NASKAH DRAMA PENYESALAN DI AKHIR
Penyesalan Di Akhir
Agnes Sindi Margareta
Tema :Perselingkuhan
Sub tema : Pengorbanan seorang istri demi kebahagiaan
anaknya.
Drama Persona :
1.
Ari
(Suami) : Egois, tidak mau mengalah,
licik.
2. Sasmita (Istri) :
Penyabar, penyayang, pendiam, munafik.
3. Sinta (Selingkuhan) :
Egois, munafik, licik
4. Tina :
Ceria, jujur, rajin
Sinopsis:
Ari dan Sasmita adalah sepasang suami istri yang telah
lama menikah. Mereka dikaruniani seorang anak perempuan yang saat ini sedang
menempuh pendidikan tinggi di luar kota. Ari adalah seorang manager di sebuah
perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa, sedangkan Sasmita adalah seorang
ibu rumah tangga. Walaupun hanya ibu rumah tangga, Sasmita adalah orang yang
menemami Ari dari mereka susah sampai Ari sekarang menjadi orang yang sukses.
Mereka mempunyai seorang anak perempuan bernama Tina yang saat ini sedang
berkuliah di luar kota.
Awalnya
penikahan mereka baik-baik saja, sampai masa kritis pernikahan itu tiba. Ari
berselingkuh dengan sekertarisnya di kantor, seorang gadis yang masih muda
bernama Sinta. Ia mulai curiga pada Ari saat Ari mulai sering menerima telepon
di belakangnya. Ia memergoki Ari sedang bermesraan dengan wanita yang ia kenali
sebagai sekertaris dari sang suami di kantor. Mereka berdua sedang makan siang
di sebuah restoran. Ari dan Sinta saling bercanda mesra, sesekali Sinta akan
menyuapi Ari. Sasmita yang melihat hal tersebut memutuskan untuk pulang dengan
perasaan yang dongkoh. Ia akan menunggu suaminya pulang dan menuntut penjelasan
dari suaminya tentang apa yang Sasmita lihat di restoran itu.
Malam
hari ketika Ari tiba di rumah, Sasmita awalnya hanya diam. Dia hanya bertanya
kenapa Ari baru pulang, Ari hanya menjawab bahwa ia baru saja lembur di kantor.
Kemudian Sasmita mengungkapkan pada Ari apa yang ia lihat tadi siang, akhirnya
mereka bertengkar. Ari mengakui pada Sasmita jika ia sedang menjalin hubungan
dengan Sinta. Sasmita marah mendengar hal tersebut, ia mengajak Ari untuk
berpisah. Ari tidak mau untuk berpisah dengan Sasmita, ia akan mempertahankan
pernikahannya dengan Sasmita. Ari beralasan jika berita mereka akan berpisah sampai
terdengar di telingan anak perempuannya akan menambah pikiran anaknya yang
sedang kuliah di luar kota. Ari juga melarang Sasmita bercerita tentang
kehidupan rumah tangganya pada anak mereka, ia beralasan bahwa dosa hukumnya
bagi seorang istri jika menyebarkan aib sang suami. Sasmita terdiam, tiba-tiba
ia terpikir anaknya yang saat ini sedang jauh. Akhirnya dia mengalah, Ari
berkata jika ia di dalam rumah ia adalah suami dari Sasmita, tapi ketika ia
sudah keluar 100 meter dari rumah ia adalah lelaki yang bebas.
Satu
tahun berlalu, tidak banyak berubah dari kehidupan rumah tangga Ari dan
Sasmita. Sasmita tetap diam ketika melihat suaminya berselingkuh di depan mata.
Ari semakin berani, ia bahkan tidak segan untuk menelepon Sinta di depan mata
Sasmita. Sasmita hanya bisa meratapi nasibnya dan ia hanya diam membisu, tanpa
mengeluarkan protes.
Suatu
hari anaknya pulang ke rumah untuk melepas rindu pada orang tuanya. Ia
menyadari bahwa ada yang berbeda dengan suasana rumahnya. Ia merasa ada jarak
antar ayah dan ibunya, walaupun masih ia lihat ayah dan ibunya tidur sekamar
dan masih berbincang saat sarapan di pagi hari. Selama di rumah ia melihat
ayahnya sering menerima telepon dengan bersembunyi. Sampai suatu saat ayahnya
ketahuan sedang menerima telepon dari perempuan. Tina menuduh ayahnya sedang
berselingkuh, tapi Ari menyangkal hal tersebut dan Sasmita datang memberikan
pembelaan jika orang yang sedang ditelepon Ari adalah sekertarisnya di kantor.
Tina akhirnya percaya pada sang ayah.
Kegilaan
Ari terus berlanjut, saat Sasmita sedang membersihkan ruang tamu ia menemukan
faktur kredit mobil dan nota pembelian berlian atas nama Sinta. Murkalah
Sasmita, ia berteriak memanggil nama suaminya ia sudah tidak tahan. Semakin ia
diam semakin ia tertindas, pertengkaran antara Ari dan Sasmita tidak terhidar
lagi. Sasmista mengeluarkan semua yang menjadi beban dalam hatinya kali ini.
Pertengkaran mereka terdengan oleh Tina, Tina tidak menyangka apa yang ia
khawatirkan selama ini terjadi.
Bagian 1
Suatu malam terjadi pertengkaran hebat antara Sasmita
dan Ari baru saja sampai di rumah, Sasmita mengetahui bahwa suaminya baru saja
pergi dengan selingkuhannya. Sasmita yang sedang duduk memulai percakapannya
dengan sang suami
Sasmita : Dari
mana kamu mas? Masih ingat jalan pulang ternyata. (Sasmita menatap sinis pada Ari yang sedang melepa kacing kemeja
teratasnya)
Ari : (Ari yang sedang sibuk melepaskan kancing
bajunya lantas menghentikan kegiatannya dan menatap Sasmita) Bicara apa kau
ini? Suami baru pulang bukanya disambut malah marah-marah.
Sasmita : (mulai menaikkan nada bicaranya) Lantas,
apakah aku tidak boleh marah setelah melihat suamiku yang selama ini ku
banggakan di depan anakku sedang bermesraan dengan seorang gadis? (tertawa sinis)
Ari :
Wah… sudah berani menuduh ya sekarang. Hei Sasmita jangan asal menuduh ya kau.
Sasmita : (menunjuk wajah Ari) aku gak asal nuduh
ya, mas inget. Kau pikir bajumu yang bau parfum perempuan ini bisa berbohong.
Ari :
Berani ya kamu nunjuk-nunjuk suamimu. Udah deh kamu gak usah bawel.
Sasmita : (mulai menangis) kalau mas memang sudah
bosan denganku bilang saja. Kita bisa bercerai dan kau bisa bebas dengan wanita
lain.
Ari :
Kamu malam-malam cari masalah ya!
Sasmita : Ya
wanita mana yang tahan melihat suaminya berselingkuh di depan mata seolah-olah
masih bujangan.
Ari : (Ari meninggikan nada suaranya) Hei,
denger ya! Sekali lagi kamu banyak ngomong ku tinggal pergi kamu.
Sasmita :
Hahahaha (Sasmita tertawa pilu) pergi
saja, pergi dengan selingkuhanmu itu maka aku juga akan pergi. (Sasmita bangun dari duduknya ingin
meninggalkan Ari)
Ari : (Ari memegang tangan Sasmita) Tidak ada
yang pergi dari rumah ini.
Sasmita : Lalu
kau ingin apa hah! (teriak Sasmita)
Ari
memeluk Sasmita yang menangis sesenggukan berusaha menengkannya.
Ari :
Ingat Sasmita, kita punya Tina yang saat ini sedang kuliah. Apa kau tidak
memikirkan perasaan Tina jika saat ini dia tahu bahwa orang tuanya mau
bercerai?
Sasmita :
Lantas, apakah perbuatanmu itu tidak akan menyakiti perasaan anakmu jika Tina
tahu ayahnya berselingkuh. (sambil
melepaskan pelukan Ari)
Ari :
Tetap saja, tidak ada perceraian dipernikahan kita. Aku akan mempertahankan
pernikahan ini demi Tina, supaya Tina tetap merasakan keluarga yang utuh.
Sasmita :
Sebenarnya apa maumu mas? Apa kurangku!
Ari :
Sasmita, Sasmita.. (sambil menggelengkan
kepalanya) Walaupun sudah berumur, suamimu ini tetap laki-laki normal. Dulu
kamu memang cantik, tapi itu dulu.
Sasmita :
Ceraikan saja aku mas, biar bebas kamu dengan wanita mudamu itu.
Ari :
Sudah tak usah banyak bicara. Toh aku masih menafkahimu sebagai suamimu, aku
akan tetap memberimu nafkah walaupun aku dengan Sinta. Ingat, selama aku masih
di dalam rumah aku adalah Ari suami dari Sasmita, tapi ketika aku sudah keluar
10 meter dari pintu rumah aku adalah laki-laki bebas.
Sasmita
hanya menangis dalam diam, dia tidak meninmpali penyataan dari Ari
Ari :
Dengar ya Sasmita, ingat kataku baik-baik. Jangan sampai Tina mengetahui jika
kita sedang tidak akur, dan kamu harus ingat juga dosa hukumnya jika seorang
istri menyebarkan aib suaminya.
Tanpa mengucapkan kata apa pun Sasmita meninggalkan
Ari dan masuk ke dalam kamar.
Setelah pertengkaran dengan sang istrinya selang
beberapa waktu Ari mendapat telepon dari Sinta, Sinta
mengajaknya bertemu.
Ari :
Halo sayang, ada apa? Tumben kamu nelpon.
Sinta :
Halo mas, Sinta kangen. Hehehe
Ari :
Wah, sama dong. Mas juga udah kangen sama kamu. Udah makan belum?
Sinta :
Udah kok mas. Kalau mas udah makan belum?
Ari :
Belum nih, gimana kalau kita ketemu. Mas pengen makan sama Sinta.
Sinta :
Mas ke rumah aku aja ya, kebetulan aku lagi sendirian di rumah. Nanti aku
masaki yang enak deh mas.
Ari :
Yaudah deh, mas mau berangkat dulu ke rumahmu. Tungguin ya sayang.
Tanpa Ari sadari, sedari tadi Sasmita mendengar
percakapannya dengan Sinta.
Bagian 2
Satu tahun berlalu setelah pertengkaran antara Ari dan
Sasmita. Kehidupan rumah tangganya sudah banyak berubah. Ari bahkan terkadang
membawa pulang Sinta ke rumah mereka, ia beralasan jika ada perkerjaan yang
harus diselesaikan dengan sekertarisnya itu. Seperti pada hari ini, Sasmita
membawakan minuman untuk kedua orang tersebut di ruang tahu rumahnya.
Sinta :
Aduh gak usah repot-repot bu, saya hanya sebentar. (basa-basi Sinta sambil tersenyum, namun senyumnya hilang ketika Sasmita
pergi tanpa memberikan tanggapan)
Sinta :
Istrimu itu gak tahu sopan-santun ya mas? Main pergi aja, diajak ngomong diem
aja, disenyumin malah pergi gitu aja.
Ari :
Udah gak usah kamu peduliin, aku seneng banget kamu mau ke sini.
Sinta :
Duh, apa sih mas. Aku ke sini juga cuma mau nganter berkas yang ketinggalan di rumahku
kemarin.
Ari :
Jadi kamu gak kangen mas nih (sambil
mencolek dagu Sinta)
Sinta :
Udah deh mas, ada istri mas tuh di dalam. Yaudah ya mas, aku mau pulang dulu.
Jangan lupa berkas-berkasnya ditanda tangi.
Ari :
Iya, kamu hati-hati di jalan.
Setelah kepergian Sinta, Sasmita tiba-tiba keluar dari
kamar dan menghapiri menghampiri Ari dengan muka Sasmita yang terlihat sangat
serius.
Sasmita : Wah,
keterlaluan kamu mas, bukan cuma selingkuh tapi selingkuhanmu kamu pun bawa
masuk ke rumah.
Ari :
Ngomong apa sih kamu, kamu gak dengar Sinta tadi datang kemari untuk
mengantarkan berkasku yang tertinggal.
Sasmita
mulai emosi. Ia meninggikan nada bicaranya.
Sasmita : Apa
kau pikir aku tidak mendengar jika kau dengan kangen-kangenan dengan perempuan
tadi hah!
Ari :
Kamu yang apa-apaan, malu-maluin aja. Kamu tadi diajak bicara main pergi aja.
Malu-maluin mas tahu gak? Seakan-akan mas gak ngajarin istri tentang tata
krama.
Sasmita :
Lantas apa bedanya dengan kamu mas, di depan mata kepala istrimu kamu dengan
tega membawa selingkuhanmu ke rumah kita. Apakah itu masih bisa disebut bertata
krama?
Ari :
Kamu tidak usah mengajariku tentang tata krama. Kamu sebagai istri harus
menghormati suamimu. Jaga nada bicaramu, di sini aku kepala keluarga.
Sasmita :
Hahaha (tertawa terbahak) lucu sekali
kamu mas. Apakah aku sebagai istri hanya boleh melihat ketika suamiku sedang
bermain api dengan wanita lain?
Ari :
Diam sasmita, berani ya kamu melawan suamimu.
Sasmita :
Terus saja kamu memakai statusmu sebagai suami untuk membela dirimu.
Ari :
Cerewet banget ya kamu, sudah ku bilang diam!
Sasmita : Keterlaluan kamu mas!
Ari :
Udahlah kamu gak usah khawatir, lagian Sinta hanya selingkuhan kok, aku nggak
bakalan nikahin dia dan menceraikan kamu. Hanya kamu istriku.
Sasmita :
Apapun alasanmu mas, itu adalah sebuah penghianatan. Coba mas berpikir sedikit
tentang perasaanku, seandainya mas yang di posisiku.
Ari :
Udah deh Sas, kamu tuh hobi banget ya ngajak berantem aku. Gak capek ya
berantem terus.
Sasmita :
Emang kamu gak mikir, emang aku gak capek kamu giniin. Aku campek mas, kalau
bukan karena Tina mungkin aku sudah pergi.
Ari :
Jangan sekali-sekali kamu berpikir untuk berpisah denganku. Ingat anakmu yang
saat ini sedang kuliah di jauh di luar kota. Apa yang akan terjadi jika Tina
tahu bahwa ibunya pergi meninggalkan rumah.
Sasmita :
Sudah mas, tak usah kamu membawa nama Tina dalam urusan kita. Tina hanya kau
jadikan alasan. Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?
Ari :
Aku tidak menginginkan apa-apa darimu. Aku hanya ingin Tina tumbuh dengan kasih
sayang orang tuanya yang utuh.
Sasmita :
Lantas kau mengorbankanku!
Ari :
Coba kau bayangkan jika Tina tahu bahwa kita bepisah, bagaimana perasaannya.
Apa kau tidak berpikir itu akan berpengaruh pada nilainya, kau ingin anakmu
telat lulus kuliah? Sedangkan menjadi dokter adalah cita-citanya sedari kecil,
kamu mau menghancurkan masa depannya?
Sasmita
hanya terdiam.
Ari :
Apalagi jika dia tahu bahwa ayahnya berselingkuh dengan perempuan yang muda.
Itu akan membuatnya benci dengan laki-laki, tak ingatkah kamu jika umur anak
kita sudah pas untuk menikah. Kau ingin anakmu benci dengan laki-laki kemudian
tak mau menikah?
Sasmitas
masih terdiam
Ari :
Jawab aku Sasmita! Jangan hanya diam (Ari
memegang kedua bahu Sasmita)
Sasmita : Aku
capek mas! (sambil melepaskan tangan Ari
yang berada di pundaknya)
Ari :
Ingat Sasmita walaupun di luar sana aku dengan orang lain, ketika di rumah aku
adalah suamimu. Aku juga tidak pernah melupakan kewajibanku sebagai suami, aku
juga masih menafkahimu. Itu yang harus kau ingat, aku juga tidak akan
meninggalkanmu, kau akan tetap menjadi istriku.
Sasmita : Aku
capek mas, aku capek (menangis
sesenggukkan).
Mereka
sama-sama terdiam. Meyelami pikirannya masih-masing.
Bagian 3
Suatu hari Tina pulang ke rumah. Ia merindukan kedua
orang tuanya yang jauh. Ia ingin meliburkan diri dahulu di dari kesibukannya
belajar. Mereka bertiga berkumpul di ruang tamu untuk berbincang-bincang. Tina
menyendender sambil memeluk ibunya, ia merindukan bermanja dengan sang ibu.
Sang ayah yang berada di sebelanya sibuk bermain telepon genggam.
Tina :
Ma, Tina kangen sama Mama.(sambil
mengeratkan pelukannya pada sang ibu)
Ari : Mama
aja nih yang dikangenin, Papa enggak?
Tina :
Kangen sih, tapi dikit. Hehehe (mereka
bertiga terkekeh mendengar candaan Tina)
Ari :
Bagaimana kuliahmu nak?
Tina :
Lancar dong pa, anakmu ini selalu dapat nilai sempurna ngomong-ngomong
Sasmita :
Alah, kemarin siapa yang telepon Mama nangis-nangis katanya capek ngerjain
tugas.
Ari :
Loh ma, kemarin ada yang kirim chat
ke Papa katanya capek, males kuliash. Siapa ya? (goda Ari pada anaknya sambil tertawa)
Sasmita : Udah
mas, jangan digodain anaknya. Kamu tumben pulang kok gak ngabarin Mama dulu?
Tina :
Sengaja dong, biar Mama kaget. Lagian aku udah bilang Papa, emang Papa gak
bilang ke Mama?
Sasmita : (Sasmita memandang Ari) Mungkin Papamu
lupa, kerjaanya lagi banyak.
Tina :
Iya, dari tadi main HP terus. Padahal
anaknya pulang.
Ari : Papa
sibuk balesin chat dari klient Papa. Kantor benar-benar lagi
sibuk ini, bentar lagi Papa harus keluar sebentar. Ada rapat dengan klient di restoran.
Tina :
Rapat di restoran? Berarti Papa nanti siang gak bisa makan bareng dong.
Ari :
Maaf ya sayang, rapat ini penting banget. Gak bisa ditingga, yaudah Papa mau
siap-siap dulu. (Ari berdiri meninggalkan tempatnya duduk)
Setelah
kepergian Ari suasana sejenak diam. Sampai Tina membuka suara.
Tina : Mama
gak curiga Papa mau pergi ke mana? Hari sabtu gini mau ketemu klient di restoran.
Sasmita : Papamu
memang selalu sibuk nak, Mama sudah biasa ditinggal-tinggal. Toh, Papamu kerja
untuk kita.
Tina :
Tapi aneh aja ma, masak Papa ku lihat dari tadi tuh gak bisa lepas dari hp-nya. Emang harus sesering itu balesin
chat dari klient. Awas aja kalau Papa berani aneh-aneh.
Sasmita :
Hus.. kamu tuh ya. Jangan ngomong aneh-aneh. Papamu gak mungkin aneh-aneh di
belakang Mama.
Tina :
Kemarin juga aku lihat Papa ngangkat telepon sembunyi-sembunyi. Ngapain coba.
Kan aku iseng nih, aku tanya lah dari siapa. Papa bilang dari sekertarisnya.
Sasmita : Mama
tahu kok sekertaris Papamu. Lagian mana mau dia sama Papa, orang udah tua gitu Papamu.
Tina :
ih… Mama orang aku beneran loh ini.
Sasmita :
Udahlah sayang jangan bahas itu lagi. Mama mau denger ceritamu nih, lama banget
Mama gak denger ceritamu. Gimana si Febri itu, masih pacaran kan kalian?
Tina :
Masih kok ma, kemarin yang nganterin aku pulang kan si Febri.
Sasmita : Loh,
kok gak mampir dulu?
Tina :
Biasalah ma, mau ketemu temen-temannya. Udah janjian dia, katanya lama ga
ketemu. Mama sendiri gimana? Sehat kan?
Sasmita :
Sehat kok Mama, gak pernah kambuh juga asmanya.
Tina :
Syukur kalau begitu ma. Aku tuh sering kepikiran Mama, Papa kan sibuk terus aku
khawatir pas Mama kambuh takutnya Papa waktu gak di rumah.
Sasmita :
Tenang aja nak, Mama pasti jaga kesehatan.
Tina :
Gimana kalau nanti siang Mama gak usah masak, kita makan di luar aja?
Sasmita :
Boleh juga, nanti siang kita makan di restoran aja.
Ditengah perbincanag antara Sasmita dan Tina, Aris
yang sudah selesai bersiap-siap menghampiri anak dan istrinya. Sasmita hanya
diam.
Tina : Papa
mau berangkat sekarang?
Ari :
Sebentar lagi sih, nungguin kabar dari klient
Papa
Tina : Papa
berangkat sendiri atau ada temennya?
Ari : Papa
sama sekertaris Papa, ketemu di restoran.
Tina :
Yaudah, gih sana berangkat.
Ari :
Jadi ceritanya Papa diusir nih?
Tina :
Apaan sih pa, katanya mau rapat. Gilihan disuruh berangkat dikira ngusir.
Ari :
Bawel banget anak Papa paling cantik ini. Yaudah Papa berangkat dulu.
Tina : Papa
hati-hati di jalan ya.
Ari :
Kamu juga hati-hati di rumah sama Mama, jangan nakalin Mamamu.
Tina :
Ih Papa… (sambil mencium tangan Papanya)
Ari
menghampiri Sasmita ia hendak berpamita.
Ari :
Mas berangkat dulu, kamu hati-hati di rumah sama Tina. (setelah berkata demikian ia mencium kening istrinya lalu bersalaman)
Sasmita : Iya
mas, hati-hati di jalan.
Bagian 4
Di restoran tempat Ari dan
Sinta bertemu.
Sinta :
Mas, kamu tahu gak? Kemarin aku lihat di toko langganan aku ada tas baru, tapi
uangku kurang.
Ari :
Loh.. emangnya uang yang mas kirim kemari udah habis dek?
Sinta :
Kan udah aku buat ke salon mas, jadi kurang.
Ari :
Yaudah nanti mas kirim lagi, atau kamu mau mas anterin buat beli tasnya?
Sinta :
Gausah sih mas, mas tinggal transfer aja. Aku tahu anakmu lagi di rumah, pasti
mas gak enak kalau lama-lama pergi.
Ari : Iya,
tumben banget dia tiba-tiba pulang. Jadi waktu kita hanya sedikit, padahal mas
lagi kangen sama kamu.
Sinta :
Hm.. (Sinta bergumam). Mas, kamu
kapan sih mau nikahin saya? Kita udah satu tahun masak gini-gini aja terus.
Asal mas tahu ya, banyak karyawan-karyawan yang sering gosipin kita.
Ari :
Apasih kamu Sin, mana bisa kita nikah. Aku masih sah suaminya Sasmita.
Sinta : Ya
terus kita ngapain selama ini? Ya kalau gitu kamu cerai dong sama istri kamu
yang lemat dan tua itu.
Ari :
Aku tidak bisa menceraikan istriku itu, aku mempunyai anak yang harus ku jaga.
Ya walaupun aku sudah tidak suka dengan ibunya.
Sinta :
Terus mas mau mempertahankan apa? Aku bisa kok mas menjadi ibu yang baik untuk
anakmu itu.
Ari :
Sudahlah, jangan kita bertengkar hanya karena wanita itu. Toh tanpa menjadi
istriku kau bisa hidup mewah dan enak.
Sinta :
Aku tuh hanya tidak ingin hidup tanpa takut ketahuan orang jika kita sedang
menjalin sebuah hubungan. Dengan kita menikah, mas pasti akan lebih hidup bahagia. Aku juga bisa
memberikan mas keturunan, aku masih muda dan cantik. Tidak seperti istrimu yang
sudah tua itu, dia hanya bisa menangis di kamarnya.
Ari :
Cukup Sinta, kamu harus sabar. Tunggu Tina sampai lulus kuliah dan bisa memahami
masalah ini, aku hanya tidak ingin anakku merasa tertekan, kamu harus paham
itu.
Sinta :
Terserah mas aja! Capek aku kalau ngomongin hal beginian sama mas.
Ari : (Ari memegang tangan Sinta) Kamu yang
sabar ya sayang, mas akan membahagiakanmu.
Tiba-tiba Tina dan Sasmita datang, Tina terkejut
melihat ayahnya ternyata sedang berduaan dengan seorang wanita muda. Sontak Ari
melepaskan tangan Sinta.
Tina :
(Berdiri di sebelah Ari sambil bersedekap) Oh.. Ini yang katanya mau rapat
dengan klient. Ternyata klient Papa muda sekali ya.
Ari :
Tina, ngapain kamu di sini?
Tina :
Aku? Ngapain? Ya mau makanlah, Papa pikir aku kerestoran ngapain? Memangnya Papa,
pamitnya mau rapat ternyata rapat dengan wanita muda ini (sambil menunjuk Sinta).
Ari :
Turunkan telunjuk kamu Tina, Papa gak pernah ya ngajarin kamu kurang ajar gitu.
Dia ini Sinta sekertaris Papa di kantor.
Tina :
Sekertaris apa yang pegangan tangan dengan bosnya, Papa kira aku buta. Aku tadi
lihat Papa megang tangan orang ini. (Menatap
Sasmita) Ma, Mama jangan diam aja dong. Mama juga lihat kan tadi? Papa
pegangan dengan perempuan ini.
Sasmita :
Sudah Tina, kamu jangan marah-marah. Bener kata Papamu, dia ini sekertaris Papamu.
Mama udah sering ketemu dia di kantor Papamu kok.
Tina :
Alah, Mama gak usah belain Papa ya.
Sasmita : Mama
gak belain Papa kamu sayang. Dia memang sekertaris Papamu. Udah ya, katanya mau
makan siang. Kita cari tempat lain saja.
Sasmita
menatap Ari.
Sasmita : Kita
pergi dulu ya mas.
Ari :
Iya, kalian hati-hati ya.
Bagian 5
Di ruang tamu, Sasmita sedang
membersihkan ruang tamu. Saat hendak membuang sampah ke tempat sampah, ia
menemukan faktur kredit mobil dan nota pembelian berlian atas nama Sinta.
Sasmita : Mas
coba jelaskan ini apa?
Ari :
Oh itu, aku baru beliin Sinta mobil dan berlian.
Sasmita : Kamu
sebenarnya sadar gak sih mas? Kamu itu hanya dimanfaatkan oleh Sinta.
Ari :
Sudahlah, gak usah aneh-aneh kamu. Biarlah dia memanfaatkan aku, toh aku punya
uang. Kamu gak usah iri, sudah banyak berlian dan emas yang sudah ku berikan
kepadamu. Aku juga tidak pernah lupa memberikanmu nafkah.
Sasmita :
Sadar mas, aku gak bisa terus begini. Kamu tidak pernah mau menceraikanku, tapi
kau dengan terang-terangan berselingkuh. Ingat tidak kamu, aku yang menemanimu
dari kamu masih susah. Kau datang ke rumah orang tuaku dengan modal nekat kau
nikahi aku. Sekarang ketika kita sudah hidup mapan, kau menduakanku. Apa
sebenarnya yang kau inginkan? Mana janjimu dulu ingin membahagiakanku.
Ari :
Wah.. sudah berani meneriaki suami ternyata. Janjiku pun sudah aku tepati jika
kau ingat. Memang sekarang kau hidup dengan mewah, hidup berkecukupan hasil
kerja keras siapa? Pikirlah Sasmita, aku sudah mencukupi setiap kebutuhanmu.
Lantas apa yang kau inginkan lagi, aku juga sudah pernah bilang aku adalah
suamimu ketika di rumah.
Sasmita : Lucu
ya kamu mas. Jadi maksudmu ketika kamu di luar rumah kamu adalah laki-laki
lajang yang suka dengan daun muda? Begitu? Coba kau bayangkan jika anakmu tau
perbuatan bejat bapaknya yang dengan tega menyelingkuhi ibunya.
Ari :
Jangan sekali-kali kamu berbicara hal tersebut dengan Tina atau kau akan
benar-benar merusak anakmu.
Sasmita :
Lantas aku harus apa mas? Apa aku harus diam saja ketika melihat suamiku
berselingkuh? Apakah aku harus tetap diam ketika hatiku rasanya remuk. Jika kau
ingin bersama dengan wanitamu itu, ceraikan saja aku dan biarkan aku pergi.
Ari :
Tak usah banyak bicara kamu, tidak aka nada perceraian dipernikahan kita ini.
Sasmita :
Kalau memang kamu tidak mau menceraikanku, tinggalkan perempuan itu.
Ari :
Tidak ada yang akan ku tinggalkan. Kau cukup duduk manis dan menjadi istri yang
baik ketika aku di rumah.
Sasmita : Kamu
itu hanya dimanfaatkan oleh Sinta mas, sadarlah. Dia hanya membutuhkan uangmu.
Ari :
Aku tak peduli dia hanya memanfaatkan uangku atau apa, toh aku mempunyai banyak
uang.
Sasmita :Sekarang
kamu mungkin banyak uang mas, tak ingatkah kau dulu waktu awal kita menikah.
Bahkan kita hanya mampu menyewa sepetak kotrakan, kita tidak punya apa-apa.
Ari :
Tak penting itu. Sekarang kita sudah kaya raya. Bahkan kau bisa hidup enak
tanpa harus bekerja. Jika kamu mau bercerai denganku memangnya kamu mau makan
dengan apa?
Sasmita :
Setidaknya hatiku tidak akan sakit, melihat suamiku bermesraan dengan orang
lain. Aku memang tidak bekerja mas, tapi kamu juga harus ingat. Keberhasilanmu
saat ini juga sebagian besar berkat doa istrimu ini yang dengan setia
mendoakanmu. Sinta itu bukan orang baik, jika dia perempuan baik-baik dia tidak
akan mengganggu rumah tangga orang. Hidup kaya raya tidak akan menjamin kau
bisa enak ketika tua nanti. Ingat juga karma dari Tuhan.
Ari :Tak
usah kamu menceramahiku tentang Tuhan.
Selama ini Sinta memperlakukanku dengan baik dan tau apa kau tentang
masa depan? Tak usah kau banyak bicara. Diamlah selagi aku masih baik, jangan
membuatku marah atau aku akan memukulmu.
Sasmita :
Pukul saja mas, ayo pukul. Selagi pukulanmu itu bisa menggantikan rasa sakitku
selama satu tahun ini. Lakukanlah!
Ari :
Diam kau Sasmita!
Sasmita : Apa
kau bilang? Aku harus diam dan terus menerima semua perlakuanmu? Lucu sekali
kamu mas.
Ari :
Diam Sasmita, sekali ku bilang diam. Diamlah! Atau aku akan benar-benar
memukulku.
Sasmita :
PUKUL SAJA! (Teriak Sasmita)
(Ari yang merasa jengkel akhirnya menampar pipi kiri
Sasmita. Sasmita terjatuh dan memandang Ari)
Sasmita : Oh,
jadi kau sudah berani main tangan ya mas, ini yang membuatku semakin yakin
untuk pergi meninggalkanmu. Terima kasih mas.
(Sasmita pergi meninggalkan Ari sambil menahan
tangisnya. Ia memegang pipi bekas tamparan Ari)
Ari : (Ari meneriaki Sasmita) PERGI SANA,
JANGAN KEMBALI JIKA PERLU!
Tiba-tiba Tina datang karena mendengar keributan yang
ada di ruang tamu. Dia bertanya pada ayahnya.
Tina :
(bertanya penuh selidik) Apa yang terjadi pa? Kenapa aku mendengar kalian
bertengkar? Apa yang kalian sembunyikan selama ini dibelakangku?
Ari :
Tina, apa-apa Tina. Ibumy saja yang salah paham.
Tina : Jika
hanya salah paham biasa kenapa aku mendengar Mama ingin pergi dari rumah? Papa,
aku bukan anak kecil lagi yang bisa dengan mudah kau bohongi.
Ari : Papa
tidak berbohong, Mamamu hanya sedang salah paham saja.
Sasmita
masuk sambil membawa kopernya. Dia ingin berpamitan dengan Tina.
Sasmita : Tina, Mama
harus pergi dulu sayang. Jika kamu ingin bertemu Mama kamu tinggal menghubungi Mama.
Tina :
Jangan pergi ma, kalau Mama pergi Tina dengan siapa? Apa Mama tega
meninggalkanku berdua saja dengan Papa?
Sasmita : Kamu
harus tetap di rumah Tina, Papamu lebih membutuhkanmu. Mama akan selalu siap
ketika kamu butuhkan. Mama tidak bisa jika harus tetap di sini dengan Papamu.
Tina :
Baiklah, Tina akan tinggal di rumah dengan Papa. Mamah hati-hati.
Sasmita
pergi meninggalkan rumah.
Tina :
Bagaimana? Papa sudah puas membuat Mama meninggalkan kita? Sekarang Papa puas
melalukan apapun! (Meninggalkan Ari)
Bagian 6
Di ruang tamu, Tina sedang
duduk melamun. Datanglah Ari dan Sinta.
Ari : Halo
sayang, kau sedang apa?
Tina : Oh, Papa.
Siapa dia? (Menunjuk Sinta)
Sinta :
(Mengulurkan tangan pada Tina untuk bersalaman) Sinta.
Ari : Dia
ini Mama barumu
Tina
berdiri.
Tina : Apa Papa
bilang? Mama baru? Papa bercanda ya, tidak ada yang namanya Mama baru. Apa lagi
dia siapa? Berani sekali mau menggantikan, tidak ada yang bisa menggantikan Mama
di hidupku.
Sinta :
Tolong jaga cara bicaramu ya, saya ini sudah menjadi ibu barumu. Ibumu yang tua
itu sudah pergi meninggalkanmu.
Tina :
Memang kau pikir ibuku pergi karena siapa? Kau pikir aku tak mengerti jika
kalian berdua dengan tega main di belakangku dan Mama.
Ari :
Sudah Tina, tak usah lagi kau bahas ibumu yang sudah dengan tega pergi
meninggalkan kita. Toh, dia sendiri yang ingin pergi. Papa tidak pernah menyuruh
ataupun memintanya pergi.
Sinta : Kau
dengar sendirikan dari ayahmu? Ibumu sendiri yang meninggalkanmu. Sekarang
jadilah anak yang manis dan berbicaralah dengan sopan. Sekarang aku adalah
ibumu.
Tina :
Sudah ku bilang, tidak ada yang bisa menggantikan ibuku. Kau bukan ibuku. Kau
hanya perempuan yang dibawa oleh ayahku. Dasar perempuan tidak tau malu.
Ari
tiba-tiba menampar pipi Tina.
Ari :
JAGA BICARAMU TINA, DIA IBUMU!
Sinta :
Sudah mas, jangan main tangan. (menenangkan
Ari)
Tina : (Tertawa sarkas sambil memegang pipinya)
HAHAHA, sudah berani main fisik ya sekarang. Dulu Papa tidak pernah berani
melakukan ini. sekarang, setelah mengenal wanita ini dengan ringan, tanganmu
itu memukul darah dagingmu sendiri. Puas kau! (Tina pergi meninggalkan mereka Ari dan Sinta)
Ari
terduduk di kursi dan menyesali apa yang baru saja ia perbuat
Ari : Apa
yag baru saja aku perbuat Sinta, apa aku keterlaluan tadi. Aku hanya tidak suka
dia merendahkanmu tadi.
Sinta : Tadi
yang kamu lakukan cukup keterlaluan mas, tapi tidak apa. setelah ini, mas bisa
meminta maaf padanya.
Ari : Aku
merasa bersalah kepadanya Sinta, sebelumnya tak pernah seperti ini. aku
kelepasan.
Sinta :
Sudahlah mas, nanti kau bisa meminta maaf. Tapi jangan sekarang dulu. Mungkin
dia sedang memerlukan waktu untuk sendiri. Nanti, ketika dia sudah mulai tenang
mas bisa meminta maaf.
Ari : Aku
tidak salah lebih memilihmu sayang. Selain kau cantik, kau juga sangat dewasa.
Sinta :
Apasih mas, ini masih awal. Jadi aku memakhlumi. Pasti nanti Tina akan mulai
paham dengan keadaan kita. Mas jangan terlalu khawatit.
Ari :
Iya, pasti dia akan segera menerimamu sebagai ibunya.
Sinta : Dia
hanya belum bisa terima karena ibunya pergi.
Ari :
Seharusnya dia juga harus sadar jika ibunyalah yang pergi dengan suka rela.
Bahkan setelah kepergiannya dari rumah dia tetap menyusahkanku saja.
Sinta :
Sudah mas, ngapain sih kamu memikirkan wanita tua itu. Toh ada aku di sini.
(Sinta memanyunkan bibir sambil bersedekap tangan)
Ari :
Aduh. Imunya istriku ini. jangan cemburu dong, aku hanya sedang kesal dengan
wanita tua itu.
Sinta : Lagian,
kamu itu. Kita sedang berduaan malah kamu bahas dia terus.
Ari :
Maaf deh, udah kita gak usah bahas lagi wanita itu. Yang perlu kita bahas,
kapan kamu mau kasih mas anak laki-laki yang nantinya akan menggantikan mas.
Sinta : Aku
nanti akan memberikan anak laki-laki padamu mas. Aku masih muda dan cantik,
pasti akan bisa memberikanmu anak laki-laki sebanyak yang kau inginkan.
Ari : Tak
usah muluk-muluklah sayang. Satu saja cukup, bagaimana kalau kita sekarang
istirahan saja.
Bagian 7
Pagi hari, di ruang tamu. Tina
baru saja bangun tidur hendak pergi ke dapur dia melewati Sinta yang sedang
membaca majalah.
Sinta : Wah,
enak sekali ya. Matahari sudah di atas kepala baru bangun. Perempuan seperti
apa jam segini baru menampakkan wajahnya. Tidak malu kamu jam segini baru
bangun?
Tina berusaha tidak menanggapi perkataan Sinta, ketika
hendak pergi Sinta mengatainya.
Sinta : Hei,
Tina. Aku berbicara denganmu tidak dengarkah kau, atau memang sengaja tidak
mendengar. Dimana sopan santunmu. Oh pantas saja, pasti ibumu tidak pernah
mengajarimu sopan santun, yang dia tau hanya menjadi ibu rumah tangga yang
bergantung dari kerja suaminya. Mana tau dia rasanya harus bangun pagi dan
bekerja. Toh, semuanya sudah tersediakan di rumah.
Tina : Jaga
bicaramu. Tak usah kau bicarakan sopan santu denganku. Mau aku bangun pagi atau
siang pun bukan urusanmu. Memangnya siapa kau? Kau hanya parasit di rumah ini.
Sinta : Apa
kau bilang? Wah memang tidak pernah kau diajari sopan santun. Jangan kurang ajar
ya kau!
Tina : Kau
yang kurang ajar, perempuan rendahan. Perebut suami orang, tidak puaskah kau
sudah merebut ayahku? Apa lagi yang kau inginkan?
Sinta : (Sinta berdiri dan mendekati Tina, lalu ia
membisikkan kata) Aku masih belum puas, jika kau belum pergi dari rumah
ini.
Tina naik darah, dengan segaja ia menampar pipir
Sinta. Kejadian penamparan oleh Tina di lihat oleh Ari.
Ari : APA
YANG KAU LAKUKAN TINA!
Tina : Dia
pantas mendapatkan itu. Setelah semua yang sudah diperbuatnya. Tamparan itu
tidak sepadan dengan sakit hati yang mama rasakan.
Ari :
Diam Tina! Papa tidak pernah mengajarimu untuk memukul orang.
Tina : Oh,
tidak pernah memukul orang. Lalu yang papa lakukan ketika orang ini baru datang
apa? Lucu sekali orang ini.
Ari :
Tina, papa sudah meminta maaf tentang kejadian itu. Papa tidak sengaja, jangan
kau samakan dengan dirimu yang dengan sengaja memukul orang.
Sinta :
Sudah mas, mungkin Tina tidak sengaja.
Tina :
Tidak! Aku memang sengaja menamparmu.
Ari :
Jangan kurang ajar ya kamu Tina, Papa sekolahin kamu tinggi-tinggi bukan buat
kamu jadi kurang ajar ya.
Tina : Bela
aja terus istri baru papa ini. Semenjak ada dia, semua yang aku lakukan di mata
papa salah. Tanpa sadar papa sudah didikendalikan oleh wanita ini.
Sinta :
Tidak Tina, mama tidak pernah melakukan itu.
Tina :
Tidak usah memanggil dirimu sendiri dengan sebutan mama. Memangnya ada? Seorang
ibu yang dengan menghancurkan rumah tangga orang lain, bahkan rumah tangga yang
sudah terjalin lebih dari 20 tahun.
Ari :
Jaga bicaramu Tina!
Tina :
Terus saja papa membelanya. Tidak taukah papa, orang yang terus-terusan papa
bela sejak kedatangannya di rumah ini menginginkan aku pergi. Aku ini anak
papa, tapi kenapa merasa orang asing di rumah ini. aku merasa seperti orang
yang tidak diharapkan kehadirannya.
Sinta :
Tidak mas, aku tidak pernah untuk memintanya pergi.
Tina :
Pandai bersilat lidah rupanya, pantas saja papa mudah terpengaruh.
Ari :
Cukup Tina, sekarang kamu kembali ke kamarmu dan renungkanlah kesalahanmu.
Tina :
Tidak usah repot-repot mengusirku pa, aku akan pergi menyusul mama. Tidak ada
lagi yang perlu diperjuangkan di sini. Keputusan mama untuk meninggalkan papa
sudah yang paling benar.
Sinta :
Jangan pergi Sinta, jika kau tidak suka aku berada di sini. Maka akulah yang
seharusnya pergi.
Tina : Kamu
tidak usah berpura-pura. Inikan yang selama ini kau inginkan. Sekarang aku akan
pergi dan kau bebas memiliki ayahku.
Ari :
Tidak ada yang akan pergi di sini. Jaga bicaramu Tina, kau sedang berbicara
dengan ibumu. Dimana kesopananmu yang selama ini kau tunjukkan. Jangan sampai
membuat papa marah. Papa bilang kembali ke kamar!
Sinta :
Sudah mas, jangan marah-marah lagi. Memang aku yang salah, seharusnya aku saja
yang pergi. Jika kepergianku akan membuat Tina bahagia, maka aku akan pergi.
Ari :
Tidak Sinta, kamu tidak salah. Tina, cepat masuk kamar!
Tina :
Tidak, aku akan pergi.
Ari :
Sudah ku bilang, tidak ada yang akan pergi lagi dari rumah ini. Dan kau Tina,
jangan seperti ibumu, dia yang menginginkan untuk pergi. Papa tidak pernah
memintanya pergi.
Tina :
Memang papa kira siapa yang tahan, jika seorang istri tau suaminya dengan
terang-terangan berselingkuh dengan orang lain.
Ari :
Diam!
Tina :
Jangan menghalangiku pa, aku kan pergi. Dan ingat ketika aku pergi nanti,
jangan pernah mencariku dan mama lagi. Semoga papa hidup bahagia dengan
kehidupan yang papa pilih.
Ari :
Berani kau pergi satu langkah keluar rumah ini, maka jangan pernah kau kembali
ke sini.
Tina :
Baik, jika itu juga keinginan papa. Aku akan pergi dan jangan pernah mencariku
lagi, terima kasih.
Tina pergi entah ke mana yang Ari ingat ia ingin
menyusul Sasmita. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, Tina tidak
kembali lagi. Sedangkan semakin hari tingkah Sinta yang sebenarnya semakin
terlihat. Sinta tidak lagi melayani Ari dengan baik, dia hanya suka belanja dan
sering pulang malam.
Bagian 8
Sinta datang dengan membawa
berbagai belanjaan.
Ari : Dari
mana kamu? Tidak ingat ini jam berapa?
Sinta :
Apasih mas, masih jam 10 malem. Biasanya kita kalau ketemu juga lebih dari jam
10 pulangnya.
Ari :
Masih kau bilang? Ini sudah terlalu malam untuk seorang istri. Mungkin dulu kau
bebas keluar hingga larut, tapi kau juga harus ingat. Sekarang seorang istri.
Sinta :
Lantas kenapa jika aku seorang istri. Apakah kamu akan melarangku melakukan
sesuatu yang ku suka?
Ari : Aku
tidak melarangmu untuk melakukan apapun yang kamu suka. Tapi, kamu juga harus
ingat jika kamu seorang istri. Seharusnya kamu menyambutku ketika aku pulang
bekerja. Bukan malah pergi tidak tau kemana dan tanpa pamit.
Sinta :
Maksudmu aku harus selalu di rumah menunggumu pulang begitu? Aku masih muda
mas, aku juga perlu berkumpul dengan teman-temanku.
Ari :
Dulu Sasmita selalu menyambutku ketika pulang, dia akan selalu melayaniku
selayaknya istri yang baik. Tidak hanya pergi belanja menghabiskan uang.
Sinta : Oh,
jadi kamu mulai membandingkanku dengan wanita tua itu? Sekarang kau mau apa?
mau kembali dengan wanita itu?
Ari :
Bukan begitu Sinta, aku hanya ingin ketika pulang aku langsung melihatmu.
Sinta :
Alasan saja, sudah! Capek aku. (Sinta pergi meninggalkan Ari)
Ari
terduduk di kursi. Ia merasa sangat jengkel dengan ulah istri mudanya itu.
Ari
bermonolog
Ari :
Wanita seperti apa yang sebernarnya sudah ku nikahi. Apakah aku salah memilih
orang? Salahkah jika seorang suami ingin disambut jika ia pulang dari bekerja.
Kenapa dia yang awalnya baik dan lemah lembut kini menjadi seorang yang berani
melawan suaminya.
Ari
mengambil sepuntung rokok dari saku, menyalakannya, dan menyesap rokok
tersebut.
Ari :
Sebenarnya pergi ke mana kau Sasmita, kenapa kau tidak mau bertahan sedikit
lagi? Semenyakitkan itukah bersama denganku? (Menyesap rokonya dan menghembuskan asap rokoknya)
Ari : Kenapa
kau tidak mau melawan dan mempertahankan posisimu. Kenapa dengan mudah kau
pergi, apakah sudah tiada cinta lagi.
Ari tiba-tiba menegakkan badannya. Tak sengaja di
lihatnya sebuah map di atas meja ketika ia hendak mematikan rokok. Karena
penasaran dibukanya, ternyata isi map itu hasil pemeriksaan kesehatan Sinta,
dibacanya dengan seksama. Betapa terkejutnya Ari ketika membaca bahwa Sinta
adalah seorang wanita yang mandul. Berteriaklah dia memanggil Sinta.
Ari :
SINTA! KESINI KAMU! SINTA!
Sinta datang dengan tergesa-gesa.
Sinta : Ada
apa sih mas, kalau kamu mbanding-mbandingin aku dengan Sasmita mending gak
usah.
Ari : Apa
ini! (Memberikan map pada Sinta)
Sinta :
(Sinta terkejut) Dari mana mas mendapatkan ini?
Ari : Tak
penting itu ku dapat dari mana. Berani-beraninya kau membohongiku. Wah, mana
anak laki-laki yang kau janjikan. Anak perempuan pun tak becus kau berikan.
Sinta : DIAM
KAU MAS!
Ari :
Berani sekali kau meneriaki ku, bahkan Sasmita yang sudah puluhan tahun ku
nikahi tak pernah membentakku sekalipun.
Sinta :
Bandingkan saja terus aku dengannya, setidaknya aku tidak bodoh seperti wanita
itu. Wanita bodah yang hanya diam ketika suaminya berselingkuh.
Ari tiba-tiba menampar pipi kiri Sinta.
Ari :
Diam kau wanita murahan. Orang yang kau bilang bodoh itu adalah istriku!
Sinta : (memegang
pipi bekas tamparan) Istri kau bilang? Orang yang kau usir itu kau bilang
istrimu? Percaya diri sekali kau.
Ari :
Diam ku bilang! Pergi dan jangan pernah kembali!
Ari terduduk di kursi, memegangi kepalanya yang
tiba-tiba pening. Kepalanya seolah ditusuk ribuan jarum. Tiba-tiba padangan Ari
menggelap dan nafasnya menjadi sesak.
-SELESAI-
BIOGRAFI PENULIS
|

Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi