NASKAH DRAMA "PEMBALASAN DENDAM"
PEMBALASAN DENDAM
Oleh Anisa R.A
Tokoh dan Karakter :
1.
Sarah : Tegar, sabar, pekerja keras, berbakti kepada orang tua
2.
Ibu : Keras kepala, egois namun penyayang
3.
Hendra
(Kakak Sarah) : Jahat, tidak tahu
diri, durhaka, tidak peduli
4.
Rahmanta :
Peduli, baik namun pendendam
Sinopsis :
Sarah adalah perempuan yang memiliki
tingkat kesabaran melebihi apapun, meskipun cobaan demi cobaan menerpa
hidupnya, ia berusaha untuk tidak menyerah. Ia hanya hidup bersama ibunya yang sedang
sakit, sang kakak yang bernama Hendra sudah meninggalkan rumah dan belum
kembali semenjak ayahnya meninggal dan mereka jatuh miskin. Meskipun demikian,
perjuangan Sarah yang tak kenal lelah itu pada akhirnya mendapatkan hasil juga,
namun dengan tidak tahu dirinya sang kakak kembali dan berusaha mengambil
segalanya dari Sarah dan ibunya. Pada akhirnya perjuangan Sarah harus
dikalahkan oleh kejahatan kakanya sendiri, yang membuat Sarah kembali
kehilangan sosok yang paling penting di dalam hidupnya, yaitu sang ibu.
Sarah ingin sekali bangkit dari keterpurukan yang
kedua kalinya, namun ia merasa perjuangannya akan sia-sia karena ia sudah tidak
memiliki siapapun di dunia ini, bahkan kakaknya yang jahat sudah
meninggalkannya, pada akhirnya Sarah menyerah pada tuhan dan hampir mengakhiri
hidupnya, namun ternyata tuhan belum mengizinkannya pergi dari dunia karena
datang sosok yang membangkitkan semangat hidupnya, laki-laki itu adalah
Rahmanta, laki-laki itu juga yang ingin berbalas dendam kepada kakak Sarah,
namun Sarah berusaha untuk menghentikan niat buruk Rahmanta kepada kakaknya,
sifat Sarah yang penyabar tidak berarti ia memaafkan kakaknya begitu saja,
Sarah memiliki taktik tersendiri untuk menghancurkan dan membalaskan dendam
kakaknya yang jahat itu, tanpa memberi tahu Rahmanta bahwa ia juga akan
membalas dendam kepada kakaknya yang sudah membuat nyawa ibunya hilang. Sarah
diam bukan berarti ia tidak ingin kakaknya menderita, namun Sarah sadar bahwa
ia yakin bisa berbalas dendam kepada orang yang sudah menghancurkan hidupnya.
Naskah :
BABAK I
Pada suatu senja yang mendung, Sarah termenung menatap
luar jendela kamarnya, lampu yang temaram membuat kamar itu semakin dingin, sunyi,
hanya sesekali terdengar suara ibunya yang terbatuk-batuk.
(Lampu
redup)
Sarah : “Semakin mendung, semakin gelap, semakin
hari hidupku tak menentu.”
Ibu : “Mengapa udara semakin dingin, mengapa
rumahku semakin sepi” (batuk-batuk dari kamar sebelah)
Sarah : “Ibu, sudah pakai jaket dan selimutmu?”
(sambil berjalan mendatangi kamar ibu)
Ibu : “Tidak mempan, bukan udaranya saja yang
dingin, rumah ini juga dingin, seperti tak berpenghuni, anakku dimana, anakku
dimana...”
Sarah : “Sudahlah ibu, Sarah juga anak ibu..”
(menatap ibu dengan perasaan iba, mendekati dan menggenggam tangan ibu)
Hari sudah gelap, suasana dalam rumah itu semakin
sepi, ibu yang sudah menenggak obat sedang tidur di dalam kamarnya yang dingin,
lagi-lagi Sarah termenung sambil mengenggam tangan ibunya yang ringkih, lemas
dan dingin, Sarah memikirkan bagaimana ia bisa melanjutkan hidup untuk esok
pagi, bukan hanya hidupnya sendiri tapi juga hidup ibunya yang seperti sudah di
penghujung ajal karena melawan penyakit yang dideritanya.
Sarah : “Entah aku harus bagaimana lagi, rasanya
sudah tidak sanggup menyambung hidup, namun ibu adalah hidupku satu-satunya,
satu-satunya yang menjadi alasanku untuk tetap hidup”
Tiba-tiba
ibu menyahut
Ibu : “Aku hanya ingin anakku pulang, kembali
seperti keluarga kita dulu, keluarga yang utuh”
Sarah : “Apa yang ibu harapkan dari anak biadab
sepertinya, ia yang telah menghancurkan keluarga kita, bu!”
Ibu : “Tutup mulutmu Sarah!, jangan
sekali-kali kau menghina kakakmu itu, bagaimanapun juga, ia adalah anak kandung
ibu!, darah daging ibu yang ibu besarkan!”
Sarah : “Apabila ia memang anakmu, lantas mengapa
ia meninggalkan kita begitu saja, mengambil semua hak milik kita yang bapak
wariskan kepada kita, ia tidak punya hati bu!, ia tidak punya hati!”
Ibu
tiba-tiba bangkit dari tidurnya dan membentak Sarah
Ibu : “Cukup! Ibu yakin ia akan kembali ke
pangkuan ibu, kembali di rumah ini, hanya tinggal rumah ini yang menjadi
peninggalan bapakmu, kita harus menjaganya, ibu yakin kakakmu sedang bekerja
keras untuk membantu kita, kau harusnya mendukung dan menunggu kakakmu itu
datang, bukan malah menghinanya!”
Sarah
tersenyum kecut mendengar ucapan Ibunya
Sarah : “Omong kosong! Laki-laki yang kau sebut
kakakku merenggut segalanya bu! Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, mengambil
sisa harta kita, uang, emas, perhiasan ibu!, bahkan sertifikat rumah ini ada di tangannya, memang ia akan
kembali bu! Tentu saja, tentu saja kembali untuk mengusir kita!”
Suasana mencekam di dalam rumah itu semakin menjadi
akibat perdebatan Sarah dengan ibunya, Sarah sudah tidak tahu bagaimana
meyakinkan ibunya tentang kejahatan yang diperbuat kakaknya.
Sarah meninggalkan ibunya dan
kembali ke kamarnya. Langit sudah tidak lagi senja, kegelapan perlahan masuk
dan semakin menusuk jiwa raganya.
(bermonolog)
Sarah : “Bapak, seandainya kau tidak pergi, mungkin
nasib kita tidaklah begini, bagaimana kau bisa membiarkan anak yang kau
banggakan ini menderita, bagaimana bisa kau biarkan anak laki-lakimu melewati
batas, meninggalkan adik serta ibunya sendiri, ia dibutakan harta pak, harta
kita habis pak!”
(Sarah
menangis di lantai)
Sarah : “Baik, aku harus bangkit, tidak mungkin aku
begini terus, aku harus bangkit dari keterpurukan ini, karena ada atau tiada
bapak, aku harus tetap membahagiakan ibuku, satu-satunya keluarga yang aku
punya, satu-satunya orang yang layak aku bahagiakan, aku harus berjuang, aku
harus bisa bangkit dari keterpurukan keluargaku” (Sarah beranjak tidur)
BABAK II
(Lampu
terang, pagi hari)
Ibu
berada di kamar Sarah untuk membangunkannya
Ibu : “Nak, sudah pagi, bangunlah..”
Sarah : (beranjak bangun) “Ya, bu, aku sepertinya
kesiangan”
Ibu : “Kau akan kemana memangnya pagi-pagi
begini, bahkan kau belum sempat membuatkan ibumu ini sarapan”
Sarah : “Maafkan aku ibu, aku akan segera kembali,
akan aku belikan ibu bubur di depan kompleks”
Ibu : “Apa maksudmu membelikan ibu bubur?
Memangnya kau tidak punya persediaan makanan?”
Sarah : “Maafkan aku bu, tetapi memang tidak ada,
kita semakin kehabisan uang, Sarah harus bekerja bu, Sarah akan berangkat
bekerja demi ibu, demi membeli obat ibu”
Ibu : “Apa maksudmu? Kau merasa ibu
merepotkanmu ya? Hah sudahlah! Kau kerja sana, sepertinya kau tidak ingin
merawat ibumu ini”
Sarah : “Aku bekerja demi ibu pula, darimana kita
bisa hidup seperti ini terus bu? Sarah sangat menyayangi ibu, namun ibu harus
mengerti, kita semakin kehilangan segalanya bu! Segalanya! Kita tidak hidup
seperti saat masih ada bapak, bu!”
Ibu : “Bapak.. bapakmu itu sudah mati, jangan
kau sebut-sebut dia, dia yang membiarkan kita kelaparan dan miskin seperti ini,
kalau dia tidak mau kita sengsara, harusnya ia tidak mati!”
Sarah : “Cukup bu, lagi-lagi aku berdebat dengan
ibu, takdir adalah takdir bu! Ibu selalu menyalahkan bapak, tetapi ibu tak mau
menyalahkan bajingan itu!”
Ibu : “Kau yang cukup, sudah lelah ibu
mendengar ucapanmu, apapun yang kau lakukan sekarang terserah padamu saja, ibu
tidak peduli”
(Sarah
pergi meninggalkan rumah untuk bekerja)
Pada
sebuah kedai nasi padang
Sarah : “Pagi ini, setidaknya aku sudah memiliki
pekerjaan, ibu menunggu hasil jerih parahku, aku ingin membuktikan pada ibu
siapa yang terbaik dari kedua anaknya, ibu memang belum sadar bahwa anak
laki-lakinya sudah menjadi bajingan sekarang, tidak tahu diri, durhaka!”
(muncul
Rahmanta)
Rahmanta : “bajingan? Siapa yang kau maksud
bajingan itu, rah?”
Sarah : “Tidak penting bagimu! Yang
terpenting kau sudah membantuku mendapatkan pekerjaan ini”
Rahmanta : “Tentu saja, aku adalah orang yang
bisa kau andalkan saat kau butuh, Rah!”
Sarah :
“Ya, aku tau itu, namun segalanya menjadi genting”
Rahmanta : “Apa maksudnya? Apakah ini ada
kaitannya dengan ibu juga kakakmu? Dimana ia sekarang?”
Sarah : “Oh, bajingan itu, kau tidak
perlu tahu ia dimana!”
Rahmanta : “Apa yang kau maksud bajingan? Ia
menyakitimu? Apakah ia semena-mena semenjak bapakmu tiada?”
Sarah : “Sudahlah, sudah tidak penting
lagi sekarang, aku hanya ingin membahagiakan ibu saja!”
Rahmanta : “Sungguh, kenapa kau tidak mengatakan
apapun sementara aku selalu mengkhawatirkanmu, rah?”
Sarah : “Memang sudah selalu begitu,
kau lebih mengkhawatirkanku daripada saudara kandungku sendiri”
Rahmanta : “Tentu saja itu karena aku bukan
saudara kandungmu yang bajingan itu, meski aku tidak tahu bagaimana itu
terjadi, kau bisa cerita padaku kapanpun kau mau”
Sarah : “Tentu saja, terimakasih Manta,
kau sudah aku anggap seperti kakak sendiri”
Rahmanta : (tersenyum kecut) “Hanya kakak, ya?”
Sarah
hanya tersenyum.
BABAK III
(Petang,
di rumah)
Sarah : *mengetuk pintu kamar ibu* “Bu, ibu sedang
tidur bu? Ini Sarah bawakan makan malam untuk ibu, ayo bu segera makan dan
minum obat”
Ibu : “Sarah, kau tega membiarkan ibumu ini
kelaparan dari pagi? makan bubur saja tidak mengenyangkan perut ibumu ini nak”
Sarah : “Sarah lelah bu, sudah tidak ingin berdebat
dengan ibu, hari ini Sarah sudah kerja, dan hasilnya lumayan, bukankah harusnya
ibu bangga?”
Ibu : “Ibu memang bangga, memiliki anak
sebaik dan serajin dirimu, namun tentu saja hasil uangmu tidak bisa
mengembalikan keadaan seperti dulu, tidak bisa juga mengembalikan anak laki-laki
kesayangan ibu”
Sarah : “Sudahlah bu, Sarah lelah, Sarah minta maaf
belum bisa membahagiakan ibu seperti kakak membahagiakan ibu” (meninggalkan ibu
yang termenung di kamar)
BABAK IV
6
Bulan kemudian, Sarah sudah kaya dan memiliki restoran nasi padang sendiri
(
di warung nasi padang Sarah)
Rahmanta : “aku sangat bangga denganmu, rah!
Sekarang kita memiliki bisnis yang sama, namun hal itu jangan membuat kita
bersaing negatif”
Sarah : “ Tentu saja tidak, Manta. Kau
yang mengajariku semua ini, kau yang mendukungku sejak awal”
Rahmanta : “Bagaimana keadaan ibumu? Apakah sudah
semakin membaik?”
Sarah : “Ya, keadaan ibuku sangat
membaik, hanya saja.. ia tetap menginginkan anak lanangnya itu pulang”
Tiba-tiba
datang sebuah mobil parkir di depan restoran Sarah.
Rahmanta : “Ada orang kaya yang mau makan di
restomu ini, rah!”
Sarah : “Tunggu... aku.. aku tidak
asing dengan kendaraan itu, itu.. itu..”
Rahmanta : “Apa, Sarah? Itu apa?”
Sarah : “Itu, mobil almarhum bapakku,
ta! Bajingan, kenapa dia bisa sampai kesini”
Rahmanta : “Maksudmu? Itu kakakmu?”
(datang
kakak laki-laki Sarah masuk ke warung)
Hendra : *terkejut melihat Sarah* “Wah, rupanya kau
sekarang sudah bisa makan enak ya, adikku?”
Sarah : “Kurang ajar, beraninya kau datang kesini!
Tidak tahu malu!”
Hendra : “apa masalahmu? Aku punya uang untuk makan
enak, tidak seperti dirimu yang miskin, kau pasti meminta-minta kan!”
Sarah : “Tutup mulutmu, aku yang memiliki resto
ini, aku adalah pemiliknya”
Hendra : “Aku tidak menyangka kau sangat pintar untuk
bangkit adikku, syukurlah..”
Sarah : “Kau sangat munafik, kak! Kau yang pergi
meninggalkan kami dengan cara licikmu agar bisa menguasai harta bapak!”
Hendra : “rupanya kau memang sudah sangat pintar,
memang aku harus mengambil alih segalanya agar aku bertahan hidup, tentu saja
hidup tenang tanpa memikirkan kemiskinan seperti kalian”
Sarah : “Kau memang rakus dan tamak, kau sungguh
bejat! Tidak tahukah bahwa ibu selalu menunggumu sepanjang hari, berharap anak
lanangnya akan pulang, namun lihatlah si bajingan ini, dia rupanya sudah
semakin menjadi-jadi”
(Rahmanta
menghampiri)
Rahmanta : “Jauh-jauh kau dari Sarah, kau tidak
pantas menjadi kakaknya!”
Hendra : “Tentu saja, sekarang aku bukan
kakaknya lagi, aku tidak sudi menjadi kakaknya! Ngomong-ngomong soal ibu, aku
merindukannya, namun aku lebih memilih harta daripada cinta, maafkan aku ibu”
*raut muka tidak sungguh-sungguh
Sarah : “Harusnya kau datang ke rumah
dan berlutut kepadanya, kau sudah menjadi anak durhaka sekarang ini”
Hendra : “Ya, tentu saja aku akan ke rumah,
namun bukan untuk menemui ibu, tetapi aku memerlukan tanda tangannya agar aku
bisa menjual rumah itu, dan aku akan semakin kaya”
Sarah : “Biadab, bajingan.. kau anak
durhaka!”
(sang
kakak pergi meninggalkan resto)
Sarah :
“Aku tidak percaya bertemu dia lagi, aku tidak ingin ia menyakiti ibukku!”
Rahmanta : “Sebaiknya kita harus segera pergi
menemui ibumu!”
Sarah : “Ya, ayo! Sungguh aku sangat
bingung, disatu sisi ibu akan sangat senang karena anak laki-lakinya pulang,
namun bagaimana perasaan ibu apabila ia tahu rumah itu, rumah dengan segala
kenangan bersama dan juga bapak, akan dijual demi memenuhi egonya”
Rahmanta : “Tenang saja, Sarah, kita akan
menemukan solusi terbaik untuk permasalahanmu, percayalah!”
Sarah : “Ya, aku percaya denganmu,
Manta!”
Rahmanta : “orang seperti dia tidak pantas
mendapatkan apapun, kau harus berhati-hati dengan kakakmu yang berhati busuk
itu
Sarah : “Tentu saja, demi ibu, aku akan
tetap memperjuangkan hakku”
BABAK V
*di
rumah
(Sarah
dan Rahmanta memasuki rumah, memajang raut muka ketakutan dan panik)
Sarah : “Ibu? Ibu? (berjalan menuju kamar ibu)”
Ibu : “Mengapa kau memasang wajah ketakutan
seperti itu, apakah ada maling di rumah ini?”
Sarah : “Ibu, kau tidak apa-apa? Apakah bajingan
itu pulang ke rumah bu?”
Ibu : “Siapa yang kau maksud bajingan?”
Sarah : “Kakak bu, siapa lagi memangnya bajingan di
hidupku selain dia!”
Ibu : “Cukup menyebut kakakmu itu bajingan
Sarah, dia kakakmu, kakakmu!!” *membentak Sarah, sambil terbatuk-batuk
Sarah : “Tidak pantas ia kupanggil kakak bu, mana
ada seorang kakak dan anak yang ingin menghancurkan keluarganya ini seperti ia
bu!”
Ibu : “Ketahuilah Sarah, entah seperti apa
sifatnya, ia tetap kakakmu, dan tetap anak ibu, ibumu ini sudah tua, ibumu ini
hanya ingin anaknya kembali dan berkumpul”
Sarah : “Sarah tidak yakin ia menginginkan hal yang
sama bu, hatinya dipenuhi ketamakan yang sudah mendarah daging, tergoda akan
harta dunia yang fana ini, bapak akan marah besar kalau ia tahu bu!”
Ibu : “Ia pasti akan sadar, nak. Mungkin kita
hanya perlu menunggunya pulang dan mungkin saja.. mungkin saja ia memiliki
alasan lain mengapa ia meninggalkan kita..”
Sarah : “Memangnya alasan apalagi bu? Ibu selalu
yakin ia akan berubah, namun kebutaannya terhadap harta membuatku ragu bajingan
itu berubah!”
Rahmanta
*menyela : “Apa yang dibilang Sarah ada
benarnya bu, coba dengarkan ia”
Ibu : “Siapa engkau mau ikut campur urusan
keluarga kami!” *menatap sinis Rahmanta
Rahmanta : “Saya teman Sarah bekerja selama ini,
bu! Saya peduli dengan Sarah, ia telah menceritakan semuanya kepada saya bu!”
Ibu : “Bagaimana bisa kau menceritakan
masalah kita kepada orang lain, Sarah”
Sarah : “Masalah itu tidak penting bu, kami sudah
panik ketakutan karena menemui laki-laki itu di kedaiku bu”
Ibu : “Siapa? Hendra kakakmu?! Lalu dimana ia
sekarang? Mengapa kau tak mengajaknya pulang Saraahh” *menggeram kesal
Sarah : “Belum juga ku ajak pulang, ia sudah pergi
dan mengatakan akan kesini bu!”
Ibu : “lalu kemana ia pergi? Ibu tidak
mendengar kedatangannya, ia pasti merindukan ibu, ia pasti akan memeluk ibu,
dan berkumpul lagi bersama kita Sarah”
Sarah : *tersenyum kecut “Mengapa ibu yakin sekali?
Mungkin ia sedang mengobrak abrik rumah ini sekarang, mengambil sisa-sisa harta
yang ingin ia kuasai, lalu membiakan kita jatuh miskin semiskin-miskinnya”
Ibu : “Ia disini?? Hendra anakku disini?!”
*bangun dan berjalan mencari Hendra
Sarah : “Ibu, ibu belum sehat, jangan berlari bu”
Ibu : “Hendraa.. hendraaa anak ibu, anak
kesayangan ibu, dimana engkau nak??!” *berteriak
Sarah : “Bajingan.. keluarlah, aku tau kau dirumah
ini”
Rahmanta
: “Keluarlah kau bajingan, lawanlah aku!”
(Tiba-tiba
terdengar suara tepuk tangan dari belakang Rahmanta yang berdiri didekat pintu
dengan wajah Hendra yang perlahan muncul menampakan dirinya didepan Ibu dan
Sarah)
Hendra : “Bagus, bagus, bagus. Kalian sepertinya sangat
ramah dan menyambut kedatanganku ya”
Sarah : “Nah muncul juga kau bajingan, dasar licik,
manusia tak tau malu!”
Hendra : “Syuuutt, jangan marah-marah adik kecil.
Kedatangan ku kesini hanya ingin bertemu ibuku tercinta. Aku sungguh
merindukannya” (dengan senyum liciknya)
Sarah : “Ibu sudah tidak sudi punya anak bajingan
sepertimu!”
Ibu : “Hendra! Akhirnya kau pulang juga untuk
menemui ibumu ini nak, sungguh kau harus tau bahwa aku menunggumu hingga aku
semakin menua” *menghampiri Hendra dan memeluknya
*Hendra
hanya diam dipeluk ibu tanpa membalas pelukan ibunya
Sarah : “Sudah lah bu, kau jangan berharap banyak
dari bajingan ini, asal ibu tau, dia hanya ingin menyuruhmu menanda tangani
surat agar bisa menjual rumah kita, satu-satunya peninggalan bapak”
Hendra : “Ibu, Hendra merindukan ibu, namun Hendra
meminta maaf karena harus melakukan ini kepada ibu dan adik kecil Hendra (mengeluarkan
sebuah surat dan bolpoin dari tasnya) Hendra harus menjual rumah ini karena
Hendra akan hidup kaya bersama istri Hendra, ibu dan Sarah pergi saja karena
Hendra tidak mau direpotkan oleh kalian!”
Ibu : “Apa yang kau maksud, nak?! Tak bisakah
kita hidup berdampingan lagi? Seperti dulu, seperti saat masih ada bapakmu!”
Hendra : *cuih.. “Hendra bosan hidup dalam keluarga
penuh aturan dan tidak memberikan segala hal yang Hendra inginkan, maka itulah
Hendra sangat senang karena bapak tiada, hahahaha *tertawa terpingkal-pingkal”
Ibu : “Rupanya kau telah menjadi biadab! Kau
tak pernah ingat bahwa keluarga inilah yang membesarkanmu, memberi makan dan
menghidupimu selama ini”
Hendra : “Maaf ibu! Sungguh Hendra sudah tidak
berminat untuk berdebat dengan ibu atau Sarah, atau laki-laki yang suka ikut
campur ini (menunjuk satu-satu pada muka Sarah dan Rahmanta) segera tanda
tangani surat ini dan kemasi barang-barang kalian!”
Ibu : “Kau sangat tega dengan keluargamu
sendiri, Hendra!”
Hendra : “Cepat bu! Aku sudah tidak ada waktu lagi,
atau kalian akan aku seret dari rumah ini!”
Ibu : “Ibu tidak akan menandatanganinya,
rumah ini adalah kenangan kita Hendra, kenangan keluarga kita!”
Hendra : “Ibu itu sudah tua, tidak usahlah memikirkan
hal-hal indah seperti kenangan ataupun tempat tinggal yang nyaman. Paling juga
sebentar lagi mati membaur dengan tanah!”
Sarah
: “Bangsat, pergi kamu! Bajingan, Pergi sana! (sambil berdiri dan mengusir
Hendra)
Hendra : (mengeluarkan pisau tajam dari tasnya dan
menyekap Sarah ) “Cepat tanda tangani atau dia akan mati ditanganku bu!”
Rahmanta
: “Bajingan, lepaskan Sarah!”
Hendra : “ Jangan ikut campur urusan orang kamu! Cepat
tanda tangani ! “
Sarah : “Jangan bu! Jangan biarkan rumah kita
diambil bajingan ini” (sambil menangis )
Ibu : “Kalau memang itu kemauanmu, baiklah
nak, ibu akan menandatanginya, tapi lepaskan adikmu! Kau memang sudah berubah
menjadi anak durhaka dan tidak tahu diri! Kau bukan anak ibu lagi”
Hendra : “Aku tidak peduli! Terserah ibu mau bicara
apa, memang omong kosong!”
Ibu : “(menandatangani dokumen rumah)
Lepaskan Sarah! Anakku!! Ambil semuanya, ambil semua yang bisa engkau ambil”
(sambil menangis tersedu-sedu)
Hendra : (Mendorong Sarah hingga jatuh di kaki Ibu)
“Gitu dong dari tadi, buang-buang waktu saja”
Ibu : “Dasar anak durhaka !!” (sambil
memegang dadanya )
Sarah : “Ibu? Ibu kenapa? Ibu?”
Ibu : “Maafkan ibu Sarah, sudah egois dan
membiarkan bajingan itu masuk ke rumah kita, maafkan ibu yang tidak pernah
mempercayaimu!” (akan jatuh dan ditopang oleh Sarah)
Sarah : “Ibu.. bu.. Manta! Bantu aku membawa ibu ke
rumah sakit! Cepat kau jangan diam saja!!”
Hendra : “Baru saja aku bilang sebentar lagi mati,
mati beneran kan haha” (Sambil pergi meninggalkan mereka bertiga)
Sarah
: “buuuu!! Manta ayo cepatlah sedikit jangan diam saja”
(Rahmanta
menggeram sambil mengepal tangannya, ia diam saja karena menahan emosi,
kemudian beranjak membopong ibu)
Ibu : (batuk-batuk sambil memegang dadanya)
“Sudah, ibu tidak mau kemana-mana, disini saja, ibu mau tetap dirumah ini,
jangan membawaku kemana-mana”
Sarah : “Tapi bu.. lihatlah keadaan ibu, Sarah
tidak mau terjadi sesuatu kepada Ibu, bu..”
(Rahmanta
menyenderkan ibu pada sofa)
Ibu : “Sudahlah Sarah, biarkan ibu mati
ditempat ini, setidaknya ibu berada di tempat yang nyaman saat ibu tiada”
Sarah : “Jangan mengatakan hal seperti itu bu,
Sarah tidak punya siapa-siapa lagi selain ibu”
Ibu : “Rahmanta, kemarilah nak”
Rahmanta : “Ada apa bu, ibu harus berjuang
melawan penyakit ibu”
Ibu : “Ibu minta tolong kepadamu nak, jaga
Sarah baik-baik”
Rahmanta : “Tentu saja aku akan menjaga Sarah bu!”
Ibu : “Ibu tau kau anak baik, nak!”
(batuk-batuk)
Sarah : “Ibu jangan tinggalin Sarah bu, Sarah tidak
punya siapa-siapa selain Ibu”(menaangis)
IBU
MENGHELA NAFAS TERAKHIR DAN MENINGGAL DUNIA.
BABAK VI
Sarah :
“Pada akhirnya ibu benar-benar meninggalkanku, Manta”
Rahmanta : “Kau harus ikhlas, kau harus bangkit,
aku akan disini bersamamu”
Sarah : “lalu, apa yang harus aku lakukan
jika sudah tidak ada ibu di dunia ini? Siapa yang yang aku bahagiakan?”
Rahmanta : “Tentu saja kau harus membahagiakan
dirimu sendiri, rah! kau harus bangkit, ikhlaskan apa yang telah terjadi! Kalau
kau mau, aku bisa membalaskan dendammu pada bajingan itu, Rah”
Sarah : “Kau tidak akan pernah mengerti
rasanya jadi diriku Manta, kau tidak tahu..”
Rahmanta : “Aku memang tidak mengalaminya, tapi
aku merasakan semuanya. Kau masih punya aku, Sarah”
Sarah : “Omong kosong! Oh ya, kau tidak
perlu membalaskan dendammu, karena aku yakin dia akan dihukum di neraka
nantinya” (pergi meninggalkan Rahmanta)
*Bermonolog
Sarah : “Untuk apa lagi aku hidup di
dunia ? aku hanyalah sampah yang akan membaur juga pada tanah. Ibu? Aku aku
sudah tidak tahan lagi, aku ingin menemanimu” (menodongkan pisau pada nadi
tangannya)
Rahmanta
datang dan melihat keadaan seperti itu sentak melempar pisau dari genggaman
Sarah
Rahmanta : “Sadar Sarah, bunuh diri hanya
membuatmu mati dalam penyesalan!”
Sarah : “Aku sudah sadar, makanya aku
hanya ingin mati juga!”
Rahmanta
mendekap Sarah
Rahmanta : “Tenang Sarah!. Masih ada aku yang
akan menjaga dan menemanimu, jangan khawatir! Kita akan melawan semuanya
bersama. Jangan melakukan hal bodoh dan membiarkan bajingan itu tertawa atas
kemenangannya. Kau harus percaya, tuhan memberikan ini semua untuk menguji
seberapa kuat dan seberapa percaya kau tehadapnya”
Sarah : “Aku sudah tidak punya
siapa-siapa lagi, dan aku juga bukan siapa-siapa”
Rahmanta : “sudah jangan berfikiran hal bodoh,
aku akan selalu disini “ (menenangkan Sarah)
BABAK VII
*Bermonolog
Rahmanta : “Dasar manusia biadab! Bajingan itu
telah membuat Sarah hancur, kehilangan semangat hidupnya, dihancurkan oleh
kakaknya sendiri, kakak macam apa dia, bukan kakak, Hendra adalah monster bagi
kehidupan Sarah”
Sarah
datang
Sarah : “Siapa yang biadab, ta?”
Rahmanta : “Ah. Tidak! Bukan siapa-siapa, Rah! Mengapa
kau disini? Tidakkah kau harus bersiap membuka kedai nasi padangmu lagi? Kau
sudah satu bulan tidak jualan lagi”
Sarah : “Aku tidak bisa, ta, aku tidak
bisa melakukan semua ini, aku hanya ingin berhenti saja”
Rahmanta : “Kau memang tidak pernah mendengarkanku,
rah?”
Sarah : “Bukan begitu, posisi ini
snagatlah tidak mudah, ta”
Rahmanta : “Apa sebaiknya aku menghajar bajingan
itu? Agar hidupmu tenang?”
Sarah : “Sudah aku bilang, jangan, ya
jangan ta! Kau tidak pernah mendengarkanku juga sepertinya!!”
Rahmanta : “Tapi dia memang sudah kelewatan,
sampai menghilangkan semangat hidupmu dan menyerah seperti ini, memangnya kau
suka melihat ia tertawa atas penderitaanmu?!”
Sarah : “Kau benar, sekali lagi kau
benar, tapi se biadab apapun kakakku itu, jangan pernah membalaskan dendamku
untuknya”
Rahmanta : “Kalau kau memang lebih suka begitu,
baiklah aku akan menuruti permintaanmu”
BABAK VIII
Pada
sebuah tempat
Rahmanta : “Meskipun Sarah mengatakan kepadaku
untuk tidak membalaskan dendamnya, namun aku tidak bisa diam melihat Sarah yang
menderita, gara-gara bajingan itu, ia kehilangan semangat hidupnya, aku harus
memberikan Hendra pelajaran!”
Hendra
muncul
Hendra : “Mengapa kau datang kesini? Kau
mau menemuiku, eh? Kekasih adik kecilku yang malang..”
Rahmanta : “Kau masih saja berani hidup rupanya”
Hendra : “Sudahlah, tidak perlu basa-basi,
kau kesini mau mengambil hak adikku kan? Kau akan meringik-ringik agar adikku
dapat tinggal bersamaku dan tidak lagi merepotkanmu, haha”
Rahmanta : “Sarah tidak merepotkanku, justru
bajingan seperti dirimulah yang menghancurkan hidupnya”
Hendra : “Bukan urusanku, semua harta ini
berhak menjadi milikku, dan Sarah? Tidak akan aku beri sepeserpun, anak itu
sudah terlalu dimanja sejak ia kecil, tidak kaget kalau sekarang merengek
kesusahan”
Rahmanta : “Tutup mulutmu, brengsek, kau tidak
pantas menjelek-jelekkan adikmu seperti itu, ia pernah menyayangimu karena dia
adalah adikmu!”
Hedra : “Haha, untuk apa aku
menyayanginya? Dia yang telah merebut segalanya dariku, sehingga memang sudah
seharusnya apa yang dia punya aku renggut kembali”
Rahmanta : “Kakak biadab!” *Mengeluarkan sebilah
pisau
Hendra : “Wow, tunggu-tunggu.. apa-apaan
ini”
Rahmanta : “Kau pantas mati, kau tidak pantas
hidup!”
Hendra : “Apa masalahmu denganku, eh?”
Rahmanta : “Aku ingin membalaskan dendam Sarah
agar ia kembali hidup tenang, ia akan tenang kalau kau mati”
Hendra : “Segitunya kau membela adik
perempuanku itu? Jalang itu?”
Rahmanta : “Tutup mulutmu, jangan pernah menyebut
Sarah seperti itu..”
Hendra : “Tapi kan memang begitu
kenyataannya, mau bagaimana lagi”
Rahmanta : “Mati saja kau bajingannn”
*Adegan
pertengkaran Rahmanta dengan Hendra
*Hendra
dan Rahmanta babak belur
Rahmanta : “Rupanya kau jago juga bertahan, sulit
sekali membunuhmu”
Hendra : “Kau yang seharusnya mati, bersama
orang-orang itu, ibuku dan juga adikku”
Rahmanta : “Tidak pernah aku biarkan kau
menyentuh Sarah!”
Hendra : “Kau tidak sadar bahwa ia
menghancurkan hidupmu juga, sadarlah haha”
Rahmanta : “Apa kau bilang?!”
Hendra : “Kau itu hanya orang asing
untuknya, kau tidak akan pernah spesial, dia memanfaatkan keluguanmu untuk
menolongnya”
Rahmanta : “Aku tidak akan terpengaruh dengan
omong kosongmu”
Hendra : “Kau hanya belum menyadarinya,
suatu saat ketika ia bangkit, ia akan meninggalkanmu, lihat saja nanti”
Rahmanta : “Bajingan sepertimu memang tidak bisa
diam”
Hendra : “Sungguh malang nasibmu, namun
kita sama-sama malang sekarang, mengapa tidak mati bersama?”
Rahmanta : “cuih, mati bersama? Kau saja yang
matiiii!” *bangkit dan hendak menusuk Hendra
(Tiba-tiba
Sarah datang dari belakang Rahmanta dan menahan tahan Rahmanta yang hendak
menusuk Hendra)
Sarah : “Cukup, Rahmanta, cukup!”
Rahmanta : “Sar.. Sarah?! Bagaimana bisa kau
berada disini?!”
Sarah : “Aku yang seharusnya bertanya
padamu, mengapa kau disini?! Aku mencarimu kemana-mana, kau malah,, malah
disini bersama bajingan ini, dan ada apa dengan kalian, hah!”
Rahmanta : “Sudah kubilang aku akan membalaskan
demdammu rah!”
Sarah : “Sudahlah manta, aku sudah
mengatakannya kepadamu, bukan? Jangan bertindak tanpa persetujuanku!”
Rahmanta : “Maafkan aku Sarah, aku berfikir
apabila bajingan ini mati, maka kau akan bahagia dan melanjutkan kehidupanmu
seperti biasa”
Sarah : “Mana mungkin.. hidupku sudah
hancur, meskipun dia mati, tetaplah tidak bisa mengembalikan ibuku hidup
kembali”
Rahmanta : “Setidaknya kau tenang karena orang
jahat dihidupmu tidak akan mengusikmu lagi”
Sarah : “Kau memang benar manta, ia
memang pantas mendapatkan pelajaran”
Rahmanta : “Lantas, ,mengapa kau menahanku untuk
tidak membunuhnya?”
Hendra : (terbatuk-batuk darah) “Haha,
kalian masih saja berdebat seperti anak kecil”
Sarah : (tersenyum kecut) “Bagaimana
rasanya berada diujung tanduk kematian, kak?”
Hendra : “Cukup menyenangkan, kalian
menyiksaku dengan membiarkanku hidup lebih lama seperti ini, haha, bodoh”
Sarah : “Kau memang pantas
mendapatkannya, bersyukurlah aku tidak langsung membunuhmu walau aku bisa”
Rahmanta : “Ya, kau benar Sarah.. biarkan dia
kesakitan, itu lebih baik daripada gegabah membunuhnya!”
Sarah : “Tenang saja Rahmanta, ini
adalah masalahku, ini adalah persoalan hidupku, harusnya aku tidak menyeretmu
ikut-ikut pada permasalanku, kau laki-laki baik, tak pantas membalaskan dendam
seseorang”
Rahmanta : “Tidak Sarah, sudah sebaiknya begini,
kau sudah banyak membantuku maka aku harus bisa membantumu juga”
Sarah : “Namun, asal kau tau..
biarkanlah aku sendiri yang membalaskan dendamku”
Rahmanta : “Apakah kau yakin, Sarah?”
Sarah : “Aku sangat yakin, bajingan ini
pantas mendapatkannya”
Hendra :
“Haha, tega sekali kau menyebut kakakmu ini bajingan, bajingan terus”
Sarah : “Sepertinya kau memang belum
sadar kalau kau ini memang bajingan”
Hendra : “Haha, untuk apa sadar, aku merasa
yang aku lakukan ini benar”
Sarah : “Membuat ibumu sendiri sakit
dan meninggal menurutmu itu adalah hal benar? Mengusirku dan ibu dari rumah
yang kita tempati bersama sejak kecil menurutmu itu adalah hal yang benar?”
Hendra : “Rupanya kau yang tidak sadar,
Sarah, kau yang merenggut semua hak milikku, bahkan kasih sayang ibu dan bapak,
kau renggut semua dariku!”
Sarah : “Apa maksudmu mengatakan hal
itu? Aku tidak merasa merenggut itu darimu!”
Hendra : “Kau tidak sadar kalau kau selalu
dimanjakan, diberi hidup enak, anak kesayangan, hingga aku menjadi anak terbuang!”
Sarah : “Apa kau tidak sadar bahwa ibu
sangat menyayangimu!”
Hendra : “Omong kosong, ibu selalu
menghukum anak lanangnya ini, tidak pernah memberikan kasih sayang!”
Sarah : “Asal kau tau saja, kak, ketika
kau pergi meninggalkan kami sejak bapak tiada, ibu selalu menunggumu!”
Hendra :
“Bagaimana bisa aku mempercayai omong kosongmu itu!”
Sarah : “Ia selalu duduk didepan pintu
tiap sore, menunggu anak laki-lakinya pulang, namun apa yang ia dapat, ia hanya
dapat pengharapan yang tiada ujungnya!”
Hendra : “Untuk apa kau mengatakan ini
semua? Kau hanya ingin mentipu dayaku bukan? Agar aku luluh dan memberikan
sebagian harta bapak untukmu, haha.. tak akan Sarah, tak akan!”
Sarah : “cuih, aku tidak sudi pula
menerima harta yang telah kau renggut, biarlah, sudah bagus aku bisa melihatmu
menderita, karena harta tidak akan menyelamatkanmu!”
Hendra : “Haha, setidaknya aku berhasil
pula mmbuatmu menderita, itulah yang aku mau!”
Rahmanta : “Cukup! Entah setan apa yang membuat
dua saudara ini bermusuhan, sama-samalah tahu diri”
Hendra : “Sekali lagi ini bukanlah
urusanmu, kalau memang Sarah mau membunuhku, silahkan saja, namun harta itu
tidak akan bisa kembali padanya”
Sarah : “Lagi-lagi kau mengungkit
harta, harta paling berharga di hidupku hanyalah ibu dan bapak”
Hendra : “Ya, orang yang menyayangimu,
namun membuangku”
Sarah : “Kau mungkin hanya tidak tau,
kau masih menutup matamu sehingga kau tidak tau ketulusan mereka dalam
membesarkanmu!”
Hendra : “Ya, baik adik kecilku, berentilah
beromong kosong, uhuk-uhuk” (muntah darah)
Sarah : “Itu adalah karma, pembalasan,
tentu aku tidak akan membunuhmu, namun juga tidak membawamu ke rumah sakit,
mati saja kau disini bajingan!”
Hendra : “Dasar.. kau,, adik.. uhuk uhuk”
Hendra
sekarat kemudian tiada.
Sarah : “Aku tau kau sudah sempat
menusuk perutnya”
Rahmanta : “Ya Sarah, maafkan aku”
Sarah : “Aku berterima kasih, kau tau,
aku sudah kehilangan rasa dalam diriku, semuanya hambar, sedih senang terasa
sama saja”
Rahmanta : “Tetaplah berjuang mempertahankan
hidupmu”
Sarah : “Asal kau tetap disini
bersamaku, Manta”
Rahmanta : “Tentu saja, aku akan tetap disini,
mari kita bangkit bersama-sama, tanpa ada orang yang bisa menyakiti kita”
Sarah : “Ya, aku sangat setuju
denganmu!”
(Sore
menjelang petang, Sarah dan Rahmanta duduk berdua, didepan mayat Hendra, dan
tidak menangisinya)
-TAMAT-
BIOGRAFI PENULIS
Anisa Rizky Amalia, lahir di Kediri, 23
Mei 1998. Anak kedua dari tiga bersaudara. Pernah menempuh pendidikan taman
kanak-kanak di TK Aisyiah Bustanul Athfal 6, pendidikan sekolah dasar di SDN
Tertek II, pendidikan sekolah menengah pertama di MTSN Jombang Kauman, dan
sekolah menengah atas di SMAN 1 Pare. Saat ini sedang menempuh pendidikan di
perguruan tinggi Universitas Negeri Malang (UM) tepatnya di Jurusan Sastra
Indonesia dan mengambil program studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan
Daerah angkatan 2017.
Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi