NASKAH DRAMA PINOKIO
PINOKIO
Joshua Ronaldo
Cahyono
Tokoh
1. Randy: mahasiswa pendatang di Malang, lugu, tidak peka,
sok, tidak tahu caranya bersikap.
2. Lela: gadis rumahan biasa, galak, blak-blakan.
3. Muksin:
ramah, suka bercanda seperti bapak-bapak pada umumnya.
4. Rini:
skeptis, jutek dan
blak-blakan seperti Lela kakaknya.
BABAK 1
Hari
pertama “ngojek”, Randy mendapat pesanan disebuah restoran yang cukup ramai,
tak lama kemudian datang juga seorang bapak yang juga merupakan pengemudi ojek
online.
Bapak:
“Wah, ramai seperti
biasanya ya mas?”
Randy:
“Eh? Iya mungkin pak,
kebetulan saya pertama kali datang kemari.”
Bapak:
“Oh, masnya ngojek juga?
Pasti baru ya?” (Sambil menunjuk ke badan Randy, mengisyaratkan bahwa ia belum
mendapat jaket dari perusahaannya.)
Randy:
“Iya, saya perantau pak,
dari Bandung. Salam kenal, nama saya Randy.”
Muksin:
“Saya Muksin, mas. Salam
kenal ya!”
Randy:
“Ngomong-ngomong pak,
apa pemberian jaketnya sering terlambat begini?”
Muksin: “Iyo,
sam! Bapak dulu dapat jaketnya juga baru sebulan setengah setelah ngojek.”
Randy:
“Oh begitu pak.”
Tiba-tiba
terdengar suara teriakan karyawan dari dapur kepada petugas kasir.
Karyawan:
“Aduh, mbak! Pitik’e entek!”
Muksin:”Lho
yaopo seh kok iso entek!”
Randy:
“Kenapa, pak?”
Muksin:
“Ayamnya habis mas.”
Randy:
“Waduh, kemana tuh pak?”
Muksin:
“Nggak
tau mas! Lari ke pekarangan sebelah mungkin.”
Randy: “Waduh bahaya tuh bisa kena denda 10
juta per ayam!”
Muksin:
“Iya juga ya mas kan ada
undang-undang yang lagi ricuh di televisi! Bisa kaya dong pemerintah.”
Randy:
“Haha, bener juga tuh
pak!”
Muksin:
“Di Bandung juga ricuh
gitu mas?”
Randy:
“Cuman
orasi aja pak, nggak sampai baku hantam dengan aparat begitu. Memang sebagian
mahasiswa salah tangkap perihal undang-undang yang baru itu.”
Muksin: “Memang bagaimana mas contohnya?”
Randy:
“Contohnya yang bapak
sebutkan tadi, perihal unggas masuk kebun tetangga. Sebenarnya pasal tersebut
hanya untuk melindungi petani di pedesaan, bukan untuk mengkriminalisasi.”
Muksin:
“Terus nggak dipenajara
dong mas?”
Randy:
“Nggak
dong pak! Masa iya ayamnya cuman masuk lahan tetangga sendiri didenda? Tetangga
kita juga pasti memaklumi kalo ayam kita masuk lahan mereka, namanya juga
hewan.”
Muksin: “Emang undang-undang yang baru ini
sepertinya butuh disosialisasikan, supaya orang-orang yang gak paham hukum
kayak bapak gini biar gak buta peraturan.”
Randy: “Bener juga pak. Tapi masih ada lagi
yang lebih nggak masuk di akal.”
Muksin: “Yang mana itu, mas?”
Randy: “Perihal wanita yang pulang lebih dari
jam 10 malam katanya bisa di denda atau bahkan dipidana.”
Muksin:
“Lhadalah, kok ngono seh? Anak perempuan saya dirumah ada 2 lho, mana sukanya
pulang malam semua. Yang kerja kelompok lah, ngopi lah, acara kampus lah.
Bagaimana dong? Masa anak saya bakalan dipenjara mas?”
Randy: “Setahu saya nih pak, pasal itu berlaku
hanya untuk wanita pekerja dan terlunta-lunta waktu malanya itu. Jadi nggak semua wanita mendapat perlakuan
seperti itu. Kalo dilihat ya mungkin ada bagusnya biar pada wanita yang pulang
kerja ya langsung pulang bukannya keluyuran.”
Muksin: “Wah, tapi kalo menurut saya ya mereka
kan juga punya hak masing-masing buat melakukan apa saja yang mereka ingin,
mas. Soalnya mahasiswa jaman sekarang kalo pulang pasti pada malem semua,
apalagi mereka yang punya banyak tugas dan belajar kelompok.”
Randy: “Benar juga pak, tapi saya pulang malam
nggak takut apa-apa tuh!”
Muksin: “Lha kan sampean laki, mas!”
Randy: “Oh iya ding, hahaha saya lupa pak!”
Muksin: “Kok perasaan saya undang-undang sekarang
ini ya sudah bagus, kenapa diubah-ubah begitu sih mas?”
Randy: “Ya mungkin biar hukumnya itu menjangkau
sampai daerah terpencil pak! Maklum bukan anak hukum jadi saya asal bicara
saja.”
Muksin: “Walah
ngono ta mas! Hahaha!”
Tak lama kemudian, terdengar suara
dari kasir.
Karyawan: “Atas nama ojek Randy!”
Randy: “Wah orderan saya udah selesai pak! Saya duluan ya, nuhun!”
Muksin: “Nggih,
mas! Hati-hati dijalan.”
BABAK 2
Tak lama berselang, Randy melaju kencang dengan
sepedanya, menuju tempat customernya
untuk mengantarkan makanan. Tak lama kemudian ia bertemu dengan pemesan
tersebut.
Randy: “Dengan teh Lela?”
Lela: “Iya mas, lama banget sih?! Saya sudah
nungguin hampir 20 menit lho!”
Randy: “Eh iya maaf teh, tadi ayamnya masih
lepas ke pekarangan sebelah!”
Lela: “Hah? Yang bener mas? Ini ayamnya mentah
dong? Jangan-jangan masih hidup ini ayamnya? Awas nanti saya tuntut lho masnya!”
Randy: “Ya endak
teh, apa perlu saya cobain dulu buat memastikan?”
Lela: “Ya nggak gitu juga, sam!”
Randy: “Ngomong-ngomong, sam sam itu apa ya teh?
Kok saya sedari tadi sama bapak-bapak di sam-sam melulu tapi nggak tau artinya.”
Lela: “sam itu artinya mas! Tapi dibalik dari
belakang ke depan! Ngono lho.”
Randy: “Oh begitu, untung dijelasin sama
teteh. Sedari kemarin saya bingung teh banyak yang bilang kera ngalam begitu.
Saya kira mah disini banyak monyet
kera begitu yang berkeliaran teh. Naon
ini mah kera-kera melulu dari kemarin saya bingung.”
Lela: “Lha lak
ndek sini itu emang gitu mas! Hampir semua kata-kata dibalik, jadi maklum
kalo banyak perantau yang ngowoh tok kalo digituin.”
Randy: “Tapi ya teh, kalo saya pikir-pikir mah,
Malang kalo dibalik jadinya gnalam deh, bukan ngalam.”
Lela: “Ya tinggal di balik aja talah mas huruf g sama n nya!”
Randy: “Ya punten
teh. Saya mah logika-in aja soal itu.”
Lela: “Pokok
e ngono mas!”
Randy: “Yang enak di ngalam kata orang itu baksonya ya teh?”
Lela: “Ya kalo sekarang ndak bakso tok mas!
Banyak juga sebenernya. Tapi lho mas, sekarang yang rame disini tuh bukan
baksonya mas, tapi kopi-kopiannya!”
Randy: “Walah, iya juga ya teh, saya pikir-pikir
dulu disini itu banyak sawah, tapi sekarang hampir disetiap trotoar ada coffee shop nya.”
Lela: “Lhaiyo
to mas, dulu di Malang tuh
duingin pol, tapi sekarang wes gak
dingin, panas banget kalo siang.”
Randy: “Sekarang banyak banget mahasiswanya
ya, teh!”
Lela: “Iya mas, wes sini ndang tak bayar e.”
Randy: “Totalnya 15 ribu, teh.”
Setelah membayarkan uang tersebut, Lela hendak
melihat apakah pesanannya benar, namun ternyata....
Lela: “LHO MAS!? KOK PESANAN SAYA JADI AYAM
BAKAR!? TADI KAN SAYA BILANGNYA AYAM KRISPI!”
Randy: “Lho, bukannya tadi tetehnya bilang
terserah yang penting cepet?”
Lela: “Ya maksudnya nggak ayam bakar juga mas! Di aplikasi kan ada tulisannya kalo saya
pesan ayam krispi!”
Randy: “Nggak
bisa gitu dong teh, tadi kan saya sudah konfirmasi lewat telfon dan teteh
bilang iya terserah pokoknya cepat.”
Lela: “Ya saya ndak mau tau mas! Pokoknya ini ayamnya harus krispi!”
Randy: “Saya harus goreng sendiri ayamnya gitu?
Ya punten teh tapi saya nggak mau!”
Lela: “Kalo masnya nggak mau, bakalan saya tuntut sekarang!”
Randy: “Kalo teteh main tuntut-tuntut ke
kantor ya saya yang menang dong teh! Tadi kan ada konfirmasi langsung lewat
telefon!”
Lela: “Ya menang saya lah, lha saya punya
bukti screenshot pesanan yang ada
tulisannya ayam krispi!”
Merasa kesal, Randy mulai berbicara ngawur dan mengarang.
Randy: “Makanya sebelum install aplikasi itu dibaca ketentuan layanan dan privasinya, teh!
Disitu tertulis jelas kalo sudah deal
ganti menu makanan ya itu yang dipesan!”
Lela: “Yo
babah! Dimana-mana konsumen itu selalu benar mas! Apalagi saya cewek!”
Randy: “Lho-lho kok jadi membawa kesetaraan
gender gini? Saya bisa tuntut mbak balik lho kalo mainnya diskriminasi gitu.”
Lela:
“Halah jangan sok tau ya mas! Emang ada hukum semacam itu?
Yang namanya hukum ya pokok intine
pembeli adalah raja!”
Randy: “Sok tau gimana? Lha saya anak hukum!”
Lela: “HAHAHAHAHA, tampangmu aja udah
kelihatan kalo bukan anak hukum mas! Kok kate
ngapusi aku.”
Randy: “Yaudah ayamnya saya gratisin deh buat
teteh!”
Lela: “Eh, kok mau nyogok? Wah bisa saya laporkan beneran ini perihal suap demi
menutupi kesalahan driver!”
Randy: “Yaudah nanti saya ganti 2 kali lipat!
Udah untung itu saya ganti, ini juga orderan pertama di hari pertama teh!”
Lela: “Ya mana aku peduli to mas? Sekali tuntut tetap tuntut!”
Randy: “(geram) YAUDAH AYO SEKARANG TETEH SAMA
SAYA KE KANTOR! AING TEH UDAH SEBEL SAMA TETEH!”
Lela: “NGGAK
MAU!”
Randy: “YAUDAH TERUS MAUNYA APA?”
Lela: “NOMOR WHATSAPP!”
Randy: “hah!?”
Lela: (malu) “Gak sido, sam”
Randy: “Kumaha
teh? Ini beneran minta nomer whatsapp saya?”
Lela: (cegukan) “Nggak!”
Hening
selama beberapa saat, namun Lela masih terus cegukan malah semakin parah.
Randy: “Ini teteh
nggak papa? Cegukan terus dari tadi.”
Lela: “Diem kamu! Saya memang punya penyakit
cegukan!”
Randy: “Emangnya
penyakit cegukan itu yang kayak gimana sih teh?”
Lela: (diam, terus memukul dadanya)
Randy: “Lho, teh? Kok malah dipukulin dadanya?”
Lela: (pingsan)
Randy: (kaget) “TEH!? KOK MALAH PINGSAN? LHO BAGAIMANA INI?”
BABAK 3
Setelah
Lela pingsan, Randy panik dan segera meminta bantuan kepada warga. Dibantu
warga, Lela dibawa kedalam rumah. Untungnya, ada adik Lela bernama Rini
dirumah.
Rini: “Lho-lho, ada apa ini dengan mbak saya?”
Randy: “Ini, tadi tetehnya cegukan dan tiba-tiba pingsan.”
Rini: “Siapa yang bikin mbak jadi gini!?”
Randy: “Anu,
tadi sebenernya cuman ngomong sama saya tapi tiba-tiba tetehnya pingsan sehabis cegukan terus-terusan.”
Rini: (raut wajah berubah menjadi penasaran) “Yowes! Makasih nggih bapak-bapak, saya mau ngobrol sama mas-nya ini dulu!”
Setelah
Lela dibaringkan di sofa ruang tamu, Rini hendak mengambil sesuatu di belakang,
ia menunjuk ke arah kursi menandakan kepada Randy untuk duduk.
Randy: “Ah sial banget hari ini deh! Baru pertama ngojek dan dapat orderan, eh udah
berurusan sama beginian segala! Ini anak orang juga kenapa dah! Ntar kalo mati ini gimana? Apa kabur aja ya?”
Randy
pun mendekatkan telinganya ke hidung Lela untuk memeriksa apakah ia masih bernafas
apa tidak. Belum sempat mendengar nafasnya, Rini sudah kembali dari belakang.
Rini: “Gak usah panik, mbak saya masih hidup
kok!”
Randy: (kaget) “Eh, iya maaf saya kan cuman
takut aja. Nanti kalo mati ntar saya yang dipenjara!”
Rini: “Lebay
deh! Aku cuman kaget, mbak kenapa tiba-tiba begini setelah sekian lama.
Udah lama semenjak kejadian terakhir?”
Randy: “Maksudnya?”
Rini: “Ya, mbak dulu juga pernah gini!”
Randy: “Berarti bukan salah aing dong?”
Rini: “Ya siapa juga yang nyalahin mas! Aku
tadi kan kaget kenapa tiba-tiba pingsan, takutnya ditabrak ojol ceroboh kayak mas.”
Randy: “Lho ya enggak, buktinya nggak ada luka!”
Rini: “Ini gimana ceritanya kok mbak saya
bisa pingsan gini?”
Randy: “Saya sendiri juga heran kenapa bisa
gini. Tapi yang jelas saya sama sekali nggak
nyentuh teteh kamu itu!”
Rini: “Lho saya gak mempermasalahkan itu!
Yang penting sampean cerita yang
lengkap!”
Randy: “Ya jadi saya kan nganter orderan teteh kamu, setelah itu ya kami
ngobrol-ngobrol biasa. Terus ternyata saya salah bawa orderan. Nah terus teteh kamu
marah dan nuntut saya ke kantor!”
Rani: “Hah!? Mbak saya nuntut? Mbak Lela
seumur hidup jarang banget marah sama orang, apagali sampai nuntut gitu mas! Apa
jangan-jangan mas yang bohong?”
Randy: “Saya berani sumpah mbak! Tadi teteh ini duluan yang ngancam nuntut
begitu.”
Rini: “Tapi nggak mungkin juga mbak saya pingsan gara-gara nuntut masnya!”
Randy: “Abis itu teteh kamu malah minta nomor WA saya! Kan aneh? Masa abis marah-marah sampai nuntut, eh
malah modus minta nomor WA!”
Rini: “HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!”
Randy: (bingung) “Apanya yang lucu deh?”
Rini: “Mbok
ya bilang daritadi mas! Mbak saya emang
begini kalau lagi grogi!”
Randy: “Kalo lagi grogi pasti pingsan?”
Rini: “Jadi begini mas, mbak saya dari kecil
memang punya penyakit aneh dan gak ada duanya! Setiap mbak bohong pasti
langsung cegukan. Apalagi kalo sampai grogi soal cowok gini pasti pingsan.”
Randy: (bingung) “Hah emang ada ya teh penyakit semacam gitu?”
Rini: “Lha ini buktinya mbak saya! Pasti tadi
dia abis bohong ke mas sampe grogi gini.”
Randy: “Tadi teteh kamu bilang kalo nggak jadi minta WA saya!”
Rini: “Ya berarti bohong, mas! Mungkin mbak
saya suka sama sampean!”
Randy: (diam kebingungan) “Maksudnya?”
Rini: “Cowok kenapa sih selalu nggak peka!?”
Tiba-tiba
Lela terbangun dan terkejut mendapati dirinya telah diruang tamu.
Rini: “Met
siang, putri pinokio!”
Randy: “Putri apa katamu?”
Rini: “Pinokio, mas!”
Randy: “Kenapa pinokio dah?”
Rini: “Ya karena mbak saya punya sindrom pinokio!”
Randy: “Lah sukanya ngarang!”
Rini: “Ya emang penyakit kayak gini tuh belum
ada namanya!”
Lela: “Aku kenapa, Rin?”
Randy: (menepuk jidatnya) “Kok masih nanya sih teh?”
Rini: “Sampean
kumat mbak.”
Lela: “Oh gitu? Mbak minta tolong obatnya dong, dek!”
Rini: “Iya.” (bergegas mengambil obat)
Randy: (melepas jaket) “Teteh nggak papa?”
Lela: “Iya, mas. Lagi kumat aja tadi..... maaf ngerepotin.”
Randy: “Iya, tadi teteh Rini sudah bilang soal penyakitnya, punten ya saya ndak tahu!”
Lela: “Iya mas nggak papa kok!”
Randy: “Umm, tapi tadi yang dibilang adeknya
bener ya? Yang soal teteh suka sama
saya itu.”
Lela: “Ndak... (cegukan) kok..... (cegukan)
mas.... (cegukan)”
Randy: “Yang bener gimana nih teh?”
Lela: (cegukan kemudian batuk)
Randy:
“Teh? Teteh
nggak papa!?”
Lela:
(pingsan)
Randy:
(panik) “Teh Rini saya pulang duluan ya,
Assalamualaikum!”
-Malang, 16 November 2019
Comments
Post a Comment
mendekatlah untuk berbagi dan saling memaklumi