NASKAH DRAMA PERCAKAPAN DI KAMAR MANDI














PERCAKAPAN DI KAMAR MANDI
Nabila Khansa Izzaturrahmi

Tokoh
1. Daniel Choi: kapten baru tim sepak bola, memiliki panic attack, baik hati namun frustrasi karena citra baik yang dibangun orang-orang tentangnya membuat ia memiliki sisi berontak.

2. Terry Kang: murid biasa di sekolah, sarkastik, blak-blakan, penyendiri, suka menghabiskan makan siangnya di kamar mandi lama.

Nama   : Nabila Khansa Izzaturrahmi
NIM    : 170211604573

Percakapan di Kamar Mandi Sekolah
Setting menunjukkan bilik-bilik kamar mandi. Dinding-dindingnya penuh coretan. Dua di antaranya terisi. Pintu kiri diisi Daniel. Pintu kanan diisi Terry, tetapi Daniel tidak mengerti siapa.

Daniel: (membuka pintu bilik kamar mandi)
Daniel: (menghela napas, menyandar pada dudukan toilet)
Daniel: “Jadi kapten ya… (menghela napas lagi, tampak berat) Kenapa harus aku yang ditunjuk jadi kapten…”
Daniel: (memainkan jari-jarinya karena gugup, terdiam lama, menunduk)
Daniel: (napas mulai berat, seolah susah mengambil napas) “Kumat lagi…” (memukul-mukul dada)
Daniel: (merogoh saku mencari sesuatu) (semakin panik karena tidak menemukan botol pil penenang) “Hah… hah… hah…” (napas semakin berat)
Daniel: (seluruh tubuh gemetar dan mulai menangis) “Aku tidak mampu jadi kapten. Aku tidak bisa! Aku tidak bisa!” (gelisah, mengusak-usak rambut)
Daniel terserang anxiety disorder yang telah disembunyikan olehnya sejak bertahun-tahun. Seluruh tubuh gemetar. Menangis. Menjambak rambut. Tidak sadar ada yang mendengarkannya sedang menangis.

Terry: (di bilik sebelah, sejak tadi diam)
Terry: (menarik tuas toilet)
Daniel: (terkejut mendengarkan suara flush toilet)
Daniel: (berhenti menangis, mengusap air matanya lalu berdeham)
Daniel: “Siapa di sana?!” (berusaha agar suaranya tidak bergetar)
Terry: “Aku.”
Daniel: “Sejak kapan kau ada di sana?” (nada tidak suka, curiga)
Terry: (terdengar cuek) “Sejak tadi.”
Daniel: “Sejak tadi? Sejak kapan?”
Terry: “Sebelum kau menangis dan sesak napas.”
Daniel: (terdiam) “Kau mendengar semuanya?”
Terry: (bersandar di dudukan toilet) “Well, aku punya telinga?”
Daniel: (mendengus) “Hah. Bagus. Setelah ini rahasiaku bakal tersebar.”
Terry: “Aku tidak bilang kalau rahasiamu bakal tersebar. Aku saja tidak tahu namamu.”
Daniel: “Lebih baik begitu.”
Terry: “Aku hanya tahu kalau kau akan menjadi kapten klub sepak bola selanjutnya. Yah, aku memahami kalau kau panik. Kalau kau berkenan untuk bercerita, aku akan mendengarnya.”
Daniel: “Bercerita pada orang asing di kamar mandi? Yang benar saja.”
Terry: “Kadang, kau tidak perlu kenal seseorang untuk bercerita. Yang penting lega dulu.”
Daniel: “Apa yang kau jaminkan supaya ceritaku tidak bocor keluar?”
Terry: (mengedikkan bahu) “Tidak tahu. Janjiku? Aku janji tidak akan membocorkan semua ceritamu.”
Daniel: “Janji saja tidak cukup. Orang-orang banyak berjanji nyatanya juga diingkari.”
Terry: “Lalu kau mau apa? Janji darah? Kau pikir kau lagi berada di dunia Naruto?”
Daniel: (tertawa kecil) “Kuchiyose no Jutsu, ya?”
Terry: “Aku tidak bisa menawarkan apapun. Mungkin pada akhirnya kau bisa lega. Dan aku bukan seseorang yang suka membocorkan rahasia. Kau pikir, aku sedang apa di toilet?”
Daniel: (berpikir sejenak) “Buang air?”
Terry: “Standard sekali jawabanmu.”
Daniel: “Bukannya toilet memang buat buang air?”
Terry: “Salah. Masa setahumu toilet cuma buat buang air?”
Daniel: (berpikir) “Em… sembunyi?”
Terry: “Ada lagi. Sedikit lagi jawabanmu benar.”
Daniel: “Duh, kenapa kita malah main tebak-tebakan tidak jelas, sih?”
Terry: “Supaya kau rileks dulu sebelum bercerita.”
Daniel: “Hmmm… (berpikir lagi) tidur?”
Terry: “Makan.”
Daniel: (terkejut) “Hah? Makan?”
Terry: “Ya. Makan siang.”
Daniel: (terdengar tidak percaya) “Kau makan siang di kamar mandi?”
Terry: “Kafetaria terlalu ramai. Aku tidak suka makan di sana.”
Daniel: “Oh… begitu.”
Terry: “See? Kau tahu aku bukan seseorang yang punya teman bahkan untuk membocorkan rahasia.”
Daniel: “Oke… valid.”
Terry: “Jadi?”
Daniel: (menghela napas) “Harus kumulai dari mana?”
Terry: “Dari asal mula anxiety attack-mu. Aku sering baca kalau anxiety attack muncul karena latar belakang rumah yang tidak baik. Aku tidak mau berasumsi, tapi apakah keluargamu baik-baik saja?”
Daniel: “Baik-baik saja dalam hal apa?”
Terry: “Ayah dan ibumu masih bersama?”
Daniel: “Ya. Masih. Masih pakai cincin nikah juga. Tidak ada ketuk palu. Tapi mereka orang-orang yang paling tidak peduli.”
Terry: “I see.”
Daniel: “Mereka cuma peduli pekerjaan. Mengumpulkan uang seperti uang dibawa sampai mati. Tidak ada percakapan di meja makan. Aku makan sendiri.”
Daniel: “Aku tumbuh tidak dengan menceritakan hari-hariku di sekolah. Aku terbiasa memendam semuanya sendiri dan berpikir kalau nanti akan hilang. Ternyata sampai umurku segini, aku tidak bisa cerita pada seseorang."
Terry: "Karena kau tidak punya tempat untuk cerita."
Daniel: "Ya."
Terry: "Lalu? Ada lagi?"
Daniel: "Ada. Banyak. Aku bingung harus cerita yang mana."
Terry: "Karena kau sudah cerita tentang keluargamu, bagaimana kalau tentang teman?"
Daniel: "Kurasa aku tidak punya masalah dengan teman."
Terry: "Serius? Orang-orang seusia kita kalau tidak bertengkar dengan teman belum lengkap kumpulan masalahnya."
Daniel: "Entahlah. Aku tidak tahu apakah mereka membicarakanku di belakang atau aku memang tidak punya masalah— (diam sejenak) Ah, kurasa, ada satu anak."
Terry: "Mm. Okay, go on."
Daniel: "Aku lelah menjadi murid kesayangan para guru."
Terry: (mengernyitkan kening) "Sebentar. Apa hubungannya jadi murid kesayangan guru dengan masalah dengan teman?"
Daniel: "Ada, kok. Buktinya terjadi padaku. Guru-guru sering menjadikan namaku dan aku sebagai contoh. Mereka bilang kalau yang lain harus bisa sepertiku, nilai selalu stabil, berprestasi di bidang yang diminati. Dan kurasa, hal ini yang membuat salah seorang anak di kelasku menjadi membenciku."
Daniel: "Anak ini memang tidak pernah bilang, "Heh, aku benci kau" di depan wajahku, tapi dia tidak pernah menyapa di kelas, atau membuang muka ketika aku menyapanya."
Terry: "Laki-laki atau perempuan?"
Daniel: "Laki-laki."
Terry: "Oh."
Daniel: "Hanya 'oh' saja?"
Terry: "Apakah ceritamu sudah selesai?"
Daniel: "Belum, masih ada lagi."
Terry: "Lanjutkan."
Daniel: "Ya… begitu. Sampai mana tadi—oh, ya. Intinya, aku tahu anak ini membenciku karena tingkah lakunya. Lagipula, jujur, aku sendiri tidak suka menjadi anak emas para guru."
Terry: "Kenapa? Baru kali ini aku dengar ada seseorang yang tidak ingin menjadi anak emas para guru. Kau ini bisa dibilang one of a kind, ya."
Daniel: "Bukan perkara one of a kind. Kau tahu, menjadi anak emas para guru berarti kau harus kehilangan dirimu sendiri."
Terry: "Maksudnya?"
Daniel: "Guru-guru berkata bahwa aku adalah anak yang baik. Tidak pernah terlambat masuk kelas, nilai selalu di atas rata-rata, tapi prestasi sepak bolaku terus lancar. Guru-guru berkata bahwa aku adalah anak yang sopan, yang tenang, selalu berhasil mendinginkan suasana, tidak pernah merokok, tidak pernah minum alkohol. Padahal, ada kalanya aku muak dengan teman sekelasku dan aku ingin menonjoknya. Ada kalanya aku ingin menghisap rokok dan minum alkohol, tidak peduli underage atau tidak."
Daniel: (menghela napas) "Tapi, karena aku sudah punya embel-embel "kesayangan para guru", aku tidak punya pilihan lain selain mengikuti apa yang mereka katakan. Mereka membangun persona menggunakan namaku, padahal aku yakin aku tidak sebaik citra yang mereka buat."
Terry: "Kau pernah merokok?"
Daniel: "Ya."
Terry: "Kau pernah minum alkohol juga?"
Daniel: "Ya."
Terry: "Tuh, kau tidak kehilangan dirimu sendiri."
Daniel: "Itu hanya coba-coba. Di rumah sendiri. Aku tidak bisa merokok dan minum di depan teman-temanku, bahkan klub sepak bola sekalipun. Aku punya persona yang harus aku jaga karena dia terlanjur melekat dalam diriku."
Terry: "Jadi, kau ini pemberontak juga. Diam-diam."
Daniel: "Mungkin? Pada akhirnya aku selalu berbohong. Dan kau tahu, berbohong sangat melelahkan."
Terry: "Berujar jujur menyakitkan, ketika berbohong pun melelahkan. Hidup ini memang aneh."
Daniel: (tertawa kecil) "Ya. Hidup segan mati pun tak mau."
Terry: (mendengar suara bel berbunyi samar-samar) "Kau dengar itu? Sudah waktunya masuk."
Daniel: "Biarkan saja. Aku ingin membolos. Kalau kau ingin pergi ke kelas, tidak apa-apa. Aku masih butuh waktu untuk sendirian."
Terry: "I don't want to go to class either. Membolos satu pelajaran saja tidak membuat kita mati."
Daniel: "Wow, kau cukup berani juga, ya."
Terry: "Tidak bermaksud sombong, sih, tapi aku tidak pernah membolos selama dua tahun. Kurasa hari ini adalah jatahku."
Daniel: "Demi mendengarkan orang asing di toilet sebelahmu bercerita?"
Terry: "Tidak masalah. Ceritamu lebih asyik daripada menonton film hitam-putih di kelas Mrs. Peggy. Jadi, lanjutkan."
Daniel: "Aku baru putus dengan pacarku."
Terry: (diam mendengarkan)
Daniel: "Dia berselingkuh. Dengan murid dari sekolah lain."
Terry: "Turut berduka."
Daniel: "Seharusnya memang aku tidak boleh percaya pada orang lain."
Terry: "Cinta memang begitu. Didasarkan pada janji saja tidak cukup."
Daniel: "Aku sudah muak dengan janji. Dia bilang dia tidak akan meninggalkanku. Hah! (mendengus keras) Bodoh sekali aku karena percaya pada omong kosong. Sekarang dia sudah tahu kelemahanku dan dia pergi begitu saja. Jalang."
Terry: "Jalang adalah sebutan yang keras sekali."
Daniel: "Pantas untuk dia. Sejujurnya aku tahu kalau selama kami pacaran, kontak laki-laki di isi aplikasi pesan instannya tidak cuma aku. Ada dua orang dari kelas 12, tiga orang dari kelas 10, lalu ada entah berapa lagi dari sekolah-sekolah lain. Gila, ya?”
Terry: “Ternyata perempuan bisa seperti itu. Aku tidak menyangka. Kau tahu semua itu dari mana?”
Daniel: “Aku sendiri yang melihatnya.”
Terry: “Wow (tertawa kecil) Apa yang kau pikirkan waktu itu?”
Daniel: “Waktu itu aku masih bodoh.”
Terry: “Sekarang sudah tidak bodoh?”
Daniel: (tertawa karena celetukan sarkastik Terry) “Diam kau, biar kulanjutkan bercerita. Dulu, dirayu sedikit sudah luluh. Dia bilang mereka bukan siapa-siapa, hanya teman, katanya.”
Terry: “Aduh, alasan yang klasik.”
Daniel: “Karena dia anggota pemandu sorak, jadi kupikir memang pemandu sorak punya banyak relasi.”
Terry: “Tunggu. Kau pacaran dengan pemandu sorak?”
Daniel: “Memangnya kenapa? Ada yang salah dengan gadis-gadis pemandu sorak?”
Terry: “Kau ini masuk klub olahraga tapi tidak tahu desas-desus tentang gadis-gadis pemandu sorak?”
Daniel: “Uh… tidak? Selama ini aku melihat mereka sebagai orang-orang yang baik.”
Terry: “Astaga. Jelas saja dia meninggalkanmu semudah itu! Gadis-gadis pemandu sorak itu lebih banyak busuknya daripada bagusnya. Mereka mudah mendapatkan banyak lelaki dalam sekali jaring karena cantik dan punya badan yang bagus. Kehilangan kau bukan sesuatu yang besar untuk mantan kekasihmu. Masih untung mantan kekasihmu punya pacar dari sekolah lain. Kalau dari sekolah ini, mungkin kau bisa melihatnya ciuman vulgar dengan pacar barunya di lapangan.”
Daniel: “Duh…. Bisa kau haluskan sedikit kata-katamu? Kau membuatku mual.”
Terry: “Memang kenyataannya begitu.”
Daniel: “Kau pernah punya mantan kekasih dari pemandu sorak juga?”
Terry: “Aku? Punya pacar? Dan dari pemandu sorak?”
Daniel: “Kau tahu banyak tentang gadis-gadis pemandu sorak.”
Terry: “Ha ha ha (tertawa sarkastik) mana mungkin. Kau tahu aku makan siang di toilet. Seseorang sepertiku tidak akan pernah mau berpikir soal pacaran.”
Daniel: “Siapa yang tahu?”
Terry: “Tidak pernah terjadi dan tidak akan pernah terjadi. Kau tahu, orang-orang bilang kalau masa sekolah adalah masa coba-coba. Pacaran dengan A, putus, lalu pacaran lagi dengan B. Menurutku, itu cuma peer pressure. Tekanan yang kau dapatkan karena orang-orang di sekitarmu melakukan hal yang serupa.”
Daniel: “Lalu, caramu menghindar dari peer pressure bagaimana?”
Terry: “Aku saja tidak punya teman, bagaimana bisa dapat peer pressure?”
Daniel: “Memangnya kau sangat sendirian, ya?”
Terry: “Tidak ada yang benar-benar kusebut sebagai teman.”
Daniel: “Kalau begitu, mau berteman denganku?”
Terry: “Apa alasanmu sampai kau mengajakku berteman?”
Daniel: “Entahlah? Kau kelihatannya seperti orang yang menyenangkan.”
Terry: “Kau bisa melihatku? Dari balik dinding kamar mandi ini?”
Daniel: (tergelak) “Sialan, kau membalikkan semua kata-kataku!”
Terry: (tersenyum) “Kau bisa tertawa sekarang. Apakah hatimu sudah lega?”
Daniel: (menyandarkan kepala ke dinding kamar mandi) “Ya, jauh lebih baik dibandingkan tadi. Dan kau benar satu hal.”
Terry: “Apa itu?”
Daniel: “Kalau kau bercerita, kau tidak perlu mengenal orang lain. Yang penting lega dulu. Selama ini, aku berpikir kalau aku harus mengenal baik seseorang supaya aku bisa bebas bercerita. Nyatanya, aku mengenal mantan pacarku. Aku menceritakan semua masalahku padanya dan sekarang dia pergi. Aku tidak punya seseorang yang bisa kujadikan tempat bercerita.”
Terry: “Dan kau bertemu dengan bocah random di kamar mandi.”
Daniel: “Bocah random yang sarkastik, lebih tepatnya.”
Terry: (tertawa kecil) “Maaf, memang sudah cetakannya dari sana begini.”
Daniel: “Tidak apa-apa. Aku butuh seseorang yang jujur dan blak-blak-an seperti kau. Terlalu banyak sugary words yang kuterima, aku sampai tidak percaya kata-kata mereka.”
Terry: “Tapi kau mempercayai seorang bocah random di kamar mandi lama sekolah. Kau tidak terpikir kalau aku hantu?”
Daniel: (mendengus lalu tertawa) “Hantu? Kenapa hantu jauh lebih manusiawi daripada manusia?”
Terry: “Wow, that’s deep, man.”
Daniel: “Kalaupun kau memang hantu, aku tidak masalah. Seorang hantu penunggu kamar mandi lama sekolah tidak bisa ke mana-mana, rahasiaku tidak terbongkar, aku juga bisa leluasa bercerita.”
Terry: “Hahaha, kau terdengar serius sekali.”
Daniel: “Celetukanmu membuatku berpikir lagi. Aku ingin melihat wujudmu.”
Terry: “Hah? Untuk apa?”
Daniel: “Untuk membuktikan kalau kau manusia atau hantu. Kalau kau manusia, ayo kita berteman. Kalau kau hantu, ayo kita berteman juga.”
Terry: “You aren’t serious, are you?
Daniel: “I’m a man with words. Tentu saja aku serius. Tidak peduli kau manusia atau hantu, aku ingin berteman denganmu.”
Terry: “Tapi aku tidak ingin berteman denganmu.”
Daniel: “Mengapa begitu? Kau sudah mendengar semua ceritaku!”
Terry: “Tadi kau bilang, kau setuju kalau bercerita tidak butuh kenal. Aku ingin tetap seperti ini. Aku tidak mengenalmu. Kau tidak mengetahui aku siapa. Kita tidak saling mengenal nama dan tahu sosok di balik dinding. Anonim.”
Daniel: (bersikeras) “Tetapi kau sudah tahu ceritaku. Kau bisa dengan mudah mengetahui siapa kapten sepak bola yang baru saja ditunjuk. Tapi aku tidak bisa mengenalimu karena kau tidak ingin kujadikan teman!”
Terry: “Tentang itu, aku sama sekali tidak peduli. Kapten sepak bola atau tidak, kau cuma seorang anak laki-laki yang punya anxiety. Kau tahu aku makan di kamar mandi. Untuk apa aku beromong kosong pada yang lain kalau kapten sepak bola yang baru ternyata ‘sakit’?”
Daniel: “Tapi aku serius, aku ingin berteman denganmu! Bukan masalah aku takut kau menyebarkan ceritaku, aku hanya ingin berteman.”
Terry: “Apa alasanmu?”
Daniel: “Apakah berteman butuh alasan?”
Terry: “Bagiku, ya. Seluruh hal di dunia ini punya alasan.”
Daniel: “Kalau begitu, sebutkan.”
Terry: “Kenapa kau berlagak seolah kau bisa menyanggupi semuanya? Berhentilah berpura-pura bisa dalam segala hal.”
Daniel: “Itu karena aku penasaran denganmu, Bocah Misterius!”

Suasana hening seketika. Baik Terry dan Daniel terdiam. Terry berhenti mengetuk-ngetuk kaki. Daniel tersentak karena ia baru saja menggunakan nada tinggi pada orang asing di kamar mandi.

Terry: “Lihat, kan? Kau cuma penasaran. Pada akhirnya, dasar dari keinginanmu berteman denganku adalah karena rasa penasaran. Setelah rasa penasaranmu tuntas, maka habis manis sepah dibuang. Aku tidak yakin kau benar-benar serius ingin berteman denganku setelah aku mendengar kata “penasaran” dari mulutmu.”
Daniel: (tercenung di tempatnya)
Terry: “Kata-kataku mungkin terasa jahat, tapi maaf, aku tidak mudah percaya pada orang lain. Apalagi kita bertemu dalam keadaan terpisah dinding seperti ini. Kaupikir aku memiliki rasa percaya sebesar apa?”
Daniel: “Tapi aku menyerah dan akhirnya bercerita kepadamu karena aku percaya.”
Terry: “Kau percaya karena aku adalah anak penyendiri, tidak punya teman, yang makan di kamar mandi lama sekolah. Kalau aku bilang aku sedang buang air seperti alasan umum orang-orang, kau tidak akan mungkin percaya.”
Daniel: (terdiam)
Terry: “Aku tahu dan maklum kalau kau merasa penasaran. Itu hal yang lumrah dan manusiawi. Tapi aku bukan seseorang yang bisa menolerir apa yang terjadi setelah rasa penasaran itu habis.”
Daniel: “Apakah kau memiliki rahasia yang besar?”
Terry: “Aku tidak tahu apakah kau sudah tahu atau belum, tetapi mengingat kita bertemu di antara bilik ini, kurasa bisa disebut rahasia besar.”
Daniel: “Kau tidak berencana untuk memberi tahu rahasia itu padaku?”
Terry: “Tidak.”
Daniel: “Kenapa tidak?”
Terry: “Karena aku pikir tidak perlu.”
Daniel: “Jadi, kau sungguh-sungguh tidak mau berteman denganku?”
Terry: “Mungkin akan butuh banyak waktu yang lama sampai aku memutuskan untuk berkata, “ya”. Sampai saat itu tiba, aku tidak akan mau membagi rahasiaku denganmu.”
Daniel: “Baiklah (dengan suara memaklumi), kalau begitu, bagaimana aku bisa mencarimu untuk bercerita lagi?”
Terry: “Apakah kau masih membutuhkanku untuk mendengarkan ceritamu?”
Daniel: “Ya… aku merasa nyaman.”
Terry: “Setiap istirahat makan siang, aku ada di sini. Ketuk saja pintu kamar mandinya. Kalau kujawab dengan, “hei”, maka ada aku. Jika aku tidak menjawab, berarti aku tidak ada.”
Daniel: “Baiklah, Bathroom Buddy, terima kasih telah mendengarkan ceritaku. Kau orang yang jujur dan menyenangkan. Aku sungguh berharap bisa menjadi temanmu, tetapi kau belum sepenuhnya mempercayaiku. Tidak mengapa. Bisa kita bersalaman? Sebelum aku pergi lebih dulu?”

Terry berdiri di atas kloset. Tangannya diulurkan melewati pembatas bilik. Daniel ikut berdiri pula. Ia melihat ujung penutup hoodie hitam yang ia yakini itu adalah Terry.

Daniel: (menjabat tangan Terry) “Terima kasih.”
Terry: (menggumam) “Ya, sama-sama.”

Daniel melangkah keluar dari kamar mandi. Hatinya terasa ringan meskipun masih ada setitik penasaran tentang kawan yang ditemuinya di sana.


Malang, 11 November 2019

Nabila Khansa Izzaturrahmi lahir di Malang, 2 April 1999. Kesukaannya pada dunia tulis menulis dimulai sejak SD dan berlangsung hingga dewasa. Penulis favoritnya adalah Ika Natassa dan Oka Rusmini. Saat ini ia sedang menempuh pendidikan di Universitas Negeri Malang.


Comments

Popular posts from this blog

NASKAH DRAMA ANAK YANG DURHAKA

ULANG TAHUN

Drama ANAK-ANAK TK