NASKAH DRAMA MENTERI PERTANIAN








MENTERI PERTANIAN
Oleh Sella AR




TAHUN 879 DI KOTA SHANLON, IBUKOTA DINASTI QIA. KAISAR ZHENG SEDANG MERENUNG MEMIKIRKAN PENGGANTI MENTERI PERTANIANNYA YANG PERI BIJAKSANA DAN PANDAI MENGELOLA TANAH KEKAISARAN BESERTA TANAMAN-TANAMANNYA. BERKAT JASA MENTERINYA TERSEBUT JUGA, TAK SATUPUN RAKYAT QIA YANG MENDERITA KELAPARAN.
BAGIAN I
DI BALKON KERAJAAN BERDIRILAH KAISAR YANG SEDANG MENGHADAP HAMPARAN TANAH KEKUASAANNYA YANG LUAS. IA TERLIHAT RESAH. LALU DATANGLAH PERMAISURI MEMBAWAKAN SECANGKIR TEH UNTUK RAJA.
PERMAISURI           : “Mengapa Baginda terlihat resah?” (DUDUK DI KURSI, LALU MENUANGKAN TEH UNTUK RAJA)
KAISAR ZHENG      : (MEMBALIKKAN BADAN, LALU BERJALAN MENDEKATI PERMAISURI DAN DUDUK DI HADAPANNYA. IA MEMINUM TEH YANG DITUANGKAN PERMAISURINYA) “Bagaimana aku tiada resah Permaisuri. (BERKATA DENGAN LEMBUT) Telah agak lama kupikirkan siapakah pengganti menteri pertanian Azor yang sudah amat uzur.”
PERMAISURI           : (TERDIAM SEJENAK) “Mengapa Baginda tidak mengangkat putri bungsu saja? Ia begitu berbakat dalam pertanian, budi pekerti juga halus, apalagi ia dari kalangan kerajaan sendiri, tiada cela pada diri putri bungsu yang dapat menggagalkannya sebagai menteri pertanian.”
KAISAR ZHENG      : (MENGARAHKAN PANDANGANNYA KE LANTAI SAMBIL MENGELUS JANGGUT TIPISNYA) “Ah Permaisuri, begitulah juga yang pernah kupikirkan, namun aku tidak dapat mengabaikkan pendapat rakyat atau para menteriku. Aku takut jika nanti keputusan yang kubuat ialah keputusan sepihak dan membahayakan integritasku sebagai seorang kaisar.”
PERMAISURI           : (MANGGUT-MANGGUT). “Yang Mulia Kaisar, aku lebih takut lagi jika putri bungsu kita mungkin sakit hati karena bakatnya seolah tersia-sia, apalagi Yang Mulia selain sebagai penguasa juga sebagai ayahnya.”
KAISAR ZHENG      : (TERSENYUM PENUH MISTERI) “Saat ini aku  memang diposisi sebagai dua orang penting, yaitu sebagai Kaisar bagi seluruh rakyatku dan seorang ayah dari seorang putri. Jika sudah seperti ini maka aku akan menimbang baik buruknya keputusan yang akan kuambil. Bagaimanapun sebagai seorang pemimpin, aku tidak dapat berbuat sewenang-wenang. Jadi barangkali Dinda Permasuri sudah dapat menyimpulkan siapa yang sedang kuutamakan dalam perkara ini.  Lagipula mengapa Putri Bungsu harus sakit hati jika memang budi pekertinya sehalus perkataanmu, Permaisuri?”
PERMAISURI           : (DONGKOL DAN CEMBERUT KARENA RAJA MEMBALIK KATA-KATANYA DAN HAL INI TIDAK MENGUNTUNGKAN DIA DAN PUTRI BUNGSU) “Bukan itu Baginda, hanya saja aku tidak merasa ada yang lebih layak dibandingkan putri kita.”
KAISAR ZHENG      : (TERSENYUM LEMBUT, SOROT MATANYA MENEDUHKAN) “Permaisuri tiada usah khawatir, aku akan mengadakan sayembara dengan seadil-adilnya dimana semua orang bisa mengikutinya tidak peduli ia adalah bangsawan atau rakyat jelata.”
PERMAISURI           : “Sayembara seperti apakah itu, Baginda?”
KAISAR ZHENG      : (MENATAP PERMAISURI DENGAN SOROT MATA YANG MISTERIUS, LALU IA TERSENYUM) “Nanti kalau kuberitahukan sekarang, maka Permaisuri akan mengatakannya pada Bungsu.”
PERMAISURI           : (CEMBERUT) “Ah, mengapa Baginda tidak percaya padaku.”
KAISAR ZHENG      : (TERTAWA) “Nanti saja akan kuumumkan pada seluruh penduduk negeri.” PERMAISURI           : “Apa salahnya memberitahuku duluan, Kakanda Kaisar?” (MERAJUK)
KAISAR ZHENG      : “Mengapa Adinda Permaisuri sangat pemaksa?
PERMAISURI           : “Aku hanya merasa Kanda Kaisar tidak lagi memberi perhatian istimewa padaku. Mulai ada yang Kanda sembunyikan diantara kita.”
KAISAR ZHENG      : “Ketahuilah Adinda, bukan maksudku begitu. Ini semata-mata untuk menjaga loyalitasku sebagai seorang pemimpin. Aku harus adil.”
PERMAISURI           : “Sekali lagi, Kanda Kaisar, dinda hanya ingin tahu mengapa Baginda begitu merahasiakan hal ini. Aku bahkan tidak Kanda ajak berdiskusi tentang siapa yang layak menjadi Pengganti Menteri Azor.”
KAISAR ZHENG      : “Ah sekali lagi, nampaknya Adinda salah paham. Bagaimanapun aku tidak ingin membocorkan apa yang akan kulakukan untuk memilih menteriku. Aku pun tahu kalau sekiranya Adinda sudah condong untuk mendukung Putri Bungsu sebagai menteri.”
PERMAISURI           : (TERSENTAK) “Aku tidak begitu, Kakanda Kaisar.”
KAISAR ZHENG      : “Sekalipun kau memungkirinya aku tetap tahu. Sudahlah, bagaimanapun upaya Dinda Permaisuri membujukku aku tetap akan menjaga loyalitasku sebagai Pemimpin, aku tidak mau Kekaisaran ini hancur dan rakyatku sengsara karena ketergesaanku dan juga mudah lalainya seorang pemimpin. Kuharap Adinda Permaisuri mengerti keputusanku.” (PERGI DENGAN SEMBURAT MARAH YANG MEMANCAR DI KEDUA MATANYA. IA JENGKEL SEKALIGUS KECEWA KEPADA SIKAP PERMAISURI YANG KEKANAKAN DAN SANGAT BERAMBISI. PADAHAL SEBAGAI IBU NEGARA IA SEHARUSNYA BERSIKAP BIJAKSANA.)

BAGIAN II
KAISAR MENYIAPKAN BIJI-BIJI PADI YANG AKAN DISEBARKAN KE SELURUH NEGERI BESERTA TANAMAN PADI TERBAIK UNTUK DIPAMERKAN.  PERMAISURI MENGINTIP TINDAKAN KAISAR YANG MEREBUS BENIH-BENIH ITU TERLEBIH DAHULU.
KAISAR MEMANGGIL UTUSAN UNTUK MENGUMUMKAN KEPADA SELURUH NEGERI TENTANG SAYEMBARA YANG DIBUATNYA UNTUK MEMILIH MENTERI PERTANIAN.
KAISAR ZHENG      : “Sebarkanlah kepada seluruh pelosok negeri sayembara ini, dan siapa saja yang bersedia ikut akan mendapatkan sembilan biji padi ini. Barang siapa yang bisa menumbuhkan benih ini menjadi padi yang rimbun, banyak, dan berkualitas premium, maka akan kujadikan dia menteri pertania.”
UTUSAN        : “Baik, Yang Mulia Kaisar.” (MEMBUNGKUK HORMAT LALU PERGI DENGAN SOPAN)
DI KAMARNYA PERMAISURI SEDANG BERMONOLOG
PERMAISURI           : “Aku benar-benar tidak habis pikir dengan tindakan Kaisar? Apa maksudnya merebus biji-biji itu? Dengan begitu tidak akan ada satupun yang berhasil menumbuhkan benih dan menciptakan kemakmuran?” (GUSAR SAMBIL MENGGEBRAK MEJA)
TERDENGAR KETUKAN PINTU. PERMAISURI MENYURUH ORANG TERSEBUT MASUK DAN DATANGLAH PUTRI BUNGSU BERKUNJUNG.
PUTRI BUNGSU       : “Salam, Ibunda.” (MEMBUNGKUKKAN BADAN TANDA HORMAT)
PERMAISURI           : “Selamat datang, Putriku.” (TERSENYUM DAN MERENGKUH PUTRINYA. MENGAJAK PUTRINYA DUDUK DI KURSI)
PUTRI BUNGSU       : “Bagaimana kabar ibunda hari ini? Ibunda terlihat sedang memikirkan sesuatu.”
SEORANG DAYANG MASUK MEMBAWAKAN DUA CANGKIR TEH UNTUK PERMAISURI DAN PUTRI BUNGSU. KETIKA DAYANG ITU BERLALU PERMAISURI DAN PUTRI BUNGSU MELANJUTKAN PERCAKAPAN.
PERMAISURI           : “Bagaimana Ibunda ini tidak memikirkan sesuatu jika posisi keluarga kerajaan terancam.” (MENYERUPUT TEH)
PUTRI BUNGSU       : “Maksud Ibunda?”
PERMAISURI           : (MELETAKKAN CANGKIR DENGAN GERAKAN ANGGUN. IA MELIRIK KEPADA SANG PUTRI SEJENAK SEBELUM MELANJUTKAN PERKATAANNYA) “Hemm, apakah ananda putri bungsu sudah mendengar bahwa Kaisar akan memilih menteri pertanian baru melalui sayembara.”
PUTRI BUNGSU       : “Sudah, Ibunda,”
PERMAISURI           : “Hal itulah yang menyebabkan keresahanku, Putriku. Ibunda ingin engkau yang menjadi menteri pertanian, hemat ibunda bahwa tiada orang yang lebih layak ketimbang dikau.”
PUTRI BUNGSU       : (MANGGUT-MANGGUT) “Lantas apa yang harus ananda lakukan untuk mendapatkan jabatan itu, Ibunda?”
PERMAISURI           : (MENGHAMPIRI MEJA RIAS. MENGAMBIL BENIH DI LACI, NAMUN MELETAKKANNYA LAGI, KEMUDIAN MENGHAMPIRI SANG PUTRI YANG MASIH TERDUDUK DI TEMPATNYA) “Ibunda punya rencana.” (TERSENYUM LICIK)
PUTRI BUNGSU       : “Rencana apakah itu, Ibunda?” (PENASARAN)
PERMAISURI           : “Sementara ini rahasiakanlah diantara kita. Raja tiada senang jika ada yang berbuat curang.”
PUTRI BUNGSU       : “Maksud Ibunda kita akan berbuat curang?” (MENCETUS DENGAN SUARA YANG DUKUP KERAS)
PERMAISURI           : “Ssshh..., jangan berkata terlalu keras nanti ada yang mendengar.”
PUTRI BUNGSU       : “Maksud Ibunda kita akan berbuat curang?” (MENGULANG SERAYA BERBISIK)
PERMAISURI           : “Maksud Ibunda bukan benar-benar curang, mungkin hasil sayembara akan dimanipulasi.”
PUTRI BUNGSU       : “Ananda masih tidak mengerti, Ibunda.”
PERMAISURI           : “Ananda Putri Bungsu tidak perlu mengerti. Duduklah dengan manis dan bersabarlah, maka ditangan ibunda semua akan terselesaikan.”
PUTRI BUNGSU       : “Baiklah, Ibunda, tapi setidaknya izinkan aku untuk mengetahui rencana ibunda.”
PERMAISURI           : (MENYERGAH) “Sudah ibunda bilang, duduk manis dan bersabarlah. Ibunda yang akan melancarkan rencana ini.”
BAGIAN III
TANAMAN SAYEMBARA PUTRI BUNGSU TUMBUH DENGAN SUBUR DAN BERBUAH LEBAT SEHINGGA GADIS MUDA TERSEBUT TERSENYUM DENGAN BANGGA.
PUTRI BUNGSU       : (BERTERIAK DENGAN RIANG) “Kalau tanamanku tumbuh subur dan berbuah lebat begini, bukan tidak mungkin akulah yang akan menjadi menteri pertanian.”
PERMAISURI DATANG MENDEKATI PUTRI BUNGSU
PERMAISURI           : “Wah, nampanya ada yang begitu bahagia.” (TERSENYUM)
PUTRI BUNGSU       : “Cobalah Ibunda Permaisuri perhatikan, nampaknya tidak ada biji yang bisa berkembang seranum tanamanku.” (BERUJAR DENGAN BANGGA)
PERMAISURI           : “Bukankah ini berarti kesempatanmu untuk menjadi menteri pertanian semakin dekat?”
PUTRI BUNGSU       : (MENGANGGUK) “Benar sekali, Ibunda.” (ANTUSIAS)
TAK LAMA KEMUDIAN KAISAR ZHENG DATANG
KAISAR ZHENG      : (TERSENYUM PADA PERMAISURI DAN PUTRI BUNGSU). “Kudengar bahwa tanamanmu tumbuh dengan baik dan nampaknya juga berbuah ranum.” (MENGAMATI TANAMAN PUTRI BUNGSU YANG BERBUAH RANUM)
PUTRI BUNGSU       : “Betul Ayahanda Paduka, hamba tidak mengira akan tumbuh sedemikian subur. Mungkin, tanah yang hamba pakai diberkati Dewa.”
KAISAR ZHENG      : “Oh begitu rupanya. Kebetulan dua hari lagi akan aku umumkan siapa yang memenangkan sayembara dan berhak atas posisi sebagai menteri pertanian.”
PUTRI BUNGSU       : “Wah kebetulan sekali, Ayahanda Paduka, sepertinya ananda yakin akan memenangkan sayembara ini.”
KAISAR ZHENG      : “Mengapa Ananda Putri Bungsu begitu yakin bahwa anandalah si pemenang?”
PERMAISURI           : “Karena tidak ada yang menandingi tanaman milik Putri Bungsu.”
KAISAR ZHENG      : “Baiklah kita tunggu saja bagaimana nanti pengumumannya. Kini aku akan pergi terlebih dahulu-sebelumnya kalian harus mempersiapkan upacara kemenangan.” (BERLALU PERGI)

BAGIAN V
HARI INI JURU BICARA KAISAR AKAN MENGUMUMKAN PEMENANG SAYEMBARA DAN SIAPA YANG BERHAK MENJADI MENTERI PERTANIAN DI HADAPAN KHALAYAK PESERTA SAYEMBARA YANG DATANG DI HALAMAN ISTANA KEKAISARAN DENGAN MEMBAWA HASIL TANAM MEREKA MASING-MASING. NAMPAK 4 ORANG BERGERUMBUL MENGERUBUNGI SEBUAH POT YANG HANYA BERISI TANAH. MEREKA SAMA-SAMA PEMUDA DARI SICHUAN YANG PENASARAN AKAN HASIL TANAM SALAH SEORANG DIANTARA MEREKA YANG DIANGGAP PALING JAGO DALAM URUSAN TANAM MENANAM.
LI                    : (MENGEJEK SIAO DENGAN MENGANGKAT DAGUNYA UNTUK MENUNJUK TANAMAN SIAO) “Mengapa kau membawa pot yang hanya berisi tanah?”
SIAO              : “Akupun awalnya malu, tapi aku sudah terlanjur menjadi peserta sayembara dan harus kemari apapun risikonya. Dan inilah hasil tanamanku.” (BERKATA DENGAN NADA RENDAH)
XIAN              : “Betul, Siao ini kemari karena diperintah oleh ayahnya juga supaya tetap berangkat meski hasil tanamnya gagal.” (TERTAWA DISUSUL LI DAN FUI. SEMENTARA SIAO DIAM)
FUI                 : “Lihatlah peserta yang lain, teman-teman, semuanya memiliki tanaman yang tumbuh bagus, meski yang paling bagus diantara semuanya tetaplah milik kita yang berasal dari Sichuan.” (BERKATA DENGAN NADA YANG SOMBONG)
XIAN              : “Kau benar Fui, ini hanya persaigan diantara kita. Kau sudah tersingkir, Siao.” (TERTAWA KERAS, KAKINYA MENENDANG POT SIAO HINGGA HAMPIR TUMPAH JIKA SIAO TIDAK CEKATAN MEMEGANGINYA)
JURU BICARA LEWAT DI DEKAT MEREKA DAN SUASANA TIBA-TIBA HENING. SEMUA BERDEBAR-DEBAR MENANTI PENGUMUMAN. JURU BICARA MELIRIK SINIS PADA KELAKUAN TIGA ORANG PEMUDA SICHUAN ITU PADA TEMANNYA. IA BERTERIAK!
JURU BICARA         : “Tidak akan menjadi menteri Kekaisaran Qia orang-orang yang suka merendahkan usaha orang lain dan berbuat tidak jujur!” (TIGA PEMUDA SICHUAN ITU TERSENTAK, MEREKA MENUNDUK DALAM KARENA BARU SAJA MERASA DISINDIR OLEH JURU BICARA. JURU BICARA BERDIRI DI MUKA PODIUM SEHINGGA POSISI TUBUHNYA SEDIKIT LEBIH TINGGI DIBANDINGKAN KHALAYAK RAMAI. IA MEMBACA TEKS DARI KAISAR) “Pemenang Sayembara Kali ini ialah Hwang Shi Siao dari Provinsi Sichuan. Kepada saudara Hwang Shi Siao diharapkan menuju aula kerajaan. Peserta yang lainnya diharapkan mengantre di gerbang keluar untuk mengambil benih yang akan ditanam di lahan masing-masing. Masing-masing peserta berkewajiban menyerahkan dua setengah persen hasil panennya setiap tahun untuk pembangunan tembok pertahanan di daerah Yuan. Tertanda Kaisar Tertinggi Dinasti Qia.” (JURU BICARA MENGUNDURKAN DIRI)
SIAO DENGAN HERAN TAPI BERCAMPUR SENANG, MENINGGALKAN KERUMUNAN SAMBIL MEMBAWA POTNYA TANPA DISADARI KHALAYAK RAMAI YANG KEBINGUNGAN SEKALIGUS KECEWA ITU.
LI                    : “Ah, kini kita hanya bisa menjadi pendukung Siao.” (MENDESAH KECEWA)
BAGIAN VI
PERMAISURI GELISAH, PUTRI BUNGSU NAMPAK TIDAK CERIA KARENA YANG DIPILIH MENJADI MENTERI PERTANIAN BUKANLAH DIRINYA. PADAHAL, PUTRI BUNGSU SUDAH MERANCANG PROGRAM YANG AKAN IA TERAPKAN UNTUK MEMAJUKAN PERTANIAN. PUTRI YANG NAMPAK MURUNG HANYA NAMPAK MERENUNG DI KAMAR SANG IBUNDA YANG JUGA MURUNG DAN NAMPAK KURANG SEHAT. KAISAR MEMASUKI RUANG PERMAISURI. PERMAISURI DAN PUTRI BUNGSU MENUNDUK HORMAT PADA RAJA.
KAISAR ZHENG      : “Aku ingin bicara berdua dengan Permaisuri, bisakah Ananda Putri Bungsu meninggalkan ayah dan ibunda berdua saja?” (BERKATA DENGAN NADA MARAH SAMBIL MENCEGAH PANDANGANNYA TERTUJU LANGSUNG PADA SANG LAWAN BICARA)
PUTRI BUNGSU       : “Baik, Ayahanda. Ananda mengundurkan diri terlebih dahulu.” (SEDIKIT MENUNDUK MENUNJUKAN HORMAT. LALU PERGI)
KAISAR DAN PERMAISURI SALING DIAM UNTUK BEBERAPA SAAT
KAISAR ZHENG      : “Adinda permaisuri yang amat Kakanda kasihi, apakah Adinda tahu kesalahan adinda?”
PERMAISURI           : “Tahu Kakanda.” (MENUNDUK DALAM)
KAISAR ZHENG      : “Kalau saja Adinda Permaisuri mau sedikit bersabar. Dinda pasti melihat apa yang dinda inginkan, tambahan lagi cita-cita Putri Bungsu juga akan tercapai.”
PERMAISURI           : (MENANGIS) “Ampuni aku, Kanda.”
KAISAR ZHENG      : (MENGHELA NAFAS) “Bukan aku sepatutnya yang adinda mintai maaf, tapi putri kita. Andaikan dia tahu ibunda yang terlihat menyayanginyalah yang justru menjerumuskannya.”
PERMAISURI           : “Aku tidak berniat melakukannya, Kakanda.” (TERDUDUK LEMAS)
KAISAR ZHENG      : (MEMBELAKANGI PERMAISURI, MENGHADAP PENONTON) “Kau tidak berniat Adinda, tapi kau melakukannya. Kadang aku berpikir apakah yang sebenarnya benar-benar kau inginkan? Nama baik sebagai permaisuri yang terus agung atau mengajari putrimu apa arti kejujuran?” (IKUT BERSIMPUH DI HADAPAN PERMAISURI, MENANGKUP PUNDAKNYA). “Sudahlah, nasi telah menjadi bubur.”

-SELESAI-





Tentang Penulis

Sella Auliya Rahmah lahir di Kediri dan kini sedang bermukim di Malang untuk melanjutkan studi S1 di Universitas Negeri Malang. Ia senang jalan-jalan untuk mendapat ide. Ia tertarik ke banyak bidang ilmu dan bacaan terutama karya sastra roman dan ekologi.

Comments

Popular posts from this blog

NASKAH DRAMA ANAK YANG DURHAKA

ULANG TAHUN

Drama ANAK-ANAK TK