NASKAH DRAMA PEMBUAT ROTI
NASKAH DRAMA
PEMBUAT ROTI
oleh : Tiara
Advenia Utoyo
TOKOH
:
1. RYAN :
seorang pembuat roti yang bertingkah laku aneh dan memiliki jiwa emosional yang
tinggi.
2. RIO :
salah seorang pekerja yang sangat dekat dan menaruh perhatian lebih pada
bosnya, Ryan. Ia juga pantang menyerah meskipun toko tempatnya bekerja berhantu
dan membahayakan nyawanya.
3. PEKERJA 2 : seorang wanita yang
bekerja di toko roti dengan sifat yang mudah menyerah dan mudah depresi. Namun,
dia juga memiliki sifat keibuan.
4. PEKERJA 3 : seorang laki-laki yang
bekerja di toko roti dengan sifat yang mudah menyerah dan mudah depresi. Namun,
dia juga memiliki sifat kebapakan.
5. PAIJO dan TUKINEM : teman lama
Ryan yang tidak memiliki attitude baik
dan memiliki kesenangan jika melihat temannya menderita.
6. MIA : salah satu pelanggan setia yang merupakan seorang teman
dekat Ryan dan kakaknya sewaktu kecil.
7.
BAPAK TUA : seorang penjual liontin yang sedang sakit keras tetapi memiliki
hati yang baik dan ramah
8.
IBU TUA : istri dari penjual liontin yang sangat ramah
BABAK
1
DI SUATU
PAGI, TEPATNYA DI TOKO ROTI BERNAMA MAKNYUS, ADA SEORANG PEMILIK TOKO YANG
HAMPIR SETIAP HARINYA MENGHABISKAN WAKTU UNTUK MEMBUAT ROTI.
Ryan
: (menyiapkan
bahan-bahan untuk membuat roti dan membuat berbagai macam roti)
TOKO ITU DIJAGA OLEH SUATU ARWAH YANG MEMAKSA RYAN
UNTUK TERUS MEMBUAT KUE. SAAT RYAN MEMUTUSKAN KELUAR DARI TOKO UNTUK MENGHIRUP
UDARA SEGAR, TIBA-TIBA SESUATU YANG ANEH TERJADI DI TOKONYA.
(lampu
remang-remang, banyak barang yang jatuh, hawa terasa dingin)
Ryan :
(kerasukan) “Kamu harus tetap membuat
roti!.”
KARENA
TIDAK SANGGUP BEKERJA SEORANG DIRI, RYAN PUN MEMUTUSKAN UNTUK MEMBUAT SEBUAH
LOWONGAN PEKERJAAN UNTUK ORANG-ORANG DI SEKITARNYA. AWALNYA YANG DISANGKA AKAN
DIGANGGU OLEH ARWAH ITU, NYATANYA IA MENDUKUNG KEPUTUSAN RYAN INI.
Ryan : (menempelkan lowongan pekerjaan dari dalam tokonya)
Rio :
(menghampiri Ryan dengan ragu-ragu) “Apakah
diperlukan pekerja yang sudah mahir?”
Ryan :
“Tidak. Satu minggu sebelumnya, akan ada kursus gratis yang saya adakan di toko
ini.”
Rio : “Wah! Ini akan sangat menarik.”
Ryan : (hendak ke luar toko tiba" badannya terasa kaku dan tidak bisa
digerakkan)
Rio : “Anda tidak apa-apa?”
Ryan :
(memegang pundaknya yang nyeri) “Tidak
apa-apa. Mendadak saya merasa tidak enak badan. Apakah kamu bisa membantu saya
untuk menyebarkan informasi lowongan pekerjaan ini?”
Rio : (senang) “Tentu saja!”
Ryan :
(hendak menutup pintu) “Terima kasih.
Kamu akan secara otomatis saya terima di toko ini.”
Rio : (pergi dari dekat toko) “Terima kasih! Maksudku, terima kasih, Pak!”
Ryan : (mendapatkan laporan akan ada sepuluh pelamar kerja di tokonya)
Rio : “Kira-kira kapan akan diadakan
kursus itu, Pak?”
Ryan : “Aku akan mengadakannya besok.”
Rio : (pergi dari toko) “Baik akan saya umumkan pada warga.”
Ryan : (kembali membuat roti)
Mia :
(membuka pintu yang menimbulkan suara
lonceng, tanda ada pengunjung masuk) “Hai, Ryan! Apa kabarmu? Sudah lama
aku tidak bermain ke rumahmu.”
Ryan :
“Aku baik.” (tiba-tiba kerasukan) “kamu harus beli rotiku!”
Mia :
(terkejut) “Ada apa denganmu? Aku di
sini juga ingin membeli rotimu.”
Ryan :
(sadar dan segera membuat roti) “Oh
maaf. Aku sedikit depresi. Aku akan segera menyiapkan roti favoritmu.”
Mia : (memandang heran)
Ryan :
(memberi roti) “Rotimu sudah siap.”
Mia : (menunjukkan wajah bete) Hmm.
SETELAH ROTI YANG SUDAH MIA
PESAN TELAH DIBUAT, MIA MERASAKAN SUATU PERASAAN ANEH YANG MENIMPANYA SAAT IA
MENDEKATI RYAN UNTUK MENGAMBIL ROTI.
Mia : (merapatkan jaketnya) “Mengapa di sini udaranya dingin sekali?”
Ryan :
(gelisah) “Oh ya. Aku membutuhkan
pendingin ruangan agar kerjaku maksimal.”
Mia : (mencari pendingin yang dimaksud) “Dimana pendingin itu?”
Ryan : (sangat gelisah) “Aku membuatnya sehingga tidak terlihat.”
Mia : (membayar dan pergi dari toko) “Bilang saja itu ulah kakakmu.
Baiklah, Terima kasih!”
Ryan : (terkejut dan kembali membuat roti) “Terima kasih kembali.”
Rio : (memasuki toko roti) “Pak, pengumuman sudah beredar. Semua orang
akan datang ke toko kita.”
Ryan :
“Bagus! Besok, datanglah lebih awal untuk membantuku!”
Rio :
(pergi dari toko) “Baik, Bos!”
Rio :
(menata meja terakhir) “Semua Sudah
Siap, Bos!”
Ryan : (Ryan mulai mengenakan jas, minyak wangi, dan merapikan rambutnya)
“Baiklah. Saya akan segera bersiap-siap.”
Rio :
“Para pelamar, mohon menempati tempat yang disediakan. Sebentar lagi Bos akan datang.”
Ryan :
(berjalan menuju ruangan dan mendapatkan
tepuk tangan yang meriah dari semua pelamar) “Terima kasih atas kehadiran
kalian semua di sini. Tanpa basa-basi, saya akan memulai kursus singkatnya.”
RYAN MEMPRAKTEKKAN
PROSES MEMBUAT ROTI DAN MEMBUAT SEMUA ORANG TERKAGUM-KAGUM.
Ryan :
“Setelah selesai menyimak proses pembuatan itu, besok silakan satu-satu dari kalian
membuat roti di tempat ini. Jika sesuai dengan standar roti saya, kalian akan
saya terima untuk bekerja di sini.”
SUASANA RIUH DAN DIMERIAHKAN DENGAN TEPUK TANGAN YANG MERIAH. SATU
PERSATU ORANG MEMBERI SALAM PADA RYAN DAN MENINGGALKAN TEMPAT.
Ryan :
(menepuk pundak rio) “Terima kasih
atas bantuanmu.”
Rio :
“Sama-sama, Pak. Bolehkah saya besok juga mengikuti seleksi itu, Pak?”
Ryan :
“Silakan saja.”
Rio :
“Terima kasih, Pak.”
Ryan :
(hendak mengantar rio keluar dari toko.
tiba-tiba ia lagi-lagi kaku dan sesuatu menarik kakinya sembari meletakkannya
duduk di depan pemanggang roti)
SITUASI MENGERIKAN TERJADI KEMBALI DI TOKO ROTINYA, SEMUA BARANG BERJATUHAN.
SEPERTI BIASA, RIO DATANG LEBIH AWAL DARI BIASANYA. NAMUN, IA MENDAPATI
SITUASI YANG ANEH. RYAN TERLIHAT SANGAT LELAH SEMBARI TERLIHAT BANYAK TUMPUKAN
ROTI BERAROMA LEZAT DI SAMPINGNYA. SECARA PERLAHAN, RIO MEMBANGUNKAN RYAN
DENGAN LEMBUT.
Rio :
(menepuk pundak ryan dengan lembut) “Pak,
permisi.”
Ryan :
(terbangun dari tidurnya) “Oh ya.”
Rio :
“Apakah ada yang bisa saya bantu, Pak? Bapak terlihat sangat pucat.”
Ryan
: (memegang pundaknya yang terasa sangat
sakit) “Tidak apa. Kamu bisa membantu saya mengemasi roti-roti ini.”
Rio :
“Baik, Pak.”
SEBUAH SELEKSI
BAGI PARA PELAMAR PEKERJAAN PUN DIMULAI. TERDAPAT BEBERAPA KUE YANG BERVARIASI
ENTAH ITU BENTUK DAN WARNA MERAMAIKAN TOKO ROTI ITU. RYAN YANG AWALNYA MERASA
KESAKITAN KINI MERASA BAIK-BAIK SAJA AKIBAT MELIHAT KEKREATIVITASAN PARA
PELAMARNYA. SETELAH ITU, RYAN LANGSUNG MENUNJUK BEBERAPA PELAMAR KERJA YANG IA
ANGKAT MENJADI PEKERJANYA. ADA TIGA ORANG PEKERJA YANG IA PILIH. SALAH SATUNYA
ADALAH RIO.
Ryan :
“Saya berharap kalian tidak mengecewakan saya”
Pekerja : (menjawab secara bersamaan) “Siap pak!”
SEGALA DEKORASI
MENGHIASI TOKO TERSEBUT. TENTU SAJA HAL INI MENGUNDANG PARA PENGUNJUNG UNTUK
DATANG. BENAR SAJA. BELUM LAMA TOKO INI DIBUKA, PARA PENGUNJUNG SUDAH MEMENUHI
TOKO INI.
Rio : “Sekarang ayo keluarkan roti
pesanan nomor dua!”
Pekerja 2 : “Roti pesanan nomor dua!”
Rio : “Pak, kita kehabisan bahan.”
Ryan : (kerasukan dan diam sembari
melirik rio dengan tatapan tajam lalu tersenyum dengan menakutkan)
Rio : (terkejut) “Pak?”
Ryan : (tersadar dari lamunannya) “Oh iya. Bawa roti ini semua dan tata di
dalam lemari kaca itu.”
Rio : (terheran-heran) “Baik, Pak.”
Pekerja 3 : (ketakutan)
“Mengapa wajah pak Ryan seperti itu?”
Rio : “Sudah jangan dibahas. Anggap
kita salah lihat.”
SAAT PENGUNJUNG
SEMAKIN RAMAI.
Pekerja 3 : (membawa kotak hadiah)
“Pak, ada sebuah hadiah dari salah satu pengunjung di toko untuk Bapak.”
Ryan :
(kerasukan dan membuang kotak hadiah itu)
“Aku tidak butuh! Kembali ke tempatmu!
Dan buat roti sekarang!”
Pekerja 3 : “Saya hanya….”
Ryan :
(berteriak kesakitan)
SEISI TOKO TERDIAM.
Rio :
(menarik kerah pekerja 3) “Apa yang
kamu lakukan pada pak Ryan!”
Pekerja 3 : (angkat tangan)
“Aku tidak melakukan apapun!”
Rio :
(meminta pekerja 3 menjauhi Ryan)
Ryan :
(kembali membuat adonan dengan wajah yang
terus menunduk dan tubuh yang membungkuk)
Rio :
“Pak, mohon maaf apakah Bapak baik-baik saja?”
Ryan :
(melirik dengan tatapan tajam lalu
berteriak) “Pergi!”
Rio :
(terkejut dan meninggalkan Ryan)
JAM SUDAH
MENUNJUKKAN PUKUL ENAM SORE. TOKO INI SUDAH WAKTUNYA TUTUP. SAAT HENDAK
MEMBERESKAN ADONAN ROTI YANG BERSERAKAN. TIGA PEGAWAI INI MERASAKAN SESUATU
YANG ANEH. SALAH SATUNYA ADALAH SUARA ALAT DAPUR YANG BERJATUHAN BERKALI-KALI.
Rio :
”Pak, sepertinya ada sesuatu di dapur Bapak.”
Ryan :
(masih terus membuat adonan) “Apa?”
Rio :
“Ada banyak alat dapur yang jatuh.”
Ryan :
“Aku tidak mendengar apapun”
Rio :
(kebingungan) “Baiklah saya dan
teman-teman permisi.”
SAAT RYAN
MENGHENTIKAN KEGIATAN MEMBUAT ADONANNYA, TIBA-TIBA BARANG YANG ADA DI DEPANNYA
HANCUR BERSERAKAN.
Ryan :
(kerasukan dan mencekik lehernya sendiri)
“Kamu tidak bisa macam-macam denganku! Kamu sudah ada dibawah kendaliku!”
SEKETIKA ITU JUGA,
IA TERIKAT SELENDANG YANG TIDAK TERLIHAT DAN MEMAKSANYA DUDUK UNTUK MEMBUAT
ADONAN KEMBALI TANPA BISA DILEPASKAN.
Ryan :
(kerasukan dan marah sembari berteriak
kesakitan karena ikatan selendang yang semakin kuat) “Ha-ha! Kamu tidak
akan bisa pergi lagi!”
SEMUANYA TERLIHAT
BERGERAK DAN BERISIK. RYAN BERTERIAK DAN MENENDANG MEJA YANG BIASANYA IA PAKAI
UNTUK MEMBUAT ADONAN. ADONAN DAN TEPUNG-TEPUNG PUN BERHAMBURAN KEMANA-MANA.
Ryan :
(kerasukan dan berteriak) “Dasar adik
tidak tahu diri! Rasakan apa penderitaanku selama dulu aku ada di dunia! Jika
kamu masih saja mengelak, kamu bisa mati!
KARENA
KELANCANGANNYA ITU, KINI IA TIDAK BISA LEPAS DARI KURSI ITU. KEGIATAN YANG HANYA
BISA IA LAKUKAN ADALAH BERSIH DIRI DAN MEMBUAT ADONAN. SAAT IA MEMAKSA UNTUK
MELAKUKAN HAL LAIN, DIA AKAN MERASA LEHERNYA TERCEKIK KUAT SEKALI.
KEADAAN
DI TOKO ROTI SEMAKIN BURUK. AKIBAT PENYIKSAAN SEMALAM ITU MEMBUAT LEHER DAN
PERUT RYAN TERLUKA. SONTAK, MEMBUAT PARA PEKERJANYA TERHERAN-HERAN DAN
MENDEKATI RYAN.
Ryan :
(tersenyum) “Kalian sudah datang.”
Rio :
(curiga dengan tingkah Ryan yang semakin
aneh) “Wah! Pak, untuk apa Bapak membuat roti sebanyak ini setiap hari?”
Ryan :
(sambil melawan sesuatu yang mengikat tubuhnya
di atas kursi itu) “Bapak ingin berbagi rejeki.”
Rio :
(mendekati Ryan dan terkejut melihat luka
hebat di leher Ryan) “Pak, ada yang bisa saya bantu?”
Ryan :
“Tidak perlu. Kembalilah bekerja. Toko akan dibuka sebentar lagi.”
Rio :
(meninggalkan Ryan) Baik, Pak. Saya
permisi.
SAAT SIBUK
MEMPERSIAPKAN ADONAN DI DAPUR, SALAH SATU PEKERJA RYAN TERKEJUT KARENA MELIHAT RYAN
SEDANG BERCENGKERAMA DENGAN SESEORANG DAN GERAK-GERIKNYA YANG MENGERIKAN.
Pekerja 2 : “Yo, ada apa dengan pak Ryan?”
Rio :
“Hmm. Jangan buat aku merasa ketakutan”
Pekerja 2 : “Suasana di toko ini semakin mengerikan. Lihat, banyak
lumut dan warna temboknya sudah pudar. Apalagi lampunya yang terlihat hampir
mati.”
Rio :
“Aku juga merasakan hal yang sama.”
Pekerja 3 : “Apa kamu melihat luka di leher pak Ryan? Itu luka yang
sangat parah seperti tercekik.”
Rio :
“Benar. Namun, aku heran apakah pak Ryan tinggal seorang diri di toko ini?”
Pekerja 3 : “Tentu saja
tinggal seorang diri.”
Rio :
“Sudahlah. Jangan membahas ini. Kita harus fokus bekerja.”
SUARA PINTU TOKO
YANG TERBUKA
Tukinem : (berteriak
sembari mendekati Ryan) “Hai Ryan! Masih ingat aku?”
Ryan :
(menoleh dengan tatapan kosong)
Tukinem : “Apakah masih jamannya menjual roti seperti ini?”
Ryan :
(kerasukan dan menatap tajam ke arah Tukinem)
Tukinem : “Sepertinya masa lalumu penuh dengan keputusasaan
sehingga memilih untuk menjadi pembuat roti yang malang seperti ini”
Ryan :
(kerasukan) “Sudah selesai
menghinaku?”
Tukinem : (mengeluarkan
ponsel dan memotret Ryan) “Aku harus memviralkan ini. Seorang trouble
maker di jaman SMA yang berakhir menjadi pembuat roti yang miskin!”
Ryan :
(kerasukan) “Pergi!”
Paijo :
“Wah. Pemandangan indah apa ini?”
Tukinem : “Dia sekarang seperti kakaknya. Seorang pembuat roti
yang sangat malang. Haha!”
Paijo :
“Apa yang bisa ia banggakan dari sepotong roti? Haha”
Ryan :(kerasukan sambil membawa botol kaca yang
pecah dan mengarahkannya pada dua temannya itu) “Kalau kalian macam-macam
denganku. Jangan salahkan aku jika kalian mati sekarang!”
Tukinem : (terdiam melihat
wajah pucat ryan yang seperti seorang mayat hidup dan langsung kabur)
Paijo :
(kabur)
Pekerja 2 Dan 3 : (bersembunyi)
Rio :
(menunduk)
Ryan :
(kerasukan sambil berteriak dan marah)
Kembali bekerja! Jangan ikut campur!
SEMUA PEKERJA
MENURUTI PERINTAH RYAN.
KEESOKAN PAGINYA, SAAT
HENDAK MEMASUKI TOKO UNTUK BEKERJA, TIBA-TIBA RIO DITARIK OLEH DUA TEMAN
PEKERJANYA.
Rio :
(melepaskan genggaman tangan mereka)
Apa yang kalian lakukan!
Pekerja 2 : Sobat, kami di sini mau menolongmu.
Rio
: Menolongku? Dengan cara menculikku?
Pekerja 3 : Dengar dulu! Kamu sudah melihat gerak-gerik pak Ryan
selama ini kan?
Rio :
Tentu saja. Lalu apa permasalahannya?
Pekerja 2 : Kami memutuskan untuk keluar dari pekerjaan ini.
Rio :
Kalian gila? Pak Ryan sudah mempercayai kita sebagai pekerjanya yang sangat ia
andalkan. Mengapa kalian mengambil keputusan ini?
Pekerja 3 : Kami melakukan ini dengan banyak pertimbangan. Kami
tidak mau mati ketakutan karena bekerja bersamanya. Pagi tadi sebelum kamu
datang, aku melihat pak Ryan sedang bermain benda tajam. Aku bukanlah seekor
sapi yang rela dipanggang hidup-hidup. Kamu paham?
Rio :
Dia memang mengerikan tetapi bukan pembunuh, bodoh!
Pekerja 2 : Cukup! Keputusan kami sudah bulat. Ini pilihanmu kamu
ingin ikut kami atau tetap bersama dengannya.
Rio :
Tolonglah pikirkan ini matang-matang. Kalian akan kecewa jika meninggalkan
pekerjaan ini. Aku tahu kalian sangat membutuhkan pekerjaan untuk keluarga
kalian.
Pekerja 3 : Anakku sudah meninggal. Semangat bekerjaku sudah hilang.
Kini, aku hidup sebatang kara.
Pekerja 2 : Sama halnya denganku. Ibuku sudah meninggal dan suamiku
menikah dengan perempuan lain. Aku tidak memiliki harapan apa-apa lagi.
Rio :
Apa yang bisa aku katakan pada pak Ryan?
Pekerja 3 : Katakanlah sejujurnya bahwa kami sudah tidak berminat
bekerja bersamanya. Jika ia menyalahkanmu, kami ada di belakangmu.
Pekerja 2 : Datanglah kepada kami jika kamu mengalami kesulitan.
Rio :
Aku benar-benar kesepian. Aku sudah menganggap kalian sebagai teman dekatku
sendiri.
Pekerja 3 : Kami tidak akan
melupakanmu.
Pekerja 2 : (memegang pundak
rio) Apakah kamu yakin tetap bekerja bersamanya?
Rio :
Tentu. Aku akan tetap bekerja dengannya.
Pekerja 3 : (memeluk rio)
Kamu memang pekerja setianya. Berhati-hatilah!
Pekerja 2 : (memeluk rio)
Jangan lupakan kami.
SETELAH BERPISAH
DENGAN KEDUA PEKERJA ITU, RIO MEMASUKI TOKO SEORANG DIRI. BENAR SAJA, RYAN
TERLIHAT SEDANG MEMUTAR-MUTAR PISAUNYA DENGAN TATAPAN KOSONG.
Rio :
(menunduk) Selamat pagi, Pak.
Ryan :
Selamat pagi. Dimana pekerja yang lain?
Rio :
(menunduk) Mohon maaf, Pak. Mereka
memutuskan untuk berhenti karena mereka baru saja kehilangan orang yang
tersayang dan sedang depresi.
Ryan :
(membuang pisaunya ke lantai) Apa! Berhenti?
Rio :
(berusaha kuat) Iya pak.
Ryan : (menangis)
Rio :
(melihat Ryan dengan takut)
Ryan :
Sebaiknya kamu juga pergi. Aku terlihat sangat menakutkan akhir-akhir ini.
Rio :
Tidak, Pak. Saya akan tetap bekerja di sini sampai kapanpun.
Ryan :
Tidak. Kamu sudah banyak membantu saya.
Rio :
Sungguh, Pak. Saya tidak keberatan untuk
bekerja di sini dalam waktu yang cukup lama.
Ryan :
(meminta Rio duduk) Duduklah dekatku.
Rio :
(duduk)
Ryan :
Aku ingin bertanya sesuatu. Apakah kamu pernah kehilangan orang yang dekat denganmu?
Rio :
Tentu, Pak.
Ryan :
Apakah ada sesuatu kesalahan yang kamu perbuat sampai-sampai saat seseorang itu
meninggal kamu merasa tidak tenang?
Rio :
(menunjukkan kalung itu) Pernah, Pak.
Saat ayah saya meninggalkan saya, saya tidak pernah menjenguknya saat sakit.
Itu membuat saya merasa bersalah. Namun, saat ayah saya akan dikuburkan ia memberikan
saya sebuah kalung dan tanpa pikIr panjang saya langsung mengenakannya sebagai
wujud permintaan maaf saya. Saya akui kalung itu jelek tetapi itu tidak lebih
buruk dari perbuatan saya yang sama sekali tidak ada saat dia disiksa oleh
penyakitnya.
Ryan :
Setelah mengenakan kalung itu, apa yang kamu rasakan?
RIO
: Saya terus mendoakan ayah saya sampai hari ini. Perasaan merasa bersalah itu
sekarang berganti menjadi perasaan rindu. Bukanlah ketakutan yang saya alami
tetapi keinginan untuk terus menyebut namanya yang ingin saya lakukan setiap
hari.
Ryan : (menghela napas) Baiklah kamu bisa pergi dari toko.
Rio :
(ketakutan) Apa ada kata-kata saya
yang menyakitkan Bapak? Saya mohon maaf.
Ryan :
(menggelengkan kepala) Tidak ada.
Rio :
(beranjak)
Ryan :
(melambaikan tangan) Pergilah. Terima
kasih, Rio.
TIBA-TIBA
TERDENGAR SUARA BARANG BERJATUHAN DAN RIO TIBA-TIBA TERJATUH
Ryan :
(kerasukan) Kamu pergi!
Rio :
(kebingungan) Pak?
Ryan :
(kerasukan) Aku tidak suka dengan
permbicaraan basi itu! Pergi!
Rio :
(terjatuh lalu melihat sekeliling
tiba-tiba dia kesulitan untuk berdiri)
Ryan :
(ketakutan) Kak! Aku memang dulu
sering mengejekmu karena kamu hanyalah tukang roti jalanan yang berusaha
memenuhi kebutuhan hidupku. Saat kamu hidup, aku sama sekali tidak pernah
memuji bahkan berterima kasih padamu. Maafkan aku.
SUASANA TIBA-TIBA
MENJADI HENING
Ryan :
(menutup kedua telinganya dengan
tangannya)
Rio
Pak, apakah sebelum kakak Bapak meninggal ia menitipkan sesuatu?
Ryan :
(memegang kepalanya) Aku tidak tahu.
Rio :
Coba ingat, Pak. Mungkin ini adalah salah satu cara agar Bapak terbebas dari
kutukan ini.
Ryan :
(berpikir keras)
SUARA
BARANG-BARANG YANG BERJATUHAN KEMBALI TERDENGAR
Ryan : Liontin! Liontin! Aku sudah
menjualnya.
Rio : (terkejut)
Ryan :
Aku sangat membencinya dulu dan saat itu tanpa pikir panjang aku langsung
membuangnya.
Rio :
Dimana Bapak menjualnya?
Ryan : (menutup kedua telinganya) Aku tidak ingat!
SUASANA SEMAKIN
BERISIK DAN RYAN SEMAKIN KESAKITAN
Ryan :
(berteriak dan mendorong Rio keluar dari
toko rotinya)
KEESOKAN PAGINYA, TIBA-TIBA
RIO MENDENGAR SUARA RUSUH DARI ORANG-ORANG YANG DENGAN BRUTAL MENDORONG PINTU
MASUK TOKO DAN HENDAK MERUSAKNYA.
Rio : (mendekati mereka) Apa yang kalian lakukan?
Tetangga 1 : Kami sejak awal sudah curiga dengan toko
ini. Kali ini dugaan kami memang benar. Toko roti ini bukanlah
toko sembarang roti.
Tetangga 2 : Kami terganggu dengan
adanya toko roti ini. Kami memutuskan untukmerobohkannya.
Tetangga 3 : Setiap malam toko ini selalu berisik!
Kami sudah tidak tahan lagi!
Rio : Kalian tidak boleh main
hakim sendiri!
Tetangga 2 : (berbisik)
Dia aneh sekali. Mengapa begitu ngotot membela orang yang sama sekali tidak
mempedulikannya.
Rio : Saya minta kalian bubar!
Tetangga 1 : Baiklah. Kami akan memberikanmu satu kesempatan lagi. Jika
toko ini masih saja mengganggu kami, kami akan tetap merobohkannya. Jika kamu
menghalangi, kami mungkin juga akan menghancurkanmu.
SEMUA ORANG PUN
BERPENCAR DAN KEMBALI KE RUMAH MEREKA MASING-MASING. SAAT RIO HENDAK KEMBALI
MASUK KE DALAM TOKO ROTI, TOKO ROTI ITU TERKUNCI. RYAN MEMINTANYA UNTUK PERGI. RIO
PUN PERGI DENGAN MERANCANG BEBERAPA RENCANA UNTUK MENOLONG RYAN.
BABAK 2
KEESOKAN
PAGINYA, SITUASI ANEH TERLIHAT DARI GERAK-GERIK RYAN YANG SEDANG MENGEMASI
BARANG-BARANGNYA. RIO PUN LANTAS MENGETUK TOKO ITU DAN TERKEJUT MELIHAT RYAN
YANG LANGSUNG MENARIKNYA MASUK.
Ryan
: "Rio aku sudah tidak
kuat."
Rio
: "Apa yang terjadi,
Pak?"
Ryan :
"Warga terus menerorku. Aku tidak tahan. Aku putuskan untuk menutup toko
roti ini dan dengan terpaksa aku juga memecatmu."
Rio
: "Apa yang mereka
lakukan, Pak?"
Ryan
: "Banyak. Banyak
sekali. Ah aku depresi!"
Rio
: "Tenangkanlah
dirimu, Pak. Aku akan pergi."
Ryan :
"Rio, terima kasih sudah mau selalu ada untukku selama ini.”
Rio
: (keluar dari toko) "Dengan senang hati, Pak."
SATU
MINGGU BERLALU, TOKO ROTI ITU SAMA SEKALI TIDAK PERNAH KEDATANGAN TAMU. BAHKAN,
TEMPAT ROTINYA SAMPAI DIHUNI OLEH PARA LABA-LABA. RIO TERUS MENCARI TAHU
BAGAIMANA KEADAAN RYAN.
Mia
: (mengetuk toko roti) “Ryan! Ini aku
Mia. Setelah berkelana di negeri orang, aku jadi rindu roti buatanmu. Buatkan
aku roti kesukaanku! Halo? Halo?”
Rio
: “Siapa kamu?”
Mia
: “Siapa kamu?”
Rio
: “Kenapa malah balik
bertanya?”
Mia
: “Perempuan selalu yang
pertama jadi jawab aku dulu.”
Rio
: (menghela napas) “Aku
Rio mantan pekerja pak Ryan.”
Mia
: “Oh. Kamu bekerja
dengannya? Aku Mia pelanggan setianya.”
Rio
: “Apa yang kamu lakukan?”
Mia
: “Aku ingin menemui Ryan
dan rotinya tentu saja.”
Rio
: “Pak Ryan sudah menutup
tokonya selama satu minggu ini.”
Mia
: “Hah? Apa yang telah
terjadi padanya? Arwah itu masih mengganggunya?”
Rio
: “Ternyata kamu tahu
betul tentang pak Ryan.”
Mia
: “Tentu saja. Aku lebih
awal kenal dengannya.”
Rio :
“Jika begitu, apakah kamu tahu sesuatu tentang kalung yang diberikan oleh kakak
Ryan yang sempat ia jual?”
Mia
: “Hmm. Liontin?”
Rio
: “Apa kamu tahu?”
Mia
: “Oh. Aku tahu! Dulu aku
yang menjualnya.”
Rio
: “Bisakah kamu tunjukkan
padaku dimana kamu menjualnya?”
Mia
: “Tentu. Tapi mengapa
kamu ingin liontin itu kembali?”
Rio :
“Ini semua berkaitan dengan penyelamatan pak Ryan dari arwah yang ternyata
kakaknya sendiri itu. Jika liontin itu sudah ada pada dirinya, mungkin semuanya
akan normal.”
Mia
: “Sebegitu kuatkah
pengaruh liontin itu?”
Rio : “Seperti yang kamu dengar
dan percaya.”
Mia
: “Baiklah aku akan
mengantarmu ke toko emas itu.”
MEREKA
PUN BERSAMA-SAMA MENUJU TOKO EMAS YANG DIMAKSUD. SETELAH BERJALAN CUKUP JAUH
DARI TOKO, MEREKA PUN MENEMUKAN TOKO EMAS ITU DAN JUGA LIONTIN MILIK RYAN.
Mia :
“Tunggu dulu. Mbak, permisi. Dimanakah bapak tua yang biasa menjual di toko
ini”
Penjual : “Dia sedang sakit keras, Mbak. Sekarang
sedang berada di rumahnya.”
Rio :
“Sudah berapa lama dia sakit?”
Penjual : “Sekitar 2 tahun lebih. Apa ada sesuatu
yang mau kalian cari di sini?”
Mia :
“Kami ingin mencari liontin yang aku berikan pada bapak tua itu dua tahun yang
lalu.”
Penjual : “Bagaimana penampilan fisik liontin itu?”
Rio :
(menatap Mia)
Mia :
“Aku tidak ingat.”
Rio :
“Kamu serius? Kamu jangan main-main.”
Mia :
“Benar! Aku lupa! Bapak tua itu yang mengingatnya.”
Rio :
“Kamu akan dalam masalah besar.”
Mia :
“Percayalah padaku. Rencana kita sekarang kita harus menemui bapak tua itu. Aku
sangat mengenalnya.”
Rio :
(hendak pergi) “Kepercayaanku sudah
habis!”
Mia :
“Rio! Dengar aku. Setelah kita sampai di rumah bapak tua itu, jika hatimu masih
saja tidak senang, kamu bisa pergi. Tapi tolong temani aku mencari alamat itu.”
Rio :
“Oke. Hanya ada satu kesempatan lagi.”
SETELAH MENYURUSI PERJALANAN YANG
PANJANG, PADA AKHIRNYA MEREKA MENEMUKAN RUMAH TUA YANG ADA DI UJUNG JALAN.
DENGAN HATI-HATI, MEREKA PUN MENGETUK RUMAH ITU.
Mia :
(mengetuk pintu) “Permisi”
Ibu Tua : (membuka pintu
lalu memeluk MIa) “Mia? Kamu sudah besar ya.”
Rio :
(terkejut)
Mia :
“Iya, Bu. Apakah Bapak ada di dalam?”
Ibu Tua : “Ada. Ayo silakan masuk.”
Mia :
“Jika kamu mau pergi silakan.”
Rio :
“Tidak. Aku sekarang percaya padamu.”
Mia :
(tersenyum lalu masuk ke rumah tua itu
dengan Rio)
Ibu Tua : (menyuguhkan teh)
“Silakan diminum.”
Rio :
(menyeduh teh) “Terima kasih, Bu”
Ibu Tua : “Ada keperluan apa kalian datang ke sini?”
Mia :
“Kami ingin mengambil kembali liontin yang sudah saya jual pada Bapak dua tahun
lalu.”
Ibu Tua : “Mengapa kalian mengambilnya kembali?”
Rio :
“Saya ingin memberikan kembali kalung itu pada pemiliknya, Bu.”
Ibu Tua :
“Ibu melihat ada kalung liontin yang disimpan dengan ketat oleh Bapak. Mungkin,
itu salah satu kalung yang kalian cari.”
Mia :
“Bolehkah saya menemui Bapak, Bu?”
Ibu Tua : “Silakan saja.”
Mia :
(memasuki ruangan) “Pak?”
Bapak Tua : (menyeripitkan kedua mata)
“Siapa ini?”
Mia :
“Saya Mia, Pak.”
Bapak Tua : (memeluk Mia sembari
rebahan) “Mia.”
Mia :
“Kenapa Bapak sakit seperti ini?”
Bapak Tua : “Penyakit Tua, Nak. Ada apa ke sini?”
Mia :
“Mia ingin tanya. Apakah Bapak masih menyimpan liontin yang Mia jual dua tahun
lalu.”
Bapak Tua :
(menunjuk suatu kotak dan meminta Mia
untuk membukanya sendiri)“Tentu saja Bapak simpan. Bapak memiliki firasat
jika suatu hari nanti kamu membutuhkannya.”
Mia :
(membuka kotak itu) “Wah! ini, Pak
liontin yang saya cari.”
Bapak Tua : “Ambil saja. Oh ya. Apakah kamu hanya seorang diri di sini?”
Mia :
“Tidak, Pak. Saya membawa teman.”
Bapak Tua : “Ajak dia untuk masuk.”
Mia :
(memanggil Rio)
Rio :
“Permisi, Pak.”
Bapak Tua : “Kalian serasi sekali. Apakah sudah lama kenal?”
Rio : “Tidak, Pak. Kami baru saja
bertemu tadi pagi.”
Bapak Tua :
“Oh begitu. Baiklah. Segeralah berikan liontin ini pada pemiliknya sebelum
semua berakhir buruk.”
Rio : “Baik, Pak. Terima kasih.”
Mia : “Terima kasih, Pak.”
SETELAH KELUAR DARI RUMAH BAPAK TUA
ITU.
Mia :
“Bagaimana cara kita masuk ke dalam toko itu?”
Rio :
“Aku tidak tahu. Mungkin, aku harus mendobrak pintu itu.”
Mia :
“Aku akan ikut membantumu”
SESAMPAINYA DI TOKO ROTI, RIO
LANGSUNG MENDOBRAK PINTU ITU DENGAN KUAT. KARENA KEKUATANNYA ITULAH, MEMBUAT
PINTU TOKO ROTI ITU TERBUKA.
Ryan :
(kerasukan dan menoleh dengan wajah pucat)
HAHA! Kalian datang lagi!
Rio :
“Dimana Pak Ryan?”
Ryan :
“Dia sudah mati! Haha”
Mia :
“Pak Ryan? Apakah kamu mengingatku?”
Ryan :
“Dia tidak ingat siapapun! Haha. Kalian pergi!”
Rio :
“Tidak! Berikan pak Ryan!”
Ryan :
(berlari mendekati Rio dan Mia)
“Kalian tidak bisa memerintahku!”
Mia :
(mengalungkan liontin itu di leher pak
Ryan)
Ryan :
(terjatuh)
Rio :
“Pak?”
Ryan :
“Air..”
Mia :
(mengambil air untuk Ryan)
Ryan :
(meminum air) “Terima kasih. Apa yang
kalian lakukan di sini? Aku hampir saja membunuh kalian.”
Rio :
“Kami di sini hanya mau mengembalikan liontin itu, Pak.”
Ryan :
(melihat liontin yang ada di lehernya)
Rio :
“Tolong jangan hilangkan liontin itu lagi, Pak.”
Ryan :
(menangis) Apakah aku baru saja bisa
mengobrol dengan kalian dengan normal? Oh. Apakah jangan-jangan aku bisa pergi
kemanapun aku mau? (berjalan ke luar toko) Benar. Aku sekarang bisa pergi
kemanapun yang aku mau.
Rio :
(membantu Ryan berdiri) Tenangkan
dirimu, Pak. Kini Bapak sudah bebas.
Ryan :
(memeluk Ryan dan Mia) Terima kasih.
Berkat kalian aku bisa selamat dari kutukan itu.
Mia :
“Hmm. Apakah itu berarti kamu tidak akan membuat roti lagi?”
Ryan :
“Tentu saja masih.”
Mia :
“Seharian aku dan Rio berkelana dan sekarang aku lapar. Padahal tujuan awal
kepulanganku selama satu bulan di negeri orang hanya untuk menyantap roti
buatanmu.”
Ryan :
“Tenang saja. Aku bebas bukan berarti menutup usahaku. Aku akan tetap menjadi
penjual roti. Dan Rio, akan kembali bekerja denganku lagi.”
Rio dan Mia : (bersorak kegirangan)
Ryan :
“Aku akan membenahi toko ini dulu supaya pelanggan bisa merasa nyaman untuk
mentap roti di tempat ini.”
Rio :
“Saya siap membantu, Pak.”
KARENA
LIONTIN ITU, KEHIDUPAN RYAN SUDAH BERUBAH. IA MENJADI PRIBADI YANG LEBIH BAIK
DARI SEBELUMNYA. SEMUA TETANGGA YANG MENCACINYA KINI PERLAHAN MENERIMANYA.
BEGITU PULA DENGAN PELANGGAN DI TOKO ROTINYA. TOKO SURAM YANG KINI SUDAH
MENJADI TOKO YANG NYAMAN MEMBUAT USAHANYA MENINGKAT DRASTIS. PEKERJA SETIANYA,
RIO, KINI BISA MENGHIDUPI KEHIDUPANNYA DENGAN LEBIH BAIK.
SEJATUH-JATUHNYA
SESEORANG YANG SUDAH JATUH DALAM DOSA, DIA AKAN SELALU MENDAPATKAN KESEMPATAN
KEDUA. ENTAH BAGAIMANA CARA DIA MEMPERBAIKINYA, SEMUA AKAN BERJALAN SESUAI
DENGAN KEIKHLASAN DI DALAM HATINYA.
-SELESAI-
TENTANG PENULIS
TIARA ADVENIA
UTOYO, atau yang akrab disapa Tiara merupakan mahasiswa Sastra Indonesia di
Universitas Negeri Malang sejak tahun 2017. Seorang anak perempuan dari Malang
yang lahir tanggal 3 Desember 1999. Cita-cita ditanam sejak SMP yaitu menjadi
penulis. Bagi Tiara, menulis adalah kegiatan yang sangat penting selain bisa
melatih imajinasi, menulis juga bisa merekam jejak kehidupan yang mungkin kelak
akan menjadi kenangan yang tak terlupakan.
Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi