NASKAH DRAMA PENYESALAN
PENYESALAN
Erina Dwiky Anggraeni
Tokoh:
Pak
Sugito (Ayah) : Bijaksana
Tegas
Bu
Lina (Ibu) : Perasa (mudah tersentuh hatinya)
Bintang
(Anak pertama) : Suka mencuri
Sulit untuk jujur
Ade (Anak kedua) : Jujur
Bisikan 1 : Baik
Selalu melarang untuk mencuri
Bisikan 2 : Jahat
Selalu menyuruh ke perbuatan sesat
Cerita diangkat dari sebuah keluarga yang
beranggotakan 4 anggota, yaitu Pak Sugito, Bu Lina, Bintang, dan Ade. Pak
Sugito adalah seorang Guru yang tugasnya bisa dibilang lumayan banyak. Ia juga
mempunyai sebuah toko yang dijaga oleh istrinya, Bu Lina. Dikarenakan Bu Lina
mempunyai sebuah toko, maka ia jarang mempedulikan kebersihan dan kerapian
rumah. Ruang tamu yang seharusnya bersih dan rapi, kondisi tersebut tidak
tampak pada rumah keluarga Pak Gito. Tampak kaca rumah yang berdebu sebab
jarang dibersihkan, begitu pula dengan lantai putih yang terlihat kusam.
Meskipun Bu Lina memiliki 2 anak, tetapi ia merasa tidak mempunyai anak, sebab
kedua anak laki-lakinya sangat malas. Pak Gito yang sedang sibuk-sibuknya
dengan pekerjaan miliknya sudah tidak ingin diributkan masalah kebersihan
rumah.
BABAK
1
Panggung menggambarkan sebuah ruang tamu sepi namun berantakan
dengan barang dagangan milik Bu Lina. Pagi hari adalah waktu untuk Bu Lina
berbelanja barang dagangan ke pasar. Saat itu, Bintang baru saja pulang
sekolah.
Bintang : “Waduh kebetulan rumah lagi sepi
nih.”
...
(Bintang yang masih
lengkap dengan seragam putih abu-abunya memasuki kamar Ade dan menuju ke lemari
Bu Lina)
Bintang :
“Cari-cari ah, lumayan buat beli rokok dan sedikit minuman.” (mulai membuka
lemari dan membuka loker lemari milik ibunya)
Bisikan
1 : “Eh eh eh, jangan, Bin, itu
nggak baik lho.”
Bisikan 2 : “Ah udah lah, ambil aja. Kan lumayan buat beli rokok dan
sedikit minuman. Biar nggak spaneng.”
Bisikan
1 : “Mengambil uang orangtua
dosanya gede lho.”
Bintang : “Iya juga sih, dosa juga ngambil
gini.” (gerutunya lirih)
Bisikan
2 : “Heehh kan nggak ada yang
ngelihat. Amaaaann laaah.”
Bintang : “Iya ya, mumpung nggak ada yang
ngelihat juga kan.”
Bisikan
2 : “Nah iya lah, ambil aja udaah,
cepeet, Bin.”
Bintang : “Iya deh ambil aja.”
Bisikan 1 : “Bintang, orangtuamu pasti akan sedih
kalau tau uangnya hilang dan yang ngambil itu anaknya sendiri.”
Bintang : “Kasihan mama kalau sampai nangis.
Tapi... aku juga butuh uang ini.”
Bisikan 2 : “Ih lama amat. Tinggal ambil aja.
Keburu ada orang bego!”
Bisikan 1 : “Heh setan! Jangan pengaruhi pikiran Bintang
dong!”
Bisikan 2 : “Heh siapa kamu? Kan lumayan bisa beli rokok dan minuman!
Lagian nggak ada yang ngelihat Bintang ambil uangnya!”
Bisikan 1 : “Tuhan dia lihat!”
Bintang : “Aduuhh kenapa makin bingung sih!
Ambil, nggak, ambil, nggak.” (bimbang, sambil memegang uang itu)
Bisikan 2 : “Sikat bosquuuu”
Bintang : “Wokeee sikaattt”
Bisikan 1 : “Betapa durhaka kau menjadi anak,
Bintang!”
Bintang : “Alah bodoamat lah, sekali ini aja
hihi” (tertawa meringis)
Bisikan 2 : “Mantap bosquuu, waktunya party”
Bisikan 1 : “Dasar kau setan!”
Bisikan 2 : “Hahahahha Bintang aja yang nggak
kuat iman!”
Bintang :
“Pergilah kau setan-setan! Jangan ganggu aku lagi. Ini waktuku untuk
bersenang-senang! (tertawa puas)
BABAK
2
Panggung
menggambarkan ruang kamar Ade. Bu Lina yang hendak membeli sesuatu menggunakan
uangnya yang disimpan di loker lemari miliknya tiba-tiba terkejut sebab uang
yang disimpannya telah tiada.
Bu Lina : “Loh, uangku kemana kok tidak ada?”
(terkejut sambil berusaha mencari ke segala bagian)
Dengan
segera, Bu Lina melaporkan kejadian tersebut kepada Pak Gito. Pak Gito yang
mendengar hal tersebut langsung saja menanyakan hal tersebut kepada Ade, yang
kebetulan ada di rumah.
Pak
Gito : “De, kemarilah.”
Ade : (berada di dalam kamar dan
cepat-cepat menghampiri bapaknya yang ada di ruang tamu) “iya pak, ada apa?”
Pak Gito : “Jawaben sing jujur.
Sampean
ngambil uange Ibuk sing ada di loker lemari apa nggak?”
Ade :
“Ha? Buat apa aku ngambil uange Ibuk? Aku ae nggak ngerti tempatnya dimana?
Untuk apa aku mengambilnya?”
Pak Gito :
“Jawaben sing jujur. Kalau sampean ngambil, ya bilang ngambil. Kalau nggak, ya
jawaben nggak.”
Ade :
“Aku ndak ngambil apa-apa, Pak.”
(Suasana menjadi hening)
Pak Gito :
“Awas kalau sampean ketahuan ngambil, tak gepuki sama bapak.”
Ade :
“Iya, pak.”
Bu
Lina menangis sesenggukan di kamarnya sebab terkejut dan masih tidak bisa
berterima bahwa salah satu dari anaknya ternyata ada yang berusaha menjadi
pencuri, bahkan di rumahnya sendiri.
Ketika Bintang baru saja pulang ke rumah,
semerbak bau rokok begitu menyengat saat ia melewati bapak dan ibunya yang
tengah menunggunya di ruang tamu.
Bu
Lina : “Bin...”
Bintang : “Iya, buk?”
Bu Lina :
“Duduko sini dulu. Bapak dan ibuk pingin ngomong sama sampean.”
Bintang : “Iya, Buk.”
Bu
Lina : “Sampean ngerokok ta?”
Bintang : “Ndak, Buk.” (dengan nada yang
agak meninggi)
Bu Lina : “Ndak gimana? Lawong baunya nyenget
gini kok bilang ndak to, le.”
Bintang : “Loh, temen-temenku yang ngerokok.
Aku ya jelas kena asapnya.”
Bu Lina : “Hmm.. (menghela nafas panjang)
Le, ibuk pingin tanya. Sampean abis
ngambil uangnya ibuk yang ada di loker lemari ta?”
Bintang : “Haaaa? Ndak lah.” (nada sedikit
terkejut dan agak meninggi)
Pak Gito : “Sing tenan jawabe le. Adikmu tak
tanya yo bilange nggak ngambil. Nggak mungkin ada orang luar yang ngambil ke
dalem.” (membenarkan posisi duduknya di sebelah Bu Lina)
Bintang : “Loh, jadi bapak sama ibuk nuduh
aku yang ngambil uangnya?” (nada emosi)
Pak Gito : “Loh, bapak sama ibuk ini cuman
tanya, bin. Bapak sama ibuk cuman butuh kejujuranmu tok.”
Bintang : “Aku ndak ngambil, pak, buk.
Duh, kah, embo wis, aku tok sing dituduh!”
(marah dan pergi meninggalkan Pak Gito dan Bu Lina di ruang tamu)
Pak Gito : “Leh deloken! Bapak sama ibuk lagi
ngomong kok malah ditinggal pergi gitu! Ndak sopan blas!” (berdiri dan berkacak
pinggang)
Bintang : “Emboh wis, kesel aku dituduh tok.
Aku tak turu ae!” (sambil menggelar kasur lipatnya di depan TV)
Bu Lina hanya bisa terdiam dan tidak
bisa berkata apa-apa lagi karena situasi yang begitu kacau di rumahnya.
BABAK
3
Setting
menggambarkan kamar tidur Pak Gito dan Bu Lina. Siang itu rumah sedang sepi,
hanya ada Ade dan Bintang yang ada di rumah. Pak Gito sedang bekerja dan Bu
Lina berbelanja seperti biasa di pasar. Bintang melihat peluang untuk bisa
masuk ke kamar bapak dan ibunya, sedang Ade sedang bermain HP di kamarnya.
Ceklek,
suara pintu kamar dibuka
Bintang : “Coba aku lihat di lemari bapak.
Kali aja ada uang yang terlihat.” (bersuara
lirih dan memperhatikan jalannya)
.... kiyeeek, suara pintu lemari yang lumayan
usang.
Bintang : “Yaampun, berisik banget.”
(membuka setiap
tumpukan baju)
Bintang : “Aduuuuhh, dimana sih, kok nggak
ada!”
Bintang : “Sini nggak ada.. sini juga nggak
ada..” (sambil tetap bersuara lirih)
Dari kamarnya, si Ade mendengar
suara-suara lirih dari kamar bapaknya. Karena penasaran, Ade pun keluar dari
kamarnya dan terkejut mendapati kakaknya yang sedang sibuk entah melakukan apa
di balik pintu lemari bapaknya.
Ade : “Loh, mas ngapain itu?”
(lirihnya dari pintu kamarnya)
“Harus
tak laporin ke ibuk sama bapak nih!” (kemudian masuk lagi ke kamarnya sebelum
kakaknya berbalik badan)
Sedang kakaknya masih sibuk dengan
mencari uang yang pasti disembunyikan di salah satu tumpukan baju bapaknya.
Bintang : ”Aduh kah, mana sih!”
....
Bintang :
“Ahaa, ini dia. Yesss!!”
Bisikan 1 : “Bintang, kenapa ngambil lagi sih? Kemarin ngambil punya
Ibu, sekarang ngambil punya Bapak.”
Bisikan 2 : “Alah, santai aja, Bin. Kondisi aman kok. Nggak usah khawatir.
Selagi ada, sikaaaattt ajaaaaa.”
Bisikan 1 : “Bin, betapa sedihnya Bapak dan Ibu kalau mereka tau ternyata
anaknya sendiri yang mengambil uang mereka.”
Bisikan 2 : “Sikat aja cepet, Bin! Keburu Ibumu datang dan memergokimu
berada di sini!”
Bintang :
“Siaaappp, ambil aja, lumayan kan.” (memasukkannya ke dalam saku celana)
Bisikan 1 : “Heeehh bintang, kelak di akhirat, tanganmu bakalan
dipotong karena sering mencuri seperti ini!”
Bintang :
“Hii ngeri...
Tapi,
tapi... itu kan di akhirat, masih lama dong, hehe.”
Bisikan 2 : “Bener tuh, masih lama, udah ambil aja cepet.”
Bintang :
“Kok berisik banget sih suara-suara ini dari tadi. Udah lah, yang penting uang
sudah berada di genggaman, saatnya keluar seneng-seneng.” (tertawa bahagia
sambil menata rapi baju bapaknya dan langsung keluar dari kamar)
BABAK
4
Malamnya, Pak Gito sengaja ingin
mengambil uang tersebut untuk membeli sesuatu. Namun, Pak Gito sangat terkejut
ketika tahu bahwa uang yang disimpannya di bawah tumpukan baju sudah tidak ada.
Seketika Pak Gito memberi tahu Bu Lina yang sedang menata barang belanjaannya
di toko, bahwa uangnya juga hilang. Ade yang ada di kamarnya kebetulan
mendengar hal tersebut, langsung saja keluar kamar dan memberi tahu bapak dan
ibunya tentang apa yang terjadi.
Pak Gito : “Dek, uangku hilang yang tak taruh
di bawah tumpukan baju.” (dengan nadanya yang buru-buru)
Bu Lina : “Loh, kok iso, mas? Ndak abis
dipakai to sama sampean?” (langsung meletakkan barang belanjaannya dan menatap
Pak Gito dengan serius)
Pak Gito :
“Ora, dek. Lawong jelas-jelas kemarin baru aja tak taruh sana.”
Tiba-tiba Ade
datang.
Ade : “Anu buk, pak...” (ucapnya
ragu-ragu)
Pak Gito & Bu Lina : (menoleh bersamaan)
Pak Gito : “Opo o, le?”
Ade : ”Tadi siang aku lihat mas
ngubek-ngubek lemarine bapak. Tapi aku ndak ngerti mas iku lapo.”
Bu
Lina : “Ha? Sing tenan, le!”
(terkejut mendengarnya)
Ade : “Serius aku, buk. Aku lihat
sendiri tadi siang pas di rumah sepi.” (meyakinkan Pak Gito dan Bu Lina)
Pak Gito : “Astaghfirullah... mana masmu
sekarang?”
Ade : “Ndak ngerti, tadi aku bangun
tidur wis ndak ada di rumah.”
“Tapi, pak, buk, jangan ngomong kalo yang
ngasih tau ini aku.” (nadanya mulai takut)
Bu Lina : “Halah gampang, le. Yowis ndang
bubuk, besok sekolah berangkat pagi.”
Ade : “Iya, buk.” (pergi meninggalkan
Pak Gito dan Bu Lina di ruang tamu)
...
Bu Lina : “Harus ditanya ini, Pak. Kalau
ndak, selanjute pasti gini terus.”
Pak Gito : “Jelas itu, buk. Yowis, tak tutupe
dulu tokone, buk.” (bergegas menutup toko)
Jam menunjukkan hampir pukul 10
malam. Terdengar suara pintu terbuka. Pak Gito dan Bu Lina sudah siap
mengintrogasi Bintang di ruang tamu.
Bintang : (kiyeek) “Assalamualaikum..”
Pak
Gito & Bu Lina : “Waalaikumsalam..”
Bu
Lina : “Dari mana, le? Kok jam
segini baru pulang?”
Bintang : “Eee anu, buk, tadi sore diajak
temen, main.” (nada yang tidak yakin)
Pak Gito : “Main kemana, le? Pulang-pulang kok
bau rokok lagi.”
Bintang : “Main ke rumahnya. Temenku yang
ngerokok, Pak, bukan aku.”
Pak Gito : “Sampean iki, le, le.. ngaling tok
ae.”
Bintang : “Loh, sopo sing ngaling to, Pak?”
(nadanya mulai naik)
Pak Gito : “Dari bau mulutmu ae wis ketahuan,
le. Lapo sampean sik ngaling?”
Bintang : ..... (menunduk dan terdiam)
Bu Lina : “Le, ibu arepe tanya iki. Tapi ibu
minta, sampean jawab sing jujur, ibu gabakal
ngamuk nek sampean jujur”
Bintang : “Iya, buk.” (tetap menunduk)
Bu Lina : “Le, lihat ibuk..”
Bintang : ..... (mengangkat kepalanya dan
menatap ibunya dengan ragu-ragu)
Bu Lina : “Sampean tau uange bapak sing
disimpen di lemarine bapak, ndak?”
Bintang : “Ha? Uang opo e, buk?” (terkejut)
Pak Gito : “Yo duwek, le. Duwek e bapak, ilang.
Ndak sampean jupuk ta?” (tidak suka dengan basa-basi)
Bintang : “Loh, kemarin uange ibuk ilang,
ngarani aku. Sekarang, uange bapak ilang yo ngarani aku.” (jengkel)
Bu Lina : “Ibu karo bapak cuman tanya, le.
Nek sampean jupuk, yo ngomongo dijupuk, ngunu lho.” (mata mulai berkaca-kaca)
Bintang : “Tapi aku tenanan ndak jupuk, pak,
buk!”
Pak Gito : “Meskipun bapak karo ibu pas lagi
ndak di rumah, tapi bapak ero sampean mau melbu kamare bapak. Bapak karo ibu
ero, le”
Bintang : “Yaampun, paaakkk, aku ndak
jupuuuk” (nada tinggi dan meneteskan air mata)
Bu Lina : “Apa susahnya jujur to, le. Bapak
karo ibu wis ngerti nek sampean sing njupuk” (menangis)
Bintang : .... (menunduk dan menangis)
Pak Gito : “Le, jawaben. Sampean kan sing
ngambil uange bapak karo ibu?”
Bintang : “Kurang jelas ta aku ngomong dari tadi,
pak? Aku gak njupuk.” (menyeka air mata)
Pak Gito : “Opo perlu sampean nggak tak anggep
anak maneh soale nggak jujur?”
Bu Lina : “Paaak, ngomongnya jangan gitu.” (memegang
lengan Pak Gito)
Pak Gito : “Biar, buk. Bapak nggak tau ngajari
anak-anake bapak nggak jujur gini.”
Bintang : “Sekarang terserah bapak sama ibu.
Aku wis ngomong apa adanya, tapi dari dulu nggak pernah sedikitpun bapak sama
ibu percaya sama aku.”
Pak Gito : “Le, bapak karo ibu wis ngerti
kabeh. Sampean jujurpun, bapak sama ibu ndak bakal marah.”
Bintang : “Sudah ya, pak, buk. Aku kesel. Aku
pingin tidur.”
Bu Lina : “Kecewa ibu sama sampean, Bin.”
(suara tersedu-sedu sambil menyeka air mata).
Ruangan
yang sekejap hening, seketika riuh dengan suara tangisan Bu Lina yang kian
keras dibarengi dengan ucapan istighfar Bu Lina dan Pak Gito.
Bu Lina : “Astgahfirullahal’adziiimm...”
(ucapnya keras, begitu dengan tangisannya yang kian keras)
Pak Gito : “Astaghfirullah....”
Bintang
dengan santainya menggelar kasur dan langsung tidur di depan televisi. Ia
seakan tak mendengar apapun dan seperti tidak merasa bersalah sama sekali.
***
BABAK 5
Lima tahun kemudian,
Bintang terpaksa harus menikahi tunangannya sebab ia telah melakukan hal yang
tidak seharusnya dilakukan terlebih dahulu. Bintang menghamili tunangannya dan
kandungannya sudah berusia 1 bulan. Untuk yang kesekian kali, air mata Bu Lina
dan Pak Gito harus jatuh sebab ulah Bintang lagi.
Di sebuah ruang tamu,
duduklah Bintang dan tunangannya yang hanya bisa tertunduk malu dan sedih.
Bintang : “Pak, Buk, maafkan Bintang. Bintang
khilaf.” (ucapnya sambil menunduk)
Bu Lina : “Astaghfirullah, le. Khilaf kata
sampean?
Sampean ndak bikin ibuk nangis ndak bisa
to, le?” (air mata menetes)
Bintang : “Maaf, Buk.”
Pak Gito : “Le, Le. Kok ndak habis-habisnya
nakalmu ini.”
Bintang : “Maaf, Pak.”
Pak Gito : “Wes sering bapak karo ibu denger
maafmu, le. Tetep ngunu ae kelakuanmu!”
Bu Lina : “Nek wis kedaden, sampean mau minta
maaf gini. Telat le maafmu, telat.”
Bintang : “Iya, Buk, Bintang emang salah.
Maafkan Bintang.”
Pak Gito : “Bosen le, bosen. Bapak sama Ibu
nganti bosen ngrungokne maaf e sampean iku.”
...
Pak Gito : “Yowis, buk. Ndang rabino, ben
nakale ndang mari.”
Bintang : “Maaf, Pak, Buk. Bintang janji
nggak bakal bikin bapak sama ibuk nangis lagi.”
Pak Gito : “Halah, janjimu, le, le.”
BABAK
6
Di sebuah ruang
tamu...
Bu Lina : “Pak, jangan nyimpen uang beras
sama uang lampu di situ. Udah tau anaknya ngambilan uang, masih ndak bisa
nyimpen yang bener.”
Pak Gito :
“Iya, buk.”
Meskipun
sudah diingatkan berkali-kali, tetap saja kebiasaan tersebut berlanjut hingga
terjadilah sebuah peristiwa..
Pak
Gito : “Buk..” (memeriksa kembali
loker kerja yang berisi uang dagangan)
Bu
Lina : “Iya, Pak?” (menata
barang belanjaan)
Pak
Gito : “Uang bapak kok ndak ada?”
Bu
Lina : “Ha? Uang yang dimana?”
(panik dan langsung menghampiri Pak Gito)
Pak
Gito : “Ya yang di loker ini,
buk.”
Bu Lina : “YaAllah, Pak. Udah dibilangin ojo
naruh ndek situ. Iya iya tapi tetep ditaruh situ lho. Piye to, Pak, Pak.”
Pak Gito : “Bintang kapan terakhir ke sini?”
Bu Lina : “Kemarin dek’e ke sini numpang
tidur sambil nunggu istrine. Terus pisan ono Ade, sakit kan dadi ndak masuk
sekolah.”
Pak Gito : “Waduh, jelas Bintang iki sing
njupuk!” (sedikit emosi)
Bu Lina : “Pak, sabar dulu. Ditanya baik-baik
aja ke Bintang.”
Pak Gito : “Waduh, onok ae.”
Keesokan
paginya, ketika di rumah hanya ada Bu Lina, Bintang datang dengan bau rokok
yang sangat khas sejak dulu, berniat untuk beristirahat sejenak. Bu Lina pun
langsung memanggil Bintang dan mengintrogasinya di ruang tamu.
Bu
Lina : “Bin, Bintang..”
Bintang : “Iya, Buk?”
Bu
Lina : “Sini, le. Ibuk pengen
tanya sesuatu ke sampean.”
Setelah
membuka jaket dan meletakkan tasnya, Bintang pun langsung menuju ke ibunya yang
berada di ruang tamu.
Bintang : “Iya, buk?”
Bu
Lina : ”Sampean kemarin ngapain
ae? Pas ibuk belanja ke pasar.”
Bintang : “Yo turu, buk. Lawong aku kesel.”
Bu
Lina : “Adike ngapain?”
Bintang : “Koyoke turu pisan ning kamare.”
Bu Lina : “Sampean ndak tau buka-buka lokere
bapak iki ta?” (menunjuk ke loker kerja Pak Gito)
Bintang : “Lapo aku buka-buka iku, buk.”
Bu
Lina : “Uang beras dan uang
lampu untuk dagangan ilang, le.”
Bintang : “Lah terus? Ibuk nuduh aku?”
Bu
Lina : “Loh, ibuk tanya, Bin.”
Bintang : “Ibuk iki opo’o seh? Dari dulu
nuduhe akuuuu teruuss.”
Bu
Lina : “Ibuk cuman nanya, le.”
(matanya mulai berkaca-kaca)
Bintang : “Buk, aku ke sini cuman pingin istirahat,
ndak pingin liya-liyane.”
Bu Lina : “Jujuro ae, le. Ibuk ndak pingin
uripe sampean ndak apik ke depane.” (tersedu-sedu)
Bintang : “Sumpah, Buk. Aku ndak jupuk duwit
dagangan.”
Bu Lina : “Opo sampean sik kurang ta nggae ibuk
nangis?” (mengambil sapu tangan untuk menyeka hidung)
Bintang : “Opo’o seh ibuk ndak tau percoyo
karo aku?” (mata mulai berkaca-kaca juga)
Bu Lina : “Ibuk trauma, le. Ibuk trauma karo
kelakuane sampean.” (nangis menjadi-jadi)
Bintang : “Buk, aku wis mandek. Aku pingin
berhenti nakal, buk.”
Bu Lina : “Sampean mesti nggae loro atine
ibuk terus, le.”
Bintang : “Ya Allah, buk. Tiap kali aku mau
berubah, mesti ibuk nuduh aku sing ndak-ndak.”
Bu Lina : “Sampean iki le, le. Ndak mari-mari
nggae mama nangis terus.” (sambil menunduk)
Bintang : “Buk, aku iki wis berhenti nakal.
Aku sebenere ndak pingin nggae ibuk nangis maneh. Wis cukup kejadian karo
tunanganku tok nggarai ibuk nangis. Aku ndak pingin nggae ibuk nangis maneh.”
Bu Lina : ..... (hanya diam menunduk dan
menangis. Menahan omongan agar tidak melontarkan kata-kata yang berlebihan)
Bintang : “Wis cukup nakalku mbiyen, Buk.
Saiki aku wis mandek. Aku pingin nyari uang halal. Ndak ngambil uange bapak
ngene.”
Bu
Lina sudah tidak ingin berkata-kata apapun lagi. Bu Lina hanya mengucap
istighfar sebanyak-banyaknya agar hatinya tenang dan tidak tersulut emosi.
Bintang
pun pergi meninggalkan Bu Lina sendirian di ruang tamu, dengan perasaan emosi
dan tangis yang menjadi-jadi. Namun, ketika baru sampai di depan televisi, Bintang
terjatuh pingsan dan mencoba memanggil Bu Lina, namun tak bisa mengucapkan
apapun dengan jelas.
Bintang : “e e e e e” (ucapnya setelah
terjatuh ke lantai)
...
Bintang : “e e e e e eee” (ucapnya
berkali-kali berharap Bu Lina mendengarnya)
Ketika
Bu Lina mendengar suara Bintang, Bu Lina bergegas menuju ke Bintang dan sangat
terkejut ketika melihat Bintang sedang tergeletak di depan televisi.
Bu
Lina : “Astaghfirullah, Bintang.
Kenapa kamu, nak?” (ucapnya panik)
Bintang : “e e e e” (ucapnya sambil memegang
dada sebelah kirinya)
Bu
Lina : “Bin, Bintang, istighfar,
le.
Ya Allah dikasih apa
ini?”
Kepanikan
Bu Lina menjadi-jadi ketika melihat lidah Bintang mengarah ke atas sehingga
sangat sulit untuk bernafas.
Bu Lina : “Sebentar, le. Ibuk bikinkan air gula.”
(bergegas menuju dapur dan membuat air gula)
....
Bu
Lina : “Ayo, le, ditelen....”
(menyendokkan air gula ke mulut Bintang)
Bu
Lina : “Ya Allah kok ndak bisa.”
(semakin panik)
Bu Lina : “Ya Allah, tak kasih freshcare dulu.” (mengoleskannya ke
hidung dan tenggorokan)
Bintang : “e e e e ee” (suaranya terdengar
semakin sakit tersiksa)
Bu
Lina sangat panik karena tangan Bintang makin kuat mencengkeram dada sebelah
kirinya dan kakinya sudah kaku tidak bisa digerakkan lagi.
Bu
Lina : “Le, Bintang, istighfar,
nak.”
Bintang : “eeeeee ee”
Suara
kesakitan yang terakhir sangat panjang seketika berhenti bebarengan dengan
melemasnya cengkeraman tangan Bintang.
Bu
Lina : “Bin, Bintang, Leeee...”
(mengoyak-ngoyak tubuh Bintang)
Bu Lina : “Leee, bangun. Maafkan Ibu,
Bintaaaang” (sambil memeluk tubuh Bintang yang sudah tak bernyawa)
Bu
Lina pun meletakkan jarinya di hidung Bintang yang sudah tidak mengeluarkan
nafas lagi. Bu Lina sangat-sangat terpukul dengan kejadian ini. Ia menyesal
telah menuduh Bintang dengan sangat keras. Ia tidak tahu bahwa akhir-akhir ini
Bintang memiliki penyakit jantung dan ia sangat terkejut ketika Bu Lina sangat
menuduh ia mengambil uang milik Pak Gito.
****
BIOGRAFI PENULIS
Erina Dwiky Anggraeni adalah
perempuan kelahiran Kota Mangga dan Anggur, Kota Probolinggo pada 21 Januari
1999. Setelah menamatkan pendidikannya di SMAN 4 Kota Probolinggo, ia
melanjutkan pendidikannya di Universitas Negeri Malang Jurusan Sastra
Indonesia. Ia baru menekuni dunia kepenulisan sejak menduduki bangku
perkuliahan. Baru-baru ini ia bergabung dengan Komunitas Penulis Nusantara.
Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi