NASKAH DRAMA "PENYESALAN BAPAK"



Penyesalan Bapak
Oleh: Ika Puput Oktavia Kumalasari


Drama Persona :
1. Bapak          = Seorang suami sekaligus bapak yang mempunyai sifat pemarah, egois, gila harta dan meninggalkan keluarganya hanya demi  hidup bersama wanita yang bernama sinta yang kaya raya.
2. Ibu               = Seorang istri sekaligus ibu yang setia, baik hati, sabar dan penyayang kepada keluarganya.
3. Sinta           = Seorang  janda yang sangat cantik, kaya raya, tetapi mempunyai sifat sombong.
4. Rafa            = Seorang anak sekaligus kakak yang baik, selalu menjaga dan perhatian kepada adiknya dan selalu mematuhi perkataan orang tuanya.
5. Rafi             = Seorang anak sekaligus adik yang sangat menyayangi kakaknya, namun mempunyai sifat pemarah.



BABAK I
ADEGAN 1  

Pada siang hari di bawah terik sinar matahari terdengar suara anak-anak kecil yang sedang asyik bermain, tertawa terbahak-bahak memainkan permainan tradisional congklak di depan teras sebuah rumah tua yang sederhana.

Rafa    : “Hahahah ayo dik sekarang kamu yang main” (sambil tertawa terbahak-bahak).
Rafi     : “Sebentar kak, tunggu dulu”
Rafa    : “Itu yang disana masih banyak, cepat ambil dek”
Rafi     : “Aahh kakak curang, pasti kakak yang akan menang”.
Rafa    : “Tidak dik, percayalah pada kakakmu ini” ( berlari menjauhi adiknya).
Rafi     : ”Kak tunggu aku” (sambil bermain lari-larian bersama sang kakak).
Rafa    : “Ayo, kejar aku kalau bisa”
Ibu   : “Leh jangan lari-larian nanti jatuh” (duduk di kursi sambil menyulam baju dengan pemidangan)
Rafa    : “Iyaa bu” (sambil berjalan pelan-pelan)
Rafi     : “Kakak duluan buk yang mengajakku lari-larian”
Ibu      : “Jangan ganggu adikmu leh, yang rukun sama adiknya”
Rafa    : “Iyaa bu”

Sang bapak pun tiba-tiba datang dengan wajah yang terlihat murung dan langsung duduk termenung di kursi goyang depan teras rumah sambil termenung.

Rafa    : “Itu bapak sudah datang bu”
Rafi      : “Bapakk” (berjalan menghampiri bapaknya)
Ibu        : “Kok tumben jam segini sudah pulang kerja pak?” (Mencium tangan suaminya)
Bapak   : “Bapak habis terkena musibah”
Ibu      : “Musibah apa pak, kenapa wajah bapak terlihat murung seperti itu pak?” (sambil                       membawakan sebuah teh panas untuk suaminya)
Bapak : “Masalah pekerjaan buk”
Ibu       : “Kenapa pak dengan pekerjaan bapak?”
Bapak  : “Bapak terkena PHK buk”
Ibu     : “Apa pak, Bagaimana bisa bapak di PHK? Bukankah bapak selalu rajin dan tidak pernah melanggar peraturan disana” (Teh panas yang masih digenggamannya itu pun tidak sengaja terjatuh ke lentai setelah mendengar perkataan suaminya)
Rafa    : “PHK, PHK itu apa ya dik” (berbisik dengan adiknya)
Rafi     : “Pak PHK itu apa sih pak?”
Bapak  : “PHK yaa artinya pengurangan pegawai dan bapak dipecat dari pekerjaan”
Ibu      : “Sudah leh ayo kalian masuk ke dalam saja, tidak baik mendengar pembicaraan orang tua. Rafa adiknya diajak masuk ke dalam”
Rafa    : “Ayo dik kita masuk”
Ibu      : “Terus bagaimana nasib kita nanti pak? Bapak tahu ibu tidak bekerja dan keluarga kita hanya mengandalkan nafkah hanya dari bapak saja” (langsung duduk di kursi sambil menangis).
Bapak : “Bapak juga tidak tahu bu, bapak bingung sekarang”
Ibu     : “Hoalah pak keluarga kita hidup serba berkecukupan, kalau nanti bapak tidak mendapatkan uang lalu kita nanti mau makan apa pak?”
Bapak : “Sudah cukup bu! Jangan hanya bisa menambah pusing bapak, bapak juga lagi mikir buat kedepannya nanti bagaimana”
Ibu    : (menangis tersedu-sedu)

Anak-anaknya pun mendengar suara pertengkaran kedua orang tuanya dan langsung keluar menghampiri kedua orang tuanya.

Rafa   : “Kenapa bu, kenapa ibu menangis?” (Melihat wajah ibunya yang sedang meneteskan air mata).
Ibu       : “Tidak apa-apa nak, ibu tidak menangis”
Rafi     : “Awwww sakitt” (Tidak sengaja kaki rafi menginjak serpihan gelas yang terjatuh di lantai)
Bapak : “Looh rafi” (langsung berlari ke arah rafi yang sedang kesakitan dan menangis)
Ibu      : “Kenapa leh? Pak kaki rafi terkena serpihan gelas, cepat pak bawa rafi ke dalam biar ibu yang obati” (dengan wajah yang cemas dan panik)
Rafi     : “Sakit buu”
Ibu       : “Iya ibu tahu, ditahan bentar ya leh ibu obati”
Rafa    : “ Jangan nangis dik laki-laki gak boleh nangis dik” (berusaha menenangkan adiknya agar tidak menangis lagi)
Ibu       : “Rafa tolong ambilkan P3K disana”
Rafa    : “Baik bu”

ADEGAN 2
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sang suami pergi ke luar rumah dengan membawa tas kecil yang diletakkan di bahunya.

Ibu       : “Pagi-pagi sekali mau kemana pak?”
Bapak : “Bapak mau pergi sebentar bu”
Ibu       : “Mau mencari pekerjaan pak?”
Bapak : “Ya doakan saja bu mencari pekerjaan di zaman sekarang itu sulit bu gak mudah”
Ibu       : “Iya pak carilah pekerjaan apapun yang penting halal”
Bapak : “Leh bapak pergi dulu ya dijaga adiknya” (mengelus-elus kepala anaknya)
Rafa    : “Iya pak” (mencium tangan bapaknya)

            Sang suami pun langsung pergi untuk bertemu dengan seseorang yang tak lain adalah mantan pacarnya yang bernama sinta yang sudah lama menjadi janda dan memiliki harta yang berlimpah.

Bapak : “Hai sin, udah lama kita gak ketemu ya sin?
Sinta    : “Iya semenjak kita putus, kita udah gak kontakan lama ya”
Bapak : “Suami kamu gimana kabarnya?
Sinta  : “Suamiku sudah lama meninggal karena penyakit diabetes dan aku sekarang tinggal sendirian karena belum mempunyai anak”
Bapak : “Turut berduka ya sin, sin kedatanganku kesini karena aku ingin pinjam uang sama kamu?
Sinta    : “Kenapa kamu tiba-tiba pinjem uang? Emangnya untuk apa?
Bapak : “Buat anakku yang lagi sakit sin”
Sinta    : “Ealah lik udah ganti zaman kok ya hidupmu masih aja susah lik”
Bapak : “Iya sin, aku habis terkena PHK dari pekerjaanku sin dan sekarang aku masih bekerja”
Sinta  : “Makanya cari istri itu jangan dilihat dari cantiknya aja tapi juga harus pintar dan menghasilkan uang juga lik”
Bapak : “Iya gimana namanya juga jodoh sin kita gak ada yang tahu”
Sinta  : “Tidak usah pinjam uang, aku bisa ngasih kamu uang kalo kamu mau” (Memegang tangan malik dan merayunya)
Bapak : “Beneran sin?”
Sinta   : “Iya aku serius tapi ada syaratnya lik”
Bapak : “Syaratnya apa sin?
Sinta   : “Kamu harus temenin aku setiap hari di rumah”
Bapak : “Maksutnya sin? Tapi aku sudah berkeluarga sekarang dan aku juga sudah mempunyai istri di rumah” (sambil beranjak berdiri dari kursi yang ia duduki)
Sinta    : “Tenang, santai aja dulu anggap saja ini tawaran pekerjaan dariku”
Bapak : (hanya diam dan termenung tidak menjawab perkataan sinta)
Sinta   : “Bagaimana setuju?”
Bapak : “ Eeehhmm Oke setuju”
Sinta  : “Kalau begitu ayo ikut aku ke mall lik, aku lagi bosan dan butuh teman” (menggandeng tangan malik dan mengajaknya pergi)

ADEGAN 3
Sang bapak pun pulang ke rumah larut malam dengan membawa banyak mainan untuk anak-anaknya.

Ibu       : “Dari mana saja kamu pak, jam segini baru pulang?”
Bapak : “Baru pulang ke rumah sudah dikasih omelan”
Ibu       : “Apa kamu gak liat jam ini jam berapa pak? Ini sudah mau subuh”
Bapak : “Iya tadi bapak ada urusan penting bu makanya bapak pulang larut malam”
Ibu       : “Bukan malam lagi pak, tapi ini sudah menjelang pagi”
Bapak : “Iya bapak tahu bu, udahlah bu bapak ngantuk capek ingin tidur” (Berjalan menuju kamar tidur)
Ibu    : “Tunggu pak, kenapa kamu bau parfum perempuan pak? Perasaan bapak tidak pernah memakai parfum selama ini”
Bapak : “Iya bapak tadi beli parfum bu”
Ibu       : “Beli pake daun pak, duit aja bapak gak punya kok beli parfum”
Bapak : “Iya tadi dikasih sama teman bu duitnya, sudah bu bapak mau tidur”
            Sang ibu pun memberikan mainan-mainan yang dibawa suaminya kepada anak-anaknya.
Ibu       : “Ini untuk rafa dan rafi ya, jangan rebutan harus rukun sama saudara”
Rafi     : “Banyak sekali bu mainannya, ini semua ibu yang beli?”
Ibu       : “Ini semua bapakmu yang beli tadi leh”
Rafa    : “Bapak lagi banyak uang ya bu”
Ibu       : “Mungkin bapakmu sedang ada rezeki jadi membelikan mainan untuk anak-anaknya”
Rafa    : “Bapak baik ya bu”
Ibu       : “Orang tua mana yang tidak baik pada anaknya sendiri, leh rafi gimana kakimu masih sakit?”
Rafi     : “Iya bu, kok kaki rafi terasa tambah sakit ya bu”
Ibu       : “Sini ibu lihat dan ibu buka perbannya” (Membuka perban rafi dengan perlahan)
Rafi     : “Aduuhh sakit bu, pelan-pelan bu”
Ibu       : “Looh rafi kenapa kakimu makin parah seperti ini, kenapa bisa penuh nana dan menghitam seperti ini?” (Dengan raut wajah terkejut)
Rafi     : “Rafi ndak tahu bu, rafi cuma ngrasa tambah sakit sekali”
Ibu       : “Pak bangun pak, pak bangun” (Berusaha membangunkan suaminya yang tertidur pulas)
Bapak : “Ada apa to bu? Bapak masih mengantuk ini bu”
Ibu       : “ayo kita pergi ke rumah sakit pak, kaki anakmu makin parah ayoo kita periksakan ke dokter pak”
Bapak : “Oalah bu kamu pikir pergi ke rumah sakit itu apa gak perlu biaya?
Ibu       : “Bapak kan punya uang, buktinya kamu beli banyak mainan untuk anak-anakmu itu”
Bapak : “Bapak gak punya uang bu”
Ibu       : “Terus itu semua darimana pak, bapak gak mencuri kan?”
Bapak : “Jangan sembarangan menuduh bu, seumur-umur bapak gak pernah yang namanya mencuri bu”
Ibu       : “Terus itu semua uang darimana pak?”
Bapak : “Dari teman bapak bu, kemarin bapak bertemu dengannya”
Ibu       : “Temenmu sopo pak?”
Bapak : “Teman sekolah bapak namanya samsul”
Ibu       : “Kok sepertinya bapak gak pernah punya teman yang namanya samsul” (merasa curiga dengan perkataan suaminya)
Bapak : “Ya ibu gak pernah tau aja” (Sambil mengalihkan pandangan mata ke istrinya)
Ibu       : “Terus bagaimana dengan kaki anakmu itu pak, kasihan kalau dibiarin begitu saja”
Bapak : “Ibu kasih obat dulu, nanti bapak akan cari uang untuk pergi ke dokter”
Ibu       : “Segera cari uang pak, kerja apapun yang penting halal pak. Kasihan anakmu”
            Tak lama kemudian bapak pun pergi keluar rumah
Bapak : “Sin aku butuh uang lagi untuk anakku yang sakit pergi ke dokter
Sinta    : “Iya nanti aku akan kasih uang”
Bapak : “Aku butuh uangnya sekarang sin, anakku sedang sakit”
Sinta    : “Kan dirumahmu sudah ada istrimu yang jaga anakmu, pasti bentar lagi juga sembuh”
Bapak : “Tapi anakku sedang sakit sin sekarang”
Sinta    : “Iya nanti akan kuberi kamu uang”

ADEGAN 4
Sang ibu menunggu kepulangan bapak yang tak kunjung pulang ke rumah.

Ibu       : “Kemana bapakmu ini leh sudah malam kok ya belum pulang?” (Mondar mandir di depan pintu rumah)
Rafa    : “Mungkin bapak sekarang sedang sibuk bekerja bu”
Ibu       : “Ibu coba telelpon dulu ya leh”
Rafa    : “Iyaa bu”
Ibu       : “Tuttt....tuttt...tutt... kemana bapakmu ini daritadi gak ngangkat-ngangkat teleponnya, sudah leh kamu masuk dulu ini sudah malam waktunya rafa tidur ya”
Rafa    : “Iya bu, rafa juga sudah mengantuk” (Masuk ke dalam rumah)
Ibu     : “Kemana bapakmu ini sudah larut malam belum pulang-pulang, gaktau apa kalo anaknya sedang sakit. Bapak biasanya gak seperti ini, rasanya setelah bapak di PHK dari pekerjaan sekarang bapak menjadi beda dan berubah” (berbicara sendiri sambil mondar mandir di depan pintu rumah)
            Tak lama kemudian bapak pun datang
Ibu       : “Ya Gusti dari mana kamu pak jam segini? Dari tadi ibu telepon gak diangkat-angkat”
Bapak : “Iya tadi bapak gak liat hp bu, hp bapak ada di ....”
Ibu       : “Sssttt tunggu dulu pak, ini bekas apa kok merah di baju bapak seperti habis terkena lipstik? (sambil memegang baju suaminya)
Bapak  : “Nggak bu, ini tadi kena caos merah bapak habis makan bakso”
Ibu      : “Saos merah apa pak? Ini jelas-jelas ada bekas merah bibir di baju bapak, bapak darimana pak? Jangan bohong sama ibu”
Bapak : “Bapak tadi cari kerja bu terus mampir ke rumah teman”
Ibu       : “Temen samsulmuu itu pak”
Bapak  : “Iyaa bu”
Ibu    : “Jangan main perempuan kamu pak, jelas-jelas keluarga kita sedang kekurangan uang sekarang”
Bapak  : “Sabar bu, bapak gak main perempuan”
Ibu       : “Jangan bohong kamu paak, siapa perempuan itu pak?”
Bapak  : “Gak ada perempuan bu”
Ibu      : “Ya mbok sadar pak keluarga kita sedang ada masalah keuangan seperti ini, cari uang pak bukan cari perempuan lagi pak sebenarnya ibu sudah curiga dengan bapak karena akhir-akhir ini bapak banyak berubah” (Sambil menangis tersedu-sedu)
Bapak  : “Bapak gak bohong bu, bapak gak ada perempuan”
Ibu       : “Terus di baju bapak itu buktinya apa?”
Bapak   : “Terserah kalau ibu gak percaya”
Ibu       : “Sudah tua pak, sudah punya 2 anak jangan macam-macam tingkahnya pak”
Bapak   : “Bapak gak ada perempuan bu”
Ibu       : “Jangan bohong pak, aku ini istrimu aku tahu bagaimana dirimu pak”
Bapak   : “Terserah bu, bapak gak mau bertengkar lagi sudah pusing kepala bapak ini” (masuk ke dalam rumah)

BABAK 2
ADEGAN 5
            Keesokan harinya sang bapak sedang menyuci sepeda motornya di depan rumah.

Bapak : “Kapan aku bisa merasakan hidup enak bergelimang harta” (berbicara sendiri sambil membersihkan sepeda motor buntutnya)
Ibu    : “Oalah pak kita itu seharusnya bersyukur sudah dikasih kehidupan yang cukup, punya keluarga punya anak. kita juga masih bisa makan dan gak kelaparan, coba bapak lihat ke bawah masih banyak orang yang tidak punya rumah, gak bisa makan, kelaparan setiap hari” (mendengar perkataan suaminya tiba-tiba ibu pun menjawab)
Bapak : “ kalau mau hidup maju itu ya jangan lihat ke bawah bu tapi lihat ke atas karena dengan begitu kita bisa terus berusaha dalam hidup ini bu”
Ibu     : “Berusaha itu juga perlu pak tapi jangan lupa bersyukur atas nikmat yang telah Tuhan berikan kepada kita”
Bapak : “Iya kalau itu bapak sudah tau bu, masalahnya dari dulu itu bapak gak pernah merasakan yang namanya kelebihan uang. Kita hidup itu semuanya serba berkecukupan serba pas-pasan”
Ibu      : “Iya makanya bapak harus terus bekerja supaya kita bisa mempunyai uang yang banyak pak”
Bapak : “Cari uang di zaman sekarang itu susah bu, apalagi sekarang semuanya serba mahal dan gak ada yang murah”
Ibu     : “Iya maklum pak zaman sudah semakin tua, semuanya sudah serba instan makanya semua serba mahal dan gak ada yang murah pak”
Bapak : “Iya bu, yang kaya semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin. Uang rakyat banyak yang dikorupsi para pejabat negaranya sendiri, semua sudah pada gila uang”
Ibu      : “Padahal uang itu bukan segalanya pak, semua hanya titipan kalau kita sudah tiada uang juga gak bisa kita bawa dan gak bisa nolong kita di akhirat nanti pak”
Bapak : “Tapi kalau gak ada uang ya kita gak bisa makan bu”
Ibu   : “Ibu percaya rezeki itu semua sudah ada yang ngatur pak, tinggal kita mau berusaha menjemput rezeki itu atau tidak”
Bapak : “Iya bapak tahu bu kalo
Rafa    : “Pak ayo kita berangkat nanti rafa sama rafi terlambat” (Tiba-tiba menghampiri orang tuanya yang sedang berbincang-bincang)
Bapak : “Iya leh sebentar bapak panasi dulu ya” (mencoba menyalakan sepeda motor tuanya)
Rafa    : “Bu rafa berangkat sekolah dulu ya”
Ibu       : “Iya leh ati-ati belajar yang rajin ya leh, maaf ibu gak ada uang buat sangu sekolah leh”
Rafa    : “Iya bu gakpapa, kan tadi rafa sudah makan di rumah bu”
Ibu       : “Iya leh, doakan bapak sama ibumu ini rezekinya lancar yaa”
Rafa    : “Iya bu, Assalammualaikum” (sambil mencium tangan ibunya)
Ibu       : “Walaikumsalam leh”

            Setelah selesai mengantar anak-anaknya berangkat sekolah, Sang bapak pun tak kunjung kembali ke rumah sedangkan sang istri di rumah menunggu kepulangannya.

Ibu      : “Kemana bapak ini kok belum pulang juga, padahal ibu mau minta tolong anterin beli obat buat rafi” (sambil mondar-mandir di depan pintu rumah)
Rafi     : “Buu ibuu” (tiba-tiba rafi memanggil ibunya dari kamarnya)
Ibu       : “Iya leh, ada apa?”
Rafi     : “Bu rafi ingin sekolah”
Ibu    : “Kaki rafi kan masih belum sembuh leh, nanti kalau rafi sudah sembuh rafi bisa masuk sekolah yaa”
Rafi     : “Kaki rafi kenapa kok belum sembuh-sembuh ya bu, rafi ingin bisa jalan lagi bu”
Ibu       : “Iya leh, obatmu habis sebentar ya ibu belikan obat dulu ke apotik”
Rafi     : “Iya bu”

ADEGAN 6
            Ketika di tengah perjalanan menuju ke apotik, tiba-tiba Sang ibu bertemu suaminya di jalan bersama perempuan lain

Ibu       : “Loh itu kok kayak bapak ya” (Sambil mendekati ke tempat suaminya berada)
Bapak  : “Sin kamu mau beli apa ke apotik?”
Sinta    : “Aku mau beli obat sakit perut, maagku kambuh lagi lik”
Bapak  : “Iya ayo aku anterin masuk beli obat maagnya” (sambil menggandeng tangan sinta masuk ke dalam apotik)
Ibu       : “Loh pak, kamu sama siapa disini?” (tiba-tiba sang ibu pun menghampiri mereka)
Bapak  : “Loh bu, ngapain ibu kesini?”
Ibu      : “Kamu lupa kalo anakmu sedang sakit, wanita ini siapa pak?” (dengan wajah yang sedikit marah)
Bapak : “Ini teman bapak bu”
Ibu    : “Teman kok pegang-pegangan seperti itu pak, apa selama ini bapak main perempuan di belakang ibu”
Sinta    : “Kenalin mbak, namaku sinta aku mantannya suamimu dulu waktu sekolah”
Ibu       : “Apa-apaan ini pak? Kenapa bapak bisa berduaan kesini sama wanita ini”
Bapak : “Sinta sedang sakit bu, jadi bapak temanin sinta beli obat ke apotik”
Ibu       : “Anakmu di rumah juga sedang sakit pak, apa kamu sudah lupa”
Bapak : “Kan rafi di rumah sudah ada kamu yang jagain, sinta kasihan di rumah sendirian gak ada yang nemenin”
Ibu       : “Astaghfirullah pak, jadi kamu lebih memilih wanita ini daripada anakmu sendiri”
Bapak : “Bukan begitu bu”
Ibu       : “Kamu bener-bener wanita gak tau diri, udah tau dia sudah punya istri dan anak masih godain suami orang”
Sinta    : “Santai aja, suamimu juga mau kok”
Bapak : “Sudah bu, malu di tempat umum seperti ini”
Ibu       : “Harusnya yang malu itu bapak, sudah tua punya istri dan anak tapi masih main wanita lain di belakang. Malu pak sama anakmu”
Bapak : “Sudah bu ibu pulang saja, malu disini banyak orang”
Ibu       : “Tega kamu pak, kamu lebih memilih perempuan ini dibanding istrimu sendiri”
Bapak : “bapak gak milih siapa-siapa bu, bapak hanya membantu sinta yang sedang sakit”
Ibu       : “Dasar wanita penggoda” (sambil menunjuk ke arah wajah sinta)
Sinta    : “Eh dijaga ya bu bicaranya, suaminya sendiri yang mau”
Bapak  : “Sudah bu pulang saja”
Ibu      : “Gak usah pulang kamu pak sekalian, pergi sana kamu” (Ibu pun langsung beranjak pergi dari tempat tersebut)

            Setelah ibu tiba di rumah, tak lama kemudian bapak pun datang dengan wajah yang sedikit marah.

Ibu       : “Ngapain kamu pak? Ngapain bapak pulang ke rumah?”
Bapak  : “Gak usah marah-marah bu”
Ibu       : “Siapa pak wanita itu? Apa itu selingkuhan bapak selama ini”
Bapak  : “Iya kalau emang iya kenapa bu?”
Ibu       : “Ya Allah pak sudah tua tapi masih saja bertingkah”
Bapak  : “Aaaahh aku capek hidup miskin seperti ini terus bu”
Ibu       : “Apa karena uang kamu berani main wanita lain di belakang ibu”
Bapak  : “Aku juga ingin hidup enak bu, hidup bahagia seperti orang lain”
Ibu       : “Apa bapak selama ini bapak tidak bahagia?”
Bapak  : “Bapak mau pergi dari rumah ini, bapak sudah capek hidup seperti ini”
Ibu      : “Apa pak kamu bilang? Ingat anakmu pak, anakmu sedang sakit sekarang dan kamu mau pergi dari rumah ini benar-benar bapak gak peduli sama keluarga”
Bapak  : “Bapak cuma ingin ngerasain hidup enak sekali saja bu”
Ibu       : “Uang bisa kita cari bersama pak, jangan bapak pergi tinggalikan kami”
Bapak  : (hanya terdiam sambil membereskan semua pakaiannya)
Ibu      : “Kalau bapak emang gak ingat sama istrimu ini, ingat anak-anakmu pak, anakmu sedang sakit sekarang pak”
Bapak  : “Bapak nanti akan sering kesini untuk jenguk anak-anak bapak”

BABAK 3
ADEGAN 7
            Beberapa bulan kemudian, setelah malik dan sinta hidup bersama menjadi keluarga.

Sinta    : “Duh kamu tambah bikin pusing saja, sudah gak punya uang tapi gak tau diri”
Bapak   : “Maksutmu apa sin bicara seperti itu?
Sinta    : “Kamu gaktau diri, kalo emang gak bisa cari duit ya bantu bersih-bersih rumah ini”
Bapak   : “Aku rela meninggalkan keluargaku demi kamu tapi seperti ini balasanmu untukku”
Sinta    : “Aku hanya bicara jujur apa adanya, emang aku salah?”
Bapak   : “Selama ini yang gaktau diri itu siapa? Dasar wanita jalang”
Sinta    : “Kamu selama ini hanya mau dengan uangku saja kan”
Bapak  : “Untuk apa aku jika aku hanya ingin uangmu?”
Sinta    : “Alah gak usah ngelak kamu, aku sudah tau semuanya”
Bapak  : “Ah sudah aku malas berdebat denganmu”

            Sinta dan Malik setiap hari hanya bertengkar dan selalu mempeributkan permasalahan tentang uang.

Bapak : “Apa keputusanku selama ini sudah benar ya, aku meninggalkan keluargaku demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik” (sambil melamun dan berbicara sendiri)
Sinta  : “Lik aku berangkat kerja dulu, kamu urusin dan beresin rumah ya” (tiba-tiba datang menghampiri malik yang sedang melamun di teras rumah)
Bapak  : “Apa boleh aku ikut pergi ke kantor denganmu?”
Sinta    : “Aduh udahlah kamu di rumah saja lik”
Bapak  : “Sekali ini aja sin”
Sinta    : “Gak usah lik jangan, kamu di rumah saja lagi pula di rumah gak ada yang jaga”
Bapak   : “Aku bukan penjaga rumah ini”
Sinta   : “Pagi-pagi udah cari masalah aja kamu itu lik, udahlah aku gak mau bertengkar lagi” (langsung berangkat menuju kantor tempat ia bekerja)

ADEGAN 8  
Ketika malik sedang bosan di rumah, ia pun pergi ke luar rumah hanya untuk berjalan-jalan dan mencari udara segar.

Malik   : “Bosan juga dirumah sendirian, apalagi gak ada temannya”
Malik   : “Loh itu kan sinta, dia pergi dengan siapa itu?” (tiba-tiba di tengah perjalanan, ia melihat sinta)
Malik   : “Sin kamu dengan siapa ini? “ (menghampiri sinta yang sedang makan bersama pria lain)
Sinta    : “Loh lik kamu ngapain disini?”
Malik   : “Ini siapa sin? Kok kalian berdua aja”
Sinta    : “Ini teman karyawan di kantorku”
Malik   : “Tapi kok kalian hanya makan berdua saja” (malik pun merasa curiga dengan sinta)
Sinta    : “Iya apa salahnya kalo hanya makan berdua saja, sudah kamu pulang saja ngapain disini kan di rumah jadi gak ada yang jaga”
Malik   : “Siapa sin pria ini? Jujur sama aku apa dia cuma teman kamu atau dia selingkuhan kamu?”
Sinta    : “Kamu ngomong apa sih? Sudah kamu pulang aja sana (sambil mendorong-dorong malik untuk segera pergi dari tempat itu)

            Akhirnya malik pun pergi dari tempat itu dan ia mengunjungi anak-anaknya yang sudah lama ia tidak bertemu.

Bapak : “Anakku bagaimana kabar anakku ya? Sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka dan sekarang aku merasa kesepian karena tidak mendengar suara tawa mereka” (berbicara sendiri sambil berjalan menuju rumah anak-anaknya)
Bapak : “Assalammualakum” (sambil mengetuk pintu rumah)
Rafa    : “Walaikumsalam, bapakkk” (terkejut melihat bapaknya tiba-tiba datang ke rumah)
Bapak : “Iya leh ini bapakmu, gimana kabarmu leh? Baik-baik saja kan”
Rafa    : “Bapak selama ini darimana saja pak, kenapa bapak tidak pernah pulang ke rumah pak? Rafa kangen sekali sama bapak”
Bapak : “Iya leh maafkan bapak karena tidak pernah pulang ke rumah, dimana ibumu le?”
Rafa    : “Ibu sedang bekerja jualan roti di pasar pak”
Bapak : “Adikmu mana leh? Bapak juga ingin ketemu sama adikmu”
Rafa    : “Pak, bapak kemana saja? Apa bapak tidak tau kalo adik sedang sakit”
Bapak : “Iya leh bapak tahu maafkan bapak, sekarang dimana adikmu apa dia masih sakit?”
Rafa    : “Adik sudah sembuh pak, dia sudah gak sakit lagi dia sudah senang dan bahagia sekarang”
Bapak : “Alhamdulillah jika adikmu sudah sehat leh, sekarang dia ada dimana? Apa dia sedang main ke luar?”
Rafa    : “Adik sudah pergi jauh pak”
Bapak : “Pergi kemana? Dia pergi dengan siapa leh?
            Tiba-tiba ibunya pun datang dan terkejut melihat malik ada di rumah
Ibu       : “Kamu ngapain kesini lagi?”
Bapak : “Aku hanya kangen dengan anak-anakku dan ingin bertemu dengan mereka”
Ibu       : “Mereka bukan anak-anakmu lagi”
Bapak : “Kamu jangan bicara seperti itu, gak ada yang namanya mantan anak”
Ibu       : “Apa kamu selama ini peduli dengan mereka? Apa kamu tahu bagaimana keadaan mereka selama ini “ (sambil menangis)
Bapak : “Maafin aku, aku belum sempet mengunjungi mereka selama ini”
Ibu       : “Ah sudahlah kau sudah lupa dengan semuanya hanya demi uang”
Bapak : “Dimana rafi, kenapa aku tidak melihat rafi dari tadi?”
Ibu       : “Dia sudah sembuh sekarang dan dia sudah pergi jauh sekarang”
Bapak : “Maksutmu apa? Dia pergi kemana dan dia pergi dengan siapa?”
Ibu       : “Dia sudah pergi jauh dan gak akan kembali lagi”
Bapak : “Maksutmu apa bicara seperti itu”
Ibu       : “Rafi sudah meninggal beberapa bulan yang lalu setelah kamu pergi meninggalkan rumah”
Bapak : “Kamu jangan bohong, kamu jangan bicara seperti itu hanya karna aku tidak boleh ketemu dengan anakku”
Ibu    : “Harusnya sebagai bapak kamu berada disamping anakmu disaat dia sedang sakit dan membutuhkanmu”
Bapak : “Tidakkk, kamu jangan bohong” (sambil menangis dan tidak percaya jika anaknya sudah meninggal)
Ibu       : “Harusnya sebagai bapak kamu melindungi dan mengayomi anak-anakmu”
Bapak : “Aku menyesal meninggalkan mereka, anakku maafkan bapakmu ini” (menangis tersedu-sedu)
Ibu    : “Penyesalanmu sudah tidak berati sekarang, penyesalanmu sudah sangat terlambat untuk kamu sadari sekarang”
Bapak : “Maafkan aku, maaf”
Ibu      : “Sebagai orang tua seharusnya kita membahagiakan dan menyediakan kehidupan yang layak untuk anak-anaknya”
Bapak : “Ini semua salahku”
Ibu    : “Tapi kamu malah pergi meninggalkan mereka hanya demi uang dan kesenanganmu saja, kamu terlalu egois dengan dirimu sendiri”
Bapak : “Iya aku tahu aku egois, aku salah aku buta dengan uang”
Ibu     : “Semoga hidupmu bahagia sekarang dan aku minta jangan ganggu hidupku dan hidup anakku lagi”
Bapak  : “Jangan pisahkan aku dengan anakku sendiri”
Ibu       : “Kamu sendiri yang memisahkan dirimu dengan mereka”
Bapak  : “Iya dan sekarang aku ingin memperbaiki kesalahanku dengan anakku”
Ibu      : “Tidak perlu, sekarang kamu pergi saja dari rumahku ini dan kembalilah ke wanita yang kaya raya itu”
Bapak   : “Maafkan aku”

ADEGAN 9
            Setibanya di rumah malik hanya terdiam dan termenung karena memikirkan kesalahan yang sudah ia perbuat selama ini ke anak-anaknya.

Sinta    : “Kamu darimana saja? Rumah ditinggal dan gak ada yang jaga”
Bapak : “Iya aku habis dari luar”
Sinta    : “Seharusnya kamu itu jagain rumah, sudah enak hidup mewah tinggal di rumah mewah gak usah capek kerja untuk dapet duit. Kurang enak apa kamu hidup sama aku? Gitu masih gaktau diri”
Bapak : “Sudak capek aku hidup sama kamu, hidup enak kaya raya tapi gak ada kebahagiaan ya untuk apa”
Sinta    : “Jadi maumu apa? Kamu mau pergi balik lagi sama keluargamu, pergi sana. Aku juga bisa dapetin laki-laki yang lebih tampan dari kamu”
Bapak : “Selama ini aku salah mengambil keputusan meninggalkan keluargaku hanya demi uang”
Sinta    : “Iya itu salah kamu sendiri”
Bapak : (hanya terdiam dan termenung)

ADEGAN 10
Dia berjalan sendiri menuju ke sebuah masjid dekat rumahnya.

Bapak : “Ya Tuhan selama ini aku salah meninggalkan keluargaku hanya demi uang, selama ini aku salah jika membandingkan keluarga dengan uang, aku sadar keluarga tak ada bandingannya dengan uang dan tidak ada harganya. Ya Tuhan maafkan aku, aku sudah terlambat menyadari semua kesalahanku, aku kehilangan anakku aku kehilangan keluargaku dan sekarang aku kesepian aku sendirian tidak ada yang menemaniku sekarang”
Bapak : “Aku sungguh menyesal, aku sangat menyesal”

SELESAI













BIOGRAFI PENULIS

Description: D:\fix h.jpgIka Puput Oktavia Kumalasari lahir di Klaten, 04 Oktober 1999. Penulis tinggal di Kota Malang Jawa Timur. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Awalnya penulis menempuh pendidikan di SDN Penanggungan kemudian melanjutkan di SMPN 4 Malang selanjutnya di SMKN 4 Malang dan sekarang sedang menempuh pendidikan di Universitas Negeri Malang Jurusan Sastra Indonesia Program Studi S1 Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah. Penulis mempunyai hobi membaca buku, menulis puisi dan bermain badminton, serta penulis juga mempunyai cita-cita menjadi seorang guru. Penulis merupakan anggota aktif GEMAPEDIA (Gerakan Mahasiswa Peduli Pendidikan) yang berperan membantu kesenjangan dalam bidang pendidikan dan juga anggota aktif dari Griya Sastra Indonesia dalam bidang puisi.









Comments

Popular posts from this blog

NASKAH DRAMA ANAK YANG DURHAKA

ULANG TAHUN

Drama ANAK-ANAK TK