGKAT

Tika: “Udah tahu kenapa nanya? Gue begini karena gue butuh duwit buat hidup. Buat makan, sewa tempat tinggal, beli baju, beli kuota, bayar listrik, bayar PDAM, beli rokok, sama beli kuota. Banyaklah pokok (SERAYA MENGIBASKAN SEBELAH TANGGANNYA).”
Reni: “Kok nggak ngasih Bapak Ibu?”
Tika: “Yeee... ni anak... kagak usah lo suruh gue pasti ngasih kalau mereka masih hidup!”
RENI SEDIKIT TERCENGENG DAN KETIKA HENDAK BERBICARA, UCAPANNYA TERHENTI KARENA TIKA KEMBALI BERBICARA.
Tika: “Udah nggak usah minta maaf! (SAMBUNGNYA SERAYA MENGIBASKAN TANGAN). Lagian lo juga kan kagak tau.”

LAMPU PANGGUNG PADAM

BAGIAN 2
BEBERAPA KALI TERDENGAR SUARA AYAM BERKOKOK DAN TIKA BERJALAN PULANG DENGAN KEPALA MENUNDUK. SESEKALI IA TERSENYUM MIRIS KETIKA INGATANNYA KEMBALI TERINGAT TENTANG PEMBICARANNYA DENGAN RENI TADI. IA DAN RENI MENGHABISKAN WAKTU BERJAM-JAM UNTUK MENGOBROL DAN SIALNYA IA TIDAK MENGHASILAKN UANG SEPESERPUN.
“Ash shalaatu khairum minan naum....”
Tika: “Wah... gila sampai Subuh gue ngebacot sama dia”
TIKA BERPAPASAN DENGAN SEORANG PEMUDA LAKI-LAKI BERPAKAIAN BAJU KOKO DAN BERSARUNG, TAK LUPA JUGA DENGAN PECI YANG MENUTUP KEPALANYA.

Lelaki 1 (Aji): “Baru pulang, Tik?”
Tika: “Udah tahu, kenapa nanya?”
Lelaki 1 (Aji): “Kenapa nggak mampir ke masjid?”
TIKA MENDENGUS
Tika: “Udahlah, Ji, kalau mau salat, salat aja. Nggak usah ngajak-ngajak gue, gue mau pulang, ngantuk. Assalamualikum.”
BELUM SEMPAT AJI MENJAWAB, TIKA SUDAH LEBIH DULU BERJALAN MENINGGALKANNYA. AJI GELENG-GELENG KEPALA SERAYA TERSENYUM TIPIS.
Aji: “Waalaikumsalam...”
LAMPU PANGGUNG PADAM

BAGIAN 3
Hari demi hari terus berganti dan tika tetap menjalankan kehidupannya sebagai gadis malam. Berangkat malam pulang subuh. Entah sampai kapan ia menjalankan kehidupan kotornya. Melayani para lelaki hidung belang yang haus akan belaian. Pernah terlintas dibenaknya untuk berhenti dan mencari pekerjaan lain, namun satu-satunya ijazah yang ia punya adalah ijazah sd dan ia tidak punya cukup kemampuan di bidang tertentu. Bakat satu-satunya yang ia punya adalah membuat lelaki puas dengan layanannya.
GADIS DENGAN BALUTAN GAUN HITAM SELUTUT DAN SEDIKT KETAT MENAMPILKAN LEKUK TUBUHNYA YANG MENAWAN. HIASAN WAJAHNYA YANG SEDIKIT MENOR NAMUN TETAP ENAK DIPANDANG MEMBUATNYA KIAN CANTIK MALAM INI. SEMILIR ANGIN MENGELUS KULIT LENGANNYA YANG TERHALANG KAIN. MALAM INI TIKA MANGKAL DI BELAKANG GEDUNG BANK RAKYAT. JAM SUDAH MENAMPILKAN PUKUL 23:46, NAMUN TAK ADA SATUPUN PELANGGAN YANG MENGHAMPIRINYA.
TIKA HENDAK MENYALAKAN SEBATANG ROKOK, HINGGA SESEORANG PRIA DATANG MENGHAMPIRINYA.

Tika: “Lo ngapain disini? Mau cari hiburan?”
Aji: “Enggak, kebetulan saja saya tadi lewat sini.”
Tika: “Oh. Yaudah sana buruan pulang!” (USIR TIKA SEDIKIT KETUS)
AJI TERSENYUM.
Aji: “Ini udah malam, kamu nggak pulang?”
TIKA MENYIMPAN KEMBALI ROKOKNYA KE DALAM DUS ROKOK LALU MEMASUKKANNYA KE DALAM TAS TANGANNYA.
Tika: “Yeee... kehidupan gue kan emang malam hari.”
AJI TIDAK MENYAHUT. IA TERSENYUM SAMAR DAN MEMPERHATIKAN WAJAH TIKA.
Tika: “Dih, ngapain lo senyum-senyum ngelihatin, gue?” (UJAR TIKA KETUS DENGAN GESTUR TUBUH SEDIKIT BERGIDIK NGERI)
TIKA BERKACAK PINGGANG.

Tika: “Eh, Ji. Kalau lo mau hiburan, ayo. Gue siap. Asal lo mau bayar tarifnya!”
Aji: “Saya sudah bilang padamu, saya sedang tidak butuh hiburan.”
Tika: “Dih... kaku banget ni orang! (UJARNYA DENGAN SEIKIT TERTAWA), terus lo mau ngapain disini?”

Aji: “Kan saya juga sudah bilang padamu, saya kebetulan lewat disini.”
Tika: “Ah.... bodo amat gue kagak peduli sama, lo!”
TIKA BERJALAN SEDIKIT MENJAUH DAN DUDUK DI BANGKU KAYU PANJANG YANG KEBETULAN ADA DISITU.
Tika: “Lah, kenapa ikut duduk? Mendingan nih ya lo pulang, gih! Dicariin Abi sama Umi lo entar. Lo nggak takut emang, ada warga kampung yang kebetulan tahu lo disini. Duduk sama gue. Terus jadi bahan gosipan warga kampung, mau lo?”

BELUM SEMPAT AJI MENJAWAB DATANG SEORANG PRIA MENGHAMPIRI MEREKA.
Laki-laki 2: “Mbak, masih kosong?”
TIKA BERANJAK BERDIRI.
Tika: “Masih, mas. Mau?”
Laki-laki 2: “Berapa mbak dua jam?”
Tika: “Emm.... 900 deh buat, masnya. Gimana?”

LAKI-LAKI 2 MELIRIK SEKILAS KE ARAH AJI LALU MENATAP TIKA. MEMPERHATIKA TIKA DARI UJUNG KEPALA HINGGA KAKI SERAYA MANGGUT-MANGGUT.

Laki-laki 2: “Oke, deal.”
TIKA TERSENYUM PUAS.
Tika: “Sip. Yaudah ayo, mas.”
TIKA MENOLEH KE ARAH AJI DAN MELIHAT AJI SEDANG MENUNDUK.
Tika: “Ji?” (PANGGILNYA DENGAN LEMBUT)
AJI MENENGGADAHKAN KEPALANYA DAN MENATAP TIKA.
Tika: “Lo cepetan pulang, gih! Disini nggak baik buat, lo.”
SETELAH ITU TIKA MENGGANDENG TANGAN LELAKI YANG SUDAH MEMESANNYA DAN BERJALAN MENINGGALKAN AJI.

TIKA DAN LELAKI TERSEBUT KELUAR DARI PANGGUNG
AJI MENGHELA NAFAS BERAT, MENGUSAP WAJAHNYA DENGAN KASAR LALU BANGKIT DARI DUDUKNYA DAN BERJALAN KE ARAH BERLAWAN DENGAN ARAH TIKA DAN LELAKI TERSEBUT.
AJI KELUAR DARI PANGGUNG.
LAMPU PANGGUNG MATI. 

BAGIAN 4
TIKA BERJALAN PULANG DENGAN HATI PERASAAN SENANG. SESEKALI IA BERSENANDUNG KECIL DAN TERKIKIK GELI MENGINGAT KEJADIAN YANG BARU SAJA IA ALAMI.
Tika: “Bener-bener rezeki gue dah hari ini. Mana dia ganteng, mainnya alus, di apartemennya lagi, dikasih bonus juga. Ya ampun... bener-bener dah rezeki nomplok.”
“Ash shalaatu khairum minan naum....”
TIKA MENGHENTIKA LANGKAHNYA LALU MENGHELA NAFAS BERAT.
Tika: “Kayaknya, Adzan Shubuh bener-bener jadi jam pulang gue deh. Tiap kali gue pulang ke rumah, selalu Adzan Shubuh.”

TIKA HENDAK MEANJUTKAN LANGKAHNYA NAMUN LANGKAHNYA TERHENTI KETIKA MELIHAT AJI BERJALAN DARI ARAH BERLAWANAN KE ARAHNYA.

Tika: “Widiw... cakep bener dah anaknya pak aji!”
Aji: “Assalamualaikum.”
Tika: (TIKA BERDEHEM) Waalaikumsalam.”
Aji: “Ke masjid yuk, Tik?”
Tika: “HA?”

AJI TERSENYUM LEMBUT.

Aji: “Denger suara Adzan, kan? Mendingan sekalian ke masjid, terus pulang.”
Tika: “Nggak usah deh, Ji. Lo aja yang ke masjid. Gue.. mau pulang hehe.” (TOLAK TIKA SEDIKIT SUNGKAN)
Aji: “Mau pulang terus tidur?”
Tika: (TERKIKIK SUNGKAN) iya.”
Aji: “Tahu artinya Ash shalaatu khairum minan naum, nggak?”

TIKA TERSENYUM MALU LALU MENGGELENGKAN KEPALANYA.
Aji: (TERSENYUM) artinya, salat itu lebih baik daripada tidur.”
Tika: “Terus?”
AJI TERTAWA KECIL.
Aji: “Itu artinya akan lebih baik jika kita mengerjakan salat daripada tidur. Salat mendapatkan pahala sementara tetap tertidur meskipun sebenarnya mendengar suara adzan, kita tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali dosa.”
Tika: “Kan tidur kebutuhan manusia.
Aji: “Tidur memang kebutuhan manusia. Tapi melupakan ibadah apalagi salat dengan alasan mengantuk itu yang tidak baik. Menunda-nunda ibadah itu tidak baik, apalagi salat. Siapa tahu semenit kedepan kamu sudah lewat dan dalam kondisi belum mengerjakan shalat.”

Tika: “Eh... lo nyumpahi, gue?” (KETUS TIKA)
Aji: “Bukan Tika, saya tidak bermaksud begitu. Menunda shalat itu artinya menunda masuk surga dan yang namanya umur tidak ada yang tahu.”
TIKA HANYA BERDEHEM DAN MENGGARUK SISI KEPALANYA.
Aji: “Ayo?
Tika: “Kemana?”
Aji: “Kita ke masjid, Salat Subuh berjamaah!”
LAMPU PANGGUNG PADAM

BAGIAN 5
Tri: “Darimana lo jam segini baru pulang?” (UJARNYA KETIKA TIKA MEMBUKA PINTU RUMAH)
Tika: “Masjid.”
TRI MENYEMBURKAN MINUMNYA KAGET.
Tri: “Masjid? Ngapain lo?” (TANYA DENGAN NADA SEDIKIT KETUS SERAYA MENGELAP BIBIRNYA)
TIKA MENGHELA NAFAS LELAH DAN DUDUK DI SAMPING TRI.
Tika: “Salat.”
Tri: “Emang lo bisa?”
Tika: “Ya jelas kagak lah”
Tri: “Terus lo ngapain ke masjid?”
Tika: “Gue salat, Tri. Tapi kagak bisa. Disana gue cuma jungkang-jungking doang, kagak baca apa-apa. Cuma bilang Aamiin, udah.”
Tri: “Maksud gue gini, lo kan kagak bisa shalat terus lo ngapain pergi ke masjid? Mau mempermalukan diri sendiri?”
Tika: “Si Aji yang ngajak.”
Tri: “HA?”
Tika: “Ah... udahlah gue mau tidur!”
TIKA HENDAK BERDIRI NAMUN DITAHAN OLEH TRI.
Tri: “Ehh..bentar dulu. Ceritaian gimana bisa si ubin masjid ngajak lo salat ke masjid?”
TIKA MENGGERANG KESAL DAN MENGGARUK BELAKANG KEPALANYA DENGAN KESAL.
Tika: “Tadi waktu gue pulang kagak sengaja ketemu dia di dekat masjid. Kebetulan si Aji nonggol pas lagi adzan. Terus dia nanya kenapa gue nggak mampir ke masjid. Lo pasti tahu kan apa jawaban gue?”
Tri: “Pulang, mau tidur.”
Tika: “Pinter.”
Tri: “Terus?”
Tika: “Terus si Aji nanya ke gue apa arti dari... dari apa ya.... suara adzan pokoknya! Nah dia nanya apa artinya, ya gue bilanglah kalau gue nggak tahu. Terus katanya, artinya tu kalau salat lebih baik daripada tidur...”
Tri: “Terus?”
Tika: “Teras-Terus mulu, lo! (KETUSNNYA) terus katanya kalau nunda ibadah apalagi salat itu nggak baik. Terus nih ya, masak dia bilang gini, menunda-nunda ibadah itu tidak baik, apalagi salat. Siapa tahu semenit kedepan kamu meninggal, dan dalam kondisi belum mengerjakan salat (MENIRUKAN NADA SUARA AJI) gitu, Tri.”
Tri: “Terus akhirnya lo mau diajak dia ke masjid.”
TIKA HANYA MENGGANGGUK LESU.
Tri: “Yaudalah itung-itung lo punya pesangon buat ke akhirat nanti.”
Tika: “Yang tadi kagak masuk itungan! Masak gue shalat kagak baca doa sama sekali.”
TRI TERTAWA DAN MENGHENTIKAN TAWANYA KETIKA ADA SESEORANG MENGETUK PINTU.
Tika: “Tri, bukain!”
Tri: “Aish... lo mah..” (GERUTU TRI SERAYA BERDIRI LALU BERJALAN MEMBUKA PINTU.
Aji: “Assalamualaikum.”
Tri: “Eh? (SEDIKIT KAGET) Wa... Waalaikumsalam. Ada apa ya, Ji?”
Aji: “Kartikanya ada?”
Tri: “Oh, ada. (BERTERIAK MEMANGGIL TIKA) Tik? Tika?”
Tika: “Ha?” (SAHUTNYA DENGAN MALAS LALU BERJALAN KELUAR)
Aji: “Assalamualaikmu.”
Tika: “Lah, lo ngapain kesini? Waalaikumsalam (DENGAN SEWOT MENJAWAB SALAM)
AJI TERSENYUM LALU MEMBERIKAN TAS KERTAS PADA TIKA
Aji: “Dari Umi.”
Tika: “Buat gue?” (TANYANYA RAGU SERAYA MENERIMA TAS KERTAS TERSEBUT)
Aji: “Iya, Umi nitip itu buat kamu.”
TIKA DAN TRI MENGINTIP ISI TAS KERTAS TERSEBUT LALU TIKA MENGAMBIL ISINYA.
Tika: “Ha? Nggak salah nih? Buat gue?”
Aji: “Enggak, itu dari Umi buat kamu. Kalau begitu saya permisi, Assalamualaikum.”
Tika dan Tri: “Waalaikumsalam...”
TIKA LEBIH DULU MASUK KE DALAM RUMAH LALU DUDUK DI BANGKU RUANG TAMU DIIKUTI TRI SETELAH IA MENUTUP PINTU.
TIKA MEMANDANG BARANG-BARANG TERSEBUT YANG IA LETAKAKKAN DI ATAS MEJA DENGAN BINGUNG.
Tri: “Jadi itu dari ibu mertua?”
Tika: “Lambemu ibu mertua!” (SAMBARNYA)
Tri: “Ibu mertua ingin calon mantunya mempersiapkan diri, jadi ente harus mempelajarinya dan mempraktekkannya!” (GODANYA)
Tika: “Lo ngomong ibu mertua-mertua lagi gue tonjok lo, ya!”
TRI TERTAWA CEKIKIKAN.
Tika: “(MENGAMBIL BUKUNYA) Tuntunan Shalat Lengkap (MEMBACA JUDUL BUKU YANG ADA DI TANGANNYA). Astagaaa” (KELUHNYA)
Tri: “Kok bisa ya, Uminya si Aji ngasih ini barang ke lo?’
Tika: “Mana gue tahu (KETUSNYA) tadi gue ketemu sih sama Uminya Aji terus gue salatnya sebelahan sama dia. Apa karena salat gue kelihatan gak bener ya, mangkannya Uminya Aji ngasih ini ke gue?”
Tri: “Bukan shalat lo yang kelihatan gak bener, tapi emang gak bener!”
LAMPU PANGGUNG PADAM

BAGIAN 6
MALAM INI TIKA TIDAK MANGKAL, DIA LIBUR. JADI IA MENGHABISKAN WAKTUNYA DENGAN DUDUK SELONJORAN DI ATAS KASUR DENGAN KEDUA TELINGA TERSUMPAL EARPHONE PUTIH, SEMENTARA JARINYA SIBUK MENSCROLL LAYAR PONSELNYA.
SESEKALI TIKA BERSENANDUNG RIA “Yowes ben duwe bojo seng galak, yowes ben seng omongane sengak...”
Tika: “Kenapa Explore Instagram gue isinya ceramah akhir zaman semua sih, heran gue."
ENTAH APA YANG MEMBUAT TIKA MENG-KLIK SEBUAH VIDEO DENGAN JUDUL KIAMAT SUDAH DEKAT.
MENAMPILKAN SUARA TENTANG VIDEO KIAMAT SUDAH DEKAT
Tika: “ANJIR!” (SERAYA MELEPAS EARPHONE-NYA).
Tika: “Gila-gila, ternyata akhir zaman itu serem, ya? (MENGHELA NAFAS FRUSTASI) Bau-baunya kalau gue mati bakalan masuk neraka, deh. Hi… amit-amit, jangan sampai. (BERGIDIK NGERI).”
TIKA MENOLEH KE ARAH NAKAS SAMPING RANJANG YANG DI ATASNYA TERDAPAT TAS KERTAS PEMBERIAN UMI-NYA AJI. DENGAN RAGU DIAMBILLAH TAS ITU DAN DIKELUARKAN ISINYA. TIKA MEMANDANG MUKENAH PUTIH TERSEBUT DENGAN PERASAAN SEDIH.
Tika: “Andai aja bapak sama ibu masih hidup, pasti mereka bakalan jadi panutan gue dalam hidup.”
TRI MENGETUK PINTU KAMAR TIKA DAN MASUK.
Tri: “Tik, gue berangkat dulu, ya! Eh lo kenapa?”
TRI MENDEKATI TIKA DAN DUDUK DI SEBELAHNYA.
Tika: “Sedih gue.”
Tri: “Baru kali ini gue ketemu orang yang dengan jujur bilang kalau lagi sedih (UCAPNYA TERHERAN). Sedih kenapa sih, lo?”
Tika: “Gue kangen orang tua gue.”
Tri: “(MENGHELA NAFAS) wajar lo kangen. Udah lama juga kan lo nggak ketemu mereka. Kalau lo mau ketemu, ya lo harus nyusulin mereka.”
Tika: “Sembarang lo!”
Tri: “Haha sorry sorry. Lagian gue belum siap kehilangan lo dan gue yakin lo pasti juga belum siap masuk neraka.”
Tika: “ASTAGA… TRI!”

TRI TERTAWA LALU BERDEHEM.

Tika: “Perasaan mereka disana gimana ya, kalau tahu gue kagak bener ngejalanin hidup?”
Tri: “Yang pasti sedih.”

TIKA TERSENYUM MIRIS.

Tika: “Apa menurut lo, mereka disana ikut menanggung dosa gue?”
Tri: “Nggak tau! Lo salah kalau tanya masalah agama ke gue.”
Tika: “Tapi yang jelas mereka pasti sedih lihat kelakuan gue.”
Tri: “Udahlah daripada lo menduga-menduga mending lo doain mereka aja. Minta sama Yang Kuasa supaya dosa-dosa mereka diampuni, dimuliakan, dan dipertemukan dalam surga. Eh tapi gimana caranya lo berdoa? Salat aja kagak pernah.”
Tika: “Sialan, lo!” (UCAPNYA SERAYA TERTAWA).
Tri: “Eh? Lo kemarin kan dikasih calon mertua bingkisan. Nah ini, dipangku wae ah sama si neng. Dibuka atuh bukunya, dipelajari terus diparktekkan!”
Tika: “Yaelah gue kan kagak bisa baca tulisan Arab.”
Tri: “Sumpah ya ni anak bloonnya kebangetan. Nih, (TRI MERAMPAS BUKU TERSEBUT LALU MEMBUKNYA) ada tulisan abjadnya. Jangan bilang lo nggak bisa baca?”
Tika: “Bisa anjay (MERAMPAS BUKUNYA KEMBALI).”
Tri: “Yaudah lo pelajari, lo hafalin terus lo praktekkin. Siapa tahu setelah ini lo jadi anak yang bener.”
Tika: “Lo nggak mau belajar juga?”
Tri: “Emm… entar deh. Gue mau menjemput rezeki dulu. Dah…”

TRI KELUAR KAMAR DAN KELUAR DARI PANGGUNG

Tika: “Harus banget ya belajar ini? Ah bodo amatlah!” (MUKENAH DAN BUKUNYA IA LEMPAR KE ATAS BANTAL LALU IA REBAHAN DI SAMPINGNYA).
Tika: “AH… TAPI GUE TAKUT MASUK NERAKA!” (TERIAKNYA FRUSTASI SERAYA BANGKIT DARI TIDUR).
DIAMBIL KEMBALI MUKENAHNYA LALU IA KENAKAN. TIKA BERJALAN KE ARAH MEJA RIASNYA.
Tika: “WIH! Gila gue cakep juga ya kalau pakai ini mukenah.”
TIKA MENGAMATI PENAMPILANNYA DARI UJUNG KEPALA HINGGA KAKI LALU KEMBALI DUDUK DI ATAS RANJANG. MENGAMBIL BUKU TUNTUNAN SHALAT LALU MULAI MEMBACA NIAT SALAT ISYA.
Tika: “Ah… susah banget anjay!” (KELUHNYA)
LAMPU PANGGUNG PADAM

BAGIAN 7
INI SUDAH HARI KEENAM TIKA TIDAK MANGKAL DAN SELAMA INI IA MENGHABISKAN WAKTUNYA DENGAN BELAJAR NIAT SERTA BACAAN SALAT.
Tika: “Assalamu alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.”
Tri: “Widiw…. Akhirnya temen gue salat.” (UCAPNYA KAGUM SAAT IA MASUK KAMAR TIKA DAN MENDAPATINYA SEDANG SALAT).
Tika: “Ekhem…Alhamdulillah (BALASNYA DENGAN GURAU).”
Tri: “Jadi, udah siap nih ya di imami sama Mas Aji?”

TIKA MEMUKUL TRI DENGAN SAJADAH.

Tri: “Sabar, buk. Kalem.”
Tika: “Ngapain lo kesini?” (TANYANYA SEWOT)
Tri: “Ih… nge-gas dia! Gue mau pamit.”
Tika: “Pamit? Mau kemana lo?”
Tri: “Mangkal.”
Tika: “Astaga….”
Tri: “Eh, Tik? Lo kan ini tadi kan salat, berarti lo udah selesai halangan?

TIKA MENJAWAB DENGAN ANGGUKAN DAN GUMAMAN SERAYA MELIPAT MUKENAHNYA.

Tri: “Mangkal nggak, lo?”
Tika: “Nggak deh.”
Tri: “Kenapa? Beneran tobat, lo?”
Tika: “Gue Aamiin-i deh, siapa tahu di kabulin.”
Tri: “Iyain.”
Tika: “Jadi, kapan lo salat?”
Tri: “Widiw… akhirnya temen gue sudah mulai menunjukkan tanda-tanda menuju kebenaran.”
Tika: “Umur nggak ada yang tahu.”
Tri: “Gue kayaknya kenal deh sama itu omongan? Oh iya kan itu petuah dari Mas Aji  (GODANYA).”
Tika: “Apaan sih, lo.”
Tri: “Yaudalah lah, Tik untuk saat ini jalan pikiran gue masih petang. Kalau lo kan udah mendingan, remang-remang. Jadi, lo doain aja ya, supaya gue cepet dapat hidayah.”
Tika: “Iye… Aamiin.”
Tri: “Yaudah kalau gitu gue berangkat. Assalamualaikum.”
Tika: “Waalaikumsalam.”

SELANG BEBERAPA MENIT TIKA MENDAPATKAN TELEPON MASUK. 

Tika: “Halo? Iya saya Tika, temannya. Apa? KECELAKAAN?”


LAMPU PANGGUNG PADAM

BAGIAN 8
TIKA BARU SAJA KELUAR DARI MASJID. BEBERAPA IBU-IBU YANG JUGA KELUAR DARI MASJID MENYAPANYA. ADA YANG MENYAPA RAMAH, MEMANDANGNYA SINIS, DAN ADA DUA IBU-IBU YANG SANGAT SUKA JULID MENGHAMPIRINYA.
Ibu-ibu 1: “Eeh… neng Tika salat?”
Ibu-ibu 2: “Wah… kayaknya kita harus bikin syukuran, nih!”
TIKA HANYA DIAM SAJA MEMANDANGNYA DENGAN WAJAH DATAR.
Ibu-ibu 2: “Neng Tika, tadi badannya nggak kepanasan, kan?”
Tika: “Enggak.” (JAWABNYA DATAR)
Ibu-ibu 1: “Neng Tika tadi baca doa sama niat salat, nggak?”
Tika: “Baca.”
Ibu-ibu 2: “Wah, emang bisa, neng? Belajar dari mana?”
Tika: “Dari mana aja.”
Ibu-ibu 1: “Wah, hebatnya neng Tika! Ada apa sih neng, kenapa tiba-tiba pergi ke masjid? Biasanya kan jam segini baru pulang.”
Ibu-ibu 2: “Pulang dari mana, bu?” (GODANYA)
Ibu-ibu 1: “Menghibur para lelaki.” (JAWABNYA SERAYA TERTAWA CEKIKIKAN)
TIKA MEMANDANGNYA DATAR SERAYA MENGHELA NAFAS LELAH LALU DATANGLAH AJI BESERTA UMINYA.
Umi Aji dan Aji: “Assalamualaiku.”
Tika: “Waalaikumsalam.”

IBU-IBU 1 DAN 2 BERUSAHA MENGHENTIKA TAWA.

Ibu-ibu 1 dan 2: “Waalaikumsalam.” (JAWABNYA DENGAN TAWA YANG MASIH TERSISA).
Umi Aji: “Ada apa nih, bu, kok heboh banget?”
IBU-IBU 1: “Ini loh, Umi, si Tika salat. Kita jadi terharu, ya nggak, bu?” (TANYANYA PADA IBU-IBU 2).
IBU-IBU 2: “Iya, Umi, tadi waktu saya wudhu kaget tahu si Tika ke masjid. Biasanya kan dia lebih suka keluar masuk kamar daripada keluar masuk masjid.”
UMI AJI: “Astagfirullah, Bu , nggak baik berbicara seperti itu!”
IBU-IBU 2: “Loh, itu fakta lo Umi, Nak Aji. Kalian berdua tahu sendiri kan kebiasannya si Tika yang suka menghibur perasaan lelaki?”
IBU-IBU 1: “Saya jadi heran, kenapa si Tika tiba-tiba berubah. Pergi salat, pakai pakainya yang tertutup dan yang paling penting, dia bekerja sebagai pramu saji di rumah makan depan perumahan sana. Padahal kan gaji pramu saji lebih kecil dibandingkan dengan pekerjaannya yang sebelumnya.”
AJI: “Tidak baik membicarakan aib orang lain. Akan lebih baik jika kita mendukung perubahan baiknya.”
UMI AJI: “Betul, ibu-ibu, semua orang pernah berbuat salah begitupun Tika. Tapi yang terpenting sekarang, Tika masih memiliki waktu untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan kita seharusnya mendukung perubahan itu. dengan begitu kita akan sama-sama mmperoleh ridha Yang Kuasa.”

KEDUA IBU-IBU BERDEHEM KIKUK.

IBU-IBU 1: “Emm... kalau begitu kita pamit dulu, mau masak untuk sarapan. Asaalamualaikum. Ayo, Bu! (AJAKNYA PADA IBU-IBU 2)
IBU-IBU 2: “Assalamualaikum.”  (PAMITNYA KIKUK).
UMI AJI, AJI, dan TIKA: “Waalaikumsalam.”
UMI AJI: “Tika (PANGGILNYA LEMBUT) kamu jangan gentar ya dengan omongan orang lain. Umi yakin kamu akan menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Allah maha pemberi maaf dan kini kamu sudah mendapat hidayah-Nya, kamu harus sepenuhnya bertobat dan mendekatkan diri pada-Nya agar kamu tidak lagi terjerumus ke dalam hal buruk yang sudah-sudah.”
AJI: “Batul, Tika. Kamu beruntung karena masih di berikan kesempatan untuk bertaubat. Kamu harus istiqomah dalam hal ini.”
TIKA: “Terima kasih, Umi, Aji. Terima kasih karena kalian telah menjadi perantara untuk saya mendapatkan hidayah. Semoga saya bisa istiqomah di jalan-Nya.”
UMI dan AJI: “Aamiin… (JAWABNYA SERAYA TERSENYUM BANGGA).”

SELESAI
                                         Tentang Penulis

Ega Wahyuni Nengtias Witomo Putri yang kerap dipanggil Ega adalah gadis kelahiran Sidoarjo, 08 Juni 1999. Lahir dan besar di kota Sidoarjo, penulis menempuh pendidikan sekolah dasar di SD Negeri 2 Temu, kemudian melanjutkan studinya di SMP Negeri 2 Balongbendo. Tahun 2017 ia berhasil menamatkan masa putih abu-abunya di SMA AL-Islam.
Kegemarannya menonton Drama Korea menjadi awalnya gemar dalam hal tulis menulis. Sejak duduk di bangku SMP, penulis sudah beberapa kali menulis fanfiction yang tentu saja tokoh dan bahasanya tidak lepas dari budaya Korea. Penulis juga pernah menjajal kemampuannya dalam menulis cerita di aplikasi Wattpad, namun karena saat itu penulis sedang fokus UN SMA maka ia memutuskan hiatus atau vakum dari dunia Wattpad. Kegemarannya dan kecintaannya dalam dunia tulis menulis inilah yang membuatnya melanjutkan studi kuliah di Universitas Negeri Malang (UM) sebagai mahasiswi jurusan Sastra Indonesia. Penulis juga pernah tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis (UKMP) dan sekarang aktif dalam Gerakan Mahasiswa Anti Napza (GERMAN).



Comments

Popular posts from this blog

NASKAH DRAMA ANAK YANG DURHAKA

ULANG TAHUN

Drama ANAK-ANAK TK