NASKAH DRAMA PESAN
|
|
|
PESAN
|
|
KARYA RORI DINANDA BESTARI
|
|
|
|
|
TOKOH :
Afifa,
seorang gadis berusia 19 tahun
Doni,
seorang pemuda teman lama Afifa
Gintan,
adik Afifa yang berusia 7 tahun
Tukang
pos,
pengantar surat untuk Afifa
Mbok
Jum, asisten rumah tangga di rumah Afifa
BABAK
1
DI
RUMAH
INI
SUDAH TAHUN KE LIMA AFIFA PINDAH RUMAH. TAK BANYAK BERUBAH, MASIH SAMA SEPERTI
LIMA TAHUN LALU. DIA SELALU MERASA KESEPIAN. BUKAN TAK MAU BERTEMAN, TAPI
MEMANG DIA MASIH BELUM MENEMUKAN SESEORANG YANG BISA MENGERTINYA.
SUATU
SORE, AFIFA, SEORANG GADIS BERUSIA 19 YANG TENGAH DUDUK SANTAI DI RUANG TENGAH
SEBUAH RUMAH SAMBIL MEMAINKAN GAWAI PINTARNYA. SEMENTARA ITU, MBOK JUM, ASISTEN
RUMAH TANGGA AFIFA SEDANG MENYAPU. TIBA-TIBA SEORANG TUKANG POS DATANG.
TUKANG
POS : Permisi? (mengetuk pintu
rumah)
AFIFA : Ya? Siapa?
TUKANG
POS : Paket surat mbak.
MBOK
JUM : (berjalan ke arah
pintu)
AFIFA : Biar Afifa
saja, Mbok.
MBOK
JUM : Baik, Non.
AFIFA : (membuka
pintu)
TUKANG
POS : Surat, Mbak.
AFIFA : (menerima surat)
TUKANG
POS : Tanda tangan dulu mbak,
disini (menyodorkan surat tanda terima)
AFIFA : (tanda
tangan)
TUKANG
POS : Terima kasih, Mbak.
AFIFA : Sama-sama
pak, Pak. Selamat bekerja!
TUKANG
POS : Semoga harimu menyenangkan,
Nona.
AFIFA : (tersenyum
lalu menutup pintu)
AFIFA
MENGAMATI SURAT ITU DAN MATANYA BERHENTI PADA NAMA PENGIRIM SURAT. LAGI-LAGI
NAMA YANG SAMA SEPERTI SURAT-SURAT SEBELUMNYA.
MBOK
JUM : Dari siapa, Non?
AFIFA : Tidak tau,
Mbok. Ini sudah ketiga kalinya. Tapi Afifa tidak kenal.
MBOK
JUM : Ah mungkin saja dari
teman lama non.
AFIFA :
Hahah.. teman lama yang mana mbok? Mbok tahu sendiri aku tidak pernah punya
teman selain Mbok dan Gintan.
MBOK JUM :
Iya juga non, memangnya apa isinya, Non?
AFIFA :
Tidak jelas, aku tidak bisa membacanya. Tulisannya sangat aneh. Tapi ini belum
kubuka. Semoga hari ini ada tulisan yang bisa kubaca.
MBOK
JUM : Mungkin orang iseng,
Non.
AFIFA :
Bagaimana orang-orang primitif masih dapat hidup di jaman sekarang? Maksudku,
ini 2019. Masih ada saja orang yang memilih mengirim surat untuk bertegur sapa.
Entahlah Mbok, aku benar-benar tidak mengerti.
AFIFA
KEMUDIAN DUDUK DI SOFA RUANG TAMUNYA DAN KEMUDIAN MEMAINKAN GAWAI PINTARNYA
KEMBALI. MBOK JUM YANG SELESAI MENYAPU SEGERA MENUJU DAPUR. TIBA-TIBA GINTAN,
ADIKNYA, MENGHAMPIRINYA.
AFIFA : Mana
Gintan, Mbok? Kok tidak kelihatan batang hidungnya hari ini?
MBOK JUM :
Saya lihat tadi sedang di kamar, sedang bersiap-siap. Barangkali akan pergi.
AFIFA :
Hari Minggu begini mau kemana?
MBOK JUM :
Tidak tahu, Non.
GINTAN :
Mbak Afifa, Gintan berangkat dulu ya!
AFIFA :
Eh, mau kemana hari Minggu begini?
GINTAN :
Ke tempat Pak Guru, Mbak. Mau belajar menggambar.
AFIFA :
Pak Guru yang mana? Kok Mbak tidak pernah tau?
GINTAN :
Ah, Mbak kan memang tidak pernah tau orang-orang sekitar. Udah ya Mbak, Gintan
sudah ditunggu. Dadahhh..!
GINTAN
MENINGGALKAN AFIFA DAN PERGI MENEMUI GURUNYA. AFIFA YANG PENASARAN DENGAN SOSOK
GURUNYA AKHIRNYA BERLARI DAN MENGINTIP LEWAT JENDELA.
AFIFA :
Mbok?
MBOK JUM :
Iya, Non?
AFIFA :
Mbok tau siapa dia?
MBOK JUM :
Non Gintan bilang itu gurunya,
AFIFA :
Tapi seperti tidak asing bagi saya, Mbok.
MBOK JUM :
Tidak asing bagaimana, Non?
AFIFA :
Ya tidak asing saja, seperti pernah bertemu sebelumnya.
MBOK JUM :
Ah, barangkali Non pernah bertemu di jalan. Lagipula banyak orang yang mirip
jika hanya terlihat punggungnya saja.
AFIFA :
Benar juga ya mbok,
KEESOKAN
HARINYA, SEPERTI BIASANYA TUKANG POS DATANG DAN MENGANTARKAN SURAT.
TUKANG
POS : Permisi? Surat surat! (mengetuk
pintu)
MBOK
JUM : (membuka pintu)
TUKANG
POS : Surat, Bu (sembari
menyodorkan surat kepada Mbok Jum)
AFIFA :
(menghampiri Mbok Jum dan Tukang Pos) Surat lagi?
MBOK
JUM : Iya, Non (sambil
menyodorkan surat kepada Afifa)
AFIFA :
(menandatangani surat terima) Pak, saya mohon, ini yang terakhir kalinya. Bapak
tidak perlu mengirim surat-surat dari orang ini lagi. Saya mohon untuk tidak
mengirimkan surat pada saya lagi.
TUKANG POS : Tapi, Mbak..
AFIFA :
Sudah, Pak. Bapak bilang padanya untuk berhenti mengirimi saya surat. Entah
bagaimanapun, saya tidak mau menerimanya lagi.
TUKANG POS : Baiklah, saya akan menyampaikan itu pada pengirim. Lebih
lanjutnya saya akan menghubungi Anda lagi.
AFIFA :
Baik pak, Terima kasih.
TUKANG POS : Kalau begitu, saya pamit permisi dulu, Mbak.
AFIFA :
Baik pak, Silakan (menutup pintu kembali).
MBOK JUM :
Hmm, kalau saya pikir-pikir memang aneh ya, Non.
AFIFA :
Aneh bagaimana, Mbok?
MBOK JUM :
Kenapa pengirim ini terus mengirim surat, barangkali memang penting, Non.
AFIFA :
Mbok, ini sudah 2019. Tukang cilok saja sekarang sudah bisa main hp mbok.
Kemarin saya lihat juga anak-anak SD sudah bisa naik ojek online sendiri.
MBOK JUM :
Non, tidak coba membuka surat yang ini? Barangkali isinya berbeda.
AFIFA :
(membuka surat) Ah, apanya yang berbeda?
MBOK JUM :
Coba lihat, Non.
AFIFA :
(menyodorkan surat)
MBOK JUM :
Lihat, Non!
AFIFA :
Ah, aku kan sudah melihatnya mbok!
MBOK JUM :
Non lihat dulu, tulisannya seperti tulisan tangan Gintan.
AFIFA :
(buru-buru melihat surat kembali) Ah, iya mirip ya.
MBOK JUM :
Jangan-jangan non Gintan yang mengirim suratnya. Anak itu memang seringkali
jahil.
AFIFA :
Ah, mana mungkin? Anak 7 tahun sepertinya tahu cara mengirim surat.
MBOK JUM :
Ah iya juga, Non coba tanya kepada Non Gintan.
AFIFA :
Iya deh, Nanti kalau Gintan sudah pulang.
AFIFA
KEMUDIAN KEMBALI DUDUK DI RUANG TENGAH. GINTAN YANG SEPULANG DARI SEKOLAH
KEMUDIAN MEMASUKI RUMAH SAMBIL MENGHAMPIRI AFIFA.
GINTAN :
Assalamu’alaikum.
AFIFA :
Waalaikumsalam. Udah pulang , Dek?
GINTAN :
Sudah, Mbak. Gintan masuk kamar, Mbak.
AFIFA :
Eh, Gintan. Sini dulu sebentar.
GINTAN :
Kenapa, Mbak?
AFIFA :
Kamu sudah pernah menulis surat?
GINTAN :
Surat? Ah, Gintan nggak pernah ,
Mbak. Tapi teman Gintan pernah menulis surat cinta.
AFIFA :
Eh, kamu ini masih kecil sudah cinta-cintaan. Gak boleh ya!
GINTAN :
Kan bukan Gintan yang menulis, Mbak.
AFIFA :
Awas saja kalau sampai Mbak tau kamu aneh-aneh.
GINTAN :
Nggak kok hahaha.. ya sudah mbak,
dadah..
KEESOKAN
HARINYA AFIFA PERGI UNTUK BEKERJA. SEPULANG SEKOLAH GINTAN DUDUK-DUDUK BERMAIN BONEKA SAMBIL
MEMAKAN KUE APEL. TIBA-TIBA TUKANG POS KEMBALI LAGI KE RUMAH AFIFA UNTUK
MENGANTAR SURAT. NAMUN KALI INI GINTAN YANG MENERIMANYA
TUKANG POS : Permisi, pos pos! (mengetuk pintu)
GINTAN :
(membuka pintu)
TUKANG POS : Kakak mana dik?
GINTAN :
Bekerja, Pak.
TUKANG POS : Ini ada surat untuk kakak. Nanti kamu berikan padanya ya.
GINTAN :
Baik, Pak.
TUKANG POS : Anak baik (sembari mengelus kepala Gintan)
GINTAN :
Pak, apa Bapak mau ini? (menyodorkan kue apel)
TUKANG POS : Ah, tentu. Buat saya?
GINTAN :
(mengangguk sambil tersenyum)
TUKANG POS : Terima kasih, Nak. Bapak pulang dulu ya!
GINTAN :
Iya pak, dadah…
SORENYA
GINTAN PULANG DENGAN KEADAAN SANGAT LELAH. MBOK JUM SEDANG MENYIAPKAN MAKAN MALAM.
AFIFA SEGERA MANDI DAN MAKAN MALAM BERSAMA GINTAN.
AFIFA : Bagaimana
sekolah kamu hari ini?
GINTAN
: Senang, Gintan
belajar bahasa inggris di sekolah.
AFIFA : Wah,
belajar tentang apa?
GINTAN : Nama-nama hewan, Mbak.
AFIFA : Apa coba
contohnya?
GINTAN : Kucing itu cat, burung itu bird.
AFIFA : Kalau
nyamuk apa?
GINTAN : (berpikir agak lama)
AFIFA : Apa hayo?
GINTAN : Nguuing nguuing.. hahaha
AFIFA : Hahaha
salah, ngawur aja kamu.
GINTAN :
Hahaha.. Oh iya Mbak, kemarin aku lulus tes menggambar lo. Mbak mau lihat??
AFIFA :
Iya nanti setelah makan ya.
GINTAN :
Oke mbak.
AFIFA :
Oh iya, Gintan. Ngomong-ngomong siapa yang bilang begitu?
GINTAN :
Pak Guru.
AFIFA :
Guru yang mana?
GINTAN :
Yang kemarin itu lo, Mbak.
AFIFA :
Yang memakai kacamata itu?
GINTAN :
Kok mbak tau?
AFIFA :
Iya, tempo hari kan kamu pergi dengannya, mbak melihat.
GINTAN :
Oh iya, Mbak.
AFIFA :
Memangnya dia mengajar apa di sekolahmu?
GINTAN :
Menggambar. Orangnya sangat baik, Mbak. Gambarnya juga sangat bagus. Tapi
sayangnya dia tidak bisa membaca dan menulis.
AFIFA :
Kenapa bisa begitu?
GINTAN :
Tidak tau.
AFIFA :
Ah! Ada-ada saja kamu.
GINTAN :
Teman-teman bilang begitu, Mbak.
AFIFA :
Memangnya dia sudah lama mengajar di sekolahmu?
GINTAN :
Belum lama ini, dia sangat menyenangkan. Bahkan hari ini dia juga memberiku kue
apel.
AFIFA :
Benarkah?
GINTAN :
Iya.
AFIFA :
Lalu dimana kue apelnya sekarang?
GINTAN :
Sudah habis, Mbak.
AFIFA :
Ah kamu ini.. kamu yang habiskan?
GINTAN :
Tentu tidak, saya berikan pada bapak-bapak siang tadi.
AFIFA :
Bapak-bapak yang mana Gintan?
GINTAN :
Bapak yang mengantar surat. Oh ya, Gintan hampir lupa memberikan pada Mbak.
AFIFA :
Ha? Dia datang lagi?
GINTAN :
Memangnya dia ini siapa?
AFIFA :
Sekarang mana suratnya?
GINTAN :
Sebentar.
AFIFA :
(melanjutkan makan).
GINTAN :
(datang membawa surat) Ini mbak.
AFIFA :
Yaudah kamu habiskan dulu makannya.
GINTAN :
(mengangguk)
GINTAN
DAN AFIFA TELAH MENGHABISKAN MAKAN MALAMNYA AFIFA DUDUK DI SOFA SAMBIL
MEMAINKAN GAWAI PINTARNYA. SEMENTARA ITU, GINTAN SIBUK SENDIRI BERMAIN DENGAN
BONEKA-BONEKA MILIKNYA.
GINTAN : (bermain dengan boneka)
AFIFA : Gintan..
GINTAN : Hmm?
AFIFA : Kamu yakin
tidak pernah menulis surat?
GINTAN : Kenapa memangnya mbak?
AFIFA : Tidak,
hanya bertanya.
GINTAN : Kenapa? Mbak mau menulis
surat cinta?
AFIFA : Ngawur aja
kamu, mbak hanya bertanya.
GINTAN : Iya-iya hahaha..
AFIFA : Kamu itu
sudah besar, kok masih suka mainan boneka sih?
GINTAN : Biarin lah mbak, kayak
mbak nggak pernah aja.
AFIFA : Ih, memang
mbak nggak pernah suka boneka.
GINTAN : Aneh, terus mbak mainan
apa?
AFIFA :
Mobil-mobilan, lebih gagah dan berani (tertawa)
GINTAN : Yah itu sih Mbak Afifa.
Gintan mah nggak mau.
AFIFA : Yah,
terserah Gintan juga sih.
GINTAN : Mbak, ini apa mbak?
(mengambil gumpalan kertas di tempat sampah)
AFIFA : Mana?
(terus menatap layar gawai pintar)
GINTAN :
U-n-teu-k A-fi-fa. I-ni siur-at dari te-man lam-..
AFIFA :
(langsung menatap Gintan dan berlari ke arahnya) Gintan, coba mbak lihat!
(merebut kertasnya)
AFIFA :
(membaca surat) Untuk Afifa. Ini surat dari teman lamamu, Doni. Kabar baik, aku
sudah bisa melihat dunia belum lama ini. Ternyata indah sekali. Ini kehidupan
baruku, aku senang sekali. Semoga kita bisa berbincang jika kau punya waktu..
GINTAN :
Apa isinya?
AFIFA :
Gintan, siapa nama gurumu itu?
GINTAN :
Oh, pak Doni?
AFIFA :
Kamu yakin namanya Doni?
GINTAN : Iya, memangnya kenapa, Mbak?
AFIFA :
Gintan, besok mbak boleh menemui guru berkacamata itu?
GINTAN
: Mbak mau? Tentu saja aku senang. Nanti Gintan bilang pak Doni untuk main ke
rumah.
AFIFA : Oke.
BABAK 2
DI SEKOLAH
WAKTU MENUNJUKKAN PUKUL
12 SIANG, BEL PULANG SEKOLAH BERBUNYI. GINTAN SEGERA MENUJU KE RUANG GURU UNTUK
MENCARI KEBERADAAN PAK DONI. KETIKA SUDAH MENEMUKANNYA, GINTAN SEGERA
MENYAMPAIKAN MAKSUDNYA.
GINTAN : Pak Doni.. (gaya memanggil
anak kecil)
PAK DONI : Iya cantik, masuk sini.
GINTAN : Bapak hari ini kemana?
PAK DONI : Memangnya Gintan mau apa?
Belajar menggambar lagi?
GINTAN : (menggeleng)
PAK DONI : Lalu?
GINTAN : Ayo main ke rumah Gintan.
PAK DONI : Gintan maunya kapan?
GINTAN : Sekarang.
PAK
DONI : Maaf sekali nak,
Bapak sedang tidak bisa hari ini. Ada rapat bersama guru-guru yang lain.
GINTAN : Yah.. baiklah pak
(sambil murung berjalan keluar dari kantor guru).
KEESOKAN HARINYA,
GINTAN BENAR TAK PATAH SEMANGAT MENGAJAK PAK DONI UNTUK KE RUMAH. IA KEMBALI
LAGI BERBICARA SAAT PAK DONI MENGAJAR DI KELASNYA.
GINTAN : Pak..
PAK
DONI : Iya, Gintan?
GINTAN : Bagaimana jika sepulang
sekolah?
PAK
DONI : Hmm, baiklah.
GINTAN : Yey (sambil senyum
merekah di bibirnya)
PAK
DONI : Memangnya ada apa
kamu tiba-tiba mengajak saya ke rumah?
GINTAN : Kakak ingin bertemu
dengan Bapak.
PAK
DONI : (menahan rasa
senang) Kakakmu?
GINTAN : Iya. Sebenarnya sangat
aneh.
PAK
DONI : Aneh bagaimana?
GINTAN : Ya, aneh. Kakak kan
jarang mau bertemu orang asing.
PAK
DONI : Kakakmu masih saja
tidak berubah.
GINTAN : Maksudnya?
PAK
DONI : Ya masih saja
tidak mau bergaul, dari dulu juga begitu?
GINTAN : (kaget) Bapak kenal
kakak?
PAK
DONI : (ikut kaget karena
baru menyadari perkataannya) Hm, tidak.
GINTAN : Tadi Bapak bilang…
PAK
DONI : Maksud Bapak, dari
dulu kan Bapak belum pernah bertemu kakakmu, jadi bapak berpikir jika kakakmu
memang susah berbaur dengan orang baru.
GINTAN : Ya memang benar begitu,
Pak. Aneh, kan?
PAK
DONI : Tidak, mungkin dia
memang tidak gampang berteman dengan siapapun.
GINTAN : Hmm.. Pantas saja dia
hanya di rumah saja. Kalau pergi paling jauh ya mungkin di kantor.
PAK
DONI : Benarkah?
GINTAN : Iya, Gintan kan juga
pengen kenal dengan teman-teman kak Afifa. Bermain bersama, seperti teman-teman
yang lain. Makanya, Gintan senang sekali Pak Doni mau bersama Gintan.
PAK
DONI : (mengelus kepala
Gintan sambil tersenyum)
TIBA-TIBA BEL PULANG
SEKOLAH BERBUNYI, PERTANDA SAATNYA PULANG KE RUMAH MASING-MASING. DENGAN
SEMANGAT GINTAN MEMASUKKAN BUKU KE DALAM TASNYA DAN BURU-BURU MENGGANDENG
TANGAN PAK DONI.
PAK
DONI : (terkekeh kecil
melihat tingkah Gintan)
GINTAN : Ayo, Pak! (menggandeng
tangan pak Doni)
PAK
DONI : Sudah siap?
GINTAN : (mengangguk)
PAK
DONI : Kemana kita?
Belajar menggambar?
GINTAN : (menggeleng)
PAK
DONI : Lalu?
GINTAN : (menekuk bibirnya tanda
kecewa) Bapak lupa?
PAK
DONI : Hahaha.. tidak, Bapak
hanya bercanda.
GINTAN : Ah, Bapak. Ayo pak!
PAK
DONI : Nggak mau jajan
dulu?
GINTAN : (menggeleng)
PAK
DONI : Yakin?
GINTAN : (mengangguk) Ayolah pak!
PAK
DONI : Hahaha.. iya ayo.
BABAK
3
DI
RUMAH
AKHIRNYA
GINTAN DAN LAKI-LAKI TINGGI BERPARAS TAMPAN INI BENAR-BENAR MENGUNJUNGI RUMAH
AFIFA. AFIFA YANG SEDANG DI KAMAR LANGSUNG KELUAR KETIKA GINTAN MASUK KE DALAM
RUMAH.
GINTAN : (mengetuk pintu)
Assalamu’alaikum.. Mbak? Mbok?
MBOK JUM : (membuka pintu) Iya, Non
wa’alaikumsalam. Sudah pulang non?
GINTAN : Dimana mbak?
MBOK JUM : Di kamar, Non.
GINTAN : (berlari menuju kamar)
MBOK JUM : Silakan masuk, Mas.
PAK DONI : Terima kasih, Mbok.
MBOK JUM : Mas ingin minum apa?
PAK DONI : Tidak perlu repot-repot, Mbok.
MBOK
JUM : Saya bikinkan es teh
ya, Mas. Siang-siang begini memang panas sekali. Apalagi setelah perjalanan
paling cocok minum es.
PAK DONI : Hhahaha.. boleh, Mbok.
MBOK JUM : Tunggu sebentar, ya.
SUARA LANGKAH KAKI DARI
ARAH KAMAR YANG TERDENGAR SEDIKIT BERLARI MULAI MENDEKAT KE ARAH DONI. NAMUN
LANGKAH TERSEBUT TERHENTI TEPAT DI PINTU SEBELUM RUANG TAMU.
GINTAN : Pak, ini.. (menengok
belakang menyadari Afifa tidak ada)
PAK DONI : Ya, Gintan?
GINTAN : Ah, mana sih ini mbak
Afifa? (berjalan kembali ke arah kamar)
PAK DONI : (menatap bingung)
GINTAN : Mbak, ayolah!
AFIFA :
(menggeleng)
GINTAN : Mbak bilang ingin bertemu?
AFIFA : Hus
(menempelkan telunjuk ke bibirnya)
GINTAN : Pak Doni sudah menunggu,
ayolah!
AFIFA : (diam)
GINTAN : (menarik tangan Afifa
hingga di depan Pak Doni) Ini pak, kakakku..
AFIFA : (menatap
Doni dalam, hingga tak tersadar air matanya terjatuh)
PAK DONI : Fa?
AFIFA : (masih
terdiam menatap Doni)
PAK DONI : Fa?
AFIFA : Is that you, Don?
PAK DONI : Iya, ini aku. Doni, teman
lamamu (tersenyum)
AFIFA : (memeluk
Doni) Don, maafin aku.
PAK
DONI : (membalas pelukan
Afifa) It’s ok. Bagaimana kabarmu?
Sudah terlalu lama ya, Fa?
AFIFA : Harusnya
aku sadar itu kamu, Don. Maafin, aku terlambat.
PAK
DONI : (melepaskan
pelukan dan mengusap air mata Afifa) Belum, Fa. Kita masih bisa bertemu
sekarang (tersenyum)
GINTAN : Oh, jadi Bapak teman
Mbak Afifa?
PAK
DONI : Iya dulu, waktu di
rumah lama. Setelah kalian pindah, Bapak juga pindah ke luar negeri untuk
operasi.
GINTAN : Operasi apa, Pak?
PAK
DONI : Operasi mata.
AFIFA : Sudah, kamu masuk
dulu Tan. Jangan lupa ganti baju.
GINTAN : Iya, Mbak. (berjalan
menuju kamar)
MBOK
JUM : (masuk ruang tamu
mengantar teh) Ini mas tehnya, diminum.
PAK
DONI : Terimakasih, Mbok.
MBOK
JUM : Sama-sama, mas
(meninggalkan ruang tamu)
AFIFA : Sumpah, aku masih nggak percaya ini kamu, Don.
PAK
DONI : Aku juga hahaha..
(terkekeh kecil)
AFIFA : Jadi, kamu yang
mengirim surat selama ini?
PAK
DONI : Kau terganggu? Pak
pos sempat bilang padaku jika kau tak ingin menerimanya lagi. Tapi kali
terakhir, aku sedikit memaksa.
AFIFA : Karena aku nggak tau kalo itu kamu, Don.
PAK
DONI : Kau kan tahu, aku
tidak bisa menulis. Tapi aku belajar agar bisa menulis surat untukmu.
AFIFA : Dasar bodoh, kau
bisa langsung menemuiku kemari, Don. Tidak perlu lewat surat.
PAK
DONI : Aku takut kau tak
mengenaliku, jelas saja sudah lima tahun berlalu. Mana mungkin kau masih ingat?
AFIFA : Ngaco, temenku cuman
kamu. Mana mungkin aku lupa?
PAK
DONI : (terkekeh kecil
sambil mengacak rambut Afifa)
AFIFA : Jadi kamu juga pergi
setelah aku pindah untuk menyembuhkan matamu?
PAK
DONI : Iya, ke Singapura.
Ada seorang pendonor dari sana. Jadi aku harus juga pindah kesana. Toh, aku
juga melakukan operasiku disana.
AFIFA : Itu keajaiban. Lalu
kau pindah kesini?
PAK
DONI : Iya,
bertahun-tahun aku mencari kabarmu. Aku ingin kau adalah orang yang pertama aku
lihat saat aku bisa melihat. Akhirnya aku menemukan informasi tentangmu jika
berada di kota ini, dan aku langsung memutuskan untuk pindah ke sini.
AFIFA : (matanya kembali
berkaca-kaca) Terus, kenapa kau mencariku lagi setelah itu?
PAK
DONI : Ada sesuatu yang
ingin ku sampaikan.
AFIFA : Apa?
PAK
DONI : Afifa, bodoh
terlambat aku menyadari bahwa ternyata kau secantik ini.
AFIFA : Hahaha, ngaco..
PAK
DONI : (memegang tangan
Afifa) Terimakasih ya, Fa. Cuman kamu teman yang aku punya di dunia ini. Jangan
tinggalin aku lagi.
AFIFA : (mengangguk) Nggak akan, Don.
PAK
DONI : Kau mau jadi
pacarku?
AFIFA : Kau bercanda?
PAK
DONI : Aku serius, Fa.
AFIFA : Don, nggak lucu.
PAK
DONI : Aku yakin kau
orangnya, Fa. Jadi bagaimana?
AFIFA : Of course, YES.
PAK
DONI : (memeluk Afifa) Thank you, Fa. Aku janji nggak bakal lepasin kamu dan biarin kamu
pergi lagi.
AFIFA : Sama-sama, Don.
AFIFA DAN DONI PUN
BERSAMA-SAMA MENJALIN HUBUNGAN. SELANJUTNYA, MEREKA BERDUA MULAI BERCERITA
TENTANG KENANGANNYA DULU.
TENTANG
PENULIS
Rori
Dinanda Bestari, lahir di Tulungagung 22 Oktober 1998.
Menginjak usianya yang berkepala dua, wanita yang akrab disapa Rori ini sedang
menempuh pendidikan strata pertama di Universitas Negeri Malang pada jurusan
Sastra Indonesia. Ketertarikannya di bidang kesusastraan, khususnya puisi,
sudah digali sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga memutuskan untuk
mengambil sastra di jenjang perguruan tinggi. Meskipun mengaku tertarik dengan
kesusastraan, ini adalah kali pertamanya menulis naskah drama. Mahasiswi ini,
gemar menulis puisi pendek dalam akun instragramnya, @roridbestari.
Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi