NASKAH DRAMA PENDATANG KAMAR POJOK
Nama : Aulia Rahma Ramadhani
NIM : 170211604568
OFF: AA/PBSID
LAKON
PENDATANG
KAMAR POJOK
*
BABAK
1
SAYUP MENDAYU-DAYU SUARA LANTUNAN AYAT AL-QU’AN
DILANTUNKAN, SIANG BERGANTI SORE, LAMPU RUMAH-RUMAH DI GANG SEMPIT ITU MULAI
SATU PERSATU MENYALA, SALAH SATU RUMAH KOS SUSUN MILIK PAK KETUT LEBIH DULU
MENYALA TERANG NAMPAK DARI LUAR PAGAR. PARA PENGHUNI KOS SEDANG BERKUMPUL DI
RUANG TENGAH LANTAI BAWAH KOS. MEREKA BERSIAP MAKAN MALAM BERSAMA. AROMA
MASAKAN SEDAP MEMENUHI RUANG TENGAH.
SETTING
TEMPAT: RUANG TENGAH
PROPERTI:
TV, MEJA MAKAN, SOFA, MAKANAN , MINUMAN
LIGHTING:
NETRAL (KUNING WARM)
CICI : (Keluar dari dapur membawa piring) “Panggil
yang lain untuk turun juga, jangan sampai ada yang terlewat tidak ikut makan
malam hari ini!”
ANGGI : (Berdiri mengiyakan) “ Siap bu bos, lima orang saja hari ini, yang lain sedang
giliran kerja shift malam, jadi tinggal Anci saja yang perlu ku panggil.”
PIPIT : (Membantu menata meja makan) “Semakin
sepi saja kos ini, penghuni baru giat sekali bekerja siang-malam.”
CICI : “Biarkan saja,
semakin mereka sibuk bekerja, semakin cepat mereka pulang kampung membawa gaji
banyak.”
PIPIT : “Dipikir gampang
ngumpulin uang”
AYUN : “Jangankan
mengirim uang ke rumah. Makan sehari-hari saja harus hemat.”
CICI : “Itu karena
nasibmu saja kurang untung.” (tertawa
mengejek)
ANGGI : (Kembali masuk dengan Anci) “Hallah wong mau makan saja kok repot,
endak usah peritungan kalau urusan perut.”
PIPIT : “Hidupmu enak
nggi, tak susah membiayai keluarga, keluargamu cukupan.”
AYUN : “Sedangkan aku,
harus membantu Ibuk menyekolahkan kedua adikku.”
ANCI : “Kok jadi,
ngomongin beban hidup, itu urusan masing-masing orang. Ikuti takdir saja, sudah
ayo makan.”
CICI : (Membagikan piring) “Hari ini dijalani
dulu, urusan besok, iya dipikir besok. Segampang itu, legowo ae”
MEREKA MAKAN BERSAMA MASIH SAJA MEMBAHAS NASIB MEREKA
HARI ITU.
PAK
KETUT : (Mengetok pintu, dan masuk tanpa permisi)
“Maaf iya bapak datang mengganggu.”
ANCI : “Ada apa pak Ketut
kok balik lagi, tadi sore kan sudah pulang.”
PAK
KETUT :
“Anu, Bapak mau menyiapkan kamar pojok yang kosong itu, mau ada yang
menempati.”
PIPIT : “Kok endak
pagi-pagi besok saja pak.”
PAK
KETUT :
“Mau ditempati malam ini juga, sebentar lagi orangnya datang,”
ANCI : “Kok tumben pak
buru-buru ditempati, apa cuma melipir sebentar. Biasanya boyongan dikit-dikit
dulu.”
PAK
KETUT : “Tadi
dia telfon bapak dan langsung minta kunci, katanya mau cuman dua bulan saja.” (masuk kamar pojok untuk menyiapkan kamar
tsb.)
PENGHUNI KOS MELANJUTKAN MAKAN
PAK
KETUT : (Keluar kamar pojok) “Sudah bersih cuman
bapak ganti spreinya sudah bisa ditempati.”
ANGGI : “Yang mau ngekos
namanya siapa pak? dia kerjanya apa?
PAK
KETUT :
“Bapak juga belum tahu, namanya tadi lupa siapa, nanti kalau sudah di sini
tanyakan sendiri saja nduk.”
AYUN : “Monggo pak, di
tunggu sambil makan juga.”
PAK
KETUT :
“Bapak sudah kenyang nduk, sudah
bapak tunggu di luar saja sama cari angin.”
CICI : “Besok minta
tolong galonnya dibelikan iya pak, sudah habis!” (menunjuk galon tinggal sedikit isinya)
PAK
KETUT : “Iya besok pagi dikirim bapak galon.”
MALAM SEMAKIN LARUT, PARA PENGHUNI KOS BUBAR, MASUK KAMAR
MASING-MASING. PUKUL 21.00 WIB. WANITA BARU PENGHUNI KAMAR POJOK ITU BELUM JUGA
DATANG. TIDAK ADA KABAR LAGI. PAK KOS MEMUTUSKAN PULANG.
SEBELUM KELUAR PAGAR.
LIGHTING : (SMOOTH BIRU)
WANITA : (Muncul di pintu
depan) “Malam pak,”
PAK
KETUT :
(Berdiri terkejut) “Haduhh kaget bapak, tak kira siapa?”
WANITA : “Saya yang tadi
telfon bapak. Ini untuk harga sewa kos dua bulan. Boleh saya minta kuncinya?”
PAK
KETUT : (Gelagapan menerima uang dan mencari kunci
kamar) “Ohhh iya mbk. Ini .. inii kuncinya.”
WANITA : (Menerima kunci)
“Maaf sudah membuat menunggu lama. Saya masuk, terimakasih.”
PAK
KETUT :
“Ehh iya, buru-buru sekali sudah lelah iya, baiklah tidak apa-apa. Silahkan.”
WANITA TERSEBUT MASUK SETELAH MENDAPAT KUNCI.
(BLACKOUT)
KAMAR POJOK YANG SUDAH LAMA INI KOSONG TELAH ADA YANG
MENEMPATI. WANITA YANG MISTERIUS. TAK BANYAK BICARA MALAM ITU IA MENJADI
PENGHUNI BARU KOS PAK KETUT. HANYA DUA BULAN. SIAPA NAMANYA? DARI MANA ASALNYA
? BELUM ADA YANG TAHU.
MALAM SEMAKIN LARUT PENGHUNI KOS SUDAH TERLELAP. LAMPU
KOS REMANG, MENYISAKAN LAMPU KECIL REDUP DI RUANG TENGAH.
*
BABAK
2
HARI MINGGU PAGI SUDAH MENJADI KEBIASAAN. PARA PENGHUNI
KOS SARAPAN BERSAMA SAMBI BERGOSIP, MENGELUH, SENASIB BERKUMPUL DI RUANG
TENGAH. KETIKA ITU SUARA REOT PINTU KAMAR POJOK MEMBUAT SEMUA PENGHUNI KOS PAGI
ITU MENOLEH.
SETTING
TEMPAT: RUANG TENGAH
PROPERTI:
TV, MEJA MAKAN, SOFA, MAKANAN , MINUMAN
LIGHTING:
NETRAL (KUNING WARM)
WANITA PENGHUNI KAMAR POJOK ITU KELUAR KAMAR DENGAN
MASKER HITAM MENUTUP SEBAGIAN WAJAHNYA MEMAKAI HANDUK KIMONO DAN RAMBUT
TERURAI. IA BERJALAN KE KAMAR MANDI.
ANCI
:
“Bukankah ituu..”
ANGGI
:
“Iya sepertinya, penghuni baru kamar pojok.”
CICI
:
“Sejak dari malam kamis itu, baru terlihat.”
HUUEEEKK...HUUEKKK TERDENGAR DARI KAMAR MANDI. SEMUA
PENGHUNI KOS MENOLEH TERKEJUT.
ANGGI : “Pantas tidak
pernah terlihat. Dia sedang sakit, kalian dengarkan.”
ANCI
:
“Sudahlah biarkan saja, kenapa menjadi sangat peduli begitu.”
CICI : “Aku hanya sangat
sedang penasaran, tidak ada salahnya membantu sesama perantau.”
ANGGI : “Tidak salah, yang
menjadi salah jika kaliaaann...” (terdiam
ketika wanita penghuni kamar pojok itu keluar dari kamar mandi).
WANITA ITU KEMBALI MASUK KE KAMARNYA.
PIPIT : “Sebenarnya aku
merasa ada yang aneh dengan wanita itu.”
ANGGI : “Apalagi yang
membuatmu berfikir aneh-aneh tentangnya” (sedikit
ketus)
PIPIT : “Jumat malam itu.
Masih ingat jelas ketika ku selesai dari kamar mandi, sempat menatap jam
dinding (menunjuk jam dinding di tengah
ruangan) pukul 01.40 WIB. Sayup-sayup ku mendengar wanita itu sedang
mengerang merintih seperti sedang menahan rasa sakit. Aku semakin mendekatkan
daun telingaku di ambang pintunya.
LAMPU RUANG TENGAH REDUP, LAMPU KAMAR POJOK MENYALA BIRU
GELAP. WANITA SEDANG MENGERANG KESAKITAN MENGANGKANG DI BAWAH TEMPAT TIDURNYA.
MASIH LENGKAP MEMAKAI BAJU SEKSI MERAHNYA DAN SEPATU HEELS YANG TERLEPAS
BERSERAKAN.
LAMPU KAMAR POJOK REDUP. LAMPU RUANG TENGAH KEMBALI
KUNING WARM MENYALA.
ANCI : “Ahhh kau sedang
mengarang cerita horor iya?”
PIPIT : “Kenapa juga ku
harus mengarang cerita. Tidak aku sedang serius, namun ceritaku bukan cerita
horor. Sungguhan aku seakan sedih dan jijik bercampur aduk mendengar rintihnya.
ANGGI : “Yang benar saja.
Lalu kenapa kau tak menolongnya.
PIPIT : “Sudah akan (sedikit teriak membela) sssssstttttt
nanti dia bisa dengar, ku sudah ingin mengetuk pintunya. Namun seketika suara
rintih itu berhenti. Berganti menjadi suara tawa yang keras.”
CICI : “Hahh yang benar
saja? Tidak masuk akal.”
PIPIT : “Ia tertawa, masih
sayup-sayup ia sambi juga tetap menangis, aku bingung dan akhirnya memilih
kembali ke kamar.”
AYUN : “Sebenarnyaa..” (mengingat sesuatu)
CICI : “Ada lagii..” (Penasaran)
ANCI : “Kenapa yun,
cerita saja.”
AYUN : “Malam tadi, aku
kembali setelah bekerja karena lembur baru sampai kos pukul 01.10 WIB. Ku
melihatnya dibopong oleh seorang laki-laki. Dan ia setengah sadar terseok-seok
memaksa kunci kamar supaya masuk ke lubangnya. Tak lama setelah aku selesai
mandi, aku mendengaarrr...”
CICI : “Mendengar apaa
cepatt.”
LAMPU RUANG TENGAH REDUP. LAMPU KAMAR POJOK MENYALA MERAH
GELAP. WANITA SEDANG DI ATAS TEMPAT TIDURNYA SEDANG MENDESAH MENGERANG.
SEAKAN-AKAN BERMIMPI BERZINA.
WANITA LELAH DAN AKHIRNYA MENANGIS
LAMPU KAMAR POJOK REDUP. LAMPU RUANG TENGAH MENYALA
KUNING WARM.
ANCI : “Kau yang benar
saja. Apa sebenarnya penyakitnya.”
AYUN : “Dia sakit? Aku
juga bingung.”
ANGGI : “Dia sedang gila,
atau sakau”
PIPIT
:
“Jangann...jangan dia seorang...”
PAK KETUT MASUK DAN MELIHAT PARA PENGHUNI KOS SEDANG
BERKUMPUL. IA PUN BERNIAT MENYAPA MEREKA DAN MEMBAGI JERUK TITIPAN DARI
ISTRINYA UNTUK MEREKA.
LIGHTING : NETRAL
PAK KETUT : “Jeruk?
PENGHUNI KOS : “aaaa” (berteriak terkejut)
PAK KETUT : “Loh ada apa? Sepertinya
kok sedang seru?”
ANCI : “Tidak pak, kami hanya
terkejut saja.”
PAK KETUT : “Yang benar? Kenapa semua
bermuka pucat seperti itu?, seperti baru melihat hantu saja.”
ANGGI : “Tidak pak, hanya sajaa..”
PIPIT : (Menyenggol Anggi supaya tak perlu memberitahukan Pak Ketut)
AYUN : “Sudahlah kita harus
menanyakan ini kepada Pak Ketut. Aku sudah sangat penasaran.”
PAK KETUT : “Ada apa toh non, cerita
sama bapak, jangan sampai kalian keluar kos karena ada hal yang tidak
mengenakkan. Bisa amblas uang bapak hahahhahaha.” (tertawa geli)
ANGGI : “Begini pak..”
PAK KETUT : “Oh iyaa duduk yok, sambil
duduk, ini bapak bawa jeruk titipin dari ibuk untuk dibagikan ke kalian.”
ANCI : “Terimakasih pak. Sampaikan
salam terimakasih kami ke ibuk.”
PAK KETUT : “Haduhh iya, sudah-sudah
makan, tadi Anggi mau cerita ke bapak tentang apa?”
ANGGI : “Begini pak, kami
sebenarnya penasaran sekali dengan penghuni kamar pojok yang baru itu.”
PAK KETUT : “Ohhh masalah itu, bapak
sendiri juga tidak terlalu akrab dengannya. Malam dia datang bapak tak sempat
berkenalan lebih akrab. Dia sangat kelihatan lelah malam itu, bukan lelahh,
tapi lebih tepatnya terlihat sakit.”
AYUN : “Benar begitu pak?”
PIPIT : “Setelah itu masak iya
bapak tidak bertemu lagi dengannya?”
ANGGI : “Iyaaaa, bapak kan setiap
hari datang ke kos.”
PAK KETUT : “Lah iya ituu, dari pertama
masuk disini sampai sekarang bapak tidak pernah melihatnya, diminta berpapasan saja tidak pernah. Lah
mankanya bapak mau tanya non-non semua ini,
sudah akrab apa belum?”
ANCI : “Kami juga belum pernah pak
berbicara akrab langsung dengannya,
hanya beberapa temen-temen ini saja yang pernah berpapasan. “
PAK KETUT : “Ibu tadi juga nitip
pesan, habis bapak cerita tentang dia ke
Ibu, akhirnya ini bapak disuruh membagi jeruk ini juga kepadanya.”
PIPIT : “Jadi, bapak mau ke kamarnya?”
PAK KETUT : “Loh iya jelas dong, gimana
terus bapak ngasih jeruknya.”
ANGGI : “Anggi mau ikut dong pak,
mau tahu orangnya, Anggi juga ikutan khawatir.” (tersenyum memaksa)
CICI : “Aku tidak ikut iya, mau siap-siap pergi soalnya.”
PAK KETUT : “Iya ci, Ayoo semua ikut
iya endak papa, barang kali saja dia jadi bisa lebih akrab dengan kita setelah
ini, kalian tampangnya yang bersahabat gitu loh, jangan kayak emak-emak preman
pasar. Biar dia mau akrab sama kalian.” (tertawa
geli)
MEREKA PUN PERGI MEMBAWA SEBUNGKUS JERUK UNTUK
PENDATANG KAMAR POJOK YANG BARU ITU. PARA PENGHUNI KOS SUDAH TERLALU PENASARAN DENGAN
WANITA ITU.
AKHIRNYA MEREKA SAMPAI DI DEPAN PINTU KAMAR DAN PAK
KETUT HENDAK MENGETUK PINTU KAMAR POJOK TERSEBUT.
LIGHTING : BIRU SMOOTH
AYUN : “Ehhh tunggu pak, yakin
kita tidak mengganggu. Barangkali ia sedang tidur. Maklum hari minggu kan kerjaan orang banyak
yang masih molor dibagi hari.”
PIPIT : “Hoalahhh sudahlah kan cuma
sebentar saja, kita hanya mau memberi jeruk dari Ibu.”
PAK KETUT : “Biar bapak ketuk dulu.” (mengetuk pintu)
KETUKAN PERTAMA TIDAK ADA JAWABAN
.
KETUKAN KEDUA MASIH TIDAK ADA JAWABAN
.
HAMPIR MENYENTUH KETUKAN KETIGA
TIBA-TIBA PINTU KAMAR TERBUKA SEDIKIT, TERBUKA SENDIRI
KARENA KETUKA lN DARI PAK KETUT. TERLIHAT DI DALAM KAMAR ITU GELAP SEPERTI TAK
PERPENGHUNI.
PAK KETUT DAN PARA PENGHUNI KOS TERHERAN. PAK KETUT
MENCOBA UNTUK MEMANGGILNYA.
PAK KETUT : “Ehh pintunya kebuka, maaf
iya non, non ini ada jeruk dari Ibu. Monggo non.”
PIPIT : “Kenapa tidak ada jawaban
iya pak?”
ANCI : “Apa dia sedang tidur benar
seperti yang dikatakan Ayun.”
ANGGI : “Atau jangann… jangan dia
pingsan atau malah…”
AYUN : “Hushh apa sih nggi, kan tadi pagi kita berpapasan dengannya dari
kamar mandi.”
PAK KETUT : “Sebentar bapak cobak lihat
ke dalam.”
WANITA : “Taruh di depan pintu saja
pak, terimakasih. Saya sedang berganti
pakaian.”
SEMUA YANG DI DEPAN PINTU KAMAR POJOK TERKEJUT MENDENGAR
WANITA ITU TERNYATA MENYAHUTI DARI DALAM KAMAR.
PAK KETUT : “Oh iyaa maafkan bapak ya
lancang mau membuka pintu, ini jeruknya
bapak taruh depan. Bapak tinggal dulu
iya non.”
TIDAK ADA JAWABAN PAK KETUT MEMUTUSKAN UNTUK PERGI DAN
MENDORONG SEMUA PENGHUNI KOS YANG PENASARAN UNTUK IKUT MENJAUH DARI KAMAR POJOK
ITU.
ANGGI : “ Anehh sekali pak, beganti
baju? Tapi kamarnya saja gelap seperti itu bagaimana dia bisa melihat.”
ANCI : “Bukan itu saja
masalahnya, kenapa ia tidak keluar meski
sebentar, tidak sopan, seharusnya dia menjawab ketukan kita.”
PIPIT : “Benar-benar aneh, kok iya ada saja orang seperti itu, pak Ketut
ini, kenapa menerimanya masuk di kos ini.”
AYUN : “iyaaa satu kos dibuat
geger olehnya.”
PAK KETUT : “heeee iya mana bapak tahu
kalau orangnya aneh begitu, la iya timbang kamar kosnya kosong iya mending
bapak kasihkan ke dia.”
MEREKA TERDIAM DI RUANG TENGAH BERKUTAT DENGAN
FIKIRANNYA SENDIRI, ADA YANG MASIH
TERKEJUT, ADA YANG MASIH PENASARAN, ADA
YANG MERASA ANEH DST.
TIBA-TIBA SUARA LANGKAH KAKI BERIRAMA TERDENGAR, SUARA
TUK TAK TUK SEPATU HIGHT HEELS SEMAKIN MENDEKAT DAN SEMAKIN MENDEKAT.
WANITA MUNCUL MENGGUNAKAN KACAMATA HITAM, BERSYAL
HITAM MENUTUPI SEBAGIAN WAJAHNYA.
MENGGUNAKAN COAT PANJANG. IA
BERJALAN MELEWATI KERUMUNAN PAK KETUT DAN PARA PENGHUNI KOS YANG MASIH DIBUAT
MELONGO DENGAN KEDATANGAN NYA MENDESIR LEWAT BEGITU SAJA.
WANITA : “Selamat pagi, terimakasih buahnya, saya pergi dulu.”
PAK KETUT TERGOPOH SADAR DARI LAMUNANNYA BEGITU PUN
JUGA PARA PENGHUNI KOS LAIN, SEGERA SADAR DAN MELEMPAR SENYUM KECUT PADA WANITA
ITU. IA PUN BERLALU PERGI KELUAR KOS.
PAK KETUT : “ Ehh iya non sama-sama.
Kok buru-buru tidak mau duduk dulu bersama kami untuk sekadarrr…”
ANGGI : “Sudahlah pak dia tidak
dengar, orang langsung melipir begitu.”
CICI : “Halloo, aku mau pergi dulu
iya, mau ngopi sama teman-teman.”
AYUN : “Heehh terserah kau saja
lah ci, kamu tidak tahu ini tadi apa saja yang barusan terjadi, terlewati kabar kamu haduh terlewattt.”
CICI : “Lah malah aku mau nimpalin
cerita baru, malah tadi waktu di kamar aku sempat dengar, dia sedang bernyanyi
suaranya merdu sekali. Ku kira siapa yang bernyanyi, ternyata dari kamar pojok
itu suaranya.”
ANGGI : “Masak iyaa? Haduhhh pikiranku
semakin bingung dibuatnya.”
PAK KETUT : “Sudah-sudah kalian ini
kenapa toh jadi pusing begini, kan iya wajar orang mau bernyanyi kok tidak
boleh.”
ANCI : “Bukannya tidak boleh pak,
hanya saja aneh begitu.”
PAK KETUT : “Aneh bagaimana, Sudah-sudah jangan punya pikiran yang
jelek-jelek, itu penghuni baru, buat dia
nyaman disini orang cuman dua bulan aja kok kita buat ribut begini. Jangan
dibahas lagi loh iya habis ini, sudah
biar begitu.”
PIPIT : “Iya bener sudah kata Pak
Ketut biarkan saja. Jangan ikutan diambil pusing.”
CICI : “Tapi kamu juga penasaran
toh pit pakek ngomong gitu segala.”
PAK KETUT : “Bapak mau pulang dulu iya,
wes rukun-rukun disini. Kalau ada apa-apa bapak dikabari saja.”
SEMUA
PENGHUNI KOS
: “Iya pak..”
BABAK
3
PEMBICARAAN TENTANG WANITA ITU PUN TAK BERHENTI HINGGA
DI SITU. DUA HARI SETELAH PAK KETUT MEMBAWAKAN JERUK UNTUK PARA PENGHUNI KOS
TERSEBUT. WANITA ITU TIDAK PULANG KOS SELAMA DUA HARI. TAPI DIMALAM KETIGA IA
AKHIRNYA KEMBALI KE KOS DENGAN BADAN LEMAS.
LENGAN BAJU KIRINYA SOBEK. LESU MEMBUKA PINTU KOS MENJINJING HIGHT HEELS
NYA DAN. BERJALAN TERSEOK-SEOK HENDAK KE KAMARNYA. NAMUN IA TERJATUH SEBELUM
SAMPAI DI DAUN PINTU KAMAR POJOK NYA. ANCI DAN PIPIT YANG SAAT ITU SEDANG DI RUANG
TENGAH INGIN BERUSAHA MENOLONG NYA.
SETTING
TEMPAT: RUANG TENGAH
PROPERTI:
TV, MEJA MAKAN, SOFA
LIGHTING : MERAH SMOOTH
ANCI : “Kau tidak apa-apa, mari ku
bantu bangun.”
WANITA MENGHEMPASKAN TANGAN ANCI DAN PIPIT. IA BANGKIT
SEKUAT TENAGA DAN MASUK KE DALAM KAMARNYA SAMBIL TERTAWA KERAS.
PIPIT : “Kau lihat kannnn, betapa
anehnya dia seperti orang pesakitan, orang sakit jiwa lebih tepatnya.”
WANITA : “Siapa Siapa kau bilang
sakit jiwaa, jadi selama ini kalian berfikir aku tidak waras haaaaa. (tertawa
keras)
SEMUA PENGHUNI KOS KELUAR KAMARNYA KARENA TERKEJUT
MENDENGAR KERIBUTAN.
AYUN : “Ada apaaa ini…” (suaranya semakin mengecil)
WANITA : “Kenapa kenapaa.. Apa yang salah dengan ku?, apa yang salah dengan hidupku?”
ANCI : “Telfon pak Ketut
sekaranggg…”
WANITA : “Kalian semua busuk, kalian
membicarakan ku seakan-akan aku manusia yang paling hina. Sama seperti orang
lain, tidak ada yang mau dengan wanita sepertiku.”
CICI : “Kau ini sedang bicara apa
mbk, jangan seperti ituu sadar sadarrr…”
WANITA KEMBALI KE KAMARNYA DAN MENUTUP PINTU DENGAN
KERAS
PIPIT : “Sudah kalau dia tidak
keluar dari kos ini, lebih baik aku yang keluar, wanita aneh seperti itu mana mungkin aku bisa
hidup berdampingan dengannya.”
ANCI : “Tidak jangann.. Pak Ketut
saja yang harus mengusirnya malam ini juga.”
WANITA : “Hahahahahha… … kenapa
kalian takut dengan wanita seperti ku?
Belum pernah hidup susah iya?
LIGHTING MERAH MENYOROT KAMAR POJOK LIGHTING PENGHUNI
KOS REDUP
TERLIHAT WANITA DI ATAS DIPANNYA TERTAWA SAMBIL
MENANGIS.
WANITA : “Akuu iyaa akuuu, usir saja
aku. Aku bukan manusia yang bisa ditolong, aku bukan manusia baik-baik.”
CICI : “Kami ingin membantu jika
kamu mau cerita ke kami mbk, kenal saja tidak bagaimana kami bisa tahu siapa
kamu.
LIGHTING PENGHUNI KOS MENYALA
WANITA : “tidak hahahah iya, aku tak pantas bergaul dengan kalian, aku
hina hahahah.”
ANCI : “Haduhhhh sudah kamu telfon
belum pak Ketut kenapa lama sekali ia kemarinya”
WANITA : (mulai bermyanyi) “Pergi kalian pergi biarkan aku sendiri”
AYUN : “Sudah yuk pergi ayoo
pergi, kita tunggu pak Ketut diruang tengah saja.”
PIPIT : “Semakin ngeri saja kos
ini, apa-apain sekarang.”
ANCI : “Sudah Ayoo kita tunggu pak
Ketut saja.”
PARA PENGHUNI KOS BERKUMPUL DI RUANG TENGAH SEMBARI
MENUNGGU PAK KETUT DATANG. MEREKA MASIH SAJA BERGUMUN MEMBAHAS KEANEHAN WANITA
PENDATANG KAMAR POJOK ITU. TAK BERAPA LAMA PAK KETUT PUN DATANG TERGOPOH-GOPOH.
MALAM ITU PUKUL 23.30 WIB.
LIGHTING:
NETRAL
PAK KETUT : “Ada apa non ada apa
duhhh, bapak sedang tidur, kaget mendengar telfon tadi, karena masih
mengantuk hampir saja bapak nabrak pohon di jalan tadi.”
ANGGI : “Begini pak, tadi wanita kamar pojok itu teriak-teriak
sambil tertawa aneh begitu. Dia menyalahkan penghuni kos yang menyebutnya udah
tidak waras.”
PIPIT : “Haduhhh pokoknya ceritanya
panjang pak, intinya saya endak mau
kalau harus satu kos dengan dia. Bapak harus segera mengusirnya.”
PAK KETUT : “Lohhh lohh iya mana bisa
begitu dia kan baru satu minggu di sini,
dia juga sudah membayar uang kos selama dua bulan, dua bulan lohh. Bayarnya cas, lah gimana
bapak bisa mengusirnya begitu saja.”
ANCI : “Kalau pak Ketut tidak
mengusirnya malam ini juga, maka kami
yang akan pergi dari kos ini.”
PAK KETUT : “Jangan begitu dong
non, begini begini sajaaa… bapak coba ajak ngomong dia iya, mungkin dia
hanya tersinggung dengan perkataan kalian. Biar bapak yang memberikan
pengertian kepada dia.
AYUN : “Tidak mungkin bisa pak
sudahlllaaahhh, orang kayak gitu kok
diajak ngomong.”
CICI : “Iya tapi dicoba dulu saja
pak, barangkali memang dia yang salah faham dengan sikap kita. Kita cuman
pengen akrab sama dia. Iya kaget saja kita lihat dia kyak gitu.”
ANGGI : “Yang benar sajaaa, salah paham? Apa nya yang salah pahamm, dia yang memulai maka dia yang harus
mengakhiri.”
PIPIT : “Niat kita baik mau
menolong, kok iya ada yang seperti ituuu,
anehh tidak waras.”
PAK KETUT : “Sudah biar bapak saja yang
ke kamarnya, biar damai lagi kosnya bisa salinh faham, kalian juga gitu sudah gedhe mbok iya
sabarr.”
CICI : “Mau disamperin ke kamarnya
sekarang pak? Cici ikut mau minta maaf
juga kalau sudah buat dia tidak nyaman dikos jadinya.”
ANCI : “Halaaahhh apa-apaan toh
kamu ini ci, sok mau minta maaf segala,
kita itu tidak salahh, dia yang cari gara-gara, semua jadi ikutan repot
begini.”
PAK KETUT : “Tidak hanya Cici, bapak juga mau semuanya ikut, kita saling
memaafkan. Biar bapak yang menengahi nanti.”
PIPIT : “Tidakk aahhh.”
ANGGI : “Tapi pakkk…”
PAK KETUT : “Sudah ayoo semua ikut mau
cepat selesai tidak, bapak sudah ngantuk mau cepet-cepet tidur lagi ini ayooo.”
CICI : “Sudahlahhh ayo kita ikut
semua cek ndang marii”
SEMUA PENGHUNI KOS DENGAN TERPAKSA MENGIKUTI KEINGINAN
PAK KETUT. MEREKA PUN PERGI KE KAMAR POJOK TERSEBUT.
SESAMPAINYA DI DEPAN PINTU KAMAR POJOK. PAK KETUT
MENGETUK PINTU
LIGHTING :
NETRAL
PAK KETUT : “Non selamat malam, ini pak Ketut, boleh bicara sebentarrr?”
TIDAK ADA JAWABAN, PAK KETUT MENGETUK PINTU KEMBALI.
PAK KETUT : “Non sebentar saja bapak
pengen ngomong.”
PIPIT : “Sudah dibilang
ngenyel, orang sakit jiwa kok diajak
ngobrol.”
LIGHTING MERAH GELAP MENYOROT KAMAR POJOK. TERLIHAT WANITA
SEDANG DI DEPAN KACA MENYISIR RAMBUTNYA DAN TERTAWA KERAS
WANITA : “Hahahahahhaha… .. Aku
memang yang salah, kenapa aku harus dilahirkan seperti inii, tidak berterima di masyarakat, dihina, diacuhkannnn.”
PAK KETUT : “Jangan seperti itu non,
nyebutttt, maaf ini pipit memang
orangnya suka nyablak kalau ngomong, tidak ada yang menjauhi non.”
WANITA : “Sudahlah pak, jangan belagak baik, semua orang tahu, semua orang sama, mereka membenciku.”
PAK KETUT : “Buka pintunya dulu
non, bapak ingin bicara ayoo, jangan
seperti ini.”
WANITA : “Jangan masukkkk, biarkan aksu sendiri, dan memang aeharusnya aku
selalu sendiri hahahahahahah” (tertawa
geli)
PAK KETUT : “biar semuanya segera
selesai ayo keluar dulu, bapak ingin semuanya jelas dan damai, kalau ada masalah cerita ke bapak, bapak bisa
bantu.”
WANITA : “Yang bisa membantuku hanya
laki-laki berduit yang selalu mencumbui ku dan menamparku sebagai
pelampiasannyaa hahahahaha.” (tertawa
keras sambil menangis)
PIPIT : “Cihhh jadi kau perempuan
jalang haaaa, pantas saja bau busuk di
lobangmu selalu menguak setiap kali lewat, berangkat malam pulang pagi buta, wanita
macam apa kau bisa hidup seperti itu.”
WANITA : “Siapa yang bilang aku
wanita jalanggg siapaaaa kurang ajaaarrrrrrrr.”
WANITA MENGAMBIL PISAU DAN MENACAPKANNYA DI PINTU YANG
MASIH TERTUTUP. PAK KETUT DAN PENGHUNI KOS KAGET DAN MUNDUR KETAKUTAN.
WANITA : “hahahahahaha, siapa kalian
berani menilaiku seperti itu, kalian tidak tahu siapa aku, kalian tidak tahu
kenapa aku harus hidup begini, kaliann
tidak tahuuuuuu.” (kehabisan nafas terisak)
PAK KETUT : “Sudah ku bilang jangan
bilang macam-macam.” (mendelik melihat Pipit), telfon ambulance sekarang juga.”
ANGGI : “Iiiya pak,” (tergopoh-gopoh merogoh saku mencari ponsel)
LIGHTING : BIRU GELAP MENYOROT KAMAR POJOK WANITA
TERSEBUT.
WANITA : “Hahaha sudahlah tidak perlu
repot-repot mengurusiku, aku sudah terlalu banyak menyusahkan orang, bahkan
orang tua ku sendiri sudah tak sanggup melihatku, untuk apa lagi aku hidup
hahahahaha.”
PAK KETUT : “Nyebut nakk astagaa jangan
bilang seperti ini, coba tenangkan dirimu, mari keluar kamar, bapak bisa bantu
non.”
WANITA MENCABUT BELATI YANG MENANCAP DI PINTU
KAMARNYA. IA TERTUNDUK LESU BERJALAN KE ARAH KACA KAMARNYA.
WANITA : “Untuk apa aku hidup, hahahah”
(tertawa lirih melihat bayangannya dibaca)
PAK KETUT MERASAKAN ADA HAL BURUK YANG AKAN TERJADI
PAK KETUT : “Non buka pintunya non, biarkan
bapak masuk iya, non” (berusaha
mendobrak pintu kamar)
WANITA : (menangis semakin
manjadi-jadi)
PAK KETUT BERHASIL MEMBUKA PINTU KAMAR.
WANITA SUDAH DI DEPAN PINTU MENATAP PAK KETUT DAN
SEMUA PENGHUNI KOS, SEJURUS IA
MENANCAPKAN BELATI KE DADANYA.
THE
END
Tentang Penulis
Aulia Rahma Ramadhani, lahir di Desa Bakungpringgodani, Kecamatan Balongbendo,
Kabupaten Sidoarjo pada tanggal 24 Desember 1998. Putri kedua dari pasangan suami
istri Bapak Arif dan Ibu Rahayu.
Pernah menempuh pendidikan di TK Dharmawanita Seduri, kemudian menempuh
pendidikan di SDN Seduri 02,
melanjutkan SMP Negeri 1 Krian, kemudian
melanjutkan ke SMA Negeri 01 Krian, lulusan tahun 2017. Melanjutkan studi ke
Universitas Negeri Malang Prodi S1 Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan
Daerah. Cita-citanya ingin menjadi seorang penyiar radio.
Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi